Nabi Palsu, Aliran Sesat dan Hak Kita atas Pe-label-an itu!

daengrusle October 29th, 2007

normal_misleading-identity.jpgDari perbincangan semalam di Mushalla al Mushawwir dan juga lagi santer diberitakan di koran Tribun Kaltim dalam dua hari ini, ada issue hangat tentang sekelompok jemaah muslim yang pemimpinnya mengaku Nabi. Pengakuan keNabian beserta syariat dan ritualnya yang dianggap nyeleneh dari pakem umum, seperti biasa di Indonesia ini, akan diberi hadiah: Label Nabi Palsu, Aliran Sesat, Gila, Dalalah!. Alasan nya jelas, tidak ada lagi pengaugerahan gelar Nabi sejak ditutup registrasinya selepas Rasulullah SAWW mangkat, empat belas abad silam. Jadi, semua oknum yang mengaku nabi setelah sang Rasul Mulia ini pastilah palsu. Tentu saja ini dalam terms Islam, bukan agama lain. Jadi kalo ada yang mengaku menjalankan syariat Islam dan mengakui bagian dari Islam lantas juga mengaku sebagai Nabi, maka palsu lah ia. Kalau ia mengaku sebagai Nabi tapi dengan menenteng syariat agama selain Islam, maka ia mungkin tidak dianggap sebagai Palsu, apalagi sesat. Paling banter akan disematkan sebagai aliran kepercayaan, dan kalo beruntung, bisa dimasukkan dalam katalog budaya luhur asli bangsa Indonesia. he2.

Nama jamaah yg lagi dibincangkan itu, Al Qiyadah Al Islamiyah. Pendiri dan pemimpinnya Ahmad Moshaddeq atau Haji Salam, yang menurut info di internet mengaku mendapat wangsit dan wahyu dari Pemilik Alam ini, sejak 23 Juli 2006 setelah bertapa selama 40 hari 40 malam, dan karenanya mengaku sebagai Rasul untuk menyempurnakan ajaran dan kenabian Muhammad SAW. Pengajiannya digelar di Hotel-hotel mewah, pengikutnya sampai tercatan hingga 41,000 yang tersebar di beberapa propinsi hingga di NTB dan Sulawesi Selatan.

Bahasa Manusia tentang Kebaikan adalah Universal 
Saya sendiri percaya kepada kearifan yang melekat pada setiap manusia. Berbicara mengenai keyakinan dan kepercayaan akan hidup dan hubungannya dengan Tuhan atau semesta raya ini, semua ide dan gagasan dalam kepala seseorang pastilah akan mengakui bahwa yang dimaksud kearifan luhur itu adalah berbuat baik. Saya yakin tidak ada satupun keyakinan dan kepercayaan dalam diri manusia untuk menentang atau keluar dari bahasa universal tentang kebaikan yang berarti melawan nurani nya. Kalaupun ada aktifitas yang dianggap aneh dan nyeleneh, keluar dari pakem yang ada,  dan tentu saja merupakan perspektif parsial, itu mungkin hanyalah bentuk laku individu yang mencoba mencari cara yang paling nyaman dalam merefleksikan keyakinannya. Dalam mencari cara dan laku ternyaman dalam melaksanakan aktifitas spiritualnya, tentu saja interaksi atau pengaruh terhadapa sekitarnya, terutama masyarakat menjadi salah satu dasar pertimbangan. Dengan melakukan paksaan dan intimidasi ke masyarakat yang lain tentu saja tidak membuat nyaman, sebagai salah satu contohnya.

Jadi, keyakinan akan kearifan dan kebaikan itu dimiliki oleh semua orang, dan diejawantahkan menjadi laku spiritual yang sangat individualistik. Semua pasti menginginkan hal yang sama: ketenangan, kebahagiaan. Tidak mungkin ada satu ajaran yang tujuannya adalah kehancuran diri sendiri. Kalau ada, itu mungkin bisa dianggap kelainan jiwa. Sinting!.

Apakah kita berhak mencampuri apalagi menghukum sang pemilik keyakinan? Apakah ada yang berhak mengklaim keyakinan akan kebenaran sejati itu adalah keyakinan tertentu saja? Bukankah keyakinan itu sifatnya sangat individualistis? Bahkan ketika seorang Imam atau Ulama Besar mengeluarkan fatwa berkaitan dengan agama yang dianutnya, para jamaah tidak dipaksa untuk mengikutinya. Taqlid? Taqlid hanya berhubungan dengan ritual yang menjadi pendukung keyakinan, bukan substansi keyakuinan itu sendiri.

Label Sesat Yang Memprihatinkan 
Berangkat dari kasus Ahmadiah, Salamullah, Syiah, Jamaah Tabligh, Islam Jamaah, Darul Arqam, NII, dan terakhir Al Qiyadah Al Islamiyah ini, oleh masyarakat umum yang semua ajaran ini dianggap aneh dan nyeleneh, dan kemudian, sebagaimana biasa perilaku kita, dengan gampangnya memberi label Sesat dan Menyesatkan. Kadang hanya berbekal rekomendasi dari suatu lembaga - yang saya sendiri bingung, apakah fatwanya itu memang diperuntukkan dan merepresentasikan seluruh umat Islam Indonesia?? - jamaah yang emosional sambil memekikkan nama Tuhan melakukan pengrusakan dan penistaan kepada jamaahnya. Heran ya. Bukankah Rasulullah SAWW membawa syariat Islam ini dengan misi khusus: menyempurnakan akhlak? Ada apa dengan akhlak ini, apakah lantas ditinggalkan hanya karena pengen mengikuti fatwa ini?

Saya bukannya tidak setuju dengan fatwa dan pelabelan sesat kepada keyakinan/kepercayaan ini, hanya saja sedikit menghimbau untuk berhati-hati memberi label ke seseorang, apalagi sekelompok orang yang punya keyakinan tertentu. Toh yang mereka hendak capai adalah sesuatu yang luhur adanya; adalah ketenangan dan kepuasan spiritual, yang secara kebetulan diberikan oleh organisasi/kelompoknya. Mereka, walaupun eksklusif dalam gerak sosial dan ritual, saya yakin tidak memiliki misi khusus untuk menyaingi, mempreteli, apalagi melakukan permusuhan terhadap keyakinan lain, bahkan keyakinan yang mayorias dianut oleh muslim Indonesia. Saya yakin mereka itu murni hanya sikap individual yang mencoba menerjemahkan ajaran luhur yang ditelusuri dengan nurani/akalnya masing-masing tanpa bermaksud melibatkan orang lain di luar circle mereka. Dan satu hal penting, selama mereka tidak memberikan gangguan fisik dan psikis ke masyarakat lainnya, tidak perlu lah mereka kemudian di cap sesat dan meresahkan, dan kemudian dirusak tempat ibadahnya, pengikutnya di bui seperti maling, pemimpinnya digelandang dengan perlakuan lebih buruk dari koruptor negara yang bebas melenggang di luar sana karena dijamin oleh pejabat.

Memang agak aneh di alam jagad yang sudah modern dan mengakui kelaziman suatu ‘perbedaan’, selain ada organisasi yang mengklaim memiliki mandat resmi dari Tuhan untuk memberi label Sesat, ada juga orang-orang tertentu/jamaah individual atau berkelompok yang merasa paling benar dalam menginterpretasi kan hukum syariat agamanya dan punya kedekatan spiritual dengan Tuhan sehingga serta merta merasa punya hak untuk menentukan dan memberi label sesat dan palsu itu. Apa mereka yang punya sertifikat kavling di surga sampai merasa punya hak untuk menentukan orang lain itu adalah ahli syurga atau ahli neraka? 

Dan sebagaimana diduga, orang-orang ini lah yang merasa paling tergangu dengan aktifitas jamaah yang dianggap sesat itu, padahal bisa jadi justru tidak ada pengaruh apa-apa ke mereka, hanya karena ketidaksenangan dan kekurangsukaan aja. Dan itu jelas2 merupakan persepsi individualis yang tidak punya kemutlakan dalam term benar salah. Kalau mereka merasa terganggu dan takut tercemari keimanannya, lha ada apa dengan keimanan mereka. Apa masih ada keraguan sampai khawatir dan takut akan pengaruh keyakinan orang lain? Atau pengen mempertahankan status quo keimanan mereka, apapun kesalahannya?

Kalau dalam urusan ganggu mengganggu, nyaman gak nyaman, kembalikanlah ke ranah hukum yang memiliki kekuatan positif. Sekiranya betul bahwa mereka melakukan kesalahan di mata hukum, yah hukumlah dengan kitab yang ada. Kalau misalnya yang dipersoalkan adalah ajaran dan keyakinan, ajaklah mereka ber-mubahalah seperti yg dulu dipraktekkan Rasulullah SAW. Kalaupun setelah mubahalah mereka tetap bersikukuh pada keyakinannya, serahkan semuanya kepada Yang Maha Tahu. Biarkan alam dan masyarakat yang menyeleksinya. Ajaran yang tidak membuat nyaman jamaahnya tentu akan cepat hilang tersapu angin.

Kalau memang merasa sangat tidak nyaman dengan keanehan dan perbedaan, kenapa tidak melabrak saja kaum yang betul-betul sudah menyerang Islam secara terang-terangan, misalnya menghancurkan Masjid, menduduki tanah Muslim, menghina al-Quran, membunuh jiwa Muslim. Atau para pengedar narkoba, koruptor bejat, penguasa lalim! Itulah pihak-pihak yang perlu diberi label SESAT, NERAKA, dan Manusia Palsu! Bukan saudara-saudara kita seiman yang persamaannya dengan kita jauh lebih banyak daripada menghitung-hitung perbedaannya.

Saya pernah dan masih bergaul dengan beberapa rekan dari Syiah Ahlul Bayt, Jamaah Tabligh, Islam Jamaah, Ahmadiyah. Mereka umumnya bersikap santun kepada saudara Muslim yang lain. Akhlak yang bagus. Akan halnya pendirian teologis dan ritual ibadah yang berbeda, itu sama kita maklumi termasuk dalam ranah khilafiah yang memang sudah lazim diperdebatkan. Bukan persoalan yang substansial, misalnya syahadat, kiblat, Ketuhanan.

Jadi, teman. Saya berpendapat dan sedikit mengajak, mari kita membangun Islam ini dengan sungguh-sungguh, dengan mengedepankan akhlak dan mengesampingkan sikap curiga berlebihan, apalagi terhadap sesama muslim yang bersyahadat. Bukankah kecurigaan akan saudara sendiri ini yang menggiring Islam ke jurang perpecahan yang tidak perlu?

Pengakuan kenabian, keimaman dan ke-masih-an adalah pengakuan yang sifatnya sangat spiritual dan tentu saja memerlukan penelusuran yang lebih mendalam tentang definisi dari ke-aku-annya itu. Kalau seseorang mengaku Nabi, Imam, al-Masih, apakah lantas dia memaksa kita untuk meyakininya? Sama ketika Rasulullah SAWW yang mulia memproklamirkan kenabiannya dan memperkenalkan Islam. Apakah Beliau SAWW pernah terdengar melakukan pemaksaan dalam dakwahnya? Tidak. Ia berdakwah dengan santun, mengajak kepada kebenaran yang diyakininya, tanpa ada paksaan. Jangankan orang lain, bahkan kerabat terdekatnya pun tidak dipaksa untuk memeluk Islam. Laa ikraha fiddiin. Tidak ada paksaan dalam agama.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. AL Ahzab 40).

Link yang terkait dengan al-Qiyadah al-Islamiyah:
Cinta Rasulullah - MUI: Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah Sesat
Prayudi - http://prayudi.wordpress.com/2007/10/26/al-qiyadah-al-islamiyah/
Era Muslim - http://www.eramuslim.com/berita/nas/7a04160133-mui-fatwakan-aliran-al-qiyadah-al-islamiyah-sesat.htm

Gambar diatas diunduh dari sini.

Popularity: 26% [?]

There are 14 Comments for
    “Nabi Palsu, Aliran Sesat dan Hak Kita atas Pe-label-an itu!”

  1. Ruslion 30 Oct 2007 at 6:23 pm

    Hehe..kalo diminta opini…sy ogah ah…sy sendiri dalam menjalankan syariat2 -yang notabene sy yakini 100 % kebenarannya- masih jauh dari sempurna.Boro boro mengomentari keyakinan orang lain, praktek keberagamaan saya masih jauh dari ideal.

    Cuman ingin berdo’a semoga pencari kebenaran itu (entah itu ‘dianggap’ salah ato benar) mendapatkan HidayahNya.Krn sy meyakini mereka dalam proses pencariannya juga ingin mendapatkan kedamaian baik di dunia maupun di akhirat kelak.Itu aja…..daeng.

  2. imcwon 30 Oct 2007 at 11:12 pm

    Terus terang saya tidak setuju kalau seseorang manusia harus mencampuri urusan keyakinan seseorang. Masalah keyakinan adalah urusan si manusia dengan Tuhannya. Resiko juga akan berasal dari Tuhan. Lalu mengapa manusia banyak yang menganggap dirinya Tuhan yang maha sempurna sehingga berhak menghakimi manusia yang lainnya yang mempunyai keyakinan berbda?

  3. Ridwanon 31 Oct 2007 at 4:49 pm

    Capee deh……..

    Mereka pinter tapi sayang akal mereka miring.. dan berkoar-koar, padahal masih banyak mamfaat lain yang bisa dibuat..

    Siapa Moshadeq/Mosshaddieq;

    [Biodata]

    Nama sebenar : IBLIS LAKNATULLAH.
    Nama glamour : Hantu, syaitan, pelesit, jembalang, Gost, dedemit, langsui, dll.
    Kelahiran : Bermula dari keengganannya sujud kepada Nabi Adam a.s
    Status diri : Fasik kelas pertama
    Agama : Kufur
    Tempat Tinggal : Di hati-hati mereka yang lalai.
    Alamat Tetap : Neraka jahanam.
    Kawasan : Di Setiap penjuru yang di dalamnya tiada usaha lansung untuk mengingati Allah.
    Arah perjalanan : Tiada haluan dan bengkang bengkok.
    Kaum kerabat : Semua golongan yang menentang dan memusuhi Allah
    Modal pusingan : Angan angan kosong dan tipu daya yg halus
    Tempat pertemuan : Konsert-konsert hiburan, Pasar-pasar dan di semua tempat
    jual beli.
    Musuh ketat : Setiap orang Islam yang beriman dan bertakwa
    Sahabat karib : Anak-anak Adam
    Motto kerja : ‘Hipokrasi asas akhlak’
    Hobi : Melalaikan orang dari mengingati Allah, menggoda manusia lalu menyesatkannya
    Cita cita : Supaya semua makhluk di muka bumi ini menjadi kafir
    Sukan (yg tidak digemari) : Acara Langkah seribu (Semasa Malaikat Maut ingin mencabut nyawa)
    Kelemahan diri : Bila Manusia membaca istighfar.
    Mentor yg dikagumi : Manusia yg mempunyai berkelebihan lebih dari dirinya.
    Logo : Sebarang tatu

    Sumber pendapatan : Segala harta yang diperoleh dengan jalan haram dan riba
    Jenis perkhidmatan : Menggalakkan manusia mengerjakan kemungkaran dan durhaka terhadap Allah SWT
    Teman sejawat : Orang yang suka mendiamkan dirinya dari menyatakan kebenaran.
    Ganjaran : Dosa-dosa kecil/besar dan kemurkaan Allah

    Kenangan manis : Di waktu manusia diambang shakratulmaut, mati dalam kekafiran
    Kenangan pahit : Manusia yg digodanya mati dalam keimanan.

    Yang paling ditakuti : Orang mukmin yang bertakwa
    Yang paling dibenci : Orang yang sentiasa berzikir dan mengingati Allah
    Saat ajal : Bila tiba waktu yang ditentukan Allah di hari kiamat kelak.
    Yg paling membosankan : Bila tiada lagi manusia yg mahu mengikuti kemauannya
    Tugas yg paling meletihkan : Menganggu manusia kearah kebaikkan karena Allah Taala
    Janji kepada manusia : Janji janji kosong, angan angan dan tipu daya
    Yang membuatnya gembira : Manusia yg mengikut jejak langkahnya
    Saat yg mendukacitakannya : Manusia yg mempunyai cita cita untuk bertaubat
    Yang membuatnya menangis : Bila Manusia yg disayanginya sujud kepada Allah SWT.

    (Email dari Seorang teman Milister, semoga menjadi penjelasan kita)

  4. imtihanahon 01 Nov 2007 at 2:10 am

    Langsung aja k’ Rusle

    1. Mereka perlu diluruskan pemahamannya itu pasti tetapi dengan cara yg baik, santun dll.
    2. Menurut saya penting juga pe-label-an itu, agar masyarakat awam ( termasuk saya ) mengetahui yang mana ajaran yang benar dan salah karena ini sudah menyangkut keimanan kita kepada Baginda Rasul dan kepada sang khalik.
    3. Dan menurut saya lagi biarlah ini menjadi tugas MUI, organisasi-organisasi islam lainnya janganlah bertindak anarkis,sok benar sendiri, kita serahkan saja permasalahan ini kepada MUI dengan tetap memohon ampunan dan petunjuk-Nya.
    4. Dengan adanya kejadian ini, kita ambil hikmahnya aja, yaitu perlunya peningkatan wawasan ke-islam-an kita sendiri sehingga kita bisa lebih bijak menghadapi persoalan yang akan datang.
    5. Didik anak-anak kita ( bagi yg sudah punya anak ) maupun orang sekitar kita akan ajaran islam yang tentunya hanya bersumber pada Al-Qur’an dan Al-Hadist.
    6. Dan jangan lupa pertebal Iman dan Taqwa kita kepada-Nya.

    Makasih k’ Rusle…..

  5. yanion 01 Nov 2007 at 10:57 am

    Hmmm…hati jadi adem abis baca postingan ini…
    Saya suka liat pelangi, warnanya indah-indah, ada merah, kuning, biru, dll. Mereka terlihat indah, bukan hanya karena warnanya yang beragam, tapi karena mereka bisa bersatu tanpa harus menyatu…
    u r my hero bro…indeed…

  6. deenon 01 Nov 2007 at 5:30 pm

    klo deen mah, soal fatwa2an.. ikut para ulama yg ilmunya dah gak cetek ajalah, yg kyk deen ini, hehehe…

  7. mas sholehon 02 Nov 2007 at 8:16 pm

    Assalamualaikum warohmatulloh wabarokatuh

    Alhamdulillah Alloh telah menunjukkan ke kita semua, orang yang mengaku Nabi, yaitu Ahmad Moshaddeq atau Haji Salam kini telah keok (menyerah) pada aturan dunia (UU) yang dibuat manusia. opo tumon? takut dikroyok oleh masyarakat kali! untuk itu jelaslah kepalsuan itu. Nabi dan Rosul telah dijamin keselamatan dan keamananya oleh Alloh dan jika berdoa nicaya Alloh pasti kabulkan maka tidaklah didunia ini yang ditakutkan, seperti kisah-kisah para Nabi, meskipun dihina, diancam dibunuh, diludahi tetap tegar dijalan Alloh. la ini di bogor seorang hamba memproklamirkan sebagai Nabi (Ahmad Moshaddeq atau Haji Salam) menyerah beserta sahabatnya, pastilah syetan/iblis yang membisiki sekarang lagi ketawa cekikikan, berhasil memperdaya manusia bodoh itu. atukah Nabimu saudaraku (jamaah Al-qiyadah), masihkah kalian beriman. bertaubat dan sadarlah sebelum ajal menjemput. jika ingin berguru ato memperdalam agama masih banyak pesantren-pesantren salaf yang ustadnya lebih pinter dan sumber ilmunya lebih jelas (al-quran dan Al-hadis) yang insyaAlloh bisa dipertanggung jawabkan di akhirat kelak. Janganlah diperbudak oleh akal sempit Anda, gunakan sabar dan sholat sebagai penolongmu(firman Alloh), kembali berimanlah. Semoga Alloh memberi petunjuk pada kita semua. amin

    Wassalamualaikum…

  8. namaon 02 Nov 2007 at 11:59 pm

    nabi palsu??dibunuh aja.gitu aja koqk repot..

  9. pushandakaon 04 Nov 2007 at 7:32 am

    Saya nggak bisa berkomentar panjang2 untuk tulisan ini, kecuali..
    Very nice post!
    Salut!

  10. Mobil angapaon 06 Nov 2007 at 5:18 pm

    Assalamualaikum..

    Suatu Keyakinan/Agama menjadi sesat dimata orang lain karena keyakinan tersebut sudah mematahkan keyakinan yg sudah ada.

    Jika saja Al-qiyadah, Ahmadiah, Qur’an Suci dll mempunyai kitab suci sendiri , ritual sendiri, nabi sendiri dan tuhan sendiri. ngga peduli dari mana dilil ataupun asalnya. Selama mereka bisa menunjukkan bahwa agama ataupun keyakinan yang mereka yakini tidak mengganggu ataupun membuat agama dan keyakinan lain merasa dirugikan.

    Islam adalah agama wahyu yang memiliki batas-batas yang jelas. Ada rukun iman dan rukun Islam. Orang yang menolak kenabian Muhammad saw, pastilah sudah berdiri di luar Islam. Agama lain juga memiliki batas-batas atau definisi sendiri. Kaum Kristen yang tidak mengakui otoritas Gereja Katolik dalam penafsiran Bibel, maka dia sudah berdiri di luar agama Katolik, meskipun dia juga mengakui Yesus sebagai Tuhannya.

    Dalam logika relativisme ala post-modernist, memang segalanya bisa menjadi relatif. Di rumah sakit jiwa, seorang yang sakit jiwa bisa menuduh dokternya yang gila, bukan dia yang gila. Standar siapa yang digunakan untuk menentukan seseorang itu sakit jiwa atau tidak? Tentulah yang dipakai standar dokter jiwa. Bukan standar orang sakit jiwa.

  11. hamba Allah..on 11 Nov 2007 at 1:50 pm

    assalamualaikum wr.wb….
    aliran sesat cape dech….

  12. youthon 13 Nov 2007 at 5:32 am

    capek yah”"”"”"
    Luar biasa…
    mobil angapa saya setuju
    sekarang jarak antara kita dan Nabi sejauh seribu empat ratusan berapa……
    wajar aja kalo terjadinya perbedaan, tapi sebenarnya orang yang tidak sesuai Alqur’an dan asunah itulah orang yang sesat.sekarang mending mempertanyakan apaka sudah benar atau belum diri kita. sekarang ngomong orang lain sesat tapi ternyata dirinya masih sesat. misal Islam tapi tidak memakai jilbab dengan benar, Islam tapi masih mabuk, Islam tapi tidak pernah sholat, Islam tapi masih suka zinah, Islam tapi masih main mata. padahal Allah melarang akan hal itu. Islam itu seharusnya kafah tapi kenyataanya syariat tidak bs dijalankan seluruhnya
    itu juga bisa dikatakan sesat
    ada yan mau komen

  13. ridwanon 20 Apr 2008 at 3:21 pm

    To All Bangsa Indonesia
    Fren aku merasa klo tulisan-tulisan seperti ini hanya akan membuat perbedaan itu tidak indah. buat semua yang baca dan kasih comment di tempat ini, kita harus sadar apapun agama kita mengajarkan sesuatu yang baik tidak perlu diperdebatkan seperti ini. Allahku ya Allahku, Tuhanku ya Tuhanku, Nabiku ya Nabiku percaya kepada ajaran masing-masing tanpa memperdebatkan agama yang lain
    Aku ngerasa sedih banget lihat banyak blog maupun website yang saling mengejek menghina menyalahkan membenarkan.
    Fren perbedaan itu harus dibuat indah.
    Aku seorang Katolik, teman-temanku banyak yang muslim, Budha, Hindhu banhkan kepercayaan seperti Konghucu tapi kita tidak pernah memperdebatkan agama masing-masing, biarlah itu menjadi kepercayaan kita masing-masing. Aku dan teman-temanku sedih banget klo lihat tulisan seperti ini, sepertinya bangsa ini mudah dicerai beraikan.
    Fren pembicaraan lintas agama yang baik itu harus didasarkan pada sikap saling menghargai dan menghormati. Semoga kita semua dapat berpartisipasi agar dialog-dialog perbedaan agama yang menjurus ke arah saling membenarkan dan berbuntut perselisihan ini tidak terjadi lagi. Kami (saya dan teman-teman) yakin bangsa indonesia adalah bangsa yang baik. amin

  14. abdul azison 28 Aug 2008 at 1:54 pm

    jamaah tabligh=PKS=Salafi=Ikhwanul Muslimin=Nasabandiyah=Darul Arqom (baik semua), tapi kalo JIL(jaringan Islam Liberal), Wahid Centre, NII, Ahmadiyah, Islam Jamaah, LDII, apalagi qiyadah islamiyah apalagi lia edan…kamu tau sendiri
    makanya kalo bikin tulisan kenali dulu, gali dan pahami dulu Nyaho enteu
    Kadek sia ku aing.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Comment, please?

ally