Archive for the 'Agama' Category

[Buku] The Perfect Guys dan Ayat-Ayat Cinta

daengrusle April 19th, 2008

Ayat-Ayat+CintaApa salahnya menjadi the perfect guys? Ada salahnya. Di tengah masyarakat yang serba tak sempurna, serba kompromi kepada ke-terbatas-an Anda akan divonis berada hidup di awang-awang, dengan menjadi manusia ‘aneh’. Kalau anda merasa orang yang sadar dan normal, maka ketika Anda berada di dalam quadran masyarakat yang serba tak sempurna, maka Anda adalah setitik noktah koordinat yang tidak bersinggungan dengan garis linear apapun, kecuali di interpolasi sedemikian rupa hingga seolah-olah Anda berada di dalam struktur dan sistem nya, hanya karena keberadaan fisik Anda diakui dalam bentuk statistik. Ya, Anda adalah manusia sinting di tengah masyarakat waras. Masyarakat yang waras yang lebih suka berdalih bahwa kemanusiaan itu berarti ketidaksempurnaan. Lihatlah pemeo masyarakat “rocker juga manusia, presiden juga manusia, artis juga manusia, hingga ulama juga manusia”. Semuanya adalah penegasan atas sikap permisif atas ketidak sempurna-an kapasitas moralitas seseorang. Namun di saat yang lain, masyarakat jenis ini mudah dihinggapi sikap munafik, karena masih saja menyenangi menggunjingkan kebobrokan dan kemerosotan moral perilaku manusia di dalam nya.

Apa salahnya menjadi the perfect guys? Ada salahnya. Siap-siap saja menjadi bahan cemoohan oleh orang-orang yang tak sanggup menjadi sempurna, meski sangat berkeinginan untuk itu. Anda akan dinegasikan sedemikian rupa sehingga semua opini yang Anda lontarkan akan menjadi bumerang - back fire yang akan menghancurkan diri Anda sendiri.

Apa untungnya menjadi the perfect guys? Banyak sekali. Konsistensi Anda akan membawa Anda kepada kepuasan pribadi, ketika jalan yang lurus dibentang, dan Anda termasuk salah seorang dari sedikit yang berhasil berada di jalur yang penuh barokah itu.

Anda ingin menjadi the perfect guys? Bacalah Ayat-ayat Cinta. Anda yang sudah terlalu lapuk hidup di tengah masyarakat buta akan mendapatkan kenyataan ironis. Pilihannya hanya dua; Anda bisa mencemooh pribadi seorang Fahri, atau memujanya.

Pilihannya, kalau Anda memilih yang pertama. Berarti Anda benar2 sudah terlalu busuk dalam ketidak sempurnaan. Maka, beristighfarlah.

:)

Popularity: 89% [?]

Puasa Asyura - Penyimpangan Historis?

daengrusle January 18th, 2008

 asyura

Hari ini, 10 Muharram, banyak Muslim yang saleh me­lakukan puasa Asyura (Asyura artinya tanggal 10 Muharram) Mereka ingin mencontoh Rasulullah saw. yang berpuasa pada hari itu. Saya kutipkan salah satu hadis tentang puasa Asyura dari Shahih Bukhari:

“Dari Ibnu ‘Abbas, ketika Nabi Muhammad saw. tiba di Madinah dia melihat orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Nabi saw. bertanya: ‘Apakah ini?’ Orang-orang Yahudi berkata: ‘Ini hari yang balk. Pada hari inilah Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuh mereka, maka Musa a.s. berpuasa pada hari itu.’ Kata Nabi saw.: ‘Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian.’ Maka Nabi pun melakukan puasa dan menyuruh orang untuk melakukannya juga.”

Bukhari menyatakan -hadis ini sahih. Tetapi marilah kita teliti dengan ilmu hadis dan kritik historis. Segera kita menemukan beberapa hal yang janggal.

Pertama. Sahabat yang meriwayatkan peristiwa ini adalah Abdullah ibnu ‘Abbas. Menurut para penulis biografinya, Ibnu ‘Abbas lahir tiga tahun sebelum hijrah. Ia hijrah ke Madinah pada tahun ketujuh Hijri. jadi, ketika Nabi saw. tiba di Madinah, Ibnu ‘Abbas masih di Makkah dan belum menyelesai­kan masa balita-nya.

Dari mana Ibnu ‘Abbas mengetahui peristiwa, itu? Mungkin dari sahabat Nabi yang lain, tetapi ia tidak menyebutkan siapa sahabat Nabi itu. Ia menyembunyikan sumber berita, sehingga seakan-akan ia menyaksikan sendiri peristiwa itu. Dalam ilmu hadis, perilaku seperti itu disebut tadlis (Pelakunya disebut mudallis) Continue Reading »

Popularity: 51% [?]

1 Muharram dan Diriku

daengrusle January 9th, 2008

Saya baru tersadar sore ini, ketika seseorang teman yang saya kasihi mengirimkan ucapan Selamat Tahun Baru Hijriah, 1 Muharram 1429H.

Besok - atau tepatnya malam ini - adalah tahun baru bagi umat Islam. Penanggalan Islam dengan sistem perhitungan rotasi bulan ini atas ide Imam Ali Karamallahu Wajhahu, yang dilandaskan pada momentum hijrah Rasulullah dari Mekkah (saat itu) yang belum tercerahkan, menuju Madinah yang mencerahkan. Kenapa diambil momentum Hijrah ini? Hijrah dilakukan Rasulullah SAW dari kota Mekkah yang saat itu berbahaya bagi ummatnya: tertindas, lemah, dan terutama membahayakan kelangsungan agama Islam yang baru tumbuh. Bukan karena Rasulullah SAWW penakut dan tidak mengandalkan Allah SWT, tapi ini adalah strategi untuk lebih berkembang. Dan keputusan itu tepat, semenjak berpindah ke Madinah atau Yastrib, pemeluk Islam menjadi berlipat-lipat. Dan peristiwa Hijrah nabi itu, menjadi momentum besar bagi awal pertumbuhan Islam yang revolusioner. Ya, itulah sebabnya mengapa saat Hijrah Rasul ditetapkan sebagai hari pertama penanggalan Islam.

aku-dan-aji-ku.JPGBagi saya pribadi, 1 Muharram selalu menjadi hari yang teramat istimewa.
Setiap hari itu datang, maka ibunda saya tercinta pasti akan mengingatkan diriku, “Nak, esso jajimu tu ye siddi Muharrang” (Nak, hari ini adalah hari lahirmu 1 Muharram). Setiap hari itu datang, biasanya beliau akan mengecupku dengan haru dan menyiapkan hidangan istimewa khusus buatku. Kakak-kakakku pun akan berlomba mengucapkan selamat padaku.

Dan saya akan kembali terngiang cerita sang Bunda saat melahirkan diriku, nun jauh saat masih di dusun Sempangnge, desa Nepo, Wajo, Sulawesi Selatan. Ya, saya lahir tepat di tanggal 1 Muharram 1397H itu. (Foto di ayas: Foto bersama Aji Burane dan Aji Makkunraiku, di suatu pagi di Sengkang, Juli 2004 silam).

Saya, adalah anak yang kurang ajar sejak dikandung. Ibunda ku - yang kami panggil dengan sebutan Aji Makkunrai or Aji Perempuan, harus membopong janinku selama 12 bulan. Aji bercerita bahwa beliau pertama kali merasa mengandung diriku saat bulan Muharram, dan kemudian saya dilahirkan dengan susah payah di bulan Muharram juga.

rusle88.JPGPerlu tiga hari tiga malam, Ajiku berkutat dengan maut untuk melahirkan diriku, dengan bantuan Sanro Calapari (Sanro= dukun dalam bahasa Bugis). Sanak keluarga yang menunggui Ajiku melahirkan juga semuanya khawatir dan pasrah, mengingat perjuangan dan sakitnya melahirkan diriku. Ketika saya tumbuh jadi kanak-kanak yang nakal, mereka selalu mengingatkan kenangan tentang susahnya melahirkan diriku. Biasanya saya hanya tersenyum sinis. Kelanjutannya sudah bisa ditebak, saya mesti dinasehati, “Jangan nakal dan kurang ajar sama ibumu. Kamu dilahirkan dengan susah payah dan bahkan nyaris merenggut nyawa ibumi”. Iya, saya akan selalu ingat hal itu, insya Allah. (Ket Foto disamping, foto ketika saya masih berumur 11 tahun, 1988)

Saat aku lahir, orang tuaku tak sempat mengingat hari Masehinya. Mereka hanya tahu penanggalan Islamnya, 1 Muharram. Mereka juga tak sempat, atau tidak tahu, untuk membuatkanku Surat Kenal Lahir, apalagi Akte Kelahiran. Maklum, lahirnya di kampung sih, lewat dukun pula. Saat saya kemudian hendak mencatatkan tanggal lahir saya di ijazah SD (saya tak sempat menikmati bersekolah sambil bermain di Taman Kanak-Kanak, apalagi Play Group) , saya bingung mau menuliskan tanggal lahir saya. Saya hanya menuliskan tahunnya, itupun say jiplak dari teman saya yang saya anggap seumuran, 1976. Akhirnya guru kelas saya lah yang memilihkan tanggal lahir palsu untukku, yang kemudian baru saya sadari bahwa tanggal itu membuat usia saya lebih cepat bertambah enam bulan. Saya sendiri baru kemudian membuat Akte Kelahiran ketika hendak memasuki ITB dengan tanggal lahir palsu itu, itupun karena ITB saat itu nyaris menolak registrasi-ku karena ketiadaan Akte Kelahiran. Akhirnya saya baru mengurus Akte Kelahiran saat itu, saat usiaku sudah nyaris 20 tahun!

Ingat Muharram berarti ingat Aji Makkunraiku.Semoga, Aji Makkunrai ku, yang saat ini sedang bersimpuh di tanah suci Madinah dianugerahi kesehatan yang prima hingga menyelesaikan ritual ibadah haji dengan mabrur. Amin.

Aja tallufai lesu, Ajikku. Lesuki masijja. Moddanika kesi’na, Aji.
(Translate: Jangan lupa pulang Ajiku. Pulanglah segera. Saya rindu teramat sangat).
Kalimat ini saya ucapkan saat bersimpuh di kaki Aji Makkunrai-ku sebelum beliau berangkat ke tanah suci.

Selamat Tahun Baru Islam, Selamat Ultah Diriku!

Popularity: 44% [?]

[Fatwa sesat] Mobilisasi Kemarahan dan Akhlak Kita

daengrusle December 28th, 2007

Akidah adalah sebilah garis yang dingin, sebuah oposisi terhadap kritis. Kita berlindung di balik bayang-bayang kedatarannya. Goenawan Mohammad – Tuhan dan Hal-Hal yang Tak Selesai [hal 36].

Bocah perempuan itu terlihat manis nan lucu dengan jilbab merah muda bermotif bunga melati dan renda bebungaan disekelilingnya, membentuk wajah bersihnya bak kelopak bebungaan berseri jenaka. Lupakan keruwetan hidup dan berpalinglah ke wajahnya yang manis, niscaya yang lahir adalah senyuman. Amin.

Tapi tidak, bukan senyuman yang hadir pada pagi sepenggalah itu. Tangan kecilnya yang halus merengkuh erat lengan sang bunda di pagi bulan Juli 2005. Di tengah pengajian dimana siraman rohani menyejukkan hati ruang dengar jamaah, segerombolan massa yang menganggap diri penganut Islam yang murni-lurus-dan dijamin masuk surga menyeruak memasuki halaman Masjid Mubarak, Parung Bogor, tempat para jamaah Ahmadiyah rutin melaksanakan kajian keagamaan. Wajah-wajah beringas bermata merah memekikkan nama Tuhan dengan sangat lantang dan tegas sambil melempar puluhan batu segenggaman hingga ke ruang pandang sang bocah.

mobilisasi-kemarahan.pngFatwa sesat memahat kebenaran menjadi batang yang kaku dan tunggal. Fatwa ini berpotensi besar menggerakkan massa yang terhimpit masalah hidup, mencari pelampiasan yang heroik dan jihadis atas nama sebuah interpretasi atas kebenaran tunggal. Lahirlah mobilisasi kemarahan. Dan dengan demikian harus ada yang diberi pelajaran. Dan atas nama aqidah yang bersih-kinclong-dan mayoritas, mereka menghukum keyakinan, sesuatu yang rasa-rasanya hanya milik orang pribadi bersama Tuhannya saja.

Saya yang menyaksikan mobilisasi kemarahan ini dari layar kaca tertegun sejenak. Tidak peduli seberapa sesat ajarannya, seberapa banyak jamaah yang dibohongi. Kalaupun terjadi penyimpangan biarkan itu menjadi ranah hukum yang sudah jelas aturan mainnya. Sejenak tegun itu saya sisipkan kepada mata para jamaah, terutama mata bocah yang saat itu juga berteriak histeris tak kalah histerisnya dengan massa yang marah.

Ada apa dengan akhlakul karimah yang hendak kita bangun sebagaimana diserukan dan dicontohkan oleh baginda Rasulullah SAWW? Ada apa dengan pencernaan nurani atas ajaran agama kita? Jangan-jangan memang kita belum sepenuhnya mengenal ajaran agama kita sendiri sehingga Aqidah dan Akhlak menjadi hal yang bisa kita bongkar pasang kapan kita inginkan? Masya Allah.

Dari Anas ra; Rasulullah SAWW bersabda: Sesungguhnya seorang hamba mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan yang mulia di hari akhirat karena akhlaknya yang baik walaupun ia lemah dalam ibadah (HR Thabrani, al Targhib 3:404).

Seorang lelaki menemui Rasulullah SAWW dan bertanya, Ya Rasulullah apakah agama itu? Rasulullah menjawab, “(Agama adalah) Akhlak yang baik“. Lelaki itu mengulangi empat kali pertanyaannya dari penjuru yang berbeda; depan, samping kiri-kanan, belakang, tapi dijawab dengan jawaban yang sama “Akhlak yang Baik“. Hingga Rasulullah menoleh kepadanya dan bersabda: Belum jugakah engkau mengerti? (Agama itu akhlak yang baik). Sebagai misal, janganlah engkau marah” (HR Thabrani, al Targhib 3:405).

Popularity: 20% [?]

Kultur Haji Bagi Bugis-Makassar

daengrusle December 14th, 2007

kaabah1.jpg 

Bagi umat Islam, ibadah haji adalah rukun kelima yag menjadi ibadah penyempurna setelah empat rukun lainnya; syahadat, sholat, puasa dan zakat. Menunaikan ibadah haji di dua tanah suci Islam; Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah yang berada di wilatah Kerajaan Arab Saudi, menjadi semacam cita-cita dan impian setiap muslim untuk dilaksanakan paling tidak sekali dalam seumur hidupnya. Kurang lengkap rasanya sebagai Muslim, berkalang tanah tanpa pernah menginjak kedua kota suci umat Islam itu.

Umumnya, seorang Muslim bersedia melakukan apa saja demi melaksanakan ibadah ini. Bahkan tidak jarang seorang muslim rela menjual aset berharganya; sawah, tanah, kendaraan, perhiasan, dan aset lainnya demi untuk menunaikan ibadah yang ritualnya menyerupai rekonstruksi perjalanan para nabi Allah itu, tidak peduli apakah setelah kembali mereka masih punya cukup aset untuk menyambung hidup asalkan sudah pernah menengok kota nabi itu. Seorang tetangga saya dulu bahkan rela berhutang untuk menutupi ongkos naik haji yang sekarang besarannya sekitar Rp 27 juta. Juga tidak jarang terjadi di masyarakat Bugis/Makassar, orang tua membawa anak-anaknya berangkat haji, bahkan meski si anak belum cukup umur. Dengan anak-anak yang sudah bergelar haji semuanya, status sosial keluarga itu akan sangat terhormat dalam masyarakatnya. Tidak jarang, cara-cara pintas dan nyeleneh ditempuh untuk mendapatkan kehormatan ini, misalnya dengan menciptakan ritual tandingan berhaji di puncak gunung Bawakaraeng, yang didasarkan pada anggapan bahwa pahala dan ke afdolan nya dianggap sepadan dengan prosesi yang dilakukan di Mekkah dan Medinah.

Akulturasi Haji dalam Masyarakat Bugis Makassar
Dalam kultur sebahagian masyarakat Bugis-Makassar atau nusantara, gelar haji yang diperoleh setelah menunaikan ibadah haji itu dianggap sebagai prestise yang menunjukkan status sosial yang ‘lebih’ dibanding yang lain. Status sosial ini tidak karena tuntutan sang haji, tapi dielaborasi karena adanya penghargaan masyarakat sekitarnya. Penghargaan ini terlebih dikarenakan untuk menunaikan ibadah haji itu perlu pengorbanan yang besar; waktu, harta dan kadang nyawa. Apalagi di jaman dulu sebelum transportasi semudah jaman sekarang, menunaikan ibadah haji teramat sulit dan lama. Memerlukan ketahanan dan kesabaran untuk mengarungi lautan luas dan ganas selama 3-6 bulan untuk sampai ke sana. Kalau sekarang, hanya 8-10 jam saja naik pesawat terbang sudah cukup memindahkan badan dari tanah air ke tanah suci sana. Continue Reading »

Popularity: 41% [?]

Suara Tuhan?

daengrusle November 6th, 2007

Sejarah adalah kronik para pemenang, sudah terbukti dimana-mana.
Tapi pemenang ini didefinisikan sebagai pemenang yang menguasai dimensi waktu, dia bisa berganti kapan saja, dan dengan demikian bebas membukukan sejarah “baru lagi, bahkan mampu mengganti sejarah yang sudah mengendap di kepala rakyat sejak bertahun-tahun.

Siapa nyana bahwa Tirto Adi Suryo selama lebih dari 50 tahun sejak awal abad 20 adalah pahlawan pers nasional, tapi kemudian 32 tahun selepas G30S/PKI namanya menjadi gelap dalam lembar sejarah dan ditukar oleh Pram dengan nama aneh untuk ‘melindungi’ kesejarahannya, Minke. Kemudian sejak mahasiswa menduduki atap gedung MPR thn 1998, nama Tirto kembali muncul dan dibicarakan di majalah-majalah. Sama seperti Tan Malaka, Haji Misbach, Aidit, dll. Mereka adalah objek sejarah yang ‘predikat’;nya dipermainkan oleh para subyek, rezim itu.

Suara tuhan adalah suara Rakyat?
Rakyat yang mana, pada kasus Tirto, Tan Malaka, Misbach? apakah itu suara tuhan adalah suara yang diam dan tergagu dibalik istana2, dan bukankah pemerintah itu juga berasal dari kampung-kampung rakyat? ataukah yg lebih tragis adalah suara yang diserukan oleh para sesepuh organisasi massa untuk membantai rakyat yang dilabeli PKI kah? atau suara tuhan yang mana yang telah mengejawantah menjadi suara rakyat?
Dulu di jaman Romawi - Caligula, suara Tuhan sempat punah, diganti oleh hedonisme dan kemarukan pemujaan birahi. Juga zaman Sodom dan Gomorah, tidak ada suara Tuhan disitu, bahkan saya yakin orang-orang saat itu menganggap justru tuhanlah yang mewajibkan mereka bergumul dengan birahi.Makanya “Tuhan” yang lain kemudian membuat buminya diluluh lantakkan dan digantikan dengan manusia2 baru yang sudah tercerahkan. Betapa egoisnya Tuhan itu (kalau dipikir-pikir ya…he2)

Vox populi vox dei, kadang2 tepat juga. Isitlah ini menurut saya tidak ada sangkut pautnya dengan Tuhan dalam pengertian religius. Dei disini mewakili suara orang kebanyakan yang punya hak tapi tak tertunaikan oleh penguasa zalim, suara yang agung dan menjadi milik rakyat, bahkan dianggap suara yang suci dan sebagai ‘pelarian’ para utopis kala dihantam oleh kuasa rezim yg memerintah saat itu. Suaar yang menyerukan kenaikan UMR, suara yang menyerukan pengembalian tanah yang dirampas, suara yang menyerukan penurunan biaya kesehatan dan pendidikan. Dalam zaman yang rakyatnya tertindas seperti ini, dibutuhkan pula nabi atau pemimpin revolusioner yg didaulat utk menyuarakan suara itu. he2.

Buat saya, pengertian suara ini menjadi bias kadang-kadang ya.

Suara Tuhan dalam pengertian tertentu, adalah suara yang pasif. tidak aktif. Sejak selesainya masa kerasulan, tidak pernah ada lagi korespondensi tertulis yg diakui secara formal antara manusia dan Tuhan. Tuhan meninggalkan suara-suara nya dalam kitab-kitab suci. Yang kemudian ditafsirkan oleh manusia dalam berbagai pemikiran. Apakah, penafsiran ini bisa dianggap sebagai suara Tuhan? hanya nurani kita yang tahu.
Yang jelas, seperti yang saya angkat sebelumnya, fatwa sesat yang kemudian menggiring umat untuk melakukan kekerasan, pembakaran dan penganiayaan terhadap sesama nya manusia adalah fatwa yang mencemaskan, dan perlu dipertanyakan apakah betul merupakan suara Tuhan yang kita kenal?
Seperti yang dituliskan oleh Tempo di edisi minggu ini, apa pantas kita mengadili keyakinan?

Inilah salah satu yang perlu kita perhatikan. Minimal kita mengajarkan ke anak-anak kita, untuk selalu menghormati seaneh apapun keyakinan orang lain di mata kita. Kita insya Allah dibekali suara Tuhan dalam bentuk nurani yang bisa membisikkan nasihat -nasihat sejuk bahkan untuk menyirami emosi yang meluap-luap hanya karena ‘berbeda’.

Dalam banyak kesempatan, kita sering membaca hadist; Rasul diturunkan untuk menyempurnakan akhlak. akhlak seperti apa? ada pada setiap simpul kearifan sederhana dalam berkomunikasi dengan sesama, ketika kita tidak menyinggung perasaan tetangga, tidak menceritaka kebobrokannya, tidak menyakiti hatinya, dll…agama itu adalah agama yang aktual, membumi. jangan keyakinan dan ideologi nya yang dihantam, tapi lihatlah perilaku nya. Kalau ada jamaah yang mengingkari orang tuanya yang welas kasih, maka akhlak dan penafsiran atas keyakinannya itu jelas-jelas salah. Kalau ada ustad yang menyerukan membakar hak milik orang lain yg bukan haknya, maka itu adalah perbuatan melawan hukum, bahkan hukum agama nya sendiri.
Hari ini, mungkin puluhan, bahkan ratusan sesama manusia kita dikejar2 oleh sekelompok massa yang memgang beleid keputusan MUI ttg fatwa sesat atas sekelompok jamaah. Mereka merasa berhak melakukan pembasmian atas nama ajaran agama yang dibawa untuk menyempurnakan akhlak. Dan sempurnakah akhlaknya dengan merusak, menganiaya sesama manusia? [jadi teringat kaum khawarij yg sangat santun dan menghormati umat agama lain, tapi begitu kejam menyembelih sesama muslim yang berbeda keyakinan]

Popularity: 18% [?]

Nabi Palsu, Aliran Sesat dan Hak Kita atas Pe-label-an itu!

daengrusle October 29th, 2007

normal_misleading-identity.jpgDari perbincangan semalam di Mushalla al Mushawwir dan juga lagi santer diberitakan di koran Tribun Kaltim dalam dua hari ini, ada issue hangat tentang sekelompok jemaah muslim yang pemimpinnya mengaku Nabi. Pengakuan keNabian beserta syariat dan ritualnya yang dianggap nyeleneh dari pakem umum, seperti biasa di Indonesia ini, akan diberi hadiah: Label Nabi Palsu, Aliran Sesat, Gila, Dalalah!. Alasan nya jelas, tidak ada lagi pengaugerahan gelar Nabi sejak ditutup registrasinya selepas Rasulullah SAWW mangkat, empat belas abad silam. Jadi, semua oknum yang mengaku nabi setelah sang Rasul Mulia ini pastilah palsu. Tentu saja ini dalam terms Islam, bukan agama lain. Jadi kalo ada yang mengaku menjalankan syariat Islam dan mengakui bagian dari Islam lantas juga mengaku sebagai Nabi, maka palsu lah ia. Kalau ia mengaku sebagai Nabi tapi dengan menenteng syariat agama selain Islam, maka ia mungkin tidak dianggap sebagai Palsu, apalagi sesat. Paling banter akan disematkan sebagai aliran kepercayaan, dan kalo beruntung, bisa dimasukkan dalam katalog budaya luhur asli bangsa Indonesia. he2.

Nama jamaah yg lagi dibincangkan itu, Al Qiyadah Al Islamiyah. Pendiri dan pemimpinnya Ahmad Moshaddeq atau Haji Salam, yang menurut info di internet mengaku mendapat wangsit dan wahyu dari Pemilik Alam ini, sejak 23 Juli 2006 setelah bertapa selama 40 hari 40 malam, dan karenanya mengaku sebagai Rasul untuk menyempurnakan ajaran dan kenabian Muhammad SAW. Pengajiannya digelar di Hotel-hotel mewah, pengikutnya sampai tercatan hingga 41,000 yang tersebar di beberapa propinsi hingga di NTB dan Sulawesi Selatan.

Bahasa Manusia tentang Kebaikan adalah Universal 
Saya sendiri percaya kepada kearifan yang melekat pada setiap manusia. Berbicara mengenai keyakinan dan kepercayaan akan hidup dan hubungannya dengan Tuhan atau semesta raya ini, semua ide dan gagasan dalam kepala seseorang pastilah akan mengakui bahwa yang dimaksud kearifan luhur itu adalah berbuat baik. Saya yakin tidak ada satupun keyakinan dan kepercayaan dalam diri manusia untuk menentang atau keluar dari bahasa universal tentang kebaikan yang berarti melawan nurani nya. Kalaupun ada aktifitas yang dianggap aneh dan nyeleneh, keluar dari pakem yang ada,  dan tentu saja merupakan perspektif parsial, itu mungkin hanyalah bentuk laku individu yang mencoba mencari cara yang paling nyaman dalam merefleksikan keyakinannya. Dalam mencari cara dan laku ternyaman dalam melaksanakan aktifitas spiritualnya, tentu saja interaksi atau pengaruh terhadapa sekitarnya, terutama masyarakat menjadi salah satu dasar pertimbangan. Dengan melakukan paksaan dan intimidasi ke masyarakat yang lain tentu saja tidak membuat nyaman, sebagai salah satu contohnya.

Jadi, keyakinan akan kearifan dan kebaikan itu dimiliki oleh semua orang, dan diejawantahkan menjadi laku spiritual yang sangat individualistik. Semua pasti menginginkan hal yang sama: ketenangan, kebahagiaan. Tidak mungkin ada satu ajaran yang tujuannya adalah kehancuran diri sendiri. Kalau ada, itu mungkin bisa dianggap kelainan jiwa. Sinting!.

Apakah kita berhak mencampuri apalagi menghukum sang pemilik keyakinan? Apakah ada yang berhak mengklaim keyakinan akan kebenaran sejati itu adalah keyakinan tertentu saja? Bukankah keyakinan itu sifatnya sangat individualistis? Bahkan ketika seorang Imam atau Ulama Besar mengeluarkan fatwa berkaitan dengan agama yang dianutnya, para jamaah tidak dipaksa untuk mengikutinya. Taqlid? Taqlid hanya berhubungan dengan ritual yang menjadi pendukung keyakinan, bukan substansi keyakuinan itu sendiri.

Label Sesat Yang Memprihatinkan 
Berangkat dari kasus Ahmadiah, Salamullah, Syiah, Jamaah Tabligh, Islam Jamaah, Darul Arqam, NII, dan terakhir Al Qiyadah Al Islamiyah ini, oleh masyarakat umum yang semua ajaran ini dianggap aneh dan nyeleneh, dan kemudian, sebagaimana biasa perilaku kita, dengan gampangnya memberi label Sesat dan Menyesatkan. Kadang hanya berbekal rekomendasi dari suatu lembaga - yang saya sendiri bingung, apakah fatwanya itu memang diperuntukkan dan merepresentasikan seluruh umat Islam Indonesia?? - jamaah yang emosional sambil memekikkan nama Tuhan melakukan pengrusakan dan penistaan kepada jamaahnya. Heran ya. Bukankah Rasulullah SAWW membawa syariat Islam ini dengan misi khusus: menyempurnakan akhlak? Ada apa dengan akhlak ini, apakah lantas ditinggalkan hanya karena pengen mengikuti fatwa ini?

Saya bukannya tidak setuju dengan fatwa dan pelabelan sesat kepada keyakinan/kepercayaan ini, hanya saja sedikit menghimbau untuk berhati-hati memberi label ke seseorang, apalagi sekelompok orang yang punya keyakinan tertentu. Toh yang mereka hendak capai adalah sesuatu yang luhur adanya; adalah ketenangan dan kepuasan spiritual, yang secara kebetulan diberikan oleh organisasi/kelompoknya. Mereka, walaupun eksklusif dalam gerak sosial dan ritual, saya yakin tidak memiliki misi khusus untuk menyaingi, mempreteli, apalagi melakukan permusuhan terhadap keyakinan lain, bahkan keyakinan yang mayorias dianut oleh muslim Indonesia. Saya yakin mereka itu murni hanya sikap individual yang mencoba menerjemahkan ajaran luhur yang ditelusuri dengan nurani/akalnya masing-masing tanpa bermaksud melibatkan orang lain di luar circle mereka. Dan satu hal penting, selama mereka tidak memberikan gangguan fisik dan psikis ke masyarakat lainnya, tidak perlu lah mereka kemudian di cap sesat dan meresahkan, dan kemudian dirusak tempat ibadahnya, pengikutnya di bui seperti maling, pemimpinnya digelandang dengan perlakuan lebih buruk dari koruptor negara yang bebas melenggang di luar sana karena dijamin oleh pejabat.

Memang agak aneh di alam jagad yang sudah modern dan mengakui kelaziman suatu ‘perbedaan’, selain ada organisasi yang mengklaim memiliki mandat resmi dari Tuhan untuk memberi label Sesat, ada juga orang-orang tertentu/jamaah individual atau berkelompok yang merasa paling benar dalam menginterpretasi kan hukum syariat agamanya dan punya kedekatan spiritual dengan Tuhan sehingga serta merta merasa punya hak untuk menentukan dan memberi label sesat dan palsu itu. Apa mereka yang punya sertifikat kavling di surga sampai merasa punya hak untuk menentukan orang lain itu adalah ahli syurga atau ahli neraka? 

Dan sebagaimana diduga, orang-orang ini lah yang merasa paling tergangu dengan aktifitas jamaah yang dianggap sesat itu, padahal bisa jadi justru tidak ada pengaruh apa-apa ke mereka, hanya karena ketidaksenangan dan kekurangsukaan aja. Dan itu jelas2 merupakan persepsi individualis yang tidak punya kemutlakan dalam term benar salah. Kalau mereka merasa terganggu dan takut tercemari keimanannya, lha ada apa dengan keimanan mereka. Apa masih ada keraguan sampai khawatir dan takut akan pengaruh keyakinan orang lain? Atau pengen mempertahankan status quo keimanan mereka, apapun kesalahannya?

Kalau dalam urusan ganggu mengganggu, nyaman gak nyaman, kembalikanlah ke ranah hukum yang memiliki kekuatan positif. Sekiranya betul bahwa mereka melakukan kesalahan di mata hukum, yah hukumlah dengan kitab yang ada. Kalau misalnya yang dipersoalkan adalah ajaran dan keyakinan, ajaklah mereka ber-mubahalah seperti yg dulu dipraktekkan Rasulullah SAW. Kalaupun setelah mubahalah mereka tetap bersikukuh pada keyakinannya, serahkan semuanya kepada Yang Maha Tahu. Biarkan alam dan masyarakat yang menyeleksinya. Ajaran yang tidak membuat nyaman jamaahnya tentu akan cepat hilang tersapu angin.

Kalau memang merasa sangat tidak nyaman dengan keanehan dan perbedaan, kenapa tidak melabrak saja kaum yang betul-betul sudah menyerang Islam secara terang-terangan, misalnya menghancurkan Masjid, menduduki tanah Muslim, menghina al-Quran, membunuh jiwa Muslim. Atau para pengedar narkoba, koruptor bejat, penguasa lalim! Itulah pihak-pihak yang perlu diberi label SESAT, NERAKA, dan Manusia Palsu! Bukan saudara-saudara kita seiman yang persamaannya dengan kita jauh lebih banyak daripada menghitung-hitung perbedaannya.

Saya pernah dan masih bergaul dengan beberapa rekan dari Syiah Ahlul Bayt, Jamaah Tabligh, Islam Jamaah, Ahmadiyah. Mereka umumnya bersikap santun kepada saudara Muslim yang lain. Akhlak yang bagus. Akan halnya pendirian teologis dan ritual ibadah yang berbeda, itu sama kita maklumi termasuk dalam ranah khilafiah yang memang sudah lazim diperdebatkan. Bukan persoalan yang substansial, misalnya syahadat, kiblat, Ketuhanan.

Jadi, teman. Saya berpendapat dan sedikit mengajak, mari kita membangun Islam ini dengan sungguh-sungguh, dengan mengedepankan akhlak dan mengesampingkan sikap curiga berlebihan, apalagi terhadap sesama muslim yang bersyahadat. Bukankah kecurigaan akan saudara sendiri ini yang menggiring Islam ke jurang perpecahan yang tidak perlu?

Pengakuan kenabian, keimaman dan ke-masih-an adalah pengakuan yang sifatnya sangat spiritual dan tentu saja memerlukan penelusuran yang lebih mendalam tentang definisi dari ke-aku-annya itu. Kalau seseorang mengaku Nabi, Imam, al-Masih, apakah lantas dia memaksa kita untuk meyakininya? Sama ketika Rasulullah SAWW yang mulia memproklamirkan kenabiannya dan memperkenalkan Islam. Apakah Beliau SAWW pernah terdengar melakukan pemaksaan dalam dakwahnya? Tidak. Ia berdakwah dengan santun, mengajak kepada kebenaran yang diyakininya, tanpa ada paksaan. Jangankan orang lain, bahkan kerabat terdekatnya pun tidak dipaksa untuk memeluk Islam. Laa ikraha fiddiin. Tidak ada paksaan dalam agama.

Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Dan adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu (QS. AL Ahzab 40).

Link yang terkait dengan al-Qiyadah al-Islamiyah:
Cinta Rasulullah - MUI: Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah Sesat
Prayudi - http://prayudi.wordpress.com/2007/10/26/al-qiyadah-al-islamiyah/
Era Muslim - http://www.eramuslim.com/berita/nas/7a04160133-mui-fatwakan-aliran-al-qiyadah-al-islamiyah-sesat.htm

Gambar diatas diunduh dari sini.

Popularity: 23% [?]

Lebaran Pertama di Balikpapan

daengrusle October 23rd, 2007

Ini ada beberapa hasil menjepret saat berlebaran di Balikpapan. Lokasi di pelataran Jl Inpres IV, Gn Samarinda Balikpapan.

rs094496.JPGmahdi-senyum.JPG
Mahdi dengan baju lebarannya. Senang ya?

rs114508.JPG
Matahari ikut ber-lebaran 

rs114509.JPG
Jalan Tuhan dipenuhi hambaNya

rs114510.JPG
Khusyu’ Menyimak

rs114516.JPG
Nengokin apa Mahdi?

rs114520.JPG
Akhirnya kelar juga. Maaf lahir bathin ya?

rs114521.JPG
Berenang di hamparan koran

rs114522.JPG
The most important thing: Makan-makan!

Popularity: 29% [?]

Subhanallah: Meluruskan yang Bengkok

daengrusle October 18th, 2007

Ketika tiba di akhir rakaat ketiga Ashar tadi, selepas sujud imam langgar kami pak Haji Mulyono yang pensiunan pegawai Dephankam itu kemudian terduduk untuk tahiyat akhir. Sejurus beberapa ma’mun yang mungkin pikirannya jauh di negeri lain ikut bertahiyat, namun beberapa yang lain yang masih awas di sore yang terik itu, sigap mengucap, “Subhanallah”. Maha Suci Allah, yang tiada lupa dalam kamusNya. Lantas, sang Imam sadar atas kesalahannya, bangkit berdiri dan meneruskan rakaat terakhir. Lugas. Ashar yang sempurna hari ini,  menurutku.

Ketika sholat Ied di kampung sebelah, di pelataran jalan Inpres IV depan Masjid al-Hijrah yang artinya kira-kira berpindah ke sesuatu yang lebih baik, saya mengalami hal yang hampir sama. Selepas rakaat pertama dari sholat Ied itu, sang Imam yang menurut kabar adalah seorang pengacara, terlupa untuk melakukan lima takbir setelah takbiratul ihtikam. Lima takbir yang tentu saja merupakan salah satu rukun sholat dari pandangan fiqh. Saat itu tak ada ma’mun/jamaah yang mengingatkan kekeliruan ini, termasuk saya. Walau sebenarnya cukup menyebut Subhanallah saja saat itu, mungkin si Imam yang tersedu sedan terisak keras saat itu bakal sadar seketika. Tapi tak ada pelurusan. Si Imam meneruskan bacaan sholat dan rakaatnya hingga tuntas di tahiyat akhir. Hanya obrolan bisikan sana-sini dari ma’mun yang ‘menyadari’ kekeliruan itu selepas salam. Tapi sudah terlambat, omongnya belakangan saja, he2. Termasuk saya.

Subhanallah, itulah kearifan sederhana yang diterapkan oleh Islam saat menemukan kesalahan dalam sholat. Dilakukan dengan lugas dan santun, karena hanya menyebutkan nama Allah yang suci. Yang diingatkan dan yang mengingatkan sudah sama  mengetahui keadaan yang keliru. Tidak ada pelaknatan, tidak ada yang merasa direndahkan. Tidak ada malu, apalagi tinggi hati. Dan paling penting, sederhana. Kemudian, selanjutnya bisa kembali ‘damai’.

Diproyeksikan ke tingkat yang lebih luas di masyarakat, cara ini bisa saja sangat membantu apalagi dalam kenyataan banyak sekali kekeliruan yang terjadi dalam masyarakat. Bukan hanya jamaah, tapi juga imam/ulil amri kita yang sudah tidak jelas mendudukkan kebaikan diatas kejahatan, atau sebaliknya. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sistematika penyampaian kritik dengan subhanallah;

1. Kesalahan yang terlihat adalah kesalahan standard, umum, dan disepakati oleh semua jamaah. Artinya kesalahan yang terjadi pada umumnya dimaklumi dan diketahui oleh semua pihak, sehingga Imam dan Ma’mun bisa memperbaiki bersama-sama tanpa ada perdebatan. Kata lainnya adalah konsensus!

2. Kesalahan nyata terlihat, tidak sembunyi-sembunyi. Kesalahan dirasakan secara menyeluruh oleh sebagian atau semua jamaah, dan bukan kesalahan yang diam-diam. Sang Imam yang memimpin sholat ashar tentu saja tak akan diketahui apakah bacaan sholat saar berdiri, ruku, sujud atau tahiyat itu dilakukan dengan benar atau salah. Karena selain dibaca dengan syiirr atau pelan, juga dalam beberapa mazhab Islam bacaannya banyak ragamnya, tidak standard.

Wallahu ‘alam bisshowab.

Popularity: 18% [?]

Lebaran Beda, tak Masalah!

daengrusle October 12th, 2007

lebaran.jpg
Foto: Diunduh dan dimanipulasi dari link ini.

Perbedaan penggunaan metode dalam menentukan awal dan akhir ramadhan memunculkan juga perbedaan tanggal atau hari awal/akhjir ramadhan. Pemerintah dan sebagian besar masyarakat Indonesia yang menggunakan metoda rukyat (melihat hilal) dan Muhammadiyah yang menmggunakan perhitungan (hisab) secara aklamasi bersama-sama mengakui bahwa awal Ramdhan jatuh pada rgl 13 September 2007, tetapi kemudian berbeda pendapat dalam penetapan akhir ramadhan, meski masih menggunakan metoda yang sama, yang berbeda itu juga. Polemik penentuan akhir ramadhan ini kemudian menjadi wacana nasional, di tingkat elit pemerintah, DPR dan tokoh nasional tak ubahnya burung yang saling bersahutan mengemukakan pendapat dan dasar penentuan hari suci bagi umat Islam itu. Bagaimana di tingkat masyarakat biasa?

Ini yang coba saya tangkap di lingkungan sekitar rumah saya di Balikpapan. Di hari-hari akhir Ramadhan 1428H, warga RT 39 Gn Samarinda masih ramai saja mendatangi Langgar al-Mushawwir, sebagian karena merasa sulit meninggalkan ramadhan yang pahala ibadahnya berlipat ganda, sebagian juga karena hendak menunaikan zakat fitrah yang tahun ini bernilai Rp 14,000/jiwa atau senilai dengan 3liter beras yang biasa dikonsumsi. Di tengah keramaian itu, ada juga muncul perbincangan seputar penentuan hari akhir ramadhan. Beberapa warga yang orientasi keagamannya cenderung ke Muhammadiyah dengan yakin sudah menetapkan bahwa mereka akn mengikuti majelis tarjih Muhammadiyah yang sudah menetapkan jauh-jauh hari berdasarkan hasil perhitungan perjalanan bulan, bahwa hari Lebaran jatuh pada hari Jumat, 12 Oktober 2007.Beberapa warga lainnya yang lebih konservatif mengungkapkan bahwa mereka masih menunggu keputusan sidang itsbat pemerintah dan ormas Islam pada tgl 11 Oktober 2007 malam yang menggunakan metode melihat hilal/bulan baru dari seluruh nusantara. Bagi mereka, penentuan akhir ramadhan diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah, yang juga ulil amri mereka. Sebahagian yang lain masih ragu-ragu, apakah akan mengikuti sholat Ied berdasarkan penetapan Muhammadiyah atau pemerintah. Walaupun demikian, tidak ada satupun diskusi itu yang berusaha menggiring kiepada permukaan masalah, yakni dikotomi antara kedua otoritas itu. Mereka umumnya sadar, bahwa perbedaan bukan sesuatu yang bernilai untuk dielaborasi menjadi perbedaan yang menghasilkan emosi negatfi.

Pak Sunyoto, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan dan mengaku sebagai warga Muhammadiyah, sudah menetapkan bahwa hari Jumat 12 Oktober 2007, dia dan keluarganya akan berbuka atau tidak berpuasa lagi. Walaupun demikian, pak Sunyoto akan menunaikan shalat Idul Fitri pada hari Sabtu, 13 Oktober 2007 di Masjid ar-Rahman di RT41 bersama-sama warga lainnya yang mengikuti penetapan pemerintah. Saat saya tanya alasannya untuk tidak mengikuti sholat Ied pada hari Jumat bersama warga Muhammadiyah lainnya, beliau menjawab dengan santai, “Lebih enak bareng warga lainnya”. Memang untuk melaksanakan shalat Ied di hari jumat agak sedikit repot, karena tidak banyak tempat tempat penyelenggaran sholat Ied, dan umumnya tempatnya jauh. Satu hal lgi yang menjadi pertimbangan pak Sunyoto, yakni dia tidak mau terlihat berbeda dibanding yang warga lainnya. Walaupun beberapa warga Muhammadiyah lainnya cukup mencolok mengenakan pakaian taqwa untuk sholat Ied. Tempat terdekat dari lingkungan pak Sunyoto untuk shoalt Ied, jaraknya sejauh 3km, disebuah lapangan Badminton. Saat saya tanya, apakah pak Sunyoto mengetahui tempat penyelenggaran sholat Ied di tempat itu, beliau menjawab tidak mengetahui. Wajar, karena informasi itu beredar terbatas saja, saya malah menerima informasi tempat penyelenggaraan sholat Ied itu melalui pesan singkat di handphone saya. Berbeda dengan pak Kasmari, yang rumahnya berjarak sekitar 200 meter dari rumah pak Sunyoto, dia semenjak subuh sudah berangkat ke tempat shoalt Ied bersama keluarganya. Namun kemudian ketika pulang, kembali ke aktifitas semula. Berjualan barang kebutuhan sehari-hari. Ketika warung lain tutup, warung pak Kasmari tetap buka.

Pak Suwono, karyawan senior sebuah perusahan minyak yang rumahnya berhadap-hadapan dengan rumah pak Sunyoto punya sikap yang berbeda dalam menentukan hari Lebaran. “Saya sih ikut pemerintah saja” katanya lugas. Pak Suwono berpendapat, sebagai warga negara yang baik, dia cukup mengikuti apa ketetapan pemerintah. Task ada salahnya menambvah puasa sehari lagi, demi untuk menghindari sikap ambigu, atau keragu-raguan. Ketika hari jumat 12 Oktober ini, di pagi hari, saat beberapa warga Muhammadiyah lalu lalang di depan rumahnya menuju tempat penyelenggaraan sholat Ied, pak Suwono juga bersiap-siap mengeluarkan mobnil pick up nya. Tapi tidak untuk pergi sholat Ied, hari itu ia dan istrinya berencana berbelanja untuk kebutuhan Lebaran. Sikap pak Suwono ini juga sama dengan sikap sebagian warga RT39 lainnya, mereka tetap melakukan aktifitas biasa di hari JUmat ini. Tidak ada kesan khusus, karena mereka cukup mahfum dengan adanya perbedaan ini yang lebih keras gaungnya tersiar di berita-berita TV dan koran lokal. Toh mereka merasa perbedaan adalah hal biasa, tidak perlu menegangkan urat leher dalam menanggapinya. Lebaran, Ramadhan, dan lain-lain adalah perayan kolosal yang pelaksanannya tergantung sikap pribadi jamaah.

Hari Jumat pagi itu, pak Sunyoto menghampiri saya. “Masih butuh daun pisang untuk masak buras? Kalo masih butuh, kami punya banyak hasil nebang kemaren. Kebetulan pak Sunyoto punya banyak pohon pisang di belakang rumahnya. “Sudah cukup pak! Terima kasih” jawab saya. Hal yang sama beliau tanyakan ke pak Suwono yang memang seringkali mendapat uluran tangan pak Sunyoto, terutama kalau ada bagian rumah pak Suwono yang rusak. Pak Suwono pun seringkali menghadiahi keluarga pak Sunyoto dengan makanan atau pakaian layak pakai. Dua hari lalu, pak Sunyoto beserta adik dan anaknya, bekerja seharian membantu mengecat rumah pak Suwono dengan cat berwarna merah muda. Dan hasilnya kelihatan hari ini, rumah pak Suwono menjadi lebih rapi dan indah, buah tangan pak Sunyoto. Mereka berbeda merayakan jatuhnya hari lebaran, tapi hati mereka disatukan oleh kasih sayang sesama Muslim, sesama warga yang bertetangga. Lebaran beda hari, tak masalah buat mereka.

Taqabbalallahu Minna Waminqum. Selamat Merayakan Hari Idul Fitri, Satnya kembali kepada Kesucian.

Popularity: 29% [?]

Next »