In Memoriam dr. Rusdiana
daengrusle February 21st, 2008
Di Cikuda Jazadnya Dikebumikan,
Di Dada Kami Hatinya Bersemayam Abadi
Hingga Perjumpaan Selanjutnya di telaga al-Kautsar kelak
“Sebenarnya saya sudah mau ‘pergi’, tapi saya tetap bertahan karena keberadaan kalian - orang-orang yang mencintai saya” begitu ungkapan kakanda kami Rusdiana, hanya beberapa pekan sebelum kepergian nya yang sesungguhnya. Ungkapan ini sepertinya memang sebuah ungkapan perpisahan, yang diucapkan kepada suaminya, Asri, pada saat acara penjemputan ibunda dan kakanda kami dari tanah suci kira-kira sebulan sebelum ke’pergi’annya. Dalam kesempatan lain, kakanda kami Rusdiana juga menyatakan hal yang serupa,“Biasanya orang-orang baik akan dipanggil terlebih dahulu. Saya kan orang baik, jadi akan pergi duluan”, atau ucapan lainnya,”Diantara kita sepuluh bersaudara, saya lah yang akan meninggal dululan”.
Ungkapan-ungkapan ‘penanda’ ini beberapa kali diungkapkan kakanda kami, Rusdiana. Dan kami biasanya menanggapi dengan haru bercampur cemas. Di satu sisi, kami memaklumi betapa derita sakit paru-paru yang diidapnya sejak remaja sungguh membebaninya setiap saat. Hampir separuh hidupnya dijalani dengan berobat. Obat ibarat makanan pokoknya, walaupun tak jarang saking bosannya, Diana - begitu kami sering memanggilnya, menghentikan sepihak ritual minum obatnya. Dan karenanya kami menyebutnya matojo, suatu ungkapan bugis yang berarti bebal. Di sisi yang lain, kami sangat cemas akan menghadapi kehilangan nya. Betapa banyak ketergantungan kami terhadapnya, terutama sebagai teman curhat dan konsultasi medis. Teman curhat, karena kakanda Rusdiana tak segan untuk bercerita apa saja tentang dirinya - mengingat kedekatan kami bersaudara yang teramat akrab. Juga, tak jarang kami bercerita tentang diri dan keluarga kepadanya, dan biasanya kami mendapat komentar yang cukup tegas dari Diana. [keterangan foto: Diana dan Jelita binti Rusdin, keponakan kami yang paling mirip wajahnya dengan Diana. Foto diambil di bulan Desember 2007 saat acara Menghantar Ibunda dan Kakanda Kami Ibadah Haji di Bumi Sentosa Cibinong, Bogor].
Satu hal yang membuat kami sangat kehilangan adalah, kemampuannya memberikan resep obat yang - entah kenapa, mungkin salah satu anugerah Ilahi kepadanya - mujarab sekali. Walaupun obat yang biasa diinformasikan melalui sms itu sekilas umum diperoleh dimana saja, tapi manjur. Mungkin karena kakanda kami, Diana mendapat ‘kelebihan’ dari sang Ilahi, disamping Diana juga getol mempelajari pengobatan alternatif melalui dzikir. Jadi terkadang dia mengobati kami, atau anak-anak kami dengan resep manjurnya, juga disertai pengobatan jarak jauh sebagaimana yang sering beliau katakan - menyalurkan energi kesembuhan.
Dan kemudian, pada suatu pagi selepas subuh di RS Meilia Cibubur, tanggal 12 Februari 2008, kakanda kami tercinta Rusdiana menghembuskan nafas terakhirnya dengan tenang, ikhlas dan sehat. Dia pergi membawa hati kami semua yang mencintainya.
Kelahiran dan Masa Sekolah
Diana dilahirkan di Sempangnge, Wajo. Tanggal lahirnya tidak diketahui pasti mengingat saat itu orang tua kami tidak sempat membekukan waktu dengan mencatatkannya. Namun data administrasinya menuliskan kelahirannya di tanggal 5 November 1972. Dan tanggal inilah yang kemudian kami jadikan tanggal kelahiran resminya. Setiap tanggal itu datang - juga tanggal kelahiran saudara kami lainnya - maka kami bersahutan melalui sms mengiringkan selamat atas ulang tahunnya. Kami juga biasa mengingatkan saudara yang lain mengenai ultah saudara kami yang saat itu perlu diselamati. Pernah suatu kali Diana mengajukan komplain ke saya, karena saban ultah saudara yang lain, saya selalu mengingatkan nya. Namun ketika tiba ulangtahunnya, justru saya tidak mengirimkan ucapan apapun. Saya baru sadar, bahwa ualngtahunnya tidak tercatat di memori telepon saya, mengingat handphone saya baru diganti. Buru-buru saya meminta maaf dan kemudian meng-up date nya.
Dimasa kanak-kanaknya, bersumber dari ceritera dan foto-foto lawas, Diana tumbuh subur dan gemuk, penanda bahwa ia sehat dan bahagia. [lihat foto disamping, kira2 tahun 1978 di Karuwisi - Diana yang gemuk bergambar bersama Rusdin dan Rusli]. Diana menghabiskan masa kecilnya di tiga tempat, Jalan Butung, Karuwisi dan di Pannampu. Masa Sekolah Dasarnya dilalui di dua SD yakni SD Karuwisi (1978-1982) dan SDN Inpres Pannampu I (1982-1984). Di SDN Inpres Pannampu I, dimana kemudian adik-adiknya juga menempuh pendidikan dasar, Diana dikenal sebagai siswa yang cerdas dan berprestasi. Nilai EBTAnya hampir tertinggi di sekolah itu. Nilainya yang tinggi membawanya masuk ke SMP yang cukup terkenal; SMP Negeri 5 Makassar (1984-1987). SMP ini juga menjadi semacam tempat reuni kami sekeluarga, karena selain Diana, SMP Neg 5 Makassar ini pernah juga terdaftar kakak saya yang lain; Rusli, Ruslan, dan juga saya.
Mulai Sakit, Masa SMA hingga menjadi Dokter
Di masa menjalani kehidupan remaja sebagai siswa SMP inilah, dianggap sebagai awal masa sakit nya. Diana yang remaja terserang sakit paru-paru yang agak parah. Semenjak remaja itu, dia bolak-balik ke dokter untuk mengobati penyakitnya, walaupun terkadang juga obat ditebus setengah saja atau malah ditunda dikarenakan keterbatasan keuangan keluarga kami saat itu. Makin lama, tubuhnya yang semula gemuk berisi menjadi kurus tergerus penyakit.
Selepas SMP, Diana melanjutkan pendidikan ke SMA Negeri 4 Makassar (1987-1990). Di SMA yang berlokasi lumayan dekat dari rumah kami di Pannampu ini, Diana kembali mengulang prestasi cemerlang. Di akhir masa SMA, Diana terpilih mewakili SMAN 4 Makassar dalam program unggulan pembibitan siswa berprestasi yang saat itu dikenal sebagai Program SMA BPG Angkatan Pertama. Bersama puluhan siswa berprestasi dari seluruh propinsi Sulawesi Selatan, Diana menempa pendidikan khusus dan istimewa dari guru-guru SMA terbaik se Sulawesi Selatan yang disponsori oleh Depdikbud.
Lulus dari SMAN 4 Makassar tahun 1990, Diana melanjutkan kuliah ke Fakultas Kedokteran Umum Universitas Hasanuddin, sebagaimana cita-citanya semenjak remaja - hendak menjadi dokter. Masa kuliahnya ditempuh dengan tertatih-tatih, dikarenakan sakit paru-parunya itu. Tercatat dokter yang sering menjadi tempat konsultasinya adalah Dokter Arief Gella dan Dokter Syamsu, yang kebetulan juga adalah Penasehat Akademiknya di Unhas. Sempat Diana pernah mengambil cuti akademik selama dua semester karena perlu beristirahat mengurus sakitnya itu. Namun demikian, semangatnya untuk terus kuliah tidak pernah padam, walaupun keluarga sudah tidak membebaninya dengan target lulus tepat waktu. Buat kami, asalkan bisa lulus saja - seberapa lama pun - itu sudah sangat membanggakan, mengingat kondisi kesehatannya yang kurang mendukung.
Diana menyelesaikan kuliah akademiknya dan meraih gelar S.Ked pada tahun 1997, bersamaan dengan kakak saya yang lain, Rusdin yang juga lulus dari Jurusan Ekonomi Unhas. Perayaan wisuda mereka dirayakan bersama dengan syukuran sederhana; makan ayam dan sop, sebagaimana biasanya dilakukan keluarga kami. Selanjutnya, untuk mendapatkan profesi dokter penuh, Diana lagi-lagi menempuh pendidikan Ko-As (Co-Asisten?) di Unhas selama lebih kurang 3 tahun, 1997-2000. Dan akhirnya, pada akhir milenium penantian itu tuntas sudah, Diana berhasil meraih gelar dokter sesuai cita-citanya. Dan kami semua terharu bangga ketika mendengar kabar bahagia itu, betapa semangat yang tak kunjung padam dan kerja keras yang mungkin telah menggerus kesehatannya itu akhirnya membuahkan hasil. Alhamdulillah.
[keterangan foto: Diana - paling kiri berfoto bersama ibunda H Hatika bersama Rusli, Rusman, Anto dan Rustam saat acara melepas keberangkatan ibunda dan Rusli ke tanah suci di Cibinong, Bogor - Desember 2007]
Akupuntur, Asy-Syifa dan Masa Mengabdi; Jakarta, Bogor
Keinginan untuk mengabdikan ilmu yang dimilikinya - disamping juga hendak mencari pengobatan yang lebih baik buat penyakitnya, membuat Diana memutuskan untuk hijrah ke Bogor/Jakarta pada tahun 2000 akhir. Di Bogor, awalnya Diana tinggal bersama-sama kami di Gunung Putri. Masa ini lah masa yang paling indah, karena saat kami bersama melewati masa-masa yang sangat luang, karena sama-sama menganggur. Jadi, banyak waktu yang kami habiskan bersama sebagaimana dulu ketika masih kanak-kanak di Pannampu, Makassar.
Hanya butuh beberapa minggu saja, Diana berhasil mendapatkan kesempatan untuk menjadi dokter di beberapa klinik kecil di seputar Bogor, Bekasi dan Jakarta dengan memanfaatkan jaringan dokter-dokter lulusan Unhas yang memang menjadi tradisi mereka selepas masa Ko-As di Unhas. Sedikit demi sedikit, Diana mendapatkan penghasilan dari bekerja sebagai dokter di klinik-klinik ini, disamping memperluas wawasan dan jaringan kerja nya. Pernah, saya hendak dijodohkan dengan salah satu fisioterapisnya di klinik Bekasi. Sayang mungkin tidak jodoh, hubungah itu tidak berlanjut. Walaupun demikian, ini menjadi bukti betapa perhatiannya sangat besar terhadap kami.
Dalam kesehariannya bekerja di Klinik, Diana masih sempat juga mengikuti pendidikan Akupuntur di Universitas Indonesia - Salemba. Program pendidikan keahlian pengobatan a la timur ini ditempuhnya lebih kurang sebulan (atau 3 bulan). Hasil pendidikan ini membuatnya sumringah, mengingat Diana menikmati betul pekerjaannya sambilannya sebagai akupunturis, yang terkadang pasiennya lebih banyak adalah keluarga sendiri. Dan kami sangat senang menjadi pasiennya, walaupun sakitnya hanya ringan saja; kecapekan, keseleo atau pusing-pusing. Diana dengan sigap membantu kami, mengandalkan ratusan jarum-jarum akupunturnya yang selalu menemaninya kemanapun dia pergi - kecuali ke alam baka, tempat istirahanya sekarang.
Diana juga getol belajar pengobatan alternatif lainnya, terutama yang berbau religius. Walaupun berprofesi sebagai dokter yang dijejali dengan pengetahuan medis a la barat, namun rupanya Diana sadar betul, bahwa penyembuh paling utama itu adalah kesehatan jiwa yang bersumber dari Yang Maha Penyembuh - Yang Nama nya menjadi Penawar Sakit dan Berdzikir menjadi Penyembuh Segala Penyakit. Diana rutin mengikuti kursus pengobatan alternatif di Yayasan Asy-Syifa yang beralamat di Gang Tembok, Kalipasir Menteng Jakarta Pusat. Saat itu, Diana mengikuti kursus pengobatan itu bersama adik saya yang lain, Rusdianto. Alhamdulillah efek dari pengobatan itu cukup bagus buat Diana, disamping bisa mengursangi efek penyakitnya, Diana juga dianugerahi ke’mampu’an untuk menyembuhkan sakit melalui transfer energi penyembuhan, bahkan dari jarak jauh. Kami bahkan sudah menganggap Diana memiliki karomah pada setiap racikan resep dan air yang dianjurkannya.
Sebagai catatan kecil karena ketertarikannya pada pengobatan Asy-Syifa, Diana memberi nama salah satu cucu kami dengan nama Syifa yang merujuk kepada nama pengobatan alternatif itu, yang dalam bahasa Arab berarti Obat/Penyembuh.
[foto: Diana diapit oleh suami tercintanya - Asri, ibunda H Tika dan mertuanya - Hj Kebo. Foto pada Desember 2007]
Selama berguru di Yayasan Asy-Syifa inilah, saya pernah merasa sangat dekat dengan Diana. Tak kurang dari tiga bulan kami ‘hidup bersama’ di kost-kostan saya yang sempit di bawah stasiun Gondangdia. Dari situ saya melihat betapa kerja keras dan semangatnya untuk sembuh demikian besar, hingga rela bersempit-sempit ria dengan saya di kost-kostan demi untuk menghemat waktu dan perjalanan karena kost saya dekat dengan Asy-Syifa. Saya juga baru mengetahui bahwa kakanda saya tersayang itu adalah sangat menyukai Pecel Lele - makanan yang justru saya kurang suka. Setiap sore, beliau mengingatkan saya untuk membelikannya di warung yang dekat kost. Kadang pecel lele yang saya beli disimpannya utnuk keesokan harinya, untuk dimakan sebagai sarapan.
Selama hampir lima tahun, Diana menjalani hidup yang penuh warna di Bekasi, Bogor dan Jakarta. Selama masa hidupnya disana, berganti-ganti kami senantiasa menemani nya. Baik ketika sakit, ataupun mengantar dan menjemputnya dari klinik ke klinik. Walaupun terlihat kepayahan, tapi semangat nya membuat kami trenyuh, dan juga bahagia mengingat itu semualah yang diidam-idamkannya semenjak dulu, mengabdi untuk kesehatan dan keselamatan sesama.
Menikah dan PTT di Luwuk Banggai
Pada akhir tahun 2004, Diana memutuskan untuk mengikuti program PTT - program pengabdian dokter di pelosok sebagai salah satu prasyarat untuk menjadi PNS di lingkungan Depkes RI. Dia memilih daerah Kepulauan Luwuk Banggai yang berjarak satu hari satu malam perjalanan laut dari Makassar. Kebetulan ada juga keluarga kami dari pihak ayah di sana yakni kakak ayahanda kami, Ambo Ganing yang kami sangat cintai bersama anak dan menantunya. Masa dua tahun dijalaninya dengan sungguh-sungguh dan penuh pengabdian, ditemani sang suami - Asri yang menikahinya di awal 2005. Diana menikah di bulan January 2005, hampir bersamaan waktunya dengan pernikahan adik kami, dokter Rustam. Kebahagiaan kami bertambah saat itu, karena Diana sudah menemukan jodohnya. Tidak henti raya syukur kami panjatkan, mengingat sang suami - yang juga adalah tetangga dan teman masa kecil kami -juga merawat dengan telaten dan sabar Diana kami. Walaupun ditempatkan di Banggai, namun tak jarang Diana masih meluangkan waktu untuk mengunjungi Makassar, bahkan Bogor sekiranya beliau teramat sangat merindukan keluarganya, kami.
[foto keluarga saat acara Mappacci -rangkaian pernikahan Diana dan Rustam, January 2005]
Tak sampai dua tahun, melalui proses seleksi CPNS, Diana berhasil menempatkan dirinya sebagai PNS di lingkungan Depkes dan ditempatkan di Puskesmas yang sama. Walaupun agak berat dan sempat drop, beliau berhasil juga menyelesaikan masa pra-jabatan PNS di Palu (?).
Pergaulannya yang luas, dan sifatnya yang ringan tangan membantu sesama membuat Diana menjadi kekasih masyarakat di Luwuk Banggai. Begitu banyak sms dan telepon yang masuk menanyakan kabar Diana ketika menjalani perawatan di Cibubur Bogor, bahkan ada yang masih sempat mengirim sms meminta obat untuk menyembuhkan penyakit si pasien. Ketika kabar meninggalnya sampai ke Banggai, para dokter dan perawat di Puskesmas Banggai menggelar tahlilan untuk mendoakan kelapangan dokter Rusdiana di alam kubur sana.
Sakit Terakhir di Penghujung Usia.
Tidak ada yang bisa menebak umur manusia, bahkan Nabi sekalipun. Umur adalah prerogatif Allah Yang Maha Menentukan semata. Semula Diana berangkat ke Bogor hendak menjemput ibunda kami, Hj Hatika dan kakanda M Rusli yang pulang dari tanah suci. Bahkan atas usahanya juga, beberapa family dari Sengkang dan Palopo juga diundang ke Bogor. Selain karena hendak menjemput kepulangan ibunda dan kakanda dari tanah suci, acara juga rencananya akan dirangkaikan dengan pernikahan adik kami, Rusman dan Rusdianto. Agar kedatangan kami, terutama yang berdomisili jauh - saya dan Diana, bisa lebih hemat karena sekali kedatangan saja.
Namun, nasib memang sudah digariskan Yang Maha Kuasa. Diana didera sakit yang berat sehingga menghantarkannya membuatnya susah bernafas. Atas inisiatifnya sendiri, Diana meminta untuk dibawa ke Rumah Sakit untuk menjalani perawatan. Pada 22 January 2008 Diana dilarikan ke Rumah Sakit dan karena sakit yang parah, ditempatkan di Ruang ICU RS Meilia, Cibubur. Selama lebih kurang tiga pekan sampai pada pagi tanggal 12 Februari 2008, seluruh sisa waktu dihabiskan di ruang ICU itu. Berkali-kali sebenarnya Diana meminta untuk dipulangkan saja, namun mengingat kondisinya yang masih belum stabil dokter Mukhtar yang memantau kesehatannya tidak mengijinkan. Bahkan Diana sempat mengalami tiga kali krisis yang parah; pertama sewaktu masuk ICU, kedua saat awal Februari 2008 dan terakhir saat kematiannya.
Ketika saya meminjam handphone miliknya, saya menemukan sesuatu hal luar biasa di dalamnya. Selain sms-sms dari ‘pencinta’nya dari Banggai, rupanya Kak Diana masih menyempatkan diri membuat video klip singkat berdurasi satu menit yang menayangkan suasana di ruang ICU, lengkap dengan sorot wajahnya yang cerah dan tersenyum. Bahkan sedikit bercanda dengan menggerak-gerakkan alis matanya. Saya menyaksikannya video itu sekitar dua hari setelah meninggalnya, dengan keharuan dan kebahagiaan yang bercampur.
Selepas krisis kedua di awal Februari 2008, sebenarnya kondisi kesehatan Diana sudah sangat membaik. Semua indikator vitalnya sangat bagus, dan karenanya Dokter Mukhtar yang menanganinya sudah merekomendasikan untuk dipindahkan ke ruang perawatan biasa. Sebelum pemindahan, dilakukan pemantauan selama tiga hari untuk melihat kestabilannya. Selama waktu tiga hari ini, komunikasi dengan Diana diminimalisir. Hanya beberapa saudara yang diarahkan utnuk berkunjung, itupun untuk memberi semangat kepadanya. Hanya Ruslan, Rustam dan Pak Obet - salah seorang pengobat alternatif terapi pijit yang dianjurkan menemaninya. Sementara kami, keluarga lain bersiaga di ruang tunggu, menggelar tikar dan istirahat disana. Dari pemantauan melalui kaca di luar ICU, Diana tampak hanya berzikir dan beristigfar selama masa ‘tenang’ itu. Kami melihatnya sangat bahagia dan terharu. Ventilator yang sejak awal mengganggu nya pun sudah dilepaskan dari tenggorokannya. Juga ikatan di tangan dan kaki yang membatasinya untuk bergerak sudah dienyahkan. Diana sudah ‘bebas’ saat itu.
Pada pagi 12 Februari 2008, hari dimana Diana seharusnya sudah dipindahkan ke Ruang Intermitten mengingat kondisinya yang sudah membaik, tiba-tiba mengalami penurunan fungsi jantung secara tiba-tiba. Dokter jaga berusaha memberikan bantuan tindakan memompa jantungnya, namun selama lebih kurang satu jam, tidak ada reaksi dari Diana. Layar monitor sudah merah, menunjukkan bahwa jantungnya sudah tidak berfungsi lagi.
Pada saat itulah, dokter meminta kerelaan kami untuk menghentikan tindakan pemompaan jantungnya itu. Dan saya, atas saran dari Ruslan dan Rustam, kemudian dengan bersimbah air mata dan bermodalkan keikhlasan mengizinkan dokter untuk melepaskan alat itu. Itulah kiranya ujung usia kakanda tercinta kami, dokter Rusdiana.
Pada hari itu juga, tangis, isak dan keharuan meledak diantara kami. Betapa kenyataan ini sungguh tidak kami inginkan - walau kami menguatkan diri sejak semula untuk mengikhlaskan apapun Karunia Tuhan untuknya. Kabar kematiannya kemudian secepat kilat menyebar ke Makassar, Palopo, Sengkang, Balikpapan, dan juga Luwuk Banggai. Semua meradang karena tangis.
Dan tidak menunggu hari berganti, setelah dimandikan dan di shalatkan di Perumahan Bumi Sentosa Cibinong, kami menguburkan jazad Diana di Cikuda, Gunung Putri di Kompleks Pemakaman Keluarga Kosub, atas jasa baik mertua Rusdin.
Di Cikuda Jazadnya Dikebumikan. Di Dada Kami Hatinya Bersemayam
Di Cikuda, jazad kakanda kami Rusdiana terbujur. Namun yang terkubur hanyalah jazad semata, yang tak lebih dari daging dan tulang yang berasal dari tanah. Namun jiwanya sudah berjalan melampaui dunia kami, beriring meniti perjalanan panjang menuju Sang Pencipta. Dan kami yang ditinggalkan dalam haru, merapal doa demi kelapangan perjalanannya disana. Rindu kami bertalu-talu, sebanyak untaian kenangan yang kami rajut bersama. Jazadnya boleh dibenamkan tanah, namun hatinya adalah milik kami semua.
Selamat Jalan Kakanda, sampai ketemu lagi di alam sana. Amin!
Popularity: 46% [?]
























sabbara’ki, Daeng..
titip doa untuk Jelita binti Rusdin, jadi anak shalehah yang mendoakan ibunya..
arham_kendari’s last blog post..Alzheimer
tul saudaraku, mengenai pengobatan mujarabnya, saya pernah mengalaminya jg, pernah waktu itu saya tiba2 batuk mengeluarkan darah encer kira2 se ember,waktu itu saya bener2 pasrah dan berpikir mungkin menjadi tanda akhir hidupku , sepengetahuan saya penyebabnya mungkin karena rutinitas kegiatan organisasi mahasiswa yang masih saya paksakan pada malam hari tanpa menjaga kondisi tubuh yang sudah lelah (1 hari belum tidur).
kira2 jam 2 pagi, saya segera di bawa teman ke RS Wahidin Makassar, setelah di rontgen, dokter disana mengharuskan saya langsung di rawat inap, tapi saya menolak walaupun saya pikir ini memang gawat, soalnya pikiran saya tertuju ke kk saya dr. rusdiana, dan saya perlu pendapatnya,
karena masih terlalu pagi, disana saya minta diizinkan untuk istirahat beberapa jam untuk menunggu hari sampai cerah agar bisa mendapatkan angkutan untuk pulang ke rumah,
singkatnya setelah di rumah saya bawain hasil rontgennya ke kk, dan dan dia bilang memang terlihat di paru2 saya ada bintik kecil, ada yang bocor (istilah ekstrimnya). kk dengan wajah tampak biasa2 saja (tidak seperti wajah saya yang sudah pucat karena pikiran sudah tidak karuan dengan penuh keprihatinan) mengambil obat menyuruh untuk saya minum, saya ambil dan sambil bengong, bilang “ini saja??” (soalnya obat nya cuman satu jenis dan bentuk tablet berukuran kecil kira2 1/2 cm berwarna kuning), seingat saya kk cuman tersenyum dan bilang minum 2 kali sehari (seingat saya, saya mengkomsumsinya hanya 3 hari saja).
sejak itu sampai sekarang alhamdulillah saya tidak punya masalah dengan paru2 saya lagi.
“i miss u my lovely kk ku rusdiana”
Allah telah membuatkan rumah baru untuk kita disana… dan engkau berlari mendahului kami menuju ke sana…rumah sebaik2nya rumah untuk kita…tiada lagi kepedihan dan tiada lagi sakit yang akan kita tangisi bersama…
rusman (saudara ke 8 “roes family”)
turut berduka cita…semoga amal ibadah almarhumah diterima di sisi-Nya
Kenangan adalah harta yang tak ternilai harganya…..Selamat jalan Kak Diana…
yani’s last blog post..Memohon dan Menanti Mukjizat
jd teringat waktu berobat bareng k’ diana di nur syifa..
beberapa minggu lamanya nginap bareng di kost-an nya daeng rusle, karena kebetulan lokasi nya tidak jauh dari situ dan kebetulan jg waktu itu daeng rusle jarang nginap dikost-annya karena ada kerjaan di luar kota.. (thanx daeng)
selama beberapa minggu itu, kami makan bareng, naik bajaj bareng ke nur syifa,(oh iya.. naik bajaj pertama ku bareng k’diana dan daeng rusle jalan2 ke monas) , sering tidur bareng (kadang2 k’diana karena kebaikan hatinya.. sengaja mengalah membiarkan saya tidur di kasur sedang dia tidur dilantai, yang memang kamar kost-an itu mungkin terlalu sempit untuk berdua)..
tp karena urusan kuliah,saya harus balik duluan ke makassar , sementara k’diana terus berobat, dan terakhir saya dengar subhanallah k’diana sdh bisa “mengobati”, yang memang merupakan program dari nur syifa..
ada satu hal yang paling sering beliau katakan (saya jg sering bilang ke dia dgn kata2 yg sama).. baik itu melalui telepon maupun sms.. “dek, jaga kesehatanmu.. kalau sakitki saya jg ikut sakit..” itulah kalimat yang paling sering beliau katakan.. yang tentu saja merupakan tanda sayangnya kepada saya..
sebagai catatan..
beberapa minggu sebelum ber”pindah”, k’diana sempat bertanya kepada saya bagaimana cara sholat dalam keadaan sakit.. moga itu merupakan tanda yang baik menuju sang ilahi…
k’diana ku.. selamat jalanki nah.. mmmuuachh…
Ya Allah.. kumpulkan kami kembali di tempat-Mu yang lebih indah..
NB: akhirnya. bisa nulis comment ttg diana.. beberapa kali mencoba..tapi isak air mata selalu mendahului sebelum menulis ttg k’diana..
(muhammad rusdianto_ saudara ke-9 dari “noertika”)
turut belasungkawa pak… semoga diterima di sisiNya dan keluarga yang ditinggalkan tetap tabah
max’s last blog post..Blog Saya Tumbuh Cepat
Rusle,
Saya mampir dan membaca obituari kakanda ta’, seniorku di kedokteran dulu. Semoga beliau beristirahat di tempat terbaik.
salam
Rusle, saya sekeluarga turut berduka cita. Saya sungguh terharu dan sangat tergetar baca obituari kakandamu tercinta yang pasti kamu tulis dengan penuh cinta dan juga airmata itu.
Semoga beliau memperoleh tempat yang layak dan terbaik di sisi Allah SWT.
amril’s last blog post..ADA PETISI UNTUK BUPATI BEKASI
deen jg mampir untuk melanjutkan bacaan kemarin.. Ikut terharu dan menghaturkan doa.
Membaca obituarinya, deen yakin kakanda adalah seorang yg sangat baik, amalan2nya sungguh tak terperi krn dari tangannya kesembuhan tersampaikan. Smoga setiap amalannya memberi kesejukan yg tidak terperi pula untuk kakanda..
Hujan masih terus turun Daeng,
.Sudah berkali2 mendengar berita duka di februari ini. Apa jangan2 langit jg sedang berduka?
turut berduka,
terharu, ikut mengirimkan Al Fatihah utk k’ Diana.
sabarki kk nah…
(-_-.)
Adink’s last blog post..Rolling
Terharu sekali baca tulisan ta’ ini kak Rusle. Terlebih kesalutanku atas semangat yang tak pernah padam akan apa yang di lakukan almarhumah kak Rusdiana selama hidupnya di tengah sakit yang dialaminya.
Teriring do’a buat kak Rusdiana semoga mendapat tempat yang terbaik dan terindah di sisi-Nya, amien.
Buat “roes family ” yang di tinggalkan, semoga tabah dan sabar ki semua….
Sebuah perjalanan hidup yang benar-benar memberi inspirasi….
Semoga tempat terindah di sisi Sang Pencipta menjadi tempat peristirahatan terakhirnya, dan semoga semangat dan kegigihannya menjadi motivasi bagi kita semua yang sedang berjalan menuju titik akhir hidup manusia-manusia di alam fana…
feri’s last blog post..Kecepatan 10,8 km/jam vs 108 km/jam
ya tuhan….
ga bisa ngomong apa2 lagi. hidupnya…., ah iya, bener, orang baik selalu cepat dipanggil…
sabar ki nah
yati’s last blog post..penakut
turut berduka cita saya haturkan…
semoga kakanda daeng bisa pergi dengan tenang, dan selalu di terima di sisiNya
amin
ridhocyber’s last blog post..Link Exchanges For Blogger
yang terbaik memang biasanya pergi duluan daeng…
(tadinya saya mau komen panjang2, tapi mendadak sekarang rasanya semua yang ada di kepalaku jadi hilang…hanya ada keharuan yang mendalam….)
Ipul’s last blog post..Samira dan Samir
empat hari yang lalu..tepatnya tanggal 22 feb 08,kami di jelaskan bagaimana cara memberikan pertolongan kepada pasien yang tiba-tiba henti nafas atau yang nafasnya tidak spontan dengan memggunakan dan memasang alat bantu nafas tentunya, di sebuah pelatihan yang kebetulan saya sebagai salah satu pesertanya…
Sepintas..alat bantu nafas itu sangat dekat…
alat bantu nafas itu yang terpasang di mulut kakak ku tercinta…yang menghubungkan alat bantu nafas (ventilator) dengan paru-parunya, untuk membantunya bernafas…
Pada pelatihan itu, kami diwajibkan dan harus tahu bagaimana cara memasang alat itu ke mulut pasien kami nantinya untuk membantu alat pernafasan itu..
dengan hati-hati saya paraktekkan ke boneka ( mirip dengan organ manusia) dan terpasang..
terbayang wajah kakak ku tersayang… yang meringis kesakitan, tersiksa dan pasti meberikan efek mual dan muntah…
kakak…mungkin ini jalan yang lebih baik untuk membantu pernafasanta`kakak…
Dia selalu mengeluh sakit…sakit…sakit…melalui tulisan di kertas,sebagai komunikasi kami..
Tapi…
sekarang dia tidak merasa sakit, tersiksa, apalagi mual atau muntah…
dia selalu tersenyum, memberi semangat..
apalagi pada saat periksa pasien..apalagi pasien anak-anak..selalu terasa kakak bisikkanka obat apa yang paling cocok untuk pasien anak di depanku..
pasti sekarang k diana bisa rasa apa yang kita rasa dan mungkin dia ada di samping kita…………
dia pasti selalu dampingi saudaranya semua
k diana……..
terakhir yang sangat saya ingat pada saat transit ke makassar sebelum berangkat menjemput aji ke jakarta pada saat saya ke panampu menemuinya saya, dan dia duduk bersama-sama sambil bercerita tiba-tiba dia menyodorkan gelas putih pada saya sambil bilang ‘ cuci dulu ini de’ gelasnya aji laki2.. kotor sekalimi.. untungnya kuliatki ini gelasnya aji.. bagaimanami kalo’ tidak adaka di’? siapami yang perhatikan gelasnya ajiku?’ saya tidak menyangka kalo itu saat terakhir dia bisa memperhatikan gelas aji…….
k diana….
yang disaat2 masih bisa bercerita sangat sering menceritakan apa yang sudah dia alami dan rasakan meskipun terbata-bata dan dengan suara yang kecil…
beberapa kali dia menanyakan pada saya perihal keponakan2 yang sangat dia sayangi terutama jelita dan mahdi…
inilah yang saya alami saat-saat terakhir menemani k diana…
Lama saya tidak berkunjung ke blog ini ternyata ada berita duka.
Saya beserta keluarga ikut berduka cita yang sedalam dalamnya atas kematian Kakanda Rusdiana, semoga arwah almarhumah di terima di sisiNya sesuai dengan amal ibadahnya dan semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
BlogDokter’s last blog post..Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (First Aid)
turut berdukacita daeng

sabbara’ ki
terharu skali ka bacai sampe menetes air mata ku
jadi ingat kakakdan bapakku yg juga sudah duluan menghadap-Nya
turut berduka cita yg sedalam-dalamnya,
sabarki nah…
semoga amal dan ibadah almarhumah diterima disisi-Nya amiiiiin..
Innaliilahi Wainna Ilaihi Rojiun,
dr. Rusdiana angkatan ‘90 Fakultas Kedokteran UNHAS
Dia adalah teman angkatan saya di Fakultas. Saya mengenalnya sangat dekat karena saya juga punya P.A. yang sama dengan dia dr. Syamsu.
Dan saya mengenal dia sebagai pribadi yang bersahaja, sebagai teman kuliah.
Oh, my God.
Begitu cepat Engkau memanggilnya.
Untuk keluarga yang ditinggalkan, semoga tabah menghadapi cobaan ini.
Salam dari Negeri Kincir Angin (Belanda)
Muhammad Ridwan Thahir, M.D.
Muhammad Ridwan Thahir, M.D.’s last blog post..The Official Website of Muhammad Ridwan Thahir, M.D.
tadinya, saya cuma mencari teman-teman satu alumni smp 5 makassar, di sana saya tulis: “smp 5 makassar 1984″; maksudnya mau mencari teman sealumni tamat tahun 1984.
Alhamdulillah, alamat ini saya dapat, meski almarhumah dr.Rusdiana angkatan 1984, tidak seangkatan dengan saya memang.
Alhamdulillah, sungguh saya sangat bersimpati.
Sungguh, ini adalah mujizat bagi saya.
Saya, dan atas nama keluarga, perkenankan
mengucapkan turut berduka cita kepada Rusli dan keluarga.
(saya, juga tinggal di makassar, sekolah di sd butung tamat 1981, smp 5 tamat 1984, dan sma 4 tamat 1987, semua di makassar).
Salam.
aisigo,
emai: aisigo@yahoo.com
saya mewakili pengelola web sma negeri 4 makassar (http://www.sman4mks.sch.id) turut berduka cita atas berpulangnya ke rahmatullah senior kami. maaf saya baru kirim testi ini karena saya baru tau setelah mencari situs sma negeri se sulsel. dan tidak sengaja saya membaca web anda.
saya dari andi_ic4nk group alumni sma 4 makassar turut berduka cita atas berpulangnya ke rahmatulla senior kami dr. Rosdiana.
kami juga merasa kehilangan beliau.
semoga keluarga yang ditinggalkan di beri katabahan.
amiiin
andi nur muh. ichsan
nak sempangnge juga
andi_ic4nk’s last blog post..dicari agen dealer pulsa all operator