[Buku] Burung2 di Bundaran HI

daengrusle September 5th, 2007

burung-bundaran-hi.jpgJudul: Burung-burung di Bundaran HI
Manusia dan Keseharian
Sindhunata
Cet 1, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2006
Xiv + 158 hlm; 14 cm x 21 cm

Membaca buku ini ibarat memotret pernik mozaik Jakarta di akhir tahun 70-an dari mata seorang Sindhunata, teolog muda (kala itu) yang berprofesi sebagai wartawan-penulis. Kepandaiannya mengakrabkan diri dengan seloroh warga di Jakarta menghasilkan tulisan-tulisan berbentuk feature yang tak hanya renyah untuk dibaca, tapi juga menyentuh bilik perenungan.

Buku ini selayaknya patut menjadi rujukan pengambil kebijakan publik sebelum berakrobat di istana dan parlemen, walau mungkin hal-hal yang dibahas sepenuhnya adalah hal remeh temeh yang tak bisa mendatangkan devisa bagi negara. Kalaupun tersentuh pada pembicaraan politis, tak lebih sekedar legitimasi untuk menempatkan kepentingan pemodal di titik tertentu untuk menggusur peran dan posisi mereka, yang sering dialihbahasakan sebagai kaum marginal, kaum pinggiran.

Membaca buku ini, walau mengambil setting 30 tahun lampau, ternyata masih relevan dengan konteks kekinian Jakarta, yang sesungguhnya merupakan lagu lama yang berulang-ulang tak lekang oleh waktu hingga zaman sekarang yang serba digital. Hanya peran dan posisi pemerannya yang berganti, dimana yang terjadi adalah subtitusi nasib dan kemalangan yang masih relevan hingga saat ini. Kalau seandainya Romo Sindhu masih aktif keluar masuk kampung, mungkin kita akan menemukan feature lainnya tentang warga yang tinggal di kolong jembatan, yang tergusur, dan semua peristiwa dalam konteks kekinian.

Kota, pada umumnya memiliki gravitasi ekonomi yang besar bagi warga pendatang, mereka dijanjikan akan mimpi tentang kemudahan memperoleh uang, fasilitas yang mentereng dan sejuta mimpi lainnya. Media pemberitaanlah yang membentuk mimpi ini menjadi opini massal dengan tak henti-hentinya melaporkan keberhasilan-keberhasilan pembangunan yang secara tidak langsung menimbulkan efek persuasif, kemudian didesak lagi oleh keterpurukan hidup di pedesaan yang serba terbatas, maka lengkaplah alasan mengapa sebagian kaum urban menjejak kaki di Jakarta. Namun di balik gemerlapnya, Jakarta dan umumnya kota yang lain juga menyimpan impuls negatif sekiranya para pendatang tidak mempu bertahan atau mengeksitasi kemujurannya ke tingkat yang lebih baik. Bagi para pendatang yang tidak berhasil mengubah mimpi indahnya menjadi kenyataan di Jakarta, maka kemalangan menjadi keniscayaan. Mereka yang kemudian bertahan tinggal di Jakarta, umumnya hanya hidup pada batas minimal dan pada posisi yang jauh dari pusat koordinat. Dan makin menyeruaklah kuantitas mereka pada statistik kemiskinan Jakarta.

Kisah kemalangan demi kemalangan yang disorot di buku ini rupanya tak hanya menimpa para pendatang yang tak mampu bersaing dengan gemerlap Jakarta, tapi juga mendera penduduk asli yang menyebut dirinya Betawi (dari kata Batavia yang dimelayukan). Desakan pembangunan dan rendahnya daya saing membuat koordinat sosial, kultural dan ekonomi mereka bergeser ke daerah pinggiran. Tempatnya kemudian digantikan oleh para pendatang yang sukses. Seloroh tutur para tetua kemudian hanya tinggal romantika belaka.

Buku ini meneropong banyak hal yang mungkin sepele bagi para pembesar Jakarta, tapi menjadi potret hidup mati perjuangan warga kecil. Tulisan-tulisan feature yang dimuat di halaman depan KOMPAS pojok kanan bawah ini mungkin mewakili silent majority warga Jakarta, walaupun tidak terlalu detail dan ribet. Hanya 2-4 halaman saja, tapi membuat kita seakan berada sendiri di samping para pelakunya, bercengkerama dengan nasib mereka. Pesan yang disampaikan sangat kuat, yakni suara-suara pinggiran yang berjuang untuk memetakan dirinya pada atlas kemanusiaan dan bergelut dengan aktualisasi diri untuk sekedar bertahan hidup.

Dibagi dalam tujuh bab, buku ini menyajikan cerita-cerita hasil wawancara dengan warga dan pengalaman pribadi Sindhunata berelaborasi dengan lorong-lorong Jakarta. Dimulai dari daerah lokalisasi Kramat Tunggak yang menuturkan kisah asal muasal para penjaja cinta itu, sekelumit cinta sejati yang tercecer, hingga religiusitas semu di kompleks pelacuran tersebut. Buah rambutan yang sangat digemari warga Jakarta mendominasi di bab kedua. Buah ini rupanya dulu merupakan maskot Jakarta, yang tumbuh dimana-mana. Juga ada teropong mengenai usaha bisnis lokal warga Jakarta, jahit menjahit. Setelahnya, tak lengkap rasanya membicarakan Jakarta kalau tak menyinggung transportasinya yang macet, hingga model moda trasnportasi publik yang turut memeriahkan kemacetannya. Bab kelima menyorot Jakarta sebagai kediaman kultural kaum Betawi, lengkap dengan kuliner, aksi pendekar tua, kesenian rakyat hingga wabah rabiesnya. Bab keenam dan ketujuh lebih memotret upaya perilaku warga Jakarta untuk terus bertahan hidup, dari warga pesisir hingga para anak-anak muda cacat pengidap paraplegia. Tujuh bab yang disajikan seakan terkesan tidaklah cukup untuk menata mozaik kota terbesar di Indonesia itu.

Hal-hal yang mungkin teramat biasa dan berlalu setiap hari menjadi luar biasa ketika dituliskan dalam bentuk feature. Rutinitas seorang pekerja seks komersial di kawasan lokalisasi adalah hal biasa di telinga masyarakat, namun menjadi luar biasa ketika mereka bercerita bagaimana mereka bisa membedakan mana seks yang dilandasi cinta dan mana yang hanya sekedar cara untuk bertahan hidup. Para pekerja seks komersial di lokalisasi Kramat Tunggak itu juga punya kekasih. Perhitungan ekonomis semata-mata tiba-tiba bisa tanggal, bila para perempuan itu menemukan hakikat dirinya: manusia yang tidak bisa tidak membutuhkan cinta. Juga, sebuah contoh ironis, yang diistilahkan oleh Sindhunata sebagai kesadaran religius yang tidak murni, ketika menuliskan tentang Pemujaan Dewi Kwan Im di sebuah rumah prostitusi, dengan memakai konteks psikologi agama

70% arus putaran uang di Indonesia bersarang hanya di satu kota besar ini, sementara hanya 10-20% saja warganya yang menikmati gemerincingan uang itu. Selebihnya adalah rakyat pinggiran, yang mengais uang dari remah-remah para pembesar, yang dalam salah satu featurenya bertajuk Ya Ampuuun Pelitnya tentang pedagang rambutan, diwakili oleh sosok seorang ibu kaya yang teramata pelit. Mereka, para pedagang kecil itu, hanya mengharap remah sebesar Rp 50, tapi si ibu kaya yang pelit itu justru meminta sepiring rejeki sang pedagang, modal jualannya. Takdir memang kejam kata pesohor Dessy Ratnasari, yang karena takdir jua membawa dirinya ke altar pernikahan untuk ketiga kalinya. Begitu juga mungkin ungkapan para pedagang rambutan itu. Juga ungkapan yang lebih miris dituturkan oleh para penyodok rebon di Utara jakarta dalam feature Laut adalah Cermin Kemelaratan Laut. Jalan keluar hanyalah mimpi. Kenyataannya hanyalah pergulatan dengan laut yang maha luas. Laut yang luas itu dan mungkin indah itu bagaikan mencengkeram para nelayan dala m kehidupan yang dingin, asing dan gatal.

Adalah tepat kemudian seorang Radhar Panca Dahana, mengungkapkan, “Menjadi manusia, menjadi negara, menjadi sebuah bangsa, adalah kemenyerahan kita pada atribut dan aturan logis yang menyertainya, betapapun ia asing dan kadang tidak logis bagi komprehensi tradisonal kita. Kita adalah mahluk yang jinak, untuk menerima itu semua tanpa kuasa bahkan untuk sekedar mengubahnya.

Dan kumpulan feature dalam buku ini juga mungkin hanya sekedar memotret, kemudian bercerita kepada pembaca, tanpa kuasa untuk mengubahnya. Mudah-mudahan tidak.

Popularity: 14% [?]

There are 7 Comments for
    “[Buku] Burung2 di Bundaran HI”

  1. hendraon 05 Sep 2007 at 1:14 pm

    assalamu alaykum bang…wah, semakin muantap cengkeramannya di dunia pr-bloging-am, bisa nyaingin arif, budi putra dan fathi syuhud nih…amin

  2. JeNgKoLHoLiCon 06 Sep 2007 at 12:31 am

    Next destination !, Gramedia !! :D

  3. daeng rusle'on 06 Sep 2007 at 7:40 am

    @bang hendra: wah ga sampe segitu nya lah, ha2, jauh banget rasanya jarak dgn para seleb blog itu, secara saya kayaknya baru mau ikut audisi AFI, biar jadi mendadak bintang he2. Thanks sudah drop by bang.

    @jengkolholic: gw ragu apa buku ini masih available di Gramed, soale tempo hari gw cari kelanjutan serial buku feature ini kok kagak nemu di BC ya. Thank.

  4. Ifoolon 07 Sep 2007 at 3:07 pm

    boss…
    edede..adami seng rumah barunya tawwa…
    hadiah blog fam-nya bermanfaat mantong tawwa di’…?

    slamat nah…?
    sori baru bisa berkunjung sekarang….

    salam’ ki daeng…

  5. dLon 09 Sep 2007 at 5:22 pm

    Ulasan Buku yg menarik.. Tapi, sekejam itukah takdir? Anyway, salam kenal juga.

  6. dLon 09 Sep 2007 at 5:29 pm

    Oh yah, saya jg sering naik damri pannampu - batangase pada masa jayanya. Mampir makan coto diterminal pannampu.

  7. dianikaon 12 Sep 2007 at 10:23 am

    menarik juga tulisan ini..
    Judulnya bikin penasaran… :D

    Seandainya saja bisa di-share di situs berbagi di www.halamansatu.net

    Saya undang ya
    Terima kasih :D

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Comment, please?

erwin