daengrusle.com [dan bebaris kronik yang diwariskan]

Daeng Rusle

Ahlan wa sahlan! Selamat Datang dan terima kasih tak terhingga sudi mampir di Blog saya yang sederhana ini. Semua yang terungkap dan tertuang disini hanyalah manifestasi dari upaya untuk mengabadikan pikiran saya dalam dunia yang santun, yang luas dan yang abadi. Seorang sastrawan besar Indonesia pernah menuturkan, menulis adalah pekerjaan yang bermatra keabadian. Sekali anda menggoreskan pena ke dalam kitab perjalanan kemanusiaan, maka Anda akan termaktub dalam kanvas sejarah dalam bingkai keabadian. Silahkan berkomentar, pembaca. Sekali lagi terima kasih sudah berkunjung. Jazakumullah khairan katsira!

DISCLAIMER: Blog ini adalah blog pribadi saya dan tidak ada jaminan bawa tulisan di blog ini akan adil, tidak bias dan seimbang. Bersikaplah dewasa dan jika anda membutuhkan opini dari pihak lain atau pihak yang berseberangan pendapat, anda dapat mencarinya dari sumber lain. Informasi yang disediakan oleh blog ini bersifat apa adanya, tanpa jaminan dengan kepercayaan penuh pada kedewasaan para pembacanya. (Kutip dari Priyadi).

[Sanjak] Supaya tetap ada yang bangun

daengrusle May 9th, 2008

tidak ada perhentian di dunia ini sebenarnya,
kalo merujuk ke Heraclitus (540SM) dari Miletus, alam ini, termasuk isinya adalah sekumpulan turbulensi abadi…semuanya bergerak dan dengan demikian berubah…

yang ada dianggap diam hanyalah konstanta bilangan…itupun masih akan selalu direvisi…
nah bukankah revisi adalah juga manifestasi ketidakberhentian…?

supaya tetap ada yang bangun
:: anhie, irha, unga, muse’

sehabis melarung arung yang bertarung dalam sarung di benak
tiba saatnya menelungkup belikat pada diam yang ditanak,
sedikit saja, dan tanak yang gelisah kita angkat menyalak
bangun, setegap saja, kita bisa toreh semua gairah yang tertalak

bukan kita sebangsa manusia kalau dipaku mati pada penat
sebab gairah tidak pernah henti menampar kuat
di kepala, jantung dan hati kita sama rekat erat
bahwa semua waktu adalah saat kita menghitung semangat

supaya tetap ada yang bangun, kawan
tidak untuk menunjukkan aku kita kepada lawan
hanya sekedar bersyukur pada diri dan sang maha rahman
bahwa tetap bahagia memegang amanah hingga di akhir jalan

pasir ridge, di tengah penat…
May 09, 2008

Popularity: 14% [?]

neraka berbau amis

daengrusle May 3rd, 2008

dan mengapa, ketika bibir dan zikirku sedang berpekur mencari-Mu di sela pesiar pikirku
di beranda, ada segerombolan orang bergamis dan berkopiah,
dengan rambut lebat di dagunya berseru murka
seakan neraka ada di balik mimbar, di antara shaf-shaf yang tertata rapi
atau ditumpukan kitab yang lusuh

dan mengapa, kemudian surga dan neraka menjadi properti yang diperjual belikan
ketika mulut kyai berbau amis oleh tiga kata angker; sesat, haram dan neraka

Popularity: 21% [?]

[percik] sedikit ber-filsafat soal keyakinan yang memuaskan

daengrusle April 28th, 2008

mahdi-membangun-menara-kotak.JPGAda yg mengatakan bahwa keyakinan itu batas nya hanya persoalan kepuasan belaka. ketika keyakinan itu mampu menjawab mayoritas pertanyaan substansial seseorang ttg kehidupan secara memuaskan, maka ia menjadi ‘keyakinan’ yang dibawa selama hidup…

Namun ketika ada keyakinan lain yang datang dan memberi jawaban yang relatif ‘lebih’ memuaskan, maka ia boleh berpindah…makanya kemudian kita banyak menyaksikan orang convert their faith to another one

Makanya dalam jagad alam pikiran seseorang, sesuatu yang bersifat dogmatis, doktrin - yg wajib terima - dan sebagainya, ter-negasikan karena persoalan kemampuan menjawab permasalahan substansial manusia tidak mewujud secara rasional….

Dalam permasalahan tertentu yang tidak ada jawaban exactnya, maka pendekatan2 semi rasional dan rasional dikemukakan oleh para filsof dari masing2 ranah keyakinan…nah, jawaban2 mana yang lebih memuaskan, berpulang kepada pendekatan subyektif penerima nya…

Wallahu ‘alam bis showab

Popularity: 31% [?]

[Buku] The Perfect Guys dan Ayat-Ayat Cinta

daengrusle April 19th, 2008

Ayat-Ayat+CintaApa salahnya menjadi the perfect guys? Ada salahnya. Di tengah masyarakat yang serba tak sempurna, serba kompromi kepada ke-terbatas-an Anda akan divonis berada hidup di awang-awang, dengan menjadi manusia ‘aneh’. Kalau anda merasa orang yang sadar dan normal, maka ketika Anda berada di dalam quadran masyarakat yang serba tak sempurna, maka Anda adalah setitik noktah koordinat yang tidak bersinggungan dengan garis linear apapun, kecuali di interpolasi sedemikian rupa hingga seolah-olah Anda berada di dalam struktur dan sistem nya, hanya karena keberadaan fisik Anda diakui dalam bentuk statistik. Ya, Anda adalah manusia sinting di tengah masyarakat waras. Masyarakat yang waras yang lebih suka berdalih bahwa kemanusiaan itu berarti ketidaksempurnaan. Lihatlah pemeo masyarakat “rocker juga manusia, presiden juga manusia, artis juga manusia, hingga ulama juga manusia”. Semuanya adalah penegasan atas sikap permisif atas ketidak sempurna-an kapasitas moralitas seseorang. Namun di saat yang lain, masyarakat jenis ini mudah dihinggapi sikap munafik, karena masih saja menyenangi menggunjingkan kebobrokan dan kemerosotan moral perilaku manusia di dalam nya.

Apa salahnya menjadi the perfect guys? Ada salahnya. Siap-siap saja menjadi bahan cemoohan oleh orang-orang yang tak sanggup menjadi sempurna, meski sangat berkeinginan untuk itu. Anda akan dinegasikan sedemikian rupa sehingga semua opini yang Anda lontarkan akan menjadi bumerang - back fire yang akan menghancurkan diri Anda sendiri.

Apa untungnya menjadi the perfect guys? Banyak sekali. Konsistensi Anda akan membawa Anda kepada kepuasan pribadi, ketika jalan yang lurus dibentang, dan Anda termasuk salah seorang dari sedikit yang berhasil berada di jalur yang penuh barokah itu.

Anda ingin menjadi the perfect guys? Bacalah Ayat-ayat Cinta. Anda yang sudah terlalu lapuk hidup di tengah masyarakat buta akan mendapatkan kenyataan ironis. Pilihannya hanya dua; Anda bisa mencemooh pribadi seorang Fahri, atau memujanya.

Pilihannya, kalau Anda memilih yang pertama. Berarti Anda benar2 sudah terlalu busuk dalam ketidak sempurnaan. Maka, beristighfarlah.

:)

Popularity: 46% [?]

gerundel koddala

daengrusle April 19th, 2008

terlalu sulit saat ini untuk mencoba memberi garis yang jelas,
antara keinginan untuk mengerjakan sesuatu dan
ritme hidup yang berkejaran seperti tak ada habis nafasnya.
garis yang jelas, malah semakin mengabur.
saya rindu pada sesuatu yang aku tak perlu sebutkan disini,
tapi terpampang jelas pada setiap rekreasi hati yang saya lakukan
larut dalam pembacaan buku yang saya sempatkan membuat saya kadang bersedih,
sejauh mana saya sudah berada di garis yang jelas itu?
sementara ranah waktu yang di dalamnya saya sudah terpaku dengan semua konsekuensi
membuat saya sedikit menyesal, tak adakah teorema yang mengijinkan
sebuah upaya untuk kembali; mengambil peta mundur dan melakukan restorasi yang mungkin?

tidak ada. hukum alam tidak pernah kompromi pada penyesalan.
semua adalah pilihan yang baik, tidak ada yang salah.
kita berpacu pada perubahan demi perubahan, dan jangan sekalipun
perubahan itu merubah sesuatu yang ada dalam kepala kita.

tapi saya hendak kembali.
kembali ke mana? ah, itupun saya tak tahu

Popularity: 39% [?]

[sajak] Dongeng Bathin Sembilan*)

daengrusle April 12th, 2008

kami Bathin Sembilan, puak Puyang Semikat yang terusir dari Musi
sama kini berdiri ditempat mana sama berpijak,
di atas gelagar Nebang Para, mata kita sama nanar memagut nun tanah Telisak
disana rimbunan sawit terhampar luas laksana permadani berbulu kesak
di lengannya, sungai Bahar hangat meliuk mesra memeluk
berselimut magis Bathin Sembilan, benak kita sama berkhayal emas yang direbak
padanya kami melukis kenang pada Puyang Semikat secerlang merak,
dan kalian mencumbunya senikmat saham blue chip siap lego di lapak-lapak

kami Bathin Sembilan, puak Puyang Semikat yang tertanam di sembilan ngarai
kita kini sama berdiri ditempat mana sama berpijak,
tapi kepala kami sompak menganga oleh janji yang terserak
nun berpuluh depa di bawah rimbunan sawit, asa kami mengatup terderak-derak
dulu kalian janjikan hamparan pepohon itu adalah emas yang membelalak
kemudian janji itu disulap menjadi asap naik berarak
dan waktu kemudian bertitah: terbilang malang nasib kami puak beranak

alangkah malangnya, sekira waktu merentang jarak dengan nasib
kami memang seumpama kelebat konon yang lapuk oleh lupa,
berdiam di suatu negeri dimana pikiran lebih senang memilah daripada menyapa
dan nasib kami kemudian terbilang secepat sampan membelah Batanghari,
dan tiba-tiba kami sudah berdiri di tanah asing dimana ular seperti bertanya masygul
kemana gerangan sembilan negeri yang kau gagahi seperkasa dulu,
melingkar kukuh pada Rimbo Adat ibarat kitab lanun yang angker?

dan halimun Sungai Lalan di lembah Musi mengendus tajam bergegas
mengantar dongeng semasa dulu digelayut Puyang Semikat berkemas-kemas
terusir dari pertiwi yang amuk oleh buah kutukan kemilau emas
di ujung Bahar tempat sauh dilepas sudah ditoreh tegas; gelar terbilang harta dihempas
namun seperti gelinding yang ingkar, sang Puyang dilingkup pula takdir baik
dua kerat hati kembar Bayan Riu Bayan Lais disunting dari Depati Seneneng Ikan Tanah;
darinya berserak puak pada sembilan ngarai sejak Muaro Jambi, Batanghari hingga Sarolangun;
Pemusiran, Burung Antu, Sekamis, Telisak, Jangga, Jebak, Bulian, Bahar, dan Singoan
jadilah kami Bathin Sembilan, puak Puyang Semikat yang terusir dari Musi

kami Bathin Sembilan, puak Puyang Semikat yang kini nanar dikepung sawit
terbilang waktu; nasib kami sudah digariskan; punah oleh kutuk nasib puak terusir

- puisi ini sedianya ditulis untuk diikutkan dalam Lomba Penulisan Puisi dan Cerita Pendek Berbasis Cerita Rakyat Jambi oleh Jambi Writing Program

*) terinspirasi dari tulisan:
Kebudayaan yang Hampir Punah – Irma Tambunan
Kompas 12 Maret 2008

Popularity: 55% [?]

[sajak] kita kini adalah kita nanti

daengrusle April 9th, 2008

sebuah ungkapan dalam kata yang mungkin bisa dianggap puisi, utk merayakan ultah sahabat, kakanda tersayang: Amril Taufik Gobel aka Daeng Battala

atg.jpg

kita kini adalah kita nanti
::: daeng battala

tetapi daeng, kita kini adalah kita nanti
apa yang kita toreh pada detik lampau adalah kita yang menjelma mercusuar

bukan tegak berdiri pongah yang membuat kita terlihat nelayan
dan padanya semua melambai mencari tujuan

adapun daeng, kita sebangsa cahaya yang menuntun
olehnya nelayan tak ragu mendayungkan sampan ke pesisir

apa yang kita tulis kini dan lampau daeng,
menjadi cahaya kita nanti, di dunia atau di suatu tempat yang tak terbayangkan

karenanya daeng, kalau selasar itu menyorong lelubang untuk kakimu
langkahi saja, atau tutupi dia dengan apa daeng punya

biar dia diam, mati dan menjadi batu yang dikutuk
karena kita tak perlu tanggap pada apa yang bisa bikin kita juga diam

karena kita kini adalah kita nanti
kita punya cahaya, dan hanya itu yang bikin kita berarti

pasir ridge, april 9, 2008

Popularity: 56% [?]

[narsis] Menang Lomba Puisi dan Foto

daengrusle April 4th, 2008

Hm, hari ini saya menang dua kali. Dalam ajang lomba Menulis Puisi dan Lomba Fotography di kantor dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, saya bisa dapet dua penghargaan;

Juara 1 di Lomba Menulis Puisi untuk Bermimpi di Gubuk Kardus - yang pernah saya posting di blog ini dgn judul Kepada Siapa Kemudian Mereka Berpaling?
Juara 3 Lomba Foto yang bertema Ukhuwah dan Keteladanan untuk foto dibawah ini.
berbagi-rezeki-berbagi-kuasa.JPG

Hadiahnya lumayan, voucher belanja di Matahari, he2. Mahdi dan Maipa bisa dapat baju baru lagi neh, atau buat Bapaknya saja…hehehe.

Alhamdulillah.

Popularity: 74% [?]

Untuk KRMT RS: Kerendahan Hati

daengrusle April 2nd, 2008

Kerendahan Hati
ditulis oleh Kang Iwan Abdurrahman

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

dikutip dari blog nya deen

akyu.jpgKRMT RS, ada baiknya kembali berkaca pada sajak ini. Sebelum melontarkan petuah kasar atau tuduhan halus bagi sebuah komunitas. Pengertian dasar tentang sebuah komunitas tidak membuat kita abai, bahwa komunitas apapun itu pasti heterogen individualnya. Tidak bisa memberikan generalisasi atas sebuah ‘cap’ terhadap komunitas, apalagi tuduhan yang tidak berdasar. [foto diambil dari sini]

Menganggap blogger adalah kaum perusak tatanan dan mbalelo terhadap kebijakan pemerintah tanpa mengetahui pasti typical masing2 blogger itu sama saja melakukan penghinaan terhadap komunitas yang ditengarai sudah berjumlah ratusan ribu itu. Ini sama saja dengan si bangsat anggota parlemen Belanda yang membuat film dokumenter bertajuk FITNA yang dibuat berdasarkan kebencian yang dipelihara sedemikian rupa.

Apalagi kalau menengarai bahwa blogger adalah sponsor, supporter dan pemelihara situs2 yang berpotensi merusak moral bangsa ini! Terlalu kejam. Apakah KRMT RS tidak pernah tahu ada komunitas2 blogger yang setia berbagi dalam kebaikan, saling nasehat menasehati dalam kebenaran. Tidak terhitung banyaknya komunitas blogger yang terhimpun karena interest mulia seperti ini. Ambil lah contoh Indonesian Muslim Blogger. Apakah komunitas blogger seperti ini pantas di labeli perusak akhlak dengan intensi menantang pemblokiran situs-situs porno?

Nah, mas Kanjeng, jadilah orang yang rendah hati saja. Salah satu ciri orang rendah hati adalah menjaga lisan dan perilaku nya dihadapan khalayak. Satu saja manusia yang menjadi terzalimi karena ucapan dan perilaku kita, akan memberatkan kita hidup di dunia ini, apatah lagi di akhirat.

Popularity: 77% [?]

[Buku] Makkunrai: Ada Api di Mata Perempuan

daengrusle March 28th, 2008

makunrai

Judul: Makkunrai - dan 10 Kisah Perempuan Lainnya
Pengarang: Lily Yulianti Farid
Penerbit: Nala Cipta Litera, 2008
Halaman: 152 halaman, 13×19cm

Anda tergolong lelaki bejat, atau perempuan yang menjadi simpanan lelaki bejat? Berkacalah pada buku ini. Di buku yang merangkum sebelas cerita pendek tentang perempuan dan semua unek-uneknya, mimpinya, dan -terutama - perasaannya, anda akan berhadapan dengan vonis menyakitkan, seumpama cap ‘neraka’ ditempelkan di jidat. Anda tergolong lelaki baik? Waspadalah, buku ini bercerita bahwa ada banyak mata perempuan yang menyimpan api di dalamnya, sanggup memata-matai ke’baik’an Anda. Sedikit Anda terpeleset dalam lubang pengkhianatan - yang tidak melulu berarti selingkuh mesum, juga selingkuh moral, maka serta merta Anda akan terperosok ke neraka ciptaan perempuan; menjadi lelaki bejat - yang harganya mungkin tidak lebih mahal dari upil. Dicari, dikorek dan dibuang atau ditindaskan ke bawah meja - tempat yang tidak akan pernah terlihat, kecuali oleh sarang laba-laba.

Sebelas kumpulan cerpen di dalam buku ini mengusung tema khas feminisme; perlawanan perempuan melawan simbol-simbol yang terlanjur dipelihara oleh kaum lelaki; kekuasaan atas gender. Bahwa dalam dunia yang ‘normal’, lelaki adalah penguasa, karenanya bisa berbuat semaunya dan semuanya. Lelaki dipuja kejantanannya bila istri dan anaknya bertebaran - dimana saja kapan saja, tapi perempuan haram bersuami banyak. Lelaki dianggap ‘biasa’ meninggalkan istri dan keluarga tanpa alasan, tapi seorang perempuan dianggap hina dina apabila meninggalkan rumah. Bahkan ada pemeo yang sangat stereotip, Lelaki pulang pagi disebut Arjuna, sedang perempuan yang pulang pagi disebut kupu-kupu malam. Sama indah sebutannya, tapi beda ‘rasa’ dan martabat sosialnya. Itulah, dunia yang ironis. Dunia yang kadang sering lupa menyadari ada kata ‘adil’ yang mesti ditegakkan atas semua hal. Terutama gender.

Sebelas cerita pendek disini bukan sekedar fiksi, bahkan saya yakin - terutama setelah membaca halaman “Daftar Inspirasi dan Catatan Lainnya” muncul karena tema-tema yang diungkap dalam cerita ini nyata adanya. Karenanya, cerita-cerita yang dikemas dengan tutur yang kadang runut dan kadang melompat-lompat, mampu menghidangkan cerita yang seumpama berkaca pada pengalaman diri, lumrah terjadi di masyarakat. Kadang merupakan tesis yang dicaplok dan dipindahkan ke ruang baca, kadang juga merupakan antitesis dari ketimpangan yang dihadapi - karenanya perlu dilempangkan, diluruskan.

Itulah Lily, penulis kreatif yang menginspirasi banyak penulis pemula di panyingkul, mengabarkan pandangannya tentang hal ihwal perempuan dan permasalahannya. Dia hadir dalam bahasa tutur tulisan untuk membela perempuan, dan dengan demikian mengutuk lelaki bejat. Di saat yang sama lelaki bejat sama jahatnya dengan perempuan simpanan - karenanya perlu juga dilempar rumahnya, tanpa kecuali. “Gila! Dari bahan apa sih lelaki tercipta? Tahunya hanya kawin lagi, kawin lagi. Brengsek Semua! (Nua, Diani dan Lelaki Bejat). Hasilnya, dia mengundang kita untuk turut menghukum para lelaki tukang kawin itu dengan melempari rumah istri simpanannya. Namun Lily kadang menutup kisahnya dengan teramat bijak, bahwa memendam dendam dan terus menerus menyalakan mesin perang tanpa batas waktu tidaklah lebih baik daripada kebejatan itu sendiri, sebagaimana dalam cerita Nua, Diani dan Lelaki Bejat. Toh drama itu akan terus menerus bergulir, selama lelaki masih dilahirkan. Dan anehnya juga, perempuan pun tak bosan-bosannya menjadi korban, walaun contoh sudah ribuan dibacakan, diceritakan dan disaksikan. Perempuan mungkin memang seperti padang pasir, meresap semua air hujan yang tumpah tanpa sanggup menahannya. Terutama ketika para lelaki bejat sudah lunglai oleh usia, dan memohon kembali ke pelukan perempuan-perempuan yang dulu dikhianatinya. Tragis.

Lily sesungguhnya tidak sedang hendak mengatakan bahwa semua lelaki bejat, hanya sebahagian. Lelaki kadang menjadi sosok yang dirindukan, yang dijadikan tempat pulang untuk kemudian bersandar, menjadi teman rbagi hidup. Kita semua tahu, Lily kini sedang me’nikmati’ hidup bersama dua lelaki yang cinta nya diungkapkan dengan indah..”butuh bertahun-tahun belajar menulis sajak sendiri untuk membalas sajak cinta keduanya” (Bertiga Sajak Sekeluarga, 2007). Dan kami, para anggota milis yang celoteh nya rajin diposting - untuk menyemangati, tentu bangga menjadi sahabatnya.

Ada dua catatan kecil sehabis membacanya yang sedikit membingungkan tapi bisa dimaklumi. Pertama, sosok Jenifer dalam cerpen “Api” membuat saya sedikit bingung. Di awal cerita tempat lahirnya disebutkan di Luwu 1946, namun kemudian terjadi duplikasi informasi yang hiperkorek di bagian akhir cerita; …pindah ke Surabaya, dan setelah ibu melahirkan aku, kami pindah ke Jakarta (Api). Dimana sebenarnya Jenifer di lahirkan; Luwu kah, atau Surabaya? Tentu kalau memikirkan nama tokoh “Jenifer”, saya bisa saja menyimpulkan yang benar adalah Surabaya, yang mana bapaknya adalah lelaki keturunan, bukan lelaki bugis yang menetap di Luwu. Nama Jenifer jarang ditemukan dalam daftar nama perempuan Bugis - beda dengan Mardiah, Dahlia, Marayya. Kedua, ini sebenarnya sangat sepele. Istilah bathup di cerita pendel bertajuk Pembenci Jakarta membuat saya perlu membuka kamus. Sependek ingatan saya, yang benar adalah bath-tub, atau bath-tube. Bukan bathup. Tapi sekali lagi, ini sepele saja. Mudah diabaikan, dan tentu saja tidak mengurangi kedalaman dan kedahsyatan cerita-cerita yang mengalir di buku ini.

Terakhir, saya hendak bernarsis ria. Lily Yulianti adalah sahabat saya. Di buku yang saya miliki ada tandatangan dan tandahati nya. He2. Kuru Sumange kak Lily! Lanjutkan bersedekah ilmu untuk kami yang kadang bebal dan pemalas. Dan kami tentu tak bosan membaca dan mendengar celotehmu.

Popularity: 72% [?]

Next »