Warning: array_keys() [function.array-keys]: The first argument should be an array in /home/daengrusle/daengrusle.com/wp-includes/widgets.php on line 1045
daengrusle.com

daengrusle.com [dan bebaris kronik yang diwariskan]

Daeng Rusle

Ahlan wa sahlan! Selamat Datang dan terima kasih tak terhingga sudi mampir di Blog saya yang sederhana ini. Semua yang terungkap dan tertuang disini hanyalah manifestasi dari upaya untuk mengabadikan pikiran saya dalam dunia yang santun, yang luas dan yang abadi. Seorang sastrawan besar Indonesia pernah menuturkan, menulis adalah pekerjaan yang bermatra keabadian. Sekali anda menggoreskan pena ke dalam kitab perjalanan kemanusiaan, maka Anda akan termaktub dalam kanvas sejarah dalam bingkai keabadian. Silahkan berkomentar, pembaca. Sekali lagi terima kasih sudah berkunjung. Jazakumullah khairan katsira!

DISCLAIMER: Blog ini adalah blog pribadi saya dan tidak ada jaminan bawa tulisan di blog ini akan adil, tidak bias dan seimbang. Bersikaplah dewasa dan jika anda membutuhkan opini dari pihak lain atau pihak yang berseberangan pendapat, anda dapat mencarinya dari sumber lain. Informasi yang disediakan oleh blog ini bersifat apa adanya, tanpa jaminan dengan kepercayaan penuh pada kedewasaan para pembacanya. (Kutip dari Priyadi).

Gerakan Nasional Setuju Satu Putaran Saja (GerNas SeSat-RaSa)

daengrusle June 17th, 2009

gernas-pilpres-satu-putaranMenyambut Himbauan Ketua Umum Gerakan Nasional Setuju Satu Putaran Saja (GerNas SeSat-RaSa), yang mulia Bapak Denny JA, PhD, yang menampilkan iklan setengah halaman di harian Kompas 16 Juni 2009, untuk melakukan penghematan biaya pemilu saat ekonomi yang teramat sulit ini , maka izinkan lah kami selaku rakyat biasa mengusulkan strategi mensukseskan Gerakan Nasional ini.

Strategi yang bisa dilakukan untuk melakukan penghematan biaya pemilu, sehingga bisa menyelamatkan uang negara dan/atau mengalokasikan biaya tersebut untuk membayar utang luar negeri yang dipakai untuk membayar dana talangan BLT, maka berikut ini adalah pilpres hemat murah meriah yang bisa kita selenggarakan.

Pilpres hemat murah meriah versi saya:

1. Lakukan Penunjukan Langsung. Bisa dituangkan dalam bentuk Supersemar, sebagaimana pernah terjadi pada saat transisi pemerintahan Soekarno (Orde Lama) - ke presidium Letnan Jendral Soeharto - selaku pengemban Supersemar.

2. Angkat Presiden Incumbent sbg Presiden Seumur Hidup. Jurisprudensinya adalah TAP MPRS No II/MPRS/1963. Bayangkan betapa banyak uang negara yang bisa dihemat dengan mengangkat incumbent sebagai presiden seumur hidup. Kalau umur incumbent sekarang 60 tahun, dengan asumsi masih aktif sehat hingga umur 75 tahun, maka ada tiga pilpres yang bisa dihilangkan. Total biaya penghematan bisa mencapai Rp 12 Trilyun.

3. Wewenang Pemilihan Presiden dikembalikan ke MPR. Pemilihan presiden melalui MPR seperti dulu dilaksanakeun di masa Orde Baru terbukti efektif menjaga trilogi pembangunan; pertumbuhan ekonomi yang tinggi, stabilitas nasional yang sehat dan dinamis, dan pemerataan pembangunan. Cara ini juga bisa menghemat anggaran sekian trilyun.

4. Ajukan pembatalan pencalonan Mega dan JK ke Mahkamah Konstitusi. Meski terkesan bodoh, ya namanya juga usaha. Sekiranya pembatalan ini di-amin-i oleh MK maka Pilpres dipastikan bakal satu putaran saja.

5. Batalkan Piplres dengan UU Darurat. Buatlah suasana chaos sedemikian rupa, mis. sabotase logistik pemilu, kacaukan DPT dsb. Dengan kondisi sedemikian, maka Pemerintah berhak menetapkan keadaan darurat Sipil. Efeknya, MK atau MA bisa memperpanjang masa jabatan SBY (minus JK). Untuk pak JK, bisa dibuatkan kasus seperti Anwar Ibrahim, menyeret pak JK ke pengadilan krn alasan sodomi atau kriminal picisan lain, atau apa aja lah yang penting gol.

6. Bubarkan NKRI! Dan mari bergabung dgn Malaysia, Singapura atau Australia. Gak perlu capek-capek menghambur dana dan tenaga untuk menyelenggarakan Pilpres. Cukup manut saja sama negara tetangga.

Insya Allah, dengan perkenan seluruh rakyat yang telah mengikuti polling LSI, GerNas SeSat-RaSa bisa menjadi gerakan yang akan tercatat dalam tinta emas sejarah bangsa ini. (Bisa setimpal dengan satu posisi menteri Riset dan Teknologi, atau apa saja)

Mari melakukan ikhtiar mensukseskan gerakan ini. Jika strategi ini mengena di hati bapak/ibu, sdr/sdri, mari kita mulai dengan doa. Bisikkan dalam hati, “semoga bangsa ini diberi hati nurani untuk memilah mana yang lurus mana yang bengkok “.

Silahkan di-print atau forward postingan ini semampunya. (Jangan digunting, kasihan monitor nya). Bagikan kepada keluarga, sebarkan ke handai taulan, dan paling akhir Beritakan Kepada Para Sahabat.

…barangkali di sana jawabnya
mengapa di tanahku terjadi bencana
mungkin Tuhan mulai bosan melihat tingkah kita
yang selalu salah dan bangga dengan dosa dosa
atau alam mulai enggan bersahabat dengan kita
coba kita bertanya pada rumput yang bergoyang
ho ho ho … ho ho ho …

(courtessy of Ebiet G Ade, “Berita kepada Kawan”)

tertanda

Ra’jat biasa pendukung GerNas SeSat-RaSa

Popularity: 17% [?]

Program Ali Baba: Ekonomi Kerakyatan a la Orde Lama

daengrusle June 8th, 2009

Program Benteng
Jargon ekonomi kerakyatan yang saat ini sedang digadang oleh Capres Mega-Prabowo sesungguhnya pernah dipraktekkan secara sporadis oleh bapak-bapak kandung mereka. Di jaman pemerintahan presiden Soekarno - bapake bu Mega, pernah ada program ekonomi bertajuk Program Benteng. Nama program ini tidak ada kaitannya dengan lambang kebo moncong putih yang jadi simbol PDIP atau PNI yang jadi moyang PDIP, tapi mungkin diambil dari nama lapangan Benteng yang berlokasi di depan departement keuangan.

Program Benteng digagas pada tahun 1950 oleh Menteri Perdagangan dan Perindustrian ketika itu, Soemitro Djojohadikusumo (yak, anda betul! beliau ini adalah bapak kandung cawapres Prabowo Subianto). Soemitro yang kala itu merupakan wakil Partai Sosialis Indonesia dalam kabinet Natsir (Masyumi), melihat menumpuknya beban pemerintahan RI karena utang warisan penjajah Belanda sebesar Rp 4,3 Milyard sungguh sangat membebani republik muda usia itu. Beban utang itu adalah ibarat harga kemerdekaan RI yang mesti ditebus oleh Indonesia kepada pemerintah kolonial Belanda yang tertuang dalam kesepakatan Meja Bundar 1949 di Den Haag. Beban mengangsur utang warisan itu memperlambat kesempatan RI muda untuk membangun infrastruktur.

Nah, Soemitro hadir membawa solusi revolusioner; memberi kredit impor seluas-luasnya hanya kepada pengusaha pribumi sehingga diharapkan bisa memicu pertumbuhan ekonomi nasional. Meski berbau sedikit kapitalistik, namun peruntukan yang 100% hanya untuk memproteksi pengusaha pribumi ini diharapkan bisa meruntuhkan dominasi asing - yang kala itu masih dikuasai oleh oligopoli perusahaan Belanda dan Inggris. Pertumbuhan ekonomi yang dipelopori oleh pribumi tentu akan meringankan beban pemerintah membangun infrastruktur.

Tapi sayangnya, keterbatasan kemampuan bisnis para pengusaha pribumi menjadi parameter yang terlupakan. Lisensi impor yang diberikan secara sporadis kepada para pribumi melahirkan pengusaha-pengusaha yang tak berkantor dan tak bermodal, kecuali lisensi impor sahaja. Maka percukongan lisensi impor itu terjadilah, pihak penadah dan penjual lisensi bertemu dalam suatu permufakatan tercela, kalau kata ‘jahat’ dianggap terlalu sarkastis. Para cukong, yang umumnya bersuku Tionghoa menjadi penadah lisensi impor itu, dan melahirkan pola ekonomi Ali - Baba. Ali menjadi representasi idiom untuk kaum pengusaha pribumi, sedang Baba mewakili idiom pengusaha Tionghoa.

Program yang tadinya ditujukan untuk memberdayakan pengusaha pribumi menjadi tidak tepat sasaran, bahkan menjadi arena korupsi dan kolusi yang marak. Yang ketiban pulung adalah beberapa pengusaha etnis Tionghoa kala itu.

Pribumisasi
Meski prakteknya sudah melenceng jauh, Program Benteng tetap diteruskan oleh kabinet Ali Sastroadmidjojo yang menggantikan kabinet Natsir. Menteri Iskaq Tjokrohadisoerjo, salah seorang tokoh ultra-nasionalis dan pendiri PNI yang menjadi Menteri Keuangan di kabinet Ali, menerapkan kebijakan pribumiisasi atau nasionalisasi pada tahun 1952 dengan mewajibkan Bank Negara Indonesia untuk membiayai semua program nasionalisasi perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia.

Tersebutlah perusahaan asing yang berhasil diambil alih: Nederlansche Handel Maatschappij, Pabrik Kertas Padalarang, Kebun Karet Klapa Nunggal dan Tingga Jaya (NV Michiel Arnold) dan sederet perusahaan asing lainnya. Alih-alih menguasai perekonomian nasional, pribumiisasi atau nasionalisasi ini secara umum malah menambah beban bagi negara yang harus menanggung kredit macet yang timbul karena kesalahan dalam pengelolaan bisnis oleh para pribumi tersebut.

Pada tahun 1957, Menteri Ekonomi dalam pemerintahan baru Kabinet Djuanda, Prof Ir. Rooseno (begawan keteknikan indonesia) secara resmi menghentikan Program Benteng ini dengan alasan untuk menghilangkan diskriminasi rasialis dalam praktek perekonomian negara.

Namun demikian, beberapa borjuasi pribumi juga berhasil mencuat karena fasilitas pemerintah ini. Sebutlah NV Maskapai Asuransi Indonesia pimpinan VB Tumbelaka, NV Indonesia Service Company besutan Hasjim Ning, NV Djakarta Lloyd, dan PT Transistor Radio Manufacturing yang digarap Thayeb Gobel, ayah pengusaha Rahmat Gobel yang saat ini ‘dekat’ dengan capres SBY.

Dicontek Malaysia
Meski kemudian dihentikan di Indonesia pada tahun 1957, namun program Benteng ini rupanya diadopsi oleh negara jiran yang kebetulan baru merdeka, Malaysia. Untuk menggalakkan usaha bumiputera, pemerintah Malaysia sejak 1957 hingga kini masih memberikan privelege/fasilitas kredit khusus kepada pengusaha bumiputera, sebutan untuk pribumi di Malaysia.

Hasilnya bisa kita lihat hingga kini, perusahaan-perusahaan Malaysia yang dikelola oleh putera-puteri mereka berkibar sebagai perusahaan besar seperti Petronas yang sistem manajemennya konon mencontek habis Pertamina. Meski rasialis, program pemberdayaan ekonomi pengusaha bumiputera ini tidak menyebabkan perekonomian negeri jiran ini mandek, bahkan malah lebih maju daripada Indonesia, negara yang awalnya menjadi kiblat ekonomi Malaysia.

Popularity: 26% [?]

Negative Marketing a la RS Omni Internasional

daengrusle June 5th, 2009

Bagi industri jasa, termasuk di dalamnya usaha penyedia produk layanan kesehatan, nama baik adalah segalanya. Citra produk atau brand image yang melekat di kepala konsumen adalah hal terpenting bahkan melebihi kualitas produk itu sendiri. Terkadang citra dibuat berlebihan sedemikian rupa melebihi kenyataan layanan itu sendiri. Adagium yang sering kita dengar: Lebih indah dari warna aslinya! Strategi marketing memoles citra seelok mungkin untuk meningkatkan tingkat penerimaan produk layanan merupakan keniscayaan yang dipercaya oleh para praktisi marketing dimana saja. Namun, bagaimana kalau sebaliknya?

Kasus keluhan layanan RS Omni yang menjadi alasan diterungku nya Prita Mulyasari, konsumen yang tergolong sadar akan hak dasarnya, merupakan contoh penerapan negative marketing a la RS Omni, sadar atau tidak sadar, sengaja atau tidak sengaja.

Kasus yang mungkin awalnya dimaksudkan oleh RS Omni untuk membuat jera para pasien yang kritis atas kualitas layanannya, kemudian menjadi seperti bara api yang terhembus angin ke segala arah. Ditambah lagi sikap angkuh manajemen dan pengacara RS Omni yang keukeuh merasa menjadi korban pencemaran nama baik tanpa memperhatikan substansi kasus yang mendasari munculnya keluhan Prita Mulyasari, membuat persepsi konsumen serta merta terkristalisasi menjadi sikap resisten terhadap apapun pembelaan yang dikeluarkan oleh manajemen RS Omni.
Masyarakat umum, melalui penggalangan pemberitaan media yang sudah menunjukkan simpatinya sejak awal, hanya akan melihat hitam putih kasus ini; seorang ibu rumah tangga beranak dua yang masih balita dengan daya kuasa yang lemah, melawan sebuah korporasi kapital yang angkuh.

Satu hal lagi yang menjadi kesialan RS Omni ini, bahwa kasus ini terhambur ke ruang publik di saat kampanye pemilihan presiden sedang berjalan. Para kandidat capres-cawapres tentu membutuhkan momentum bagus untuk menarik simpati masyarakat.

Maka kasus yang sedianya jamak terjadi beberapa waktu belakangan ini, kemudian menjadi sangat sensitif dan empuk untuk dijadikan roket meningkatkan popularitas. Masyarakat awam akan melihat seberapa tanggap para kandidat ini menangani hal-hal yang sesungguhnya sangat membumi ini.
Dan kita melihat terang benderang, semua kandidat rupanya menyatakan perhatiannya atas kasus ini, sampai semua pihak seperti ketiban sial; jaksa, polisi, RS Omni, dokter Hengky dan (mungkin) karyawan RS Omni yang sesungguhnya tidak ikut dalam arus keangkuhan korporasi kapital ini.

Hanya dalam waktu seminggu, RS Omni tiba-tiba menjadi semacam momok yang menakutkan bagi para (calon) pasien. Rumah Sakit mewah yang segmen pasarnya adalah kalangan berduit ini terancam kehilangan banyak pelanggannya. Kalangan berduit tentu tak sulit untuk memindahkan pilihannya ke RS mewah lainnya yang sudah banyak bertebaran di seantero Jakarta.
Belum lagi persoalan akan sulitnya pengurusan administrasi perijinan yang menghadang di depan mata karena himbauan dari parlemen untuk mencabut izin operasi Rumah sakit ini. Juga, bakal turunnya pihak lain semacam Komnas HAM, Dinas Kesehatan dan LSM yang sejak hari ini mungkin akan mempelototkan matanya untuk kasus-kasus lainnya yang menyangkut RS Omni ini.
Ditengarai kasus Prita ini hanya satu diantara sekian contoh buruk layanan RS Omni. Dalam milis yang bertebaran di internet, sedikit demi sedikit banyak terkuak kisah-kisah kelam para (mantan) pasien RS Omni yang terjadi sebelumnya.

Tak pelak, kasus Prita ini menjadi contoh terburuk penerapan strategi marketing di industri layanan kesehatan. Alih-alih brand image atau citra yang baik melekat di kepala calon konsumennya, RS Omni menjadi salah satu brand yang harus dihindari di masa depan.
Ibarat siaran niaga, maka RS Omni sedang mengiklankan betapa buruknya layanan mereka. Untuk memperbaiki citra buruk ini, tentu membutuhkan biaya dan waktu yang tidak sedikit.
Bahkan bukan tidak mungkin RS Omni ini akan membubarkan diri, atau paling banter akan berganti nama! Semoga masyarakat masih akan mengingat kasus Prita ini bila kemudian RS Omni ini bermetamorfosis ke nama yang lain. Terbayang betapa alotnya strategi marketing yang mesti disiapkan oleh tenaga marketing RS Omni ini ke depannya!

Popularity: 27% [?]

Cerita Tiga Wasiat Daeng Tompo

daengrusle May 10th, 2009

Kisah ini pertama kali diceritakan oleh guru bahasa Makassar saya di SMP Negeri 5 Makassar, tahun 1988. Saya ingat judul buku pegangannya “Pappilajarang Bahasa Mangkasarak” dengan tulisan lontara yang geometrikal yang dikarang oleh A Gani Cangara. Setelah 20 tahun berselang, cerita ini masih teringat jelas di kepala saya dan sering terngiang manakala menghadapi sesuatu masalah. Belakangan saya mencermati bahwa cerita ini adalah contoh sangat sederhana dari sebuah konsepsi pemikiran yang mencoba melihat permasalahan dari sudut pandang yang berbeda namun lebih efektif dalam pencapaian tujuannya. Orang banyak menyebutnya sebagai solusi “out of the box”.

Tersebutlah Daeng Tompo di negeri Makassar, seorang saudagar tua yang hartawan dan bijaksana. Beliau memiliki dua orang putra yang jujur dan penurut. Yang sulung bernama Daeng Lompo sedang yang bungsu dinamakan Daeng Caddi. Keduanya amat tekun membantu orang tua nya mengelola perniagaan. Segala titah Daeng Tompo pasti dilaksanakan sebaik-baiknya. Perniagaan mereka maju pesat, hingga kekayaannya menggunung laksana gunung Bawakaraeng.

Suatu ketika, menjelang batas usia nya, Daeng Tompo memanggil kedua putranya untuk berwasiat. “Hai anakku permata hatiku. Sesungguhnya isyarat langit telah mendekat padaku. Beberapa saat lagi diriku kembali ke sang Pencipta. Kutinggalkan harta yang sungguh bisa membuat kalian berdua sejahtera sepanjang hidup tanpa perlu menghinakan diri menjadi politikus. Hartaku yang melimpah kubagi rata berdua untuk kalian. Jangan khawatir tak ada lagi saudaramu selain kalian berdua, karena ayahandamu ini bukanlah penyuka poligami. Jangan pula khawatir ada ‘caddy’ jelita yang akan menuntut pembagian harta kelak, ayah kan tak tahu main golf! Namun sebelum jiwaku berpisah dari daging dan tulang ini, aku hendak mewasiatkan tiga hal kepadamu yang sungguh jikalau kalian berpegang kepadanya niscaya kemakmuran akan terus menaungi hidupmu.

“Tiga hal itu anakku, adalah kunci sukses ayahanda selama ini. Sekiranya kalian hendak mengikuti jejak ayahanda, maka cernalah sebaik engkau mengunyah ikan baronang bakar sambal mangga kesukaan kalian. Kelezatan nya tentu akan kau rasakan sepanjang waktu. Wasiatku itu adalah: Pertama, sekiranya engkau beranjak ke tempatmu berniaga jangan pernah terkena sinar matahari. Kedua, hendaklah kalian memakan seribu ikan setiap hari sebagai lauknya. Ketiga, jangan pernah menagih utang kepada siapapun”. Si ayahanda kemudian menutupnya dengan ancaman, “sekiranya kalian ada yang tidak menjalankan wasiat ini kiranya langit dan tanah menjadi saksi bahwa kebinasaan akan mengerubungi kalian seperti lalat mengerubungi borok”. Kedua anak penurut itu mencatat wasiat ayahandanya diatas kertas yang mahal, kemudian di laminating dan digantung di masing-masing kios perniagaan mereka.

Tak lama berselang Daeng Tompo pun berpulang ke haribaan sang Khalik, meninggalkan kedukaan diantara kedua anaknya. Atas wasiat sang ayahanda, harta yang melimpah ruah itu pun dibagi dua sama rata sama rasa sama banyak. Keduanya kemudian menjalankan wasiat sang ayahanda sebaik-baiknya. Tak ada yang dikurangi tak ada pula yang ditambah, takut kuwalat dan kena kutuk menjadi lalat, eh menjadi borok yang dirubungi lalat.

Daeng Lompo, si sulung yang sangat penurut melaksanakan titah sang ayahanda dengan cermat nan menyeluruh.

Demi menjalankan wasiat pertama ayahanda tercintanya, Daeng Lompo membangun jalan khusus yang dinaungi dengan kanopi panjang berarsitekur khas a la Makassar sebagai titian menuju ke pusat perniagaannya. Keindahan jalan ini mungkin hanya tertandingi oleh walk way yang ada di Bank Indonesia Jakarta yang konon mengabiskan biaya bermilyar-milyar. Karena titian indah ini, tak pernah sekalipun terik mentari membakar kulit mulus Daeng Lompo. Ia selalu menyusuri jalan spesial ini dengan bangganya, karena telah menjalankan titah sang ayahanda. Bukankah itu pertanda ia anak yang berbakti kepada orang tua?

Untuk melaksanakn wasiat kedua, maka setiap pagi ia membeli ikan baronang besar sebanyak seribu ekor setiap harinya. Ia memerintahkan kepada para nelayan untuk mendatangkan ikan-ikan terbesar seantero teluk Makassar untuk didatangkan ke rumahnya setiap hari untuk disantap. Karena kedermawanannya, ia juga tak lupa menyumbangkan ikan-ikan besar nan lezat itu ke tetangga dan fakir miskin sekitarnya.

Karena menjalankan wasiat ketiga, si sulung ini menjadi buah bibir seluruh lapisan masyarakat, dari kasta masyarakat miskin kota hingga para eksekutif. Daeng Lompo terkenal sangat pemurahnya, ia menjadi tempat orang-orang sekota Makassar memohon bantuan financial yang mudah nan murah. Pinjaman yang diberikan oleh Daeng Lompo sifatnya sangat lunak. Saking lunaknya, Daeng Lompo bahkan melarang pegawai-pegawainya untuk menagih piutang kepada para debiturnya. Tak heran banyak debiturnya yang tidak kooperatif.

Kebijakan serba wah dan luru-lurus ini tak pelak menjadikan harta Daeng Lompo makin tergerus. Tak sampai lima tahun, kekayaan Daeng Lompo habis ludes!

Bagaimana dengan Daeng Caddi, si bungsu yang juga tentunya amat penurut itu? Ternyata kekayaan Daeng Caddi meningkat drastis, berbeda dengan kondisi ekonomi kakandanya.

Ketika Daeng Lompo, sang kakanda, berkunjung ke rumah Daeng Caddi yang sudah menjelma menjadi istana menyaingi istana Gowa Balla Lompoa, sang kakak bertanya masygul kepada sang adik.

“Hai adinda Caddi, saudaraku tersayang. Ketahuilah, aku senantiasa mengingat setiap kata yang disampaikan ayahanda kita ketika berwasiat. Ketiga wasiatnya kuturuti tanpa cela. Lihatlah betapa lima tahun ini aku sangat berusaha mewujudkan titah ayah. Tapi apa yang terjadi, hartaku semakin hari semakin berkurang. Tapi kulihat keadaanmu sungguh terbalik dengan yang kualami. Hartamu malah semakin banyak, rumahmu kini seperti istana. Apakah kau tidak melaksanakan sama sekali wasiat ayahanda tercinta kita? Tentunya kutukan menjadi borok yang dikerumuni lalat akan menimpa dirimu, adindaku!”

Kemudian Daeng Caddi dengan amat sopannya menyambut ungkapan sang kakanda, “Kakakku Daeng Lompo, pandu hidupku kala ayah berpulang. Sesungguhnya aku juga tak pernah lupa wasiat ayah. Aku pun berusaha menjalankan ketiga wasiat beliau dengan baik. Tak ada yang coba aku lewatkan, demi kesuksesan yang dijanjikan. Tapi aku menjalankan kelihatannya dengan perspektif yang beda dengan dikau, kakandaku yang polos nan baik hati.

“Wasiat pertama ayahanda yang mengharamkan kulit kita terpapar terik mentari aku maknai sebagai petunjuk bahwa kalau berangkat bekerja hendaklah di waktu yang sangat pagi ketika mentari belum lagi terbit, dan pulang nya di waktu petang ketika mentari sudah terbenam. Sungguh wasiat ini membuatku menjadi rajin bekerja.

Wasiat kedua yang menganjurkan kita makan seribu ikan setiap hari aku tentu jalankan dengan sangat bahagia. Setiap pagi saya menyuruh istriku untuk memasak ikan mairo (ikan teri) dalam berbagai cara penghidangan. Kebetulan saya dan istri sangat menggemari masakan ikan kecil-kecil itu. Bukan cuma seribu ekor jumlahnya, tapi mungkin malah lebih banyak kami santap setiap hari. Aku tak perlu menghabiskan uang yang banyak untuk wasiat ini, dan karenanya selalu kudoakan kebaikan untuk arwah ayahanda karena membuatku belajar berhemat dan bersyukur atas nikmat yang diberikan kepadaku. Alhamdulillah.

Wasiat ketiga ayahanda sungguh membuat saya sangat berhati-hati dalam berniaga. Selalu kuingat wasiat ini kala melakukan bisnis dengan saudagar lain. Saya menerapkan aturan bisnis yang mengharamkan utang-piutang. Meski aturan ini tak lazim, tapi membuatku terhindar dari rentenir atau debitur yang culas. Aku bersyukur bahwa tak perlu kuliah jauh-jauh ke Harvard mengejar gelar kesarjanaan hanya untuk berpikir strategis namun sederhana ini. Untuk itu aku selalu sisihkan hartaku untuk bersedekah sambil meniatkan pahalanya untuk ayahanda yang telah menurunkan ilmu ekonomi yang sungguh efektif ini.

“Demikianlah kakanda, apakah dikau melihat bahwa ada wasiat ayahanda yang tidak aku laksanakan? Demikian Daeng Caddi menutup penjelasannya.

Daeng Lompo terpekur sedih mendengar penjelasan sang adik. Wajahnya seketika berubah pucat pias betapa ia menyesali mengapa tak berpikir lebih panjang dan lebar akan bagaimana melaksanakan wasiat itu dengan baik dan benar. Apa yang si sulung praktekkan ketika menjalankan wasiat ayahandanya tentu tidak salah, namun ia mengesampingkan cara berpikir lain yang mungkin lebih strategis. Dia berpikir efektif dan melaksanakan semua wasiat dengan baik, namun ia tidak mencapai hasil yang efisien sehingga tidak bisa sesukses sang Bungsu.

Popularity: 27% [?]

Dendam

daengrusle May 7th, 2009

Apa jadinya jika hidup tak punya rasa dendam? Mungkin rasa hambar.

Dulu saya punya teman kost di Kalipasir Menteng Jakarta Pusat. Dia berasal dari Bali, bekerja sebagai PNS di salah satu kantor Pajak di Jakarta Pusat. Orangnya sangat pendendam. Dan saya menikmati bagaimana ia meretas setiap dendam yang dia koleksi menjadi serpihan-serpihan kepuasan di antara dua garis senyumnya.

Ketika belia, akunya, dia sangat miskin. Saudaranya banyak, sedang orang tuanya hanya petani kecil. Dia anak lelaki tertua di keluarganya, karenanya dia mesti banyak mengalah. Di sekolah dia tergolong paling cerdas, namun karena kesulitan keuangan, ia mesti merelakan beberapa tahun meninggalkan bangku sekolah sampai kemudian keluarganya punya duit. Dia, atau mungkin atas pinta orangtuanya, berusaha mendahulukan adik-adiknya untuk mengecap pendidikan. Sedikit demi sedikit, perlahan seiring waktu, dia berhasil juga menyelesaikan SMAnya. Beberapa adiknya terpaksa mandek, karena himpitan ekonomi yang tak teratasi.

Saat lulus SMA di tahun 1995, dia mencoba peruntungan ikut UMPTN dan STAN - meski tanpa sepengetahuan orang tuanya. Untuk membeli formulir ujian, dia dibantu oleh temannya. Pokoknya asalkan dia mau mengajar temannya saja menghadapi ujian, maka soal urusan bayar membayar ia tak perlu risau.

Ketika pengumuman hasil UMPTN, teman saya ini berhasil lulus masuk ITB, jurusan Teknik Kimia. Ketika suatu saat dia melongok ke daftar peringkat UMPTN di kamarku - kebetulan saya masih menyimpan file bocoran itu - peringkat UMPTN nya termasuk tinggi. Tapi dia tidak mengambil kesempatan langka nan sulit itu - kuliah di perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia. Alasannya simpel, orang tuanya tentu tak mampu membayar biaya kuliahnya itu.

Untungnya, dia juga lulus di jurusan akuntansi STAN. Kebetulan STAN adalah perguruan tinggi kedinasan, yang mana biaya kuliah dan biaya hidup ditanggung pemerintah. Jadi tak perlu membayar sepeserpun uang kuliah, cukup membawa badan dan isi kepala. Teman saya ini, berbekal nekad, berangkat juga ke Tangerang. Kuliah hingga lulus tiga tahun kemudian. Karena nilai-nilai nya yang cukup bagus, ia ditempatkan di Jakarta Pusat, di sebuah kantor pajak yang berlokasi di kawasan elit; Menteng.

Ia pendendam menurut saya. Beberapa kali saya melongok isi kamarnya yang terbilang paling lapang di kost-kost an itu. Dendamnya terburai menjadi barang-barang elektronik nan canggih. TV, Compo, Komputer,sepatu mahal, pakaian necis, dan semua perlengkapan yang dulu mungkin bermimpi pun ia tak berani.

Dendamnya juga mengalir hingga ke kampungnya di Bali. Saban bulan ia royal menghamburkan sebagian pendapatannya ke orang tuanya di Bali. Ia sering sekali bercerita, bahwa adik-adiknya di kampung kini sangat manja dan materialistis. Tak henti2nya ia diminta membelikan segala rupa hal yang acap diiklankan di TV. Tapi ia menceritakan itu tidak dengan rasa menyesal, malah bangga. Dendam keluarganya bisa dia entaskan.

Setiap menjelang akhir pekan, ia sudah tak ada di kost. Ngibrit ke stasiun Gambir yang letaknya cuman 2km dari kost kami. Dia punya ritual rutin menyambangi ‘pacar’nya di Saritem, sebuah kawasan ‘remang-remang’ di kota Bandung. Dia sering bercerita, bahwa ‘pacar’nya ini sangat memanjakannya. Itulah mengapa ia merasa nyaman dan ’setia’ datang ke Bandung. Pacarnya bilang, ia royal memberi tips, tak seperti pacar-pacarnya yang lain. Ketika menceritakan hal ini, teman saya ini selalu terkekeh-kekeh. Ia bilang itu salah satu impiannya sejak dulu, berkencan dengan gadis sunda.

Belakangan saya dengar ia menyewa rumah susun di Pulogadung, mungkin biar merasa lebih bebas melampiaskan dendamnya. Saya tak begitu memusingkan darimana ia mendapatkan duit segitu banyaknya, meski tak berusaha menghilangkan stereotyp petugas pajak di kepala saya. Yang saya nikmati adalah ekspresi nya ketika menceritakan betapa dendam-dendam yang dulu ia miliki ketika masih berada di tubir terendah kehidupannya, sedikit demi sedikit berhasil ia retas.

Karena dendam itu, ia menderap langkah mencari tapak bata di sumur yang gelap nan pengap. Perlahan ia bisa keluar dari sumur kehidupan itu dengan tawa terkekeh-kekeh. Ia berhasil membalas dendamnya!

Saya, dengan cara penyaluran yang berbeda, juga punya banyak dendam dipupuk sejak belia. Dendam-dendam itu menjadi pemacu yang menyenangkan. Betapa senangnya ketika saya menghunus semua daya yang ada dan mencabik dendam-dendam itu menjadi gumpalan asap yang kemudian sirna terbawa angin. Saya bisa membalas dendam itu. Teman saya juga.

Saya pendendam, iya! Saya menyarankan anda untuk menggali juga dendam-dendam yang dulu anda miliki. Kemudian balaslah tanpa ampun!

Popularity: 28% [?]

Anak-anak dari Bukit Sampah Pannampu

daengrusle April 23rd, 2009

Anak-anak dari Bukit Sampah Pannampu

 

Kata orang, masa kecil adalah masa yang paling bahagia.Meski lingkungan kami berselimut limpahan sampah dari seluruh penjuru kota Makassar, kebahagiaan masa kecil kami juga tidak surut karenanya. Tiga tahun menjadi kawasan konservasi sampah rupanya tidak melenyapkan kesempatan kami bertumbuh bebas sebagaimana anak-anak lainnya, bahkan beberapa diantara kami berhasil mendulang prestasi. Buat kami garbage in, not always be garbage out, sampah yang masuk, belum tentu menghasilkan sampah juga.

 

Mendadak Sampah: Sebuah Ironi

9-sampahKompleks Pasar Pannampu - kawasan yang terletak di utara kota Makassar, adalah sebuah ironi. Setidaknya begitu yang ada di benak kami, anak-anak yang oleh kampung sekitar digelari sebagai ‘anak pasaraka’. Mulai didiami sejak tahun 1981, awalnya adalah kompleks hunian asri yang rapi dan nyaman yang disewa dengan sistem kontrak jangka panjang dari pengembang CV Cahaya Rahmat milik pengusaha Benny Gozal. Rumah tembok dua lantai berderet-deret seperti kotak yang berjejer rapi itu mengitari Pasar Pannampu yang menghembuskan aroma khas pasar tradisional. Seakan mengikuti irama denyut pasar, warga perumahan itu juga umumnya memilih berprofesi sebagai pedagang kecil.

 

Di sisi utara perumahan, terbentang padang rumput yang menepi di danau Pannampu. Di belakang kompleks sepanjang mata memandang terhampar ladang-ladang garam (pacce’lang), tempat kami acap memungut gratis segenggam dua genggam garam untuk bumbu dapur. Di selatan pacce’lang membentang kompleks pekuburan Beroanging yang terkenal. Kompleks pekuburan dengan ratusan nisan berjejer tak rapi ini terkenal sebagai tempat peristirahatan para korban kapal Tampomas II yang tenggelam pada Januari 1981.

 

Ironi itu bermula di tahun 1986, ketika saya baru menginjak kelas 4 SD. Kompleks hunian yang rapi dan nyaman itu mendadak bersalin rupa menjadi kawasan konservasi sampah. Oleh sebuah beleid dari Dinas Kebersihan Kotamadya Makassar saat itu, areal berukuran dua hektar di belakang kompleks perumahan yang merupakan tanah kosong dan danau dijadikan TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Padang rumput dan danau Pannampu tempat kami bermain bola dan memancing itu tiba-tiba diserbu oleh puluhan truk-truk berbak besar berisikan sampah segala rupa.

 

Ribuan ton sampah dari segenap penjuru kota Makassar yang berpenduduk lebih dari setengah juta jiwa itu tumpah ruah tepat di antara dua lubang hidung kami setiap hari; pagi, siang, sore atau malam. Pannampu menjadi land mark untuk sebuah keterpinggiran; kotor, bau dan terasing. Kami, anak-anak penghuni kawasan itu juga berganti sebutan, “anak Capoa”, yang artinya tidak jauh dari becek, bau, kotor. Tak sampai setahun, padang rumput dan danau Pannampu berubah wujud menjadi bukit hitam menyeramkan yang terbentuk dari akumulasi sampah yang saban hari dihamburkan. Bukit itu mungkin sama seramnya dengan bukit tengkorak di cerita-cerita silat. Dan kami, anak-anak Capoa itu kemudian menjadikan bukit sampah yang mengerikan itu sebagai arena bermain dan ’bekerja’.

 

Kawasan Sampah Penghayat Pancasila

Selama lebih kurang tiga tahun, Pannampu menjadi magnet yang luar biasa besar bagi para payabo’, atau pemulung. Mereka tak saja menjadikan kawasan TPA Pannampu sebagai lahan untuk bekerja, tapi juga menjadi tempat tinggal. Puluhan gubug semi-permanen milik para payabo berdiri diseantero bukit sampah itu. Belum lagi populasi lalat, tikus, cacing, ulat, nyamuk dan segala jenis binatang yang tiba-tiba jumlahnya melonjak luarbiasa, dan luberan populasi itu juga menyerbu masuk sampai ke kamar tidur warga perumahan. Continue Reading »

Popularity: 75% [?]

Gowes Part-2: Destination Bojong Koneng

daengrusle April 13th, 2009

a-bike-in-waiting

Ahad, 12 April 2009 pagi 06.30. Saya, bersama para Gowes-er von Bumi Sentosa; pak Asta, Lucky, Syaiful dan Irfan kembali melanjutkan rutinitas pagi akhir pekan dengan bersepeda. Kali ini tujuannya adalah Bojong Koneng, sekitar 22km dari Cibinong, dengan ketinggian bukit sekitar 600mtr DPL. Kembali melewati rute yang sama dari Bumi Sentosa sampai ke Sentul City, singgah sebentar di warung Soto pojokan dekat Sekolah Pelita Harapan Sentul. Di tempat ini, pak Irfan memilih pulang duluan karena ada urusan keluarga. Kami berempat kemudian melanjutkan perjalanan.

Kalau mengarah ke Gunung Pancar kita berbelok ke kanan dari Sentul, maka menuju ke Bojong Koneng kita mengambil arah ke kiri mengikuti jalan Cijayanti. Menurut informasi, jalan ini adalah jalan alternatif menuju Puncak. Karenanya, kami banyak berpapasan dengan konvoi sepeda motor yang menghindari jalan tol (ya iyalah, motor kan ga bisa lewat tol). Suasana kanan kiri jalan lumayan segar, beberapa rumah besar dan outbound field kami lewati. Billboard Desa kuliner Gumati juga ada di sepanjang jalan itu.

di-puncak-bojongkoneng

Jalan Menanjak Yang Bikin Stress
Yang menjadi masalah buat saya yang pemula ini adalah kontur jalan Cijayanti ini. Meski jalannya beraspal mulus dan lebar, tapi kemiringannya rata-rata 30derajat menanjak dengan hanya menyisakan sedikit jalan yang lurus saja. Jalan menurun hanya satu, itupun tidak terlalu panjang. Saya beberapakali menyerah, mesti turun dari sepeda dan memilih untuk mendorong saja. Pangkal paha saya, juga otot betis agak sakit kalau dipaksakan. Nafas juga gak bisa mentolerir. Tiga botol minuman isotonik habis saya tenggak sepanjang perjalanan. Ada sekitar tiga jam waktu yang saya habiskan untuk sampai ke puncak Bojong Koneng, yang jaraknya 22km dari Bumi Sentosa.

Di sepanjang perjalanan menanjak yang meletihkan itu, kami berpapasan dengan rombongan kecil biker juga. Rombongan pertama adalah dua bule asal USA yang fasih berbahasa Indonesia. Sepeda mereka keren, salah satu nya menggunakan single bar untuk wheel holdernya. Satu perbincangan lucu namun membuat kita mikir plus malu, si bule nanya “Anda nanti turun lewat jalan mana?, dijawab “lewat jalan aspal, Sir”. “Jalan aspal? Sudah beli sepeda mahal-mahal, kok dipakainya di jalan aspal. Rugi tahu!” Rupanya si bule ini penggemar cross road, lewat jalan setapak, untuk menguji kehandalan sepedanya plus kemahirannya menapak jalan kampung. “Kalau tersesat bagaimana? tanya kami. “Ya kalau tersesat, tinggal di kampung saja. Terus kawin sama orang kampung!” pungkasnya dengan senyum sumringah di muka mereka. Haha, aya-aya wae nih si bule.

companion-from-indraprasta

Kakek Biker Yang Bikin Saya Risih
Ketika beristirahat di satu batu besar di salah satu tanjakan, kami berpapasan dengan tiga orang biker dari Bogor - klub Indraprasta. Salah satu nya bikin saya malu dan risih, seorang kakek yang saya taksir berumur sekitar 60-an tahun. Kakek itu dengan santainya mengayuh tanpa kelihatan letih, dan masih bisa diajakn ngobrol sepanjang perjalanan. Sementara saya sudah ngos-ngosan sambil menenteng sepeda - karena tak sanggup lagi mengayuh. Rupanya faktor pengalaman dan jam kayuh adalah segalanya! Demikian apologi saya, hehe.

Sekitar jam 10 lewat sedikit, akhirnya kami berhasil menapak puncak Bojong Koneng, yang ketinggiannya kira2 sekitar 600mtr di atas permukaan laut. Tentu saja bisa lebih cepat seandainya, saya tidak beberapakali berhenti, dan teman2 rombongan; pak Asta dan pak Lucky mesti menunggui saya istirahat. Hehehe. Setelah melepas penat sekitar 20 menit di atas Bojoing Koneng, sambil menenggak lagi sebotol minuman isotonik plus lima biji pisang Ambon, akhirnya kami kemudian turun. Turunannya sangat curam, beberapa kali saya mesti waspada sekiranya laju sepeda sangat kencang dan jalanan yang hanya berpasir dan berbatu itu agak riskan. Optimalisasi rem belakang adalah kuncinya. Masalahnya, saya terkadang pangling mana yang rem belakang mana yang rem depan, hehe. Untungnya tidak ada accident yang fatal selama turun bebas itu. Hanya ada satu kesempatan saja saya terperosok di sebuah genangan air, dan rantai sepeda saya lepas.

Ketemu Artis Sinetron
Perjalanan pulang ke Bumi Sentosa adalah perjalanan yang jauh lebih menyenangkan. Soalnya lebih banyak turunannya, jadi tungkai kaki tidak terlalu sering bekerja. Kami menyusuri perumahan Bukit Sentul yang jalan nya mulus banget, plus pemandangan indahnya menyegarkan mata. Di suatu tempat malah kami melewati tempat yang jadi ajang syuting sinetron, pemain ceweknya cakep sambil teriak “Deny, tungguuu! Pengen GR rasanya, hehehe, secara nama saya tidak ada unsur Denny nya…

Sampai ke rumah, tepat ketika adzan dhuhur berkumandang di mesjid Bumi Sentosa. Alhamdulillah. Setelahnya, counterpain’s time!

ini foto-foto lainnya: Continue Reading »

Popularity: 83% [?]

Liputan Pemilu di BumiSentosa

daengrusle April 9th, 2009

contreng1-bingung

Suara golput kemungkinan bakal bengkak di pemilu hari ini. Di deretan blok perumahan saya, dr sekitar 40KK, hanya 5KK yang punya hak pilih. Selebihnya tidak terdaftar di DPT setempat, atau terdaftar di tempat lain.

Di keluarga saya yg kini menetap di Bogor, ada 16 suara yang tidak tersalurkan. Sebagian besar karena alasan administratif, tidak terdaftar dlm DPT. Bahkan dalam data kependudukan kelurahan, nama kami tidak terdaftar, demikian keterangan kakak saya yang kemarin mencoba mengechek DPT di kantor kelurahan. Ini aneh, karena setahu kami KK dan KTP kami lengkap dan asli.

Kembali ke soal pemilu di kompleks Perumahan Bumi Sentosa tempat saya berdomisili. Pada umumnya para pemilih terdaftar bingung untuk memilih siapa caleg pilihannya, dikarenakan tingkat pengetahuan mereka thd caleg kurang memadai meskipun poster2 mereka terpampang di setiap sudut jalan selama masa kampanye, kecuali di kompleks perumahan yg memang terlarang oleh pengurus RT/RW.

Para pemilih umumnya merubungi dulu daftar Calon dan foto nya yang terpampang di pintu masuk TPS 04, untuk mengidentifikasi calon pilihannyasiapa tahu ada yg dikenali.

Salah satu warga menimpali kebingungan ini, “kalau bingung mau contreng calegnya, contreng aja partainya. Mudah kan? Yang diamini oleh warga lainnya.

Proses pemilu ini berlangsung dengan santai, panitia KPPS yg juga warga perumahan sumringah saja menjalankan tugasnya. Mereka banyak bercanda di sela2 tugasnya. Warga calon pemilih pun demikian, mereka menyikapi pesta demokrasi ini dengan santai seakan2 ini hiburan demokrasi saja.

Semoga hasil dari pemilu ini juga demikian, santai namun bakal membuat wajah2 rakyat Indonesia sumringah bahagia. Siapapun partai pemenangnya!

img00080-20090409-0924

Last update: PKS memenangi dua TPS di Bumi Sentosa. Namun, angka kemenangan ini masih dibawah jumlah Golput yang mencapai 40%.

Popularity: 83% [?]

My Another First Time: Gowes as a Biker!

daengrusle April 6th, 2009

bersama-pak-arsil-pak-rusle-pak-asta

Setelah sekitar dua bulan memfungsikan sepeda S-works Specialized ku hanya untuk pajangan atau sesekali menyusuri kompleks Bumi Sentosa, akhirnya bisa juga saya bawa menjajal jalanan seputar Sentul sebagaimana mestinya. Berawal dari cari tahu soal komunitas biker di milis warga Bumisentosa Cibinong, saya mendapat informasi bahwa di antara warga ada beberapa yang punya hobby bersepeda cross country dengan mountain bike (MTB), mereka menyebut kegiatan ini dengan istilah ‘gowes’. Entah artinya apa Gowes itu, sepertinya dipungut semena-mena dari lagu anak-anak..”kring-kring gowes gowes…” he3. (Foto di atas using tripod alami aka batu, taken from kamera pak Lucky)

Nah, sejak caritahu di milis warga itu, saya akhirnya mulai menyiapkan diri untuk ikut serta bersepeda sehat sambil wisata mata ini. Karena sepengetahuan saya dari sering denger baca dan lihat, mereka – para biker ini – menggabungkan dua kegiatan sekaligus; olahraga dan wisata. Dulu ketika saya bersama rekan-rekan kantor cross country ke Telaga Warna Puncak, beberapa kali berpapasan dengan rombongan biker ini. Kelihatannya menyenangkan dan menyehatkan.

Hal pertama yang saya persiapkan adalah peralatan bersepeda. Karena melihat sepintas para biker itu selalu dilengkapi dengan assessories khusus, maka di hari jumat sebelumnya saya coba jalan-jalan ke toko perlengkapan sepeda Oki/Sana Jaya hasil rekomendasi tetangga. Disana saya hanya beli helmet yang harganya sih bikin istri saya menganga, he3. Helmet gabus doang dihargai sama dengan cicilan hp ku, kata si mamanya Mahdi. Dalam hati saya bilang, ”untung saya cuman beli helmet, coba kalo sekalian beli yang lain…hahaha”.

rusle-sendiri

Key word: Gear Setting!
Singkat cerita, dengan perlengkapan seadanya – standar dan terkesan malu-maluin as biker wanna be; helmet (ini keren euy), tas pinggang kecil souvenir Mandiri utk tempat hape, sarung tangan motor hasil nilep punya ponakan, celana biker – yang sebenarnya judulnya salah beli maunya sih dulu beli celana renang, botol aqua, kaos biasa, sepatu Jogging tanpa kaos kaki. Just it! Jauh dari standard dan malah malu-maluin…hahaha. Dari rumah jam 06.00 saya singgah dulu di rumah abang, buat mompa ban belakang sepeda saya yang kempes karena gak pernah dipakai nyaris 2 minggu – sayang banget ya? Selepas itu saya ke tempat pertemuan di depan minimarket dekat gerbang. Menuju ke sana saya sempat berpapasan sama dua warga yg juga bersepeda, karena jalanan di kompleks agak menanjak saya yang gempor akhirnya cuman bisa ngedorong sepeda, sementara dua warga tadi dengan santainya mengayuh sepedanya (Belakangan saya sadar, key word nya: gear setting! – ah bodohnya diriku..)

Jam 6.45 kami bertiga – Pak Asta, Pak Lucky dan saya - baru beranjak dari kompleks BumiSentosa mengambil jalan ke kiri menuju jalan alternatif Sentul. Di awal, saya sudah mulai terseok-seok karena new comer – hal ini sudah saya sampaikan sebelumnya via sms ke mereka. Ketika melewati lampu merah Nanggewer, pak Lucky menyarankan saya untuk menaikkan posisi sadel supaya tungkai saya tidak terlalu terbebani ketika mengayuh. Beliau juga memberi tips untuk menyesuaikan gear belakang dan depan ketika jalan menanjak atau menurun. Untuk jalan menanjak, posisi gear dipasang di angka yang lebih rendah, sebaliknya untuk jalan datar atau menurun gear dipasang di angka lebih tinggi. Ah, inilah rupanya penyebabnya kenapa saya sulit sekali mengayuh saat menanjak di kompleks. Thanks a bunch to them! Continue Reading »

Popularity: 90% [?]

Golput Insya Allah Menang!

daengrusle March 25th, 2009

golput_makin_menjamur

(Gambar diunduh dari situs harian Waspada)

Meski dihujat sana-sini, mulai dari kader militan, tokoh partai, tokoh parlemen, sampai sebuah lembaga - yang dianggap memiliki otoritas keagamaan mengeluarkan fatwa soal apapun - mengkodifikasi hukum agama mengenai soalan ini, nampaknya golput akan tetap berjaya dalam pemilihan anggota legislatif 9 April 2009. Tanpa mengeluarkan ongkos kampanye yang besar atau bersusah-susah sosialisasi ke masyarakat, golput kemungkinan besar akan keluar sebagai pemenang. Salah satu pemicunya adalah tidak fokusnya visi misi para caleg menyentuh hajat masyarakat banyak, bahkan beberapa caleg norak alih-alih mampu merebut dan meluluhkan suara masyarakat, poster nya membikin bungah dan mual para (calon) pemilih. Hal ini semakin menguatkan itikad para golput-er untuk tetap istiqamah di jalur ideologinya.

Pilihan Politik Seumpama Menu Makanan; tergantung selera

Dalam salah satu milis, saya mengibaratkan pilihan politik itu seumpama selera makan. Sekiranya menu ‘janji politik’ yang disampaikan oleh para caleg itu mengundang ’selera’ para calon pemilih, maka beruntunglah caleg itu. Ini dengan catatan bahwa para calon pemilih mampu mengingat nama caleg yang menyajikan menu yang berselera tersebut. Karena dengan ratusan nama caleg yang terpapar di kertas suara seukuran A1 - kertas kalkir tersebut, maka rada susah dan makan waktu bagi para pemilih untuk memerhatikan nama caleg idamannya. Slogan ‘1 menit di kotak suara menentukan nasib 5 tahun ke depan’ bakal direvisi menjadi mungkin 30 menit.

Seberapa banyak caleg atau partai yang menyajikan menu janji politik yang berselera, di tengah masyarakat yang sudah mual akan janji-janji membosankan? Kalau kita mau berhitung statistik, seberapa banyak janji pemilu 2004 yang sudah tertunaikan? Alih-alih memenuhi janji-janjinya, berkunjung ke daerah pemilihan pun mungkin bisa dihitung dengan jari. Para legislator malah sibuk dengan urusan lainnya; studi banding ke luar negeri, lobi-lobi di luar parlemen, sibuk menyusun strategi berkoalisi, atau yang tiba-tiba jadi selebritas ‘hitam’ lagi sibuk menyusun alibi di depan penyidik KPK sambil menyeret semuanya baik sekondang maupun seterunya.

Memang tidak semua legislator sedemikian, masih banyak yang idealis, santun dan tidak tercemari oleh ambisi kekuasaan dan kesejahteraan. Mereka yang sudah tergolong mapan secara rohani dan merasa cukup dengan kondisi finansialnya sebelum menginjak senayan, sudah menyiapkan mental dan idealisme untuk tetap berjuang sesuai amanah. Banyak diantara mereka yang boleh dibilang tidak terlalu kaya, tapi menolak untuk menjadi kaya dengan jalan mengebiri amanah. Untuk beberapa legislator itu, sayang jarang dipublikasikan media, kita pantas mencatat namanya untuk kita contreng lagi di pemilu tahun ini. Ada yang masih menggunakan angkot untuk transportasi harian - kendaraan dinas hanya dipakai untuk dinas, ada yang memilih nge-kos di tempat sederhana, ada yang seluruh gajinya disumbangkan untuk membangun prasarana di dapilnya, dan lainnya. Beberapa gelintir itu tentu saja tidak terjangkau pemberitaan media yang umumnya menganut “bad news is a good news”.

Peluang Golput dan Fakta Pilkada

Lantas, bagaimana peluang golput nanti? Mari kita lihat statistik beberapa pilkada yang bisa menjadi tolak ukur kesuksesan pemilu nasional kali ini. Dengan asumsi bahwa pilkada adalah benchmark terbaik mengingat tingkat kepemahaman atau garis singgung kepentingan masyarakat terhadap visi misi calon pemimpin daerahnya masih lebih tinggi dibanding partai atau calegnya yang kadang gak begitu jelas.
Hasil pilkada di berbagai tempat menunjukkan bahwa golput menjadi pemenang. Pilkada Jawa Tengah, angka golput mencapai lebih dari 45.3%. Pilkada putaran pertama di Jatim mencatatkan angka 39.2% untuk Golput. Kalau ada putaran kedua, semestinya yang maju adalah pasangan bodong plus Karsa sebagaimana sering diadakan di desa-desa.

Berikut data Golput di masing-masing Pilkada, baik Pilbup, Pilwalkot, sampai Pilgub:
- Golput di Pilgub Jateng 45.3%
- Golput di Pilgub Jatim 39.2%
- Golput di Pilgub Kaltim 42.07%
- Golput di Pilgub DKI Jakarta 36.2%
- Golput di Pilgub Sulsel 33%,
- Golput di Pilgub Jawa Barat 34,67%
- Golput di Pilgub Kalbar 37.69%
- Golput di Pilgub Banten 39,28 %
- Golput di Pilgub Sumatera Utara 41%,
- Golput di Pilgub Kalsel 40%
- Golput di Pilgub Sumbar 37%
- Golput di Pilgub Jambi 34 %
- Golput di Pilgub Kepri 46%.
- Golput di Pilbup Cirebon 38.22%
- Golput di Pilwalkot Bandung 30.19%
- Golput di Pilbup Pati 50%,
- Golput di Pilbup Bogor 45%,
- Golput di Pilbup Wajo 32%,
- Golput di Pilbup Sukoharjo 42,33%,
- Golput di Pilbup Wonogiri 39,05%
- Golput di Pekalongan dan Solo masing-masing 50%
- Angka golput tertinggi tercatat di Pilwalkot Pontianak yang mencapai 61%.

Data diatas menunjukkan bahwa angka Golput di seluruh Indonesia rata-rata sekitar 35%-45%. Sebuah angka partisipasi negatif yang cukup tinggi. Memang tidak semua angka golput ini tinggi, terhitung di beberapa pilkada; Ambon, Sidrap, Bali dan NTB angka Golputnya rata-rata ‘hanya’ 25%, dan yang paling rendah adalah di pilgub NTT yang angka golputnya hanya 20%. Statistik pemilu nasional juga menunjukkan penurunan tingkat partisipasi pemilu. Data Kompas menunjukkan bahwa partisipasi pada Pemilu 1999 mencapai 92,74 persen. Pada pemilu legislatif tahun 2004 tingkat partisipasi turun menjadi 84,07 persen. Adapun tingkat partisipasi pada Pemilu Presiden 2004 di putaran I dan putaran II masing- masing sebesar 78,23 persen dan 77,44 persen. (Kompas; 17/06/2008).

Kenapa Golput?
Angka Golput yang tinggi ini tidak bisa dipandang remeh. Ibaratnya bahwa kepada setiap pemenang pemilihan, ada pesan bahwa dukungan terhadap mereka tidaklah bulat. Ada suara-suara yang sungguh sangat besar dari sisi kuantitatif yang tidak berada di garis yang sama dengan para pemimpin terpilih itu. Meskipun tidak semuanya mengambil jalan golput sesuai ideologisnya. Continue Reading »

Popularity: 96% [?]

Next »