Archive for the 'Balikpapan' Category

[narsis] Menang Lomba Puisi dan Foto

daengrusle April 4th, 2008

Hm, hari ini saya menang dua kali. Dalam ajang lomba Menulis Puisi dan Lomba Fotography di kantor dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, saya bisa dapet dua penghargaan;

Juara 1 di Lomba Menulis Puisi untuk Bermimpi di Gubuk Kardus - yang pernah saya posting di blog ini dgn judul Kepada Siapa Kemudian Mereka Berpaling?
Juara 3 Lomba Foto yang bertema Ukhuwah dan Keteladanan untuk foto dibawah ini.
berbagi-rezeki-berbagi-kuasa.JPG

Hadiahnya lumayan, voucher belanja di Matahari, he2. Mahdi dan Maipa bisa dapat baju baru lagi neh, atau buat Bapaknya saja…hehehe.

Alhamdulillah.

Popularity: 100% [?]

New Snookerer from Balikpapan

daengrusle March 20th, 2008

mahdi main bilyard serius

Berawal dari keseringan menonton program olahraga di StarSport atau ESPN, Mahdi jadi keranjingan permainan yang ada bola nya, terutama bilyard. Setiap ada program siaran kompetisi bilyard, dia pasti akan terpaku menatap bola-bola kecil itu berhamburan ketika dihunjam stik dari pemain bilyard profesional. Mahdi rela menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menikmati permainan ini. Sekiranya acara ini kemudian berakhir, maka dia akan menangis sekeras-kerasnya karena merasa masih pengen menikmatinya.

Pada setiap kesempatan berjalan-jalan ke Mall - baik ke BC atau Ramayana Rapak, maka matanya akan berkejaran dengan semua pernik bola-bola. Minggu lalu, pada akhir pekan kebetulan kami sekeluarga berjalan-jalan ke BC, rupanya matanya yang bulat itu menemukan mainan bilyard mini di stand mainan Matahari. Tak ayal, mainan itu langsung ditarik dan dibuka nya! Mahdi kemudian memainkan bilyard itu tepat di tengah mall. Beberapa pengunjung dan sales Matahari tersenyum-senyum menyaksikan polah si Mahdi ini. Sampai di rumah, mainan ini menyita hampir tiga harian jam bermainnya. Mudah2an saja ini adalah bakat yang bakal diusung terus sampai jadi pemain profesional! Amin. Continue Reading »

Popularity: 58% [?]

Upcoming Maestro! All about talent and hard practices!

daengrusle February 2nd, 2008

Proses menjadi seorang maestro seni tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Kreatifitas yang bersumber dari karakter personal dan kecerdasan menggali inspirasi tidaklah diturunkan serta merta seperti rintik hujan - dan kita tinggal menampungnya dalam perigi.

Bakat, adalah pemberian Yang Maha Kreatif. Manusia yang mendapat “gift” tersebut, kemudian memolesnya dalam suatu disiplin latihan dan kerja keras yang tidak setengah-setengah. Maestro lahir dari dua kombinasi tersebut; bakat dan latihan.

Proses lahirnya seorang maestro juga tidak secepat membangun Prambanan - semalam saja. Tapi ia lahir dari proses yang tekun dan lama, dan tak jarang membuat frustasi - menjadi rorokeng, layu sebelum menjadi. Maestro membutuhkan kesetiaan pada waktu; lama dan penuh kesabaran.

resize-of-pameran.JPG

Kalau Michaelangelo membutuhkan media langit-langit Basilika Santo Petrus di Vatikan, dan Donatello, Rafael, serta sang legenda Leonardo da Vinci membutuhkan kanvas, maka Mahdi Muthahhari, the next maestro ini membutuhkan dinding-dinding rumah kontrakan sebagai media pelampiasan kreatifitasnya. Dan perjalanan menjadi Maestro sungguh telah dijejak sejak sebelia ini.

memlihi-aliran-abstrak.JPG

Aliran apa yang dipilih oleh maestro belia ini? Menurut analisa seorang kurator amatiran, Mahdi Muthahhari sesungguhnya telah memilih aliran abstrak yang cenderung surrealis. Komposisi bentuk kurva yang dipadukan oleh warna yang ragam namun tetap dalam harmoni membentuk karya yang berkarakter kuat. Walau terkadang menjadi sulit untuk mencerna makna lukisannya - sebagaimana umumnya lukisan abstrak - namun kita akan digiring pada rasa bahagia ketika menikmati lukisan-lukisan ini.

Tak peduli, apakah di penghujung tahun, sang pemilik Gallery (baca: pemilik rumah) menghargai karya seni ini dengan biaya tinggi atau kalau lagi apes, malah tuntutan ganti rugi!

Wallahu ‘alam bis-showab. Hanya Yang Maha Kuasa yang tahu. Klik untuk melihat proses kreatif nya: Continue Reading »

Popularity: 82% [?]

Ahmadiyah: Muhammad Nabi Terakhir, Mirza Ghulam Hanya Guru

daengrusle January 15th, 2008

Saya kira kasus ’sesat’nya berakhir sudah

Tidak perlu lagi ada kemarahan dengan teriakan menyebut nama Tuhan Yang Agung sambil melempar rumah ibadah mereka dengan mata amarah.

Mari kembali merangkul kembali mereka sebagai saudara…:)

baca juga: [Fatwa sesat] Mobilisasi Kemarahan dan Akhlak Kita

http://www.detiknews.com/index.php/detik.read/tahun/2008/bulan/01/tgl/15/time/120445/idnews/879171/idkanal/10

Selasa, 15/01/2008 12:04 WIB
Ahmadiyah: Muhammad Nabi Terakhir, Mirza Ghulam Hanya Guru

Jakarta - Gelombang protes terhadap Ahmadiyah masih berlangsung di daerah-daerah. Namun, Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) telah meluruskan dan mengakui bahwa Nabi Muhammad adalah nabi akhir zaman. Sedangkan Mirza Ghulam Ahmad, yang selama ini disebut-sebut sebagai nabi, menurut JAI, hanyalah sebagai guru. Continue Reading »

Popularity: 41% [?]

[Foto] Terik di Pusat Balikpapan

daengrusle January 11th, 2008

Di suatu waktu di penghujung tahun,
kucoba mengeja geliat kota minyak yang sedang dilanda sakit krisis energi.
Sepanas apa ia di pusaran
ataukah hanya sehangat dedaun yang didera asap ribuan knalpot?

Topi hitam,
bersama kamera yang setia menemani kala mata mulai lupa merekam waktu
di pusat kota ini, kurebahkan diri mencari pojok yang sejuk
dan menata bangunan laksana arkitek mencari bentuk yang paling klop

tapi tidak, saya hanya menemukan bangunan-bangunan tinggi menjulang
sedikit pongah, dan menantang untuk dikuliti.
selepas menghantar sang penyapu yang acuh dibilas kamera
saya berjalan menghampir pantai yang berubah menjadi ladang crane-tower
pantai yang dulu tempat kanak-kanak hitam dan ceria itu berenang
kini dibungkus seng aneka warna, dan dijaga satpam yang pura-pura sangar

kususuri jembatan mewah yang melintang riang diseberangnya,
inilah kiranya titian kebanggaan warga
ketika terakhir kudatangi kota ini, dua tahun silam,
jembatan ini hanya sebatas mimpi
kini dia menjelma menjadi konektor dari segala penjuru
menjadi tanda bahwa Balikpapan sebentar lagi dewasa
sama seperti kota lainnya, yang sudah digulung peradaban
dan tak lupa bencana yang silih berganti

ini lah hasil jepretannya:
 bc-yang-terik.JPG
Photo-1: BC Yang terik. Lanjutkan untuk foto-foto lainnya: Continue Reading »

Popularity: 48% [?]

Biasakanlah Melangkah!

daengrusle January 9th, 2008

10k-a-day-step-walking.JPG

Apakah Anda termasuk orang yang lebih menyukai naik lift daripada menjejaki tangga, meski cuman selantai? Ataukah anda termasuk yang lebih senang naik angkot atau ojek ke mini market terdekat daripada berjalan kaki? Apakah Anda sulit menghitung berapa kali dalam seminggu Anda berolahraga, renang, jogging, bulu tangkis?

Kalo iya, waspadalah! Selain Anda akan menjadi pemalas yang sangat, Anda juga mesti bersiap-siap memilih cara ‘mati’ yang menyakitkan. Karena banyaknya fasilitas dan alat penunjang dalam melakukan aktifitas hidup, manusia modern punya kecenderungan untuk malas bergerak. Kecenderungan ini (atau bisa juga disebut sebagai  penyakit) disebut hipokinesia.

Hypokinesia refers to slow or diminished movement of body musculature. It may be associated with basal ganglia diseases; mental disorders; prolonged inactivity due to illness; experimental protocols used to evaluate the physiologic effects of immobility; and other conditions.

Hipokinesia adalah makanan empuk untuk penyakit : hipertensi, kadar lemak darah tinggi, kegemukan, penyakit jantung koroner dan gangguan metabolisme seperti diabetes tipe 2 dan arthritis.

Apa sulitnya bergerak dan berjalan? Setiap gerak atau langkah mungkin akan memperpanjang hidup anda sekian detik. Selain itu, tubuh yang aktif bugar bisa memberi efek psikologis yang positif; selalu ceria, berpikiran positif dan tentu saja memberi daya pikat yang lebih besar. :) Continue Reading »

Popularity: 34% [?]

Orang Miskin Dilarang Beli Buku!

daengrusle January 2nd, 2008

gramedia-balikpapan.jpg

Entah kenapa tadi pagi saya merasa rindu ke toko buku, terutama karena saya penasaran pengen menjamah lembar-lembar halaman buku-buku baru yang belakangan banyak diiklankan di media.

Memang sebelumnya saya sudah beberapa kali mengunjungi toko buku langganan saya, Toko Buku Karisma di Mall Rapak (Ramayana) Balikpapan. Itupun karena kebetulan beberapa kali mesti menemani istri berbelanja bulanan di Mall itu yang lokasinya cukup dekat dengan rumah saya, jadi sekalian saja cari buku baru dan bagus. Tapi buku-buku di Toko Karisma ini rasa-rasanya teramat kuno, tidak terlalu menarik. Hanya ada satu dua buku saja yang bagus, terbitan penerbit dan tulisan pengarang yang jaminan mutu. Tapi secara keseluruhan stok bukunya kurang berkualitas. Kebanyakan adalah buku terbitan sendiri, atau buku lama yang sudah tidak sejalan lagi dengan zaman sekarang. Hanya satu kelebihan Karisma dibanding Gramedia, harga nya lebih murah sekitar 20-30%. Lumayan! Apalagi saya sudah terdaftar jadi member di Karisma, sehingga bisa menikmati discount 10% untuk setiap buku.

Nah, pagi ini saya hendak mengajak mata dan otak saya pelesir ke toko buku Gramedia Balikpapan, yang lokasinya terletak di Plaza Balikpapan atau lebih dikenal dengan BC= Balikpapan Center. Di sana saya termanjakan oleh banyaknya buku-buku baru, bagus dan menarik. Saya sempat menjamah setengah isi buku GM yang baru; Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai. Ada juga buku kumpulan Puisi Joko Pinurbo yang diberi judul sableng: Celana…. dan Kepada Cium. Menarik. Saya juga sempat mencatat beberapa buku bagus disana yang rencananya akan saya beli kalau ada rezeki; Trilogi Laskar Pelangi (kuno ya saya soale belum baca buku heboh ini, he2), Kompas Menulis dari Dalam, sebuah buku bagus buat yang seneng menulis; Menjadi Indonesia, sebuah buku sejarah tebal karangan Parakitri Simbolon yang pantas dijadikan referensi; Antologi Lengkap Cerpen AA Navis, wow ini lah buku penulis cerpen Legendaris Robohnya Surau Kami yang sangat layak untuk dimiliki; Duo buku tebal tentang perang salib, Perang Suci karya Armstrong dan Perang Salib karya Hillenbard; ada juga buku History of the Arabs karangan Hitti yang juga tidak kalah menariknya. Continue Reading »

Popularity: 33% [?]

Rezeki Baru - Terompet Tahun Baru

daengrusle December 31st, 2007

Senja menjelang, merapat ke setiap sudut kota Balikpapan. Senja hari ini adalah senja yang tak biasa, karena disambut dengan bebunyian terompet dan petasan yang silih berganti, dan senyum sumringah anak-anak kecil menyambut tahun yang berganti.

supriadi-menikmati-malam-tahun-baru.JPG

Balikpapan, sebagaimana kota besar lainnya d Indonesia, juga semarak menyambut pergantian tahun. Laki-laki perempuan, anak kecil remaja hingga orang tua punya acara masing-masing menyambut pergantian tahun yang dianggap istimewa. Ada yang mengisi nya dengan bakar jagung, mengunjungi keramaian di pusat kota, atau ada juga yag menghabiskan semalam suntuk di depan TV, menonton acara semarak pergantian tahun yang special dari masing-masing stasiun televisi. Malam tahun baru, sebagaimana malam-malam sebelumnya memang disi dengan hiburan aneka macam.

Terompet Membawa Rejeki
Dalam semarak pergantian tahun, terompet seperti wajib hadir dalam detik-detik menjelang dan sesudah tahun berganti sebagaimana sudah menjadi tradisi setiap tahun, Entah dari mana tradisi ini bermula, yang jelas hingga saat ini jutaan terompet bisa ludes dalam satu atau dua malam menjelang pergantian tahun. Kota dan kampung, menjadi riuh dengan bebunyian dari teompet ini. Tidak ada akan yang merasa gaduh terganggu, karena bebunyiaan itu mewakili keceriaan meninggalkan tahun yang telah dijalani, menggantinya dengan tahun baru yang penuh harapan. Continue Reading »

Popularity: 46% [?]

Matrawi, mengasong buku melawan terik

daengrusle November 25th, 2007

Siang yang teramat terik di Balikpapan. Penjaja makanan keliling, yang biasanya ramai di ahir pekan ini, seperti enggan menemui konsumennya. Jangankan berniat keluar rumah, di dalam rumah pun saya merasa gerah. Di teras, saya mencari angin segar mensiasati gerah sambil mencandai anak saya.

Di tengah terik itu, tiba-tiba di pagar rumah saya telah berdiri seorang kakek mengenakan topi rimba, berselendang kain sarung dan di kedua tangannya tergenggam dua buah buku. Tubuhnya kelihatan ringkih, tapi suaranya terdengar lantang, “Anak, mau beli buku? Sambil menggoyang-goyangkan kedua buku yang ada di tangannya. Tentu saja saya kaget, karena di siang yang teramat terik ini masih ada juga yang berjualan, apalagi jualannya pun tidak lazim, buku. Biasanya, saya membeli buku di toko buku langganan, dan itupun karena memang ada buku menarik yang direkomendasikan teman. Buku bukanlah seperi lazimnya barang konsumsi lainnya yang bisa dibeli setiap saat dimana saja. Membeli buku biasanya disesuaikan dengan kebutuhan otak dan perlu effort yang lebih untuk mencari buku bermutu.

Tapi seperti melawan kelaziman, kakek tua itu menjajakan buku berkeliling dari rumah ke rumah, berjalan kaki. Dan ini menarik untuk saya dan mempersilahkan kakek penjaja buku itu masuk dan menggelar dagangannya di teras rumah.

jual-buku.JPG

Matrawi, menjaja buku di tengah terik untuk menyambung hidup 

Namanya Matrawi, berusia 68 tahun dan berasal dari Sumenep, Madura. Menurut penuturannya, menjajakan buku keliling ini dilakoninya sejak tahun 2003 ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota Balikpapan. Sebelumnya dia adalah petani di Sumenep. Hasil bertaninya sebesar Rp 25 juta dihabiskan untuk mengurus anaknya masuk AKABRI. Anaknya kini sudah berpangkat Letnan Dua, sambil mengeluarkan dompet dan menunjukkan sebuah foto yang diakuinya sebagai anaknya dengan pakaian militer. Menurut pengakuannya, sebelum ke Balikpapan dia sempat mengikuti pelantikan anaknya di Monas, katanya dilantik oleh Presiden Megawai Soekarno Putri. “Sudah kaya dong pak” tanyaku. Pak Matrawi hanya tersenyum dan menggeleng lemah, melanjutkan promosi bukunya. Menurut dia, buku-buku nya yang kesemuanya adalah buku tentang agama Islam; komik nabi-nabi, risalah sholat, al-qur’an dan kumpulan doa-doa, dikirimkan langsung oleh anaknya dari Surabaya. Makanya harganya murah, dibandingkan dengan toko-toko di pasar Klandasan, sebutnya. Saya memang pernah membeli al-Quran di Klandasan, disana banyak kios yang menjual buku sejenis yang dijajakan pak Matrawi.

Saat saya tanya, harga dari buku-buku tersebut sambil menunjuk beberapa komik kisah nabi yang berukuran kecil dan tipis, pak Matrawi bingung menjawabnya. “Sesuai keikhlasan saja, nak. Berapa anak mau bayar, yang penting ikhlas”. Menurutnya, dia menjajakan buku ini bukan untuk mencari untung, tujuannya hanya untuk minta tolong. Sekedar untuk membeli makan saja sehari-harinya, yang dia bilang sebesar Rp 7000 sekali makan.

Selintas saya kemudian membayangkan industri buku di indonesia yang mungkin memproduksi buku ribuan setiap bulannya, terutama saat booming novel chicklit yang digemari para remaja itu. Dalam setiap produksi buku, menurut berita, disributor kebagian pendapaan sampai 70% dari harga buku. Sedang pihak penerbit dan pengarang buku hanya menikmati sisanya. Ditambah dengan biaya produksi yang tidak sedikit, terbayang betapa besar biaya yang dikeluarkan oleh para pembaca. Dan berapa rupiahkah yang bisa dinikmati oleh orang-orang seperi pak Matrawi yang hanya berharap uang makan saja dari dagangannya itu?

Dalam sehari jualan pak Matrawi hanya laku paling banyak dua buah, dengan penghasilan paling tinggi Rp 35 ribu. Pernah juga dia menerima Rp 50 ribu, tapi jarang sekali. Penghasilan yang teramat kecil itu, dipakainya untuk menghidupi dirinya bersama istri yang siang itu juga ikut berkeliling menemani pak Matrawi. Berdua mereka berjalan kaki menyusuri kampung-kampung di Balikpapan sejak pagi, berangkat dari rumahnya di Gunung Malang. Saat itu, kelihatan mata istrinya yang berjilbab itu berair. Saya tanya kenapa, kok nangis? Pak Matrawi menjawab, dia sakit perut sedari tadi. Saat saya ajak makan siang di rumah, dengan halus pak Matrawi menolak. Dia memilih melanjutkan berjualan buku bersama isrinya, padahal mungkin saja mereka sudah lapar dan haus, apalagi di tengah hari yang teramat terik itu.

Popularity: 33% [?]

Harapan dari Dua Peristiwa

daengrusle November 20th, 2007

 atiger.JPG

Ahad pagi, 18 November 2007. Saya melakukan keteledoran yang nyaris merenggut nyawa saya sendiri. Mengendarai motor besar Tiger - yang menurut banyak orang, tidak apropriate dengan postur saya yang kecil - saya kehilangan kendali ketika hendak singgah membeli label nama untuk acara Family Day Alumni ITB di Sepinggan Housing Complex - Total. Motor tiger besar itu kutabrakkan ke trotoar kiri jalan dan akibatnya, saya terpelanting ke kanan. Kaki saya terhimpit, dan badan saya menghantam badan jalan. Kepala saya yang terlindung helm yang ditempeli sticker AM itu menyentuh aspal, siap dihantam kendaraan di belakangnya. Saya sudah pasrah, apapun yang terjadi kemudian.

Untungnya, sepagi itu jalan utama menuju bandara Sepinggan Balikpapan itu sepi, padahal sudah jam 08.30 WITA. Seharusnya sudah ramai, apalagi ini hari libur. Dan nyawa saya selamat. Sampai beberapa detik kemudian, saya mencoba berdiri dan keluar dari himpitan motor besar itu. Saya merasa, paling tidak engkel kaki saya bakal remuk karena posisi jatuh nya yang menakutkan. Terbayang Boas Salozza yang telapak kakinya terlipat saat mewakili Indonesia tempo hari. Engkel patah. Saat coba digerakkan, kaki saya merespon baik. Hanya ada sedikit nyeri, mungkin memar. Tapi tidak ada tanda-tanda keparahan sebagaimana yang saya ‘harapkan’. Alhamdulillah sekali lagi. Aman.

Selepas ‘kejatuhan’ itu, saya kemudian meneruskan perjalanan ke acara Family Day itu, yang kebetulan saya jadi Ketua Panitia nya. Hanya ada yang kurang enak saat mengendarai Motor Tiger itu lagi, sepertinya ada yang rusak atau keseimbangannya terganggu, jalannya juga agak ‘berat’. Dan walhasil, saat saya bawa ke bengkel resmi Honda, ternyata memang mesti direparasi balancing nya. Setengah juta rupiah, harga yang menohok untuk sebuah keteledoran yang cuman berlangsung lebih kurang lima detik saja. Gak apa-apa, ujar saya dalam hati, bukan karena lagi banyak duit, tapi karena ‘pelajaran keteledoran’ ini insya Allah bakal berguna di masa datang.

Kemudian, ingatan saya terlempar ke dua tahun silam saat masih berstatus pegawai perusahaan tambang di Sorowako yang saat ini menurut berita sedang dilanda mogok kerja para pekerjanya sehubungan dengan tuntutan bonus dan kenaikan upah. Dalam perjalanan dari Sorowako menuju Makassar, saat tengah malam, bus Mega Mas yang saya tumpangi tiba-tiba oleng dan terbalik ke samping. Saya yang kebetulan duduk di barisan bangku sebelah kanan tahu-tahu dihujani beberapa tas dan sepatu. Semua penumpang tereak dan menjerit. Saya hanya kebayang bakal death, apalagi kerasa kalo air merembes masuk. Kupikir bus ini nyebur ke sungai. Saat itu, baru seminggu anak pertama saya, Mahdi lahir. Dan ingatan saya hanya ke dia saja. Tapi alhamdulillah, saya saat itu rupanya masih terlindungi. Tidak ada cedera sama sekali.

Nah, kejadian motor yang menabrak trotoar itu seperti deja vu kejadian bus terbalik itu. Peristiwa dengan konteks waktu yang hampir sama. Saat motor terbalik itu, saya juga baru mendapat anugerah berupa putri cantik, Maipa Deapati. Walau tidak ada maksud menghubung-hubungkan, tapi setidaknya kok serasa ada koinsiden dari dua peristiwa ini.

Dalam hati saya berdoa, semoga kejadian yang menimpa saya ini menjadi semacam pembuang sial dan bencana bagi kedua anak saya tercinta. Semoga semua kecelakaan yang mungkin akan terjadi terhadap anak saya, biarlah saya saja yang mengalaminya.

Popularity: 25% [?]

Next »