Archive for March, 2008

Daeng Basse

daengrusle March 4th, 2008

daeng-basse.JPGSambil menghirup nikmatnya kopi kental di warung kopi khas Makassar di Kafe Phoenam, bilangan Wahid Hasyim Jakarta Pusat, Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin berseloroh betapa kasus kematian Daeng Basse menjadi issue politis di tengah pencalonan dirinya untuk menjabat walikota kedua kalinya. Asap yang mengepul menebarkan aroma kopi wangi itu keluar dari cangkir putih tebal, sesekali dihirup dengan nikmatnya di Minggu Sore itu, 2 Maret 2008.

Daeng Basse bukan meninggal karena kelaparan. Si Basse - demikian pak Walikota menyebut nama warganya itu - mati bukan karena kelaparan. Dia diare. Dan akibat diare dia tidak makan. Bicara orang sakit diare ditafsirkan politis katanya kelaparan. Siapa yang salah? Dan malang nian bagi Daeng Basse yang saat ini terbujur kaku di kuburannya di Bantaeng, dia yang menjadi korban juga menjadi terdakwa. Pak Walikota membuat sebuah kesimpulan “Yang saya sesalkan dia menderita sakit diare tidak dibawa ke Puskesmas dan di sana (Puskesmas) tidak ada pengeluaran sepersen pun!”.

Secara terpisah, Kadis Kesehatan Kota Makassar, dr Naisyah T Azikin yang dikonfirmasi tetap kukuh menolak bahwa Dg Basse sekeluarga disebut gizi buruk. Naisyah mengungkapkan, keluarga itu hanya tidak terpenuhi kebutuhan asupan makanannya. Kelaparan dan kekuranan asupan makanan adalah beda, menurut kamus ambtenar Makassar ini. Pongah atau bodoh?

Daeng Basse yang malang itu, meninggal dalam kondisi tak makan selama tiga hari. Asupan terakhir yang masuk ke tenggorokannya hanyalah sepiring bubur. Dan tiga hari kemudian, pada 29 Februari 2008, Daeng Basse wafat. Bersamanya ke alam baka, turut serta jabang bayi yang sedang dikandungnya tujuh bulan dan seorang anaknya Bahir yang masih bocah lima tahun.

Kedua manusia malang itu diliangkan dalam satu lubang, di tanah garapan orangtuanya di Bantaeng. Adalah Daeng Basri, suami pemabuk yang lebih mencintai ballo (minuman keras khas Makassar) daripada istri dan anaknya itu, membawanya pulang ke tanah Bantaeng. Walikota Aco menutup kisah itu dengan ungkapan sederhana: Persoalan mati itu persoalan ajal!

Luarbiasa!
Berapa tepukan harus dihadiahkan utk pak Walikota kita?

Jauh di sebuah kota berdebu, seorang blogger asal Makassar menorehkan puisi yang sahdu melepas sang Bunda;

di pusaramu
kuletakkan seikat tanda tanya
terbungkus koran hari selasa
bergambar mahasiswa di kotamu
sedang asik perang batu

Bekasi, 02 Maret 2008

kita, saat ini. apa yang ada dikepala kita? malu, mungkin.

Popularity: 34% [?]

Ulang Tahun-ku

daengrusle March 3rd, 2008

beranjak.JPG 

hari ini, menurut tanggal di ijazahku saya ultah yg ke-32. sepagi tadi, beberapa sms sudah menyahut-nyahut mengirim tahniah. di milis; buginese, blogger makassar, makassar94, dan panyingkul juga berderet thread khusus untukku. saya menanggapinya dengan haru, walau sedikit merasa biasa. ini adalah hari biasa, bahkan ironis. karena usia yang bertambah berarti ada yang beranjak, mendekat dan makin mendekat.

saya senang, dengan keberanjak-mendekat ini, maka saya akan semakin rindu pada kakanda ku yang baru berpindah duapuluh hari lalu. biasanya, dia lah yang selalu yang pertama mengingatkan ulangtahunku, dengan suara yang riang tentu. ah, saya merindukannya. setiap limamenit waktu yang saya habiskan, ada namanya tersiar seperti azan yang setia memanggil. 

embun bunting
::hadiah ultah untukku, dari kak luna vidya

seperti mimpi, semua terjadi,
pada hari ketika terbangun
dan di pucuk daun
dengan embun bunting yang menggantung,
tertulis pesan dari Sang Kehidupan -

pada peluh dan risau seorang lelaki,
telah ditimbang kebahagiaan, jauh-jauh hari.
Jadi selesaikan sekarang, hari ini.

Hanya hari ini,
esok memiliki kesusahannya sendiri.

Selamat Ulang Tahun ki Rusle

Continue Reading »

Popularity: 34% [?]

« Prev