Puasa Asyura - Penyimpangan Historis?

daengrusle January 18th, 2008

 asyura

Hari ini, 10 Muharram, banyak Muslim yang saleh me­lakukan puasa Asyura (Asyura artinya tanggal 10 Muharram) Mereka ingin mencontoh Rasulullah saw. yang berpuasa pada hari itu. Saya kutipkan salah satu hadis tentang puasa Asyura dari Shahih Bukhari:

“Dari Ibnu ‘Abbas, ketika Nabi Muhammad saw. tiba di Madinah dia melihat orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Nabi saw. bertanya: ‘Apakah ini?’ Orang-orang Yahudi berkata: ‘Ini hari yang balk. Pada hari inilah Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa a.s. berpuasa pada hari itu.’ Kata Nabi saw.: ‘Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Maka Nabi pun melakukan puasa dan menyuruh orang untuk melakukannya juga.”

Bukhari menyatakan -hadis ini sahih. Tetapi marilah kita teliti dengan ilmu hadis dan kritik historis. Segera kita menemukan beberapa hal yang janggal.

Pertama. Sahabat yang meriwayatkan peristiwa ini adalah Abdullah ibnu ‘Abbas. Menurut para penulis biografinya, Ibnu ‘Abbas lahir tiga tahun sebelum hijrah. Ia hijrah ke Madinah pada tahun ketujuh Hijri. jadi, ketika Nabi saw. tiba di Madinah, Ibnu ‘Abbas masih di Makkah dan belum menyelesai­kan masa balita-nya.

Dari mana Ibnu ‘Abbas mengetahui peristiwa, itu? Mungkin dari sahabat Nabi yang lain, tetapi ia tidak menyebutkan siapa sahabat Nabi itu. Ia menyembunyikan sumber berita, sehingga seakan-akan ia menyaksikan sendiri peristiwa itu. Dalam ilmu hadis, perilaku seperti itu disebut tadlis (Pelakunya disebut mudallis)

Kedua, bandingkanlah riwayat ini dengan riwayat-riwayat yang lain dari Ibnu ‘Abbas. Menurut Muslim, Nabi diriwayatkan bermaksud puasa pada hari Asyura tetapi tidak kesampaian. Dia keburu meninggal dunia. Masih menurut Muslim, dan juga dari Ibnu ‘Abbas, Nabi saw. sempat melakukannya setahun sebelum dia wafat. Bila kita bandingkan riwayat Ibnu ‘Abbas ini dengan riwayat-riwayat dari sahabat-sahabat Nabi yang lain, kita akan menemukan lebih banyak lagi pertentangan. Menurut Siti Aisyah, Nabi sudah melakukan puasa Asyura sejak zaman jahiliyah. Nabi meninggalkan puasa Asyura setelah turun perintah puasa Ramadhan (Shahih Bukhari). Menurut Mu`awiyah, Nabi saw. memerintahkan puasa Asyura pada waktu haji wada [Shahih Bukhari]

Ketiga, Nabi saw. menemukan orang Yahudi berpuasa Asyura ketika dia tiba di Madinah. Semua ahli sejarah sepakat Nabi tiba di Madinah pada bulan Rabi`ul Awwal. Bagaimana mungkin orang berpuasa 10 Muharram pada 12 Rabi`ul Awwal? Mungkinkah orang shalat Jum’at pada hari Senin?

Keempat, Nabi saw. diriwayatkan meniru tradisi Yahudi untuk melakukan puasa Asyura. Bukankah Nabi berulang-ulang mengingatkan umatnya untuk tidak meniru tradisi Yahudi dan Nashara? “Bedakan dirimu dari orang Yahudi,” kata Rasulullah saw. Begitu seringnya Nabi saw. mengingatkan umat Islam waktu itu untuk berbeda dengan Yahudi, sampai seorang Yahudi berkata, “Lelaki ini (maksudnya Muhammad) tidak ingin membiarkan satu pun tradisi kita yang tidak ditentangnya)” [Lihat Sirah Al-Halabi­yah, 2:115]

Kelima, bila kita mempelajari ilmu perbandingan agama, kita tidak akan menemukan tradisi puasa Asyura pada agama Yahudi. Puasa Asyura hanya dikenal oleh sebagian umat Islam, berdasarkan riwayat yang otentisitas dan validitasnya kita ragukan itu.

Berdasarkan penelitian di atas, banyak di antara kita dengan setia menjalankan sunnah Rasulullah saw yang tidak benar. Bila pe­nelitian historis ini kita lanjutkan kita akan menemukan bahwa puasa Asyura adalah hasil rekayasa politik Bani Umayyah. Yazid bin Mu`awiyah berhasil membantai -keluarga Rasulullah saw. di Karbela pada 10 Muharram. Bagi para pengikut keluarga Nabi saw, hari itu adalah hari dukacita, hari berkabung, bukan hari bersyukur. Bani Umayyah menjadikan hari itu hari bersyukur. Salah satu ungkapan syukurnya ialah menjalankan puasa. Di samping riwayat-riwayat di atas ditambahkan juga riwayat-riwayat lain. Konon, pada 10 Muharram Allah SWT menyelamatkan Musa dari kejaran Fir`aun, menyelamatkan Nuh dari air bah, menyelamatkan Ibrahim, dari api Namrud, dan sebagainya.

[tulisan diatas di kutip dari buku Islam Aktual - Jalaluddin Rakhmat, dibawah judul: Kritik Hadist]

Tak ada kisah tragis yang melebihi kedahsyatan tragedi Karbala, bahkan Raja Bani Umayah waktu itu, Yazid bin Muawiyah secara diplomatis berusaha menyangkal kejadian itu dan melemparkan tanggung jawab ke panglima perangnya yang durjana Ubaidillah bin Ziyad, walaupun strategi politik dan kenyataan sejarahnya malah menguatkan hal itu. Imam Huseyn bin Ali AS adalah Amirul Mukminin dan Khalifah Nabi yang sah yang dipilih oleh umat Islam waktu itu, sepeninggal saudaranya Hasan bin Ali AS. Perseteruan politik dan kerakusan akan kekuasaan oleh Bani Umayah membuat mereka hilang ingatan, berusaha membantai lawan politiknya yang tak lain adalah cucunda Rasulullah SAWW.

Suatu ketika di suatu masa, seorang pemimpin keluarga, pemimpin komunitas yang disucikan, selama 10 hari berturut2 dipaksa untuk berpuasa di padang gersang, tak jauh darinya ada oase yang dijaga oleh tentara2 bengis yang berpedoman pada kitab yang sama, al-Quran yang mulia. Imam Huseyn bin Ali Sayyidu- syuhada Alaihimussalam, cucunda Rasulullah SAWW dengan kekuatannya yang hanya berjumlah 72 orang melewati hari ke 10 Muharram tahun 61Hijriah dengan erangan ketika leher suci beliau dipenggal oleh Syimr bin Dzil Jausyan. Cerita lengkap dapat disimak di link ini; Pembantaian di Karbala. Dan kemudian sejarah membuktikan, pembantaian demi pembantaian yang dilakukan oleh sesama Muslim diteruskan oleh para durjana bersorban demi kekuasaan dunia.

10 Muharram tahun 61 Hijriah, Imam Husain a.s. gugur syahid di Padang Karbala. Sebelumnya, Imam Husain a.s. dipaksa untuk berbaiat kepada Yazid yang telah mengangkat diri sebagai khalifah umat muslimin. Imam Husain menolak berbaiat dan beliau bersama 72 sahabat dan anggota keluarganya, meninggalkan Madinah untuk menuju kota Kufah. Sebelumnya, rakyat kota Kufah mengundang beliau agar memimpin perjuangan melawan Yazid. Namun, represi dari pemerintahan Yazid membuat rakyat Kufah berkhianat dan dalam perjalanan menuju Kufah, kafilah Imam Husain digiring ke Padang Karbala, di tepi sungai Eufrat. Akhirnya pada tanggal 10 Muharam, pasukan Yazid menyerang Imam Husain. Dalam pertempuran yang sangat tidak seimbang itu, Imam Husain dan para pembela setia beliau gugur syahid.

Akulah Husein putra Ali, putra Fatimah
Untuk tunduk, aku tak kan sudi
Kubela keluarga ayahku sampai mati
aku memegang teguh agama Nabi

Kafilah Karbala Tiba di Damaskus
1 Shafar tahun 61 Hijriah, kafilah Karbala tiba di Damaskus, ibu kota pemerintahan Yazid bin Muawiyah. Dua puluh hari sebelumnya, tanggal 10 Muharram, Imam Husain a.s. beserta 72 anggota kafilah beliau bertempur di Padang Karbala melawan pasukan Yazid yang berjumlah ribuan orang. Imam Husain a.s. dan beberapa kerabat serta sahabat setia beliau gugur syahid dalam pertempuran ini. Sisa rombongan yang terdiri dari kaum perempuan, anak-anak, dan Imam Ali Zainal Abidin yang saat itu sedang sakit, ditawan oleh pasukan Yazid dan digiring ke Damaskus. Di hadapan khlayak Damaskus, Imam Zainal Abidin dan Sayyidah Zainab menyampaikan kejadian Karbala dan membongkar perilaku keji pasukan Yazid. Untuk mengelakkan kemarahan rakyatnya, Yazid mengingkari telah memerintahkan pembunuhan terhadap Imam Husain a.s. dan melemparkan kesalahan kepada komandan pasukannya, Ubaidillah bin Ziyad. Yazid juga terpaksa membebaskan kafilah Karbala untuk kembali ke Madinah.

Selanjutnya, dimasa kekhalifaan dinasti Umayah dan Abbasyah, para Imam AhlulBayt diberangus hak politiknya. Walaupun demikian, pengikut-pengikutnya tetap setia sampai saat ini. Tercatat beberapa kerajaan Islam yang kemudian berdiri dan berlandaskan perjuangan Imam Huseyn bin Ali; semisal Dinasti Fatimiah di Mesir dan Republik Islam Iran.

Popularity: 39% [?]

There are 15 Comments for
    “Puasa Asyura - Penyimpangan Historis?”

  1. yanion 18 Jan 2008 at 3:24 pm

    Dunno why, but itu gambarnya daeng, bikin saya merinding….

    yani’s last blog post..Im In Love

  2. acankon 18 Jan 2008 at 4:13 pm

    ta’bongkarma’ sedeng…
    tadi siang waktu shalat jum’at, sang khatib yang notabene tingkatan pendidikannya 3 strata diatasku, berkhutbah membahas 10 muharram versi sunni banget (baca: kemenangan umat islam, ex: nabi nuh, musa, dan nabi adam sebgai contoh kasusnya)

    Daeng, sejarah milik penguasa…

    3 tahun terakhir, saya kebingungan mencari inti dari benturan sejarah sunni vs syi’ah…
    and then kita’ tauji daeng toh pemenangnya… ada kecenderungan rasionalitas sebagai alat penilai manusia, disamping epistemologi skriptualis yang dimilikinya…

    Salam bagimu ya Husain…

    Allahu Akbar - Lailaha illallah

    Mendung selimuti langit, tebarkan senandung duka
    Mentari Karbala tampil bersungut suguhkan prahara
    Deru derap kaki kuda dendangkan irama luka
    Bunga-bunga suci kenabian terbujur di Karbala

    Sebuah drama pengorbanan telah dipentaskan
    Para syuhada gugur, tinggalkan kisah kebebasan
    Jiwa-jiwa suci melayang, menolak kehinaan
    Pengorbanan sejati demi agama dan kemuliaan

    Darah Husein sirami sahara Nainawa
    Tebarkan aroma harum taman nirwana
    Karbala kini rumah abadi cucu Musthafa
    Bersama keluarga dan para sahabat setia

    acank’s last blog post..Tuhan, Slamet, dan Soeharto

  3. Ipulon 18 Jan 2008 at 5:38 pm

    hmm..sebuah kajian historis yang menarik..
    kalau melihat fakta-faktanya sepertinya memang puasa Asyura tidak memiliki landasan yang kuat ya..?

    well, at least ini memberikan tambahan ilmu untuk saya yang ilmu agamanya masih sangat rendah kesianG..

    Ipul’s last blog post..Balada si Benyamin

  4. dodoton 18 Jan 2008 at 10:16 pm

    Waduh… saya mah jarang puasa yang kayak ginian, selalu kritis….

    maklum sering ngampus

  5. Hairon 19 Jan 2008 at 3:59 am

    barusan ada teman aja puasa, dia sms saya daeng
    tapi nda tau mi juga saya, mau puasa atau tidak ini

  6. Rezkion 19 Jan 2008 at 7:23 pm

    Tulisannya sungguh menarik, apalagi didasarkan pada ilmu hadis. Sangat berguna bagi orang yang awam seperti saya

    Rezki’s last blog post..Grand Opening Banner Store Surabaya!

  7. Ahmad Irfanon 21 Jan 2008 at 8:18 am

    Assalamu alaikum Daeng
    Jujur saya terkejut juga dengan tulisan ini, karena kemarin saya baru saja puasa 10 Muharram.

    Makasih daeng sudah menulis postingan ini…insyaallah kedepannya saya akan lebih wara’ lagi…

    Syukron juga telah menempatkan banner saya di Blog daeng..
    wassalamu alaikum

  8. blogblakanon 21 Jan 2008 at 4:45 pm

    ini salah satu blog yang enak buat dibaca. keren!

    blogblakan’s last blog post..rahasia kecil dari masa kecil

  9. syaikhul muqorrobinon 21 Jan 2008 at 5:32 pm

    Mas Daeng…
    al-Hafizh Ibnu Hajar, seorang ahli hadits yg telah dikenal di kalangan ulama sejak dahulu, telah menuliskan dalam kitab Fathul Baari mengenai sunnahnya puasa asyura.

    sayangnya, mas Daeng tdk membahas hadits2 berikut, yg juga berasal dari kitab Shahihain

    “Orang2 Quraisy biasa berpuasa pada hari asyura di masa jahiliyyah,
    Rasulullah pun melakukannya pada masa jahiliyyah. Tatkala beliau sampai di Madinah beliau berpuasa pada hari itu dan memerintahkan umatnya untuk berpuasa.” (HSR Bukhari 3/454, 4/102, 244, 7/ 147 Muslim 2/792, dll)

    “Nabi tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang2 Yahudi berpuasa pada hari asyura. Beliau bertanya:”Apa ini?” Mereka menjawab:”Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab:”Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian (Yahudi), maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu.” (HSR Bukhari 4/244, 6/429)

    “Rasulullah ditanya tentang puasa Asyura, beliau menjawab:”Puasa itu bisa menghapuskan dosa-dosa kecil pada tahun kemarin.”(HSR Muslim 2/818-819)

    Saya sendiri bukan seorang ahli hadits jadi tdk bisa berpanjang lebar mengenai hal ini. Tapi kalau disuruh memilih antara tulisan Jalaludin Rakhmat di atas dan tulisan al-Hafizh Ibnu Hajar di Fathul-Baari, maka saya memilih tulisan al-Hafizh Ibnu Hajar.
    Wallahul-musta`aan

  10. karaengislaon 22 Jan 2008 at 3:22 pm

    sebuah renungan yang sangat baik untuk saya yang sangat awam tentang hal-hal yang
    sifatnya seperti ini (tapi tolong jangan sangsikan aqidah saya). sebuah pencerahan
    dan pemaknaan tentang hal-hal yang sifatnya sejarah islam. salam kenal

    karaengisla’s last blog post..South Sulawesi Best Natural Asia

  11. Bejo Magelangon 01 Feb 2008 at 2:37 am

    Hati-hati, jangan terpedaya dengan ajakan mogok puasa Asyura. Ini kampanyenya orang-orang Syiah. Bagi mereka, lebih baik merayakan Asyura dengan cara melukai tubuhnya berdarah-darah, sambil memaki-maki para sahabat Rasulullah.

  12. daengrusleon 01 Feb 2008 at 7:43 am

    mas Bejo:
    sayang sekali Anda asal ngomong saja dengan merujuk buku dan referensi anti-Syiah
    tanpa pernah menelusuri sumber resminya.
    saya sarankan anda lebih bijak dan cerdas berkomentar, karena setahu saya melukai tubuh di negeri Syiah adalah dilarang
    dan memaki-maki sahabat juga bukan bagian dari akhlakul karimah dalam Syiah.

    banyak2lah membaca dan bersabar…

  13. Pua Jilwahon 01 Feb 2008 at 2:14 pm

    al-Mukarram Syaikhul Muqorrobin,
    Ndak pa-pa sampeyan mau milih Kang Jalal atau Ibnu Hajar. Itu hak sampeyan. Mas Daeng juga punya hak bertanya. Tapi kalo
    saya baca, sebagian hadits2 yang sampeyan kutip juga sudah disebutkan oleh Mas Daeng.
    Bukan hanya Kang Jalal yang melakukan kritik hadits Sahih Bukhari dan Muslim, bahkan Nashiruddin albany juga melakukannya.
    Artinya, kritik sama Bukhari dan Muslim itu ndak masalah. Yang perlu dilakukan adalah, jangan ngikut doang, mikirlah….. baik
    Ibnu Hajar, Kang Jalal, sampeyan, saya, semua manusia biasa, semua bisa salah. Sekarang adalah kesempatan kita untuk
    bertanya dan bersikap kritis. Kritis bukan dosa kan?

    Kalo Mas Bejo,
    saya pikir sampeyan jarang baca buku.

  14. Ismail Aminon 13 Feb 2008 at 6:40 pm

    Syukran kanda, atas kunjunganta ke blogku yang sederhana….
    tentang puasa asyura ini, saya sempat diskusi dengan ustadzku di wahdah
    (saya sebelumnya bargabung di ormas ini), beliau sulit menjawab fakta sejarah
    tersebut sebagaimana yang kanda juga tulis ditulis, beliau hanya memberi jawaban singkat…
    bagi kami mengamalkan sebuah hadits dari pada memahaminya,
    saya cuman bilang, terus ketika beberapa kaum muslimin yang ziarah kubur, tawassulan.
    tahlilan kenapa diannggap bid’ah dan syirik, bukankah mereka hanya mengamalkan hadits…
    he…he…
    Salama’ki….

    Ismail Amin’s last blog post..Iran dan Revolusi yang Belum Selesai

  15. edihson 11 Apr 2008 at 7:20 pm

    gak ada manusia sekarang yang bisa mengindra masa lalu. walaupun begitu kalo informasi puasa asyura itu emang begitu adanya ya fikir-fikirlah dulu kalo mau puasa. bukan kah amal itu tergantung niatnya.

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Comment, please?

mappe