Archive for November, 2007

[sanjak] apa yang kau pinta hari ini, nak?

daengrusle November 29th, 2007

maipa-bobo.JPG 
apa yang kau pinta hari ini nak?

sepagi ini matamu melempar binar
membilas rumah dengan celoteh

ada yang harus dirayakan
bukan sekedar peluk dan cium

akankah kau meminta sesuatu?

selepas berbulan tahun
menjadi lentera mata
menjadi telaga hati

dunia mu dan celoteh itu
dan semua yang kau hadirkan
ada arti, dan banyak
semua kumpul jadi tujuan

apa yang kau pinta hari ini nak?

dan kami seperti tak bersesuatu
mencari timpal yang setara
bahkan tuk mengganti binar mata itu

tapi cukupkah sedikit ini anakku?
semangat di pundakmu
dan darah penahan badai di jantungmu
telah kami selipkan
semenjak lahirmu
saat azan dan iqamah kami bisikkan
diantara tangismu yang keras itu.

cukupkah itu anakku?
semoga

@ balikpapan 29nov07

— dipersembahkan untuk Om Aa —

Popularity: 11% [?]

Best Blog Award AngingMammiri 2007

daengrusle November 26th, 2007

Alhamdulillah, tanpa saya sangka blog saya yang cempreng dan narsis abis ini mendapat anugerah penghargaan Best Blog Award Angingmammiri 2007! yang diumumkan oleh Panitia Peringatan Ulangtahun Komunitas Blogger Makassar - Angingmammiri pada saat Talkshow BLOG: Voice of Freedom yang diselenggarakan di MTC Makassar, 25 November 2007 kemaren.

Awalnya saya pikir lomba yang diadakan oleh AM hanyalah pemilihan Blog Terfavorit AngingMammiri 2007, yang saya sendiri menjatuhkan pilihan ke blognya Ipul Dg Gassing. Namun sms-sms dari Daeng Mappe yang - mendaulat dan didaulat sebagai wakil saya dalam acara itu he2 - membawa kabar baik itu. Itupun saya selalu menjawab dengan, “ah masa sih, sa kira blog nya Ipul yang menang”.

Rupanya betul, blog saya terpilih untuk kategori Best Blog Award AngingMammiri 2007. Sedang blognya Ipul Dg Gassing sendiri memang terpilih juga sebagai Blog Terfavorit AngingMammiri 2007.

Bangga rasanya, dan makin bahagia saja berada di komunitas cerdas a la Makassar ini sebagaimana saya ungkapkan dalam testimoni khusus menyambut ultah komunitas AngingMammiri. Dan yang membuat saya makin sumringah, Ipul baru saja menginformasikan bahwa yang menjadi jurinya adalah Ipul sendiri dan Aan M Mansyur, seorang penulis dan passanjak idola ku, sekaligus karib di panyingkul dan AM. Aan memilih berdasarkan content blog, sedang Ipul memilih dengan dasar penilaian pada template lay-out blog. Dan hasilnya, dari hasil kalkulasi penilaian, mereka menetapkan blog ku as the best one. Wuih, lompona kutaeng ulungku, he2.(Mks: jadi besar kepala nih)

Terima kasih, Kuru sumange maega Cappo’. Semoga ini menjadi pemicu yang baik utk memantapkan diri berdisiplin menorehkan kronik tulisan. Saya ingat, Aan pernah berpetuah bahwa “menulis membutuhkan kedisiplinan!”. Yup, betul.

Dan yang pasti, blog ini akan semakin narsis saja. Lihat saja widget nya (Narsis Hoho), banner juara nya nambah cess. He2.

Popularity: 12% [?]

Dede - manusia pohon dan Bu Menteri yang tersinggung

daengrusle November 26th, 2007

Berita tentang Dede manusia pohon dari Bandung yg dipopulerkan pertama kali oleh Discovery Channel, membuat Ibu Menteri Siti Fadillah Supari agak tersinggung. Sang Ibu Menteri dari PAN itu menyuruh keluarga Dede untuk membatalkan kontrak eksklusif dengan jaringan news Fox yang kemudian menjual hasil foto itu ke Discovery Channel. Menurut Ibu Mentri, kasus Dede di komersialkan oleh Discovery Channel, sedangkan Dede sendiri tetap sakit, tidak memperoleh kompensasi yang layak dan hanya mendapat angpaw sebesar Rp. 4,5 juta sahaja. Yang menambah besar api kesumat bu Menteri adalah, bahwa pihak Rumah Sakit Marryland yang pernah meneliti dan mengambil sampel darah Dede tidak berhasil dihubungi, bahkan terkesan menutup komunikasi dengan pemerintah Indonesia. “Dokter Antoni Gaspari, yang meneliti kelainan kulit Dede, tidak mau dihubungi oleh siapapun dari Indonesia” sengit bu Menteri.

manusia-pohon.jpg
AFP / DISCOVERY CHANNEL

Gajah dipelupuk mata tak tampak, cermin dibelah! Tidak usahlah panik hanya karena ada warga kita yang menjadi sorotan media asing. Cukuplah berintrospeksi diri sahaja, bahwa kinerja pemerintah kita dalam memaintain kesehatan rakyatnya, terutama yang butuh penanganan khusus kurang telaten. Bahwa kemudian ada media asing yang mengangkat kasus ini, jadikan sebagai referensi. Tunjukkan niat baik dengan memberi statemen yang sejuk dan bersahabat kepada dokter Antoni Gaspari itu supaya mau membagi ilmu nya sehingga penyakit Kang Dede bisa segera disembuhkan. Kalau memang dokter Maryland itu tidak mau bekerja sama, ambil saja hikmahnya dan segera bertindak. Buatkan penelitian baru, toh masih untung si pasien belum dibawa kabur ke USA sono, jadi masih bisa diteliti, diambil sampel darahnya dan diobservasi penyakitnya. Atau jangan-jangan kayak lagu lama, gak cukup alat dan teknologi untuk melakukan penelitian

Popularity: 14% [?]

Matrawi, mengasong buku melawan terik

daengrusle November 25th, 2007

Siang yang teramat terik di Balikpapan. Penjaja makanan keliling, yang biasanya ramai di ahir pekan ini, seperti enggan menemui konsumennya. Jangankan berniat keluar rumah, di dalam rumah pun saya merasa gerah. Di teras, saya mencari angin segar mensiasati gerah sambil mencandai anak saya.

Di tengah terik itu, tiba-tiba di pagar rumah saya telah berdiri seorang kakek mengenakan topi rimba, berselendang kain sarung dan di kedua tangannya tergenggam dua buah buku. Tubuhnya kelihatan ringkih, tapi suaranya terdengar lantang, “Anak, mau beli buku? Sambil menggoyang-goyangkan kedua buku yang ada di tangannya. Tentu saja saya kaget, karena di siang yang teramat terik ini masih ada juga yang berjualan, apalagi jualannya pun tidak lazim, buku. Biasanya, saya membeli buku di toko buku langganan, dan itupun karena memang ada buku menarik yang direkomendasikan teman. Buku bukanlah seperi lazimnya barang konsumsi lainnya yang bisa dibeli setiap saat dimana saja. Membeli buku biasanya disesuaikan dengan kebutuhan otak dan perlu effort yang lebih untuk mencari buku bermutu.

Tapi seperti melawan kelaziman, kakek tua itu menjajakan buku berkeliling dari rumah ke rumah, berjalan kaki. Dan ini menarik untuk saya dan mempersilahkan kakek penjaja buku itu masuk dan menggelar dagangannya di teras rumah.

jual-buku.JPG

Matrawi, menjaja buku di tengah terik untuk menyambung hidup 

Namanya Matrawi, berusia 68 tahun dan berasal dari Sumenep, Madura. Menurut penuturannya, menjajakan buku keliling ini dilakoninya sejak tahun 2003 ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota Balikpapan. Sebelumnya dia adalah petani di Sumenep. Hasil bertaninya sebesar Rp 25 juta dihabiskan untuk mengurus anaknya masuk AKABRI. Anaknya kini sudah berpangkat Letnan Dua, sambil mengeluarkan dompet dan menunjukkan sebuah foto yang diakuinya sebagai anaknya dengan pakaian militer. Menurut pengakuannya, sebelum ke Balikpapan dia sempat mengikuti pelantikan anaknya di Monas, katanya dilantik oleh Presiden Megawai Soekarno Putri. “Sudah kaya dong pak” tanyaku. Pak Matrawi hanya tersenyum dan menggeleng lemah, melanjutkan promosi bukunya. Menurut dia, buku-buku nya yang kesemuanya adalah buku tentang agama Islam; komik nabi-nabi, risalah sholat, al-qur’an dan kumpulan doa-doa, dikirimkan langsung oleh anaknya dari Surabaya. Makanya harganya murah, dibandingkan dengan toko-toko di pasar Klandasan, sebutnya. Saya memang pernah membeli al-Quran di Klandasan, disana banyak kios yang menjual buku sejenis yang dijajakan pak Matrawi.

Saat saya tanya, harga dari buku-buku tersebut sambil menunjuk beberapa komik kisah nabi yang berukuran kecil dan tipis, pak Matrawi bingung menjawabnya. “Sesuai keikhlasan saja, nak. Berapa anak mau bayar, yang penting ikhlas”. Menurutnya, dia menjajakan buku ini bukan untuk mencari untung, tujuannya hanya untuk minta tolong. Sekedar untuk membeli makan saja sehari-harinya, yang dia bilang sebesar Rp 7000 sekali makan.

Selintas saya kemudian membayangkan industri buku di indonesia yang mungkin memproduksi buku ribuan setiap bulannya, terutama saat booming novel chicklit yang digemari para remaja itu. Dalam setiap produksi buku, menurut berita, disributor kebagian pendapaan sampai 70% dari harga buku. Sedang pihak penerbit dan pengarang buku hanya menikmati sisanya. Ditambah dengan biaya produksi yang tidak sedikit, terbayang betapa besar biaya yang dikeluarkan oleh para pembaca. Dan berapa rupiahkah yang bisa dinikmati oleh orang-orang seperi pak Matrawi yang hanya berharap uang makan saja dari dagangannya itu?

Dalam sehari jualan pak Matrawi hanya laku paling banyak dua buah, dengan penghasilan paling tinggi Rp 35 ribu. Pernah juga dia menerima Rp 50 ribu, tapi jarang sekali. Penghasilan yang teramat kecil itu, dipakainya untuk menghidupi dirinya bersama istri yang siang itu juga ikut berkeliling menemani pak Matrawi. Berdua mereka berjalan kaki menyusuri kampung-kampung di Balikpapan sejak pagi, berangkat dari rumahnya di Gunung Malang. Saat itu, kelihatan mata istrinya yang berjilbab itu berair. Saya tanya kenapa, kok nangis? Pak Matrawi menjawab, dia sakit perut sedari tadi. Saat saya ajak makan siang di rumah, dengan halus pak Matrawi menolak. Dia memilih melanjutkan berjualan buku bersama isrinya, padahal mungkin saja mereka sudah lapar dan haus, apalagi di tengah hari yang teramat terik itu.

Popularity: 33% [?]

Adelin Lis - kawan kita yang hebat!

daengrusle November 25th, 2007

Adelin Lis, bebas. Si muka innocent itu kemudian kabur bak Superman, lari ke negeri krypton. Sia-sia saja Polda Sumut mengejar nya hingga ujung dunia. Dari menteri, jaksa, hakim, polisi, seakan semua pihak berkonspirasi ‘menyelamatkan’ si Raja Hutan, dan demikian generasi masa depan akan kehilangan hutan Mandailing Natal sebanyak 58 ribu hektar. Bapak menteri budiman dari Partai Islam - PBB, MS Kaban membela sekondangnya dengan anggapan bahwa si Raja Hutan hanya melakukan pelanggaran administratif sahaja. Dan duit sebesar Rp 119 Miliyard plus US$ 2,9 juta yang dipeloroti karena mengemplang tidak membayar provisi sumber daya kehutanan serta tidak melakukan reboisasi sesuai ketentuan, tidak jadi dikembalikan ke rakyat. Padahal uang segitu cukup banyak untuk membuat hutan baru di 20 tahun ke depan, waktu yang cukup sebenarnya bagi si Adelin Lis untuk menghitung fulus di balik jeruji.

Adelin Lis, bebas. Dan pemerintah bak kebakaran jenggot. Menteri Kaban tersenyum sumringah. Sekondangnya bebas, terbayang surat ’sakti’nya yang mampir ke meja hakim beberapa hari sebelum vonis. Majelis Hakim yang teramat sangat patuh pada kaidah hukum itu sepakat dengan pak Menteri, kesalahan si Adelin hanya bersifat administratif. Negara tidak dirugikan. Hakim yang mulia itu berpendapat wewenang penindakan ada ditangan Kementerian Kehutanan, bukan di Pengadilan. Jadi dakwaan yang disusun jaksa berdasarkan hasil pemeriksaan polisi itu salah tempat. Hakim juga memerintahkan agar segala barang bukti dalam kasus Adelin Lis dikembalikan ke jaksa untuk digunakan dalam kasus terdakwa illegal logging lainya di tempat yang sama yakni Washinton Pane, mantan Direktur Produksi PT Keang Nam Development Indonesia dan Budi Ismoyo yang mantan kepala dinas Kehutanan Kabupaten Mandailing Natal, yang tentu saja menurut aturan yurispridensi dan keterkaitan dengan kasus sejenis akan BEBAS juga. Padahal, ribuan kayu sitaan milik Adelin Lis, pengusaha yang didakwa merambah hutan secara liar di Kabupaten Mandailing Natal, Sumatera Utara, sudah dilelang dan uangnya masuk ke kas negara.

Para hakim yang menangani dianggap tidak melakukan kesalahan dan hebatnya dipromosikan euy. Juga para jaksa yang menuntut dengan tuntutan ringan, ceroboh dan tragisnya tidak terbukti itu dipromosikan. Penghargaan ataukah penghinaan? Siapa yang dihargai? Siapa yang terhina? Dan diatas semua itu, siapa yang dirugikan?

Mantan Hakim Agung Bismar Siregar, yang dikenal punya integritas tinggi, merasa sedih, mengelus dada dan merapal duka cita yang mendalam “Inna lillahi wainna ilaihirajiun”. Menurut Bismar putusan bebas tersebut menandakan kebodohan majelis hakim yang menangani perkara terdakwa tersebut. Tidak selayaknya majelis hakim masih berkutat pada peraturan formal dalam menangani perkara besar seperti kasus pembalakan liar. Ini fakta di negara ini di mana mereka tidak bertanya pada keadilan sebagai landasan dalam menentukan putusan. Apabila keadilan menjadi landasan, menurut Bismar, dalam putusannya majelis hakim akan mengatakan, “Sekalipun Adelin Lis bersalah karena soal administratif saja, dengan munculnya kerugian negara, itu sama saja dengan tindakan korupsi.”

Popularity: 12% [?]

[testimoni] Simpul Keceriaan - Angingmammiri!

daengrusle November 22nd, 2007

am.JPGSaya adalah perantau, yang terus menerus berusaha untuk tetap mempertahankan jalinan kenangan dengan suasana Makassar. Bukan hanya berdasarkan kenyataan bahwa sebahagian keluarga saya masih menetap di Makassar, namun juga ada simpul bathin yang mengikat hati saya dengan kota yang meretas masa saya bertumbuh menjadi manusia ini.

Setiap saat, ketika ada kesempatan dan rezeki luang, pikiran yang pertama kali terlintas di benak saya adalah bagaimana mencicil keterikatan itu dengan mengunjungi kota tercinta ini. Sayangnya saya tidak cukup sering mendapatkan keberuntungan itu, bahkan tidak setiap tahun saya bisa menjejak kaki di bumi Makassar. Hal ini menyisakan kegalauan dalam diri saya untuk senantiasa mencari kompensasi kerinduan yang sepadan, mencari simpul lain yang cukup kuat untuk kembali mengeratkan ikatan itu.

Di suatu pagi di pertengahan tahun 2006, saya mendapat email undangan untuk bergabung dengan mailing list komunitas blogger makassar, yang saat itu belum bernama Angingmammiri.

Sebagai blogger pemula, sekaligus perantau galau yang lagi mencari simpul pengikat bathin dengan Makassar, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk berpikir menerima undangan itu. Dan akhirnya, bergabunglah saya dengan para blogger muda Makassar yang sebelumnya saya kurang kenal secara fisik. Hanya dengan keyakinan akan pentingnya suatu komunitas dan harapan untuk menemukan aroma dan suasana Makassar yang lama saya rindukan itulah yang menjadi dasar semangat saya untuk berinteraksi dengan komunitas penulis amatir di ranah maya ini.

Setelah setahun berselang, saya tak pernah merasa menyesal bergabung dengan komunitas ini. Suasana interaksi di milis dan portal, serta kopdar yang saya terlibat didalamnya sungguh membawa saya kepada ruang dan waktu yang tak akan tergantikan, dan tanpa bermaksud hiperbolik nyaris sama dengan apa yang saya rindukan. Thread-thread di milis tidak saja mengalirkan suasana, tapi juga senyum dan tawa hingga ke ruang kerja saya di atas bukit Balikpapan. Warna keceriaan yang terbahasakan dalam ungkapan kata yang sangat ber-dimensi Makassar, baku calla dan coddo rantasa, bertukar asupan informasi dan berbagi opini yang menambah gizi otak, curhat dan keluhan yang diendapkan menjadi canda yang menyejukkan, dan ketegangan emosional karena perbedaan yang kemudian luluh dalam proses belajar memaknai betapa perbedaan yang sedikit itu tidak pantas membayangi kesamaan warna semangat yang ditampilkan oleh komunitas ini.

Riak yang muncul, tidak pernah menjadi gelombang yang besar, karena karang yang menjadi tempat hempasan semua masalah tidak pernah dibiarkan berlama-lama hadir. Tidak ada minoritas, juga tidak ada mayoritas dalam komunitas ini. Tidak ada yang merasa tua, apalagi kuno. Semua adalah satu dan muda, dan karenanya selalu bahagia. Karena perbedaan yang direpresentasikan oleh statistik ini tidak diperlukan dalam komunitas ini. Semuanya lebur, terutama dalam warna ceria seperti lampion-lampion yang semarak di salah satu sudut Makassar.

Saya pernah berpikir untuk melepaskan diri dari komunitas ini, terutama karena ada saat tertentu dimana keceriaan dalam komunitas ini menjadi monoton dan tak tentu arah. Tidak ada tujuan, dan karenanya mungkin tidak akan bermanfaat untuk berlama-lama disini, apalagi kalau kemudian ada simpul-simpul lain yang menawarkan ikatan yang sama. Keceriaan tentu ada ritme nya, sehingga perlu pintar-pintar untuk mengelolanya.

Tanpa pengelolaan ritme yang lugas dan menarik, ikatan komunitas akan cepat aus, renggang, dan kemudian putus. Pernah suatu kali saya teramat sangat terganggu oleh diskusi yang menurut saya cukup menarik untuk dikembangkan, namun sayang dihentikan dengan penyelesaian yang tidak seperti harapan saya. Penyelesaian yang kurang baik akan menafikkan semangat untuk menjernihkan masalah dan memperoleh manfaat dari suatu masalah dalam bingkai keragaman, menurut saya. Sesensitif apapun masalahnya. Label sensitif dan mengganggu itu hanya ada dalam benak kita, dan memang hanya kita yang membuatnya, suyektif adalah kata yang paling tepat untuk itu. Namun, masalah-masalah itu akan segera berubah menjadi pembelajaran yang sukses bermanfaat untuk semua apabila direspon dengan cara yang bijak, tidak terburu-buru dan tetap ceria. Tapi masalah ini kemudian tidak mampu mengusir saya dari simpul yang turut menanamkan hasrat menulis saya ini.

Masalah, dan kemudian perbedaan pendapat tentang penyelesaian nya saya sadari hanyalah riak kecil yang tidak perlu dipupuk menjadi gelombang besar, apalagi menjadi tsunami yang memporak-porandakan ikatan yang indah. Tidak sepadan harganya dengan keceriaan yang menghadirkan kenangan dan suasana Makassar, apalagi saya sudah sangat terbiasa dengan suasana ini. Tak elok rasanya melalui setengah hari saja tanpa melongok komunitas ini. Selalu ada rindu yang memanggil untuk kembali. Seperti angin pesisir yang memanggil para nelayan untuk pulang ke pantai.

Komunitas Angingmammiri, sependek pengetahuan saya, dibentuk oleh keragaman yang seperti saya ungkapkan diatas, tidak mengenal mayoritas - minoritas. Yang ada adalah keceriaan dalam memindahkan sisi Makassar yang bersemangat dan bermartabat ke ranah maya, tanpa menghilangkan warna keseriusan untuk berkarya dalam membangun dan berkontribusi untuk kota Makassar tercinta. Seminar pendidikan, pelatihan, anjangsana sosial, dan lomba-lomba yang diselenggarakan oleh komunitas ini telah mewarnai Makassar dengan lebih baik dan lebih cerdas. Sehingga saatnya nanti, persepsi stereotip tentang Makassar yang kasar, keras dan bodoh akan tergantikan dengan persepsi positif, bahwa di ranah yang berdimensi sama, ada sekelompok komunitas anak muda yang ceria dalam berbagi, dewasa dalam bertindak dan teramat gandrung dengan kebaikan yang menjadi representasi Makassar yang lebih baik.

Dalam benak kecil saya, terbersit sedikit harapan agar kiranya komunitas ini tidak saja hanya menjadi tempat berkumpulnya keceriaan untuk anggota komunitas ini, tapi juga tetap memberikan kontribusi yang aktif dan bermanfaat untuk masyarakat Makassar, terutama bagi mereka yang belum beruntung bisa mengenal ranah maya ini. Terus lanjutkan kerja-kerja abadi yang selama ini telah dilakukan. Jadikan semangat kebersamaan dalam keceriaan menjadi pompa untuk menggali kreatifitas yang tidak mengenal ruang dan waktu.

Dirgahayu Blogger Makassar - AngingMammiri!

Dedicated for my beloved virtual community - AngingMammiri for its First Anniversary!

Popularity: 15% [?]

Harapan dari Dua Peristiwa

daengrusle November 20th, 2007

 atiger.JPG

Ahad pagi, 18 November 2007. Saya melakukan keteledoran yang nyaris merenggut nyawa saya sendiri. Mengendarai motor besar Tiger - yang menurut banyak orang, tidak apropriate dengan postur saya yang kecil - saya kehilangan kendali ketika hendak singgah membeli label nama untuk acara Family Day Alumni ITB di Sepinggan Housing Complex - Total. Motor tiger besar itu kutabrakkan ke trotoar kiri jalan dan akibatnya, saya terpelanting ke kanan. Kaki saya terhimpit, dan badan saya menghantam badan jalan. Kepala saya yang terlindung helm yang ditempeli sticker AM itu menyentuh aspal, siap dihantam kendaraan di belakangnya. Saya sudah pasrah, apapun yang terjadi kemudian.

Untungnya, sepagi itu jalan utama menuju bandara Sepinggan Balikpapan itu sepi, padahal sudah jam 08.30 WITA. Seharusnya sudah ramai, apalagi ini hari libur. Dan nyawa saya selamat. Sampai beberapa detik kemudian, saya mencoba berdiri dan keluar dari himpitan motor besar itu. Saya merasa, paling tidak engkel kaki saya bakal remuk karena posisi jatuh nya yang menakutkan. Terbayang Boas Salozza yang telapak kakinya terlipat saat mewakili Indonesia tempo hari. Engkel patah. Saat coba digerakkan, kaki saya merespon baik. Hanya ada sedikit nyeri, mungkin memar. Tapi tidak ada tanda-tanda keparahan sebagaimana yang saya ‘harapkan’. Alhamdulillah sekali lagi. Aman.

Selepas ‘kejatuhan’ itu, saya kemudian meneruskan perjalanan ke acara Family Day itu, yang kebetulan saya jadi Ketua Panitia nya. Hanya ada yang kurang enak saat mengendarai Motor Tiger itu lagi, sepertinya ada yang rusak atau keseimbangannya terganggu, jalannya juga agak ‘berat’. Dan walhasil, saat saya bawa ke bengkel resmi Honda, ternyata memang mesti direparasi balancing nya. Setengah juta rupiah, harga yang menohok untuk sebuah keteledoran yang cuman berlangsung lebih kurang lima detik saja. Gak apa-apa, ujar saya dalam hati, bukan karena lagi banyak duit, tapi karena ‘pelajaran keteledoran’ ini insya Allah bakal berguna di masa datang.

Kemudian, ingatan saya terlempar ke dua tahun silam saat masih berstatus pegawai perusahaan tambang di Sorowako yang saat ini menurut berita sedang dilanda mogok kerja para pekerjanya sehubungan dengan tuntutan bonus dan kenaikan upah. Dalam perjalanan dari Sorowako menuju Makassar, saat tengah malam, bus Mega Mas yang saya tumpangi tiba-tiba oleng dan terbalik ke samping. Saya yang kebetulan duduk di barisan bangku sebelah kanan tahu-tahu dihujani beberapa tas dan sepatu. Semua penumpang tereak dan menjerit. Saya hanya kebayang bakal death, apalagi kerasa kalo air merembes masuk. Kupikir bus ini nyebur ke sungai. Saat itu, baru seminggu anak pertama saya, Mahdi lahir. Dan ingatan saya hanya ke dia saja. Tapi alhamdulillah, saya saat itu rupanya masih terlindungi. Tidak ada cedera sama sekali.

Nah, kejadian motor yang menabrak trotoar itu seperti deja vu kejadian bus terbalik itu. Peristiwa dengan konteks waktu yang hampir sama. Saat motor terbalik itu, saya juga baru mendapat anugerah berupa putri cantik, Maipa Deapati. Walau tidak ada maksud menghubung-hubungkan, tapi setidaknya kok serasa ada koinsiden dari dua peristiwa ini.

Dalam hati saya berdoa, semoga kejadian yang menimpa saya ini menjadi semacam pembuang sial dan bencana bagi kedua anak saya tercinta. Semoga semua kecelakaan yang mungkin akan terjadi terhadap anak saya, biarlah saya saja yang mengalaminya.

Popularity: 25% [?]

[sanjak] Setiap dendam butuh waktu

daengrusle November 19th, 2007

Karya ytc Luna Vidya, dipersembahkan untukku seorang..hihihi.

Ada angin membawa layang putus.
Koyak dua sisinya
Coklat warna benangnya
Menyangkutkannya di tali-tali jemuran
Di balik jendela kaca
Aku tahu di luar
Angin mati.
Tak ada hembus, tak ada tiup.
Sejak kapan ia mencari angin disitu?
Ada yang menggelepar di dalamku?

Koyak layang-layang
Adalah cerita riang kita menjelang petang
Dari tanah lapang, atau dari jalanan
Cerita cagak-cagak panjang
Yang ditusuk-tusukan ke langit untuk rasa senang.

Benang adalah perjalanan
Dari rasa terbuang , ketika sore datang
Dan kita berusaha saling melupakan sepanjang malam
Benangku ada pada gelisah
Yang lahir waktu subuh
Ketika kutunggu pagi lahir dengan getir.

Kutunggui hari,
“dendam akan mengering.”
Gumam angin
Sambil mengantungkan kelu di tali-tali jemuran.

Pada waktu
Aku dan layang-layang itu
Telah saling memahami,
setiap dendam butuh waktu.

Popularity: 10% [?]

Maipa Deapati

daengrusle November 16th, 2007

maipaku-2.JPG

Sekedar mengabarkan berita dan membagi rasa bahagia kami, juga
berharap doa dan restu tulus dari rekan semua.

Alhamdulillah, telah lahir anak ke-2 kami, seorang putri cinta bernama
MAIPA DEAPATI NOERTIKA, malam tgl 14 Nov 2007, atau 4 Dzulqaidah
1428 jam 23.03 WITA di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan, dgn bantuan Dr Bisma, SpOG.

Berat lahir 2,85kg, panjang 49cm. Proses normal dan mudah,
alhamdulilah. Saat ini kondisi ibu dan anak sehat wal afiat.

Mhn doanya. Foto dibawah dengan Pejuang ku with her baby! Saya ikut menyaksikan detik2 perjuangan My Lovely wife mengarungi samudera hidup itu. Luar Biasa!

maipa-dan-mama.JPG

Berikut adalah Sanjak Hadiah keLahiran dari Kak Lily Yulianti - Panyingkul;

Ruslee,
ini sajak yang ditulis farid sewaktu fawwaz lahir 9 tahun lalu. Telah saya gubah jadi lagu dan kadang dinyanyikan secara terbatas di rumah kami.

Hari ini, saya persembahkan untuk Anakda Maipa Deapati:
(nada dasar A (alias nada apasaja hehehe))

tangismu, anakku
tangismu, apa yang hendak kau katakan?
cintaku akan melindungimu

seperti juga melindungi ibumu
yang tergolek-lunglai-manja
seusai melewati samudera
yang tak pernah terbayangkan
bagi para lelaki

tangismu yang pertama, anakku
apa yang ingin kau sampaikan?
dunia begitu tak menentu
tak bisa kujanjikan kebahagiaan
hanya kasih sayang
seperti matahari
setia menyentuh bumi
ingin menyentuh hatimu

Foto-foto lainnya, silahkan diteruskeun: Continue Reading »

Popularity: 26% [?]

[sajak] hari ini, insya Allah!

daengrusle November 12th, 2007

silesureng, mohon doanya.

cerita siang ini
tentang sejuk yang masih mendekap
pada bantal, jalan, dan pohon
dan sejuk pula kah yang menemani perempuanku
yang kini bertaruh hidup meretas waktu
menghitung darah yang ditebus dengan janji
meraup keringat yang ditukar dengan tangis
dan jiwa

siang ini siang yang debar
dan waktu yang menjadi diam
seperti terik yang lupa pada sengatnya
angin yang malas menerbangkan debu
dan debu abai memasang sayap

bersama lambai daun
dan bunyi ombak di seberang sana
daku merapal mantra
mencari jalan lempang

semoga, hari ini
kumenuai janji
membisik azan dan iqamah di dua pintu dengarmu
putriku.

tsummassabyila yassarahu*
kemudian Dia memudahkan jalannya…Amin!
* QS:80:20

Popularity: 12% [?]

Next »