daengrusle May 10th, 2009
Kisah ini pertama kali diceritakan oleh guru bahasa Makassar saya di SMP Negeri 5 Makassar, tahun 1988. Saya ingat judul buku pegangannya “Pappilajarang Bahasa Mangkasarak” dengan tulisan lontara yang geometrikal yang dikarang oleh A Gani Cangara. Setelah 20 tahun berselang, cerita ini masih teringat jelas di kepala saya dan sering terngiang manakala menghadapi sesuatu masalah. Belakangan saya mencermati bahwa cerita ini adalah contoh sangat sederhana dari sebuah konsepsi pemikiran yang mencoba melihat permasalahan dari sudut pandang yang berbeda namun lebih efektif dalam pencapaian tujuannya. Orang banyak menyebutnya sebagai solusi “out of the box”.
Tersebutlah Daeng Tompo di negeri Makassar, seorang saudagar tua yang hartawan dan bijaksana. Beliau memiliki dua orang putra yang jujur dan penurut. Yang sulung bernama Daeng Lompo sedang yang bungsu dinamakan Daeng Caddi. Keduanya amat tekun membantu orang tua nya mengelola perniagaan. Segala titah Daeng Tompo pasti dilaksanakan sebaik-baiknya. Perniagaan mereka maju pesat, hingga kekayaannya menggunung laksana gunung Bawakaraeng.
Suatu ketika, menjelang batas usia nya, Daeng Tompo memanggil kedua putranya untuk berwasiat. “Hai anakku permata hatiku. Sesungguhnya isyarat langit telah mendekat padaku. Beberapa saat lagi diriku kembali ke sang Pencipta. Kutinggalkan harta yang sungguh bisa membuat kalian berdua sejahtera sepanjang hidup tanpa perlu menghinakan diri menjadi politikus. Hartaku yang melimpah kubagi rata berdua untuk kalian. Jangan khawatir tak ada lagi saudaramu selain kalian berdua, karena ayahandamu ini bukanlah penyuka poligami. Jangan pula khawatir ada ‘caddy’ jelita yang akan menuntut pembagian harta kelak, ayah kan tak tahu main golf! Namun sebelum jiwaku berpisah dari daging dan tulang ini, aku hendak mewasiatkan tiga hal kepadamu yang sungguh jikalau kalian berpegang kepadanya niscaya kemakmuran akan terus menaungi hidupmu.
“Tiga hal itu anakku, adalah kunci sukses ayahanda selama ini. Sekiranya kalian hendak mengikuti jejak ayahanda, maka cernalah sebaik engkau mengunyah ikan baronang bakar sambal mangga kesukaan kalian. Kelezatan nya tentu akan kau rasakan sepanjang waktu. Wasiatku itu adalah: Pertama, sekiranya engkau beranjak ke tempatmu berniaga jangan pernah terkena sinar matahari. Kedua, hendaklah kalian memakan seribu ikan setiap hari sebagai lauknya. Ketiga, jangan pernah menagih utang kepada siapapun”. Si ayahanda kemudian menutupnya dengan ancaman, “sekiranya kalian ada yang tidak menjalankan wasiat ini kiranya langit dan tanah menjadi saksi bahwa kebinasaan akan mengerubungi kalian seperti lalat mengerubungi borok”. Kedua anak penurut itu mencatat wasiat ayahandanya diatas kertas yang mahal, kemudian di laminating dan digantung di masing-masing kios perniagaan mereka.
Tak lama berselang Daeng Tompo pun berpulang ke haribaan sang Khalik, meninggalkan kedukaan diantara kedua anaknya. Atas wasiat sang ayahanda, harta yang melimpah ruah itu pun dibagi dua sama rata sama rasa sama banyak. Keduanya kemudian menjalankan wasiat sang ayahanda sebaik-baiknya. Tak ada yang dikurangi tak ada pula yang ditambah, takut kuwalat dan kena kutuk menjadi lalat, eh menjadi borok yang dirubungi lalat.
Daeng Lompo, si sulung yang sangat penurut melaksanakan titah sang ayahanda dengan cermat nan menyeluruh.
Demi menjalankan wasiat pertama ayahanda tercintanya, Daeng Lompo membangun jalan khusus yang dinaungi dengan kanopi panjang berarsitekur khas a la Makassar sebagai titian menuju ke pusat perniagaannya. Keindahan jalan ini mungkin hanya tertandingi oleh walk way yang ada di Bank Indonesia Jakarta yang konon mengabiskan biaya bermilyar-milyar. Karena titian indah ini, tak pernah sekalipun terik mentari membakar kulit mulus Daeng Lompo. Ia selalu menyusuri jalan spesial ini dengan bangganya, karena telah menjalankan titah sang ayahanda. Bukankah itu pertanda ia anak yang berbakti kepada orang tua?
Untuk melaksanakn wasiat kedua, maka setiap pagi ia membeli ikan baronang besar sebanyak seribu ekor setiap harinya. Ia memerintahkan kepada para nelayan untuk mendatangkan ikan-ikan terbesar seantero teluk Makassar untuk didatangkan ke rumahnya setiap hari untuk disantap. Karena kedermawanannya, ia juga tak lupa menyumbangkan ikan-ikan besar nan lezat itu ke tetangga dan fakir miskin sekitarnya.
Karena menjalankan wasiat ketiga, si sulung ini menjadi buah bibir seluruh lapisan masyarakat, dari kasta masyarakat miskin kota hingga para eksekutif. Daeng Lompo terkenal sangat pemurahnya, ia menjadi tempat orang-orang sekota Makassar memohon bantuan financial yang mudah nan murah. Pinjaman yang diberikan oleh Daeng Lompo sifatnya sangat lunak. Saking lunaknya, Daeng Lompo bahkan melarang pegawai-pegawainya untuk menagih piutang kepada para debiturnya. Tak heran banyak debiturnya yang tidak kooperatif.
Kebijakan serba wah dan luru-lurus ini tak pelak menjadikan harta Daeng Lompo makin tergerus. Tak sampai lima tahun, kekayaan Daeng Lompo habis ludes!
Bagaimana dengan Daeng Caddi, si bungsu yang juga tentunya amat penurut itu? Ternyata kekayaan Daeng Caddi meningkat drastis, berbeda dengan kondisi ekonomi kakandanya.
Ketika Daeng Lompo, sang kakanda, berkunjung ke rumah Daeng Caddi yang sudah menjelma menjadi istana menyaingi istana Gowa Balla Lompoa, sang kakak bertanya masygul kepada sang adik.
“Hai adinda Caddi, saudaraku tersayang. Ketahuilah, aku senantiasa mengingat setiap kata yang disampaikan ayahanda kita ketika berwasiat. Ketiga wasiatnya kuturuti tanpa cela. Lihatlah betapa lima tahun ini aku sangat berusaha mewujudkan titah ayah. Tapi apa yang terjadi, hartaku semakin hari semakin berkurang. Tapi kulihat keadaanmu sungguh terbalik dengan yang kualami. Hartamu malah semakin banyak, rumahmu kini seperti istana. Apakah kau tidak melaksanakan sama sekali wasiat ayahanda tercinta kita? Tentunya kutukan menjadi borok yang dikerumuni lalat akan menimpa dirimu, adindaku!”
Kemudian Daeng Caddi dengan amat sopannya menyambut ungkapan sang kakanda, “Kakakku Daeng Lompo, pandu hidupku kala ayah berpulang. Sesungguhnya aku juga tak pernah lupa wasiat ayah. Aku pun berusaha menjalankan ketiga wasiat beliau dengan baik. Tak ada yang coba aku lewatkan, demi kesuksesan yang dijanjikan. Tapi aku menjalankan kelihatannya dengan perspektif yang beda dengan dikau, kakandaku yang polos nan baik hati.
“Wasiat pertama ayahanda yang mengharamkan kulit kita terpapar terik mentari aku maknai sebagai petunjuk bahwa kalau berangkat bekerja hendaklah di waktu yang sangat pagi ketika mentari belum lagi terbit, dan pulang nya di waktu petang ketika mentari sudah terbenam. Sungguh wasiat ini membuatku menjadi rajin bekerja.
Wasiat kedua yang menganjurkan kita makan seribu ikan setiap hari aku tentu jalankan dengan sangat bahagia. Setiap pagi saya menyuruh istriku untuk memasak ikan mairo (ikan teri) dalam berbagai cara penghidangan. Kebetulan saya dan istri sangat menggemari masakan ikan kecil-kecil itu. Bukan cuma seribu ekor jumlahnya, tapi mungkin malah lebih banyak kami santap setiap hari. Aku tak perlu menghabiskan uang yang banyak untuk wasiat ini, dan karenanya selalu kudoakan kebaikan untuk arwah ayahanda karena membuatku belajar berhemat dan bersyukur atas nikmat yang diberikan kepadaku. Alhamdulillah.
Wasiat ketiga ayahanda sungguh membuat saya sangat berhati-hati dalam berniaga. Selalu kuingat wasiat ini kala melakukan bisnis dengan saudagar lain. Saya menerapkan aturan bisnis yang mengharamkan utang-piutang. Meski aturan ini tak lazim, tapi membuatku terhindar dari rentenir atau debitur yang culas. Aku bersyukur bahwa tak perlu kuliah jauh-jauh ke Harvard mengejar gelar kesarjanaan hanya untuk berpikir strategis namun sederhana ini. Untuk itu aku selalu sisihkan hartaku untuk bersedekah sambil meniatkan pahalanya untuk ayahanda yang telah menurunkan ilmu ekonomi yang sungguh efektif ini.
“Demikianlah kakanda, apakah dikau melihat bahwa ada wasiat ayahanda yang tidak aku laksanakan? Demikian Daeng Caddi menutup penjelasannya.
Daeng Lompo terpekur sedih mendengar penjelasan sang adik. Wajahnya seketika berubah pucat pias betapa ia menyesali mengapa tak berpikir lebih panjang dan lebar akan bagaimana melaksanakan wasiat itu dengan baik dan benar. Apa yang si sulung praktekkan ketika menjalankan wasiat ayahandanya tentu tidak salah, namun ia mengesampingkan cara berpikir lain yang mungkin lebih strategis. Dia berpikir efektif dan melaksanakan semua wasiat dengan baik, namun ia tidak mencapai hasil yang efisien sehingga tidak bisa sesukses sang Bungsu.
Popularity: 27% [?]