[Fatwa sesat] Mobilisasi Kemarahan dan Akhlak Kita
daengrusle December 28th, 2007
Akidah adalah sebilah garis yang dingin, sebuah oposisi terhadap kritis. Kita berlindung di balik bayang-bayang kedatarannya. Goenawan Mohammad – Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai [hal 36].
Bocah perempuan itu terlihat manis nan lucu dengan jilbab merah muda bermotif bunga melati dan renda bebungaan disekelilingnya, membentuk wajah bersihnya bak kelopak bebungaan berseri jenaka. Lupakan keruwetan hidup dan berpalinglah ke wajahnya yang manis, niscaya yang lahir adalah senyuman. Amin.
Tapi tidak, bukan senyuman yang hadir pada pagi sepenggalah itu. Tangan kecilnya yang halus merengkuh erat lengan sang bunda di pagi bulan Juli 2005. Di tengah pengajian dimana siraman rohani menyejukkan hati ruang dengar jamaah, segerombolan massa yang menganggap diri penganut Islam yang murni-lurus-dan dijamin masuk surga menyeruak memasuki halaman Masjid Mubarak, Parung Bogor, tempat para jamaah Ahmadiyah rutin melaksanakan kajian keagamaan. Wajah-wajah beringas bermata merah memekikkan nama Tuhan dengan sangat lantang dan tegas sambil melempar puluhan batu segenggaman hingga ke ruang pandang sang bocah.
Fatwa sesat memahat kebenaran menjadi batang yang kaku dan tunggal. Fatwa ini berpotensi besar menggerakkan massa yang terhimpit masalah hidup, mencari pelampiasan yang heroik dan jihadis atas nama sebuah interpretasi atas kebenaran tunggal. Lahirlah mobilisasi kemarahan. Dan dengan demikian harus ada yang diberi pelajaran. Dan atas nama aqidah yang bersih-kinclong-dan mayoritas, mereka menghukum keyakinan, sesuatu yang rasa-rasanya hanya milik orang pribadi bersama Tuhannya saja.
Saya yang menyaksikan mobilisasi kemarahan ini dari layar kaca tertegun sejenak. Tidak peduli seberapa sesat ajarannya, seberapa banyak jamaah yang dibohongi. Kalaupun terjadi penyimpangan biarkan itu menjadi ranah hukum yang sudah jelas aturan mainnya. Sejenak tegun itu saya sisipkan kepada mata para jamaah, terutama mata bocah yang saat itu juga berteriak histeris tak kalah histerisnya dengan massa yang marah.
Ada apa dengan akhlakul karimah yang hendak kita bangun sebagaimana diserukan dan dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAWW? Ada apa dengan pencernaan nurani atas ajaran agama kita? Jangan-jangan memang kita belum sepenuhnya mengenal ajaran agama kita sendiri sehingga Aqidah dan Akhlak menjadi hal yang bisa kita bongkar pasang kapan kita inginkan? Masya Allah.
Dari Anas ra; Rasulullah SAWW bersabda: Sesungguhnya seorang hamba mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia di hari akhirat karena akhlaknya yang baik walaupun ia lemah dalam ibadah (HR Thabrani, al Targhib 3:404).
Seorang lelaki menemui Rasulullah SAWW dan bertanya, Ya Rasulullah apakah agama itu? Rasulullah menjawab, “(Agama adalah) Akhlak yang baik“. Lelaki itu mengulangi empat kali pertanyaannya dari penjuru yang berbeda; depan, samping kiri-kanan, belakang, tapi dijawab dengan jawaban yang sama “Akhlak yang Baik“. Hingga Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda: Belum jugakah engkau mengerti? (Agama itu akhlak yang baik). Sebagai misal, janganlah engkau marah” (HR Thabrani, al Targhib 3:405).
Popularity: 20% [?]















Saya rasa fatwa bukanlah kambing hitam atas segala hiruk-pikuk kemarahan… Fatwa justru hadir untuk menjadi penjaga jiwa eksistensial kaum muslim di negeri ini. Tidak akan menjadi masalah besar ketika para penegak hukum di negeri ini memang memiliki hati untuk bergerak menjaga kemurnian suatu Agama. Nyatanya mereka justru tenggelam dalam diam dan hanya bertindak ketika ada pemantik…..
Bagi saya sederhana, geliat eksistensial para pembela kemurnian–yang anda sebut kaum bernafaskan jihadis timbul akibat kegeraman melihat dunia. Ketika Islam yang kita dan mereka anggap suci justru diinjak-injak kesuciannya haruskah kita terjeram dalam solilokui yang panjang?
Wass..
Rgrds…
VER
Veri’s last blog post..Kata untuk Perubahan
Kemarahan massa bukanlah buah dari fatwa sesat, melainkan bom waktu yang pada akhirnya meledak karena ketidakseriusan Pemerintah merespon aspirasi umat beragama terhadap berkembangnya aliran sesat yang berkedok agama tertentu di Indonesia.
Membela kemurnian agama adalah bagian dari akhlaqul karimah. Membiarkan upaya pengrusakan agama adalah bentuk penyimpangan dari akhlaqul karimah. Membela pihak yang sesat sambil menuduh fatwa sesat itu adalah jauh lebih sesat daripada penganut ajaran sesat itu sendiri.
mas bejo dari magelang
….bahkan Rasulullah SAWW tidak pernah menyuruh melakukan kekerasan kepada kaum musyrik jahiliyah kecuali kalau kaum Muslim diserang terlebih dahulu…
merusak rumah ibadah, rumah sesama, menyakiti penganutnya, dalam keadaan damai, apakah itu bagian dari akhlakul kharimah?
kalau anda di posisi yang sama, sedang beribadah di mesjid penganut Ahmadiyah, dan anda kemudian dipukuli hingga berdarah2, apakah Anda akan menerima perlakuan itu?
daengrusle’s last blog post..Saya memulai pagi ini ….