Kapan Pulang Ke Kampung?
daengrusle August 20th, 2008
Pertanyaan ini mengusik saya sekelebat siang ini, di sela kemalasan luar biasa menyelesaikan clearance pekerjaan tersisa.
Pertanyaan sederhana ini menjadi luar biasa ketika saya berhadapan dengan sesuatu yang bernama idealisme, atau pertanyaan usang yang sering kita dengar: untuk apa ilmu dan pengalaman yang kau dapatkan?
Kapan Pulang ke Kampung ini buat saya tidak menjadi sederhana kemudian. Bukan sekedar pulang ke kampung untuk berlibur, mempertontonkan diri yang berasal dari kota besar, pulau besar, ibukota negara yang buat sebahagian orang kampung hanya bisa diterawang melalui layar kaca.
Kapan pulang ke kampung, tapi tidak untuk sehari sepekan sebulan, tapi selamanya?
Kenapa harus ke Kampung? Buat saya pribadi, kampung bukan sekedar romantika tentang udara yang segar, sawah yang menguning, hentakan mesin tenun saban subuh hingga matahari sepenggalah, pegunungan yang membiru dan menyebarkan aroma alam dan kehangatan handai taulan sahaja.Kampung adalah utang yang setiap saat datang menagih. Utang yang tak lunas meski senantiasa kita cicil dengan berbagai donasi gelontoran duit atau sekedar berjam-jam pulsa dihabiskan. Utang itu tak akan impas jika kita tak mengembalikan sesuatu yang kita pinjam dari mereka. Apa yang kita ambil, bawa pergi dan tak jua dikembalikan? Kampung menagih ‘kelahiran’ dan ‘masa tumbuh kembang’ yang telah kita seruput dari mereka. Kampung mengawal tangis awal kita, menyelimuti ketelanjangan kita dari dingin pegunungan atau lolongan anjing yang menakutkan. Ia minta kita membayar sesuatu untuk itu.
Kampung ibarat punya dua tangan yang melambai. Tangan pertama adalah tangan yang memanggil pulang. Bukan memanggil singgah. Pulang dan singgah adalah dua kata yang beda. Tangan kedua adalah tangan yang meminta. Ia meminta kita mengembalikan jiwa yang kita pinjamkan. Kembalikanlah ia, pulanglah ke kampung. Luruhkan semua kecintaanmu padanya, pada suasananya. Romantisme kampung tentu jauh lebih mewah daripada rekreasi di dunia fantasi. Bebunyian mesin tenun bahkan lebih syahdu dibanding parau para pesinetron yang seperti belingsatan menjadi penyanyi.
Kampung, adalah ibarat lahan yang lama tak tergarap, dan menunggu untuk disiangi. Bukan ia perlu duit seperti yang kau kepayahan mencarinya di kota besar. Dengan ilmu mu, dengan pengalaman mu. Habiskan hidupmu yang tersisa padanya.
Saya punya impian muluk, bahwa Sengkang, Impa-impa, Sempangnge, akan menjadi petirahan saya nantinya…menjadi tempat saya pensiun dan menghabiskan sisa hidup dengan bertani, berkebun atau beternak sapi…sambil men-share pengalaman dengan saudara sekampung disana….
Jadi pada kampung saya hendak mengembalikan utang yang belum lunas…disana kita berasal, dan kemudian pergi menghilang hingga berbilang tahun, dan akhirnya ke sana pula kita nanti kembali…..
Popularity: 61% [?]















se nd mo komen dulu tulisanta’ deh :p
Mo ka’ komen potonya mo sj..
–> Eh, anu..jangki GR nah daeng :p, kyk penganten baru tawwa..kyk bru pekan kemaren akad nikahnya. So young skali ki dliat di sini.. Apa karena aura2 perempuan manis di samping ta’ yaaaa.. klo ndak ada ..pasti lom tentu kliatan spt itu..
*lgsg lari takut ditombak*
*parecu.com
kalo sy tanya, kapan ke surabaya?
hehehe
deen
swear, foto itu waktu baru pertama kali di’pertemukan’ sama mamanya Mahdi. waktu itu kami masih malu-malu, belum tahu kalo bakal dipasangkan…hehehe
fotonya bulan Juli 2004, nikahnya bulan november 2004…
Sy Aminkan ki saja k’!
Tulisan yang sungguh sangat menggetarkan. Jadi rindu saya mo mottere’..
Thanks atas tulisan ta’ yg segera mengingatkan saya utk cepat2 pesan tiket untuk mudik lebaran tahun ini
Sangat Menyentuh Kak Rusle’
Tentang pulang kampung, saya punya puisi yang pernah menjadi comment saya pada sebuah blog :
dari tanah bugis, mengalir darah para passompe..
sebuah takdir seumur lahir..
jauh ujung langkahmu..
mengantar cita-cita yang kau tuju..
dan kan kau temui wajah baru..
namun tanah ini terus menagih..
kapankah gerangan putranya kembali..
dari perjalanan seumur takdir…
melayarkan siluet lambaian di ujung biduk phinisimu..
dan taqdirmu..telah kau jalani..
dan mulutmu melirih :
Indo’ku, ambo’ku, anrikku engkana kasi…
takkappo fole ri tana mabelae..
Salam,
Kurniawan
kampungku lajokka,near from your “kampung”
kurniawan’s last blog post..GELAP
bisa mengajukan pensiun dini, kemudian menjadi enterpreneurship, sebenarnya yg kita cari apa? manusiawi, kebahagiaan yg hakiki adalah jika kita bisa berkumpul dekat dengan orang2 yg kita cintai
syamsoe’s last blog post..Dirgahayu Republik Indonesia Ke-63
Daeng..
Sepertinya kita mewakili perasaanku juga. Tetapi mungkin bukan tentang kampung yang refer ke tempat tetapi peran. Mamie juga pengen “pulang kampung”, kembali fokus pada tugas utama yaitu sebagai istri dan ibu. Doakan yah semoga niat ini dapat dijalankan. Dan yang pasti sebelum masuk bulan suci, mamie ingin mohon maaf atas segalah kesalahan dan kelalaian yang pernah mamie buat. Marhabhan ya Ramadhan semoga kita diberi rahmat dan hidayah oleh Allah Swt. Amin
mamie’s last blog post..Marhabhan ya Ramadhan
Pulang Kampung…
kata2 ini kurang begitu bisa saya serap maknanya. bukan apa2, sejak kecil sampe punya anak kecil, sy nyaris tak pernah jauh dari kampung. meski begitu saya tetap tak pernah merasa telah memberi sesuatu untuk kampung saya….masih terlalu banyak utang yang belum saya lunasi…
jadi..?, kapan pulang kampung..?
Ipul’s last blog post..Cinta, persahabatan dan penghianatan di kota Kabul
salam Kenal Mas..
Ini kali pertama saya jauh dari kampung (di luar pulau) kalimantan tepatnya.. meski telah lama hidup terpisah dari orang tua dan kampung halaman, tapi kali ini terasa sangat berbeda, d sebrang pulau..
Semoga kita semua dapat pulang k kampung halaman, tak hanya sekedar pulang tapi juga memberi sesuatu pada tanah kelahiran, sesuatu yang berarti dan bermanfaat….
Daiichi’s last blog post..MASKUMAMBANG…. gimana ga KORUPSI….!!!!