Archive for the 'Balikpapan' Category

Harapan dari Dua Peristiwa

daengrusle November 20th, 2007

 atiger.JPG

Ahad pagi, 18 November 2007. Saya melakukan keteledoran yang nyaris merenggut nyawa saya sendiri. Mengendarai motor besar Tiger - yang menurut banyak orang, tidak apropriate dengan postur saya yang kecil - saya kehilangan kendali ketika hendak singgah membeli label nama untuk acara Family Day Alumni ITB di Sepinggan Housing Complex - Total. Motor tiger besar itu kutabrakkan ke trotoar kiri jalan dan akibatnya, saya terpelanting ke kanan. Kaki saya terhimpit, dan badan saya menghantam badan jalan. Kepala saya yang terlindung helm yang ditempeli sticker AM itu menyentuh aspal, siap dihantam kendaraan di belakangnya. Saya sudah pasrah, apapun yang terjadi kemudian.

Untungnya, sepagi itu jalan utama menuju bandara Sepinggan Balikpapan itu sepi, padahal sudah jam 08.30 WITA. Seharusnya sudah ramai, apalagi ini hari libur. Dan nyawa saya selamat. Sampai beberapa detik kemudian, saya mencoba berdiri dan keluar dari himpitan motor besar itu. Saya merasa, paling tidak engkel kaki saya bakal remuk karena posisi jatuh nya yang menakutkan. Terbayang Boas Salozza yang telapak kakinya terlipat saat mewakili Indonesia tempo hari. Engkel patah. Saat coba digerakkan, kaki saya merespon baik. Hanya ada sedikit nyeri, mungkin memar. Tapi tidak ada tanda-tanda keparahan sebagaimana yang saya ‘harapkan’. Alhamdulillah sekali lagi. Aman.

Selepas ‘kejatuhan’ itu, saya kemudian meneruskan perjalanan ke acara Family Day itu, yang kebetulan saya jadi Ketua Panitia nya. Hanya ada yang kurang enak saat mengendarai Motor Tiger itu lagi, sepertinya ada yang rusak atau keseimbangannya terganggu, jalannya juga agak ‘berat’. Dan walhasil, saat saya bawa ke bengkel resmi Honda, ternyata memang mesti direparasi balancing nya. Setengah juta rupiah, harga yang menohok untuk sebuah keteledoran yang cuman berlangsung lebih kurang lima detik saja. Gak apa-apa, ujar saya dalam hati, bukan karena lagi banyak duit, tapi karena ‘pelajaran keteledoran’ ini insya Allah bakal berguna di masa datang.

Kemudian, ingatan saya terlempar ke dua tahun silam saat masih berstatus pegawai perusahaan tambang di Sorowako yang saat ini menurut berita sedang dilanda mogok kerja para pekerjanya sehubungan dengan tuntutan bonus dan kenaikan upah. Dalam perjalanan dari Sorowako menuju Makassar, saat tengah malam, bus Mega Mas yang saya tumpangi tiba-tiba oleng dan terbalik ke samping. Saya yang kebetulan duduk di barisan bangku sebelah kanan tahu-tahu dihujani beberapa tas dan sepatu. Semua penumpang tereak dan menjerit. Saya hanya kebayang bakal death, apalagi kerasa kalo air merembes masuk. Kupikir bus ini nyebur ke sungai. Saat itu, baru seminggu anak pertama saya, Mahdi lahir. Dan ingatan saya hanya ke dia saja. Tapi alhamdulillah, saya saat itu rupanya masih terlindungi. Tidak ada cedera sama sekali.

Nah, kejadian motor yang menabrak trotoar itu seperti deja vu kejadian bus terbalik itu. Peristiwa dengan konteks waktu yang hampir sama. Saat motor terbalik itu, saya juga baru mendapat anugerah berupa putri cantik, Maipa Deapati. Walau tidak ada maksud menghubung-hubungkan, tapi setidaknya kok serasa ada koinsiden dari dua peristiwa ini.

Dalam hati saya berdoa, semoga kejadian yang menimpa saya ini menjadi semacam pembuang sial dan bencana bagi kedua anak saya tercinta. Semoga semua kecelakaan yang mungkin akan terjadi terhadap anak saya, biarlah saya saja yang mengalaminya.

Popularity: 22% [?]

Maipa Deapati

daengrusle November 16th, 2007

maipaku-2.JPG

Sekedar mengabarkan berita dan membagi rasa bahagia kami, juga
berharap doa dan restu tulus dari rekan semua.

Alhamdulillah, telah lahir anak ke-2 kami, seorang putri cinta bernama
MAIPA DEAPATI NOERTIKA, malam tgl 14 Nov 2007, atau 4 Dzulqaidah
1428 jam 23.03 WITA di Rumah Sakit Pertamina Balikpapan, dgn bantuan Dr Bisma, SpOG.

Berat lahir 2,85kg, panjang 49cm. Proses normal dan mudah,
alhamdulilah. Saat ini kondisi ibu dan anak sehat wal afiat.

Mhn doanya. Foto dibawah dengan Pejuang ku with her baby! Saya ikut menyaksikan detik2 perjuangan My Lovely wife mengarungi samudera hidup itu. Luar Biasa!

maipa-dan-mama.JPG

Berikut adalah Sanjak Hadiah keLahiran dari Kak Lily Yulianti - Panyingkul;

Ruslee,
ini sajak yang ditulis farid sewaktu fawwaz lahir 9 tahun lalu. Telah saya gubah jadi lagu dan kadang dinyanyikan secara terbatas di rumah kami.

Hari ini, saya persembahkan untuk Anakda Maipa Deapati:
(nada dasar A (alias nada apasaja hehehe))

tangismu, anakku
tangismu, apa yang hendak kau katakan?
cintaku akan melindungimu

seperti juga melindungi ibumu
yang tergolek-lunglai-manja
seusai melewati samudera
yang tak pernah terbayangkan
bagi para lelaki

tangismu yang pertama, anakku
apa yang ingin kau sampaikan?
dunia begitu tak menentu
tak bisa kujanjikan kebahagiaan
hanya kasih sayang
seperti matahari
setia menyentuh bumi
ingin menyentuh hatimu

Foto-foto lainnya, silahkan diteruskeun: Continue Reading »

Popularity: 23% [?]

Lebaran Pertama di Balikpapan

daengrusle October 23rd, 2007

Ini ada beberapa hasil menjepret saat berlebaran di Balikpapan. Lokasi di pelataran Jl Inpres IV, Gn Samarinda Balikpapan.

rs094496.JPGmahdi-senyum.JPG
Mahdi dengan baju lebarannya. Senang ya?

rs114508.JPG
Matahari ikut ber-lebaran 

rs114509.JPG
Jalan Tuhan dipenuhi hambaNya

rs114510.JPG
Khusyu’ Menyimak

rs114516.JPG
Nengokin apa Mahdi?

rs114520.JPG
Akhirnya kelar juga. Maaf lahir bathin ya?

rs114521.JPG
Berenang di hamparan koran

rs114522.JPG
The most important thing: Makan-makan!

Popularity: 26% [?]

sepagi ini aku ditipu langit

daengrusle October 23rd, 2007

hujan-dan-mesjid.JPG

sepagi ini aku ditipu langit
hujan sebentar dan
sebuah janji untuk terbangun
mengantarku menggauli timba dan tempayan
rintiknya menyanyi
mengibaskan embus pada dedaun
mencocokkan tubuh pada baju ternyaman
untuk hari yang bakal dingin
dan aih, tundulu!
selepas rambut dikentali selesai pula dia bercanda
menutup hujan yang sebentar dengan terik yang sejuk
matahari, pagi dan tepi hari

diatas dua roda besar yang basah mencari aspal sisa semalam
dan kepala yg dinaungi plastik tebal mengikat leher
derungku mencari jalan menuju janji

tak sampai dua bilangan
aku dibogem dingin dari pekat hitam diatas langit
ditumpahnya ribuan galon air serasa hendak menggenangi telaga
menitipkan basah pada kain dan kulit yang diselimutinya
menamparkan cemas ke punggungku
tak cukup menitip basah, juga mengikat macet
bersama derung yang lain,
ditemani bebal dan ketaksabaran
merayap jalan sempit dan kelok
dan setengah jam janji sudah terbilang

seratus depa menuju sampai
lagu hujan ditutup lagi, sial.
manggayutkan basah
menggerayangi tulang
meninggalkan umpat
ah, tak ada baju ganti pulak!

[oktober 23, 2007]

Popularity: 9% [?]

Subhanallah: Meluruskan yang Bengkok

daengrusle October 18th, 2007

Ketika tiba di akhir rakaat ketiga Ashar tadi, selepas sujud imam langgar kami pak Haji Mulyono yang pensiunan pegawai Dephankam itu kemudian terduduk untuk tahiyat akhir. Sejurus beberapa ma’mun yang mungkin pikirannya jauh di negeri lain ikut bertahiyat, namun beberapa yang lain yang masih awas di sore yang terik itu, sigap mengucap, “Subhanallah”. Maha Suci Allah, yang tiada lupa dalam kamusNya. Lantas, sang Imam sadar atas kesalahannya, bangkit berdiri dan meneruskan rakaat terakhir. Lugas. Ashar yang sempurna hari ini,  menurutku.

Ketika sholat Ied di kampung sebelah, di pelataran jalan Inpres IV depan Masjid al-Hijrah yang artinya kira-kira berpindah ke sesuatu yang lebih baik, saya mengalami hal yang hampir sama. Selepas rakaat pertama dari sholat Ied itu, sang Imam yang menurut kabar adalah seorang pengacara, terlupa untuk melakukan lima takbir setelah takbiratul ihtikam. Lima takbir yang tentu saja merupakan salah satu rukun sholat dari pandangan fiqh. Saat itu tak ada ma’mun/jamaah yang mengingatkan kekeliruan ini, termasuk saya. Walau sebenarnya cukup menyebut Subhanallah saja saat itu, mungkin si Imam yang tersedu sedan terisak keras saat itu bakal sadar seketika. Tapi tak ada pelurusan. Si Imam meneruskan bacaan sholat dan rakaatnya hingga tuntas di tahiyat akhir. Hanya obrolan bisikan sana-sini dari ma’mun yang ‘menyadari’ kekeliruan itu selepas salam. Tapi sudah terlambat, omongnya belakangan saja, he2. Termasuk saya.

Subhanallah, itulah kearifan sederhana yang diterapkan oleh Islam saat menemukan kesalahan dalam sholat. Dilakukan dengan lugas dan santun, karena hanya menyebutkan nama Allah yang suci. Yang diingatkan dan yang mengingatkan sudah sama  mengetahui keadaan yang keliru. Tidak ada pelaknatan, tidak ada yang merasa direndahkan. Tidak ada malu, apalagi tinggi hati. Dan paling penting, sederhana. Kemudian, selanjutnya bisa kembali ‘damai’.

Diproyeksikan ke tingkat yang lebih luas di masyarakat, cara ini bisa saja sangat membantu apalagi dalam kenyataan banyak sekali kekeliruan yang terjadi dalam masyarakat. Bukan hanya jamaah, tapi juga imam/ulil amri kita yang sudah tidak jelas mendudukkan kebaikan diatas kejahatan, atau sebaliknya. Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sistematika penyampaian kritik dengan subhanallah;

1. Kesalahan yang terlihat adalah kesalahan standard, umum, dan disepakati oleh semua jamaah. Artinya kesalahan yang terjadi pada umumnya dimaklumi dan diketahui oleh semua pihak, sehingga Imam dan Ma’mun bisa memperbaiki bersama-sama tanpa ada perdebatan. Kata lainnya adalah konsensus!

2. Kesalahan nyata terlihat, tidak sembunyi-sembunyi. Kesalahan dirasakan secara menyeluruh oleh sebagian atau semua jamaah, dan bukan kesalahan yang diam-diam. Sang Imam yang memimpin sholat ashar tentu saja tak akan diketahui apakah bacaan sholat saar berdiri, ruku, sujud atau tahiyat itu dilakukan dengan benar atau salah. Karena selain dibaca dengan syiirr atau pelan, juga dalam beberapa mazhab Islam bacaannya banyak ragamnya, tidak standard.

Wallahu ‘alam bisshowab.

Popularity: 16% [?]

awal-akhir dan sajak pesisir utk Intan Marina

daengrusle October 17th, 2007

 mahdi-dan-tirai.JPG

awal akhir

terhampar di garis waktu, anakku
dan garis berubah titik tanpamu

engkau menari dalam lembar sejarah
menoreh lambai tanganmu mengibas tawa
menjadi tomanurung, juga messiah

dalam abjad anakku
kau dieja pada dengus lahir
jua diucap pada hembus akhir

kau hadir di dua tepi siang
dan dua tepi malam, anakku
menemani munajat yang tanpa akhir

engkau desersi pada waktu
beranjak ketika detak belum selesai
menjadi pemula untuk sebuah paripurna

Sajak Pesisir - Untuk Intan Marina binti Dg Nuntung

anakku, anakku..
di pesisir, di pantai itu kulihat desir ombak mengikuti langkah kecilmu
jejak jejak tapak kakimu menandai satu-satu cinta yg kau sebar
bagai jutaan butir pasir yang bernyanyi lagu pantai…

anakku
kulabuhkan rindu yg membuncah
menarik layar dan cadik ke cadas karang
dan senandung ombak menghangatkan mentari
dan menggayungi pasir

di pesisir, anakku
disana rindu dan asa kutambatkan untukmu
juga setangkup bangga
atas setiap simpul senyumu, setiap dengus nafasmu dan HIDUPmu!

balikpapan, 17 oktober2007

Popularity: 9% [?]

Lebaran Beda, tak Masalah!

daengrusle October 12th, 2007

lebaran.jpg
Foto: Diunduh dan dimanipulasi dari link ini.

Perbedaan penggunaan metode dalam menentukan awal dan akhir ramadhan memunculkan juga perbedaan tanggal atau hari awal/akhjir ramadhan. Pemerintah dan sebagian besar masyarakat Indonesia yang menggunakan metoda rukyat (melihat hilal) dan Muhammadiyah yang menmggunakan perhitungan (hisab) secara aklamasi bersama-sama mengakui bahwa awal Ramdhan jatuh pada rgl 13 September 2007, tetapi kemudian berbeda pendapat dalam penetapan akhir ramadhan, meski masih menggunakan metoda yang sama, yang berbeda itu juga. Polemik penentuan akhir ramadhan ini kemudian menjadi wacana nasional, di tingkat elit pemerintah, DPR dan tokoh nasional tak ubahnya burung yang saling bersahutan mengemukakan pendapat dan dasar penentuan hari suci bagi umat Islam itu. Bagaimana di tingkat masyarakat biasa?

Ini yang coba saya tangkap di lingkungan sekitar rumah saya di Balikpapan. Di hari-hari akhir Ramadhan 1428H, warga RT 39 Gn Samarinda masih ramai saja mendatangi Langgar al-Mushawwir, sebagian karena merasa sulit meninggalkan ramadhan yang pahala ibadahnya berlipat ganda, sebagian juga karena hendak menunaikan zakat fitrah yang tahun ini bernilai Rp 14,000/jiwa atau senilai dengan 3liter beras yang biasa dikonsumsi. Di tengah keramaian itu, ada juga muncul perbincangan seputar penentuan hari akhir ramadhan. Beberapa warga yang orientasi keagamannya cenderung ke Muhammadiyah dengan yakin sudah menetapkan bahwa mereka akn mengikuti majelis tarjih Muhammadiyah yang sudah menetapkan jauh-jauh hari berdasarkan hasil perhitungan perjalanan bulan, bahwa hari Lebaran jatuh pada hari Jumat, 12 Oktober 2007.Beberapa warga lainnya yang lebih konservatif mengungkapkan bahwa mereka masih menunggu keputusan sidang itsbat pemerintah dan ormas Islam pada tgl 11 Oktober 2007 malam yang menggunakan metode melihat hilal/bulan baru dari seluruh nusantara. Bagi mereka, penentuan akhir ramadhan diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah, yang juga ulil amri mereka. Sebahagian yang lain masih ragu-ragu, apakah akan mengikuti sholat Ied berdasarkan penetapan Muhammadiyah atau pemerintah. Walaupun demikian, tidak ada satupun diskusi itu yang berusaha menggiring kiepada permukaan masalah, yakni dikotomi antara kedua otoritas itu. Mereka umumnya sadar, bahwa perbedaan bukan sesuatu yang bernilai untuk dielaborasi menjadi perbedaan yang menghasilkan emosi negatfi.

Pak Sunyoto, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan dan mengaku sebagai warga Muhammadiyah, sudah menetapkan bahwa hari Jumat 12 Oktober 2007, dia dan keluarganya akan berbuka atau tidak berpuasa lagi. Walaupun demikian, pak Sunyoto akan menunaikan shalat Idul Fitri pada hari Sabtu, 13 Oktober 2007 di Masjid ar-Rahman di RT41 bersama-sama warga lainnya yang mengikuti penetapan pemerintah. Saat saya tanya alasannya untuk tidak mengikuti sholat Ied pada hari Jumat bersama warga Muhammadiyah lainnya, beliau menjawab dengan santai, “Lebih enak bareng warga lainnya”. Memang untuk melaksanakan shalat Ied di hari jumat agak sedikit repot, karena tidak banyak tempat tempat penyelenggaran sholat Ied, dan umumnya tempatnya jauh. Satu hal lgi yang menjadi pertimbangan pak Sunyoto, yakni dia tidak mau terlihat berbeda dibanding yang warga lainnya. Walaupun beberapa warga Muhammadiyah lainnya cukup mencolok mengenakan pakaian taqwa untuk sholat Ied. Tempat terdekat dari lingkungan pak Sunyoto untuk shoalt Ied, jaraknya sejauh 3km, disebuah lapangan Badminton. Saat saya tanya, apakah pak Sunyoto mengetahui tempat penyelenggaran sholat Ied di tempat itu, beliau menjawab tidak mengetahui. Wajar, karena informasi itu beredar terbatas saja, saya malah menerima informasi tempat penyelenggaraan sholat Ied itu melalui pesan singkat di handphone saya. Berbeda dengan pak Kasmari, yang rumahnya berjarak sekitar 200 meter dari rumah pak Sunyoto, dia semenjak subuh sudah berangkat ke tempat shoalt Ied bersama keluarganya. Namun kemudian ketika pulang, kembali ke aktifitas semula. Berjualan barang kebutuhan sehari-hari. Ketika warung lain tutup, warung pak Kasmari tetap buka.

Pak Suwono, karyawan senior sebuah perusahan minyak yang rumahnya berhadap-hadapan dengan rumah pak Sunyoto punya sikap yang berbeda dalam menentukan hari Lebaran. “Saya sih ikut pemerintah saja” katanya lugas. Pak Suwono berpendapat, sebagai warga negara yang baik, dia cukup mengikuti apa ketetapan pemerintah. Task ada salahnya menambvah puasa sehari lagi, demi untuk menghindari sikap ambigu, atau keragu-raguan. Ketika hari jumat 12 Oktober ini, di pagi hari, saat beberapa warga Muhammadiyah lalu lalang di depan rumahnya menuju tempat penyelenggaraan sholat Ied, pak Suwono juga bersiap-siap mengeluarkan mobnil pick up nya. Tapi tidak untuk pergi sholat Ied, hari itu ia dan istrinya berencana berbelanja untuk kebutuhan Lebaran. Sikap pak Suwono ini juga sama dengan sikap sebagian warga RT39 lainnya, mereka tetap melakukan aktifitas biasa di hari JUmat ini. Tidak ada kesan khusus, karena mereka cukup mahfum dengan adanya perbedaan ini yang lebih keras gaungnya tersiar di berita-berita TV dan koran lokal. Toh mereka merasa perbedaan adalah hal biasa, tidak perlu menegangkan urat leher dalam menanggapinya. Lebaran, Ramadhan, dan lain-lain adalah perayan kolosal yang pelaksanannya tergantung sikap pribadi jamaah.

Hari Jumat pagi itu, pak Sunyoto menghampiri saya. “Masih butuh daun pisang untuk masak buras? Kalo masih butuh, kami punya banyak hasil nebang kemaren. Kebetulan pak Sunyoto punya banyak pohon pisang di belakang rumahnya. “Sudah cukup pak! Terima kasih” jawab saya. Hal yang sama beliau tanyakan ke pak Suwono yang memang seringkali mendapat uluran tangan pak Sunyoto, terutama kalau ada bagian rumah pak Suwono yang rusak. Pak Suwono pun seringkali menghadiahi keluarga pak Sunyoto dengan makanan atau pakaian layak pakai. Dua hari lalu, pak Sunyoto beserta adik dan anaknya, bekerja seharian membantu mengecat rumah pak Suwono dengan cat berwarna merah muda. Dan hasilnya kelihatan hari ini, rumah pak Suwono menjadi lebih rapi dan indah, buah tangan pak Sunyoto. Mereka berbeda merayakan jatuhnya hari lebaran, tapi hati mereka disatukan oleh kasih sayang sesama Muslim, sesama warga yang bertetangga. Lebaran beda hari, tak masalah buat mereka.

Taqabbalallahu Minna Waminqum. Selamat Merayakan Hari Idul Fitri, Satnya kembali kepada Kesucian.

Popularity: 30% [?]

Buka Puasa Bersama, membuka Kenangan!

daengrusle October 9th, 2007

 buka-puasa-di-langgar.JPG
Foto: Berbuka Puasa di Langgar, Mahdi ikutan juga!

Ramadhan, selain didalamnya terkandung semangat untuk memperbanyak frekuensi riyadah/ibadah spiritual yang sifatnya individual karena limpahan janji pahala dna keagungan bulan suci itu, juga ada kandungan semangat untuk beribadah secara komunal demi menyemarakkan suasana Ramadhan dan mempererat silaturrahmi diantara sesama muslim khususnya dan sesama umat manusia umumnya.

Ibadah yang dibungkus oleh semangat berinteraksi dengan muslim lainnya terutama dapat kita jumpai dalam dua hal; buka puasa dan taraweh bersama. Semarak kebersamaan dalam beribadah ini tidak saja dilakukan di mesjid/mushalla di lingkungan sekitar, tapi juga dilakukan di lingkungan yang tak lazim, misalnya kantor. Beberapa kantor menggunakan kesempatan ini untuk lebih mencairkan komunikasi dan ketegangan saat berkejaran dengan rutinitas kantor.

Berbuka Puasa di Langgar
Sejak pertengahan ramadhan, karena beban kerja yang sudah mulai berkurang saya selalu menyempatkan diri untuk pulang lebih awal demi untuk mengikuti buka puasa bersama yang setiap hari diadakan di Langgar al-Mushawwir depan rumah saya. Dengan mengikuti acara buka puasa bersama ini, saya bisa lebih meningkatkan silaturahmi dengan warga/jamaah sekitar dan yang paling penting saya bisa merefresh kenangan saya ketika masih kanak-kanak di Pannampu, Makassar.

Buka puasa bersama setiap hari ini dihadiri oleh tak kurang dari 20 jamaah yang umumnya terdiri dari anak-anak dan remaja. Hanya sekitar 3-5 orang dewasa yang juga turut serta dalam kegiatan ini, yang biasanya adalah pengurus langgar yang bertugas untuk mempersiapkan makanan dan minuman yang nantinya akan dibagikan kepada jamaah. Makanan dan minuman untuk berbuka puasa, atau lebih populer dengan sebutan ta’jil, ini disediakan oleh jamaah sendiri secara bergilir sesuai dengan Jadwal Giliran Penyedia Buka Puasa yang sudah disebarkan oleh pengurus Langgar beberapa hari sebelum Ramadhan dimulai. Continue Reading »

Popularity: 33% [?]

Ziarah Nyekar Jelang Ramadhan

daengrusle September 13th, 2007

berjubel1.JPG
Gambar: Tradisi ziarah nyekar di Balikpapan

Di Indonesia, ziarah nyekar menjelang Ramadhan ini sudah dianggap kebiasaan yang turun temurun. Biasanya, sehari menjelang hari raya Idul Fitri juga dilakukan ritual nyekar atau berziarah ke makam keluarga. Ritual ziarah kubur ini tidak diketahui sejak kapan dimulainya. Bahkan dalam banyak sumber sejarah Islam, tidak ditemukan adanya ritual Nabi Muhammad SAW melakukan ziarah menjelang bulan puasa.

Makna Ziarah Kubur, Kata ‘ziarah’ berasal dari bahasa Arab ‘zara, yazuru, ziaratun, yang artinya berkunjung atau pergi menengok. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Penerbit Balai Pustaka), kata ziarah diartikan dengan berkunjung ke tempat-tempat yang dianggap keramat atau mulia, makam dan sebagainya. Sedangkan kata kubur ialah tempat pemakaman jenazah. Dari penjelasan di atas secara kongkret dapat dipahami bahwa ziarah kubur ialah berkunjung ke tempat pemakaman jenazah (orang yang sudah meninggal dunia). [kutip dari Drs. H. As’ad Marlan, M.Ag]

Acara ziarah kubur juga kerap dilakukan secara resmi oleh pemerintah yaitu dalam acara peringatan hari-hari besar nasional seperti Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, peringatan hari pahlawan dan lain-lain. Continue Reading »

Popularity: 34% [?]

« Prev