[Buku] Rumah Kenangan bernama Perempuan
daengrusle December 23rd, 2007
Review ini dimuat juga di Panyingkul: Perempuan yang Menjalin Seluruh Hidup dan Kenangan
Judul: Perempuan, Rumah Kenangan
Pengarang: M Aan Mansyur
Penerbit: INSIST Press, Yogyakarta, April 2007
Halaman: xii+186 halaman, 13×19cm
Mengapa Perempuan?
Perempuan dan inspirasi, sepertinya adalah dua hal yang ditakdirkan selalu berkolaborasi – bahkan bagi dunia yang didominasi peran kaum lelaki. Bukan karena setiap manusia dilahirkan dari rahim seorang perempuan – kecuali nabi Adam, tapi perempuan, sesungguhnya adalah pokok tangguh yang menyalakan dan mewarnai kehidupan. Kaum lelaki, hanya perlu membawa bahan bakar dan alat tulis, dan perempuanlah yang akan menyalakan api-mula-hidup, merangkai, mewarnai-menulisi dan mengakhiri kehidupannya. Cerita hidup bisa serta merta berubah dari sedih menjadi gelak tawa dan senyum riang, karena perempuan. Juga sebaliknya, kisah yang diplot bahagia bisa sesegera mungkin menjadi muram durja karena perempuan. Kisah perang Troya, perang Bubat, La Galigo, Caligula hingga sinetron-sinetron yang saban hari merasuki ruang tengah rumah kita hari ini, sudah cukup untuk membuktikan hal ini. Hingga kini, sudah ribuan atau jutaan judul cerpen, novel, film, larik puisi, lagu dan sebagainya yang diciptakan dari pengalaman bathin bersentuhan dengan sosok perempuan.
Mungkin Tuhan pun sampai saat ini masih terpekur terpana mengagumi ciptaanNya ini. Diberitakan – melalui perumpaan – Tuhan pun sampai rela berbagi surga dengan telapak kaki mahluk yang di cap lemah lembut gemulai ini. Namun kemudian secara frontal, beberapa pendeta, pemuka agama yang anti-feminim menciptakan banyak khotbah dan fatwa bodoh nan sesat yang me-reduksi kelebihan perempuan, alih-alih merusak citra perempuan. Padahal, melalui banyak penelitian, perempuan bahkan terbukti jauh lebih tangguh mengarungi hidup dibanding lelaki. Ketahanannya melawan derita, dan juga penyakit, bisa ratusan kali dibanding kaum lelaki.
Sejak jaman mitos, yang salah satunya diwakili kisah perang Troya dari Yunani dan Sure’ La Galigo dari kesusatraan bugis purba, perempuan sudah menjadi tokoh sentral dalam kedua epos tersebut. Pesona Putri Helena dari Sparta membuat pangeran Paris dari Troya mabuk kepayang, adalah muasal pecahnya perang dahsyat antara dua kerajaan Yunani purba; Sparta dan Troya. Dalam sure’ la Galigo, kisah paling dramatis didongengkan melalui perjalanan Sawerigading, sang bangsawan darah putih kerajaan Luwu purba, melanglang buana mengarungi samudera menghadapi sekian perang maha-dahsyat demi merebut cinta seorang perempuan yang nun jauh berada di negeri Cina Pammana – We Cudai.
Novel ini juga berkisah tentang perempuan – setidaknya ditampilkan dari sebahagian besar halamannya. Berangkat dari tutur seorang tokoh lelaki, tentu saja - Siapa lagi yang bisa mengapresiasi ke-perempuan-an secara sangat romantis – walau kadang sinis - selain lawan jenisnya? Demikian juga kisah lelaki dalam novel ini, yang menceritakan perempuan dengan romantis-puitis. Novel ini juga bercerita banyak tentang kisah yang sepi, sedih; kanak-kanak hingga dewasa. Kesedihan dan kesedihan dihasilkan secepat senja yang muram mengganti siang yang riang.
Alur kisah seorang lelaki tokoh utama novel ini bernama Ian, mungkin sedikit diplesetkan dari nama penulis, dimulai dari masa depan. Seorang lelaki yang menjadikan dirinya sebagai puisi, duduk mengenang dibanjiri masa lalunya selepas membaca kartu pos yang dikirimkan oleh seorang perempuan, yang namanya tidak pernah disebutkan sepanjang novel ini, yang pernah meletakkan pondasi rumah kenangan di hatinya.
Rumah Kenangan bernama Perempuan
Hal besar digerakkan oleh hal kecil [hal. 6], demikian alasan tokoh novel ini menuliskan kisahnya. Kisah tentang masa kecil, buku, dan perempuan-perempuan yang pernah hadir di hatinya. Dari merenungi jawaban atas sebuah kartu pos bergambar wanita berpakain hitam yang memeluk bebungaan putih, mengalirlah kemudian sebuah kisah rahasia yang terlipat rapi di sebuah rak di sudut kamar dada nya.
Kenangan masa kecil, yang penuh dengan keajaiban dan dibesarkan oleh sepi, menjadi pembuka kisah ini. Aan menggambarkannya dengan indah; Bagaimanapun sepi dan tidak bahagianya masa kecil, ia tetaplah sebuah karya sastra yang sealu menarik untuk dibuka dan dibaca, dibaca lagi. Uniknya, setiap orang memiliki karya sastra nya masing-masing dengan sangat khas. Disitulah letak indahnya berbagi dan menziarahi masa kanak kita [hal. 22]. Masa kanak-kanak adalah masa yang penuh keajaiban bagi semua orang, terutama ketika mulai mengenal dan menyadari sesuatu. Namun di novel ini, keajaiban-keajaiban tidak lah cuman selazim itu. Memiliki kemampuan melihat hal-hal gaib, terkadang selain dianggap kemampaun yang supranatural, juga membawa ‘beban’ yang ironis. Terutama ketika si kecil Ian melihat cahaya serupa lilin kecil di bawah pohon besar di tengah pekuburan, tepat semalam sebelum mempersembahkan satu kenyataan yang menyesakkan, sang nenek Enda yang melepas raga. Kemampuan melihat cahaya lilin kecil itu menjadi semacam ramalan, bahwa akan ada yang pergi keesokan harinya.
Hidupku memang sejak awal lebih didominasi perempuan. Aku senang diatur oleh perempuan,. Aku senang dikuasai oleh perempuan [hal 67]. Perempuan, yang kemudian menjadi sentra kenangan, dibentuk dalam banyak wujud di novel ini; Nenek, Ibu, Riana, Esti, Hujan, bahkan Tuhan. Tentang perempuan dan penggambaran sosok Tuhan, novel ini memberikan kiasan yang ganjil tapi cerdas; Perempuan adalah nama lain dari Tuhan bagi bibir-bibir mungil anak kecil [hal. 53]. Atau ketika menceritakan sosok Ibu yang ditinggalkan ayah; Tuhan pasti seorang perempuan. Laki-laki tak bisa dipercaya [hal 62].
Seperti banyak sudah digambarkan oleh para penyair sepanjang masa, perempuan mendapat gambaran sangat istimewa di novel ini. Perempuan adalah keindahan yang banyak tersimpan di kepala orang, sesuatu yang tidak mati oleh mata pisau waktu [hal. 53]. Namun kadang membingungkan, ditinjau dari sikap yang sering ditempuhnya. Barangkali perempuan memang ditakdirkan menjadi sebuah lukisan abstrak – susah dan karenanya tak perlu dipahami [hal 61]. Hujan, juga mendapat tempat istimewa dalam pandangan sang tokoh; Setiap hujan turun, ada saja yang bisa dituliskan. Peristiwa alam yang paling inspiratif, indah dan cantik adalah hujan [hal 55]. Ya, terlalu banyak kata ‘hujan’ yang bisa ditemukan di novel tipis ini.
Klimaks dari novel ini, kalau kita bisa menyebutnya demikian, adalah tentang seorang perempuan – yang tak pernah disebutkan namanya sepanjang kisah ini. Kisah-kisah percintaan sang tokoh dengan perempuan ini digambarkan seperti musim. Musim semi dan musim gugur. Musim semi yang indah dimulai saat Ian membaca geligi perempuan itu; seperti deretan huruf-huruf sebuah puisi yang terindah yang belum pernah dituliskan oleh penyair siapa pundi dunia ini. Geligi yang memenjarakan aku seketika…[hal 96]. Selepas itu, tiga tahun sembilan bulan, sepasang kekasih itu meretas dan memintal kisah bak di surga. Apa sesungguhnya yang diinginkan lelaki dan perempuan dalam hidupnya? Simpel. Laki-laki; ingin haknya terpenuhi dan tak akan minta lebih. Perempuan; ingin haknya terpenuhi dan tak akan ada yang kurang [hal. 108]. Demikian Aan membandingkan dua jenis manusia itu. Kemudian, di akhir percintaan mereka mulai memintal benang kasih menjadi tenunan bernama kenangan. Ya, kenangan. Karena kemudian yang tersisa hanya itu di akhir musim gugur, ketika si perempuan menikah dengan lelaki yang gagah, taat beragama, cukup kaya, mandul dan tidak berumur panjang. Tragis.
Mungkin hanya sosok lelaki saja yang paling sial dalam novel ini, meskipun sang tokoh berjenis kelamin lelaki. Pengalaman memiliki kakek dan ayah yang bajingan, membuat tokoh Ian menganulir semua kelebihan-kelebihan lelaki; Lihatlah, Ayah pergi dan tak pernah punya rasa rindu pada istri dan anaknya. Lihatlah, Kakek suka menikahi perempuan-perempuan lalu meninggalkannya seperti sampah. Apa yang bisa dilakukan oleh laki-laki? Apa? Tak ada kecuali hal-hal bajingan [hal. 62]. Bukankah pria dan ayah adalah bajingan? [hal 66]. Dan kemudian ditimpali dengan pertanyaan pembangkangan; Apa maksudmu melahirkan aku sebagai lelaki, Tuhan? [hal 62].
Namun tidak semua lelaki adalah bajingan. Hanya sosok Rahman saja yang menjadi lelaki sempurna di benak sang tokoh. Rahman yang cerdas, pencinta buku dan sarjana yang memilih hidup menjadi peladang dan pedagang gula merah, menjadi inspirasi kuat yang mendorong sang tokoh menjadi penulis; menulis adalah perang melawan sepi [hal. 33].
Tentang Buku, dan melulu Buku!
Dari masa kanak-kanak nan sepi, kemudian kita dibawa menjelajahi kisah yang lain yang juga diparalelkan dengan kecintaan sang tokoh pada satu hal paling penting yang diceritakan berulang-ulang di sepanjang novel ini, buku! Ya, Buku menjadi semacam tinta perekat bagi keseluruhan kisah dalam novel ini. Buku, mungkin seharusnya menjadi inspirasi satu-satunya sehingga seluruh kisah tentang perempuan ini dibuat. Buku itu seperti kapak es yang akan memecahkan seluruh kebekuan dalam dada kita [hal. 31]. Dari perkenalannya dengan tokoh lelaki baik bernama Rahman, hingga kisah asmaranya dengan beberapa perempuan sampai kepada perempuan terakhir yang mengisi relung hati sang tokoh, perempuan yang hingga di akhir cerita tak pernah disebutkan namanya. Betapapun pedih kisah asmara nya di akhir cerita, toh memberikan sebuah Rumah Buku yang menjadikan kenangan itu adalah ibarat monumen yang dibanggakan.
Juga ada kisah tentang orang-orang baik dan aneh yang menggemari buku. Bermula dari ketertegunan akan sepasang lelaki aneh yang membawa tas besar berisi buku-buku di punggungnya, yang disaksikan sang tokoh saat di bangku kuliah [Bab Orang-Orang Aneh dan Buku]. Ia menyebutnya, Perpustakaan Punggung. Dua lelaki itu, sungguh, betul-betul membawa perpustakaan di punggungnya masing-masing. Dua orang seperti inilah yang dibutuhkan dunia…Ternyata, selalu saja ada jalan untuk melakukan hal-hal baik [hal. 87]. Berawal dari pergumulan dengan komunitas aneh pencinta buku lah, si tokoh Ian membuat mimpi, mimpi yang dikemudian hari diwujudkan bersama sang perempuan yang tidak disebutkan namanya itu disebutnya, Rumah Buku.
Dalam pengantarnya, Aan memberikan apresiasi maksimal untuk lembaran kertas bertulis itu.
Tak ada sekolah sehebat buku-buku.
Tak ada sahabat sesabar halaman-halaman buku [hal ix],dan dihalaman yang sama;
Aku selalu membayangkan surga itu seperti perpustakaan.
Untuk itu aku ingin menjadi penjaga surga, penjaga perpustakaan.
Membaca apresiasi Aan terhadap buku, maka tak heran kalau Aan kemudian melabeli blognya sebagai pecandubuku (http://pecandubuku.blogspot.com), dan memperkenalkan pekerjaannya sebagai pustakawan di Biblioholic [halaman akhir novel; Tentang Penulis].
====
Bagaimana cara membaca novel ini? Pertanyaan bodoh ini sempat saya tanyakan kepada Aan saat menerima buku ini, bulan Juli silam di Makassar, sesaat sebelum bernyanyi di salah satu tempat Karaoke bersama teman2 dari komunitas Blogger Angingmammiri. Jawaban yang saya terima cukup diplomatis dan sedikit berpromosi, membangkitkan rasa penasaran. “Membacanya bisa dimulai dari bagian mana saja. Sama saja” jawab Aan. Ya, walaupun Anda konservatif dalam metode membaca urut-urutan buku, cobalah mengubah gaya membaca pada novel ini, khusus di novel ini saja dan temukan pembuktiannya.
Terlalu sulit untuk tidak menyangka bahwa novel ini bukanlah rentang bentang lengang jalan hidup seorang Aan Mansyur. Sejatinya kisah-kisah yang diungkap dalam novel ini lebih tepat disebut autobiografi puitis, bahkan untuk kisah imajiner tentang sebuah kartu pos yang tiba di masa depan, pagi di tahun 2020. Kisah imajiner itu mungkin adalah proyeksi nyata dari sepenggal kisah yang ditapak di masa sebelumnya. Apakah ini benar kisah hidup seorang penyair Aan? Hanya Aan saja yang tahu, dan kita tidak perlu mempersoalkannya. Yang jelas, Aan sempat menyelipkan sesuatu yang bisa dianggap jawaban atas pertanyaan ini di halaman pengantarnya; Di Beranda Sebelum Masuk;
Masa kanak-kanakku menyerbu tak bisa kuelakkan – memaksaku menuliskan sesuatu tentangnya. Atau pada frase lanjutan: Aku adalah anak durhaka yang malas pulang menjenguk kampung dan masa lalu….Novel ini adalah bayaran atas kesalahan itu – yang tentu saja tak pernah mampu setimpal. [hal vii].
Sebagai seorang penyair yang pendiam, Aan malah maruk menghamburkan kata-kata manis nan puitis dalam menulis, terutama ketika bertutur tentang kisah yang teramat membekas dalam perjalanan hidupnya. Anda yang menggemari tiga hal; puisi, buku dan perempuan dijamin akan mengalami ejakulasi perasaan yang tereksitasi ke tingkat sedemikian rupa pada saat mencapai kata terakhir dalam novel ini, dibagian manapun anda mengakhiri pembacaan.
Jika semua orang punya kemampuan menuliskan kenangan sebaik Aan, maka niscaya toko-toko buku dan perpustakaan akan dipenuhi oleh novel-novel atau autobiografi yang luar biasa menggugah. Bukankah masa lalu setiap manusia itu pasti unik sehingga, dengan demikian, menarik?
Tanpa bermaksud menambah dosis pujian terhadap novel ini, sesungguhnya novel ini ibarat cermin yang buram. Buram oleh kenangan, yang belum tentu indah. Pembaca akan digiring untuk berkaca pada kenangan masing-masing, sesuatu yang dimiliki oleh semua orang. Kenanganlah yang akan menuntun kita berjalan ke depan meski ia selalu tertegun melihat kita menjauh meninggalkannya, namun tak pernah sekalipun marah jika datang lagi mengusikanya. Kenangan, sahabat sejati. Kenangan, kekasih sejati. Demikian Aan menempatkan kenangan dalam pem’baca’annya.
Foto dibawah ini: M Aan Mansyur.
Popularity: 17% [?]















PERTAMAX!!!
Hehehehe.. tawwa Aan dibahas novelnya di sini *wink2*
Hmmm saya kok lebih tersummon ama kopdar karaokenya Blogger Makassar yah, hihihi..
Btw tentang novel Aan.. keren memang!
Dan benar, seperti kata Aan, novel ini bisa dibaca dari mana saja. Dari membaca novel ini, kita bisa melihat bagaimana Aan bercerita tentang perempuan yang sempat singgah di hatinya *uhuk* .. yang dirangkai dengan kata-kata yang memang sangat indah..
Aan gitu lho!
Salute, guru!!
*sori kalo komen-nya ndak panjang kekekeke..*
Bagus review ta’. Membacanya, seperti semakin membuat besar keinginan memiliki buku dan sekaligus ‘perempuan’-nya. Salut bung!
Saya baca Novel ini dengan sangat serius, saya sedikit “hampa” ketika melihat kenyataan bahwa “Ayah kita menjadi bajingan”…Saya tidak menemukan sebuah sisi pembenaran di cerita novel itu ttg seperti apa bajingannya sang Ayah…
novel apa sih..?
(ketinggalan jaman ku di..?)
saya sempat membagi2kan novel ini pada acara VoF kemarin kepada para penanya..sayangnya saya malah tak kebagian sama sekali…:(
Membaca koment ta’ di Cerita tentang Tulang Rusuk, seperti sedang berbincang dengan seorang “nabi”; yang dengan keterbatasan kemanusiaannya masih tetap mampu menyeimbangkan positioning-nya terhadap perempuan sebagai entitas yang sesungguhnya hanya “beda-beda tipis” dengan kaum lelaki. Betul yang kita bilang, dan sebetulnya saya suka pernyataan itu, bahwa wanita, ketahanannya melawan derita, dan juga penyakit, bisa ratusan kali dibanding kaum lelaki. Ini banyak terbukti dan saya lihat sendiri.
Mmm, jadi punya ide buat semacam kolom tersendiri untuk mendisukusikan “kaum hawa” ini lebih jauh, sekalian numpang moga2 saya bisa “keciprat” rejeki Allah bisa dimudahkan menggapai mahligai rumah tangga, seperti yang digembar-gemborkan mereka yang telah menikah muda, hehehe…
Tabe’ salama’ ki dg. Ruslee
Ohiya, kalo butuhki informasi peluang kerja bidang kesehatan atau ada teman yang lg butuh informasi peluang kerja bidang kesehatan, jalan2 maki di sini :
Peluang Kerja Bidang Kesehatan
Semoga bermanfaat!
Assalamualaikum wr.wb.
Salam kenal, Pak!
Sebelumnya minta maaf yg sebesar2nya krn anak ingusan sperti sy lancang masuk dan berani pula mau mengomentari. Hehehe….
To Kak Aan: “… ayah adalah bajingan?”… Lho. Kak! Lina gak rela kalau ayah dikatakan bajingan. Ayah sy gak bajingan, Kak! Hehehe…. Bahkan, ayahku adalah sosok yg amat kukagumi. Seorang ayah yg sabar dalam menghadapi situasi bagaimana sekali pun. Mampu berpikiran tenang walau kesuntukan masa. Ciee… Ini jujur dari Lina lho!
Lina jadi penasaran ingin membaca buku Kak Aan ini.
Smoga suatu hari nanti Lina juga bisa membacanya ya Pak Rusli!
Salam Hormat.
Thanks for de review, Daeng!
@rara: thanks…pak guru emang hebatt!
@asta-qauliyah: kadang kata yang dituliskan itu hanya perulangan dari hati dan kepala kita, so tidak ada yang menakjubkan dari semua nya itu. yang menakjubkan adalah justru kenapa kita jarang bahkan tidak mau menyadari nya.
@nuntung: tergantung pengalaman dengan ayak itu daeng. sosok Ayah juga banyak yang berhati malaikat (seperti saya, de-gas dan de-nun he3), sayangnya sosok ayah sempurna itu tidak hadir bersama Aan waktu dia menuliskan kisah ini [ada beberapa lelaki yang dihormati Aan; Rahman, Idu, Andi, dan beberapa orang ‘aneh’ pencinta buku]
@de-gassing: aih pacce…lambat sekaliko parner ha2
@LIna: wa alaikum salam kawan. sosok ayah memang harus sempurna, makanya ayah yang bodoh dan bajingan adalah yang tidak menyadari kesempurnaannya. Bahkan membangun menara kebencian buat keluarganya bila ia menyia-nyiakan kesempurnaan yang disandingkan padanya. Ayah dek Lina pasti ayah yang hebat, tentu saja.
@ Aan: Kuru sumange, dah mampir bos.
reviewmya ciamik!
sy sk paragraf ini:
“Anda yang menggemari tiga hal; puisi, buku dan perempuan dijamin akan mengalami ejakulasi perasaan yang tereksitasi ke tingkat sedemikian rupa pada saat mencapai kata terakhir dalam novel ini”
dan sy smakin memperkuat argumeta’ dan k tadda (astaqauliyah).
aiihhh…k’ aan tambah lakumi bukuta’,huekeke…
salam…daeng
oh ya cuma mo komen, daeng..
eh ada pe-er menanti di blogku.. hayo segera dikerjakan yah!!!
Mas Aan,….
Che malah sempat berpikir,…betapa mudahnya mjd Laki-laki,…
smw serasa bisa diatasi,…
Tiap bulan ga bakal ketemu ma demam menjelang Menses,…
belum lG waktu datang si menses,….adeu deuh,…nyeriiii,…ampun dEh,…
Kalo lari,…..boro2,…jalan aja setengah langkahnya cowok,…
Q pernah mrs, bapakQ tlah banyak salah pada keluarga,…pernah sesaat benci,…
Tanteku bercerai dengan suaminya,…waktu itu anaknya dititipin di keluargaku,…
Q betuL2 merasakan,…bagaimana sakitnya adekQ yang waktu itu baru kelas 1 SD,…
Malem2 nangis sendiri berdoa sama Allah,…supaya papanya cepat pulang,…
Hingga,…skrang adeQ dah kls 6 SMP,….dia tumbuh mjd tertutup dan pendiem,…
Tp sering kutemukan dia setia berdoa,….spy Papa pulang,…baikan sama mama
Q jG sering,…be2rp kali benci ma Bapak,….tP terus hilang di dominasi ma ingatan ttng kebaikan Bapak,…
Bahkan Q sempat ikrarkan benci ma temen2 cowokQ,…..tP hal itu justru mbuatQ pengen jadi cowok,….
Q tDk mngerti,…knapa da laki2,..yg berontak atas kelaki-lakiannya,….
Tp,…perasaan pngen jd cowok,…cm muncul kolo2 aja,…
Kalau di rumah lg da pbagian tugasss,…jelas enakan jd cewek,….he he he,..ga di suruh angkat berat2
Mas Aan,…SSSsssstttt,.Jgn pernah bener2 pngen jD perempuan lho ya, he he he
Salam kenaL
Ceria Chesmabeabe
Ceria’s last blog post..Tentang dorongan dan membakar jembatan(Half full Half empty)