Archive for May, 2008

Ayo Ikut! Proyek Buku Komunitas AM kerjasama dengan Penerbit Gradien Mediatama

daengrusle May 29th, 2008

Komunitas Blogger Makassar AngingMammiri (www.angingmammiri.org) bekerja sama dengan Penerbit Gradien Mediatama (www.gradienmediatama.com), menyelenggarakan seleksi karya terbaik anggota blogger Makassar untuk dibukukan menjadi kompilasi kisah nonfiksi dengan tema tertentu yang telah ditetapkan.

Penerbit Gradien—salah satu penerbit terkemuka di Yogyakarta dan menjadi bagian dari Agromedia Grup—telah menerbitkan sejumlah buku yang diangkat dari blog serta karya kompilasi Blogger di Komunitas Blogfam, memberikan peluang bagi anggota Blogger Makassar melalui sebuah kerja sama konstruktif dengan menerbitkan buku hasil karya anggota komunitas Anging Mammiri dengan syarat sebagai berikut:

1. Tema: Pengalamanku yang paling gokil selama hidup

- Tema utama adalah “pengalamanku yg paling gokil selama hidup” bergenre cerita komedi non fiksi.
- Kami tidak menerima cerita yang mengandung pornografi, erotis, ataupun mengandung pelecehan SARA.
- Tim editor Angingmammiri.org/Gradien akan memilih 15 cerita terpilih untuk dibukukan.

2. Syarat Penulisan

- Terbuka untuk seluruh member Angingmammiri.org (termasuk Admin dan Moderator)
- Memakai Bahasa Indonesia (boleh menggunakan ungkapan2 bahasa Makassar, dengan catatan diberikan catatan kaki pada halaman cerita)
- Maksimal 1,500 kata (atau kurang lebih 6-7 halaman A4), diketik dalam spasi ganda dan type font Times New Roman 12 pt
- Sama sekali belum pernah dibukukan, dimuat di media cetak dan media online (selain blog pribadi).
- Setiap penulis boleh mengirim naskah sebanyak-banyaknya (tidak dibatasi). Continue Reading »

Popularity: 36% [?]

Ole-ole dari Makassar: Bassang Tak Sampai

daengrusle May 27th, 2008

Prolog: Ole-ole, bukan oleh-oleh, adalah segala sesuatu yang dihadiahkan kepada rekan, keluarga atau siapa saja dari seseorang yang baru saja bepergian. Ole-ole dari Makassar yang lazim dibawa adalah: Minyak Tawon, Juice Markisa, Kacang Disko, Replika Rumah Tongkonan, Otak-otak, Sarung Sutra, Songkok Bone, Dange, Roti Maros, Coto, Konro…halah….!

Apa ole-ole nya dari Makassar? Saya sendiri bingung ketika di’tagih’ beberapa kenalan di Balikpapan. Bingung karena pertama, memang saya tidak bawa ole-ole yang biasanya orang suguhkan sepulang bepergian. Kedua, karena memang saya tidak punya (dan tidak mau punya) kebiasaan membawa ole-ole itu. Selain mungkin karena saya rada pelit, juga sebagian besar karena saya kikuk dalam urusan ole-ole ini. Kikuk menentukan apa yang pantas untuk dibawa. Kalau beli sesuatu, takutnya kurang atau berlebih. Berlebih kan mubazir. Terkadang juga pernah saya mencoba menjadi teman yang baik, membelikan ole-ole. Tapi rupanya respon mereka biasa-biasa saja, kadang malah tidak menyentuh yang saya bawa. Nah, dari pada kikuk - juga karena memang saya pelit - saya ambil saja jalan mudahnya. Tidak bawa ole-ole. Simpel tapi pasang muka tembok, ha3!

Tapi tundulu, kawan. Ini Rusle, bung. Tak elok rasanya kalau ada perjalanan yang tidak diabadikan dalam tulisan. Nah, sebagai pengganti ole-ole (sebenarnya hanya justifikasi kepelitan saja), maka tulisan inilah yang menjadi ole-ole ku dari Makassar.

Jalan Tol: Menyedihkan
Ungkapan ketus dan sinis pertama yang saya lontarkan ke Makassar ini adalah Jalan Tolnya yang saat ini sedang diperpanjang, perlebar, perkeras, permak, perbodden, perdomes, persetan deh!
“Masya Allah. Sudah macet berat, jalan rusak poranda, debu seperti halimun gunung, panas melelehkan keringat, eh disuruh bayar pula! Kenyamanan apa yang mereka berikan sampai kita harus membayar?
Jalan tol (tanpa jalur alternative) di Makassar ini sebenarnya pendek sahaja. Tidak heran kalau bayarnya pun murah sahaja, Rp 1,500 (kalo ndak salah). Tapi perjalanan melintasi jalan tol dari pertigaan Sudiang-Mandai ini betul-betul seperti neraka.
Dan biarlah saya merasa tak ikhlas membayar tol nya itu.

Poster Para Pembual
Nah, inilah kesinisan saya yang kedua. Sejak memasuki jalan tol yang menyedihkan itu, saya disuguhi banyak bualan berbentuk sampah poster. Seperti biasa, para tim sukses para pembual ini rupanya tidak begitu cakap melakukan house keeping di kota sendiri. Ribuan poster para kandidat calon walikota yang belum resmi benar bisa bertarung dalam pilwalkot Makassar ini memenuhi nyaris di semua riang public dengan kondisi awut-awutan. Masing-masing seperti berlomba membualkan diri, hanya mereka yang mampu menaikkan harkat Makassar (dari titik apa). Ada yang merasa pe-de mengaku sukses membangun Makassar di jabatan sekarang (padahal masih fresh kita ingat Daeng Basse yang mati kelaparan di kota ini), ada juga yang menyuarakan antitesisnya: Tidak Akan Membiarkan Rakyat Makassar Miskin dan Kelaparan! Ada yang memasang senyum di sana sini dengan yakinnya (padahal kata temanku dia punya seabrek kasus menunggu di pengadilan). Ada juga yang dengan sangat narsis mengumandangkan: Dia Datang Membawa Perubahan. Ada yang juga dengan congkaknya mengaku sebagai New Solution for Makassar. Ambe’ mua mi ces!
Tak kurang dari sepuluh pembual yang menjajakan dagangannya di Makassar saat ini. Tentu saja nanti akan mengerucut sekiranya sudah ada koalisi yang tetap untuk mengusung calon dan wakilnya nanti. Tapi yang jelas, kota Makassar yang kotor itu makin kotor dengan sampah bualan.

Kopdar Komunitas Angingmammiri
Kali ini bukan sinism yang saya angkat. Tapi semangat komunitas di komunitas blogger Angingmammiri. Saya sempat mengikuti satu kopdar dari tiga kopdar yang diadakan rekan-rekan AM. Alhamdulillah bisa ketemu mereka, bisa bincang-bincang langsung. Kopdar kali ini saya membawa si kecil Mahdi yang serta merta menjadi pusat perhatian mereka.
Suasana kopdarnya sendiri bisa dibaca di blog beberapa rekan berikut.

namun ada yang tersisa dari kopdar ini dan menyedihkan buat saya. tak bisa ketemu si sohib. padahal sudah bela-belain saya bawakan dampo dan amplang pesanannya…:(
Continue Reading »

Popularity: 41% [?]

[Sanjak] Supaya tetap ada yang bangun

daengrusle May 9th, 2008

tidak ada perhentian di dunia ini sebenarnya,
kalo merujuk ke Heraclitus (540SM) dari Miletus, alam ini, termasuk isinya adalah sekumpulan turbulensi abadi…semuanya bergerak dan dengan demikian berubah…

yang ada dianggap diam hanyalah konstanta bilangan…itupun masih akan selalu direvisi…
nah bukankah revisi adalah juga manifestasi ketidakberhentian…?

supaya tetap ada yang bangun
::

sehabis melarung arung yang bertarung dalam sarung di benak
tiba saatnya menelungkup belikat pada diam yang ditanak,
sedikit saja, dan tanak yang gelisah kita angkat menyalak
bangun, setegap saja, kita bisa toreh semua gairah yang tertalak

bukan kita sebangsa manusia kalau dipaku mati pada penat
sebab gairah tidak pernah henti menampar kuat
di kepala, jantung dan hati kita sama rekat erat
bahwa semua waktu adalah saat kita menghitung semangat

supaya tetap ada yang bangun, kawan
tidak untuk menunjukkan aku kita kepada lawan
hanya sekedar bersyukur pada diri dan sang maha rahman
bahwa tetap bahagia memegang amanah hingga di akhir jalan

pasir ridge, di tengah penat…
May 09, 2008

Popularity: 62% [?]

neraka berbau amis

daengrusle May 3rd, 2008

dan mengapa, ketika bibir dan zikirku sedang berpekur mencari-Mu di sela pesiar pikirku
di beranda, ada segerombolan orang bergamis dan berkopiah,
dengan rambut lebat di dagunya berseru murka
seakan neraka ada di balik mimbar, di antara shaf-shaf yang tertata rapi
atau ditumpukan kitab yang lusuh

dan mengapa, kemudian surga dan neraka menjadi properti yang diperjual belikan
ketika mulut kyai berbau amis oleh tiga kata angker; sesat, haram dan neraka

Popularity: 64% [?]