Suara Tuhan?

daengrusle November 6th, 2007

Sejarah adalah kronik para pemenang, sudah terbukti dimana-mana.
Tapi pemenang ini didefinisikan sebagai pemenang yang menguasai dimensi waktu, dia bisa berganti kapan saja, dan dengan demikian bebas membukukan sejarah “baru lagi, bahkan mampu mengganti sejarah yang sudah mengendap di kepala rakyat sejak bertahun-tahun.

Siapa nyana bahwa Tirto Adi Suryo selama lebih dari 50 tahun sejak awal abad 20 adalah pahlawan pers nasional, tapi kemudian 32 tahun selepas G30S/PKI namanya menjadi gelap dalam lembar sejarah dan ditukar oleh Pram dengan nama aneh untuk ‘melindungi’ kesejarahannya, Minke. Kemudian sejak mahasiswa menduduki atap gedung MPR thn 1998, nama Tirto kembali muncul dan dibicarakan di majalah-majalah. Sama seperti Tan Malaka, Haji Misbach, Aidit, dll. Mereka adalah objek sejarah yang ‘predikat’;nya dipermainkan oleh para subyek, rezim itu.

Suara tuhan adalah suara Rakyat?
Rakyat yang mana, pada kasus Tirto, Tan Malaka, Misbach? apakah itu suara tuhan adalah suara yang diam dan tergagu dibalik istana2, dan bukankah pemerintah itu juga berasal dari kampung-kampung rakyat? ataukah yg lebih tragis adalah suara yang diserukan oleh para sesepuh organisasi massa untuk membantai rakyat yang dilabeli PKI kah? atau suara tuhan yang mana yang telah mengejawantah menjadi suara rakyat?
Dulu di jaman Romawi - Caligula, suara Tuhan sempat punah, diganti oleh hedonisme dan kemarukan pemujaan birahi. Juga zaman Sodom dan Gomorah, tidak ada suara Tuhan disitu, bahkan saya yakin orang-orang saat itu menganggap justru tuhanlah yang mewajibkan mereka bergumul dengan birahi.Makanya “Tuhan” yang lain kemudian membuat buminya diluluh lantakkan dan digantikan dengan manusia2 baru yang sudah tercerahkan. Betapa egoisnya Tuhan itu (kalau dipikir-pikir ya…he2)

Vox populi vox dei, kadang2 tepat juga. Isitlah ini menurut saya tidak ada sangkut pautnya dengan Tuhan dalam pengertian religius. Dei disini mewakili suara orang kebanyakan yang punya hak tapi tak tertunaikan oleh penguasa zalim, suara yang agung dan menjadi milik rakyat, bahkan dianggap suara yang suci dan sebagai ‘pelarian’ para utopis kala dihantam oleh kuasa rezim yg memerintah saat itu. Suaar yang menyerukan kenaikan UMR, suara yang menyerukan pengembalian tanah yang dirampas, suara yang menyerukan penurunan biaya kesehatan dan pendidikan. Dalam zaman yang rakyatnya tertindas seperti ini, dibutuhkan pula nabi atau pemimpin revolusioner yg didaulat utk menyuarakan suara itu. he2.

Buat saya, pengertian suara ini menjadi bias kadang-kadang ya.

Suara Tuhan dalam pengertian tertentu, adalah suara yang pasif. tidak aktif. Sejak selesainya masa kerasulan, tidak pernah ada lagi korespondensi tertulis yg diakui secara formal antara manusia dan Tuhan. Tuhan meninggalkan suara-suara nya dalam kitab-kitab suci. Yang kemudian ditafsirkan oleh manusia dalam berbagai pemikiran. Apakah, penafsiran ini bisa dianggap sebagai suara Tuhan? hanya nurani kita yang tahu.
Yang jelas, seperti yang saya angkat sebelumnya, fatwa sesat yang kemudian menggiring umat untuk melakukan kekerasan, pembakaran dan penganiayaan terhadap sesama nya manusia adalah fatwa yang mencemaskan, dan perlu dipertanyakan apakah betul merupakan suara Tuhan yang kita kenal?
Seperti yang dituliskan oleh Tempo di edisi minggu ini, apa pantas kita mengadili keyakinan?

Inilah salah satu yang perlu kita perhatikan. Minimal kita mengajarkan ke anak-anak kita, untuk selalu menghormati seaneh apapun keyakinan orang lain di mata kita. Kita insya Allah dibekali suara Tuhan dalam bentuk nurani yang bisa membisikkan nasihat -nasihat sejuk bahkan untuk menyirami emosi yang meluap-luap hanya karena ‘berbeda’.

Dalam banyak kesempatan, kita sering membaca hadist; Rasul diturunkan untuk menyempurnakan akhlak. akhlak seperti apa? ada pada setiap simpul kearifan sederhana dalam berkomunikasi dengan sesama, ketika kita tidak menyinggung perasaan tetangga, tidak menceritaka kebobrokannya, tidak menyakiti hatinya, dll…agama itu adalah agama yang aktual, membumi. jangan keyakinan dan ideologi nya yang dihantam, tapi lihatlah perilaku nya. Kalau ada jamaah yang mengingkari orang tuanya yang welas kasih, maka akhlak dan penafsiran atas keyakinannya itu jelas-jelas salah. Kalau ada ustad yang menyerukan membakar hak milik orang lain yg bukan haknya, maka itu adalah perbuatan melawan hukum, bahkan hukum agama nya sendiri.
Hari ini, mungkin puluhan, bahkan ratusan sesama manusia kita dikejar2 oleh sekelompok massa yang memgang beleid keputusan MUI ttg fatwa sesat atas sekelompok jamaah. Mereka merasa berhak melakukan pembasmian atas nama ajaran agama yang dibawa untuk menyempurnakan akhlak. Dan sempurnakah akhlaknya dengan merusak, menganiaya sesama manusia? [jadi teringat kaum khawarij yg sangat santun dan menghormati umat agama lain, tapi begitu kejam menyembelih sesama muslim yang berbeda keyakinan]

Popularity: 21% [?]

There are 2 Comments for
    “Suara Tuhan?”

  1. eriza lesmanaon 20 Nov 2007 at 3:31 pm

    Artikel yang cukup menarik dan “menggoda” pemikiran :).
    Suara “rakyat” adalah suara tuhan ? kl kita bawa dalam konteks rumah tangga (organisasi kecil dibanding negara), apakah suara anak (anak kecil dalam hal ini) suara tuhan ? Anak yang kita didik dan asuh dgn nilai2x agama, sosial dll. Pada saat kita sebagai ayah (kepala keluarga atau presiden dlm pemerintah), melakukan ucapan atau tindakan yg tidak sesuai dgn nilai2x yg kita telah tanamkan, anak itu pasti akan bertanya/menegur. Menyampaikan aspirasinya dgn gaya bahasa yang lucu dan tulus. Tanpa ada kepentingan pribadi atas dasar nafsu semata.

    Mungkin suara anak kecil ini yg bisa disebut mewakili suara tuhan :).

  2. rusleon 20 Nov 2007 at 4:28 pm

    thanks boss..
    suara anak kecil, iya saya setuju…suara yg no-interest selain hanya yg dasar aja…:)
    that’s the really pure voice…:)
    so, it could be the good (not GOD) voice

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Comment, please?

ipul