Nabi Palsu, Aliran Sesat dan Hak Kita atas Pe-label-an itu!
daengrusle October 29th, 2007
Dari perbincangan semalam di Mushalla al Mushawwir dan juga lagi santer diberitakan di koran Tribun Kaltim dalam dua hari ini, ada issue hangat tentang sekelompok jemaah muslim yang pemimpinnya mengaku Nabi. Pengakuan keNabian beserta syariat dan ritualnya yang dianggap nyeleneh dari pakem umum, seperti biasa di Indonesia ini, akan diberi hadiah: Label Nabi Palsu, Aliran Sesat, Gila, Dalalah!. Alasan nya jelas, tidak ada lagi pengaugerahan gelar Nabi sejak ditutup registrasinya selepas Rasulullah SAWW mangkat, empat belas abad silam. Jadi, semua oknum yang mengaku nabi setelah sang Rasul Mulia ini pastilah palsu. Tentu saja ini dalam terms Islam, bukan agama lain. Jadi kalo ada yang mengaku menjalankan syariat Islam dan mengakui bagian dari Islam lantas juga mengaku sebagai Nabi, maka palsu lah ia. Kalau ia mengaku sebagai Nabi tapi dengan menenteng syariat agama selain Islam, maka ia mungkin tidak dianggap sebagai Palsu, apalagi sesat. Paling banter akan disematkan sebagai aliran kepercayaan, dan kalo beruntung, bisa dimasukkan dalam katalog budaya luhur asli bangsa Indonesia. he2.
Nama jamaah yg lagi dibincangkan itu, Al Qiyadah Al Islamiyah. Pendiri dan pemimpinnya Ahmad Moshaddeq atau Haji Salam, yang menurut info di internet mengaku mendapat wangsit dan wahyu dari Pemilik Alam ini, sejak 23 Juli 2006 setelah bertapa selama 40 hari 40 malam, dan karenanya mengaku sebagai Rasul untuk menyempurnakan ajaran dan kenabian Muhammad SAW. Pengajiannya digelar di Hotel-hotel mewah, pengikutnya sampai tercatan hingga 41,000 yang tersebar di beberapa propinsi hingga di NTB dan Sulawesi Selatan.
Bahasa Manusia tentang Kebaikan adalah Universal
Saya sendiri percaya kepada kearifan yang melekat pada setiap manusia. Berbicara mengenai keyakinan dan kepercayaan akan hidup dan hubungannya dengan Tuhan atau semesta raya ini, semua ide dan gagasan dalam kepala seseorang pastilah akan mengakui bahwa yang dimaksud kearifan luhur itu adalah berbuat baik. Saya yakin tidak ada satupun keyakinan dan kepercayaan dalam diri manusia untuk menentang atau keluar dari bahasa universal tentang kebaikan yang berarti melawan nurani nya. Kalaupun ada aktifitas yang dianggap aneh dan nyeleneh, keluar dari pakem yang ada, dan tentu saja merupakan perspektif parsial, itu mungkin hanyalah bentuk laku individu yang mencoba mencari cara yang paling nyaman dalam merefleksikan keyakinannya. Dalam mencari cara dan laku ternyaman dalam melaksanakan aktifitas spiritualnya, tentu saja interaksi atau pengaruh terhadapa sekitarnya, terutama masyarakat menjadi salah satu dasar pertimbangan. Dengan melakukan paksaan dan intimidasi ke masyarakat yang lain tentu saja tidak membuat nyaman, sebagai salah satu contohnya.
Jadi, keyakinan akan kearifan dan kebaikan itu dimiliki oleh semua orang, dan diejawantahkan menjadi laku spiritual yang sangat individualistik. Semua pasti menginginkan hal yang sama: ketenangan, kebahagiaan. Tidak mungkin ada satu ajaran yang tujuannya adalah kehancuran diri sendiri. Kalau ada, itu mungkin bisa dianggap kelainan jiwa. Sinting!.
Apakah kita berhak mencampuri apalagi menghukum sang pemilik keyakinan? Apakah ada yang berhak mengklaim keyakinan akan kebenaran sejati itu adalah keyakinan tertentu saja? Bukankah keyakinan itu sifatnya sangat individualistis? Bahkan ketika seorang Imam atau Ulama Besar mengeluarkan fatwa berkaitan dengan agama yang dianutnya, para jamaah tidak dipaksa untuk mengikutinya. Taqlid? Taqlid hanya berhubungan dengan ritual yang menjadi pendukung keyakinan, bukan substansi keyakuinan itu sendiri.
Label Sesat Yang Memprihatinkan
Berangkat dari kasus Ahmadiah, Salamullah, Syiah, Jamaah Tabligh, Islam Jamaah, Darul Arqam, NII, dan terakhir Al Qiyadah Al Islamiyah ini, oleh masyarakat umum yang semua ajaran ini dianggap aneh dan nyeleneh, dan kemudian, sebagaimana biasa perilaku kita, dengan gampangnya memberi label Sesat dan Menyesatkan. Kadang hanya berbekal rekomendasi dari suatu lembaga - yang saya sendiri bingung, apakah fatwanya itu memang diperuntukkan dan merepresentasikan seluruh umat Islam Indonesia?? - jamaah yang emosional sambil memekikkan nama Tuhan melakukan pengrusakan dan penistaan kepada jamaahnya. Heran ya. Bukankah Rasulullah SAWW membawa syariat Islam ini dengan misi khusus: menyempurnakan akhlak? Ada apa dengan akhlak ini, apakah lantas ditinggalkan hanya karena pengen mengikuti fatwa ini?
Saya bukannya tidak setuju dengan fatwa dan pelabelan sesat kepada keyakinan/kepercayaan ini, hanya saja sedikit menghimbau untuk berhati-hati memberi label ke seseorang, apalagi sekelompok orang yang punya keyakinan tertentu. Toh yang mereka hendak capai adalah sesuatu yang luhur adanya; adalah ketenangan dan kepuasan spiritual, yang secara kebetulan diberikan oleh organisasi/kelompoknya. Mereka, walaupun eksklusif dalam gerak sosial dan ritual, saya yakin tidak memiliki misi khusus untuk menyaingi, mempreteli, apalagi melakukan permusuhan terhadap keyakinan lain, bahkan keyakinan yang mayorias dianut oleh muslim Indonesia. Saya yakin mereka itu murni hanya sikap individual yang mencoba menerjemahkan ajaran luhur yang ditelusuri dengan nurani/akalnya masing-masing tanpa bermaksud melibatkan orang lain di luar circle mereka. Dan satu hal penting, selama mereka tidak memberikan gangguan fisik dan psikis ke masyarakat lainnya, tidak perlu lah mereka kemudian di cap sesat dan meresahkan, dan kemudian dirusak tempat ibadahnya, pengikutnya di bui seperti maling, pemimpinnya digelandang dengan perlakuan lebih buruk dari koruptor negara yang bebas melenggang di luar sana karena dijamin oleh pejabat.
Memang agak aneh di alam jagad yang sudah modern dan mengakui kelaziman suatu ‘perbedaan’, selain ada organisasi yang mengklaim memiliki mandat resmi dari Tuhan untuk memberi label Sesat, ada juga orang-orang tertentu/jamaah individual atau berkelompok yang merasa paling benar dalam menginterpretasi kan hukum syariat agamanya dan punya kedekatan spiritual dengan Tuhan sehingga serta merta merasa punya hak untuk menentukan dan memberi label sesat dan palsu itu. Apa mereka yang punya sertifikat kavling di surga sampai merasa punya hak untuk menentukan orang lain itu adalah ahli syurga atau ahli neraka?
Dan sebagaimana diduga, orang-orang ini lah yang merasa paling tergangu dengan aktifitas jamaah yang dianggap sesat itu, padahal bisa jadi justru tidak ada pengaruh apa-apa ke mereka, hanya karena ketidaksenangan dan kekurangsukaan aja. Dan itu jelas2 merupakan persepsi individualis yang tidak punya kemutlakan dalam term benar salah. Kalau mereka merasa terganggu dan takut tercemari keimanannya, lha ada apa dengan keimanan mereka. Apa masih ada keraguan sampai khawatir dan takut akan pengaruh keyakinan orang lain? Atau pengen mempertahankan status quo keimanan mereka, apapun kesalahannya?
Kalau dalam urusan ganggu mengganggu, nyaman gak nyaman, kembalikanlah ke ranah hukum yang memiliki kekuatan positif. Sekiranya betul bahwa mereka melakukan kesalahan di mata hukum, yah hukumlah dengan kitab yang ada. Kalau misalnya yang dipersoalkan adalah ajaran dan keyakinan, ajaklah mereka ber-mubahalah seperti yg dulu dipraktekkan Rasulullah SAW. Kalaupun setelah mubahalah mereka tetap bersikukuh pada keyakinannya, serahkan semuanya kepada Yang Maha Tahu. Biarkan alam dan masyarakat yang menyeleksinya. Ajaran yang tidak membuat nyaman jamaahnya tentu akan cepat hilang tersapu angin.
Kalau memang merasa sangat tidak nyaman dengan keanehan dan perbedaan, kenapa tidak melabrak saja kaum yang betul-betul sudah menyerang Islam secara terang-terangan, misalnya menghancurkan Masjid, menduduki tanah Muslim, menghina al-Quran, membunuh jiwa Muslim. Atau para pengedar narkoba, koruptor bejat, penguasa lalim! Itulah pihak-pihak yang perlu diberi label SESAT, NERAKA, dan Manusia Palsu! Bukan saudara-saudara kita seiman yang persamaannya dengan kita jauh lebih banyak daripada menghitung-hitung perbedaannya.
Saya pernah dan masih bergaul dengan beberapa rekan dari Syiah Ahlul Bayt, Jamaah Tabligh, Islam Jamaah, Ahmadiyah. Mereka umumnya bersikap santun kepada saudara Muslim yang lain. Akhlak yang bagus. Akan halnya pendirian teologis dan ritual ibadah yang berbeda, itu sama kita maklumi termasuk dalam ranah khilafiah yang memang sudah lazim diperdebatkan. Bukan persoalan yang substansial, misalnya syahadat, kiblat, Ketuhanan.
Jadi, teman. Saya berpendapat dan sedikit mengajak, mari kita membangun Islam ini dengan sungguh-sungguh, dengan mengedepankan akhlak dan mengesampingkan sikap curiga berlebihan, apalagi terhadap sesama muslim yang bersyahadat. Bukankah kecurigaan akan saudara sendiri ini yang menggiring Islam ke jurang perpecahan yang tidak perlu?
Pengakuan kenabian, keimaman dan ke-masih-an adalah pengakuan yang sifatnya sangat spiritual dan tentu saja memerlukan penelusuran yang lebih mendalam tentang definisi dari ke-aku-annya itu. Kalau seseorang mengaku Nabi, Imam, al-Masih, apakah lantas dia memaksa kita untuk meyakininya? Sama ketika Rasulullah SAWW yang mulia memproklamirkan kenabiannya dan memperkenalkan Islam. Apakah Beliau SAWW pernah terdengar melakukan pemaksaan dalam dakwahnya? Tidak. Ia berdakwah dengan santun, mengajak kepada kebenaran yang diyakininya, tanpa ada paksaan. Jangankan orang lain, bahkan kerabat terdekatnya pun tidak dipaksa untuk memeluk Islam. Laa ikraha fiddiin. Tidak ada paksaan dalam agama.
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. AL Ahzab 40).
Link yang terkait dengan al-Qiyadah al-Islamiyah:
Cinta Rasulullah - MUI: Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah Sesat
Prayudi - http://prayudi.wordpress.com/2007/10/26/al-qiyadah-al-islamiyah/
Era Muslim - http://www.eramuslim.com/berita/nas/7a04160133-mui-fatwakan-aliran-al-qiyadah-al-islamiyah-sesat.htm
Gambar diatas diunduh dari sini.
Popularity: 23% [?]
- Aku , Agama , Opini
- Comments(13)














