Subhanallah: Meluruskan yang Bengkok

daengrusle October 18th, 2007

Ketika tiba di akhir rakaat ketiga Ashar tadi, selepas sujud imam langgar kami pak Haji Mulyono yang pensiunan pegawai Dephankam itu kemudian terduduk untuk tahiyat akhir. Sejurus beberapa ma’mun yang mungkin pikirannya jauh di negeri lain ikut bertahiyat, namun beberapa yang lain yang masih awas di sore yang terik itu, sigap mengucap, “Subhanallah”. Maha Suci Allah, yang tiada lupa dalam kamusNya. Lantas, sang Imam sadar atas kesalahannya, bangkit berdiri dan meneruskan rakaat terakhir. Lugas. Ashar yang sempurna hari ini,  menurutku.

Ketika sholat Ied di kampung sebelah, di pelataran jalan Inpres IV depan Masjid al-Hijrah yang artinya kira-kira berpindah ke sesuatu yang lebih baik, saya mengalami hal yang hampir sama. Selepas rakaat pertama dari sholat Ied itu, sang Imam yang menurut kabar adalah seorang pengacara, terlupa untuk melakukan lima takbir setelah takbiratul ihtikam. Lima takbir yang tentu saja merupakan salah satu rukun sholat dari pandangan fiqh. Saat itu tak ada ma’mun/jamaah yang mengingatkan kekeliruan ini, termasuk saya. Walau sebenarnya cukup menyebut Subhanallah saja saat itu, mungkin si Imam yang tersedu sedan terisak keras saat itu bakal sadar seketika. Tapi tak ada pelurusan. Si Imam meneruskan bacaan sholat dan rakaatnya hingga tuntas di tahiyat akhir. Hanya obrolan bisikan sana-sini dari ma’mun yang ‘menyadari’ kekeliruan itu selepas salam. Tapi sudah terlambat, omongnya belakangan saja, he2. Termasuk saya.

Subhanallah, itulah kearifan sederhana yang diterapkan oleh Islam saat menemukan kesalahan dalam sholat. Dilakukan dengan lugas dan santun, karena hanya menyebutkan nama Allah yang suci. Yang diingatkan dan yang mengingatkan sudah sama  mengetahui keadaan yang keliru. Tidak ada pelaknatan, tidak ada yang merasa direndahkan. Tidak ada malu, apalagi tinggi hati. Dan paling penting, sederhana. Kemudian, selanjutnya bisa kembali ‘damai’.

Diproyeksikan ke tingkat yang lebih luas di masyarakat, cara ini bisa saja sangat membantu apalagi dalam kenyataan banyak sekali kekeliruan yang terjadi dalam masyarakat. Bukan hanya jamaah, tapi juga imam/ulil amri kita yang sudah tidak jelas mendudukkan kebaikan diatas kejahatan, atau sebaliknya. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sistematika penyampaian kritik dengan subhanallah;

1. Kesalahan yang terlihat adalah kesalahan standard, umum, dan disepakati oleh semua jamaah. Artinya kesalahan yang terjadi pada umumnya dimaklumi dan diketahui oleh semua pihak, sehingga Imam dan Ma’mun bisa memperbaiki bersama-sama tanpa ada perdebatan. Kata lainnya adalah konsensus!

2. Kesalahan nyata terlihat, tidak sembunyi-sembunyi. Kesalahan dirasakan secara menyeluruh oleh sebagian atau semua jamaah, dan bukan kesalahan yang diam-diam. Sang Imam yang memimpin sholat ashar tentu saja tak akan diketahui apakah bacaan sholat saar berdiri, ruku, sujud atau tahiyat itu dilakukan dengan benar atau salah. Karena selain dibaca dengan syiirr atau pelan, juga dalam beberapa mazhab Islam bacaannya banyak ragamnya, tidak standard.

Wallahu ‘alam bisshowab.

Popularity: 19% [?]

There are 3 Comments for
    “Subhanallah: Meluruskan yang Bengkok”

  1. amudon 19 Oct 2007 at 9:22 am

    Manusia makhluk yang sempurna. Khilaf, keliru dan salah merupakan tanda-tanda kemanusiaan. Jika seorang Imam, Pemimpin, Calon Pemimpin dan rakyat biasa melakukannya maka pantas disyukuri bahwa mereka benar manusia dan karenanya ada kesempatan untuk dapat memperbaikinya. Mohon Maaf Lahir dan Batin.

  2. irzal sulaini (SI-76)on 21 Oct 2007 at 12:18 pm

    Mohon maaf lahir dan bathin ..
    Sejujurnya saya mengatakan, ketika ummat Islam Indonesia sedang melakukan hubungan dengan Sang Khalik, sembahyang, mengaji, berdoa, dll. semuanya serba pasrah dan merasa kecil .. semua serba mudah diatur, serba patuh, semuanya agar menambah nilai hubungan Habluminallah. Apakah sikap tersebut bisa dengan mudah pula ditransformasikan kedalam hubungan Habluminannash .. ?? Inilah permasalahan utamanya ..
    Ada pemusnahan terhadap golongan Ahmadiyah, ada perbedaan pendapat antara Muhammadiyah dan NU, ada garis keras seperti Imam Samudra cs, juga seperti kiprahnya K.H. Basyir, lalu ada kelompok Habib, dll., itu untuk kelompok besar .. tidak ada kesatuan sikap dan pendapat tentang ajaran Islam yang benar, maunya benar sendiri2.
    Ketika kita teropong untuk pribadi2 .. baru terlihat titik persamaan, tetapi persamaan negatif, 90% penduduk Indonesia beragama Islam, sama2 mudah untuk ber KKN dalam segala bidang dalam segala tingkatan .. tidak sedikit diantara pribadi2 tsb yang pernah ber Haji .. So, saya tidak menggeneralisir .. tetapi jangan salahkan saya kalau terpaksa berkesimpulan (sementara) bahwa dalam prakteknya di Indonesia .. tidak ada hubungan langsung antara Habluminallah dan Habluminannash .. setiap yang namanya milik Pemerintah (APBN, APBD, BUMN dan BUMD) layak untuk digerogoti. Hampir setiap hari saya naik KRL Pakuan Ekspress Bogor-Tanah Abang p.p, pemandangan disana sungguh memprihatinkan, sejumlah penumpang tidak beli karcis, lalu bayar sekadarnya, secara terbuka .. win-win solution versi mereka.
    Sepertinya .. sah-sah saja menggerogoti milik negara.
    Kembali ke Haji .. yang sebentar lagi akan dilaksanakan, Indonesia punya kuota > 200.000 orang pertahun, banyak pejabat negara yang ikut, banyak bisnisman, begitu juga dengan rakyat awam .. khusuk, pasrah dan menyerah ketika di Tanah Suci .. ketika kembali ketanah air, hanya bertahan sekian hari lalu gaya lama kembali muncul .. KKN
    Seandainya Pejabat dan Bisnisman yang Haji dan Hajjah itu tetap bergaya Tanah Suci untuk jangka panjang .. Peringkat Korupsi Indonesia yang No. 5 (terjelek) bisa berubah menjadi No. 5 (terbaik),
    selalu ada teori (tak resmi) untuk upaya pemaafan sikap ..
    Teori Balancing Kehidupan, rajin berhubungan dengan Sang Khalik untuk pemantapan kehidupan di akhirat, rajin pula ber KKN untuk pemantapan kehidupan didunia .. biarlah Sang Khalik yang nantinya menentukan untuk ditempatkan dimana, yang penting kan sudah berusaha dan bekerja keras di kedua arah ..
    Saya belum naik Haji, karena 2 alasan penting .. anak2 masih membutuhkan biaya sekolah (first priority), yang kedua saya masih ragu apakah gaji yang saya terima 100 % uang halal .. mudah2an ketika anak2 sudah mandiri, panggilan ber Haji akan datang. Sementara banyak pihak dengan mudah memutuskan naik Haji tanpa mempedulikan kehalalan sumber biayanya, beberapa waktu yang lalu pernah diberitakan sejumlah Menteri dan anggota DPR beserta Nyonya ber Haji/Hajjah menggunakan DAU Departemen Agama .. sementara Mantan Menteri Agama dan Dirjennya sekarang lagi menginap di Hotel Prodeo karena DAU yang bermasalah tsb.
    wassalam
    irzalsulaini SI76
    Mohon maaf kalau nada komentarnya “Kritik yang Pesimis”
    However, saya bangga dengan pencapaian junior saya yang berjalan diarah yang sudah ditentukan Sang Khalik .. go on.

  3. i Nuntungon 22 Oct 2007 at 4:16 pm

    Bagus ini tulisan tawwa, sarat juga nilai-nilai solidaritas yg sangat diagungkan dalam islam…

    Yg kedua; tulisan ini adalah fakta pembenar bahwa kita adalah manusia yg tidak sempurna kerana yg sempurna hanya Allah Ta’Ala karaeng Malompoa………..

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Comment, please?

bisot