Archive for June, 2007

Yang Penting Pelaksananya!

daengrusle June 27th, 2007

maaf, postingan ini isinya mungkin hanya keluhan saja.

Keluhan Pertama.
Kepsek Yang Jalan-jalan.

Ipar saya, rencanya akan saya sekolahkan ke Balikpapan setelah lulus SMP di Palopo. Pengumuman kelulusan SMP secara nasional sudah diumumkan tanggal 23 Juni 2007, serentak. Good. Dan semua siswa SMP di seluruh Indonesia, dari Lebak hingga Labbakkang, dari Pare hingga Pare-pare, dari Sabang sampe Merauke akan mengetahui ‘nasib’ mereka di hari itu, apakah bisa lulus ataukah mesti ngulang lagi tahun depan, atau kalau kelamaan nunggu ya ngikutin ujuan persamaan (heran, apanya yang disamakana ya ). Lupakan soal berita bahwa kebocoran soal ujian sudah meluber sejak sebelum ujian, ada kecurangan berjaamaah di beberapa kota di Indonesia, mulai medan dan seterusnya, Guru, saking sayang ama murid2nya rela bermain mata dan mencurangi sistem dengan menyebarkan jawaban soal ujian, bukan cuman soal nya tapi malah langsung dengan jawabannya. Asik, iya dunk! Gak usah capek2 belajar, hasil belajar selama 3 tahun bisa dilindas dengan hanya kertas kecil berisi daftar jawaban…enak bukan?

Tapi bukan itu keluhannya, itu hanya pengantar saja.
Nah, ipar (sekaligus sepupu saya itu) diinformasikan sebagaimana sekolah lainnya bahwa Ijazah kelulusan akan dibagikan tanggal 25 Juni 2007, supaya ada kesempatan untuk memikir2 mau kemana ngelanjutin SMA nya, lagian hasil ujian itu (dulu mungkin disebut nilai NEM) akan menjadi parameter dan prasyarat diterimanya mereka ke SMA yang disukai. Continue Reading »

Popularity: 9% [?]

Independen atau Golput?

daengrusle June 19th, 2007

Saat ini, suhu politik di DKI Jakarta, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Timur sedang menghangat karena sedang menjelang proses Pemilihan Kepala Daerah/Gubernur. Menarik! Karena kita saat ini bukan sedang melakukan uji kepatutan dan kelayakan terhadap calon yang diusung partai politik, sebaliknya masyarakat sedang dilanda diskursus pencalonan alternatif; calon independen yang tidak diusung partai politik. Kecenderungan ongkos politik yang mahal ketika mengikuti konvensi partai politik mungkin menciutkan nyali figur-figur pemimpin lain yang tak punya cukup ‘gizi’ untuk bertarung di pilkada melalui jalur partai, apalagi berlaku adagium politik Indonesia yang menyatakan bahwa “who has the money, he/she has the power”.

Wacana pengajuan calon independen ini makin menguat karena di saat yang sama, survey LSI membuktikan bahwa 87% penduduk Jakarta menginginkan calon alternatif dalam pentas Pilkada DKI Jakarta. Ketersediaan hanya dua calon gubernur/wagub tidak terlalu menggembirakan masyarakat, apalagi track record keduanya belum mampu meyakinkan untuk menyelesaikan persoalan Jakarta yang menggunung itu; banjir, kriminal, macet, dll.


Namun harapan tetaplah harapan, selalu ada ruang untuk keajaiban. Tidak terkecuali di dunia politik Indonesia yang ongkos politiknya teramat mahal itu. Saat ini para politisi-politisi ‘miskin’ berharap banyak dari fatwa Mahkamah Konstitusi (MK) yang saat ini sedang menguji materiil ( judicial review) atas pasal 59 UU No 32/2004 tentang Pemilihan Kepala Daerah yang menjadi landasan hukum penyelenggaraan Pilkada. Pasal 59 dalam
UU No 32/2004 menyebutkan bahwa parpol atau gabungan parpol dapat mendaftarkan pasangan calon apabila memenuhi persyaratan perolehan sekurang-kurangnya 15 persen dari jumlah kursi DPRD atau 15 persen dari akumulasi perolehan suara sah dalam Pemilu anggota DPRD di daerah yang bersangkutan.

Continue Reading »

Popularity: 9% [?]

Tentang Sastra Lisan Kita

daengrusle June 18th, 2007

Dari milis panyingkul, saya dapat bahan bacaan bagus. Teks wawancara Aslan Abidin di tandabaca tentang kebudayaan lokal bugis makassar, khususnya tentang Sastra Lisan di link ini. Saya lumayan mendapatkan banyak pencerahan dan informasi bagaiman sastra atau budaya lokal dari tradisi lisan silam hingga tradisi digital saat ini.

Saya yang tidak paham akan kebudayaan/sastra sulsel kecuali bahasa bugis dan makassar nya, jadi lumayan dapat informasi mengenai dunia kebudayaan Bugis Makassar Mandar dari wawancara pak Aslan Abidin ini…(walaupun belum paham juga, atau cuman kulit ari nya/sebatas istilah ji)

Beberapa malah baru saya kenal istilahnya seperti Syair Torani (syair ikan terbang) dll…ada yg bisa memberikan contoh syair yang vulgar ini…hehehe, pengen tahu…apa agak mirip dgn syair lagu “Garring Apai Nona” yg terkenal itu? Continue Reading »

Popularity: 9% [?]

Awas Manusia Benalu!

daengrusle June 2nd, 2007

apa yang anda ketahui tentang benalu? waktu ngikutin pelajaran biologi di sekolahan dulu, kita tahu bahwa benalu adalah tumbuhan yang menumpang pada tumbuhan lainnya secara parasit (parasitism). artinya dia menumpang hidup dan berkembang biak pada tumbuhan induknya, bahkan the worst case, dia memakan makanan, meminum minuman dan mungkin bernafas melalui tumbuhan induk tersebut. sesekali kita mendapati bahwa benalu ini malah hidup sejahtera di atas penderitaan si tumbuhan induk yang sekarat.

Tuhan sering memperlihatkan perilaku manusia dengan perumpamaan-perumpamaan yang dicontohkan oleh hewan dan tumbuhan, sebagaimana contoh benalu diatas. manusia benalu adalah manusia pemalas dan pengemis dalam artian yang sarkasme. mereka hidup dengan perilaku egois, namun dengan jiwa sosial yang kelewat tinggi (over social). hidup menggantungkan peruntungan pada kehidupan orang lain, mengharapkan tetesan nafkah dari kerja keras orang lain, bahkan kadang2 berperilaku sebagai tuan majikan di kehidupan orang lain.

mental ini sering muncul karena sedari kecil si manusia benalu ini disuguhi dengan fasilitas-fasilitas yang didapat dengan mudah atau tersedia dengan sendirinya. mereka tidak diajarkan untuk mengerti betapa sulitnya mendatangkan fasilitas tersebut. habit ini kemudian berlanjut di fase hidup berikutnya, ketika remaja dan beranjak dewasa, karena semua jalan dibuka dengan mudahnya, maka dia belajar dan terbentuk menjadi manusia benalu yang tidak mengerti kerja keras. sumber penghidupannya hanya diperoleh melalui meminta, mengemis, merengek, mengeluh, dan semua sifat negatif dari seorang pengemis dan pemalas.

sayang sekali kalau kita dilingkupi oleh manusia-manusia benalu ini. padahal di sekelilingnya banyak contoh-contoh perjuangan manusia yang seharusnya bisa meningkatkan semangat hidup untuk lebih dari sekedar menjadi manusia.

contoh paling mengharukan yang baru2 saja terjadi adalah pada saat terjadinya gempa Yogya-Jateng, dikisahkan melalui milis tetangga, ketika seorang loper koran yang juga terkena efek gempa, diri, keluarga dan harta bendanya luluh lantak, namun ketika seseorang dermawan menawarkan bantuan langsung ke dirinya, dia menolak dengan halus dan mengatakan sebaiknya bantuan ini diserahkan ke posko atau langsung ke desa yang bersangkutan, karena disana jauh lebih banyak orang yang membutuhkan. betapa mulia nya hati sang loper, disaat bencana menyelimuti dirinya dan ‘berhak’ untuk egois dan mengasihani diri sendiri, dia lebih memilih untuk mendahulukan yang lain.

juga contoh yang lain, diberitakan bahwa bekas korban bencana tsunami Aceh, juga bahu membahu membantu dan memberikan bantuan untuk saudara-saudara mereka yang mengalami gempa di yogya-jateng, padahal semua orang tahu bahwa mereka, para korban tsunami ini, belum sepenuhnya pulih dari derita dan trauma akibat bencana yang menghilangkan nyawa 200,000 saudara mereka. manusia mulia, antagonis dari manusia benalu.

manusia benalu rupanya juga turut serta dalam gegap gempitanya penyaluran bantuan untuk korban gempa yogya-jateng ini. beberapa kali diberitakan di banyak media, bahwa beberapa oknum yang mengaku relawan justru menilep bantuan untuk diri sendiri, bahkan tega-teganya mencuri 6 buah sepeda motor operasional para relawan untuk menjangkau korban bencana di daerah terpencil dan jalur transportasi yang terputus. manusia benalu ini juga diberitakan banyak berkeliaran di puing-puing rumah yang hancur akibat gempa di bantul dan klaten dengan menjarah sisa harta yang masih bernilai namun tak terselamatkan oleh korban. bahkan, bukan hanya puing yang dirampok, rumah dan toko yang masih kokoh berdiri pun tidak luput dari penjarahan. apa motivasi mereka selain menunjukkan betapa rendah nilai kehidupan mereka sebagai manusia benalu itu?

mudah2an juga, bencana gempa ini tidak melahirkan benalu-benalu baru, manusia-manusia dengan tingkat ketergantungan yang tinggi pada bantuan sesama, low-competitive, beggar mentality, desperate occupant….namun semoga melahirkan manusia-manusia baru dengan semangat hidup yang besar yang telah ditempa dan diuji dengan derita dan kesabaran, amin!

betapa kemanusiaan menjadi lebih berarti ketika kita mendapati kesahajaan hidup dalam kesejatian.

Popularity: 9% [?]

Menulislah, dan Anda Abadi!

daengrusle June 2nd, 2007

Juga dimuat di Majalah Online Bz! Blogfam Magazine Edisi Juni 2007.

writingKartini meninggal dalam usia teramat muda, 25 tahun. Namun, jejak hidup yang ditinggalkannya; surat-surat berisi buah pikirannya yang maju melampaui zamannya dikemudian hari mentahbiskan dirinya menjadi pahlawan. Christina Martha Tiahahu, gadis Saparua pemberani itu malah jauh lebih muda, 18 tahun ketika meninggal di atas kapal pembuangan VOC akibat mogok makan. Raden Inten II, raja Lampung tewas di bunuh VOC ketika berusia 22 tahun. Wolter Monginsidi tewas di ujung peluru regu penembak Belanda di usianya yang ke-24. Panglima Besar Sudirman meninggal akibat kanker paru di usia 34 tahun di masa gerilya. Yang termuda yang tercatat walau belum diakui sebagai pahlawan, Ade Irma Suryani Nasution, 5 tahun, tewas tertembus peluru Cakrabirawa sebagai perisai ayahnya. Yang lebih modern, pahlawan Tritura dan Reformasi, umumnya tewas saat berusia 20-an tahun. Mereka semua adalah pahlawan bangsa, yang artinya bahwa jasanya sedemikian besar bagi perjalanan sejarah perjuangan bangsa Indonesia mencapai cita-citanya, kemerdekaan, walau kenyataannya usia mereka masih sangat muda dibanding rata-rata penduduk Indonesia. Jejak hidup mereka terpatri dalam di lembaran sejarah sedalam kecintaan mereka akan bangsa ini. Tentunya kepahlawanan mereka menjadi inspirasi bagi generasi setelahnya untuk turut unjuk membangun bangsa besar ini, sayangnya tak banyak buah pikiran mereka bisa kita baca dan jadikan narasumber. Bahkan banyak yang justru terasa asing bagi kita. Beberapa diantara kita mungkin malah tidak pernah mendengar nama pahlawan ini; La Maddukelleng, Pongtiku, Andi Jemma, Tjilik Riwut, Tuanku Tambusai, Nani Wartabone, Sultan Nuku, Kiras Bangun (Garamata), bahkan mungkin kita tidak kenal nama-nama pahlawan Reformasi yang tewas di tahun 1998. Tapi jangan khawatir, saya tidak sedang menghakimi pengetahuan sejarah kita, banyak faktor yang membuat kita terpisah secara historis dengan mereka, diantaranya kurangnya media bacaan yang memberi kita akses untuk mengetahui sejarah mereka. Sekedar informasi, kesemua nama yang disebutkan diatas telah diakui resmi oleh pemerintah sebagai pahlawan nasional melalui SK Presiden. Kembali ke inspirasi perjuangan, beberapa pahlawan tersebut juga menyempatkan diri untuk menorehkan buah pikirannya ke dalam tulisan yang mungkin tanpa sepengetahuan dan sekehendak mereka, kemudian menjadi abadi dan bisa terbaca hingga saat ini. RA Kartini, Muhammad Yamin, Hatta, Soekarno, Tan Malaka, Soe Hok Gie, Ahmad Wahib, dan Pramoedya Ananta Toer termasuk sedikit diantara sekian tokoh besar kita yang punya hobi menulis dan menuangkan buah pikirannya bagaimana membangun bangsa ini. Sedang yang lainnya, kita baru bisa menikmati sejarah hidup dan ide kebangsaannya dari serpihan-serpihan lapuk yang disimpan oleh museum dan pewarisnya, atau hanya sekedar tutur lisan dari beberapa tetua-tetua yang hidup sezaman dengan mereka. Padahal dari tulisan sejarah perjuangan merekalah kita bisa menafsrikan dan memaknai perjalanan bangsa besar ini. Boleh dikatakan, pengetahuan kesejarahan kita berbanding lurus dengan kadar patriotisme/nasionalisme kita. Sebahagian sejarah bisa kita jadikan pegangan dan pemompa semangat untuk melangkah lebih optimis, namun sebahagian yang lain memberi petuah untuk lebih berhati-hati agar kisah kelam yang mereka alami tak perlu kita rasakan juga. Continue Reading »

Popularity: 9% [?]