Ziarah Nyekar Jelang Ramadhan

daengrusle September 13th, 2007

berjubel1.JPG
Gambar: Tradisi ziarah nyekar di Balikpapan

Di Indonesia, ziarah nyekar menjelang Ramadhan ini sudah dianggap kebiasaan yang turun temurun. Biasanya, sehari menjelang hari raya Idul Fitri juga dilakukan ritual nyekar atau berziarah ke makam keluarga. Ritual ziarah kubur ini tidak diketahui sejak kapan dimulainya. Bahkan dalam banyak sumber sejarah Islam, tidak ditemukan adanya ritual Nabi Muhammad SAW melakukan ziarah menjelang bulan puasa.

Makna Ziarah Kubur, Kata ‘ziarah’ berasal dari bahasa Arab ‘zara, yazuru, ziaratun, yang artinya berkunjung atau pergi menengok. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Penerbit Balai Pustaka), kata ziarah diartikan dengan berkunjung ke tempat-tempat yang dianggap keramat atau mulia, makam dan sebagainya. Sedangkan kata kubur ialah tempat pemakaman jenazah. Dari penjelasan di atas secara kongkret dapat dipahami bahwa ziarah kubur ialah berkunjung ke tempat pemakaman jenazah (orang yang sudah meninggal dunia). [kutip dari Drs. H. As’ad Marlan, M.Ag]

Acara ziarah kubur juga kerap dilakukan secara resmi oleh pemerintah yaitu dalam acara peringatan hari-hari besar nasional seperti Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, peringatan hari pahlawan dan lain-lain.

berjubel-di-pintu-masuk.JPG
Gambar: Berjubel di pintu masuk

Hari Rabu, 12 September 2007, merupakan hari terakhir di bulan sya’ban, menandakan esok harinya sudah memasuki bulan suci Ramadhan. Sore itu saya sempat memotret para penziarah di pekuburan Muslim di daerah Rapak, Balikpapan Utara. Ratusan, bahkan ribuan penziarah berjubel memadati pekuburan yang luas nya mungkin hanya sekitar dua hektar itu untuk berziarah dan mendoakan sanak saudara mereka yang sudah terkubur disana. Salah seorang penziarah, Ibu Sariyem, yang tinggal sekitar lima kilometer dari pekuburan itu, mengaku sudah rutin berziarah ke kuburan ayahnya yang meninggal sejak 20 tahun yang lalu. Rutinitas ini dilakukan saban tahun.

tukang-parkir-dadakan.JPG
Gambar: Tukang Parkir Dadakan meraup rezeki

Rupanya rutinitas ini juga membawa berkah bagi orang lain. Sepanjang 100 meter jalan di kedua ruas depan pekuburan yang letaknya di jalan poros menuju samarinda itu mendadak menjadi area parkir. Puluhan pemuda setempat memanfaatkan sempadan jalan itu sebagai area parkir, dan berubahlah mereka menjadi tukang parkir dadakan bagi ratusan pengunjung yang berkendaraan. Menurut salah seorang pemuda yang saya temui, penghasilan yang dia terima selama masa ziarah yang dimulai di hari minggu itu lumayan banyak. Dalam sehari bisa memperoleh seratusan ribu. Puncaknya adalah hari rabu ini, sehari menjelang puasa. Saat saya tanya berapa yang dia peroleh hari ini, dia tersenyum dan berujar, “lumayanlah”.

pedagang-kembang1.JPG
Gambar: Pedagang kembang turut senang

Yang juga mendapat limpahan rejeki dari rutinitas ini adalah para pedagang kembang. Disepanjang sisi jalan, belasan pedagang kembang menggelar dagangannya dalam ember atau baskom. Dibanding para tukang parkir, penghasilan para pedagang kembang ini lumayan banyak. Kata Ibu Ina, salah seorang pedagang kembang yang saya temui, penghasilnnya bisa 200ribu hari itu. Dia mengaku sudah lima tahun berjualan di pekuburan ini setiap menjelang ramadhan. Sambil menunjuk pedagang kembang lainnya, dia berujar bahwa sudah sejak hari minggu, atau tiga hari sebelumnya mereka sudah berjualan di situ.

Selain tukang parkir dadakan dan pedagang kembang, ada juga para pembaca doa ziarah, pengemis dan anak-anak yang menjual selebaran jadwal puasa yang turut mengais rejeki diantara para penziarah itu.

memacetkan-jalan.JPG
Gambar: Macet

Banyaknya penziarah yang berkunjung ke pekuburan ini rupanya membawa efek buruk di jalan utama depan kuburan. Pekuburan yang terletak di jalan poros menuju luar kota balikpapan itu menjadi macet sepanjang sore. Jalan yang dipadati peziarah, kendaraan yang parkir di sisi jalan, pedagang kembang, dan semua keriuhan yang menyertai mengakibatkan kendaraan yang melintas tidak cukup memiliki ruang gerak. Kemacetan yang terjadi di kedua ruas jalan itu, berlangsung sepanjang satu kilometer, hingga maghrib.

macet-jalan.JPG
Gambar: Macet, lagi

Saat maghrib, para penziarah sudah pulang ke rumah masing-masing. Bersiap-siap menunaikan shalat taraweh.

Di lingkungan tempat saya tinggal, awal ramadhan dimulai dengan kurang baik. Mati lampu. Selama lebih kurang tiga jam, selepas maghrib hingga waktu taraweh usai, aliran listrik mati. Walaupun warga sudah cukup memaklumni bahwa kota Balikpapan secara umum masih kekurangan daya untuk mengalirkan listrik ke semua rumah warganya, sehingga hampir setiap hari ada yang mengalami pemadaman bergilir, namun pemadaman di malam pertama taraweh sungguh mengecewakan. Beberapa warga bahkan sampai mengurungkan niatnya bertaraweh bersama karena keadaan yang gelap gulita, baik di rumah ataupun di mesjid. Sehingga kesan yang terasa bahwa awal ramadhan kali ini kurang semarak, tentu saja semarak kerlap kerlip lampu masjid.

Popularity: 47% [?]

There are 9 Comments for
    “Ziarah Nyekar Jelang Ramadhan”

  1. Sultan Habnoeron 13 Sep 2007 at 12:28 pm

    Dengan berziarah kubur akan mengingatkan manusia akan kematian. Oleh karena itu, di bulan ramadhan hendaknya menjadi momentum untuk menambah tabungan amal. Puasanya tidak bolong-bolong, tarwih bagus, amalan yang lain juga dilakukan. Siapa tahu tiba-tiba di panggil oleh Allah.salamaki mappuasa.

  2. Ferry ZKon 13 Sep 2007 at 2:41 pm

    Selama niatnya untuk mendoakan yang mendahului plus mengingatkan diri sendiri bahwa sestiap saat bisa menyusul sih gpp, tp klo ziarah minta naik pangkat, minta langgeng pegang jabatan or minta banyak rezqi ini yang ngelantur, tp toh semua kembali ke nawaitu nya…

    Salam Kenal.

  3. yanion 13 Sep 2007 at 3:27 pm

    Wuih…
    Saya yang notabene lahir dan besar di Bpp, baru sekali ini lihat keramaian seperti itu *udik mode on* biasanya di kota kecil ku itu, cuma rame kalo ada konser musik.
    Btw bangunannya nya sapa mi itu kita’ naiki untuk ambil itu foto? :)
    Kayanya bakalan klop kalo kita’ sempat masuk ke areal pekuburan sekadar melihat apa saja yang mereka lakukan di situ. Sempat ada yang unik..
    Happy Fasting & C U 2morrow :)

  4. daengrusleon 14 Sep 2007 at 10:30 am

    @sultan: kuru sumange petuahnya. met puasa juga

    @ferry ZK: betul, kembali ke nawaitu masing2.

    @yani:sa nda bisa masuk ces ke area pekuburannya, liatmi saja itu org berjubel mau masuk..he2. tapi memang sa kira bagus kalo masuk motret2 di sana. next time pi lagi. thanks

  5. Inaon 14 Sep 2007 at 9:35 pm

    *bagh

    Banyak juga ternyata penduduk na balikpapan di’ daeng.
    Sampe kyk bgitu…Ck…ck…ck..hebat.
    Nda gepeng2 ji itu org baku sepek’2 jalan.

    He he he he he he….

  6. daeng ammang petta rukkaon 15 Sep 2007 at 5:18 am

    mauka juga deh berziarah di blogta,… kan berziarah bukan hanya bisa dilakukan di kuburan toh,… aga karebbanna passompe’e? madeceng2ji to? selamat berpuasa,… semoga Ramadhan ini membuat kita semua menjadi lebih baik,…
    tabe’ salama’ki

  7. amudon 15 Sep 2007 at 2:40 pm

    kata Pak Ustadz bersiarah kubur secara fisik mengunjungi kuburan, tetapi hakekatnya secara rohaniah mendoakan mereka yang telah berpulang ke Rahmatullah. Dan yang lebih terpenting adalah bersiarah ke rumah orang yang masih hidup untuk meningkatkan silaturahmi, saling memaafkan dan mendoakan untuk keselamatan, terutama pada orangtua kita. jadi Daeng…. ingatki’ saja selalu. salama’ki N Taddampengengnga Maraja.

  8. JeNgKoLHoLiCon 15 Sep 2007 at 9:29 pm

    He He He .., dimana-mana tradisi nyekar emang bikin macet yah ?, tapi itulah seni nya. Met puasa ya ?

  9. ikyulon 25 Sep 2007 at 5:27 pm

    fenomena “ziarah kubur ramadhan” juga rame di makassar daeng, knp saya ga kepikiran take a pic nya kaya kita di :(

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Comment, please?

mappe