Yang Muda dan Pergi Dibawa Maut
daengrusle September 17th, 2007
Keterangan Photo: Prosesi Pemakaman Ayahanda Tercinta
Almarhum Haji Bandu, di Palopo, 4 Juni 2005
Kita tak bisa memilih waktu mati, tentu saja. Yang kita bisa lakukan hanyalah mempersiapkan diri menghadapinya, kapan pun itu. Karena maut tidak pernah mengenal seberapa bugar badan kita, seberapa muda usia kita, dan seberapa bodoh kita berada di antara hingar bingar tempat maksiat, ataupun seberapa beruntung kita yang sedang bersujud di tempat muliaNya. Waktu, tempat dan suasananya adalah prerogatif Tuhan Yang Maha Menentukan semata.
Kematian itu dekat, teramat dekat. Seperti kata penyair, saya lupa namanya, ’sementara kita bercengkerama dengan kegembiraan di bilik yang hangat dan segar, sang maut sedang menunggu di teras depan’.
Tahun ini, baik sebagai individu subyektif maupun sebagai bagian dari bangsa yang besar, terasa runut dengan peristiwa2 luar biasa yang berujung memisahkan silaturahmi fisik dengan karib yang dekat, entah saudara atau teman terkasih. Diantara mereka, ada beberapa yang usia dan perjalanan hidupnya masih teramat pendek. Memilukan untuk dikenang, betapa sungguh raupan duniawi mungkin masih sekaki bukit, walau harapan menjulang setinggi langit. Namun sabda Ilahi yang dititipkan pada sang Malaikat Maut tentu tidak akan pernah mentolerir alasan dan harapan itu.
Diawal tahun 2007, ketika bangsa Indonesia dihinggapi rasa shock akan hilangnya pesawat Adam Air beserta 200-an penumpangnya di daerah Majene, keluarga saya pun terserap ke dalam kedukaan mendalam. Adik sepupu saya, sekaligus ipar saya, Heryanto yang kami lebih akrab memanggilnya Anto, meninggal dunia karena sakit yang parah.
Anto yang kreatif, ringan tangan dan selalu riang ini meninggalkan kami setelah melalui sakit yang panjang. Umurnya baru 27 tahun, meninggalkan seorang istri dan dua anak perempuan yang masih bocah, Dhilla (4thn) dan Odhonk (2,5thn) di Palopo sana. Dia adalah sulung di keluarga istri saya, dan padanya sesungguhnya banyak harapan diletakkan setelah ayahanda terkasih Haji Bandu meninggal setahun sebelumnya, juga dalam usia yang masih belum cukup tua, 45 tahun. Namun Tuhan berkehendak lain, Anto mungkin tak mampu menahan kerinduan kepada ayahnya yang zuhud dan alim itu. Ataupun ayahnya disana merindukan kehadiran pendamping dari kalangan tercintanya, who knows. Masih hangat dalam ingatan saya saya beberapa tahun yang lalu, ketika kami bertiga bercengkerama tentang aktifitas dakwah yang sedang marak di Palopo.
Di pertengahan tahun 2007 di bulan juli yang kering di Makassar, ketika saya sedang menikmati sajian film dokumenter di sebuah balai, saya menerima pesan pendek dari seorang rekan. Sahabat saya sejak SMA, Imelda, atau kami sering memanggilnya Cime’, juga berpulang setelah berkutat dengan sakit bronkhitis yang akut. Cime’ yang selalu segar, cantik dan sangat ramah itu, meninggalkan keheningan di rongga bathin saya. Betapa masih segar rasanya celetukan dan sapaannya yang ramah, pun ketika saya masih merasa sangat marginal di hadapannya. Mungkin karena parasnya yang elok, atau networknya yang luas, saya sering merasa rendah diri didepannya. Tapi dia secara luarbiasa menghilangkan kesan itu seketika. Ketika dengan serius berbincang sambil menatap mata saya dengan rekahan senyumnya yang manis. Saya kehilangan sekali lagi. Cime’ masih muda, umurnya baru 30 tahun, meninggal di Makassar.
Minggu lalu, ketika berkunjung ke blog seorang sahabat lama yang sangat saya kasihi, saya menemukan bebaris kalimat sedih yang mengabarkan adiknya yang sedang terbaring antara sadar dan tidak. Sedih rasanya membaca kalimat demi kalimat yang diguyur oleh rasa iba dan sayang yang luar biasa dari kakak yang sangat mengasihinya itu. Menurut email dari sahabat saya itu, dalam tubuh Inyong yang - seingat saya, tangguh itu - berdiam beberapa penyakit, bronkhitis, hepatitis dll. Saya sesungguhnya terperanjat membaca akronim ‘dll‘ yang berarti majemuk dan justru menambah dalamnya perigi kesedihan dalam hati saya.
Inyong [belakangan saya baru tahu nama lengkapnya, Andi Narsal Naim], namanya. Saat itu terbaring lemah dalam kesadaran yang lamat-lamat. Selintas ingatan saya terlempar ke tahun 2004 silam, ketika di sebuah rumah di bilangan Ciputat saat bertemu dengan anak muda yang murah senyum ini.
Inyong, walau tak banyak bicara, tapi senyum dan renyah tawanya sudah mampu menuturkan banyak hal. Anak lelaki itu ramah dan terlihat tangguh nan cekatan, sebagaimana anak muda seusianya. Saya merasa beruntung bisa berkenalan dan bersua dengan dia, yang setahu saya cerdas seperti kakaknya, sahabat lama saya itu.
Sabtu Shubuh 15 September 2007, selepas sahur yang syahdu, saya menyempatkan merapalkan beberapa baris fathehah dan sholawat untuk kesembuhan Inyong. Berharap beberapa penyakit yang mendera nya bisa diringankan oleh Yang Maha Penyembuh. Fathehah dan sholawat adalah rapalan standar yang sering saya bisikkan dalam keheningan sehabis sholat untuk mendoakan kerabat atau rekan yang sedang kesusahan, atau meninggal.
Sabtu Siang yang panas di Balikpapan, 15 September 2007, ketika saya sedang asyik bermain dengan ananda tercinta, Mahdi Muthahhari, saya menerima pesan singkat yang kemudian membuat saya terperanjat dengan hati yang penuh lumuran kesedihan yang teramat sangat. Pesan singkat dari sahabat lama saya yang sangat saya kasihi itu, mengabarkan adiknya, yang pendiam dan murah senyum itu, telah berpulang. Innalillahi wainna ilaihi rajiun. Saya mungkin merasa belum siap menerima kabar duka itu, terlebih karena di shubuh harinya, saya masih sangat terkenang akan anak muda itu. Hati dalam duka, dingin, dan senyap. Inyong masih teramat muda, mungkin sekitar 27 tahun saat ini. Masih jauh terbentang jalan yang [sepatutnya] bisa dia tempuh dengan kaki dan tubuhnya yang belia. Masih banyak cita-cita yang bisa dia raih dan koleksi untuk hidupnya kelak. Namun, Allah sang Maha Penentu berkehendak lain. Maut membawanya pergi ke alam abadi nan misterius itu.
Peristiwa kematian adalah peristiwa terdahsyat bagi individu yang mengalaminya, selain kelahiran yang mungkin saat itu ingatan kesadaran belumlah terangkum sempurna. Namun peristiwa kematian ini, yang mana kita semua akan melaluinya dengan sadar, memiliki kedahsyatan yang paripurna, jauh melebihi gemuruhnya perang yang kita tonton di televisi, jauh melebihi gedebuk dan getar perasaan yang ditimbulkan saat berjalan di podium wisuda, dan saya pikir bahkan jauh melebihi gegap gempita nya dada seorang Presiden ketika pertama kali terpilih memimpin bangsa yang besar, bahkan sebesar Amerika yang Adi Daya.
Ya, tidak ada peristiwa yang melebihi luarbiasa nya kematian itu. Bahkan saking dahsyatnya, orang-orang yang berada disekitar, sanak keluarga akan sangat merasakan magnitude nya berhari-hari,. bahkan berbulan dan bertahun-tahun bagi yang tetap menyimpannya dalam sumur kenangan yang teramat dalam. Selama beberapa hari sejak maut menghinggapi rumah duka itu, suasana yang sangat dekat dengan Ilahi seakan menjadi jamaah yang menyapa satu demi satu, akrab dan dalam.
Betul kiranya seorang Rasul Suci SAWW pernah senantiasa mengingatkan ummatnya, selain al-Quran yang bisa berbicara [melalui lantunan pembacanya], adalah maut menjadi nasehat yang diam namun senantiasa mengingatkan kehidupan yang lain sesudah fana ini. Dunia hanyalah persinggahan sementara, untuk meraup bekal sebelum perjalanaan abadi di alam sana. Ketika kita sholat, Rasul Suci SAWW itu mengingatkan untuk menjalani nya dengan tekun, seakan bahwa sholat itulah yang terakhir kalinya kita lakukan.
Satu hal yang sewajarnya menjadi perhatian bagi kita yang sebentar lagi juga akan menyusuri kematian yang diam, dingin, dan misterius itu, bahwa telah cukupkah kita menitipkan dan menabungkan doa bagi orang-orang yang mengasihi kita kelak, sepeninggal kita? Yang senantiasa akan ikhlas dan tekun mengirimkan sholawat, fathehah dan doa, sebagaimana kita rajin mengirimkan sholawat atas yang mulia Rasul Suci SAWW itu. Sehari lima kali sehabis berkhalwat dengan Yang Maha Mulia, tentu tak berat merapalkan Fathehah untuk orang-orang yang kita kasihi, baik yang sedang kesusahan, telah pergi dibawa maut, atau yang masih bugar, demi mengharapkan keberlanjutan rezeki sehat baginya.
Wassalam. Wallahu ‘alam bis showab.
Popularity: 25% [?]















Mungkin di bulan ramadhan ini mi waktu yang tepat untuk menabung amal sebagai bekal kematian kita daeng. Siapa tahu?
Innalillaahi Wainnailaihi Roojiun…. semoga mereka semua diberi ketenangan dalam Rahmat ilahi. Kematian adalah kebenaran yang paling “benar”, dan kehidupan dunia adalah kebohongan yang paling “benar”. Rasulullah menyampaikan bahwa orang yang cerdas selalu mengingat mati sehingga senantiasa menyiapkan diri menuju kematian. Hanya orang hidup yang dapat dijamah doanya bagi sang Khalik, mari senantiasa saling mendoakan menuju kebaikan dan keselamatan.
Al fatihah …..
Kematian adalah satu dari dua hal yang tanpa harus “menjamahnya”, akan membuat saya terisak-isak. Saya tidak perlu mengenal dekat orang yang meninggal. Berada di sekitar kedukaan keluarga almarhum atau almarhumah, jejeran kursi dan wajah diam selalu membuat saya ngilu. Hal yang lain adalah pernikahan.
Saya bertemu dengan kematian di dalam rumah sendiri, dan di hidup sahabat-sahabat saya.
Yang mau saya catatkan hanya: bagaimana kehidupan masih harus diteruskan ketika kematian mengambil tempat di tengah hidup kita.
Ada sebuah naskah monolog, tentang musim dingin dan kematian; saya lupa judul aslinya. Naskah itu mulai dengan: “sssttttttt, hati-hati. Di luar dingin.” Kata si maut. “ada yang menunggu, di balik pintu”.
Mungkin kamu protes Rusle’, kok naskah monolog yang jadi acuan ? Ya kenapa ya, saya juga bertanya. Kenapa teringat pada kalimat –kalimat dalam naskah itu. Pasti bukan karena referensi spiritual saya minim. Sore ini, ketika memenuhi janji, dan menemukan “alif” untuk menulis sesuatu sebagai komentar di sini, saya teringat pada beberapa kali kesempatan yang berhampiran jalan dengan saya atau keluar dari pintu rumah saya. Pada malam-malam panjang yang dilalui Rina di rumah sakit membiarkan kepedihan dan ketidakmengertian pergi ke pemakaman mengantar bayinya, satu persatu. Sementara dia terbaring lemah kekurangan darah di ranjang rumah sakit. Dua pemakaman. Dua bayi. Dua gigil panjang yang digelungnya dalam rahim yang kosong. Lalu teringat pada lines dalam naskah itu: “sssttttttt, hati-hati. Di luar dingin.” Kata si maut. “ada yang menunggu, di balik pintu”.
Melampaui kepedihan pada kenangan itu, ada pengertian yang perlahan lahir di dalamku. Aneh sekali, tapi mungkin ini benar: kematian menawarkan kehangatan. Kehangatan dari kepastian. Apa yang sepasti maut? Mestinya kepastian itu memberi rasa hangat yang sama seperti kehangatan yang ditimbulkan dari kepastian dalam sapaan ‘mate’ kepada Rusle’ oleh mamanya Mahdi. Saya pikir, siapapun akan membaca di sapaan itu ada hidup yang telah dipecah dan dibagi dalam persekutuan, ada kesetaraan, ada kesepakatan. Harusnya begitu. Sepasti itu, kehangatan yang ditawarkan kematian. Juga maut tidak pernah diberi wajah indah. Maut selalu berwarna hitam dan tanpa wajah. Selalu gelap.
Mungkin aneh, tapi sore ini saya mau berargumentasi. Dengan diriku sendiri tentu saja. Maut punya wajah. Wajah pucat, dengan bibir biru. Bibir biru karena penantian panjang -relatif, tentu saja, tergantung pada bagaimana kita mengukur “lama”-;Karena telah bermusim-musim menunggu di balik pintu, dalam angin santer dan musim dingin. Tapi setia. Kesetiaan yang sama “ilahi”nya, dengan kehadiran matahari, dengan putaran galaksi. Soal pakaian, kenapa tak kita beri dia warna lebih cerah, hijau daun muda, kuncup bunga?
Sore ini saya tak ingin lupa, kalimat berikutnya dari naskah itu, ada yang menunggu di balik pintu. Selama bermusim-musim dia menunggu. Menunggu di luar, dalam musim dingin. Apakah dia menerobos datang, menjarah hidup kita ? Tidak. Tidak pernah. Dia menunggu. Selalu menunggu. Kita lupa, bahwa dia menunggu.
thanks kak Lune, sudah meninggalkan jejak tangan disini.
kematian menawarkan kehangatan. Kehangatan dari kepastian. Apa yang sepasti maut?
ungkapan yang bagus, copy paste dan save di memori!
Rasul pernah bersabda, *wallahu ‘alam redaksinya gmn, deen lupa* :
“Manusia yang pintar adalah mereka yang senantiasa ingat dan mempersiapkan hari akhirnya..”
Deen baca tulisanta’ pas denger nasyid “Selimut Putih”-nya Hijjaz.. ^_^. Sejenak menjadi renungan, apakah diri bener2 mempersiapkan hari itu, kala nafas terhenti di suatu detik, kala amalan2 tak bisa lagi terkejar kecuali yg pernah terbuat, kala badan yg tiap hari dihias ini akan terhimpit tanah, siap membusuk, bersanding dgn hewan2 tanah yg slalu deen ngeri melihatnya. Hari itu…
Jazakallah Daeng Rusle-ku
Kak Rusle, terkirim Al-Fatehah supaya Allah senantiasa memberikan ‘keberlanjutan rezeki sehat’ utk kita’, sehingga kita’ selalu bisa produktif utk berkarya (menulis), semakin bermanfaat, barokah, dan menjadi sumber inspirasi/motivasi positif bagi semua orang yg baca tulisanta’, AMIN.
dan kematian makin akrabpuisi Subagio Sastrowardoyo tahun 1970…
Innalillahi wa Innalillahi Raji`un …, turut berduka yah daeng ?, semoga arwah diteriam disisi NYA.
@deen: makasih, iya mengingat mati adalah tanda org pintar, ini juga sdh disinggung oleh Dg Amud id komentnya diatas, walau saya masih kurang paham istilah ke’pintar’an yg dimaksud. saya lebih suka kata wara’…anyway sama saja mungkin
@Nirma: iye, thanks. yang sabar ya Nirma.
@Ly:akrab, hangat dan setiap saat menanti utk memeluk siapa saja yg ditemuinya. kemudian tangis dan jerit tumpah bak air bah.
@jengkolholic: thanks mas, mohon juga disampaikan ke sahabat saya itu.
kematian..maut..kita tidak tahu, detik keberapa kita akan bersua dengannya..kematian adalah hal yang pasti, tak bisa dihindari..kadang2 saya koq berpikir, mungkin memang lebih enak jadi terpidana mati, kita bisa tahu kapan kira2 kita akan dijemput maut, jadi kita bisa lebih mempersiapkan diri menghadapinya…
betul kah..?, entahlah…
Pernah terfikirkan untuk mati muda, agar tak melihat orang-orang tercinta meninggalkan ku untuk selamanya. Ketakutan untuk ditinggalkan oleh mereka begitu besar.
Tapi kini, ketakutan terbesar adalah ketika harus menghadapNya tanpa amalan yang cukup untuk dipersembahkan padaNya.
Membaca tulisan ini, sy tak dpt berkata apa2, tak terasa kelopak mata saya basah jadinya. Sy merasa terbawa kemasa2 dimana pamanku tercinta ini setiap bertemu di kiosnya di palopo…selalu dan selalu dengan ketulusan bliau mengajak saya makan sop saudara, tanpa menanyakan apa saya sdh kenyang(makan) atau tidak.Dan masih banyak kenangan lagi dalam kebersamaan dengan bliau.
Saudarakupun Antok, pria yang ringan tangan, penuh senyum dan canda.Dan seorang yang selalu berupaya meringankan beban2 saudaranya.
Al Fatehah…..dan doa yang tulus buat bliau2 itu. Semoga keikhlasan-keikhlasan bliau selama hidup ini membuat diterima disisiNya.
Demikian pula kepada saudara2ku yang disebutkan dalam tulisan ini, Al Fatihah kukirimkan buat bliau2, semoga bliau2 (walo barangkali tak pernah bertemu) juga diterima disisiNya. Amiiiii…nnnnn!!!
wah memceritakan palopo, rindu juga sama kotaku itu..
Assalamualaikum.. Saya di sini ucapkan takziah kepada kamu kerana kematian sahabat yang dialami.. Tetapi saya ingin bertanya, berdosa kan jika kita megambil gambar mayat? Ia seperti tidak menunjukkan kehormatan kepada mayat itu?
@hafizhullah:
tidak ada nash yg valid yang menyatakan ‘berdosa’ mengambil gambar mayit. Apakah mengambil gambar seperti tidak menunjukkan kehormatan? saya rasa itu tergantung dari maksud kita mengambil gambarnya, dan sangat bergantung pada konteks nya juga. Sekiranya anda membaca tulisan diatas, apakah konteks nya tidak menunjukkan kehormatan?