Telagawarna: Tea-walking Menembus Kabut
daengrusle November 17th, 2008
Cisarua, 15 November 2008, 90 kilometer di Selatan Jakarta. Seharusnya hangat mentari yang datang menghantar pagi itu saat jarum waktu mengarah ke angka delapan, namun sepertinya alam sedang malas menampakkan lekuk tubuhnya. Titik-titik air serupa asap bergerombol membentuk halimun, ketika matahari kembali bersembunyi di balik rimbunan awan berwarna suram. Halimun seperti tempias dari atas langit dan perlahan beranjak turun menyelimuti perbukitan kemudian melingkupi jarak pandang sejauh belasan kilometer saja. Ribuan hektar perkebunan teh yang dikuasai pemerintah melalaui PTPN XI itu kemudian menjadi samar diantara titik-titik air ketika pagi itu rombongan kami ber-tujuh baru mulai menjejak langkah menyisir bukit-bukit berselimut hijau dedaunan teh (tea-walking) di Telagawarna, di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut.
Rimbunan bukit-bukit setinggi puluhan meter itu seperti dilukis dengan komposisi warna homogen dengan gradasi hijau dari muda ke tua, dan garis-garis lembut yang rapi tertata diantara petak-petak teh yang vertikal dari puncak ke lereng dibawahnya. Perdu-perdu teh itu hanya setinggi lutut orang dewasa dengan dahan yang seperti membekap satu sama lain, menampakkan pucuk-pucuk dedaun hijau mudanya yang siap dipetik. Dihamparan lain, tampak berselang seling bebarisan pohon teh kecoklatan yang telah meranggas habis dipanen, sementara barisan lain berisi tetumbuhan muda yang masih miskin daun menampakkan jelas ujung batangnya yang basah oleh tanah coklat. Satu-dua petani pemetik teh bercaping tampak samar diantara rimbunan hijau bukit-bukit teh itu.
Bebukitan teh menghijau itu dibelah oleh jalan berbatu selebar lima meter, yang sepagi itu sudah dihilir mudiki oleh satu dua truk-truk besar pengangkut dedaunan teh. Beberapa tiang beton tergeletak begitu saja di sisi jalan, diantaranya terkelupas menampakkan tulangan yang berkarat. Sepertinya tiang-tiang itu adalah sepah rencana pembangunan jalur listrik yang tak jadi dipakai.
Kami beruntung, rupanya halimun tak sepenuhnya menutupi seluruh eksotisme yang dimiliki perbukitan teh itu. Diantara selimut halimun, beberapa scene dapat kami panen disela-sela rinai gerimis yang gugur dari uap pagi. Dari menelusuri tapak-tapak diantara perbukitan teh itu, kami sempat berpapasan dengan beberapa pemetik teh yang umumnya perempuan. Dibungkus suhu dingin, mereka masih terlihat sumringah menekuni rutinitas pagi yang diwariskan dari generasi sebelumnya. Topi caping dari ruas rotan atau bambu menutupi sebahagian kepala yang juga ditutupi jilbab yang mereka kenakan. Seluruh tubuh mereka tertutup dibungkus baju lengan panjang dan celana panjang tebal, celemek tebal dari plastik atau kain tak tembus air menutupi kaki dan sebahagian dada mereka. Setelan pakaian cover-all ini mungkin untuk menghalangi basah dan dingin menembus kulit mereka. Mereka juga melengkapi bawahan busana dengan sepatu boot tinggi selutut berbahan plastik untuk melindungi kaki dari sodokan dahan-dahan rendah dari teh yang cukup keras dan tajam.
Para petani pemetik teh itu seperti tak kesulitan memetik daun-daun teh di lereng-lereng perbukitan yang umumnya curam, bahkan ada yang sisinya tegak lurus dengan horison bukit. Menyiangi pucuk teh muda, memetik dedaun teh tua dengan kelincahan jemari dan menimbunnya hingga penuh di sebuah keranjang rotan atau disarungkan dalam karung plastik besar.
Ribuan langkah kemudian petani-petani pemetik teh itu menuruni bukit-bukit teh menuju sebuah posko kecil di pinggir jalan berbatu. Posko kecil itu tepat berada di sisi sebuah telaga kecil berair jernih. Telagasaat, yang kira-kira luasnya hanya seukuran lapangan sepakbola, juga sepertinya berfungsi sebagai waduk penampung air. Di salah satu sisinya, sebuah pintu air permanen dan jembatan beton kecil memberi suasana modern telaga itu. Di dekat posko kecil itu, belasan pemetik teh riuh menumpuk dan menata karung-karung dan keranjang-keranjang daun-daun teh mereka di sisi jalan berbatu siap untuk diangkut. Beberapa pemetik teh lainnya berkumpul mengaso membersihkan diri sambil bercanda di sebuah tanah yang agak lapang di sisi jalan. Satu dua pemetik teh kemudian mengeluarkan bekal dan menyantap sarapan mereka dengan nikmatnya, ditemani sejuk hawa perbukitan yang menyegarkan. Tak sampai setengah jam, truk-truk pengangkut teh kemudian datang. Tumpukan teh itu lalu berpindah ke atas truk dan kemudian menjadi pertanda selesainya ritual pagi yang riuh di hamparan perbukitan teh yang tenang nan sejuk berselimutkan halimun itu.
Kami kemudian meneruskan perjalanan menyusuri kembali perbukitan teh hingga kira-kira tiga kilometer ke arah timur. Di Sebuah jalan di sisi hutan cagar alam Telagawarna, kami disambut rimbunan pepohonan berbunga terompet berwarna putih, seperti serangkaian peniup terompet dalam sebuah barisan marching band. Namun kali ini barisan terompet itu hanya diriuhkan oleh semilir angin yang sesekali mengayunkan mereka ke samping. Tepat di ujung jalan, kami tiba di sebuah telaga yang lain, Telagawarna. Setelah membayar tiket masuk sebesar Rp 2000 per orang, kami diajak masuk ke kawasan telaga yang dijaga oleh tak lebih dari sepuluh aparat jagawana - Polisi Hutan.
Telagawarna konon terbentuk dari rekahan gunung berapi purba jutaan tahun silam. Saat terbentuk rekahan, jutaan kubik material alam berwarna-warni ikut luruh masuk ke dasar telaga yang berkedalaman rata-rata 20-40 meter itu. Material alam inilah yang kemudian memantulkan aneka macam warna dari dasar telaga hingga orang-orang sekitar menyebut telaga itu sebagai Telagawarna. Proses alam beratus tahun kemudian juga menggerus material alam berwarna warni itu hingga kemudian habis menyisakan telaga yang hanya berwarna hijau, pantulan dari hutan hijau di sisinya dan tetumbuhan atau lumut di dasarnya. Tinggallah namanya saja, Telagawarna, tanpa warna-warni.
Di salah satu lereng gunung di sisi telaga, berdiri tenang petilasan dan makam Nyi Ageng Mas, salah satu ratu kerajaan Pakuan. Konon telaga ini adalah situs kerajaan sunda purba itu, namun belum sempat dijamah oleh ahli arkeologi. Yang rajin menjamah telaga ini hanyalah sekelompok monyet berjumlah puluhan yang mendiami hutan di sekitar telaga. Mereka kadang tak sungkan turun ke sisi telaga menyambut para penziarah dengan mata yang awas, menanti remah makanan yang mungkin biasa mereka dapatkan dari para penziarah.
Selepas memanjakan mata di sekitar telaga nan asri itu, kami kemudian beranjak pulang. Menyisakan sebuah kekaguman akan keindahan panorama bukit teh dan telaga yang asri di sebuah lokasi yang hanya berjarak tak kurang dari dua jam perjalanan dari ibukota. Ibukota yang tentu tak lagi punya waktu jeda untuk memberikan panorama alami bagi warganya.
Popularity: 54% [?]
- Aku , Perjalanan , Photo , Sejarah , Umum
get the pleasant journey daeng… liburan yg sangat menyenangkan .. sejauh mata memandang yang tampak hanya hijau hijau dan hijaauuuu.. fresshh
Perjalanan yg menarik… Jadi ingat malino, tempatku sekolah dulu…
Huaa… jadi kangen k juga naik gunung liat photo2 itu… Hikz hikz hikz tapi blm sempat.
Cak Rus, Nice blog…keep blogging to maintain communication with friends and at least tell them that we are fine.
Rgds,
Anwar
Anwar’s last blog post..Kembali Nge-Blog
kayaknya lain kali saya bakal kesana lagi, Daeng.. perempuan itu memang seperti awan.. susah ditangkap sulit ditebak kemana arahnya
bogorbiru’s last blog post..Catatan dari Diskusi Cybersastra KMB
keren masih hijo hijo, seger dah