Sepakbola Indonesia: Pembinaan Setengah Hati

daengrusle December 13th, 2007

 3171456_anak10.jpg

Syaifullah Daeng Gassing, seorang profesional muda yang juga pencinta fanatik olahraga sepakbola, mengungkapkan keperihannya tentang kisah muram sepakbola Indonesia dalam tulisan di blognya http://daenggassing.com. Penggemar MU itu menumpahkan kekecewaannya dengan merapalkan kalimat dukacita akan kegagalan Timnas Indonesia melaju ke semifinal Sea Games 2007. Syaifullah menulis postingan yang diberi tajuk “Sepakbola kita yang telah mati”, “Saya dan mungkin teman-teman yang lain juga hanya bisa berteriak kesal, mengumpat dan mencaci maki. Kita mungkin tak punya cukup kuasa untuk memperbaiki sepakbola kita yang kusutnya jauh lebih kusut dari kusutnya benang manapun di dunia ini. Kita sama sekali sudah bingung harus memulai dari mana. Semua seperti tak berujung dan tak berpangkal. Kita berada dalam sebuah labirin yang terus saja menubrukkan kita pada dinding-dinding masalah tanpa pernah melihat titik terang yang sesungguhnya.”

Tidak ada yang lebih sia-sia selain kemunduran. Kemunduran berarti menafikkan semua harapan, potensi, sumberdaya dan kesempatan yang telah diberikan. Semua pihak akan kecewa, terutama karena kemunduran mengandung arti bahwa keadaan saat ini lebih buruk dari sebelumnya. Dari kacamata etis, ada unsur korupsi waktu dan kesempatan. Mundur jauh lebih buruk dari pada gagal, walaupun sama mengecewakan. Tapi kita bisa banyak belajar dan bangkit maju setelah gagal. Sementara, mundur adalah kebodohan yang diulangi dari kegagalan demi kegagalan, berulang-ulang tanpa ada gerak positif ke depan. Tidak ada proses belajar dan kebangkitan dalam suatu kemunduran. Tidak ada introspeksi, tidak ada etos. Malu, sekiranya masih punya rasa ini, dan kecewa sudah pasti.

Kemunduran Prestasi Sepakbola Indonesia
Membicarakan kemunduran, adalah membicarakan prestasi. Contoh paling baik yang merepresentasikan makna sebuah kemunduran adalah prestasi sepakbola Indonesia. Indonesia pernah menjajal ajang Piala Dunia di Prancis tahun 1938 yang saat itu bernama Hindia-Belanda, dan tercatat sebagai negara Asia pertama yang masuk ke putaran final Piala Dunia. Namun setelahnya, tidak pernah sekalipun masuk lagi. Bahkan berita terkini tentang keikutsertaan Indonesia di ajang Kualifikasi Piala Dunia 2010 yang sama kita ingin segera melupakannya karena malu; langkah tim nasional Indonesia terhenti di ronde kedua usai tersingkir secara memalukan di tangan Suriah dengan agregat 11-1. Dalam pertandingan leg kedua, Suriah menang dengan skor mencolok 7-0. Negara Arab - Suriah yang tradisi perangnya masih lebih kondang daripada sepakbola nya membuat tim Indonesia seperti tim kampungan.

Terakhir tim kita juga kehabisan napas di ajang regional, SEA Games 2007 di Thailand. Kalah bersaing dengan Myanmar dan Thailand. Dan sang pelatih; Ivan Kolev pun pasrah, mengaku siap dipecat sembari menyalahkan persiapan yang hanya sedikit. Walau kita sama tahu bahwa untuk ‘persiapan’ ini si Kolev sudah menghabiskan miliaran duit negara untuk beranjangsana ke negara kampiun bola, Argentina. Hasil pelesir ke negeri Maradona itu kemudian terbukti cuman pepesan kosong saja atawa cekak prestasi; melawan tim sekelas Kamboja hanya bisa menang tipis, 3-1, bermain kaca mata 0-0 melawan Burma, dan keok (lagi) di tangan Tim Gajah Putih, 1-2. Dan Indonesia pun gagal melaju ke babak berikutnya, tersisih oleh Burma dan Thailand.

Di ajang Asia, Indonesia pernah sangat disegani. Tim-tim ras kuning dan negeri arab teramat khawatir jikalau dihadapkan dengan tim Indonesia. Di dekade 1970an, berbagai gelar juara di turnamen tingkat Asia disabet tim kebanggaan Indonesia ini, seperti President Cup Seoul, Kings Cup Bangkok, Pesta Sukan Singapura, dan Aniversary Cup Jakarta. Saat itu, tim-tim seperti Korea, Jepang, Arab Saudi, Iran, China masih dibawah bayang-bayang Indonesia. Bahkan tim seperti Malaysia, Vietnam, Singapura masih dianggap tim kacangan dan dijadikan ajang pesta gol bagi Indonesia. Bahkan sejak 1958, Indonesia dibawah asuhan pelatih legendaris asal Yugoslavia Tony Pogacnik sudah menoreh prestasi dengan menyabet perunggu di Asian Games III yang saat itu berlangsung di Jepang. Prestasi paling fenomenal Indonesia adalah ketika berhasil menahan Uni Sovyet, seri tanpa gol di babak perempat final sepakbola Olimpiade Melbourne tahun 1956. Uni Soviet kala itu merupakan kekuatan baru yang sangat ditakuti dunia dan diperkuat oleh kiper legendaris Lev Yashin, lalu pemain-pemain hebat sekelas Igor Netto, Anatoly Bashashkin, dan Boris Tatushin.Tim Indonesia saat itu diperkuat Maulwi Saelan, Chaerudin Siregar, Ramang, Aang Witarsa, Ramlan Yatim, Liong Houw, Kwee Kiat Sek, Thio Him Tjiang, dan Beng Ing Hien. Sayang, dalam partai ulangan yang digelar tiga hari kemudian, tim Indonesia yang kelelahan takluk 0-4. Soviet sendiri kemudian melaju meraih medali emas Olimpiade Melbourne.

Nama-nama pemain Indonesia saat itu begitu harum, bahkan hingga kini. Ramang, bahkan menjadi semacam tokoh mitos di kampung asalnya, Makassar. Patungnya berdiri megah di alun-alun kota Karebosi, seakan menandai bahwa Sepakbola Indonesia pernah tegak berbangga di ajang dunia. Tak lupa beredar cerita rakyat yang terkadang berlebihan mengenai kehebatan kaki Ramang ini yang konon kabarnya tendangannya begitu keras sampai merubuhkan tiang gawan Lev Yashin. Latihan sepak a la Ramang pun tidak biasa menurut cerita itu, yakni dengan betis yang dibentur-benturkan pada balok kayu keras, mirip latihan a la Warkop. PSM, klub sepakbola kebanggan kota Makassar, bahkan mendapat sebutan Pasukan Ramang, demi untuk mendapat tuah keberhasilan pahlawan olahraga Indonesia itu.

PSSI Yang Perlu Berkaca Lagi
Sejak berdirinya, Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI), 19 April 1930 di masa penjajahan Belanda, PSSI di samping dikenal sebagai organisasi sepak bola nasional, juga dikenal sebagai alat perjuangan bangsa. Karena itu PSSI memiliki kekhasan tersendiri dibandingkan anggota FIFA lainnya. PSSI adalah alat perjuangan fisik dan mental. Kalau kini perjuangan fisik sudah tidak relevan lagi, maka perjuangan meraih prestasilah yang menjadi tugas utama PSSI. Prestasi, ya tidak ada yang lain selain prestasi. Selain akan memacu semangat bangsa untuk membangun, juga prestasi bisa menaikkan kejumawaan jati diri bangsa di dunia internasional sebagai bangsa terhormat, bukan bangsa paria.
Prestasi sepakbola Indonesia, semenjak keruntuhan Orde Baru tidak pernah cemerlang lagi. Badai krisis ekonomi mungkin ikut meluluhlantakkan semangat dan prestasi para pebola kita.

Tapi menyalahkan krisis juga tidak bijak karena petaka itu sudah sepantasnya berlalu. Kita bahkan pernah mengalami hal serupa, bahkan lebih buruk. Di jaman Orde Lama, secara ekonomi Indonesia bisa dibilang melarat, tetap saja kita berprestasi membanggakan di ajang internasional sebagaimana dipaparkan di awal tulisan. Memotret realitas sekarang ini, bukan saja pemain Indonesia miskin prestasi, tapi juga pengurusnya yang makin kacau balau dalam menggawangi persepakbolaan nasional. Masih ingat kasus Arema Malang dan Persipura yang gagal mengikuti kompetisi Piala Champion Asia hanya karena pengurus PSSI melakukan keterlambatan mengirimkan formulir registrasi. Akibatnya, dua tim tersebut terpental sebelum bertanding. Profesionalisme yang digadang oleh pengurus saat dilantik, terbukti dijalankan hanya dengan setengah hati. Tidak serius dan mencla-mencle, sehingga terkadang mengorbankan semangat kompetisi dan profesionalisme klub dan pemain yang bernaung di bawahnya.

Pernah, kompetisi Liga Indonesia tidak menerapkan sistem degradasi hanya karena mau bersimpati kepada tim PSIM yang sebahagian besar pemainnya terkena bencana gempa bumi, 2006 silam. Padahal, sewajarnya PSSI juga menghargai semangat universal dari suatu kompetisi, bahwa ada sistem reward dan punishment untuk yang telah berkompetisi. Bagi yang tidak mampu bertarung di ajangnya, selayaknya disediakan penyaluran untuk menaikkan prestasinya walaupun berbentuk hukuman, degradasi.

Sepakbola kita, yang mungkin penggemarnya masih lebih banyak dari pada total penduduk Belanda ini, mungkin sudah sering dipetuahkan untuk perlu berkaca kepada negara lain yang menunjukkan prestasi bagus walau kondisi negaranya tidak terlalu mendukung. Amerika Serikat, sepakbola nya (atau lebih dikenal sebagai soccer) masih kalah kondang dibanding basket, baseball, atau golf ini sudah jadi langganan Piala Dunia. Warga nya sendiri masih banyak yang tidak terlalu menyukai olahraga ini, walaupun demikian mampu menarik David Beckham untuk bermain penuh disana lewat klub LA Galaxy, terlepas dari motif ekonomi dan kepopuleran yang mungkin bisa diperoleh disana. Contoh lain yang lebih dekat, Singapura. Negeri ini dibandingkan dengan Indonesia, mungkin cuman seupil saja luas geografisnya. Jumlah penduduknya, hanya separuh dari jumlah penduduk Jakarta. Tapi prestasi sepakbola negeri Tumasek ini jauh lebih membanggakan akhir-akhir ini. Singapura berhasil memenangkan Piala Tiger 2004 dan 2006, diantaranya mengalahkan Indonesia di partai final 2004. Terakhir, saat Singapura berhasil melenggang masuk Semi Final Sea Games 2007, Indonesia malah ambrol di babak penyisihan. Memang ada yang kemudian menyorot banyaknya pemain Singapura hasil naturalisasi, yakni setidaknya 8 pemain timnas Singapura sebagaimana yang dilansir oleh banyak pihak. Tapi apa lah yang ada dibalik kemampuan seorang pemain? Bukan warna kulit dan postur tubuh. Tapi latihan dan semangat serta mental bertanding.

Pembinaan Setengah Hati
Indonesia sebenarnya sudah cukup punya modal kuat untuk mengembangkan prestasi sepakbola nya. Fanatisme. Jumlah penggemar sepakbola di negara ini sangat banyak, sepakbola adalah olahraga nomor satu. Walaupun makin menurun, lapangan sepakbola baik yang standard maupun asal bikin sungguh sangat banyak di Indonesia. Dari kota hingga pelosok kampung, banyak bertebaran lapangan kosong yang lebih sering dijadikan sebagai lapangan sepakbola. Anak-anak Indonesia dari Sabang sampai Merauke pasti sangat familiar dengan olahraga yang mengusung semangat komunal ini, bahkan yang berjenis kelamin perempuan. Promosi melalui program acara dan news olahraga yang lebih banyak menjadikan sepakbola baik lokal dan luar negeri sebagai main topic pun banyak sekali di tayangkan oleh hampir semua stasiun televisi nasional kita.

Lantas, apa yang kurang? Mungkin hanya satu hal saja kekurangan kita, tapi justru yang paling penting. Pembinaan. Ditengarai bahwa sistem pembinaan pemain muda masih setengah hati, tidak menyeluruh dan serius. Di seluruh Indonesia, ada berapa turnamen yang rutin diselenggarakan secara berkala dan berdurasi panjang? Yang tercatat mungkin hanya kompetisi liga berskala nasional saja, sedang untuk tingkat yang lebih lokal dan usia lebih belia, teramat jarang dijumpai. Padahal melalui kompetisi yang rutin inilah, negara-negara yang berprestasi dalam sepakbola mampu menghasilkan pemain-pemain muda berbakat yang matang karena ditempa oleh kompetisi.

Sebagai permisalan, anak-anak di Perancis setiap minggu bertanding sepakbola dengan sistem kandang dan tandang. Di Brazil, sepakbola amatir dikelola dengan sistem berjenjang lima lapis usia dini; 10 thn., 13 thn., 15 thn., 17 thn., dan 20 thn yang rutin melakukan kompetisi. Dana pembinaan diperoleh dari subsidi klub profesional yang menaungi mereka, bukan dari anggaran daerah sebagaimana yang kita banyak saksikan di Indonesia. Dengan lapangan dan pelatih yang tidak terlalu mentereng, anak-anak muda itu bersemangat berlatih dan berkompetisi. Nama besar pemain-pemain besutan liga itu menambah semangat mereka menjejak prestasi maksimal. Siapa yang tak ingin seperti Ronaldo, Kaka dan Ronaldinho?

Di Indonesia, memang sudah cukup banyak bertebaran model pembinaan semacam SSB (Sekolah Sepak Bola), terutama semenjak akhir tahun 1990-an. Sistem pembinaan usia muda yang hanya menyentuh anak-anak di perkotaan itu cukup menjanjikan sebagai ajang pencarian bibit unggul. Walaupun sedikit berbau komersial, namun untuk sebuah proses pembinaan keberadaan SSB ini cukup membantu PSSI.

Banyak pemain-pemain remaja berbakat anggota timnas muda kita yang didulang dari SSB ini. Bahkan dalam ajang Piala Dunia Danone U-12, Indonesia selalu diwakili oleh SSB sejak tahun 2003. Prestasi maksimal yang pernah diraih adalah ketika Indonesia diwakili oleh SSB Makassar Football Club (MFS) yakni menjadi peringkat ke-11 dari 32 Negara di tahun 2005. Selain menduduki peringkat 11 dari 32 negara, MFS pulang ke Indonesia membawa pulang penghargaan lainnya yakni best attack team dan top scorer yang disabet oleh Irvin Museng yang mengkoleksi 10 gol. Belakangan Irvin Museng kemudian berangkat ke Ajax-Belanda untuk menimba ilmu sepakbola, namun hingga saat ini berita keberadaanya malah simpang siur.

Sistem pembinaan a la SSB itu masih banyak mengundang kritik, terutama karena SSB tidak banyak melakukan kompetisi yang rutin dan berkala seperti liga. Kompetisi yang diikuti hanyalah kejuaraan yang bersifat sporadis saja. Selain itu, PSSI dinilai sangat pelit untuk berkunjung ke daerah-daerah yang memiliki SSB sehingga sistem pembinaan ini hanya berskala lokal saja. Padahal PSSI sebenarnya bisa menangguk banyak keuntungan dari kerja sama dengan SSB ini, diantaranya penjaringan bibit unggul tadi yang sifatnya kolosal. Ditengarai, saat ini sistem pencomotan pemain muda berbakat hanya dilandaskan pada sistem kekerabatan saja. Artinya, hanya SSB yang memiliki hubungan dekat dengan pengurus PSSI yang pemainnya terpantau dengan baik, atau si pengurus SSB itu yang aktif menyodorkan pemain-pemain berbakatnya. Tidak ada tindakan pro-aktif dari PSSI untuk menyemai pemain-pemain muda ini dengan terjun langsung memantau kompetisi atau sekolah-sekolah.

Kalau pembinaan melalui SSB masih dipandang komersil bagi sebahagian orang, terutama karena biaya nya yang relatif mahal, maka ada cara pembinaan yang lebih murah dan mudah yakni melalui sekolah. Dengan menyertakan sistem pembinaan dalam kurikulum pendidikan, baik itu dianggap bagian dari kegiatan kurikuler ataupun extra-kurikuler, sebenarnya cukup jitu untuk menjaring pemain muda berbakat. Apalagi karena hampir tidak ada kendala biaya lagi bagi anak-anak miskin, karena saat ini kegiatan pembelajaran di tingkat SD sampai SMA sudah ditalangi oleh dana BOS (Bantuan Operasional Sekolah) atau subsidi pemerintah. Coba bayangkan kalo di setiap daerah punya liga sepakbola antar sekolah, betapa banyak kompetisi yang bergulir dan bersifat rutin. Betapa banyak pula bibit emas sepakbola yang akan bersinar di ajang ini.

Namun sayangnya, tidak pernah juga terdengar ada upaya dari PSSI untuk memasukkan sepakbola ini dalam kurikulum pendidikan nasional. Dan sebaliknya, tidak ada juga upaya dari departement terkait untuk melakukan pembinaan internal, selain hanya sekedar salah satu topik dalam mata ajaran pendidikan Jasmani, itupun lebih kepada teori tentang peraturan permainan saja.

Terakhir, pembinaan yang terencana baik tentu tetap tidak akan berjalan tanpa dikelola oleh pengurus yang mumpuni. Sudah sering kita baca dan lihat di berbagai media bahwa ketua umum PSSI kita sekarang menjadi pesakitan akibat kasus korupsi yang tiada habisnya. Para pengurus pun tetap bersikukuh untuk mempertahankan sang ketua tetap di kursinya yang saat ini justru lowong karena dibawa ke penjara. Para pimpinan klub profesional setali tiga uang, tidak ada upaya serius untuk melakukan peremajaan pengurus induk. Sepakbola di Indonesia, menjadi lebih terlihat kental suasana politis dan ekonomis nya daripada prestasi dan sportifitas. Tim-tim sepakbola profesional yang berlaga di liga Indonesia pun sebahagian besar masih mengemis dana APBD untuk operasionalnya, yang sebagian besar dialokasikan untuk belanja pemain saja, bukan untuk pembinaan pemain. Selain itu, perlu keseriusan dari pemerintah untuk ikut memasukkan nilai-nilai nasionalisme dalam diri anak-anak Indonesia, sehingga bisa terpacu untuk bersaing dan berprestasi internasional. Bukan malah ikut membuyarkan mimpi mereka, sebagaimana yang terjadi pada MFS2000 yang akhirnya dibubarkan oleh pemiliknya karena lapangan Karebosi yang dijadikan tempat latihan direvitalisasi secara komersial oleh pemerintah kota Makassar. Juga, agar Syaifullah Daeng Gassing bisa tersenyum lagi, dan menorehkan tulisan di blognya dengan ungkapan bangga tentang prestasi sepakbola kita.

Popularity: 17% [?]

There are 4 Comments for
    “Sepakbola Indonesia: Pembinaan Setengah Hati”

  1. deenon 13 Dec 2007 at 5:32 pm

    *tdk baca sampe abis, saking kecewanya ma persepakbolaan ta’*

    Cmn pernah ku dengar paceku menggerutu, mungkin saking hopelessnya mi ma atlit2 sepakbolata’. Beliau cmn bs mengumpat….
    “Tidak mungkin mi itu negarata’ ikut Piala Dunia, dikalah lari memangki duluan ma negera2 Eropa. Bagemana tidak, makan tempe tahu teruski belaaa.. susah makan daging di Indonesia..”

    Hehehe…

  2. sultan habnoeron 14 Dec 2007 at 2:50 pm

    Sepak Indonesia; pembinaan setengah hati, permainan setengah mati, prestasi mati maki, tidak ada. Lebih baik melatih gajah main bola saja, lebih terhibur… se..jengkel sekali ka, sama pengurus bola kita, melawan Myammar yang perang sepanjang tahun saja, tidak mampu cetak gol, padahal sudah menghabiskan uang milyaran untuk berlatih di Argentina. Maaf daeng, memang kalau bicara sepak bola Indonesia saya selalu emosi.. hidup EPL, La Liga, dan Liga Caccio..he..he..ini baru bola

  3. Ipulon 14 Dec 2007 at 4:08 pm

    Deen..
    kalo soal makanan saya kira ndak terlalu banyakji bedanya…
    contohnya negara2 Afrika…mereka makanannya lebih pas-pasan daripada Indonesia, tapi buktinya bisaji lebih maju sepakbolanya…

    kalo kita masalahnya adalah..
    adalah…
    ahh..malas ma’ deh…
    susah mi dicari ujung pangkalnya…

    hahahaha…

  4. daengrusleon 14 Dec 2007 at 4:29 pm

    @deen; iye kita semua kecewa. tp umpatan kadang tdk menyelesaikan masalah, tetaplah berprasangka baik dan optimis bahwa akan tiba masanya keberhasilan itu tiba.

    @dg sultan: iye, pengurus bola kita memang sudah tuli dan buta. mereka masih saja berkacak pinggang walau tim kita sudah empot-empotan dihantam kegagalan. tp mudah2an masa ini akan cepat berlalu, dan pengurus skrg segera tergantikan.

    @ipul: iye, kegagalan dan kemunduran hanya disebabkan oleh ketidaksiapan. tidak ada hubungannya dengan faktor fisik dan external lainnya.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Comment, please?

ally