Kisah Pannampu

daengrusle August 28th, 2007

Dimuat juga di Panyingkul: Geliat Pasar Panampu Dalam Potret Hitam-Putih.

Geliat pasar Pannampu adalah geliat subuh hingga matahari sepenggalah. Di pasar Pannampu, ratusan pagandeng, pedagang dengan sepeda berkeranjang, dari segala penjuru Makassar seakan menetapkan subuh sebagai penanda dimulainya pertemuan rutin mereka saban hari. Setiap hari, kecuali dua lebaran. Mereka, para pagandeng-pagandeng itu berbaur bersama pedagang lainnya; yang bermotor, bergerobak, hingga yang panggul menempati selasar blok perumahan Pannampu.

Pasar Pannampu dan kompleks perumahan nya mulai dibangun oleh developer CV Cahaya Rahmat, milik pengusaha Benny Gozal di awal tahun 1980-an. Kompleks ini terdiri dari empat blok perumahan yang mengitari Pasar Inpres Pannampu, pusat niaga lokal di kecamatan Tallo. Kami sekeluarga tinggal di salah satu rumah di blok perumahan itu, sejak awal dibukanya. Pada masa awal pembukaan pasar hingga tahun 1986, lingkungan pasar adalah lingkungan asri. Bersih dan tertib.

Pendulum kebahagiaan warga beranjak ke titik nadir, saat Pemda Ujungpandang menetapkan Pannampu sebagai area TPA di tahun 1986. Danau Pannampu yang terletak di belakang perumahan dijadikan sumbu disposal/pembuangan sampah kota. Menjadi TPA (Tempat Pembuangan Akhir).

Seluruh sampah produksi seluruh warga dan industri di Makassar dibuang ke area ini. Bau busuk, penyakit dan jalan yang rusak menjadi pemandangan setiap hari. Pada tahun 1990, warga perumahan melakukan pemblokiran jalan masuk perumahan hingga truk-truk sampah tidak bisa masuk lagi, bersenjatakan parang dan badik. Sejak itu danau Pannampu yang sudah menjadi bukit sampah tidak dijadikan TPA lagi. Sampah-sampah yang sudah membukit itu kemudian mengalami settlement, rata dengan tanah. Area bekas sampah itu dijadikan pemukiman baru bagi ratusan keluarga.

Dua tahun berselang, pemerintah kota Makassar kembali mengusik perumahan itu. Pasar Terong yang sedianya hendak direnovasi kala itu, dan pemerintah memilih Pannampu sebagai tempat penampungan sementara para pedagang. Tapi para pedagang eks-pasar Terong lebih memilih selasar kompleks daripada pasar Pannampu sendiri. Dan ramai lah kembali perumahan kami dengan para pedagang yang kebanyakan pagandeng itu.

Pasar Pannampu kini memiliki dua pengertian lokasi yg berbeda. Yang pertama adalah Pasar Inpres Pannampu sendiri yang dikelola oleh PD Pasar Makassar. Yang kedua adalah selasar perumahan yang dijadikan tempat berjualan dan lebih ramai. Pasar Inpresnya sendiri saat ini seperti pasar tua yang menunggu diruntuhkan atau direnovasi. Sebahagian besar lods-lods (kios kecil) di pasar Inpresnya yang berjumlah 400-500 dibiarkan kosong, reot dan tak terurus. Di beberapa sisi pasar, genangan bisa setinggi lutut, seperti membentuk kubangan rawa dan ditumbuhi banyak tanaman liar. Yang dibuka oleh para pedagang hanya lods-lods di selasar utama. Itupun juga sepi dari pengunjung, sementara di luar, di selasar perumahan, riuh ramai oleh pembeli dan penjual.

Di luar Pasar Inpres Pannampu, ada tiga selasar yang dijadikan pasar. Ketiga selasar ini adalah jalan selebar lima meter yang memisahkan perumahan dengan Pasar Inpres Pannampu. Rumah keluarga saya ada di perumahan sebelah timur pasar Pannampu, dan oleh orang tua saya dipermak menjadi toko, sama seperti rumah-rumah yang lain.

Akumulasi sampah TPA dan sisa dagangan para pagandeng meninggalkan masalah buat warga perumahan, selokan yang dulunya dalam dan rapi kemudian tersumbat. Pada setiap musim hujan, terjadi banjir hingga selutut. Para warga perumahan melakukan adaptasi dengan meninggikan lantai rumah hingga satu meter. Juga jalanan di selasar perumahan itu memberi masalah lain, becek berlumpur. Setiap kendaraan yang masuk, motor dan mobil, pasti kotor ketika melintasi jalan depan perumahan.

Para sopir taxi pasti bergidik kalau mendengar penumpangnya meminta diantar ke Pasar Pannampu, karena sudah pasti bakal kotor dan repot ketika melintasi jalan yang becek dan berkubang itu. Tapi sejak tahun 2006, jalan itu sudah diberi perkerasan batako hingga terlihat rapi. Itulah perubahan satu-satunya yang saya saksikan ketika terakhir meninggalkan Pannampu di tahun 1994.

Dibawah ini foto2 hiruk pikuk Pannampu, diambil di bulan Juli 2007.

 

 

Di upload juga di blog ku yang lain:
Blog Wordpress
Blog Multiply

Popularity: 28% [?]

There are 2 Comments for
    “Kisah Pannampu”

  1. Dara Asnion 14 Sep 2007 at 3:19 pm

    Narsis abis ni web

  2. daeng rusleon 14 Sep 2007 at 4:49 pm

    yah begitulah Dara Asni…mohon maaf kalo kurang nyaman dgn narsis nya. :)

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Comment, please?

ally