In Memoriam: Mammi Hj Ramlah
daengrusle July 2nd, 2008
Ketika manusia berpindah ke alam baka, ke tempat mana semua kebaikannya akan bersemayam? Kitab suci mengajarkan kita bahwa ia akan ditulis abadi dalam Kitab Kebaikan, Lauh Mahfudz. Namun orang-orang bijak zaman dahulu mengajarkan hal yang lebih praktis dan menurut saya sangat romantis; ia bersemayam dengan nyamannya di sebuah bilik di hati manusia lainnya dalam bentuk yang indah dan sulit tergeser kecuali oleh penyakit alzheimer: kenangan.
Kenangan, mengabadikan semua kronik hidup manusia di kepala manusia lainnya. Ketika ia meninggal, maka sesungguhnya jiwanya, dalam bentuk yang lain, hidup terus dalam kenangan manusia lainnya sampai kemudian beberapa generasi setelahnya. Beberapa manusia mencoba mengabadikan ‘kenangan’ ini dengan menorehkannya dalam bentuk tertulis, hingga kemudian menjadi abadi sepanjang sejarah manusia sampai kemudian musnah bersama sejarah itu sendiri.
Saya sesungguhnya tak pernah siap memindahkan orang-orang yang dekat dengan saya, terutama jenis yang teramat saya cintai, ke dalam kotak ‘kenangan’ di kepala saya. Karena kenangan ini hanya bisa kita panggil dalam bentuk yang imajiner, dengan membayang-bayangi sosoknya yang hidup dalam perenungan. Sungguh meski indah, namun tak begitu terasa terutama bagi kita yang terbiasa bersentuhan fisik.
Mammie, yang hingga pusaranya tegak berdiri diatas makamnya tak pernah sekalipun saya mengenal panggilan lain atau nama aslinya, adalah salah satu sosok orang tua yang sangat membekas dalam kehidupan saya, terutama saat masih SMA. Suara beratnya lebih sering terdengar sebagai suara seorang yang cemas yang tak menginginkan hal lain selain kebaikan buat anak-anaknya, juga buat kami yang sudah merasa sebagai anak-anak kandungnya sendiri. Hidupnya yang sepenuhnya dihabiskan sebagai seorang guru tentu secara formal sudah membentuk laku nya yang digariskan pada sesuatu yang semua orang mungkin akan iri melihatnya; teladan dan cermin sempurna kesabaran. Ia adalah pusaran yang menarik semua energi yang membiak tak terarah yang kemudian luluh masuk ke dalam inti hidup itu sendiri; seperti apa anda hendak menjadi? Setiap memandangnya, atau acap kali bertegur sapa dengannya, maka saya hanya bisa cemas merenungi diri sendiri. Kesalahan apa lagi yang harus saya entaskan hari ini. Begitulah saya melihat Mammie setiap saat. Penuh kecemasan, karena diri yang tak pernah mampu menjadi cermin sempurna.
Rumah keluarga nya di Tinumbu, berhadap-hadapan dengan sebuah Panti Asuhan, seperti menjadi rumah kami juga. Keakraban saya dan teman-teman dengan keluarga ini terjalin akrab saat masih sama-sama belajar di SMA Negeri 1 Makassar, saat Dedy Babhe dan Yayu menjadi bagian yang mengisi masa remaja kami dan kemudian menjadi sebuah monumen sejarah dalam kronik hidup kami setelahnya. Mammie sudah mengakrabi kami sedemikian rupa hingga terasa bahwa tak ada beda antara kami dan anak-anak kandungnya sendiri. Suara baritonnya terdengar khas dan bersahabat saat menyapa kami yang kadang tak pernah malu menyambangi rumah itu hingga larut malam; makan, ribut, belajar, tidur hingga bermain domino atau yoker tanpa terbebani oleh rasa bersalah. Mungkin di rumah itu tidak mengenal istilah sungkan, hingga kemudian semua keluarga Mammie menjadi keluarga kami sendiri, dari Tante Siah hingga Uddin dan Om Juna’. Sari dan Budi Ciu menjadi saudara kami juga. Bahkan hingga kemudian ketika kami kembali dipertemukan di Jakarta. Rumah kontrakan Dedy Babhe di Pisangan, yang setiap saat ramai dikunjungi oleh Mammi, Pappi, dan seluruh kerabat kembali menjadi tempat kami berkumpul. Apalagi sebahagian dari kami tak punya keluarga di ibu kota ini, dan mereka menjadi keluarga terdekat yang kami miliki. Setiap kami dikabari bahwa Mammi dan Pappi datang berkunjung dari Makassar, tak elok rasanya tak menampakkan muka di hadapan mereka, dan kemudian dengan hangat mencium punggung tangannya. Saya, Alfian, Daus, Fajri, Onte, Culli, One, Faskan dan semua teman-teman yang pernah ‘terlunta’ di Jakarta tentu memiliki sebuah ‘kotak rindu’ khusus untuk Mammie, dan karenanya, kami membuatkannya surga kenangan di kepala kami masing-masing. Hingga kemudian kami akan membukanya tepat di hadapan Mammi saat perjumpaan kelak di alam yang sama. Insya Allah.
Di pertengahan Mei 2008, setelah hampir lima tahun tak bersua, saya kembali bertemu Mammi dalam kondisi yang sungguh tidak saya harapkan. Di sebuah ruang ICU di Rumah Sakit Akademis Makassar. Hati saya berat untuk menatap tubuh Mammie yang terbaring lemah, seakan bayangan sedih kakak saya yang baru saja berpulang kembali muncul. Saya dan teman-teman; Faskan, Langgau, Upphy, yang kebetulan berkumpul sepulang dari pesta pernikahan Onte, hanya berusaha berdoa dan mencoba menanamkan rasa ikhlas kepada saudara saya Babhe, Irzal dan Yayu. Ikhlas bukanlah sebuah tanda menyerah kepada nasib, namun sejatinya adalah tanda bahwa kita percaya kepada Yang Maha Memiliki, bahwa apapun yang terbaik bagi bagiNya tentu terbaik pula untuk hambaNya. Hampir tiga minggu di ruang ICU, saat pagi di hari Sabtu penghujung Mei 2008 , saat baru semalam saya tiba dari Balikpapan, kabar duka itu kemudian tiba dalam sebuah pesan singkat. Mammi telah ‘berangkat’ ke alam yang dijanjikan. Dan kami tak kuasa menahan pendar haru yang keluar dari kotak rindu kami untuk Mammi. Kematian adalah janji yang pasti, dan kami seperti tertagih olehnya. Tertagih akan kecemasan, bahwa kami tak akan pernah lagi menemukan kehangatan dibalik suara beratnya, selain menjadikannya kenangan yang akan kami bawa kelak, hingga perjumpaan kembali dengannya.
Selamat jalan Mammie, mohon maaf atas semua salah kami dulu.
Popularity: 66% [?]















turut berduka cita daeng
aRuL’s last blog post..Mahasiswa, dilihat sebelah mata!
turut berduka cita…………………
Konsultasi kesehatan’s last blog post..Kembali ke Desa
innalillahi wainna ilaihi rojiuun. turut belasungkawa. semoga amal perbuatannya diterima di sisi Allah SWT dan yang ditinggalkannya tetap dalam keimanan.
treen’s last blog post..Pesan Terakhir