Archive for the 'Aku' Category

Ramadhan: Hormati yang tak puasa

daengrusle September 7th, 2008

menikmati.JPGJangan manja, kalau hendak menjadi manusia yang tangguh dan mandiri. Ibarat pelaut, yang terulung adalah yang lahir bukan dari laut yang tenang tanpa gelombang. Pelaut yang ulung lahir dari tempaan alam yang keras, dan tak dimanja oleh fasilitas.

Di masa berpuasa, Umat Islam di beberapa tempat seperti bertambah sensitifitasnya. Beberapa diantaranya meminta perlakuan istimewa, kalau tidak hendak dikatakan hendak diperhatikan kebutuhannya. Saat berpuasa, gerai-gerai makanan diminta untuk ditutup, musik hingar bingar dihentikan, berbagai tempat olahraga ketangkasan disuspend.

Warung makan di siang hari kenapa mesti ditutup? Bukankah ada juga umat lain yang tidak berpuasa dan dengan demikian mesti dipenuhi hajat hidupnya. Karyawan restoran dan warung itu juga sebahagian besar diantaranya adalah saudara kita sesame Muslim yang butuh nafkah untuk anak istrinya. Apakah pajangan makanan dan minuman di gerai-gerai makan itu bisa mengurangi pahala puasa kita, ataukah bisa membuat kekhusyu’an kita berpuasa berkurang? Saya yakin tidak. Hanya orang-orang yang lemah iman yang akan tergiur. Sedangkan puasa hanya diperuntukkan khusus bagi umat Islam yang berkategori beriman.

Sedangkan untuk klub malam, olahraga ketangkasan yang biasa buka di malam hari, sebaiknya tidak perlu dilarang total. Tapi hanya diperuntukkan bagi kegiatan yang mesum saja dan tidak perlu menunggu Ramadhan untuk diberangus.

So, mari kita membalik paradigma. Hormati orang yang tidak berpuasa! Dengan demikian pahala puasa Anda makin bertambah. Amin!

Popularity: 47% [?]

Hari Terakhir Saya di Situ

daengrusle August 29th, 2008

Rekan2Hari ini, 29 Agustus 2008, menjadi hari terakhir saya bekerja pada Chevron Indonesia Company, Balikpapan, dan akan memulai karir dan hidup selanjutnya di kota lain, insya Allah.

Perkenankanlah saya menghaturkan banyak terimakasih dan kebanggaan yang tak terkira atas kebersamaan dan kerja sama Anda semua selama lebih kurang 2,5 tahun. Dengan kerja sama dan kontribusi Anda semua membuat pekerjaan saya menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Namun pilihan hidup untuk menjadi dan mencari yang lebih baik dan menantang membuat saya mengambil keputusan sulit untuk meninggalkan Chevron Indonesia Company.

Terima kasih yang sebesar2nya terkhusus kepada Management Procurement, SCM Dept CICO yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk berkarya dan menimba pengalaman yang sangat berharga. Dan juga kepada segenap mitra kerja di lapangan yang telah cukup intens berkoordinasi dalam rangka pencapaian target pekerjaan saya. Terima kasih.

Akhirnya, saya dan keluarga menghaturkan permohonan maaf yang sebesar2nya sekiranya ada kesalahan tulisan, kata maupun perbuatan yang kurang menyenangkan di hari Anda semua. Mohon maaf dan ridho nya. Begitu juga sebaliknya, seperti permainan zero sum, tidak ada lagi tautan dan hambatan pada diri saya pribadi dari semua kejadian sebelumnya, apapun itu. Saya beranggapan itu hanyalah pernik kecil dalam rangka mencari eksistensi sebagai makhluk Tuhan di alam ini, Insya Allah.

Harapan saya semoga Anda beserta Chevron Indonesia Company makin sukses di kemudian hari. Amin

Warm Regards,

Muhammad Ruslailang & Family

Email: daengrusle@angingmammiri.org

Popularity: 55% [?]

Kapan Pulang Ke Kampung?

daengrusle August 20th, 2008

kaelomang.JPGPertanyaan ini mengusik saya sekelebat siang ini, di sela kemalasan luar biasa menyelesaikan clearance pekerjaan tersisa.

Pertanyaan sederhana ini menjadi luar biasa ketika saya berhadapan dengan sesuatu yang bernama idealisme, atau pertanyaan usang yang sering kita dengar: untuk apa ilmu dan pengalaman yang kau dapatkan?

Kapan Pulang ke Kampung ini buat saya tidak menjadi sederhana kemudian. Bukan sekedar pulang ke kampung untuk berlibur, mempertontonkan diri yang berasal dari kota besar, pulau besar, ibukota negara yang buat sebahagian orang kampung hanya bisa diterawang melalui layar kaca.

Kapan pulang ke kampung, tapi tidak untuk sehari sepekan sebulan, tapi selamanya?

Kenapa harus ke Kampung? Buat saya pribadi, kampung bukan sekedar romantika tentang udara yang segar, sawah yang menguning, hentakan mesin tenun saban subuh hingga matahari sepenggalah, pegunungan yang membiru dan menyebarkan aroma alam dan kehangatan handai taulan sahaja.Kampung adalah utang yang setiap saat datang menagih. Utang yang tak lunas meski senantiasa kita cicil dengan berbagai donasi gelontoran duit atau sekedar berjam-jam pulsa dihabiskan. Utang itu tak akan impas jika kita tak mengembalikan sesuatu yang kita pinjam dari mereka. Apa yang kita ambil, bawa pergi dan tak jua dikembalikan? Kampung menagih ‘kelahiran’ dan ‘masa tumbuh kembang’ yang telah kita seruput dari mereka. Kampung mengawal tangis awal kita, menyelimuti ketelanjangan kita dari dingin pegunungan atau lolongan anjing yang menakutkan. Ia minta kita membayar sesuatu untuk itu.

Kampung ibarat punya dua tangan yang melambai. Tangan pertama adalah tangan yang memanggil pulang. Bukan memanggil singgah. Pulang dan singgah adalah dua kata yang beda. Tangan kedua adalah tangan yang meminta. Ia meminta kita mengembalikan jiwa yang kita pinjamkan. Kembalikanlah ia, pulanglah ke kampung. Luruhkan semua kecintaanmu padanya, pada suasananya. Romantisme kampung tentu jauh lebih mewah daripada rekreasi di dunia fantasi. Bebunyian mesin tenun bahkan lebih syahdu dibanding parau para pesinetron yang seperti belingsatan menjadi penyanyi.

Kampung, adalah ibarat lahan yang lama tak tergarap, dan menunggu untuk disiangi. Bukan ia perlu duit seperti yang kau kepayahan mencarinya di kota besar. Dengan ilmu mu, dengan pengalaman mu. Habiskan hidupmu yang tersisa padanya.

Saya punya impian muluk, bahwa Sengkang, Impa-impa, Sempangnge, akan menjadi petirahan saya nantinya…menjadi tempat saya pensiun dan menghabiskan sisa hidup dengan bertani, berkebun atau beternak sapi…sambil men-share pengalaman dengan saudara sekampung disana….

Jadi pada kampung saya hendak mengembalikan utang yang belum lunas…disana kita berasal, dan kemudian pergi menghilang hingga berbilang tahun, dan akhirnya ke sana pula kita nanti kembali….. Continue Reading »

Popularity: 61% [?]

A letter to myself

daengrusle August 14th, 2008

aku di tumasek

There is no point of return, absolutely! Even, no time to think about that ‘think’.

These are the points that you will pursue and fulfill in your next dream. First of all you will close to your all happily premises. With them you can share your adorable passion together, especially for one you are trying to hug at all. May Allah bless her in her next life.What is the next? There are many challenges lied on your next way. You can prefer to build your new career or another one, explore your another potential capability in new line of your career. Just choose it, and the existing train will bring you to it. You just need to suffer for a while, but at the end of the rail, you will release many things that you were doubt on them. You can found yourself as a very wide person, with many opportunities. Otherwise, you will have better portfolio to expand your geographic determination, perhaps even do not much store your hope on it.

How about my stakeholders, as they are the most important thing after my supreme soulholder? There will be more widely joy of life to be share together with them. By collecting all stakeholder into the big one, it will make a bunch of happiness. For all of my derivatives, I will take them closely to the center of excellence coordinates; education, family, and others.

So, despite all those goodness and opportunities unwritable here, do not keep all doubt in your head. Go head, and smile. You are the winner, absolutely!

Popularity: 56% [?]

Loncat Lagi?

daengrusle July 12th, 2008

Dalam salah satu posting saya di blog terdahulu, ini dan ini, saya pernah berikrar untuk menghentikan kebiasaan profesional saya yang cukup buruk di mata sebahagian orang; kutu loncat. Berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, apalagi berpindah kota, bukanlah sesuatu yang gampang bahkan sangat merepotkan. Bukan hanya persoalan beratnya memindahkan satu keluarga, tapi juga mesti beradaptasi lagi dengan lingkungan kerja yang baru. Belum lagi jikalau ternyata working culture di tempat baru tidak se’bagus’ yang diharapkan. Apalagi kalau rupanya kita berhadapan dengan team yang tidak sehangat yang diinginkan. Bukan soal untuk belajar assignment baru buat saya, tapi berhadapan dengan dinamika sosial yang membuat saya terkadang was-was. Tidak satu dua kali saya berhadapan dengan ‘acceptance’ yang tidak acceptable. So, mesti siap dengan pemikiran Expect the Unexpect, terutama untuk hal-hal non teknis. Ini resiko terbesar yang harus saya hadapi.

Kenapa mesti pindah lagi? Alasannya sebahagian besar justru sangat teknis. Alasan detail tentu tak etis disebutkan, tapi sekedar berbagi substansi nya saya kira tidak berdosa. Saya butuh penyegaran, dan mungkin, saya merasa ‘gagal’ di tempat sekarang. Penyegaran, atau lebih tepatnya mengembalikan saya kembali ke birahi profesional yang selama ini saya kejar. Yang mana saya merasa gagal mendapatkannya di tempat sekarang. Bukan tidak berusaha untuk bersyukur dan nerimo atas apapun suratan karir saya, tapi umur dan potensi saya mungkin tersia-sia hanya untuk menandaskannya di sesuatu bernama ‘nasib’. Jadi kepindahan ini karena kecewa, sikap negatif? Saya akui sebahagian besar mungkin iya, tapi saya berusaha berpikir positif. Banyak rentetan konsekuensi yang nanti akan saya jalani selepas kepindahan ini. Konsekuensi2 ini justru membuat saya menjadi bergairah kembali. Tidak apa kalau ada unsecurity prospect di depan, tapi bukankah semua hal di dunia ini juga unsecure kalau kita tidak berusaha memaintainnya dengan baik. So, no pain no gain.

Di tempat baru, saya mungkin akan mendapatkan assignment yang cukup menantang. Resiko besar terbentang di depan, tapi challenge untuk memperkuat sendi profesionalisme juga tertancap di depan sana. Portofolio proyek saya akan bertambah tentunya. Tinggal bagaimana saya memaintain dengan baik, untuk kemudian menjadi amunisi yang diperhitungan di medang pertempuran berikutnya. Proyek yang nantinya saya akan terlibat adalah proyek pengembangan lapangan yang sudah eksis. Semoga banyak ilmu yang bisa saya serap, selain fulus yang lumayan lah untuk menambah pundi-pundi tabungan masa depan buat Mahdi dan Maipa. Selain itu dinamika ibu kota mungkin akan membuat saya mengikuti pusaran ketatnya arus persaingan disana. Saya hanya perlu berusaha dan berdoa semoga menjadi pelaut yang ulung di tengah samudera ibu kota yang menggelora.

Apakah tempat yang saya tuju nanti adalah pelabuhan terakhir? Hmm, saya meragukan itu, walaupun merasa ada kemungkinan ke arah sana. Tapi saya tetap berhasrat untuk menjadi nahkoda di sebuah kapal kecil, tempat dimana saya bisa mengarahkan kemudi dengan kreatif dan berani, atau melempar sauh di mana saya bisa menjaga kapal dengan sebaik mungkin agar tetap bisa bertahan di antara gelombang yang sedahsyat apapun.

Satu hal yang paling membahagiakan buat saya pribadi, kepindahan ini akan mendekatkan saya ke kakanda tercinta. Saya bayangkan di setiap akhir pekan, akan selalu menyempatkan diri mengunjungi nya. Dan bercerita banyak hal seperti dulu. Amin.

Doakan saya.

Popularity: 69% [?]

Hening

daengrusle June 28th, 2008

Kala blog-ku tiada bertulis…keheningan…merasuk hati…

Popularity: 55% [?]

Ole-ole dari Makassar: Bassang Tak Sampai

daengrusle May 27th, 2008

Prolog: Ole-ole, bukan oleh-oleh, adalah segala sesuatu yang dihadiahkan kepada rekan, keluarga atau siapa saja dari seseorang yang baru saja bepergian. Ole-ole dari Makassar yang lazim dibawa adalah: Minyak Tawon, Juice Markisa, Kacang Disko, Replika Rumah Tongkonan, Otak-otak, Sarung Sutra, Songkok Bone, Dange, Roti Maros, Coto, Konro…halah….!

Apa ole-ole nya dari Makassar? Saya sendiri bingung ketika di’tagih’ beberapa kenalan di Balikpapan. Bingung karena pertama, memang saya tidak bawa ole-ole yang biasanya orang suguhkan sepulang bepergian. Kedua, karena memang saya tidak punya (dan tidak mau punya) kebiasaan membawa ole-ole itu. Selain mungkin karena saya rada pelit, juga sebagian besar karena saya kikuk dalam urusan ole-ole ini. Kikuk menentukan apa yang pantas untuk dibawa. Kalau beli sesuatu, takutnya kurang atau berlebih. Berlebih kan mubazir. Terkadang juga pernah saya mencoba menjadi teman yang baik, membelikan ole-ole. Tapi rupanya respon mereka biasa-biasa saja, kadang malah tidak menyentuh yang saya bawa. Nah, dari pada kikuk - juga karena memang saya pelit - saya ambil saja jalan mudahnya. Tidak bawa ole-ole. Simpel tapi pasang muka tembok, ha3!

Tapi tundulu, kawan. Ini Rusle, bung. Tak elok rasanya kalau ada perjalanan yang tidak diabadikan dalam tulisan. Nah, sebagai pengganti ole-ole (sebenarnya hanya justifikasi kepelitan saja), maka tulisan inilah yang menjadi ole-ole ku dari Makassar.

Jalan Tol: Menyedihkan
Ungkapan ketus dan sinis pertama yang saya lontarkan ke Makassar ini adalah Jalan Tolnya yang saat ini sedang diperpanjang, perlebar, perkeras, permak, perbodden, perdomes, persetan deh!
“Masya Allah. Sudah macet berat, jalan rusak poranda, debu seperti halimun gunung, panas melelehkan keringat, eh disuruh bayar pula! Kenyamanan apa yang mereka berikan sampai kita harus membayar?
Jalan tol (tanpa jalur alternative) di Makassar ini sebenarnya pendek sahaja. Tidak heran kalau bayarnya pun murah sahaja, Rp 1,500 (kalo ndak salah). Tapi perjalanan melintasi jalan tol dari pertigaan Sudiang-Mandai ini betul-betul seperti neraka.
Dan biarlah saya merasa tak ikhlas membayar tol nya itu.

Poster Para Pembual
Nah, inilah kesinisan saya yang kedua. Sejak memasuki jalan tol yang menyedihkan itu, saya disuguhi banyak bualan berbentuk sampah poster. Seperti biasa, para tim sukses para pembual ini rupanya tidak begitu cakap melakukan house keeping di kota sendiri. Ribuan poster para kandidat calon walikota yang belum resmi benar bisa bertarung dalam pilwalkot Makassar ini memenuhi nyaris di semua riang public dengan kondisi awut-awutan. Masing-masing seperti berlomba membualkan diri, hanya mereka yang mampu menaikkan harkat Makassar (dari titik apa). Ada yang merasa pe-de mengaku sukses membangun Makassar di jabatan sekarang (padahal masih fresh kita ingat Daeng Basse yang mati kelaparan di kota ini), ada juga yang menyuarakan antitesisnya: Tidak Akan Membiarkan Rakyat Makassar Miskin dan Kelaparan! Ada yang memasang senyum di sana sini dengan yakinnya (padahal kata temanku dia punya seabrek kasus menunggu di pengadilan). Ada juga yang dengan sangat narsis mengumandangkan: Dia Datang Membawa Perubahan. Ada yang juga dengan congkaknya mengaku sebagai New Solution for Makassar. Ambe’ mua mi ces!
Tak kurang dari sepuluh pembual yang menjajakan dagangannya di Makassar saat ini. Tentu saja nanti akan mengerucut sekiranya sudah ada koalisi yang tetap untuk mengusung calon dan wakilnya nanti. Tapi yang jelas, kota Makassar yang kotor itu makin kotor dengan sampah bualan.

Kopdar Komunitas Angingmammiri
Kali ini bukan sinism yang saya angkat. Tapi semangat komunitas di komunitas blogger Angingmammiri. Saya sempat mengikuti satu kopdar dari tiga kopdar yang diadakan rekan-rekan AM. Alhamdulillah bisa ketemu mereka, bisa bincang-bincang langsung. Kopdar kali ini saya membawa si kecil Mahdi yang serta merta menjadi pusat perhatian mereka.
Suasana kopdarnya sendiri bisa dibaca di blog beberapa rekan berikut.

namun ada yang tersisa dari kopdar ini dan menyedihkan buat saya. tak bisa ketemu si sohib. padahal sudah bela-belain saya bawakan dampo dan amplang pesanannya…:(
Continue Reading »

Popularity: 74% [?]

[Sanjak] Supaya tetap ada yang bangun

daengrusle May 9th, 2008

tidak ada perhentian di dunia ini sebenarnya,
kalo merujuk ke Heraclitus (540SM) dari Miletus, alam ini, termasuk isinya adalah sekumpulan turbulensi abadi…semuanya bergerak dan dengan demikian berubah…

yang ada dianggap diam hanyalah konstanta bilangan…itupun masih akan selalu direvisi…
nah bukankah revisi adalah juga manifestasi ketidakberhentian…?

supaya tetap ada yang bangun
::

sehabis melarung arung yang bertarung dalam sarung di benak
tiba saatnya menelungkup belikat pada diam yang ditanak,
sedikit saja, dan tanak yang gelisah kita angkat menyalak
bangun, setegap saja, kita bisa toreh semua gairah yang tertalak

bukan kita sebangsa manusia kalau dipaku mati pada penat
sebab gairah tidak pernah henti menampar kuat
di kepala, jantung dan hati kita sama rekat erat
bahwa semua waktu adalah saat kita menghitung semangat

supaya tetap ada yang bangun, kawan
tidak untuk menunjukkan aku kita kepada lawan
hanya sekedar bersyukur pada diri dan sang maha rahman
bahwa tetap bahagia memegang amanah hingga di akhir jalan

pasir ridge, di tengah penat…
May 09, 2008

Popularity: 83% [?]

[percik] sedikit ber-filsafat soal keyakinan yang memuaskan

daengrusle April 28th, 2008

mahdi-membangun-menara-kotak.JPGAda yg mengatakan bahwa keyakinan itu batas nya hanya persoalan kepuasan belaka. ketika keyakinan itu mampu menjawab mayoritas pertanyaan substansial seseorang ttg kehidupan secara memuaskan, maka ia menjadi ‘keyakinan’ yang dibawa selama hidup…

Namun ketika ada keyakinan lain yang datang dan memberi jawaban yang relatif ‘lebih’ memuaskan, maka ia boleh berpindah…makanya kemudian kita banyak menyaksikan orang convert their faith to another one

Makanya dalam jagad alam pikiran seseorang, sesuatu yang bersifat dogmatis, doktrin - yg wajib terima - dan sebagainya, ter-negasikan karena persoalan kemampuan menjawab permasalahan substansial manusia tidak mewujud secara rasional….

Dalam permasalahan tertentu yang tidak ada jawaban exactnya, maka pendekatan2 semi rasional dan rasional dikemukakan oleh para filsof dari masing2 ranah keyakinan…nah, jawaban2 mana yang lebih memuaskan, berpulang kepada pendekatan subyektif penerima nya…

Wallahu ‘alam bis showab

Popularity: 83% [?]

[Buku] The Perfect Guys dan Ayat-Ayat Cinta

daengrusle April 19th, 2008

Ayat-Ayat+CintaApa salahnya menjadi the perfect guys? Ada salahnya. Di tengah masyarakat yang serba tak sempurna, serba kompromi kepada ke-terbatas-an Anda akan divonis berada hidup di awang-awang, dengan menjadi manusia ‘aneh’. Kalau anda merasa orang yang sadar dan normal, maka ketika Anda berada di dalam quadran masyarakat yang serba tak sempurna, maka Anda adalah setitik noktah koordinat yang tidak bersinggungan dengan garis linear apapun, kecuali di interpolasi sedemikian rupa hingga seolah-olah Anda berada di dalam struktur dan sistem nya, hanya karena keberadaan fisik Anda diakui dalam bentuk statistik. Ya, Anda adalah manusia sinting di tengah masyarakat waras. Masyarakat yang waras yang lebih suka berdalih bahwa kemanusiaan itu berarti ketidaksempurnaan. Lihatlah pemeo masyarakat “rocker juga manusia, presiden juga manusia, artis juga manusia, hingga ulama juga manusia”. Semuanya adalah penegasan atas sikap permisif atas ketidak sempurna-an kapasitas moralitas seseorang. Namun di saat yang lain, masyarakat jenis ini mudah dihinggapi sikap munafik, karena masih saja menyenangi menggunjingkan kebobrokan dan kemerosotan moral perilaku manusia di dalam nya.

Apa salahnya menjadi the perfect guys? Ada salahnya. Siap-siap saja menjadi bahan cemoohan oleh orang-orang yang tak sanggup menjadi sempurna, meski sangat berkeinginan untuk itu. Anda akan dinegasikan sedemikian rupa sehingga semua opini yang Anda lontarkan akan menjadi bumerang - back fire yang akan menghancurkan diri Anda sendiri.

Apa untungnya menjadi the perfect guys? Banyak sekali. Konsistensi Anda akan membawa Anda kepada kepuasan pribadi, ketika jalan yang lurus dibentang, dan Anda termasuk salah seorang dari sedikit yang berhasil berada di jalur yang penuh barokah itu.

Anda ingin menjadi the perfect guys? Bacalah Ayat-ayat Cinta. Anda yang sudah terlalu lapuk hidup di tengah masyarakat buta akan mendapatkan kenyataan ironis. Pilihannya hanya dua; Anda bisa mencemooh pribadi seorang Fahri, atau memujanya.

Pilihannya, kalau Anda memilih yang pertama. Berarti Anda benar2 sudah terlalu busuk dalam ketidak sempurnaan. Maka, beristighfarlah.

:)

Popularity: 100% [?]

« Prev - Next »