Archive for July, 2007

Cuci Foto Kilat, yang tergerus Digitalisasi

daengrusle July 21st, 2007

Dimuat juga di Panyingkul: Tukang Cuci Foto Kilat Yang Tetap Bertahan

jamal1jamal1

Ditengah arus digital masih ada juga sistem cetak foto analog yang bertahan, Cuci cetak foto Kilat. Teknik cuci cetak foto nya masih menggunakan teknik cetak foto tradisonal, dengan memanfaatkan ruang gelap. Jasa cetak foto kilat ini masih digunakan orang karena alasan kepraktisan, sekali cetak foto hanya butuh waktu 10-15menit saja, juga karena harganya yang sangat terjangkau.

*************

Masa pendaftaran masuk sekolah adalah masa panen baginya, karena banyak calon siswa yang memanfaatkan jasanya. Pak Jamal, yang saya temui pagi itu di lapak cuci foto kilatnya yang berupa gerobak yang dimodifikasi, mengakui bahwa dalam sehari dia bisa dapat penghasilan hingga ratusan ribu rupiah, bahkan mencapai satu jutaan. Sehari sebelumnya, saya tidak memiliki kesempatan berbincang dengannya, karena antrian pelanggan yang hendak cuci photo. Barulah pada hari senin, saat pendaftaran anak sekolah sudah berakhir, dia bisa meluangkan waktunya untuk ngobrol. Menurutnya, kalau bukan musim pendaftaran sekolah atau tenaga kerja usahanya menjadi sepi, dia hanya bisa dapat paling banyak Rp 50ribu sehari bahkan terkadang tidak ada sama sekali. Oleh karena itu, selain menekuni usaha cuci foto kilat ini, dia juga mencoba bisnis sampingan lainnya.

Jasa cuci cetak foto kilat, yang kalau di pulau Jawa dikenal dengan sebutan afdruk, merupakan profesi yang ditekuninya sejak tahun 1984 sampai sekarang. Bermula ketika berkenalan dan menjadi asisten seorang fotografer asal Belanda, Mr Jacoop, dia belajar teknik cuci cetak foto. Kala itu, di setiap akhir pekan, Mr Jacoop mengajaknya ‘ hunting’ di pulau Kayangan, Kodingareng atau pulau-pulau lainnya sekitar Makassar. Setelah kembali, mereka bersama-sama mencuci foto-foto itu di ruang gelap milik Mr Jacoop. Ketika Mr Jacoop kembali ke Belanda, Jamal telah terampil mencuci photo. Dia menjadikan keterampilan barunya itu sebagai peluang untuk memulai usaha, dan dengan honornya dari Mr Jacoop, dia membeli alat cuci cetak foto yang saat itu berharga Rp 200,000. “Kalau dinilai dengan harga sekarang, sudah Rp 18juta,” katanya dengan bangga. Continue Reading »

Popularity: 19% [?]

Daeng Hamzah: Melawan Arus, Memilih Hidup Malempu’

daengrusle July 16th, 2007

dimuat juga di Panyingkul: Daeng Hamzah Melawan Arus, Memilih Hidup Malempu’

bex1

Nasib adalah rahasia milik Tuhan. Kita, manusia kecil ini, tak bakal tahu akan menjadi apa di kemudian hari. Pun walau rencana telah terurai. (Daeng Hamzah)

Minggu Subuh depan pasar Pannampu, saya menunggu taxi atau pete-pete. Ada janji dengan teman blogger di Losari untuk jualan kuisi - kue dengan selembar puisi, dan mengejar sunrise. Sepuluh menit berlalu, yang lewat hanya becak dan sepeda bermuat sayur. Pasar umumnya, memang memulai geliat nya di subuh hari. Saat kota masih lelap, saat kokok ayam masih satu-dua, saat ufuk di timur masih sipit, para pedagang berdatangan, menghantar kesegaran. Iqomat Subuh sayup-sayup memanggil yang masih lelap untuk kali terakhir. Sembahyang lebih utama dari lelap.

Tak sabar menunggu, saya kemudian menyetop becak berjok putih. Bentuknya khas becak makassar, kecil persegi – hanya muat dua orang dewasa, tidak aerodinamis. Becak makassar lebih simpel, bagian depan tempat penumpang duduk berbentuk segi empat. Dua roda sepeda diikat oleh besi pipa dibawah dudukan dari papan kayu setebal jempol orang dewasa. Jok penumpang biasanya dibuat dari jejeran karet ban yang dipotong memanjang dan diatur bersilangan, kemudian dilapisi sabuk kelapa atau spons dan dibungkus plastik tebal. Lantai pijakan penumpang dibuat rata dengan jalan. Atapnya dari terpal dengan rangka besi pipih selebar belebas anak SD. Disisi depan atas, biasanya ditempatkan gulungan plastik transparan sebagai pelindung di saat hujan. Dua buah papan kecil berukuran 20×20 cm ditempatkan di muka becak, diatas bemper dari sebatang pipa besi besar berdiameter 5cm. Daeng Becak duduk di bagian belakang yang berbentuk seperti sepeda ontel dicomot belakangnya. Dua batang besi bulat sejajar menghubungkan belakang becak dengan kursi penumpang, dengan as di bawah jok, yang berfungsi untuk bermanuver. Mengayuh pedal tak perlu bersusah-susah, karena jaraknya rendah dari sadel. Sadelnya rendah sejajar jok. Rem tangan berbentuk leher angsa ditaruh tepat dibawah selangkangan, dihubungkan dengan roda belakang. Kaki yang jenjang tidak menjadi syarat untuk menjadi daeng Becak. Yang penting kaki harus kuat dan keras, walau kemudian rentan kena varises. Bentuk sederhana becak makassar tentu menyesuaikan dengan topografi kota yang datar saja. Beda dengan di Jawa, yang becaknya besar dan bulat dengan sadel pengemudi yang tinggi dibelakang. Kalau penumpang hendak naik, bagian belakang becak harus diangkat menungging. Saat mengayuh, kaki menjinjit dan pantat naik turun, seperti bebek kalo berjalan.

Tidak seperti taxi atau pete-pete, tidak ada standard tarif untuk becak. Apalagi untuk rute dan tujuan yang tidak jelas. Biasanya, daeng Becak akan memulai dengan bertanya, “berapa biasanya kita bayar? Kalau kita tidak tahu tarif ‘biasa’ itu, mereka akan coba menyebut angka sebesar dua atau tiga kali tarif pete-pete yang sekali jalan dibanderol Rp 2000, tapi tidak akan semahal ongkos taxi, yang kalau di Makassar tarif buka pintunya sudah Rp 4700. Setelah melewati negosiasi yang mudah, saya bergegas naik di dudukan penumpang. Untuk memastikan harganya sudah pas, dia menanyakan lagi tujuan saya, “itu tempat yang kita bilang dekat jalan masuk ke Tanjung Bunga toh pak? Saya mengiyakan. Continue Reading »

Popularity: 10% [?]

Bissu: Celah Tersisih Budaya Bugis

daengrusle July 2nd, 2007

bissu

BISSU ; Celah di Budaya Bugis

Sepertinya hanya di budaya Bugis, dikenal lima (5) jenis gender. Menurut penelitian anthropolog Australia, Sharyn Graham dalam research reportnya; Sex, Gender and Priests in South Sulawesi, Indonesia, IIASNewsletter|#29| November 2002 27 , budaya Bugis mengenal empat jenis gender dan satu para-gender; laki-laki (oroane), perempuan (makunrai), perempuan yang berpenampilan seperti layaknya laki-laki ( calalai), laki-laki yang berpenampilan seperti layaknya perempuan (calabai) dan para-gender bissu (Lihat juga Manusia Bugis, C Pelras, hal 191). Jenis yang terakhir ini lebih banyak disalah artikan dan dianggap identik dengan jenis calabai, walau secara peran dan kedudukannya dalam budaya Bugis tidak demikian. Juga, tidak sedikit yang mempertautkan keunikan para-gender Bissu ini dengan kepercayaan lokal yang disebut Tolotang, hal yang mana dibantah secara nyata oleh komunitas Amparita Sidrap yang menjadi representasi penganut Tolotang dalam suku Bugis.

Kehadiran dan Peranannya

Gambaran pergeseran struktur nilai dalam kebudayaan Bugis selayaknya bisa kita sematkan pada salah satu realitas budaya bugis yang mulai terpinggirkan; Bissu. Peran Bissu di awal pembentukan masyarakat Bugis sangatlah kuat. Keberadaan Bissu dalam sejarah manusia Bugis dianggap sezaman dengan kelahiran suku Bugis itu sendiri. Ketika Batara Guru sebagai cikal bakal manusia Bugis dalam sure’La Galigo, turun ke bumi dari dunia atas ( botinglangik) dan bertemu dengan permaisurinya We Nyili Timo yang berasal dari dunia bawah (borikliung), bersamaan dengan itu turun pula seorang Bissu pertama bernama Lae-lae sebagai penyempurna kehadiran leluhur orang Bugis tersebut. Menurut tutur lisan Hajji Baco’, seorang Bissu , Batara Guru yang ditugasi oleh Dewata mengatur bumi rupanya tidak punya kemampuan management yang handal, karenanya diperlukan bissu dari botinglangik untuk mengatur segala sesuatu mengenai kehidupan. Ketika Bissu ini turun ke bumi, maka terciptalah pranata-pranata masyarakat Bugis melalui daya kreasi mereka, menciptakan bahasa, budaya, adat istiadat dan semua hal yang diperlukan untuk menjalankan kehidupan di bumi. Continue Reading »

Popularity: 11% [?]