Pilkada Sulsel, Benazir Bhutto dan Aqidah Kekuasaan

daengrusle December 28th, 2007

bunga-layu.JPGSaya bilang juga apa! Tidak ada orang rakus yang insyaf dalam sekejap. Tidak ada orang yang rela berbagi kekuasaan, apalagi kalau sudah merasakan nikmatnya berbaring di istana megah, meski kehormatan sudah tercerabut di lelorong warga, di balik halaman-halaman media.

Nasib Pilkada Sulsel akhirnya harus tiba juga di bawah palu Mahkamah Agung. Pemilihan Gubernur yang sarat dengan perseteruan emosional yang melibatkan harga diri dan kehormatan dua klan besar di ranah Sulawesi Selatan ini dibawa ke mahkamah - yang sampai saat ini pun masih diragukan kredibilitasnya [ lihat tulisan Daeng Marowa: Bagir Manan dan Mafia Peradilan] Dan siapa menyangka, bahwa putusan MA kemudian membuat banyak orang bingung; media, praktisi hukum, politikus, dan terutama rakyat yang punya dua posisi penting; obyek dan korban. Alih-alih menyoroti proses perhitungan suara sebagaimana yang diproteskan oleh pasangan cagub-cawagub Asmara (Amin Syam - Mansyur Ramli), MA malah memerintahkan untuk melakukan pemilihan ulang di empat kabupaten; Bone, Tana Toraja, Gowa, dan Bantaeng. Padahal pasangan Asmara itu hanya mengajukan keberatan atas tiga daerah saja. Sekedar me-refresh ingatan kita, hasil penghitungan suara KPU Sulsel pada 14 November 2007 menetapkan pasangan Syahrul Yasin Limpo/Agus Arifin Nu`mang (Sayang) meraih 1.432.572 suara atau 39,53 persen, disusul pasagan Amin Syam/Mansyur Ramly (Asmara) 1.404.910 suara (38,76) dan duet Azis Qahhar Muzakar/Mubyl Handaling 786.792 suara atau 21,71 persen. Pasangan Asmara kemudian menggugat penetapan perhitungan suara ini ke Mahkamah Agung.

Pasal 106 UU Nomor 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, MA hanya bisa memerintahkan penghitungan ulang pilkada, bukan pemilihan ulang. Walaupun ada pasal 104 menyebutkan bahwa bila ada kondisi yang dianggap perlu, MA dapat memerintahkan pemilihan ulang”. Kondisi yang dianggap perlu itu yang mana ya kira-kira, apakah karena ada bisikan petinggi negara, atau ada deal-deal politik yang melatarbelakangi putusan itu, atau apa ? Konsekuensi nya; emosi massa yang sudah diam dan mungkin sudah menerima hasil keputusan KPUD Sulsel itu akan kembali bergelora seperti badai! 

Seberapa besar lagi biaya sosial yang mesti dihabiskan untuk ’sekedar’ pemilihan ulangan ini? Dan ujung2nya, hanya untuk membuktikan bahwa sistem ini memang bobrok? Sekiranya kubu ‘Asmara’ yang menang, maka KPUD Sulsel adalah lembaga rongsokan yang tidak akan lagi dipercayai, dan kalau pihak ‘Sayang’ yang kembali menang, maka Mahkamah Agung adalah pemutus perkara yang amat sangat tidak kompeten!

Emosi, energi massa, duit miliaran, kekacauan birokrasi, hipertensi politik, dan amuk massa para pendukung akan melebur menjadi bencana sosial dengan biaya teramat mahal. Lantas, kalau kemudian pengulangan pilkada dilakukan, apakah ada jaminan bahwa semua pihak akhirnya ikhlas menerima hasilnya? Tentu saja tidak. Perseteruan ini akan berlangsung terus menerus seperti lingkaran setan, karena kenyataan membuktikan bahwa tidak ada satu pun lembaga atau keputusan yang dipercaya punya integritas bersih di negara ini.

Sebaiknya, kita belajar pada pilkada DKI kemaren. Walaupun ada ditengarai banyak kecurangan di lapangan, kandidat Adang Darajatun bersikap satria mengakui kekalahan. Tidak ada tuntutan hukum atau politis atas kekalahannya. Beliau memberi pelajaran berdemokrasi kepada kita semua. Karenanya, semua mengangkat topi setinggi-tinginya kepada beliau. Mari bersikap satria, tidak perlu ngotot untuk menang kalau memang ongkosnya terlalu mahal. Tidak ada kebenaran sejati dari sebuah interpretasi majemuk, hanya ada satu Tuhan saja. Kalau memang kebenaran adalah milik sah kita, biarkan waktu dan mata-masyrakat-banyak yang menilainya. Kekuasaan akan lapuk ditelan masa, kebenaran dan kehormatan tidak.

Tulisan terkait:
Detik: Pilkada Sulsel Diulang di 4 Kabupaten, Pendukung Asmara Puas
Fajar: Drama Pilkada Sulsel Jilid Dua
Arul: Pilkada Sulsel, Mengkambinghitamkan Rakyat!
Adink: Pilkada-Ulang
Elyasa KH: Pilkada Ulang

benazir-bhutto.jpgBenazir Bhutto ‘akhirnya’ terbunuh. Kata ‘akhirnya’ layak kita sandingkan dengan prosesi kematian sang pemimpin wanita itu. Berentetan aksi dan upaya percobaan pembunuhan terhadapnya sudah sering kita saksikan di layar kaca dan lembaran majalah. Siapa yang bertanggungjawab? Belum tahu. Bisa jadi al-Qaeda sebagaimana pengakuan yang dilansir. Tapi tentu pihak yang paling bertanggung jawab adalah pemerintahan incumbent, Perves Musharraf - rezim coup kesayangan Bush! Saya tidak menuduh dan melampaui hukum sebelum ada investigasi, tapi sistem yang korup dan menghalalkan segala cara, termasuk berniat mengampuni dosa korupsi Benazir Buttho di masa lalu, tidak bisa sepenuhnya dipercayai. Apalagi yang bermain adalah para politikus yang sudah terlalu sering mem-palu godam-kan hukum. Lihatlah Ketua Mahkamah Agung dan para Hakim diterungku dengan semena-mena, hanya karena melakukan sikap lurus untuk menegakkan aturan hingga ‘terpaksa’ menentang kekuasaan.

Memang sudah ada klaim dari al-Qaeda yang menyatakan bahwa merekalah yang bertanggung jawab atas pembunuhan itu. Tapi bukankah ada janji dari presiden - boneka USA itu - untuk melindungi calon sekondangnya? (Musharraf berniat membangun koalisi dengan Bhutto untuk menarik hati para pendukung mantan penguasa Pakistan ini bahkan dengan iming-iming membebaskan Bhutto dari tuduhan korupsi).

Saya juga tidak terlalu menyukai Benazir Bhutto, dia hanya sosok pemimpin yang menurut saya hanya mengekor dan mendompleng popularitas ayahnya, Zulfikar Ali Bhutto yang dihukum gantung oleh pemerintah hasil kudeta Zia ul-Haq dengan tuduhan konspirasi pembunuhan. Benazir, mirip-mirip dengan Musharraf, adalah tokoh pemimpin negara Islam yang kiblat aqidah politiknya terlalu memuja-muja barat, kadang tanpa reserve. Walaupun kemudian kebijakan itu mengorbankan perasaan rakyatnya sendiri.

Masa pemerintahannya dipenuhi dengan skandal korupsi, kolusi dan nepotisme. Bhutto dituduh melakukan korupsi namun belakangan namanya dibersihkan. Ia juga dituduh melakukan pencucian uang negara di bank-bank Swiss, dalam sebuah kasus yang masih tetap berada di pengadilan Swiss. Suaminya, Asif Ali Zardari, mendekam selama delapan tahun di penjara, meskipun ia tidak pernah terbukti bersalah. Ia ditempatkan di sebuah tahanan tersendiri dan mengaku mengalami siksaan. Kelompok-kelompok hak-hak asasi manusia juga mengklaim bahwa hak-hak Zardari telah dilanggar. Bekas perdana menteri Nawaz Sharif baru-baru ini meminta maaf atas keterlibatannya dalam penahanan yang berkepanjangan atas Zardari dan kasus-kasus yang diajukan melawan Bhutto. Zardari dibebaskan pada November 2004. Konon mereka mencuri ratusan juta dolar dengan meminta ‘komisi’ atas kontrak-kontrak pemerintah dan urusan lain-lainnya. Selama lebih dari 10 tahun, suami-istri ini telah menghadapi sekitar 90 kasus bersama-sama, namun tak satupun yang terbuktikan. Delapan kasus masih tertunda, namun Bhutto menyatakan bahwa semua kasus itu bermotivasi politik dan bahwa ia siap menghadapi semuanya. [source: wikipedia]

Dalam kampanye-kampanye pemilunya, pemerintahan Bhutto menyuarakan keprihatinan mengenai masalah-masalah sosial kaum perempuan, masalah kesehatan dan diskriminasi terhadap perempuan. Bhutto juga mengumumkan rencana-rencana untuk membentuk stasiun-stasiun polisi perempuan, pengadilan, dan bank-bank pembangunan khusus untuk perempuan.

Meskipun mengumbar janji-janji ini, Bhutto tidak mengusulkan undang-undang apapun untuk memperbaiki kesejahteraan kaum perempuan. Dalam kampanye-kampanyenya, Bhutto berjanji untuk mencabut undang-undang yang kontroversial (seperti misalnya aturan-aturan Hudood dan zinah) yang mengurangi hak-hak kaum perempuan di Pakistan. Namun pada dua masa jabatannya, partainya tidak menggenapi janji-janjinya, karena hebatnya tekanan-tekanan dari pihak oposisi.

Dan dalam sebuah aksi jalan di Rawalpindi, sesaat selepas memberikan orasi di depan pendukungnya, 27 Desember 2007, Benazir Bhutto meregang nyawa setelah dihujani tembakan dan bom tepat di depannya. Dia tewas, mungkin menjadi martir demokrasi di Pakistan. Mungkin juga menjadi korban konspirasi. Who knows, hanya kekuasaan yang bisa menghalalkan segala cara.

Popularity: 18% [?]

There are 6 Comments for
    “Pilkada Sulsel, Benazir Bhutto dan Aqidah Kekuasaan”

  1. arulon 28 Dec 2007 at 11:29 am

    Politik menghalalkan segala cara . kata tepat untuk 2 moment itu yah…
    Apalah daya kita ada orang kecil.. moga2 ketika jadi mereka tidak seperti ituh yah….

    arul’s last blog post..Pilkada Sulsel, Mengkambinghitamkan rakyat!

  2. arulon 28 Dec 2007 at 11:40 am

    tulisannya saya link yah daeng :)
    arul’s last blog post..Pilkada Sulsel, Mengkambinghitamkan rakyat!

  3. Laksonoon 28 Dec 2007 at 2:21 pm

    ya…. cost dari semuanya kurang di perhitungkan. semua hanya untuk kepentingan politik. dan legitimasi kekuasaan padahal semuanya tidak mempedulikan rakyat

    Laksono’s last blog post..Catatan Akhir Tahun 2007

  4. Adinkon 28 Dec 2007 at 2:30 pm

    Hore… tulisanku di link sama seleb :D

    *nyepam ma’ sede*

    Adink’s last blog post..Pilkada Ulang?

  5. Nuntungon 28 Dec 2007 at 8:18 pm

    Tiada ada yang permanen dalam politik…

    Nuntung’s last blog post..A gift from “the Jim”: sajak PERTEMUAN

  6. amaon 29 Dec 2007 at 6:23 pm

    Iya tuh pilkada diulang. Mungkin gak ada bisikan2 dari atas, tapi masyarakat tetap menganggap “pasti ada bisikan dari ….”.
    Padahal orang2 udah pada tenang… nunggu pendidikan dan kesehatan gratis…
    Tapi kayaknya bakal menang tim SAYANG (saya bukan pendukungnya, dan juga tidak memilihnya di pilkada kemarin) .. soalnya masyarakat jadi ngeri melihat pemimpin yang haus jabatan………

    semoga SULSELku tetap aman….

    ama’s last blog post..5 Kiat Menghadapi Stress

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Comment, please?

madces