Buka Puasa Bersama, membuka Kenangan!
daengrusle October 9th, 2007
Foto: Berbuka Puasa di Langgar, Mahdi ikutan juga!
Ramadhan, selain didalamnya terkandung semangat untuk memperbanyak frekuensi riyadah/ibadah spiritual yang sifatnya individual karena limpahan janji pahala dna keagungan bulan suci itu, juga ada kandungan semangat untuk beribadah secara komunal demi menyemarakkan suasana Ramadhan dan mempererat silaturrahmi diantara sesama muslim khususnya dan sesama umat manusia umumnya.
Ibadah yang dibungkus oleh semangat berinteraksi dengan muslim lainnya terutama dapat kita jumpai dalam dua hal; buka puasa dan taraweh bersama. Semarak kebersamaan dalam beribadah ini tidak saja dilakukan di mesjid/mushalla di lingkungan sekitar, tapi juga dilakukan di lingkungan yang tak lazim, misalnya kantor. Beberapa kantor menggunakan kesempatan ini untuk lebih mencairkan komunikasi dan ketegangan saat berkejaran dengan rutinitas kantor.
Berbuka Puasa di Langgar
Sejak pertengahan ramadhan, karena beban kerja yang sudah mulai berkurang saya selalu menyempatkan diri untuk pulang lebih awal demi untuk mengikuti buka puasa bersama yang setiap hari diadakan di Langgar al-Mushawwir depan rumah saya. Dengan mengikuti acara buka puasa bersama ini, saya bisa lebih meningkatkan silaturahmi dengan warga/jamaah sekitar dan yang paling penting saya bisa merefresh kenangan saya ketika masih kanak-kanak di Pannampu, Makassar.
Buka puasa bersama setiap hari ini dihadiri oleh tak kurang dari 20 jamaah yang umumnya terdiri dari anak-anak dan remaja. Hanya sekitar 3-5 orang dewasa yang juga turut serta dalam kegiatan ini, yang biasanya adalah pengurus langgar yang bertugas untuk mempersiapkan makanan dan minuman yang nantinya akan dibagikan kepada jamaah. Makanan dan minuman untuk berbuka puasa, atau lebih populer dengan sebutan ta’jil, ini disediakan oleh jamaah sendiri secara bergilir sesuai dengan Jadwal Giliran Penyedia Buka Puasa yang sudah disebarkan oleh pengurus Langgar beberapa hari sebelum Ramadhan dimulai.

Foto: Jadwal Giliran Penyedia Ta’jil
Setiap hari, ada empat atau lima warga yang kebagian giliran untuk menyediakan ta’jil yang dihantarkan setengah jam sebelum acara buka puasa. Disesuaikan dengan jumlah populasi warga muslim di lingkungan saya, maka selama bulan Ramadhan masing-masing warga bisa kebagian giliran 4 kali menyediakan ta’jil. Diluar jadwal yang telah ditetapkan, ada juga diantara warga yang berinisiatif untuk setiap hari menghantarkan ta’jil ke Langgar. Tidak ada larangan untuk ini, tentu saja.
Ta’jil yang dihantarkan bermacam-macam. Ada kue-kue aneka rupa aneka rasa, ada kurma, dan ada juga gorengan. Ada yang khusus membuat sendiri, namun lebih banyak yang tidak mau repot membuatnya. Yang merasa tidak mau repot membuat ta’jil sendiri, cukup membeli di beberapa warung di dekat rumah, atau menyempatkan berbelanja di bazaar ramadhan yang di Balikpapan cukup marak di bulan Ramdhan.
Bazaar Ramadhan ini semacam pasar kaget yang digelar di sempadan jalan utama, yang biasanya berjualan kue-kue basah aneka rupa, kue kering, aneka minuman. Harga kue-kue itu umumnya cukup mahal. Untuk kue lemper atau dadar yang biasanya cuman seharga Rp 1500, saat Bazaar dijual seharga Rp 2500. Tingginya harga kue ramadhan ini mungkin disebabkan oleh naiknya harga sembako yang sering terjadi menjelang ramadhan. Yang agak murah hanyalah gorengan, umumnya hanya seharga Rp 600 - Rp 1000. Nah, karena mungkin lebih murah dan lebih mudah diperoleh, aneka gorengan lah yang mendominasi hidangan buka puasa di Langgar saya itu. Sehingga anjuran untuk berbuka dengan yang manis-manis jadi tidak terlaksana, karena gorengan bukanlah tergolong penganan yang manis. Bahkan cenderung membuat batuk. Untungnya ada hidangan teh manis hangat yang selalu menyertai buka puasa ini.
Hidangan buka puasa ini ditempatkan di sebuah piring yang disediakan untuk dinikmati oleh 3-4 jamaah. Dimakannya bersama-sama. Kadang-kadang juga terjadi lintas sektoral apabila ada jemaah meminati hidangan di piring jamaah lainnya, tidak ada larangan. Apabila ada kelebihan makanan dan minuman, maka sisa hidangan buka puasa ini disimpan untuk disajikan pada saat acara tadarrusan sehabis taraweh yang mulai dilaksanakan sejak pertengahan Ramadhan.
Kenangan Buka Puasa Masa Remaja
Saya selalu menikmati acara buka puasa ini, karena acara seperti ini mengingatkan saya ketika masih duduk di bangku Sekolah Dasar di Pannampu di akhir tahun 1980-an. Pada saat bulan Ramadhan itu, saya selalu menyediakan diri untuk menjadi panitia buka puasa di masjid dekat rumah saja, masjid Jannahtul Firdaus Pasar Pannampu.
Menjadi panitia buka puasa sungguh membanggakan, karena punya kuasa untuk mendatangi rumah warga yang terkena giliran menghantarkan hidangan buka puasa. Selain itu, kadang kala kami panitia yang juga berlaku sebagai pembagi makanan ke piring-piring hidangan bisa menyisihkan makanan dan minuman yang dianggap enak untuk kami sendiri. Kami anggap itulah imbalan atas jerih payah kami pulang pergi dari mesjid ke rumah warga untuk mengangkuti makanan dan minuman buka puasa yang cukup berat untuk kanak-kanak seusia kami. Menjadi panitia buka puasa ini saya lakoni hingga SMA. Saat SMA saya sudah merasa cukup tua untuk menjadi panitia, sehingga lebih baik diserahkan ke rekan-rekan yang lebih muda.
Selain acara buka puasa di lingkungan rumah saya di Pannampu, saya juga ikut aktif dalam kegiatan Buka Puasa dan Taraweh keliling yang dilakukan teman-teman di SMPN 5 Makassar hingga SMAN 1 Makassar. Pada setiap bulan ramadhan, dengan dikoordinir oleh Mushalla Sekolah, kami selalu menjadwalkan buka puasa dan taraweh keliling di rumah-rumah teman-teman yang bersedia, dengan mengundang penceramah. Namun acara buka puasa dan tarwih keliling ini tidak setiap malam dilaksanakan, hanya sekitar 2 kali per minggu. Itupun dilaksanakan di rumah teman-teman yang secara ekonomi lebih baik.
Pernah acara buka puasa dan tarwih keliling kami adakan di rumah teman SMAN 1 kami yang bernama Solihin Kalla, anak pak Jusuf Kalla. Saat itu pak Jusuf Kalla belumlah jadi politisi yang sibuk, bahkan beliau menyempatkan juga hadir bersama kami untuk berbuka puasa dan tarwih bersama, dan seusai acara menyempatkan memberikan beberapa patah kata wejangan kepada kami yang masih muda-muda itu. Di daftar penceramah yang sering kami undang saat itu, ada nama Ustad Azis Qahhar Muzakkar yang saat ini menjadi anggota DPD.
Buka Puasa dengan teman kantor
Tradisi buka puasa saat ini rupanya tidak hanya didominasi oleh masjid atau langgar. Tapi juga dimanfaatkan oleh pihak manajemen perusahaan untuk mencairkan ketegangan saat bekerja dan meningkatkan hubungan keakraban dengan sesama rekan kerja. Acara buka puasa kadang dilakukan di kantor, di sela-sela meeting atau mengkhususkan memesan tempat di restoran untuk berbuka bersama yang tentu saja biayanya ditanggung perusahaan alias gratis bagi karyawan.
Foto: Buka Puasa Bersama Saat Meeting
Selain itu, ada juga inisiatif rekan sekerja untuk menghimpun dana dan partisipasi rekan-rekan untuk menyumbang ke Pesantren dan Panti Asuhan, sambil berbuka puasa bersama santri dan anak-anak panti asuhan. Mumpung bulan ramadhan yang penuh berkah dan pahala dilipatgandakan, respon teman-teman untuk melakukan ibadah sosial cukup tinggi. Jadi selain keakraban dengan rekan sekerja, juga sensitifitas sosial makin terasah. Sehingga bukan saja di bulan Ramadhan saja aksi sosial dilakukan, tapi sepanjang tahun selama masih ada saudara-saudara yang membutuhkan uluran tangan sesamanya.
Foto: Buka Puasa Bersama Bersama Santri Panti Asuhan
Popularity: 47% [?]
- Balikpapan , Aku , Photo , Feature , Agama


SAYA MENGUCAPKAN:
TAQABBALALLAHU MINNA WAMINKUM SHIYAMANA WASHIYAMAKUM WAJA ‘ALANA MINAL AIDIN WAL FAIZIN WA KULLU ‘AM WA ANTUM FI KHAIR