napuAtaki Petta Ranreng
daengrusle December 19th, 2006
Alkisah di awal abad 20, La Kampai - bangsawan bergelar Arung dari Sangalla, Toraja terpedaya oleh bangsawan lain yang merasa terganggu kekuasaannya. Diperdaya, dirampok dan diculik oleh musuh politiknya, La Kampai kemudian dijual sebagai budak kepada Petta Ranreng, Arung Matoa Wajo waktu itu.
La Kampai, yang sudah tercerabut dari kebangsawanan, kemewahan dan strata sosialnya, mengabdi sepenuh hati kepada Petta Ranreng. Namun Petta Ranreng, sang Arung Matoa, mengetahui dari adab, tutur kata dan gelang emas di kaki La Kampai, bahwa ia bukanlah orang biasa. Karenanya sang Arung kemudian menempatkan La Kampai di Saoraja, istana sang Arung, dan bukan di dapur, ladang atau tempat rendah lainnya, walaupun tetaplah berstatus budak.
Oleh karenanya, La Kampai, dengan segala kerendah hatiannya berpesan ke anak cucunya….
“narekko engka tau makkutana fole fegaki appangta, akkedako napuataki Petta Ranreng”.
what a pride to be a slave (servant?)? dunno what but they always proudly say..maradeka tau Wajoe, ade’na napaPuang…
Bangga menjadi Ata? Not really, but for those declare as Allah’s slave/servant. It is Pride, Priceless!
Silsilah Keluarga Noertika - Ompeng Generation dan Pallempa Generation
Link Silsilah Petta Ranreng: Lontara Arung Matoa Wajo “Petta Ranreng”.
Sangalla in pics: batusura
Sangalla in Wikipedia: Sangalla
Peta/Map: Sangalla
Pariwisata: Peninggalan Kerajaan Sangalla - Buntukalando
A guide tour to Sangalla: for foreign visitor
Sejarah Bugis: kampung kita
Popularity: 5% [?]














