Buku Pilihanku - 2007
daengrusle December 30th, 2007
Tidak ada sekolah sehebat buku-buku.
Tak ada sahabat sesabar buku-buku.
[M Aan Mansyur; Perempuan, Rumah Kenangan]
Buku adalah jendela dunia. Ia ibarat sayap yang menghantar kita memasuki lelorong dunia, lengkap dengan segala rupa pernik pemikiran manusia yang mendiaminya tanpa perlu beranjak terbang meninggalkan kediaman kita. Tidak perlu membuat waktu untuk bertemu dengan para cendekia, ulama, penulis, penyair, bahkan pemimpin yang dijaga ratusan bodyguard, jika hendak menelisik percik perenungan mereka tentang sesuatu yang menarik hati. Pergi saja ke toko buku atau perpustakaan, semua ulasan, enungan dan imajinasi mereka hadir menyapa dan menanti untuk ditelaah, dengan sabar kapanpun waktu tersedia.
Dari sekitar 200 buku yang saya beli sepanjang tahun ini, saya memilihi lima buku istimewa untuk direkomendasikan; terutama karena penting dan berharganya informasi yang diungkapkan dalam buku itu.
Ke-lima buku itu adalah;
1. Manusia Bugis – Christian Pelras, Penerbit Nalar, 2006
Sebagai orang Bugis, dibesarkan dalam keluarga dan budaya Bugis modern, tak elok rasanya kalau tidak memiliki pengetahuan komprehensive tentang Bugis itu sendiri. Mana kala kita kemudian terasing dari pengetahuan tentang asal usul pribadi, maka dengan sendirinya kita tercerabut dari rantai yang menghubungkan ke masa lalu. Untuk apa mengenal budaya masa lalu? Bukan untuk mengulang keusangan yang sudah kuno dan tidak cocok lagi dengan matra kekinian, tapi untuk belajar tentang hal dasar pembentuk masyarakat masa kini. Dan dengan demikian kesalahan yang pernah mencoreng masa lalu tidak akan terulang di masa kini. Untuk memperoleh buku ini termasuk sulitbuat saya, karena hanya pada kesempatan liburan ke Makassar baru saya bisa mendapatkannya. Harga Rp 50,000 untuk buku ini termasuk murah, mengingat betapa komprehensive nya buku ini disajikan, yang berangkat dari puluhan tahun riset di tanah Bugis yang tentu tidak mudah bagi seorang antropolog berkebangsaan Prancis.
Review buku ini bisa dilihat di sini.
- Anhar Gonggong - Kemampuan Menyesuaikan Diri Manusia Bugis
- M Ridwan Alimuddin - Manusia Bugis, Rantau dan Budayanya
2. Warisan Arung Palakka – Leonard Y Andaya, Penerbit Ininnawa, 2004
Bagi masyarakat Sulawesi Selatan, sosok Arung Palakka ibarat dua sisi mata uang. Dia adalah tokoh pejuang sekaligus pengkhianat. Dia adalah sosok pemberani sekaligus penjilat. Dia adalah sosok pembebas sekaligus penjajah beringas. Dalam umumnya buku-buku sejarah Indonesia, Arung palakka sudah kelanjur di-cap sebagai pegkhianat bangsa, dan Sultan Hasanuddin yang dikalahkannya dalam perang Makassar bersama-sama dengan VOC Belanda adalah Pahlawan. Tapi buat masyarakat Bone, La Tenritatta Petta Malampee Gemmena Matinroe ri Bontoala, gelar Arung Palakka, adalah sosok pejuang pemberani yang membebaskan Bone dari pendudukan Makassar. Bagi sebahagian tokoh menilai bahwa Arung Palakka adalah sosok pragmatis yang justru berhasil menciptakan stabilitas politik di Sulawesi Selatan pada akhir abad 17, dan yang tak kalah pentingnya berhasil mencegah VOC Belanda menancapkan kuku imperialisme nya sedalam di daerah lain.
Kronik yang banyak bersumber dari catatan VOC dalam buku ini sungguh detail dan berhasil menggambarkan sosok Arung Palakka secara lengkap dan apa adanya. Yang paling penting dibahas pula disini adalah latar belakang Arung Palakka melakukan pemberontakan dan pengkhiatan sekaligus, serta upaya nya mempertahankan kekuasaan pasca Perang Makassaryang legendaris itu.
Review buku ini bisa dilihat di sini.
- JJ Rizal: Membaca Luka Arung Palakka
- Mustamin alMandary: Mempertanyakan Arung Palakka
- Pikiran Rakyat: Meneropong Sejarah Sulsel
3. Makassar di Panyingkul – Panyingkul/Insist Press, 2007
Tak banyak upaya kodifikasi atas opini wara Makassar dan sekitarnya terhadap semua dinamika yang hadir dalam pusaran gravitasi Makassar sebagai sebuah kota dan pusat kebudayaan. Panyinkul- sebuah citizen journalisme berbasis web berhasil menghadirkan salah satunya; kumpulan tulisan warga. Panyingkul adalah media yang mengembangkan jurnalisme orang biasa (citizen journalism) dan dapat diakeses online di www.panyingkul.com. Partisipasi warga, siapa saja, dan dimana saja, terutama dalam menulis beritadan menyampaikan kabar merupakan motivasi dan alasan utama kehadian Panyingkul.
Kota Makassar dan semua magnitude nya yang sampai ke masyarakat dan para perantau, bisa terwakili secara penuh disini. Luruh dan kadang mencengangkan. Banyak fenomena yang luput diteropong oleh media mainstream hadir disini. Luput diteropong, tapi jelas menggores nadi hidup masyarakat Makassar dan sekitarnya. Buku ini wajib baca terutama bagi perantau seperti saya.
Review buku ini:
- Makassar di Panyingkul, Sebuah Persembahan
- Makassar di Panyingkul, review.
4. Dahulukan Akhlak Diatas Fiqih – Jalaluddin Rakhmat, JCE Publishing, 2007
Membaca buku ini ibarat meneguk air di telaga yang sekelilingnya padang tandus yang terik membakar ubun-ubun. Buku ini mungkin bisa menjadi solusi atas keberingasan massa kita yang menganggap perspektif kebenaran itu tunggal dan karenanya, tidak ada kompromi dengan perspektif yang lain. Dalam buku ini, Kang Jalal berusaha menggiring masyarakat Muslim untuk lebih arif menyikapi semua persoalan dengan mengedepankan perspektif akhlak sebelum berkoar-koar masalah fiqh yang banyak diperdebatkan. Dengan akhlakul karimah yang menjadi nafas masyarakat muslim, niscaya segala perbedaan dapat dibalikkan menjadi khazanah yang mewarnai cita rasa pemikiran masyarakat, tanpa harus menyebabkan perpecahan yang tidak perlu. Buku ini menarik buat yang mau berpikir terbuka.
Review buku ini dapat dilihat di:
Mustamin alMandary: Akhlak Sebagai Misi Penting Agama
Ibn Ghiffarie: Dahulukan Akhlak diatas Fiqih
Wawancara Kang Jalal tentang Buku ini
5. Masa Lalu Yang Membunuh Masa Depan – Yudi Latif, Mizan, 1999
Buku ini buat saya luar biasa menggugah. Yudi Latif, cendekia muda generasi pasca Cak Nur ini menyuguhkan percik pemikiran yang segar dan cerdas. Dia menggagas banyak persoalan masyarakat dengan konsep yang dilandaskan atas penerapan, bukan sekedar berteori. Referensi nya lengkap, dan bijak dalam menanggapi sesuatu hal. Buku ini saya dapatkan sangat murah, hanya Rp 5,000 di Gramedia Balikpapan. Mungkin dianggapnya buku ini gak bermutu hingga gak laku sampai mesti di obral. Suatu pengkerdilan yang mengecewakan untuk buku sebermutu ini, tapi suatu anugerah besar buat peminat buku kere seperti saya. He2.
Review buku ini:
Popularity: 21% [?]















wah, buku…sayangnya sekarang harga buku lumayan mahal, ya? belinya pas ada duit aja
selamat taun baru, mas ..
venus’s last blog post..happy new year!
wah, lama ngga ke sini. masih inget sama saya ndak?
duh, dg rusle ini bacaanya berat2, beda ama mahasiswa kaya saya. jadi..saya ga tertarik. heheh…
jangankan membaca tentang kebudayaan makasar, tentang sumatra utara maupun maluku pun saya kurang tertarik buat mbacanya. walau saya akui, saya bangga sama kebudayaan tanah kelahiran kedua org tua saya. heheheh
macangadungan’s last blog post..3 hari, happy new year eniwei…
Waaah buku2nya mengingatkan akan sebuah kekuatan Bugis yang begitu menarik.
selamat tahun baru ya Daeng.
Kurt’s last blog post..Sumpah