Blog: Antitesis Media Mainstream
daengrusle September 9th, 2008
Menurut saya, Blog adalah antitesis media mainstream.
Blog adalah bentuk perlawanan terbuka atas penguasaan sumbat informasi yang sebelumnya dikuasai penuh oleh media mainstream yang komersial; koran, majalah, televisi. Blog mampu menciptakan, tepatnya membuka sumbat hajat hidup orang banyak dengan menyuarakan perspektif baru yang membumi ke khalayak. Tanpa ada proses editing dan proses penyaringan, blog menjadi media merdeka yang bebas sepenuhnya, bahkan dari pihak regulator! Ibarat negara, blog adalah kawasan bebas tanpa aturan. Yang menjadi aturan yang berlaku adalah etika umum yang dilandaskan kepada kepentingan banyak.
Sejak jaman baheula, kita dijejali oleh media pustaka dengan informasi yang berlandaskan pengetahuan yang dibumbui interpretasi subyektif penulisnya. Tidak jarang kita digiring untuk mempercayai sesuatu berita yang fakta dan latar belakangnya bisa berbeda 90 derajat. Parahnya adalah penjejalan dan penggiringan ini kemudian membentuk pola pikir dan cara pandang kita sejak di bangku sekolahan sampai kemudian menjadi inheren dalam kehidupan kita dan kemudian diwariskan pula ke anak-cucu. Media seperti ini lebih banyak bersikap bak guru sekolahan jaman Orde Baru; menyuap tanpa merasa penting untuk ditanggapi, menggurui tanpa merasa wajib untuk melakukan riset kebenaran, mengajar tanpa boleh didebat. Yang terjadi kemudian hanyalah komunikasi satu arah antara si pemberi informasi dan penerima informasi.
Media massa yang dianggap sebagai lokomotif kebebasan bersuara juga berperilaku sama. Mereka, yang kemudian menganggap diri sebagai mainstream informasi Indonesia, hanya menampilkan berita yang ’sejalan’ dengan idealisme mereka, atau kasarnya yang bisa membuat dapur redaksi mereka tetap mengepul, wartawan bisa digaji, dan tiras tidak anjlok. Intinya, mereka menyediakan informasi kepada khalayak sudah dengan ‘pesanan’ tertentu . Maka dipenuhilah ruang baca kita dengan informasi yang nyaris seragam, beritanya ibarat lawakan badut yang hambar disuarakan oleh hampir semua media, tidak ada yang kreatif, aneh dan nyata. Tidak jarang dalam beberapa pemberitaan tendensius si ‘pemesan’ teramat kentara dan kita, pembaca tidak punya pilihan lain untuk berbicara ‘beda’ kecuali dalam satu rubrik sempit bernama Surat Pembaca, itupun mesti melalui filter redaksi yang sangat ketat. Surat yang isinya cukup mengganggu dan membahayakan masa depan media sudah pasti tidak akan termuat.
Perspektif warga, perspektif pembaca. Ini yang sulit ditemukan dalam media mainstream saat itu. Seakan tidak ada ruang yang cukup untuk menampungnya. Pelaku media hanya mengenal dua pihak yang boleh disuarakan dalam lembaran beritanya; sumber berita yang berasal dari kalangan istana atau gedung, suara redaksi yang tak jarang hanya membenarkan si sumber berita. Kalaupun ada, suara warga hanya mengisi kolom tertentu yang tak begitu menarik perhatian, tidak eye catching menurut insan komunikasi. Opini dari para aktivis yang bisa dianggap mewakili kepentingan khalayak seringkali hanya mampir di meja Redaksi kemudian masuk kotak sampah.
Nah, dimana ruang warga bersuara ‘beda’ dan magnitudenya besar hingga bisa terbaca oleh seluruh warga dunia? Jawab nya singkat, padat dan jelas: Blog.
Apakah blog hanya sekedar trend sesaat? Maaf, blog adalah trend yang bermatra keabadian. Seandainya teknologi internet sudah ada sejak jaman filosof Yunani hidup, maka kita akan bisa membaca blog-blog dari Socrates, Aristoteles, Plato, Democritus, hingga Pramoedya Ananta Toer. Karena menulis, yang menjadi cikal bakal munculnya blog, adalah kegiatan kemanusiaan yang terus menerus. Bahkan seandainya memungkinkan, Tuhan bisa saja menurunkan kitab suciNya kepada para rasul di dunia dalam bentuk online untuk menjangkau para pengikut di belahan dunia nan jauh dan maha luas. Blog adalah manifestasi dari proses sejarah kemanusiaan, karenanya ia akan terus hadir dan hidup sepanjang usia kemanusiaan itu!
Blogger Indonesia yang tumbuh dan berkembang secara dramatis sudah saatnya memantapkan diri menjadi pilar utama pengawal kejujuran dan keadilan masyarakat Indonesia. Lewat suara yang jernih tanpa tendensi dan vibrasi kepentingan kapital tertentu, blogger Indonesia bisa menyuarakan nurani kejujuran, Insya Allah.
Popularity: 43% [?]















wah tulisannya mencerahkan sekali daeng…
betul itu, blog sudah mengalahkan koran, tivi, atau media yang bersuara lainnya..
semoga bisa kekal abadi.
dan biasanya sih udah kekal kalo udah masuk google
deh.. bahasa tinggi nda ngertika’ he..he..
baru jalan2 ke blog ta’ daeng..salam kenal
tutYusra’s last blog post..Selamat datang.. wahai bulan mulia
Brother akhirnya ku temukan dirimu juga
Met Puasa yah..
Anake wid gede yah?
Kpn ke Jogja nich..
imam’s last blog post..Google yang Aneh?
bener… saya membayangkan membaca blog Aristoteles… pasti komen diantara para filsuf akan meramaikan blog-blog mereka…
Blog nabi2, para imam suci as juga akan ramai…
Mereka yang gak modal juga melakukan konsolidasi wacana melalui blog…
Blog menjadi media yang dapat menerabas sesaknya hegemoni kapital, menyerukan satu revolus kesadaran…
———
btw… selamat buat Mas Imam dan Daeng…
wah…. pas mau submit comment tertarik liat ’sosodara’… ternyata pecita AB Rosulullah…
———
Sholawat!
BLogicThink [dot] com’s last blog post..Wordpress Plugin : Nofollow Free
blog…..blog……blog………
Amazing bahwa manusia biasa (maksudku bukan negarawan, seleb, ilmuwan, dan sebangsanya) bisa memiliki space untuk membagi pemikirannya, memberikan perbandingan pemikiran dan variasi sudut pandang untuk suatu hal. begitu bagus dan menarik bahasa yang disajikan seringkali bisa men-drive pemikiran orang lain untuk mengikuti pola pikir si penulis. . cuman sayangnya, kadang2 ada beberapa blogger dengan jumlah visitor yang fantastis di blog-nya ternyata meng-copy paste pemikiran orang lain atau cenderung bersikap menjatuhkan hal lain, misalnya ungkapan “SD Baroangin meskipun sederhana tapi sangat bersahaja, lain halnya dengan tetangganya SD Boroboro yang gedungnya megah dan siswanya sombong-sombong”. BTW, contoh statement itu mungkin akurat berdasarkan pengalaman pribadi, tapi apa itu fair mengungkapkannya di media di mana seluruh manusia bisa meng-aksesnya?
jiwa2 bangsa kita yang sengsara, gersang, dan latah dalam mencontoh sikap dan perkataan orang lain ini sebaiknya disuguhi dengan pandangan2 positif, minimal dengan itu kita bisa mengajar sama2ta’ manusia indonesia untuk saling menghargai.
ededeeeeh…. ngelanturma’ kapang, Daeng! Sucess always ki’ nah.
Imas Yahya’s last blog post..[LIFE SHARE] : DUNIA MASING-MASING