Archive for the 'Buku' Category

[Buku] The Perfect Guys dan Ayat-Ayat Cinta

daengrusle April 19th, 2008

Ayat-Ayat+CintaApa salahnya menjadi the perfect guys? Ada salahnya. Di tengah masyarakat yang serba tak sempurna, serba kompromi kepada ke-terbatas-an Anda akan divonis berada hidup di awang-awang, dengan menjadi manusia ‘aneh’. Kalau anda merasa orang yang sadar dan normal, maka ketika Anda berada di dalam quadran masyarakat yang serba tak sempurna, maka Anda adalah setitik noktah koordinat yang tidak bersinggungan dengan garis linear apapun, kecuali di interpolasi sedemikian rupa hingga seolah-olah Anda berada di dalam struktur dan sistem nya, hanya karena keberadaan fisik Anda diakui dalam bentuk statistik. Ya, Anda adalah manusia sinting di tengah masyarakat waras. Masyarakat yang waras yang lebih suka berdalih bahwa kemanusiaan itu berarti ketidaksempurnaan. Lihatlah pemeo masyarakat “rocker juga manusia, presiden juga manusia, artis juga manusia, hingga ulama juga manusia”. Semuanya adalah penegasan atas sikap permisif atas ketidak sempurna-an kapasitas moralitas seseorang. Namun di saat yang lain, masyarakat jenis ini mudah dihinggapi sikap munafik, karena masih saja menyenangi menggunjingkan kebobrokan dan kemerosotan moral perilaku manusia di dalam nya.

Apa salahnya menjadi the perfect guys? Ada salahnya. Siap-siap saja menjadi bahan cemoohan oleh orang-orang yang tak sanggup menjadi sempurna, meski sangat berkeinginan untuk itu. Anda akan dinegasikan sedemikian rupa sehingga semua opini yang Anda lontarkan akan menjadi bumerang - back fire yang akan menghancurkan diri Anda sendiri.

Apa untungnya menjadi the perfect guys? Banyak sekali. Konsistensi Anda akan membawa Anda kepada kepuasan pribadi, ketika jalan yang lurus dibentang, dan Anda termasuk salah seorang dari sedikit yang berhasil berada di jalur yang penuh barokah itu.

Anda ingin menjadi the perfect guys? Bacalah Ayat-ayat Cinta. Anda yang sudah terlalu lapuk hidup di tengah masyarakat buta akan mendapatkan kenyataan ironis. Pilihannya hanya dua; Anda bisa mencemooh pribadi seorang Fahri, atau memujanya.

Pilihannya, kalau Anda memilih yang pertama. Berarti Anda benar2 sudah terlalu busuk dalam ketidak sempurnaan. Maka, beristighfarlah.

:)

Popularity: 89% [?]

[Buku] Makkunrai: Ada Api di Mata Perempuan

daengrusle March 28th, 2008

makunrai

Judul: Makkunrai - dan 10 Kisah Perempuan Lainnya
Pengarang: Lily Yulianti Farid
Penerbit: Nala Cipta Litera, 2008
Halaman: 152 halaman, 13×19cm

Anda tergolong lelaki bejat, atau perempuan yang menjadi simpanan lelaki bejat? Berkacalah pada buku ini. Di buku yang merangkum sebelas cerita pendek tentang perempuan dan semua unek-uneknya, mimpinya, dan -terutama - perasaannya, anda akan berhadapan dengan vonis menyakitkan, seumpama cap ‘neraka’ ditempelkan di jidat. Anda tergolong lelaki baik? Waspadalah, buku ini bercerita bahwa ada banyak mata perempuan yang menyimpan api di dalamnya, sanggup memata-matai ke’baik’an Anda. Sedikit Anda terpeleset dalam lubang pengkhianatan - yang tidak melulu berarti selingkuh mesum, juga selingkuh moral, maka serta merta Anda akan terperosok ke neraka ciptaan perempuan; menjadi lelaki bejat - yang harganya mungkin tidak lebih mahal dari upil. Dicari, dikorek dan dibuang atau ditindaskan ke bawah meja - tempat yang tidak akan pernah terlihat, kecuali oleh sarang laba-laba.

Sebelas kumpulan cerpen di dalam buku ini mengusung tema khas feminisme; perlawanan perempuan melawan simbol-simbol yang terlanjur dipelihara oleh kaum lelaki; kekuasaan atas gender. Bahwa dalam dunia yang ‘normal’, lelaki adalah penguasa, karenanya bisa berbuat semaunya dan semuanya. Lelaki dipuja kejantanannya bila istri dan anaknya bertebaran - dimana saja kapan saja, tapi perempuan haram bersuami banyak. Lelaki dianggap ‘biasa’ meninggalkan istri dan keluarga tanpa alasan, tapi seorang perempuan dianggap hina dina apabila meninggalkan rumah. Bahkan ada pemeo yang sangat stereotip, Lelaki pulang pagi disebut Arjuna, sedang perempuan yang pulang pagi disebut kupu-kupu malam. Sama indah sebutannya, tapi beda ‘rasa’ dan martabat sosialnya. Itulah, dunia yang ironis. Dunia yang kadang sering lupa menyadari ada kata ‘adil’ yang mesti ditegakkan atas semua hal. Terutama gender.

Sebelas cerita pendek disini bukan sekedar fiksi, bahkan saya yakin - terutama setelah membaca halaman “Daftar Inspirasi dan Catatan Lainnya” muncul karena tema-tema yang diungkap dalam cerita ini nyata adanya. Karenanya, cerita-cerita yang dikemas dengan tutur yang kadang runut dan kadang melompat-lompat, mampu menghidangkan cerita yang seumpama berkaca pada pengalaman diri, lumrah terjadi di masyarakat. Kadang merupakan tesis yang dicaplok dan dipindahkan ke ruang baca, kadang juga merupakan antitesis dari ketimpangan yang dihadapi - karenanya perlu dilempangkan, diluruskan.

Itulah Lily, penulis kreatif yang menginspirasi banyak penulis pemula di panyingkul, mengabarkan pandangannya tentang hal ihwal perempuan dan permasalahannya. Dia hadir dalam bahasa tutur tulisan untuk membela perempuan, dan dengan demikian mengutuk lelaki bejat. Di saat yang sama lelaki bejat sama jahatnya dengan perempuan simpanan - karenanya perlu juga dilempar rumahnya, tanpa kecuali. “Gila! Dari bahan apa sih lelaki tercipta? Tahunya hanya kawin lagi, kawin lagi. Brengsek Semua! (Nua, Diani dan Lelaki Bejat). Hasilnya, dia mengundang kita untuk turut menghukum para lelaki tukang kawin itu dengan melempari rumah istri simpanannya. Namun Lily kadang menutup kisahnya dengan teramat bijak, bahwa memendam dendam dan terus menerus menyalakan mesin perang tanpa batas waktu tidaklah lebih baik daripada kebejatan itu sendiri, sebagaimana dalam cerita Nua, Diani dan Lelaki Bejat. Toh drama itu akan terus menerus bergulir, selama lelaki masih dilahirkan. Dan anehnya juga, perempuan pun tak bosan-bosannya menjadi korban, walaun contoh sudah ribuan dibacakan, diceritakan dan disaksikan. Perempuan mungkin memang seperti padang pasir, meresap semua air hujan yang tumpah tanpa sanggup menahannya. Terutama ketika para lelaki bejat sudah lunglai oleh usia, dan memohon kembali ke pelukan perempuan-perempuan yang dulu dikhianatinya. Tragis.

Lily sesungguhnya tidak sedang hendak mengatakan bahwa semua lelaki bejat, hanya sebahagian. Lelaki kadang menjadi sosok yang dirindukan, yang dijadikan tempat pulang untuk kemudian bersandar, menjadi teman rbagi hidup. Kita semua tahu, Lily kini sedang me’nikmati’ hidup bersama dua lelaki yang cinta nya diungkapkan dengan indah..”butuh bertahun-tahun belajar menulis sajak sendiri untuk membalas sajak cinta keduanya” (Bertiga Sajak Sekeluarga, 2007). Dan kami, para anggota milis yang celoteh nya rajin diposting - untuk menyemangati, tentu bangga menjadi sahabatnya.

Ada dua catatan kecil sehabis membacanya yang sedikit membingungkan tapi bisa dimaklumi. Pertama, sosok Jenifer dalam cerpen “Api” membuat saya sedikit bingung. Di awal cerita tempat lahirnya disebutkan di Luwu 1946, namun kemudian terjadi duplikasi informasi yang hiperkorek di bagian akhir cerita; …pindah ke Surabaya, dan setelah ibu melahirkan aku, kami pindah ke Jakarta (Api). Dimana sebenarnya Jenifer di lahirkan; Luwu kah, atau Surabaya? Tentu kalau memikirkan nama tokoh “Jenifer”, saya bisa saja menyimpulkan yang benar adalah Surabaya, yang mana bapaknya adalah lelaki keturunan, bukan lelaki bugis yang menetap di Luwu. Nama Jenifer jarang ditemukan dalam daftar nama perempuan Bugis - beda dengan Mardiah, Dahlia, Marayya. Kedua, ini sebenarnya sangat sepele. Istilah bathup di cerita pendel bertajuk Pembenci Jakarta membuat saya perlu membuka kamus. Sependek ingatan saya, yang benar adalah bath-tub, atau bath-tube. Bukan bathup. Tapi sekali lagi, ini sepele saja. Mudah diabaikan, dan tentu saja tidak mengurangi kedalaman dan kedahsyatan cerita-cerita yang mengalir di buku ini.

Terakhir, saya hendak bernarsis ria. Lily Yulianti adalah sahabat saya. Di buku yang saya miliki ada tandatangan dan tandahati nya. He2. Kuru Sumange kak Lily! Lanjutkan bersedekah ilmu untuk kami yang kadang bebal dan pemalas. Dan kami tentu tak bosan membaca dan mendengar celotehmu.

Popularity: 69% [?]

[Buku] Sang Pemimpi

daengrusle March 23rd, 2008

sang pemimpi

Dunia sesungguhnya perlu berterimakasih kepada para pemimpi. Mereka lah yang menyemarakkan dunia ini dengan hiasan-hiasan dan menjadi lebih indah, tidak sekedar hitam dan putih - sebagaimana hidup orang yang kelanjur terbiasa dengan takdir. Teknologi, karya seni adalah produk nyata para pemimpi. Pemimpi adalah orang-orang yang berhasil menapak semua kebebalan pikiran orang yang selalu mengandalkan silogisme dan rasionalitas. Pemimpi adalah pemimpin yang membawa kita ke masa depan.

Novel lanjutan Laskar Pelangi ini adalah pengembangan yang bergenre inspiratif dari novel sebelumnya. Kalau di Laskar Pelangi, kehidupan yang bersahaja dimuntabkan dan diangkat setinggi-tingginya dalam sebuah cita-cita yang ironis dan tak kesampaian, maka di novel Sang Pemimpi ini kita diajak beroptimis ria lebih berani. Betapa semua anakronisme menjadi silogisme yang masuk akal.

Ikal, Arai dan Jimbron adalah representasi tiga sosok pemimpi yg dibekali semangat dan kerja keras, mereka punya impian musykil dalam bentuk cita-cita yang dipasok oleh guru susastra mereka di SMA Bukan Main. Mereka bercita-cita terlalu muluk, memeluk altar kemasyhuran di Sorbonne, sementara di saat yang sama kaki-kaki mereka masih harus diseret ke pelabuhan ikan untuk kerja kasar - ngambit. Namun kemusykilan justru sudah berdamai dengan mereka sejak masih dalam buaian. Mereka adalah produk kegagalan masyarakat mencapai kesejahteraan. Justru karena hidup dalam lingkungan seperti itulah maka mereka kemudian tidak ragu berdamai dengan hidup, menantang kemusykilan. Arai yang adalah Simpai Keramat - generasi terakhir dari puaknya, Ikal yang adalah anak bawang di keluarganya namun senantiasa mendapat asupan semangat dan keyakinan dari ayahnya yang juara satu sedunia dalam kediaman, dan Jimbron - personifikasi semua keraguan. Melihat Jimbron dan obsesif kompulsifnya tentang kuda, saya jadi teringat Bubba dengan udang - dalam filem Forrest Gump. Pesan moral dalam novel ini jelas menunjukkan bahwa Obsesi kumpulsif adalah penyakit, tapi justru bisa menjadi inspirasi yang tak ada habisnya.

Bayangkan sekiranya anda punya obsesi kompulsif bertemu Tuhan Yang Agung, maka semua gerak laku hidup anda akan terstimulasi untuk mencari roda menuju obsesi itu. Bukankah itu adalah baik; dan obsesi seperti inilah yang melahirkan tokoh-tokoh konsisten yang kemudian mewarnai lukisan sejarah umat manusia ini. Abdulkadir Jaelani, Rabiah al-Adawiah, dan beberapa contoh sufi lainnya adalah manusia luar biasa dalam sejarah yang dianggap berhasil.

Novel Sang Pemimpi adalah novel yang tepat untuk memotivasi semua orang yang punya cita-cita, semuluk apapun. Cita-cita, mimpi, ataupun obsesi pada kenyataannya - menurut beberap filsuf - adalah nyata di alam lain. Tugas sang pemimpi adalah merajutnya dari mozaik-mozaik kemusykilan, mengandalkan semua resource - plus kerja keras dan konsistensi - menjadi bangunan utuh di alam nyata . Dan karenanya lah, manusia menjadi penoreh keabadian. Laku para pemimpi lah - baik yang berhasil maupun gagal, yang kemudian menjadi lukisan sejarah, dan kemudian menjadi sumber inspirasi para pemimpi lain setelahnya untuk melanjutkan lukisan itu.

What we do in life, echoes in eternity!

Popularity: 51% [?]

[Buku] Laskar Pelangi

daengrusle March 18th, 2008

lp.jpg

Sejatinya adalah Kesahajaan. Novel ini sesungguhnya hanya bercerita tentang kesahajaan. Kesahajaan yang ironis. Berdiam pada sebuah pulau yang kaya sumber alam, mereka justru hidup teramat berkekurangan, yang kata muluk sepadannya - kesahajaan. Ironi inilah yang dikemas menjadi sebuah alur cerita yang demikian menariknya, memukau walau kadang berlebihan, dan disampaikan dengan cerdas dan jenaka seakan membawa pembacanya ke alam Belitong tempat anak-anak Laskar Pelangi ini tumbuh dan ditumbuhkan. Humor-humor yang ditampilkan juga tidak basi, tidak mudah ditebak.

Saya memerlukan waktu lebih dari sebulan menamatkan buku pertama ini. Bukan karena cerita novel ini kurang menarik, tapi terlebih karena saya mesti banyak melewati ‘kesibukan’ yang luar biasa.

Cerita dalam novel ini dimulai dengan sebuah adegan yang miris. Di sebuah sekolah sederhana - bahkan teramat bersahaja - seorang kepala sekolah SD Muhammadiyah dan seorang guru yang tulus, menanti dengan cemas murid-murid barunya. Kalau di lingkungan kita umumnya, banyak sekolah yang menolak pendaftaran murid baru karena kelebihan peminat atau keterbatasan calon muridnya dalam memenuhi criteria pendaftaran, maka di SD Muhammadiyah ini justru kelimpungan mencari murid. Bukan karena sekolahnya teramat mahal - sesungguhnya kosa kata ini pun juga mahal ditemukan di novel ini - tapi karena rendahnya motivasi orang tua di pulau kaya timah itu untuk menempuh pendidikan. Continue Reading »

Popularity: 44% [?]

Orang Miskin Dilarang Beli Buku!

daengrusle January 2nd, 2008

gramedia-balikpapan.jpg

Entah kenapa tadi pagi saya merasa rindu ke toko buku, terutama karena saya penasaran pengen menjamah lembar-lembar halaman buku-buku baru yang belakangan banyak diiklankan di media.

Memang sebelumnya saya sudah beberapa kali mengunjungi toko buku langganan saya, Toko Buku Karisma di Mall Rapak (Ramayana) Balikpapan. Itupun karena kebetulan beberapa kali mesti menemani istri berbelanja bulanan di Mall itu yang lokasinya cukup dekat dengan rumah saya, jadi sekalian saja cari buku baru dan bagus. Tapi buku-buku di Toko Karisma ini rasa-rasanya teramat kuno, tidak terlalu menarik. Hanya ada satu dua buku saja yang bagus, terbitan penerbit dan tulisan pengarang yang jaminan mutu. Tapi secara keseluruhan stok bukunya kurang berkualitas. Kebanyakan adalah buku terbitan sendiri, atau buku lama yang sudah tidak sejalan lagi dengan zaman sekarang. Hanya satu kelebihan Karisma dibanding Gramedia, harga nya lebih murah sekitar 20-30%. Lumayan! Apalagi saya sudah terdaftar jadi member di Karisma, sehingga bisa menikmati discount 10% untuk setiap buku.

Nah, pagi ini saya hendak mengajak mata dan otak saya pelesir ke toko buku Gramedia Balikpapan, yang lokasinya terletak di Plaza Balikpapan atau lebih dikenal dengan BC= Balikpapan Center. Di sana saya termanjakan oleh banyaknya buku-buku baru, bagus dan menarik. Saya sempat menjamah setengah isi buku GM yang baru; Tuhan & Hal-Hal yang Tak Selesai. Ada juga buku kumpulan Puisi Joko Pinurbo yang diberi judul sableng: Celana…. dan Kepada Cium. Menarik. Saya juga sempat mencatat beberapa buku bagus disana yang rencananya akan saya beli kalau ada rezeki; Trilogi Laskar Pelangi (kuno ya saya soale belum baca buku heboh ini, he2), Kompas Menulis dari Dalam, sebuah buku bagus buat yang seneng menulis; Menjadi Indonesia, sebuah buku sejarah tebal karangan Parakitri Simbolon yang pantas dijadikan referensi; Antologi Lengkap Cerpen AA Navis, wow ini lah buku penulis cerpen Legendaris Robohnya Surau Kami yang sangat layak untuk dimiliki; Duo buku tebal tentang perang salib, Perang Suci karya Armstrong dan Perang Salib karya Hillenbard; ada juga buku History of the Arabs karangan Hitti yang juga tidak kalah menariknya. Continue Reading »

Popularity: 33% [?]

Buku Pilihanku - 2007

daengrusle December 30th, 2007

Tidak ada sekolah sehebat buku-buku.
Tak ada sahabat sesabar buku-buku.

[M Aan Mansyur; Perempuan, Rumah Kenangan]

buku-pilhan.JPGBuku adalah jendela dunia. Ia ibarat sayap yang menghantar kita memasuki lelorong dunia, lengkap dengan segala rupa pernik pemikiran manusia yang mendiaminya tanpa perlu beranjak terbang meninggalkan kediaman kita. Tidak perlu membuat waktu untuk bertemu dengan para cendekia, ulama, penulis, penyair, bahkan pemimpin yang dijaga ratusan bodyguard, jika hendak menelisik percik perenungan mereka tentang sesuatu yang menarik hati. Pergi saja ke toko buku atau perpustakaan, semua ulasan, enungan dan imajinasi mereka hadir menyapa dan menanti untuk ditelaah, dengan sabar kapanpun waktu tersedia.

Dari sekitar 200 buku yang saya beli sepanjang tahun ini, saya memilihi lima buku istimewa untuk direkomendasikan; terutama karena penting dan berharganya informasi yang diungkapkan dalam buku itu.

Ke-lima buku itu adalah;

1. Manusia Bugis – Christian Pelras, Penerbit Nalar, 2006
Sebagai orang Bugis, dibesarkan dalam keluarga dan budaya Bugis modern, tak elok rasanya kalau tidak memiliki pengetahuan komprehensive tentang Bugis itu sendiri. Mana kala kita kemudian terasing dari pengetahuan tentang asal usul pribadi, maka dengan sendirinya kita tercerabut dari rantai yang menghubungkan ke masa lalu. Untuk apa mengenal budaya masa lalu? Bukan untuk mengulang keusangan yang sudah kuno dan tidak cocok lagi dengan matra kekinian, tapi untuk belajar tentang hal dasar pembentuk masyarakat masa kini. Dan dengan demikian kesalahan yang pernah mencoreng masa lalu tidak akan terulang di masa kini. Untuk memperoleh buku ini termasuk sulitbuat saya, karena hanya pada kesempatan liburan ke Makassar baru saya bisa mendapatkannya. Harga Rp 50,000 untuk buku ini termasuk murah, mengingat betapa komprehensive nya buku ini disajikan, yang berangkat dari puluhan tahun riset di tanah Bugis yang tentu tidak mudah bagi seorang antropolog berkebangsaan Prancis.

Review buku ini bisa dilihat di sini.
- Anhar Gonggong - Kemampuan Menyesuaikan Diri Manusia Bugis
- M Ridwan Alimuddin - Manusia Bugis, Rantau dan Budayanya

Continue Reading »

Popularity: 20% [?]

[Buku] Rumah Kenangan bernama Perempuan

daengrusle December 23rd, 2007

Review ini dimuat juga di Panyingkul: Perempuan yang Menjalin Seluruh Hidup dan Kenangan

buku-aan.JPG

Judul: Perempuan, Rumah Kenangan
Pengarang: M Aan Mansyur
Penerbit: INSIST Press, Yogyakarta, April 2007
Halaman: xii+186 halaman, 13×19cm

Mengapa Perempuan?
Perempuan dan inspirasi, sepertinya adalah dua hal yang ditakdirkan selalu berkolaborasi – bahkan bagi dunia yang didominasi peran kaum lelaki. Bukan karena setiap manusia dilahirkan dari rahim seorang perempuan – kecuali nabi Adam, tapi perempuan, sesungguhnya adalah pokok tangguh yang menyalakan dan mewarnai kehidupan. Kaum lelaki, hanya perlu membawa bahan bakar dan alat tulis, dan perempuanlah yang akan menyalakan api-mula-hidup, merangkai, mewarnai-menulisi dan mengakhiri kehidupannya. Cerita hidup bisa serta merta berubah dari sedih menjadi gelak tawa dan senyum riang, karena perempuan. Juga sebaliknya, kisah yang diplot bahagia bisa sesegera mungkin menjadi muram durja karena perempuan. Kisah perang Troya, perang Bubat, La Galigo, Caligula hingga sinetron-sinetron yang saban hari merasuki ruang tengah rumah kita hari ini, sudah cukup untuk membuktikan hal ini. Hingga kini, sudah ribuan atau jutaan judul cerpen, novel, film, larik puisi, lagu dan sebagainya yang diciptakan dari pengalaman bathin bersentuhan dengan sosok perempuan.

Mungkin Tuhan pun sampai saat ini masih terpekur terpana mengagumi ciptaanNya ini. Diberitakan – melalui perumpaan – Tuhan pun sampai rela berbagi surga dengan telapak kaki mahluk yang di cap lemah lembut gemulai ini. Namun kemudian secara frontal, beberapa pendeta, pemuka agama yang anti-feminim menciptakan banyak khotbah dan fatwa bodoh nan sesat yang me-reduksi kelebihan perempuan, alih-alih merusak citra perempuan. Padahal, melalui banyak penelitian, perempuan bahkan terbukti jauh lebih tangguh mengarungi hidup dibanding lelaki. Ketahanannya melawan derita, dan juga penyakit, bisa ratusan kali dibanding kaum lelaki. Continue Reading »

Popularity: 15% [?]

Karaeng Gantarang!

daengrusle September 21st, 2007

sultan-dg-raja.jpg

Resensi Buku :

Judul : Biografi Pahlawan Haji Andi Sultan Daerng Raja

Penulis : M Basri Padulungi

Penerbit : Pemerintah Propinsi Sulawesi Selatan

Tahun Terbit : April 1981, Makassar

Halaman : 87 halaman

Karaeng Kacamata dari Gantarang yang tak pernah Gentar!

Ada cerita mirip kisah Nabi Musa dalam kitab suci, kali ini kejadiannya di suatu siang di bulan Agustus 1916 di Afdeling Sinjai. Seorang Hulppest Commis pribumi tergerak bangkit dari meja kerjanya. Dia mendengar sayup2 jeritan tertahan dalam bahasa bugis diiringi suara kibasan tongkat yang miris. Keningnya sedikit terlipat, kacamata hitam tebal yang membingkai kedua matanya kemudian diletakkan diatas buku dinasnya. Bergegas ia keluar dari kantor contorleur itu. Di halaman depan, disaksikannya satu kejadian yang meledakkan amarahnya. Seorang ambtenar Belanda memukuli seorang bumiputera dengan tongkat. Berkali-kali, hingga darah mengucur dari badan kurus itu. Darahnya seketika mendidih, Hulppest Commis pribumi itu bergerak. Tubuh ringkihnya sebenarnya tidaklah sekekar si ambtenar Belanda, namun dia tak gentar. Tak ada rasa takut dalam dadanya. Si ambtenar Belanda dihujaninya dengan pukulan sampai babak belur dan lari.

Namun tidak seperti kisah nabi Musa di kitab suci, sang Hulppest Commis pribumi tidak lantas kabur dari tanah airnya. Dia memilih tetap tinggal dan siap menerima konsekuensi dari tindakannya yang melanggar etika saat itu. Melawan, apalagi memukuli warga Belanda yang dianggap warga kelas satu adalah kesalahan besar di zaman kolonial itu, apapun alasannya. Kejadian selanjutnya bisa ditebak, sang Hulppest Commis pribumi kemudian didera hukuman administratif; pangkat diturunkan menjadi Agent Welsetboedel Kamer (pegawai rendahan), gaji dipotong hingga tinggal 30%. Dia menerima dengan tenang, dan terbersit rasa puas dalam hatinya. Harga dirinya membela kaumnya sudah ditegakkan, dan itu jauh lebih penting daripada pangkat dan gaji. Nama si Hulppest Commis pribumi berusia 22 tahun itu, Andi Sultan Daeng Raja, putra dari Passari Petta Tanra - Karaeng Gantarang Bulukumba saat itu.

Gantarang, tempat lahir Andi Sultan Daeng Raja, sejak zaman dulu terkenal sebgai penghasil beras utama di Sulawesi Selatan. Kerajaan Gowa Tallo ketika masa jayanya sangat menggantungkan pasokan pangannya pada daerah ini. Setelah kemenangan VOC yang didukung oleh Bone dalam Perang Makassar di pertengahan abad 17, daerah ini sempat diperebutkan antara VOC dan Bone sebagai basis logistik. Tanahnya sangat subur, terhampar seluas 215 km2 dari kaki pegunungan Bangkeng bukit yang dikitari oleh sungai Tangka di utara hingga ke selatan yang bermuara di laut flores. Sungai Tangka yang tak pernah kering itu kemudian dijadikan sumber utama pengairan yang menghidupi persawahan di daerah itu. Secara geopolitik, distrik gantarang adalah wilayah Gowa-Tallo sejak lampau berdasarkan perjanjian Caleppa tahun 1625, penguasanya pun bergelar karaeng, sebuah gelar yang diadaptasi dari kerajaan Gowa-Tallo. Namun sebahagian besar penduduk Gantarang justru menggunakan bahasa bugis sebagai bahasa pengantarnya. Bagi lidah bugis, Gantarang biasanya dituturkan sebagai Gattareng.

Ketika tumbuh sebagai remaja di daerah itu, Andi Sultan Daeng Raja yang lahir di Saoraja Gantarang pada 20 Mei 1894, mendapati kenyataan yang kontras dengan cerita leluhurnya tentang Gantarang yang subur, daerah ini dimatanya justru teramat terbelakang, pertanian tidak terurus dan masyarakat petani disana miskin dan tak mampu mengelola sawah dengan baik. Penguasa yang memerintah kala itu pun terkesan abai mengurusi warganya. Continue Reading »

Popularity: 27% [?]

[Buku] Burung2 di Bundaran HI

daengrusle September 5th, 2007

burung-bundaran-hi.jpgJudul: Burung-burung di Bundaran HI
Manusia dan Keseharian
Sindhunata
Cet 1, Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2006
Xiv + 158 hlm; 14 cm x 21 cm

Membaca buku ini ibarat memotret pernik mozaik Jakarta di akhir tahun 70-an dari mata seorang Sindhunata, teolog muda (kala itu) yang berprofesi sebagai wartawan-penulis. Kepandaiannya mengakrabkan diri dengan seloroh warga di Jakarta menghasilkan tulisan-tulisan berbentuk feature yang tak hanya renyah untuk dibaca, tapi juga menyentuh bilik perenungan.

Buku ini selayaknya patut menjadi rujukan pengambil kebijakan publik sebelum berakrobat di istana dan parlemen, walau mungkin hal-hal yang dibahas sepenuhnya adalah hal remeh temeh yang tak bisa mendatangkan devisa bagi negara. Kalaupun tersentuh pada pembicaraan politis, tak lebih sekedar legitimasi untuk menempatkan kepentingan pemodal di titik tertentu untuk menggusur peran dan posisi mereka, yang sering dialihbahasakan sebagai kaum marginal, kaum pinggiran. Continue Reading »

Popularity: 14% [?]