[Buku] Laskar Pelangi

daengrusle March 18th, 2008

lp.jpg

Sejatinya adalah Kesahajaan. Novel ini sesungguhnya hanya bercerita tentang kesahajaan. Kesahajaan yang ironis. Berdiam pada sebuah pulau yang kaya sumber alam, mereka justru hidup teramat berkekurangan, yang kata muluk sepadannya - kesahajaan. Ironi inilah yang dikemas menjadi sebuah alur cerita yang demikian menariknya, memukau walau kadang berlebihan, dan disampaikan dengan cerdas dan jenaka seakan membawa pembacanya ke alam Belitong tempat anak-anak Laskar Pelangi ini tumbuh dan ditumbuhkan. Humor-humor yang ditampilkan juga tidak basi, tidak mudah ditebak.

Saya memerlukan waktu lebih dari sebulan menamatkan buku pertama ini. Bukan karena cerita novel ini kurang menarik, tapi terlebih karena saya mesti banyak melewati ‘kesibukan’ yang luar biasa.

Cerita dalam novel ini dimulai dengan sebuah adegan yang miris. Di sebuah sekolah sederhana - bahkan teramat bersahaja - seorang kepala sekolah SD Muhammadiyah dan seorang guru yang tulus, menanti dengan cemas murid-murid barunya. Kalau di lingkungan kita umumnya, banyak sekolah yang menolak pendaftaran murid baru karena kelebihan peminat atau keterbatasan calon muridnya dalam memenuhi criteria pendaftaran, maka di SD Muhammadiyah ini justru kelimpungan mencari murid. Bukan karena sekolahnya teramat mahal - sesungguhnya kosa kata ini pun juga mahal ditemukan di novel ini - tapi karena rendahnya motivasi orang tua di pulau kaya timah itu untuk menempuh pendidikan.

Pendidikan dan Kemiskinan Struktural.Di pulau yang diceritakan penuh nestapa karena diselimuti kemiskinan terstruktur itu, kita seperti dihadapkan pada cermin retak realitas bangsa kita. Betapa terkadang jargon pendidikan murah, tidak serta merta menjadi solusi atau fasilitas menarik bagi masyarakat, terlebih ketika skala prioritas pendidikan ada jauh di daftar terbawah rakyat miskin. Tidak berminat pada sekolah bukan berarti bodoh tidak antusias pada pendidikan bukan berarti tidak sadar pentingnya pendidikan sebagai variable yang mampu menaikkan taraf kesejahteraan - jangka panjang. Mereka umumnya sadar bahwa pendidikan adalah investasi terbaik yang menjanjikan keuntungan terbaik di masa depan. Tapi konteksnya memaksa mereka mengatakan sebaliknya, lingkungan dimana mereka tinggal adalah lingkungan yang mengenal makan dan minum sebagai satu-satunya kebutuhan pokok yang ironisnya nyaris sulit dipenuhi bahkan untuk satu hari pun. Maka pendidikan menjadi soal yang sungguh tidak menarik untuk diprioritaskan. Ironis!

Sekolah itu ‘butuh’ sepuluh murid baru sebagai prasyarat terlaksananya kegiatan belajar mengajar. Jumlah sepuluh adalah jumlah yang ironis! Kurang dari sepuluh, maka sekolah itu bubar. Dana anak-anak itu mesti mencari sekolah lain yang jauh, tapi tidak kalah buruknya. Ada sekolah bertaraf internasional yang dibangun tak jauh dari lingkungan itu, tapi tentu saja tidak semua anak bias menginjakkan kakinya dengan leluasa, sekolah itu eksklusif hanya untuk anak-anak karyawan PT Timah - sebuah perusahaan pertambangan yang memonopoli sumber alam Belitong untuk jangka waktu lama di tahun 1970-1980an. Akhirnya, mereka dengan gembira meneriam murid kesepuluh, yang tak lain adalah seorang anak yang terbelakang mentalnya - sebuah prototype ironism yang lain.

Memukau dari Kesahajaan. Kemudian mengalirlah cerita-cerita lucu nan memukau dibalik kesahajaan para anggota Laskar Pelangi ini. Andrea Hirata berhasil menghadirkan sosok anak-anak polos nan jenaka dalam novel ini dengan bagus. Semua cerita jalin menjalin dengan alur yang runut. Hanya saja mungkin kadang membuat gusar pembacanya - terutama yang awam dengan istilah sains, apalagi bukan peminat - adalah berjubelnya istilah-istilah latin dari nama tumbuhan atau hewan dalam novel ini. Di novel ini, Andrea banyak menghamburkan halaman-halaman demi menceritakan keindahan suatu tempat dengan istilah dan nama sains yang berlebihan. Perlu dan penting sebenarnya - terutama mengingat karena Andrea Hirata juga adalah peminat sains meski bidang keahlian sesungguhnya adalah ekonomi - tapi bagi saya cukup mengganggu.

Buku ini memuat banyak muatan pesan moral, betapa kerja keras dan kesungguhan bisa menjadi jembatan meraih impian - walau tak semua. Sesugguhnya inspirasi dari kesungguhan untuk mewujudkan cita-cita adalah modal dasar bangsa ini apabila hendak berkembang. Tak berhenti bersemangat, terutama untuk memperbanyak pundi-pundi kebaikan lewat jalur kesahajaan, tentu bisa menggelontorkan semua cela yang kini dihadapi bangsa kita.

Terkadang Bombastis. Walaupun demikian, banyak kejadian yang diceritakan dalam novel ini sungguh teramat berlebihan. Seperti tingkat kecerdasan paripurna dari seorang Lintang, anak laut yang tidak punya gineologi jenius dalam trah keluarganya, tapi mampu menerangkan teroema Newton dan Descartes dengan runut danm kemudian membandingkannya dengan sempurna. Juga kecerdasan-kecerdasan lain yang terkesan melampaui batas kewajaran yang diperlihatkan dari sosok Lintang. Demikian juga tentang Mahar. Anak yang over kreatif dalam karya seni ini rupanya diceritakan mampu mengadaptasi demikian banyak referensi seni dari seluruh penjuru dunia, bahkan dia mengenal secara dramatis seni tari Afrika, yang kalauy dipikir-pikir tentu tak bisa dipenuhi hanya dengan membaca di perpustakaan sekolah Muhammadiyah yang pasti terbatas judul dan jumlah buku, majalahnya. Berlebihan, namun kelihatannya masih bisa dipahami. Betapa kesahajaan juga bisa meletup mencengangkan.

Akhir Ironis Lintang - The Phenomenon. Satu yang membuat saya tertegun di akhir cerita, ketika membaca akhir seorang Lintang yang ‘hanya’ menjadi seorang pekerja kasar bangunan. Sebuah akhir yang ironis buat Lintang. Sebuah cermin ketakberdayaan menantang kerasnya hidup.

Popularity: 42% [?]

There are 15 Comments for
    “[Buku] Laskar Pelangi”

  1. aRuLon 19 Mar 2008 at 5:14 am

    saya sudah mendapatkan bukunya hadiah dari teman, tapi blum sempat membacanya… ntar2 aja kalo ada waktu lowong :)
    aRuL’s last blog post..Untuk Indonesia dari Indonesia!

  2. deenon 19 Mar 2008 at 10:57 am

    salah satu kisah nyata yg mampu dihadirkan dalam bentuk fiksi yg dahsyat..

    Keren tawwa..
    *menunggu tetraloginya, sdh terbitkah?

  3. soeltraon 19 Mar 2008 at 1:48 pm

    coba lanjut ke sang pemimpi daeng,
    sy suka perjuangan di buku itu.
    slalu ada kekrgan, tp mnurutku sih msh dlm tahap wajar, krn nggak menggerus esensi.
    lg pula penulis bkn berlatar sastra bukan?bs jd itu yg menyebabkannya krg pandai meramu,hehe (*sok tau mode on) :D

    lg mnunggu jg bk terakhirnya, judul yg diambil dr nama seorg perempuan tangguh menghadapi kerasnya hidup.

    MERDEKA!!!

    *sejukkan hati selalu…

    soeltra’s last blog post..Emotion Test. dont cheat!

  4. amrilon 19 Mar 2008 at 5:18 pm

    Memang buku tetralogi karya Andrea Hirata sangat “dashyat” penyajiannya. Sudah 3 bukunya saya baca dan sekarang masih penasaran bagaimana kiranya isi buku terakhir Andrea yang berjudul “Maryamah Karpov” itu. Sama penasarannya saya bagaimana gerangan jika buku “Laskar pelangi” ini difilmkan.

    amril’s last blog post..BINAR MATA BOCAH KECIL YANG MENGGIGIL

  5. Hasanon 19 Mar 2008 at 8:26 pm

    Setuju cess, bagi saya sangat inspiratif bahkan buku yg lainnya sudah tamat semua seperti sang pemimpi dan edensor.
    itulah kenyataan yang terjadi di negeri kita, ketidak adilan dan kesenjangan yang sengaja di buat.

    Gimana kabar sekarang cess, salam buat keluarga

    Hasan

    Hasan’s last blog post..Menerima Apa Adanya

  6. jannahon 20 Mar 2008 at 3:44 am

    baca q juga sang pemimpi dan edensor. pelajaran yang bisa saya ambil dari cerita-cerita andrea, “kita tak pernah tau apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang, tapi satu hal yang pasti kita harus selalu bekerja keras dan tidak berhenti untuk bercita-cita”. seperti kata arai “jangan pernah mendahului nasib”.
    hi kak, pa kabar?
    jannah

  7. Irdanon 24 Mar 2008 at 10:26 am

    Saya jadi termotivasi untuk mencari novelnya dan membacanya.

  8. ipulon 24 Mar 2008 at 12:22 pm

    akhirnya…diresensi juga..hehehe…

    yah, kalo menurut saya kelemahannya memang ada di beberapa bagian yg terlalu dilebih2kan..
    tapi kalau mengenyampingkan itu semua, maka buku ini cukup pantas jadi buku yang inspiratif…
    bagus tawwa…

    lagipula, ada tong orang Bugis disebut2 di sana..hahaha..

    btw, kikod-ku “Mahdi”…
    beliau sudah jadi bloger juga rupanya…hehehe..

    ipul’s last blog post..Makkunrai dan 10 kisah perempuan lainnya

  9. electrumon 26 Mar 2008 at 3:09 am

    tanggapan nya menyentuh jg mas.. saya jg dah baca lama smua buku andrea.. ada yg terasa sgt beda ketika andrea nulis novel dgn tema pendidikan yg emg masih jarang dgarap penulis laen.. cuma sdikit terkejut aja kalo daeng blg lintang itu agak2 hiperbolik (piss ah), krn mnurut saya org kyk lintang tu emg jarang dan mgkn ada di belitong sana..
    tp apapun itu, apresiasi yg tinggi patut dberikan pd karya2 andrea..

  10. benbegoon 01 Apr 2008 at 11:41 pm

    saya sedang cari tuh donlotan lanjutannya. ada yg tau gak? saya punyanya cuma setengah.

    benbego’s last blog post..Awas! Jebakan Polisi

  11. dhanyon 26 Apr 2008 at 11:33 pm

    commentku :
    bagus…. Bagus … dan BAGUS…

    dhany’s last blog post..Tergila gila karya Hirata

  12. tantion 12 Jun 2008 at 7:17 pm

    Buat temen-2 yang ingin cari buku-2 andrea hirata dengan diskon besar, coba cari di http://www.rumahbuku.net/component/page,shop.product_details/category_id,15/flypage,shop.flypage2/product_id,383/option,com_virtuemart/Itemid,15/

  13. yuza geofisika unilaon 15 Jun 2008 at 2:24 pm

    bagus baget..
    eh… memangnya kamu suka banget ya baca buku…..

    apa cuma laskar pelangi doang….?

  14. madam Gon 08 Aug 2008 at 11:28 pm

    awalnya gw pikir ini novel yang biasa aja yang “garing” tp setelah suami gw “maksa” gw baca ternyata…gw gak bisa berhenti, OH MY GOD…!! kalo di indonesia ada pulitzer kayaknya layak dapet deh…!! buku ke 2 dan ke 3 juga ok, common Andrea bikin lagi buku-buku yang lebih bikin trance..!!

  15. lAeLAon 06 Oct 2008 at 8:20 pm

    menRUT Q bGUZ bGT,cRT nA bWt jAMAn cKAlNG,wuiH Q anTRi nNTN fLM nEWH sUWE EUY , , , hOohoohOohOoH

    cRT nA iS thE bESt

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Comment, please?

dey