daengrusle November 25th, 2007
Siang yang teramat terik di Balikpapan. Penjaja makanan keliling, yang biasanya ramai di ahir pekan ini, seperti enggan menemui konsumennya. Jangankan berniat keluar rumah, di dalam rumah pun saya merasa gerah. Di teras, saya mencari angin segar mensiasati gerah sambil mencandai anak saya.
Di tengah terik itu, tiba-tiba di pagar rumah saya telah berdiri seorang kakek mengenakan topi rimba, berselendang kain sarung dan di kedua tangannya tergenggam dua buah buku. Tubuhnya kelihatan ringkih, tapi suaranya terdengar lantang, “Anak, mau beli buku? Sambil menggoyang-goyangkan kedua buku yang ada di tangannya. Tentu saja saya kaget, karena di siang yang teramat terik ini masih ada juga yang berjualan, apalagi jualannya pun tidak lazim, buku. Biasanya, saya membeli buku di toko buku langganan, dan itupun karena memang ada buku menarik yang direkomendasikan teman. Buku bukanlah seperi lazimnya barang konsumsi lainnya yang bisa dibeli setiap saat dimana saja. Membeli buku biasanya disesuaikan dengan kebutuhan otak dan perlu effort yang lebih untuk mencari buku bermutu.
Tapi seperti melawan kelaziman, kakek tua itu menjajakan buku berkeliling dari rumah ke rumah, berjalan kaki. Dan ini menarik untuk saya dan mempersilahkan kakek penjaja buku itu masuk dan menggelar dagangannya di teras rumah.

Matrawi, menjaja buku di tengah terik untuk menyambung hidup
Namanya Matrawi, berusia 68 tahun dan berasal dari Sumenep, Madura. Menurut penuturannya, menjajakan buku keliling ini dilakoninya sejak tahun 2003 ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota Balikpapan. Sebelumnya dia adalah petani di Sumenep. Hasil bertaninya sebesar Rp 25 juta dihabiskan untuk mengurus anaknya masuk AKABRI. Anaknya kini sudah berpangkat Letnan Dua, sambil mengeluarkan dompet dan menunjukkan sebuah foto yang diakuinya sebagai anaknya dengan pakaian militer. Menurut pengakuannya, sebelum ke Balikpapan dia sempat mengikuti pelantikan anaknya di Monas, katanya dilantik oleh Presiden Megawai Soekarno Putri. “Sudah kaya dong pak” tanyaku. Pak Matrawi hanya tersenyum dan menggeleng lemah, melanjutkan promosi bukunya. Menurut dia, buku-buku nya yang kesemuanya adalah buku tentang agama Islam; komik nabi-nabi, risalah sholat, al-qur’an dan kumpulan doa-doa, dikirimkan langsung oleh anaknya dari Surabaya. Makanya harganya murah, dibandingkan dengan toko-toko di pasar Klandasan, sebutnya. Saya memang pernah membeli al-Quran di Klandasan, disana banyak kios yang menjual buku sejenis yang dijajakan pak Matrawi.
Saat saya tanya, harga dari buku-buku tersebut sambil menunjuk beberapa komik kisah nabi yang berukuran kecil dan tipis, pak Matrawi bingung menjawabnya. “Sesuai keikhlasan saja, nak. Berapa anak mau bayar, yang penting ikhlas”. Menurutnya, dia menjajakan buku ini bukan untuk mencari untung, tujuannya hanya untuk minta tolong. Sekedar untuk membeli makan saja sehari-harinya, yang dia bilang sebesar Rp 7000 sekali makan.
Selintas saya kemudian membayangkan industri buku di indonesia yang mungkin memproduksi buku ribuan setiap bulannya, terutama saat booming novel chicklit yang digemari para remaja itu. Dalam setiap produksi buku, menurut berita, disributor kebagian pendapaan sampai 70% dari harga buku. Sedang pihak penerbit dan pengarang buku hanya menikmati sisanya. Ditambah dengan biaya produksi yang tidak sedikit, terbayang betapa besar biaya yang dikeluarkan oleh para pembaca. Dan berapa rupiahkah yang bisa dinikmati oleh orang-orang seperi pak Matrawi yang hanya berharap uang makan saja dari dagangannya itu?
Dalam sehari jualan pak Matrawi hanya laku paling banyak dua buah, dengan penghasilan paling tinggi Rp 35 ribu. Pernah juga dia menerima Rp 50 ribu, tapi jarang sekali. Penghasilan yang teramat kecil itu, dipakainya untuk menghidupi dirinya bersama istri yang siang itu juga ikut berkeliling menemani pak Matrawi. Berdua mereka berjalan kaki menyusuri kampung-kampung di Balikpapan sejak pagi, berangkat dari rumahnya di Gunung Malang. Saat itu, kelihatan mata istrinya yang berjilbab itu berair. Saya tanya kenapa, kok nangis? Pak Matrawi menjawab, dia sakit perut sedari tadi. Saat saya ajak makan siang di rumah, dengan halus pak Matrawi menolak. Dia memilih melanjutkan berjualan buku bersama isrinya, padahal mungkin saja mereka sudah lapar dan haus, apalagi di tengah hari yang teramat terik itu.
Popularity: 33% [?]