daengrusle November 22nd, 2007
Saya adalah perantau, yang terus menerus berusaha untuk tetap mempertahankan jalinan kenangan dengan suasana Makassar. Bukan hanya berdasarkan kenyataan bahwa sebahagian keluarga saya masih menetap di Makassar, namun juga ada simpul bathin yang mengikat hati saya dengan kota yang meretas masa saya bertumbuh menjadi manusia ini.
Setiap saat, ketika ada kesempatan dan rezeki luang, pikiran yang pertama kali terlintas di benak saya adalah bagaimana mencicil keterikatan itu dengan mengunjungi kota tercinta ini. Sayangnya saya tidak cukup sering mendapatkan keberuntungan itu, bahkan tidak setiap tahun saya bisa menjejak kaki di bumi Makassar. Hal ini menyisakan kegalauan dalam diri saya untuk senantiasa mencari kompensasi kerinduan yang sepadan, mencari simpul lain yang cukup kuat untuk kembali mengeratkan ikatan itu.
Di suatu pagi di pertengahan tahun 2006, saya mendapat email undangan untuk bergabung dengan mailing list komunitas blogger makassar, yang saat itu belum bernama Angingmammiri.
Sebagai blogger pemula, sekaligus perantau galau yang lagi mencari simpul pengikat bathin dengan Makassar, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk berpikir menerima undangan itu. Dan akhirnya, bergabunglah saya dengan para blogger muda Makassar yang sebelumnya saya kurang kenal secara fisik. Hanya dengan keyakinan akan pentingnya suatu komunitas dan harapan untuk menemukan aroma dan suasana Makassar yang lama saya rindukan itulah yang menjadi dasar semangat saya untuk berinteraksi dengan komunitas penulis amatir di ranah maya ini.
Setelah setahun berselang, saya tak pernah merasa menyesal bergabung dengan komunitas ini. Suasana interaksi di milis dan portal, serta kopdar yang saya terlibat didalamnya sungguh membawa saya kepada ruang dan waktu yang tak akan tergantikan, dan tanpa bermaksud hiperbolik nyaris sama dengan apa yang saya rindukan. Thread-thread di milis tidak saja mengalirkan suasana, tapi juga senyum dan tawa hingga ke ruang kerja saya di atas bukit Balikpapan. Warna keceriaan yang terbahasakan dalam ungkapan kata yang sangat ber-dimensi Makassar, baku calla dan coddo rantasa, bertukar asupan informasi dan berbagi opini yang menambah gizi otak, curhat dan keluhan yang diendapkan menjadi canda yang menyejukkan, dan ketegangan emosional karena perbedaan yang kemudian luluh dalam proses belajar memaknai betapa perbedaan yang sedikit itu tidak pantas membayangi kesamaan warna semangat yang ditampilkan oleh komunitas ini.
Riak yang muncul, tidak pernah menjadi gelombang yang besar, karena karang yang menjadi tempat hempasan semua masalah tidak pernah dibiarkan berlama-lama hadir. Tidak ada minoritas, juga tidak ada mayoritas dalam komunitas ini. Tidak ada yang merasa tua, apalagi kuno. Semua adalah satu dan muda, dan karenanya selalu bahagia. Karena perbedaan yang direpresentasikan oleh statistik ini tidak diperlukan dalam komunitas ini. Semuanya lebur, terutama dalam warna ceria seperti lampion-lampion yang semarak di salah satu sudut Makassar.
Saya pernah berpikir untuk melepaskan diri dari komunitas ini, terutama karena ada saat tertentu dimana keceriaan dalam komunitas ini menjadi monoton dan tak tentu arah. Tidak ada tujuan, dan karenanya mungkin tidak akan bermanfaat untuk berlama-lama disini, apalagi kalau kemudian ada simpul-simpul lain yang menawarkan ikatan yang sama. Keceriaan tentu ada ritme nya, sehingga perlu pintar-pintar untuk mengelolanya.
Tanpa pengelolaan ritme yang lugas dan menarik, ikatan komunitas akan cepat aus, renggang, dan kemudian putus. Pernah suatu kali saya teramat sangat terganggu oleh diskusi yang menurut saya cukup menarik untuk dikembangkan, namun sayang dihentikan dengan penyelesaian yang tidak seperti harapan saya. Penyelesaian yang kurang baik akan menafikkan semangat untuk menjernihkan masalah dan memperoleh manfaat dari suatu masalah dalam bingkai keragaman, menurut saya. Sesensitif apapun masalahnya. Label sensitif dan mengganggu itu hanya ada dalam benak kita, dan memang hanya kita yang membuatnya, suyektif adalah kata yang paling tepat untuk itu. Namun, masalah-masalah itu akan segera berubah menjadi pembelajaran yang sukses bermanfaat untuk semua apabila direspon dengan cara yang bijak, tidak terburu-buru dan tetap ceria. Tapi masalah ini kemudian tidak mampu mengusir saya dari simpul yang turut menanamkan hasrat menulis saya ini.
Masalah, dan kemudian perbedaan pendapat tentang penyelesaian nya saya sadari hanyalah riak kecil yang tidak perlu dipupuk menjadi gelombang besar, apalagi menjadi tsunami yang memporak-porandakan ikatan yang indah. Tidak sepadan harganya dengan keceriaan yang menghadirkan kenangan dan suasana Makassar, apalagi saya sudah sangat terbiasa dengan suasana ini. Tak elok rasanya melalui setengah hari saja tanpa melongok komunitas ini. Selalu ada rindu yang memanggil untuk kembali. Seperti angin pesisir yang memanggil para nelayan untuk pulang ke pantai.
Komunitas Angingmammiri, sependek pengetahuan saya, dibentuk oleh keragaman yang seperti saya ungkapkan diatas, tidak mengenal mayoritas - minoritas. Yang ada adalah keceriaan dalam memindahkan sisi Makassar yang bersemangat dan bermartabat ke ranah maya, tanpa menghilangkan warna keseriusan untuk berkarya dalam membangun dan berkontribusi untuk kota Makassar tercinta. Seminar pendidikan, pelatihan, anjangsana sosial, dan lomba-lomba yang diselenggarakan oleh komunitas ini telah mewarnai Makassar dengan lebih baik dan lebih cerdas. Sehingga saatnya nanti, persepsi stereotip tentang Makassar yang kasar, keras dan bodoh akan tergantikan dengan persepsi positif, bahwa di ranah yang berdimensi sama, ada sekelompok komunitas anak muda yang ceria dalam berbagi, dewasa dalam bertindak dan teramat gandrung dengan kebaikan yang menjadi representasi Makassar yang lebih baik.
Dalam benak kecil saya, terbersit sedikit harapan agar kiranya komunitas ini tidak saja hanya menjadi tempat berkumpulnya keceriaan untuk anggota komunitas ini, tapi juga tetap memberikan kontribusi yang aktif dan bermanfaat untuk masyarakat Makassar, terutama bagi mereka yang belum beruntung bisa mengenal ranah maya ini. Terus lanjutkan kerja-kerja abadi yang selama ini telah dilakukan. Jadikan semangat kebersamaan dalam keceriaan menjadi pompa untuk menggali kreatifitas yang tidak mengenal ruang dan waktu.
Dirgahayu Blogger Makassar - AngingMammiri!
Dedicated for my beloved virtual community - AngingMammiri for its First Anniversary!
Popularity: 15% [?]