Archive for April, 2007

Kontroversi Kartini Kita!

daengrusle April 21st, 2007

kartini baruPada setiap tahun menjelang 21 April, kita selalu diingatkan akan hari lahir seorang pahlawan perempuan yang memperjuangkan emansipasi perempuan Indonesia, Raden Ajeng Kartini ( Lahir di Jepara, 21 April 1879 – Wafat di Rembang, 17 September 1904). Pada tanggal tersebut kita selalu disuguhi dengan perayaan dan peringatan yang berkenaan dengan beliau, Seminar Keperempuan, Lomba Peragaan Busana Nasional, Parade Anak-Anak Putri berpakaian Kebaya, dll. Kepahlawanan RA Kartini sungguh terpatri di benak setiap perempuan Indonesia, tak ada yang meragukannya. Pemikirannya yang tertuang dalam Buku Habis Gelap Terbitlah Terang menjadi bukti bagaimana ‘perjuangan; beliau mengangkat harkat dan martabat kaumnya. Tulisan ini tidak dimaksudkan untuk mengaburkan makna sejarah dari perjuangan beliau, tulisan ini hanya upaya untuk memberikan pemahaman yang lebih baik dalam memaknai perjuangan beliau.

foto raraRaden Ajeng Kartini hanya sempat menjalani hidup teramat singkat, 25 tahun. Pada 17 September 1904, ketika melahirkan putra pertamanya, pahlawan penggerak emansipasi wanita itu meninggal dunia. Namun, hidup yang teramat singkat itu mampu menjadi inspirasi selama 100 tahun bagi perempuan-perempuan Indonesia untuk bangkit memposisikan harkat, martabat dan karya nya. Melalui surat-suratnya kepada para sahabatnya di Eropa yang dikumpulkan dalam bentuk buku berjudul Door Duisternis tot Licht yang artinya Habis Gelap Terbitlah Terang oleh Mr. J.H. Abendanon, pikiran dan pandangan Kartini dituturkan demi untuk memajukan nasib perempuan Jawa agar memiliki kebebasan menuntut ilmu dan belajar. Pikiran dan pandangan Kartini kemudian menjadi sumber inspirasi dan motivasi pergerakan kebangsaan nasional kala itu, tidak saja bagi kaum perempuan. Continue Reading »

Popularity: 14% [?]

Belajar Kearifan Politik dari Sri Sultan

daengrusle April 17th, 2007

Note: Tulisan ini dimuat di Harian Tribun Kaltim, 18 April 2007 di rubrik Opini.
===============================

SULTAN HBXNelson Mandela pernah berujar, “Pemimpin itu seperti seorang gembala, ia berada dibelakang kawanan, membiarkan yang paling lincah bergerak di depan, diikuti domba-domba yang lain, yang tidak menyadari bahwa mereka dipandu dari belakang”. Hal yang nyaris sama dituturkan oleh Ki Hajar Dewantara, bapak Pendidikan Nasional dengan semoboyannya yang sangat terkenal, “ing ngarso song tulodo, ing madya mangun karso, tut wuri handayani”. Dalam konteks yang luas keduanya berbicara tentang kepemimpinan dan kekuasaan.

Kekuasaan yang salah dapat membutakan mata bathin, ia adalah perangkat penting yang dipakai oleh nafsu untuk mencapai segala keinginan yang tak kesampaian, termasuk dendam politik dan dendam ekonomi. Dendam politik, melampiaskan kekecewaan politik masa lalu dengan melibas lawan politik terdahulu dan potensial sambil menjaga kelanggengan kekuasaan. Sedang dendam ekonomi menyetir sang kuasa untuk memunculkan semua peluang agar bisa hidup sejahtera secara maksimal dan menggapai semua keinginan untuk hidup senyaman mungkin dalam kerangka materialistis, walau mengorbankan kesejahteraan konstituen nya sendiri. Continue Reading »

Popularity: 10% [?]