[Buku] The Perfect Guys dan Ayat-Ayat Cinta
daengrusle April 19th, 2008
Apa salahnya menjadi the perfect guys? Ada salahnya. Di tengah masyarakat yang serba tak sempurna, serba kompromi kepada ke-terbatas-an Anda akan divonis berada hidup di awang-awang, dengan menjadi manusia ‘aneh’. Kalau anda merasa orang yang sadar dan normal, maka ketika Anda berada di dalam quadran masyarakat yang serba tak sempurna, maka Anda adalah setitik noktah koordinat yang tidak bersinggungan dengan garis linear apapun, kecuali di interpolasi sedemikian rupa hingga seolah-olah Anda berada di dalam struktur dan sistem nya, hanya karena keberadaan fisik Anda diakui dalam bentuk statistik. Ya, Anda adalah manusia sinting di tengah masyarakat waras. Masyarakat yang waras yang lebih suka berdalih bahwa kemanusiaan itu berarti ketidaksempurnaan. Lihatlah pemeo masyarakat “rocker juga manusia, presiden juga manusia, artis juga manusia, hingga ulama juga manusia”. Semuanya adalah penegasan atas sikap permisif atas ketidak sempurna-an kapasitas moralitas seseorang. Namun di saat yang lain, masyarakat jenis ini mudah dihinggapi sikap munafik, karena masih saja menyenangi menggunjingkan kebobrokan dan kemerosotan moral perilaku manusia di dalam nya.
Apa salahnya menjadi the perfect guys? Ada salahnya. Siap-siap saja menjadi bahan cemoohan oleh orang-orang yang tak sanggup menjadi sempurna, meski sangat berkeinginan untuk itu. Anda akan dinegasikan sedemikian rupa sehingga semua opini yang Anda lontarkan akan menjadi bumerang - back fire yang akan menghancurkan diri Anda sendiri.
Apa untungnya menjadi the perfect guys? Banyak sekali. Konsistensi Anda akan membawa Anda kepada kepuasan pribadi, ketika jalan yang lurus dibentang, dan Anda termasuk salah seorang dari sedikit yang berhasil berada di jalur yang penuh barokah itu.
Anda ingin menjadi the perfect guys? Bacalah Ayat-ayat Cinta. Anda yang sudah terlalu lapuk hidup di tengah masyarakat buta akan mendapatkan kenyataan ironis. Pilihannya hanya dua; Anda bisa mencemooh pribadi seorang Fahri, atau memujanya.
Pilihannya, kalau Anda memilih yang pertama. Berarti Anda benar2 sudah terlalu busuk dalam ketidak sempurnaan. Maka, beristighfarlah.
![]()
Popularity: 89% [?]














saya sependapat dengan daeng untuk memiliki sifatdan karakter fahri
aRuL’s last blog post..Pemulung berteknologi
Film itu indah…
Nuntung’s last blog post..Listen to Your Mom, Donnie !
kalau ditanya pendapat saya tentang buku ini, saya akan bilang kalau buku ini sempurna pada caranya mendeskripsikan situasi dan lokasi, sehingga kita yang membacanya seolah ikut berada pada setting cerita di dalam buku itu.
tapi kalau ditanya tentang karakter tokoh-tokohnya (terutama si fahri), saya tidak mencemooh (jadi benar kok masih juga disalahkan?). melainkan bertanya, “adakah sekarang ini orang yg seperti dia?”
Mus_’s last blog post..The 2nd Anti Hunger Campaign Report
Syukran Ustadz, atas ajaran kerendahan hatinya….
tentang Fahri, ketika penulisnya mendapat komentar bahwa karakter Fahri tiak mungkin bisa ditemukan dikekinian, beliau memberi komentar balik sederhana, “Justru bagi saya Fahri belumlah sempurna, masih perlu saya lebih perfect lagi, kita terlalu banyak disuguhi cerita-cerita dengan tokoh yang antagonis…”Ungkapnya.
Ala kulli hal, Kalau saya diberi pilihan, saya lebih memilih memuja Daeng Rusle dibanding Fahri…
Daeng nyata, Fahri tidak…:-)
Salama’ki…
Ismail Amin’s last blog post..Benarkah Kita Bangsa yang Bodoh ?
ayat-ayat cinta adalah buku yang mengatakan islam yang benar.tentang islam yang damai, sejuk, dan hakiki…
saya belum baca bukunya, jadi belum bisa kasih komen…
kalo filmnya sih sy bilang mengecewakan..thanks to Punjabi bersaudara yg pasti lebih mementingkan duit balik daripada pesan moral secara keseluruhan…
ada yang mau minjemin bukunya ndak..??
hehehe…
ipul’s last blog post..Cedera..!!
Seseorang dikenal dari kebenaran yang dibawanya. Bukan sebaliknya. Terlepas dari Fahri itu perfek atau tidak. Saya bingung, kenapa begitu banyak orang yg mempermasalahkan adanya Fahri atau tidak dalam kenyataan sesungguhnya. Ketimbang membahas nilai2 religi di dalam novel tersebut.
Saya belajar bahwa lagi2 kita tak bisa lepas dari yang namanya kemasan, bungkus dan apalah yg terikat secara kasat pada kebenaran. Entah Fahri sempurna atau tidak, tapi novel Ayat-ayat Cinta sendiri memuat sarat hikmah dan inspirasi. Dan saya rasa itulah pesan penting yg disampaikan oleh Kang Abik, yakni keindahan Islam.
Dari segi sastra, sang penulisnya sudah mengakui memang banyak kekurangannya, salah satu-nya -menurut saya- menyeret para pembacanya dalam tafsir “ada gak ya sebenarnya sosok fahri itu?”.. Apa boleh buat, penulisnya mungkin belum ngeh kali ya -lagi2 menurut saya- klo Mesir dan Indonesia sangat jauh bedanya. Di sini kita masih melihat embel2 sosok, figuritas dsbnya…
Btw, apa kabar inie Daengku, lama ndak dengar kabarta’
ada satu hal yang menarik juga di film itu, misalnya kesamaan tatto di tangan aisha yang hampir mirip dengan kebiasaan orang2 dahulu di makassar takkala akan melangsungkan pernikahan yang melukiskan tato di tangannya juga dengan daun paccingk…. di mal2 malah dah ramai orang buat tatto temporer ayat2 cinta…hmm, kang abik emang tawaddhu, dan pinterrr