Archive for February, 2008

[Sanjak] Rindu Pusara

daengrusle February 24th, 2008

bunga mu - jiwaku

::diana

kalau aku kembali lagi padamu, pada sekian kali
duduk menjamah remah tanahbasah oleh airmataku sendiri
itu bukan asa yang hendak melarungmu ke lautan lupa
mengumpamakanmu hanya terbujur dibenam pusara

aku hanya hendak kenangkan tawamu
pada tanah yang bersaksi menyelimuti mu
setenang mekar bunga yang dibeku waktu
biar nanti tegas kudapati: ketiadaanmu bukanlah mimpi ku

dan esok kubersungguh memindahkan namamu,
ke dalam doaku: seperti pintamu

balikpapan, 24feb08

Popularity: 64% [?]

In Memoriam dr. Rusdiana

daengrusle February 21st, 2008

Di Cikuda Jazadnya Dikebumikan,
Di Dada Kami Hatinya Bersemayam Abadi
Hingga Perjumpaan Selanjutnya di telaga al-Kautsar kelak

“Sebenarnya saya sudah mau ‘pergi’, tapi saya tetap bertahan karena keberadaan kalian - orang-orang yang mencintai saya” begitu ungkapan kakanda kami Rusdiana, hanya beberapa pekan sebelum kepergian nya yang sesungguhnya. Ungkapan ini sepertinya memang sebuah ungkapan perpisahan, yang diucapkan kepada suaminya, Asri, pada saat acara penjemputan ibunda dan kakanda kami dari tanah suci kira-kira sebulan sebelum ke’pergi’annya. Dalam kesempatan lain, kakanda kami Rusdiana juga menyatakan hal yang serupa,“Biasanya orang-orang baik akan dipanggil terlebih dahulu. Saya kan orang baik, jadi akan pergi duluan”, atau ucapan lainnya,”Diantara kita sepuluh bersaudara, saya lah yang akan meninggal dululan”.

diana-jelita.jpgUngkapan-ungkapan ‘penanda’ ini beberapa kali diungkapkan kakanda kami, Rusdiana. Dan kami biasanya menanggapi dengan haru bercampur cemas. Di satu sisi, kami memaklumi betapa derita sakit paru-paru yang diidapnya sejak remaja sungguh membebaninya setiap saat. Hampir separuh hidupnya dijalani dengan berobat. Obat ibarat makanan pokoknya, walaupun tak jarang saking bosannya, Diana - begitu kami sering memanggilnya, menghentikan sepihak ritual minum obatnya. Dan karenanya kami menyebutnya matojo, suatu ungkapan bugis yang berarti bebal. Di sisi yang lain, kami sangat cemas akan menghadapi kehilangan nya. Betapa banyak ketergantungan kami terhadapnya, terutama sebagai teman curhat dan konsultasi medis. Teman curhat, karena kakanda Rusdiana tak segan untuk bercerita apa saja tentang dirinya - mengingat kedekatan kami bersaudara yang teramat akrab. Juga, tak jarang kami bercerita tentang diri dan keluarga kepadanya, dan biasanya kami mendapat komentar yang cukup tegas dari Diana. [keterangan foto: Diana dan Jelita binti Rusdin, keponakan kami yang paling mirip wajahnya dengan Diana. Foto diambil di bulan Desember 2007 saat acara Menghantar Ibunda dan Kakanda Kami Ibadah Haji di Bumi Sentosa Cibinong, Bogor].

Satu hal yang membuat kami sangat kehilangan adalah, kemampuannya memberikan resep obat yang - entah kenapa, mungkin salah satu anugerah Ilahi kepadanya - mujarab sekali. Walaupun obat yang biasa diinformasikan melalui sms itu sekilas umum diperoleh dimana saja, tapi manjur. Mungkin karena kakanda kami, Diana mendapat ‘kelebihan’ dari sang Ilahi, disamping Diana juga getol mempelajari pengobatan alternatif melalui dzikir. Jadi terkadang dia mengobati kami, atau anak-anak kami dengan resep manjurnya, juga disertai pengobatan jarak jauh sebagaimana yang sering beliau katakan - menyalurkan energi kesembuhan.

Dan kemudian, pada suatu pagi selepas subuh di RS Meilia Cibubur, tanggal 12 Februari 2008, kakanda kami tercinta Rusdiana menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang, ikhlas dan sehat. Dia pergi membawa hati kami semua yang mencintainya. Continue Reading »

Popularity: 56% [?]

[Sanjak] Sehelai Daun Yang Gugur

daengrusle February 13th, 2008

seumpama pohon, kami adalah yang rindang dedaunnya
pokoknya kokoh dengan kulit keras karena tempaan hidup
hujan, angin dan rayap kadang menggerus tiada henti, dan selimut hidup kami tentu mengeras,
seperti menikmati, kami merasakan bahwa cinta lah yang menyatukan

di rindang pohon, sepuluh bebatang merimbunkan dengan dedaun yang segar
laksana benteng yang kukuh, kami saling mendekap, melindungi dengan kasih yang tak terukur
setiap batang adalah jiwa bagi batang yang lain, seperti itu kami saling memaknai
seumpama ada yang tergores, patah, atau goyah karena deras, desir dan gesekan
maka kami sepuluh bebatang merapatkan reranting yang kami punyai
dan menyalurkan semangat agar tetap kuat sekokoh benteng

seumpama dedaunan hijau di setiap ranting dan cabang,
maka kami adalah sepuluh dedaun segar yang basah oleh seringai tawa
dalam masa bersama, kami saling menyejuki hingga semangat seperti berkobar kembali
dalam masa yang sedih, kami seumpama titian yang menyeberangkan setiap duka
menjadi optimisme untuk melalui jurang yang curam, dalam dan mematikan
dan kami selalu bersama, selamat dan bersenyum bersama
setiap saat kami selalu berbagi kecup, peluk dan keharuan
seperti rimbunnya dedaunan berbagi embun yang dimandikan pagi

diatas kebersamaan kami, kecintaan dan keharuan, ada Tuhan Yang Maha Menyayangi
Rahman RahimNya membelai kami hingga ke sumsum yang tak terjangkau
mengusap sulbi yang tak terlihat, meresapkan rencana yang terbaik untuk kami lalui
rencana yang baik, semua baik, dan kami senantiasa mengikhlaskan diri untuk menyerap sepenuhnya

seumpama sepuluh dedaun yang hijau segar di ranting kokoh,
maka kami adalah sekumpulan hamba yang sadar dan saling menyadarkan
bahwa ada saat tertentu kala hujan, angin atau rayap yang jauh lebih kuat
akan mampu merubuhkan bebatang kami

sesadar kami bahwa Tuhan dengan Rahman RahimNya
telah memberi garis yang pasti, jelas dan tak terbantahkan
seperti janji dari kawan setia

bahwa ada saat kami mesti melepas satu satu dedaun itu,
hingga waktu merubuhkan bebatang kami
sehelai, dua helai, hingga helai kesepuluh sampai kami dipisahkan
dan dipertemukan di kehidupan yang lain, selanjutnya,
dan membangun pohon yang lain, lebih kokoh dan indah tentu

sehelai daun yang gugur kemaren, adalah helai terindah dalam pepohon kami
batang terkeras, ranting terbaik,
dan kami yang tersisa seperti ranting yang lapuk tertinggal, lemas terkulai

helai daun yang gugur itu, seperti semangat besar yang membuncah,
namun kemudian terkelupas
menggerus kambiun cinta milik kami satu-satunya, menebang ranting bahagia

sehelai daun yang gugur seperti menghentikan waktu, dan kami adalah detik yang terkulai
gelap, tanpa daya dan tak tahu bagaimana menghidangkan masa
kami seperti menjelma menjadi hujan, larut dan terbenam dibawah akar hidup

sehelai daun yang gugur, seumpama paria yang mengajukan kepahitan tertahan
namun kami memamahnya sebijak genta yang setia berdentang,
ada panggilan, ada pemaknaan hakiki dibaliknya
derita akan hujan angin dan rayap mungkin hilang sudah, dan dedaun gugur itu terbebas sudah
menyatu pada tanah, mendekap pertiwi, bahkan bersama hujan, angin dan rayap
menjadi pemupuk kesuburan dan pastinya melempangkan jalan
untuk kami berikutnya

selamat jalan, kakanda,
selamat jalan, kekasih abadi kami
engkau tak pernah mati di hati
sebagaimana jiwamu, yang ‘hanya’ berpindah

selamat jalan, kakanda rusdiana tersayang..

kami bersepuluh ketika rustam dan diana nikah

foto diatas ketika acara mappacci dan akad nikah kakanda Rusdiana yang acaranya dilangsungkan bersamaan dengan mappacci Rustam. Continue Reading »

Popularity: 63% [?]

Masih Sempat Kopdar AM di Jakarta

daengrusle February 10th, 2008

 air-mancur-bunderan-hi.jpg

Masih dalam suasana sedikit ngilu perasaan karena kakak tersayang yang terbaring sakit di ICU RS Meilia Cibubur, saya coba me’nenang’kan diri dengan bertemu rekan-rekan member Komunitas Blogger Angingmammiri yang ada di Jakarta.

kopdar-jakarta-10feb08.jpg

Kebetulan juga, alhamdulillah kondisi kakak saya dr. Rusdiana agak membaik dan sedang dalam fase pemulihan fisik dan terutama psikis - karenanya kontak dan komunikasi dengan keluarga malah diminimalisir untuk menjaga kestabilan emosi. Saya coba berlibur dan pesiar ke Jakarta, juga dalam rangka kongkow dengan teman2 AM.

Tempatnya di Kedai Pelangi, rumah makan yang menyajikan hidangan khas Makassar; nasi goreng merah, mie kering, coto, jalangkote, pallu butung etc. Letaknya di Jalan Wahid Hasyim belakang Sarinah, berjarak sekitar 100 meter dari Warung kopi Phoenam yang terkenal itu. Saya pesan nasi goreng merah ikan asin, soale sudah lama rasanya tidak makan nasi goreng khas Makassar yang biasa dijual di selasar pantai Losari sebelum tergusur. Continue Reading »

Popularity: 61% [?]

Lembar Hidup

daengrusle February 9th, 2008

Lembar pertama hidup ini berisi sebuah tanda tanya besar diatas sebuah halaman kosong putih polos.
Berbekal tanda tanya ini, manusia mengexplorasi hidup dengan penuh gairah, ingintahu, ingin kenal
Tanda tanya yang kemudian beranak pinak menjadi tanda tanya yang lain,
perlahan memenuhi seluruh halaman depan dengan aneka macam tanda seru - mana kala jawaban telah ditemukan.

Lembar kedua, ketiga dan seterusnya adalah lembar-lembar tanda seru, tanda kutip, tanda hubung.
Lembar yang terisi dengan tawa, muram atau bingung akibat banyaknya tanda tanya di awal lembar,
mencoba mencari jawaban yang didasarkan pada kontemplasi; hasil rasa ingin tahu.

Lembar terakhir, umumnya adalah lembar kegelisahan. Gelisah, karena kita tak sering menemukan jawaban benar.
Karenanya kemudian diisi lagi dengan tanda tanya besar.
Sejauh mana kita berhasil menemukan jawaban yang benar? seberapa besar keyakinan kita akan benar dan salah itu?

Orang yang mengisi lembar hidupnya dengan rangkaian; tanya, seru dan diakhiri gelisah adalah orang biasa.
Mereka yang memandang hidup hanya sekali, dan karenanya hanya untuk menyelesaikan satu kali hidup itu saja.

Jika memungkinkan, tak perlu lembar hidup diakhiri dengan gelisah.
Lebih elok mengakhiri lembar hidup dengan satu kata saja; puas atau lebih alimnya: Syukur.
Kepuasan dan kenyamanan bisa mengenyahkan gelisah itu.
Bukankah Tuhan berseru sekian kali:
Nikmat mana lagi yang akan kau dustakan?
Semoga bersyukur terus. Amin

Popularity: 49% [?]

Upcoming Maestro! All about talent and hard practices!

daengrusle February 2nd, 2008

Proses menjadi seorang maestro seni tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Kreatifitas yang bersumber dari karakter personal dan kecerdasan menggali inspirasi tidaklah diturunkan serta merta seperti rintik hujan - dan kita tinggal menampungnya dalam perigi.

Bakat, adalah pemberian Yang Maha Kreatif. Manusia yang mendapat “gift” tersebut, kemudian memolesnya dalam suatu disiplin latihan dan kerja keras yang tidak setengah-setengah. Maestro lahir dari dua kombinasi tersebut; bakat dan latihan.

Proses lahirnya seorang maestro juga tidak secepat membangun Prambanan - semalam saja. Tapi ia lahir dari proses yang tekun dan lama, dan tak jarang membuat frustasi - menjadi rorokeng, layu sebelum menjadi. Maestro membutuhkan kesetiaan pada waktu; lama dan penuh kesabaran.

resize-of-pameran.JPG

Kalau Michaelangelo membutuhkan media langit-langit Basilika Santo Petrus di Vatikan, dan Donatello, Rafael, serta sang legenda Leonardo da Vinci membutuhkan kanvas, maka Mahdi Muthahhari, the next maestro ini membutuhkan dinding-dinding rumah kontrakan sebagai media pelampiasan kreatifitasnya. Dan perjalanan menjadi Maestro sungguh telah dijejak sejak sebelia ini.

memlihi-aliran-abstrak.JPG

Aliran apa yang dipilih oleh maestro belia ini? Menurut analisa seorang kurator amatiran, Mahdi Muthahhari sesungguhnya telah memilih aliran abstrak yang cenderung surrealis. Komposisi bentuk kurva yang dipadukan oleh warna yang ragam namun tetap dalam harmoni membentuk karya yang berkarakter kuat. Walau terkadang menjadi sulit untuk mencerna makna lukisannya - sebagaimana umumnya lukisan abstrak - namun kita akan digiring pada rasa bahagia ketika menikmati lukisan-lukisan ini.

Tak peduli, apakah di penghujung tahun, sang pemilik Gallery (baca: pemilik rumah) menghargai karya seni ini dengan biaya tinggi atau kalau lagi apes, malah tuntutan ganti rugi!

Wallahu ‘alam bis-showab. Hanya Yang Maha Kuasa yang tahu. Klik untuk melihat proses kreatif nya: Continue Reading »

Popularity: 82% [?]