Membaca Aan, pelukis kata-kata
daengrusle March 27th, 2008

Kalau seorang Andrea Hirata digelari seniman kata-kata, maka saya - dengan bermaksud ikut meniru - menancapkan gelaran pada Aan sebagai pelukis kata-kata. Dia melukis dengan kuas yang lantang bercerita, diatas kanvas tema yang menarik dan membingkainya dengan kata yang diolah dari bahasa indonesia yang indah. Jadilah puisi. Lukisan puisi ini yang sering membuat kita terkesima, sebahagian besar adalah pemandangan keseharian seorang Aan yang bisa menjadi cermin buat siapa saja. Menatap lukisan kata-kata Aan, terutama buat penikmat puisi yang awam - umumnya diisitilahkan sebagai passanjak Koddala, termasuk saya he2 - maka refleksi yang terlontar adalah refleksi diri, deja vu!
Bukan bermaksud memuji, ah kenapa mesti menyembunyikan diri? - tapi puisi Aan banyak menginspirasi passanjak koddala untuk turut melukis kata juga. Di milis panyingkul, ada beberapa passanjak koddala yang kadang secara tidak senonoh ikut-ikutan berkompetisi dengan lukisan kata Aan yang terbiasa mendapat applaus kata-kata dari khalayak milis. Saya adalah termasuk passanjak koddala yang paling narsis. Sungguh tidak level, menorehkan sanjak ke dalam komunitas pencinta kegiatan menulis itu secara asupan sastra yang terbiasa mereka cerna adalah sekualitas lukisan kata Aan dan yang sekalibernya.
Tapi sanjak Aan adalah inspirasi. Demikian juga dengan Aan sendiri sebagai pribadi. Dia mendorong kita untuk terus membaca puisi, karenanya kita bisa tertular oleh sihir dahsyat kata-kata itu. Aan juga tidak suka mempersoalkan makna dari kata, walaupun kekuatan puisi Aan adalah makna dibalik kata dan alurnya. Petuah paling dahsyat dari seorang Aan muncul dari hasil kontemplasi - mungkin saduran, wallahu ‘alam, yakni ungkapannya yang mengatakan “aku menjadikan diriku sebagai puisi! setiap gerak dan laku ku adalah puisi. Karenanya puisi menjadi hidupku. (kata-kata terakhir ini hasil interpretasi saya sendiri, he2).
Kemaren, saya menerima kiriman buku puisi Aan bertajuk - Aku Hendak Pindah Rumah. Buku puisi ini adalah yang ke-2, yang perdana adalah buku sajak berjudul “Hujan Rintih-Rintih”.
Saya belum lagi menamatkannya, tapi saya sudah terburu2 membuat rangkuman. Tentu saja rangkuman yang subyektif, tapu pasti berangkat dari penilaian atas sajak-sajak Aan yang secara ikhlas dan tawadhu rajin diposting ke milis panyingkul, terutama setelah tayang di beberapa harian ibukota, Kompas misalnya.
Saya belum lagi membaca pengantar dari Hasan Aspahani, tapi 99 puisi
Aan di buku ini membuat saya tidak bisa tidur malam ini. Hanya untuk menulis sebuah pengantar buat saya sendiri.
Terakhir, mudah2an pujian disini tidak over dosis. Syukur2 bisa jadi ajang promosi buku bagus ini. Tapi saya kira, kata-kata Aan yang dilukisnya ini sudah bisa menarik sendiri para peminat tanpa digombali. Mau tahu rasanya? Baca saja sendiri.
Popularity: 47% [?]















haduh saya ingin sekali bisa menulis puisi,tapi sulit sekali,membaca puisi saja masih sering banyak bingungnya,,apalagi membuatnya,,wah salut saya sama orang2 yang pandai membuat puisi2 bagus
ika’s last blog post..Wew ternyata ada yang ’senasib’…
Saya juga merasaH, partner ! Passakola&la…passanjak koddalak dan la….
Nuntung’s last blog post..Di Banda Aceh, Perempuan Menuntut Malam
well….
Aan adalah salah satu jembatan bagi saya untuk mulai menikmati puisi..
benda yang selama ini ada di ranah antah berantah dalam kehidupan saya, namun sekarang mulai bisa saya nikmati..
dan jembatannya adalah Aan…
btw, kikodnya : Aan..
ini sengaja, atau saya yang beruntung..?, hehehe…
ipul’s last blog post..Kampanye nge-blog
terima kasih ulasannya, daeng.
aan’s last blog post..[ulasan] Aku Hendak Pindah Rumah #1
Mana mi buku pesananku daeng?…hiks…hiks…
yani’s last blog post..When you are extremely excited…..