Harapan dari Dua Peristiwa
daengrusle November 20th, 2007
Ahad pagi, 18 November 2007. Saya melakukan keteledoran yang nyaris merenggut nyawa saya sendiri. Mengendarai motor besar Tiger - yang menurut banyak orang, tidak apropriate dengan postur saya yang kecil - saya kehilangan kendali ketika hendak singgah membeli label nama untuk acara Family Day Alumni ITB di Sepinggan Housing Complex - Total. Motor tiger besar itu kutabrakkan ke trotoar kiri jalan dan akibatnya, saya terpelanting ke kanan. Kaki saya terhimpit, dan badan saya menghantam badan jalan. Kepala saya yang terlindung helm yang ditempeli sticker AM itu menyentuh aspal, siap dihantam kendaraan di belakangnya. Saya sudah pasrah, apapun yang terjadi kemudian.
Untungnya, sepagi itu jalan utama menuju bandara Sepinggan Balikpapan itu sepi, padahal sudah jam 08.30 WITA. Seharusnya sudah ramai, apalagi ini hari libur. Dan nyawa saya selamat. Sampai beberapa detik kemudian, saya mencoba berdiri dan keluar dari himpitan motor besar itu. Saya merasa, paling tidak engkel kaki saya bakal remuk karena posisi jatuh nya yang menakutkan. Terbayang Boas Salozza yang telapak kakinya terlipat saat mewakili Indonesia tempo hari. Engkel patah. Saat coba digerakkan, kaki saya merespon baik. Hanya ada sedikit nyeri, mungkin memar. Tapi tidak ada tanda-tanda keparahan sebagaimana yang saya ‘harapkan’. Alhamdulillah sekali lagi. Aman.
Selepas ‘kejatuhan’ itu, saya kemudian meneruskan perjalanan ke acara Family Day itu, yang kebetulan saya jadi Ketua Panitia nya. Hanya ada yang kurang enak saat mengendarai Motor Tiger itu lagi, sepertinya ada yang rusak atau keseimbangannya terganggu, jalannya juga agak ‘berat’. Dan walhasil, saat saya bawa ke bengkel resmi Honda, ternyata memang mesti direparasi balancing nya. Setengah juta rupiah, harga yang menohok untuk sebuah keteledoran yang cuman berlangsung lebih kurang lima detik saja. Gak apa-apa, ujar saya dalam hati, bukan karena lagi banyak duit, tapi karena ‘pelajaran keteledoran’ ini insya Allah bakal berguna di masa datang.
Kemudian, ingatan saya terlempar ke dua tahun silam saat masih berstatus pegawai perusahaan tambang di Sorowako yang saat ini menurut berita sedang dilanda mogok kerja para pekerjanya sehubungan dengan tuntutan bonus dan kenaikan upah. Dalam perjalanan dari Sorowako menuju Makassar, saat tengah malam, bus Mega Mas yang saya tumpangi tiba-tiba oleng dan terbalik ke samping. Saya yang kebetulan duduk di barisan bangku sebelah kanan tahu-tahu dihujani beberapa tas dan sepatu. Semua penumpang tereak dan menjerit. Saya hanya kebayang bakal death, apalagi kerasa kalo air merembes masuk. Kupikir bus ini nyebur ke sungai. Saat itu, baru seminggu anak pertama saya, Mahdi lahir. Dan ingatan saya hanya ke dia saja. Tapi alhamdulillah, saya saat itu rupanya masih terlindungi. Tidak ada cedera sama sekali.
Nah, kejadian motor yang menabrak trotoar itu seperti deja vu kejadian bus terbalik itu. Peristiwa dengan konteks waktu yang hampir sama. Saat motor terbalik itu, saya juga baru mendapat anugerah berupa putri cantik, Maipa Deapati. Walau tidak ada maksud menghubung-hubungkan, tapi setidaknya kok serasa ada koinsiden dari dua peristiwa ini.
Dalam hati saya berdoa, semoga kejadian yang menimpa saya ini menjadi semacam pembuang sial dan bencana bagi kedua anak saya tercinta. Semoga semua kecelakaan yang mungkin akan terjadi terhadap anak saya, biarlah saya saja yang mengalaminya.
Popularity: 22% [?]














