Archive for May, 2007

Kenapa abang menembak saya?

daengrusle May 31st, 2007

marinir

Abang mungkin tak kenal saya, atau baru tahu nama saya
saat membaca koran pagi ini
atau menonton berita semalam sehabis abang menonton sinetron Intan
kemaren, 30 mei di desa kami Alas Telogo Pasuruan
abang dan kawan-kawan memberondong kami dengan peluru
peluru dan senjata yang katanya dibeli dari duit kami juga
ya, sayalah yang abang tembak kemaren siang
saat saya sedang bercanda dengan anak kecilku
saat saya sedang riangnya di teras rumah

Abang, atas nama pembelaan
kenapa Abang tega melepaskan peluru
walau kata komandan Abang itu tembakan pantul
tapi kenapa serpih daging dan darah kami yang malah memantul?
walau kata komandan Abang itu pembelaan diri
tapi kenapa peluru yang membela Abang?
bukankah Abang terkenal hebat dalam bela diri
satu lawan satu pun, lelaki-lelaki kami tak sanggup menjatuhkan Abang

Abang, tak lihatkah Abang?
perutku berisikan janin 5 bulan
empat bulan lagi, seorang anak ceria bakal lahir di rumah kami
menyebarkan canda dan harapan…
tapi kenapa Abang merenggutnya?
dan ibu yang sedang memarut kelapa
dan anak kami yang sedang bermain
kenapa?
atas nama pembelaan diri?
atas nama tanah?

Kata Abang, ini karena tanah yang kami serobot
tapi kenapa nyawa kami sebagai hukumannya
bukankah kita mengenal musyawarah
dan bukan amarah..

atas nama Dewi Khotijah
30 May 2007, Alas Telogo Pasuruan

Popularity: 6% [?]

Henry Dunant dan Sensitifitas Kita!

daengrusle May 8th, 2007

1. Tulisan ini dimuat juga di Rubrik Opini, Surat Kabar lokal Tribun Kaltim tanggal 10 dan 11 Mei 2007.
2. Tulisan ini Dijiplak Dengan Semena-mena Tanpa Konfirmasi dan malah mencantumkan Sdr Bambang Eko Nugrahanto sebagai penulisnya di Kabar Indonesia.
==================================================
Henry Dunant memorial in Heiden, Switzerland.Tak seorang pun yang lebih berhak atas penghargaan Nobel Perdamaian pertama ini, selain Henry Dunant, yang selama 40 tahun mempelopori organisasi kemanusiaan dalam meringankan penderitaan para prajurit yang terluka di medan perang. Tanpanya, Palang Merah mungkin tak akan pernah berdiri. (ICRC, atas penghargaan Nobel Perdamaian 1901). Foto disamping: Tugu Henry Dunant di Heiden Switzerland, source; Wikipedia)

Kenangan dari Solferino
Sesungguhnya tak ada manusia yang rela bergelut dengan kepedihan, berkawan dengan rintihan, intim dengan luka perih, akrab dengan keluhan. Namun Jean Henry Dunant (1828-1910), tak hanya berusaha mengakrabkan diri dengan kepedihan ini, namun juga mengabdikan hidupnya demi kemanusiaan dan mempelopori berdirinya organisasi kemanusiaan di tengah bencana perang. Demi menyaksikan akibat perang di Solferino thn 1862, yang mana sekitar 40,000 pemuda menjadi korban keganasan Perang antara Prancis-Italia melawan Austria, pemuda pengusaha kaya ini sensitifitasnya tergerak untuk memberikan pertolongan medis kepada tentara-tentara naas itu. Dengan meneriakkan slogan “Tutti fratelli” (All are brothers/semua bersaudara) ia mengajak penduduk setempat, terutama para wanita untuk turut membantu meringankan penderitaan tentara-tentara itu. Dari pengalaman menyedihkannya di Solferino itu, Dunant kemudian menulis buku mengisahkan bencana kemanusiaan akibat perang itu dalam bukunya “Un Souvenir de Solferino” (A Memory of Solferino) yang kemudian menggemparkan Eropa yang sedang dilanda perang berkepanjangan. Dalam bukunya, Henry Dunant juga mengajukan dua gagasan; Pertama, membentuk organisasi kemanusiaan internasional, yang dapat dipersiapkan pendiriannya pada masa damai untuk menolong para prajurit yang cedera di medan perang. Kedua, memaklumatkan konvensi internasional bagi perlindungan prajurit yang cedera di medan perang, sukarelawan dan organisasi kemanusiaan yang memberikan pertolongan pada saat perang tanpa memandang keberpihakan pada pihak yang berperang.

Palang Merah Internasional
Henri Dunant, around 1860.Berdasarkan pada keyakinan akan kebenaran gagasannya yang kuat untuk mengubah perang menjadi kedamaian, ia meninggalkan perniagaannya yang sukses untuk menggagas pembentukan organisasi kemanusiaan yang kemudian dikenal sebagai International Commitee of the Red Cross (ICRC) atau Organisasi Palang Merah Internasional pada tahun 1863.

ICRC kemudian dikenal secara sebagai lembaga kemanusiaan yang bersifat mandiri, dan penengah yang netral. ICRC berdasarkan prakarsanya atau konvensi-konvensi Jenewa 1949 berkewajiban memberikan perlindungan dan bantuan kepada korban dalam pertikaian bersenjata internasional maupun kekacauan dalam negeri. Selain memberikan bantuan dan perlindungan untuk korban perang, ICRC juga bertugas untuk menjamin penghormatan terhadap Hukum Perikemanusiaan internasional. Continue Reading »

Popularity: 11% [?]