Archive for August, 2007

Menang Lomba HUT RI di Blogfam, euy!

daengrusle August 31st, 2007

Alhamdulillah! Postingan awal di domain baru ini tiada lain hanya kesyukuran semata. Domain dan Hosting baru saya dapatkan karena memenangkan Lomba Entry dan Foto dalam rangka HUT RI ke-62 dari Blogfam. Juga meraih pemenang favorit ke-3 untuk Ungkapan Hati/Gombal. Dan Pamungkasnya, saya mendapat hadiah utama beru0pa Domain dan Hosting Gratis selama setahun dari QWords. Thanks a lot Blogfam, thanks a lot Qwords!

Kemenangan adalah tamparan yang sesungguhnya. Kesakitan yang dihasilkannya tidaklah bersifat fisik, tapi jauh lebih menghentak ke dalam ke-diri-an kita. Karena dia butuh sebuah konsekuensi atas konsistensi di kemudian hari. Menjadi semisal pecut untuk memotivasi menjadi lebih baik. Hari ini kita menang, bukan karena kita secara obyektif menjadi yang terbaik diantara yang lain. Bukan! Tapi ini karena apresiasi subyektif yang kebetulan diberikan oleh beberapa orang berdasarkan sarana dan pola berpikir mereka semata. Tanpa bermaksud mengabaikan peran berharga mereka para penilai, semua orang akan tahu bahwa tidak ada yang obyektif di dunia ini, tentunya. Bahkan angka-angka yang berseliweran diantara data statistik adalah hasil penelusuran subyektif dan kolaboratif antara si responden dan pengambil data. Apalagi menilai sebuah tulisan atau foto yang sifatnya sangat abstrak untuk dinilai. Atas dasar apakah penilaian itu berpijak? Subyektif.

Jadi menang bukanlah alat bantu untuk menunjukkan kesombongan yang makin menjadi-jadi. Dia hanyalah sebuah pengingat untuk lebih berhati-hati. Karena perjalanan waktu tidak akan pernah sampai disitu saja. Akan ada saat dimana kemenangan menjadi sesuatu yang membebani, bahkan menghancurkan sekiranya konstelasi kinerja dan prestasi di kemudian hari tidak mendukung fakta sebelumnya. Malu! Continue Reading »

Popularity: 11% [?]

Kisah Pannampu

daengrusle August 28th, 2007

Dimuat juga di Panyingkul: Geliat Pasar Panampu Dalam Potret Hitam-Putih.

Geliat pasar Pannampu adalah geliat subuh hingga matahari sepenggalah. Di pasar Pannampu, ratusan pagandeng, pedagang dengan sepeda berkeranjang, dari segala penjuru Makassar seakan menetapkan subuh sebagai penanda dimulainya pertemuan rutin mereka saban hari. Setiap hari, kecuali dua lebaran. Mereka, para pagandeng-pagandeng itu berbaur bersama pedagang lainnya; yang bermotor, bergerobak, hingga yang panggul menempati selasar blok perumahan Pannampu.

Pasar Pannampu dan kompleks perumahan nya mulai dibangun oleh developer CV Cahaya Rahmat, milik pengusaha Benny Gozal di awal tahun 1980-an. Kompleks ini terdiri dari empat blok perumahan yang mengitari Pasar Inpres Pannampu, pusat niaga lokal di kecamatan Tallo. Kami sekeluarga tinggal di salah satu rumah di blok perumahan itu, sejak awal dibukanya. Pada masa awal pembukaan pasar hingga tahun 1986, lingkungan pasar adalah lingkungan asri. Bersih dan tertib.

Pendulum kebahagiaan warga beranjak ke titik nadir, saat Pemda Ujungpandang menetapkan Pannampu sebagai area TPA di tahun 1986. Danau Pannampu yang terletak di belakang perumahan dijadikan sumbu disposal/pembuangan sampah kota. Menjadi TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Continue Reading »

Popularity: 18% [?]

Kami (masih) terjajah lalat, tikus dan lapak!

daengrusle August 17th, 2007

Postingan untuk mengikuti lomba entry 17-an Blogfam.

Alhamdulillah, Postingan/entry ini terpilih sebagai Pemenang Pertama Lomba Entry dalam Rangka HUT RI ke-62 dari Blogfam. Terima kasih, Kuru Sumange! Baca Berita nya di link ini. Pengumuman Lomba HUT RI-62.

======================

Tak banyak yang bisa kuingat tentang 17an. Kalaupun ada, sebahagian besar adalah ‘hanya’ serunya menyaksikan lomba-lomba yang diadakan di lingkunganku. Dan sayapun, karena keterbatasan fisik dan keterampilan, sangat jarang mengikuti lomba itu. Dalam hati kadang saya merutuk sendiri, siapa yang memulai mengaitkan perayaan merdeka dengan lomba-lomba? Agak sulit jalan pikiran saya menemukan kesamaan antara kemerdekaan dan persaingan, terutama buat saya yang lemah fisik. Apakah merdeka adalah melulu hanya adu kuat, adu cepat, atau adu pintar? Hanya satu yang paling kunikmati dalam setiapkali menonton lomba-lomba itu, kelucuan para peserta saja! Terkadang hanya menertawai kebodohan dan kemalangan acap kali mereka jatuh atau gagal. Itu mungkin yang sedikit banyak menyegarkan perasaanku yang hanya bisa jadi penonton saja.

8-sampah.jpg8-sampah.jpgMencoba mengingat kembali momen 17an yang paling terkenang di kepala seakan seperti mengais remah-remah kenangan masa kecil saya nun jauh disana, di sebuah kampung pinggiran kota Makassar bernama Pannampu. Remah-remah itu teramat sulit untuk saya kumpulkan, untuk kemudian membentuknya menjadi mozaik yang indah sebagaimana kenangan kanak-kanak yang lain. Yang ada hanyalah mozaik yang buruk, serpihan dari kesedihan yang dibingkai dalam figura kekecewaan. Hanya bau busuk comberan dan sampah rumah tangga, kerumunan lalat, biakan cecurut, dan hiruk pikuk dari para pedagang yang tiada hentinya, sepanjang tahun-tahun masa kanak-kanak yang kulewati di Pannampu itu. Continue Reading »

Popularity: 18% [?]

Foto Merdeka!

daengrusle August 17th, 2007

Foto ini dipersiapkan untuk mengikuti lomba foto memperingati HUT RI ke-62 di Blogfam!

Alhamdulillah, Foto ini terpilih sebagai Pemenang Pertama Lomba Foto dalam Rangka HUT RI ke-62 dari Blogfam. Terima kasih, Kuru Sumange! Baca Berita nya di link ini. Pengumuman Lomba HUT RI-62.

ayo-kawan-habiskan.jpg

Judul: Ayo, kawan. Habiskan!

Event: Lomba Kerupuk, seorang peserta yang ‘terlambat’ menghabiskan kerupuk nya disemangati dan ditonton oleh rekan2 nya yang sudah selesai melaksanakan ‘tugas’nya.
Tanggal pengambilan: 17 Agustus 2007, jam 14.30
Tempat: Kampung Gurinda, Kel Gn Samarinda Balikpapan

Data foto: 1/250, f 4.5, ISO 100
Kamera: Olympus E-500, lensa macro 40-150mm

Untuk foto-foto lainnya silahkan melanjutkan ke halaman lengkapnya.

Continue Reading »

Popularity: 10% [?]

Lakipadada dan tang mate

daengrusle August 8th, 2007

kanal-panampu.jpg

Sebelumnya saya agak bingung dengan istilah Lakipadada yg jadi nick name nya kawan Mubarak di panyingkul, karena keterbatasan bacaan masa lalu, sa kira cuman penggabungan kata-kata saja, padahal rupanya nama ini adalah salah satu nama legenda wira dari Toraja…:)

Secara ndak sengaja, saya ketemu istilah itu lagi di buku tipis “Cerita Rakyat Sulsel” karangan Ber T Lembang, penerbit Yayasan Pustaka Nusatama.

Fyi, Saat saya googling, rupanya ada 3000 link yang mengarah ke situ, termasuk ttg RSUD Lakipadada, di Makale.

Dalam salah satu cerita rakyat itu, ada cerita tentang Lakipadada, yang adalah bangsawan toraja yang jadi paranoid terhadap maut, sehingga berusaha mencari mustika tang mate supaya dia bisa hidup kekal, tanpa dihantui kematian (mirip cerita Nabi Sulaiman). Lakipadada didalam legenda itu diceritakan kehilangan orang2 tersayangnya, ibu, saudara perempuan, saudara laki-laki, bahkan pengawal dan hamba2nya satu demi satu meninggal dunia. Kemudian Lakipadada menjadi paranoid, berusaha menegasikan kemungkinan kematian juga datang padanya.

Pergilah dia mengembara dengan tedong bonga nya mencari mustika tang mate yang bisa mengekalkan kehidupannya, diantaranya mengarungi ke teluk bone dengan buaya sakti (yang barter service dengan imbalan tedong bonga), mencari Pulau Maniang, tempat yang dianggapnya dihuni oleh seorang kakek tua sakti berambut dan jenggot putih yang diceritakan memiliki mustika itu.

Karena kekurang sabarannya, Lakipadada gagal memenuhi persyaratan yang diajak si tua sakti; puasa makan minum dan tidur selama tujuh hari tujuh malam. Akhirnya gagal usahanya mendapatkan tang mate. Tapi dari sini Lakipadada mendapat hikmah yang menyadarkannya bahwa menghindari kematian sama halnya dengan menantang kuasa Tuhan. Tidak ada yang bisa melawan takdir Tuhan, walau kadang kejam kata Dessy Ratnasari.

Lakipadada, kemudian mengembara lagi dengan menumpang bergelantungan di cakar burung Garuda yang membawanya ke negeri Gowa. Disana Lakipadada, yang sudah tercerahkan, menyebarkan hikmah kebajikan dan berhasil mendapat simpari Raja, mengobati dan membantu permaisuri raja melahirkan. Lakipadada diangkat menjadi anak angkat dan Putra Mahkota.

Diakhir cerita diceritakan Lakipadada yang memperistri bangsawan Gowa, kemudian diangkat menjadi raja Gowa, penguasa baru yang bijak. Dia memiliki tiga orang anak, yang kemudian menjadi penerusnya dan mengembangkan kerajaan-kerajaan lain di jazirah sulawesi. Putra sulung, Patta La Merang menggantinya di tahta Gowa. Putra kedua, Patta La Baritan ditugaskan ke Sangalla, Toraja dan menjadi raja disana. Putra bungsu, Patta La Bunga, menjadi raja di Luwu.

Akulturasi damai. Lakipadada yang berasal dari Toraja berdamai dengan tiga suku lain; belajar hikmah dari Bugis/Bajo (kakek sakti di pulau Maniang), menjadi raja di pusat budaya Makassar, dan mengirim anaknya menjadi Datu di Luwu. Akulturasi ini lah yang mengabadikan darah dan silsilahnya, juga cerita legenda yang mengantarkannya pada kita saat ini, mungkin inilah mustika tang mate yang dimaksudkan, keabadian melalui cerita/legenda.

Popularity: 8% [?]