[sanjak] Kepada siapa kemudian mereka berpaling?
daengrusle March 23rd, 2008
di balik dinding kardus yang lapuk oleh basah dihempas hujan bergelontor-lontor, ia merapat badan menjentikkan jari mengukir lukisan dengan pensil tumpul, menggambar dirinya yang tirus dibekap hangat oleh tangan lembut yang dirindukannya. Ia ingat semasa kecil guru ngaji di langgarnya bercerita indah, - hati sang suci ada bersama kaum seperti dirinya. lamat-lamat bibirnya yang kering tertarik melebar, mengukir senyum. dibayangkannya sang suci tersenyum indah padanya. dan ia memeluk bayang itu sehangat bantal empuk saat lelap dikelon emaknya, dulu. ah, betapa ia rindu padanya, pada sang suci, pada emak, pada ketulusan, pada semua impian. impian yang musykil saat ini.
dibawah atap daun rami yang menguning, lunglai dan tempias, sekali ditadahkan tangannya mengemis air yang lindas dari langit lepas, membayangkan cucuran suci seperti yang dulu dinikmati sesahabat me-wudhu-kan wajah dan tangannya. matanya mengatup mesra seperti sedang kasmaran dengan bayangannya sendiri. dari selembar buletin yang dikaisnya dari sampah langgar, ia pernah membaca; sang suci akan memberi syafaat buat umat yang membenamkan cinta untuknya, menunggunya dengan setia hingga perjumpaan indah di al-kautsar, telaga berisi madu dan susu. setiap saat dibisikkannya shalawat, setiap saat sejak itu.
ia sering bermimpi telaga al-kautsar seindah gambar danau bening dari kalender usang yang ditempelkan didinding kardus gubuknya. semua hijau segar, ada lima angsa yang bermain, dan tiga burung bangau putih beterbangan riang di langitnya, menepis awan yang turun menyapa mesra. disana, mungkin, ia akan minum segarnya air telaga beraroma madu dan susu bersama sang suci. indah sekali. matanya tertangkup selama ia menikmati terbuai khayalan.
disana, di gubuk kardus nan lembab oleh gelontoran hujan yang tak pernah bosan membisikinya, dia kemudian tertelungkup menyatukan belulangnya melawan dingin, dan lapar. wajahnya yang kurus berpaling pada mimpinya, pada perjumpaan yang dijanjikan. disana, dia lapar. tapi dia yakin, di telaga al-kautsar laparnya pasti hilang, berganti bahagia. terutama saat mencium jemari sang suci. dan ia akan meminta manja, supaya air memuncar dari ujung jarinya, agar ia bisa sesuci sahabat. amin.
Popularity: 46% [?]














Bagusna ini sajak kesiang…dikau mengalami sublimasi yg signifikan brader…
Nuntung’s last blog post..Mangga Ranum di Tepi Jendela
Duh..sajak yang membuat saya langsung tersentak dan menggigil terharu. Thanks Daeng..
amril’s last blog post..BLOG FOTO UNIK DAN LUCU
huaaa…. mantap sekaaaaaliiii…
Mus_’s last blog post..Kisah Kerajaan Gowa