[sajak] Dongeng Bathin Sembilan*)

daengrusle April 12th, 2008

kami Bathin Sembilan, puak Puyang Semikat yang terusir dari Musi
sama kini berdiri ditempat mana sama berpijak,
di atas gelagar Nebang Para, mata kita sama nanar memagut nun tanah Telisak
disana rimbunan sawit terhampar luas laksana permadani berbulu kesak
di lengannya, sungai Bahar hangat meliuk mesra memeluk
berselimut magis Bathin Sembilan, benak kita sama berkhayal emas yang direbak
padanya kami melukis kenang pada Puyang Semikat secerlang merak,
dan kalian mencumbunya senikmat saham blue chip siap lego di lapak-lapak

kami Bathin Sembilan, puak Puyang Semikat yang tertanam di sembilan ngarai
kita kini sama berdiri ditempat mana sama berpijak,
tapi kepala kami sompak menganga oleh janji yang terserak
nun berpuluh depa di bawah rimbunan sawit, asa kami mengatup terderak-derak
dulu kalian janjikan hamparan pepohon itu adalah emas yang membelalak
kemudian janji itu disulap menjadi asap naik berarak
dan waktu kemudian bertitah: terbilang malang nasib kami puak beranak

alangkah malangnya, sekira waktu merentang jarak dengan nasib
kami memang seumpama kelebat konon yang lapuk oleh lupa,
berdiam di suatu negeri dimana pikiran lebih senang memilah daripada menyapa
dan nasib kami kemudian terbilang secepat sampan membelah Batanghari,
dan tiba-tiba kami sudah berdiri di tanah asing dimana ular seperti bertanya masygul
kemana gerangan sembilan negeri yang kau gagahi seperkasa dulu,
melingkar kukuh pada Rimbo Adat ibarat kitab lanun yang angker?

dan halimun Sungai Lalan di lembah Musi mengendus tajam bergegas
mengantar dongeng semasa dulu digelayut Puyang Semikat berkemas-kemas
terusir dari pertiwi yang amuk oleh buah kutukan kemilau emas
di ujung Bahar tempat sauh dilepas sudah ditoreh tegas; gelar terbilang harta dihempas
namun seperti gelinding yang ingkar, sang Puyang dilingkup pula takdir baik
dua kerat hati kembar Bayan Riu Bayan Lais disunting dari Depati Seneneng Ikan Tanah;
darinya berserak puak pada sembilan ngarai sejak Muaro Jambi, Batanghari hingga Sarolangun;
Pemusiran, Burung Antu, Sekamis, Telisak, Jangga, Jebak, Bulian, Bahar, dan Singoan
jadilah kami Bathin Sembilan, puak Puyang Semikat yang terusir dari Musi

kami Bathin Sembilan, puak Puyang Semikat yang kini nanar dikepung sawit
terbilang waktu; nasib kami sudah digariskan; punah oleh kutuk nasib puak terusir

- puisi ini sedianya ditulis untuk diikutkan dalam Lomba Penulisan Puisi dan Cerita Pendek Berbasis Cerita Rakyat Jambi oleh Jambi Writing Program

*) terinspirasi dari tulisan:
Kebudayaan yang Hampir Punah – Irma Tambunan
Kompas 12 Maret 2008

Popularity: 71% [?]

There are 3 Comments for
    “[sajak] Dongeng Bathin Sembilan*)”

  1. Gelandanganon 18 Apr 2008 at 1:55 pm

    wahhh…setiap kalika kesini daeng sejuk terus hati
    betul-betul blog penyejuk hati apa lagi masih pusing2 ini baru2 diaudit :D
    Gelandangan’s last blog post..Postingan Selanjutnya Mengenai

  2. amrilon 18 Apr 2008 at 4:24 pm

    Luar biasa, Puisi ini benar-benar begitu deskriptif dan menyentuh. Salut buat Daeng Rusle yang begitu tekun mengolah riset pustaka dan menghasilkan karya sajak yang dashyat. Semoga menang ya!

  3. anbharon 22 Apr 2008 at 7:27 pm

    waks…
    daeng ada nama kampungku (nama Desa Kelahiranku)
    hehehe
    PEMUSIRAN. ini nama desa kelahiranku yang +90% penduduknya adalah orang BUGIS
    hehehe

    anbhar’s last blog post..I’m back

Trackback URI | Comments RSS

Leave a Comment, please?

yaya