Archive for the 'Family' Category

Catatan singkat di ulang tahun pernikahan kita yang ke-4

daengrusle November 18th, 2008

foto-rusle-irma.jpg

Kita seperti dua tukang batu yang sedang asik bekerja. Aku sibuk memoles batu gunung di pondasi rumah kita, dirimu mengayak pasir kerikil dan dicampurkan dengan semen beton. Aku sedang menganyam tulangan pengikat pada balok yang dibentang pada pondasi, dirimu mengayunkan satu dua sekop beton curah pada lantai persegi. Kita sungguh sangat sibuknya. Di kepala kita, ada gambar bangunan nan indah disana.

Rumah yang sedang kita bangun tentu masih jauh dari sempurna. Hari ini baru pondasi saja, itupun masih aku harus selesaikan disana sini. Dirimu masih belum selesai mengguyur beton curah ke seluruh muka rumah. Dan kita masih terus asik bekerja. Belum ada dinding, pintu, tangga, apalagi atap. Baru setinggi mata kaki saja. Di kepala kita, ada gambar bangunan nan ceria disana.

Di halaman yang tak begitu luas, baru tertanam dua pohon mangga. Pohon yang masih kecil, belum bisa menghasilkan buah. Mangga, buah itu, dirimu tahu sungguh aku selalu menginginkannya. Di kepala kita, ada gambar pohon nan rimbun dengan buahnya disana.

Kita seperti dua tukang batu yang sedang asik bekerja, juga bermain. Sesekali dirimu cemberut kala kugoda dengan terlalu, sekali lain aku yang merengut kala dirimu tak mau tertawa. Di kepala kita, ada gambar bangunan nan bahagia disana.

Di kepala kita, ada gambar bangunan sempurna disana. Tapi entah kapan bangunan itu terwujud. Kita masih asik bekerja.

Popularity: 3% [?]

5 November, Apa Yang Akan Selalu Terkenang?

daengrusle November 5th, 2008

small_obama_image.jpg

Hari ini, pemilu di Amerika Serikat akan menentukan siapa bakal pemimpin negara dengan tingkat dominasi terkuat di dunia. Apakah the first afro-america, Barack Hussein Obama (47thn) atau the oldest president candidate John McCain III (72thn). Kedua-duanya akan menjadi yang pertama di segmen tertentu. Obama (bila terpilih) akan menjadi presiden kulit hitam pertama, sedang McCain (mungkin) akan menjadi presiden tertua. Obama, wakil demokrat yang mengalahkan mantan first lady Hillary Clinton, jelas merupakan representasi perubahan besar yang sedang bergerak dan berderak di Amerika menyusul kegagalan GW Bush membawa Amerika (dan dunia) ke arah yang lebih baik; ekonomi yang goncang di akhir kepemimpinannya, unilateral policy yang menjadikannya zombie di negara berkembang, termasuk kegandrungannya akan perang yang tidak saja mengangkangi masyarakat belahan dunia lain, tapi juga PBB yang secara formal merupakan wadah kolaborasi dunia.

Hari ini, mungkin sebagian besar perhatian masyarakat dunia sedang membelalak ke negeri Paman Sam di utara sana. Melalui media massa atau media maya, mereka sedang menunggu hasil dengan harap-harap cemas. Lupakan persoalan nasional, lokal, bahkan rumah tangga. Ada yang sedang membetot semua pusaran gravitasi kita, termasuk Indonesia. Bahkan jauh sebelum pemilihan, untuk mentralisir euforia Obama di Indonesia, yang pernah menjadi tempat bermain masa kecilnya selama 4 tahun, pemerintah Indonesia buru-buru mengeluarkan pernyataan “Siapapun presiden terpilih AS, pemerintah Indonesia siap bekerja sama”. Meski saya yakin, dibalik pernyataan itu ada doa semoga si anak Menteng itu yang terpilih.

Apa pengaruhnya buat Indonesia? Kita sedang mengkhawatirkan soal warna saat ini, juga seluruh penduduk dunia. Bukan soal warna secara fisik, tapi warna ekonomi-politik yang akan menggauli dunia internasional. Warna Amerika, suka atau tidak suka, adalah warna mini dunia. Jembatannya adalah sesuatu yang bernama hegemoni atau dominasi. Gross National Product (Product Domestic Bruto) Amerika saat ini mencapai US$ 10 Trilyun, atau sepertiga dari total GNP dunia yang mencapai US$ 30 Trilyun. Sektor jasa keuangan mungkin mendominasi nilai ini, dibanding sektor riil. Namun ini hanya semacam fakta betapa berpengaruhnya ekonomi Amerika Serikat terhadap negara lain. Jauh sebelum itu Fukuyama sudah memprediksi soal dominasi ekonomi ini. Fukuyama pernah memprediksi bahwa pasca-Perang Dunia II, “Amerika akan menguasai perdaban dunia. Peradaban akan berakhir dan Amerika akan menjadi raja”. Bagaimanapun itu, sejarah yang nanti akan membuktikan apakah tesis Fukuyama ini benar. Continue Reading »

Popularity: 13% [?]

Faisal Riza - Seorang Kawan Yang Pergi Meninggalkan Senyum

daengrusle November 3rd, 2008

ical97.jpgSetiap kali saya kehilangan seorang kawan yang pergi terlebih dahulu, saya selalu berusaha menuliskannya. Terutama karena saya ingin mengabadikan kenangan tentangnya melalui tulisan, apalagi kalau ia mati muda. Mati muda tentu bukan pilihan, dan bukan juga sesuatu yang harus disesali, karena ia adalah domain Sang Maha Penentu. Namun saya mencoba mengiringi kepergian para sahabat, keluarga dekat dan orang-orang yang patut dicintai itu dengan mengenang-ngenang hal yang indah tentangnya.

Semoga dengan begitu, Allah Sang Maha Penentu berkenan menghapuskan dosa-dosanya, dan melipatgandakan pahala kebaikan-kebaikannya. Dan dengan tulisan, saya berharap, saya masih akan mengenang nya hingga waktu menjadi abai, dan saya melebur bersama kenangan itu di hadapanNya.

Saya ingat, dan hanya itu yang melekat dalam kepala saya ketika pertama kali bersua, kawan saya ini datang dengan senyum. Ketika itu pertengahan 1997, dia muncul di pintu kost saya di Gerlong Girang Bandung, mencari adik saya, teman seangkatannya di SMAN 1 Makassar. Ya, kawan ini datang dengan sopannya, tersenyum dan ramah menyapa. Juga matanya yang mungkin tersenyum juga. Kalau tersenyum matanya menjadi sipit, rambutnya yang lurus kemudian seperti melambai di depan mata yang sipit itu. Dan saya yakin, senyum yang dikemas bersama mata yang sipit tentu senyum yang polos, mengajak bersahabat dengan tulus. Dia datang dengan senyum, dan senyum itu tentu punya banyak cerita. Cerita yang jalin menjalin mengantar hidupnya dari Makassar hingga ke Bandung yang, kalau bisa dibilang, begitu singkat.

Faisal Riza, nama kawan saya itu. Usianya tiga angkatan di bawah saya, waktu itu baru saja terdaftar sebagai mahasiswa baru jurusan Astronomi ITB. Tak banyak yang bisa ‘tembus’ perguruan tinggi teknik terbaik di Indonesia itu, terutama dari daerah timur semisal Makassar. Paling banyak hanya sepuluh diantara seribu mahasiswa baru. Dan dia bisa. Kami pun mencatatnya ke dalam daftar pendek mahasiswa ITB asal Makassar, yang memang cuman segelintir itu. Juga para alumni SMAN 1 Makassar, ikut bangga tentu.

Satu pencapaian luar biasa buat kawan ini dan kebanggaan buat kami, adalah Ical atau Paccala begitu panggilannya – sempat menjadi ketua Himpunan Astronomi (1999). Aktifitasnya ini sempat menjadi bahan guyonan saya,” Ah, kamu ini bisa terpilih jadi KaHimp kan karena di jurusanmu orang nya dikit. Setiap angkatan cuman 15 orang, itupun banyak ceweknya”. Ichal hanya tersenyum saja membalas candaan saya. Belakangan dia membuktikan, bahwa kapasitasnya sebagai pemimpin jauh melebihi sangkaan saya. Dari situs-situs yang saya telusuri, dan informasi di milis, Ichal sangat aktif di PSIK ITB, think tank mahasiswa ITB. Ichal juga sempat menjadi sutradara Film documenter “Atjech Humanitarian”. Luar biasa, dan saya menjadi cemburu tentu saja! Continue Reading »

Popularity: 16% [?]

Pilkada Makassar: Kubungkus Janjimu di Pasar Pannampu

daengrusle October 27th, 2008

copy-of-1-pasar-pannampu.JPG

note: Tulisan ini juga dimuat di Panyingkul.

Bapak saya, Haji Muhammad Nur, 67 tahun terlihat gelisah ketika sore itu duduk mengaso bersama anak-anaknya di ruang tetirah di salah satu rumah di bilangan Cibinong, Bogor. Sudah sepuluh hari ini ia berada di Bogor untuk berlibur dari akitiftas hariannya sebagai pedagang di Pannampu Makassar. Liburan ini juga dimanfaatkannya untuk menghadiri pesta aqiqah cucunya yang ke-12 yang dilangsungkan sepekan lalu. Sepuluh hari dilaluinya dengan bercengkerama bersama anak dan cucu-cucunya yang lucu, ia masih diminta untuk berlama-lama di Bogor, paling tidak sepekan lagi demi menuntaskan rindu. Tidak setiap tahun mereka bisa berkumpul bersama, begitu alasan utamanya.

Sebenarnya dia masih betah berlama-lama, namun ada satu hal yang membuatnya berat meluluskan keinginan anak-anak yang disayanginya itu. Pasalnya, pemilihan Walikota Makassar akan dilangsungkan Rabu depan, 29 Oktober 2008. Dia sudah mengikat janji dengan rekan-rekannya sesama pedagang di Pasar Pannampu untuk meramaikan pesta demokrasi ini. Di benak mereka semua, sudah ada satu nama kandidat yang akan mereka coblos di hari itu. Dan Aji, demikian beliau disapa oleh anak-anaknya, tentu tak ingin suara nya hilang begitu saja di hari ‘mattoddo’ itu. Satu suara beliau dianggap turut menentukan apakah kandidat pilihannya bisa menang atau kalah menuju kursi walikota Makassar.

“Apakah Aji khawatir dianggap warga kota yang tercela karena tidak menggunakan hak pilih? Ini kan sudah bukan jaman Soeharto, ketika Golput dianggap kriminal” cetus salah seorang anaknya. Anak yang lain menimpali, “Lagian, sewaktu semalam menonton acara debat kandidat di salah satu statiun TV kelihatannya tidak ada yang bagus tuh. Semuanya meragukan”. Meski jauh ribuan kilometer dari Makassar, mereka masih tetap setia mengikuti perkembangan kota tempat mereka tumbuh berkembang itu. Anaknya yang tertua ikutan menimpali, “Iya, kehilangan satu suara kan tidak berpengaruh juga”. Continue Reading »

Popularity: 20% [?]

dua puluh enam tahun silam - saya baru bisa baca di kelas 3 SD!

daengrusle September 25th, 2008

foto-jaman-sd-dulu.jpg
(foto saya thn 1987, dari kiri ; rusle, rusdin, rustam, diana, anto, emmang)

“Pak Amir sudah pensiun”, begitu jawab cucu saya, Iqbal-10tahun, - sesungguhnya saya merasa terlalu muda untuk menjadi kakek, - ketika saya iseng bertanya gmana keadaan sekolah nya, adakah yang telah berubah setelah berselang hampir 26 tahun saya tinggalkan? SD Negeri Inpres Pannampu 1 yang sekarang menjadi tempat si Iqbal menapak pendidikan dasar itu, pernah pula menjadi tempat saya ‘nongkrong’ selama enam tahun. sekolah itu sejatinya adalah sekolah yang amat sederhana, apalagi dibandingkan dengan sekolah tetangganya, SD Beroanging yang gedungnya bertingkat dan muridnya sombong-sombong.

Sekolah itu sederhana, bukan saja dari bangunannya yang hanya satu tingkat dengan fasilitas sederhana, tapi juga guru-guru nya teramat bersahaja. setiap tempat punya cerita nya, demikian juga dengan sekolah ini. Banyak cerita yang menghiasi masa kecil saya disana.

Saya menapak pertama kali bangku sekolah ini tiga bulan setelah masa sekolah dimulai, tepatnya di bulan Oktober 1982. Nomor induk atau stambuk saya, 8283023. 8283 menunjukkan tahun ajaran ketika memasuki sekolah; 1982/1983, dan 023 menunjukkan nomor urut daftar di kelas yang bersangkutan. Berbeda dengan kawan-kawan saya yang lain, saya mengenakan seragam yang tidak umum, seragam putih-putih.

Pak Amir, dengan badannya yang tegap pendek, rambut ikal dan senyum kebapakan, menyambut saya dengan antusias. Sambutan hangatnya tidak melepaskan beliau dari keheranan, “kenapa kamu baru masuk sekarang, setelah tiga bulan teman2mu bersekolah? saya jawab dengan tertunduk malu, “Bapak saya belum datang dari berjualan, saya belum punya seragam. Jadi malu kalau saya ke sekolah tidak pakai seragam”. Padahal saat saya masuk pun, sesungguhnya saya juga tak berseragam.

Yah, hari pertama yang mencemaskan. Saya lupa bagaimana detailnya, namun saya yakin saat itu saya dibanjiri perasaan cemas tak karuan takut disetrap atau diapakan karena bolos tiga bulan, plus kebingungan apa yang harus saya kerjakan di kelas dengan murid berjumlah lebih kurang 20-an itu. Di kelas itu, saya hanya mengenal tidak lebih dari lima murid, tetangga saya. Saya tinggal di suatu deretan perumahan yang kami namakan kompleks pasar Pannampu.

Kompleks kami dan SD Inpres Pannampu ini terhitung dekat, hanya diantarai oleh satu pom bensin dan satu jalan besar. Entah kenapa, semua anak-anak yang tinggal di kompleks memilih (atau didaftarkan oleh orang tua mereka) bersekolah di SD Inpres Pannampu, bukan di SD Beroanging yang megah. Persoalan pembayaran? saya kira tidak, karena kala itu pembayaran uang sekolah anak SD sudah gratis, yang beda mungkin uang BP3 dan Uang Pramuka. Gedung yang megah dan bertingkat sepertinya menjadi pelatuk resistensi tetangga-tetangga saya untuk menyekolahkan anak-anaknya di SD itu.

Saya ingat, Pak Amir saat itu sedang getol mengajar murid-muridnya membaca, tepatnya mengeja. Cara mengajarnya sungguh lucu. Dia melafalkan huruf demi huruf seperti tercekak. Misalnya mengeja huruf “b” dengan “eb”, atau huruf “r” dengan “rrrr”. Ah, sungguh menggelikan, dan terus terang buat saya cara beliau mengajar tidaklah membantu, malah menyusahkan.

Tapi kami semua menikmati pelajaran itu, dan hasilnya adalah bahwa saya baru bisa membaca ketika menginjak kelas 3 SD. Hahaha. Berbeda dengan anak murid sekarang yang masih duduk di Play Group sudah bisa membaca dengan lancar…

Popularity: 38% [?]

Hari Terakhir Saya di Situ

daengrusle August 29th, 2008

Rekan2Hari ini, 29 Agustus 2008, menjadi hari terakhir saya bekerja pada Chevron Indonesia Company, Balikpapan, dan akan memulai karir dan hidup selanjutnya di kota lain, insya Allah.

Perkenankanlah saya menghaturkan banyak terimakasih dan kebanggaan yang tak terkira atas kebersamaan dan kerja sama Anda semua selama lebih kurang 2,5 tahun. Dengan kerja sama dan kontribusi Anda semua membuat pekerjaan saya menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Namun pilihan hidup untuk menjadi dan mencari yang lebih baik dan menantang membuat saya mengambil keputusan sulit untuk meninggalkan Chevron Indonesia Company.

Terima kasih yang sebesar2nya terkhusus kepada Management Procurement, SCM Dept CICO yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk berkarya dan menimba pengalaman yang sangat berharga. Dan juga kepada segenap mitra kerja di lapangan yang telah cukup intens berkoordinasi dalam rangka pencapaian target pekerjaan saya. Terima kasih.

Akhirnya, saya dan keluarga menghaturkan permohonan maaf yang sebesar2nya sekiranya ada kesalahan tulisan, kata maupun perbuatan yang kurang menyenangkan di hari Anda semua. Mohon maaf dan ridho nya. Begitu juga sebaliknya, seperti permainan zero sum, tidak ada lagi tautan dan hambatan pada diri saya pribadi dari semua kejadian sebelumnya, apapun itu. Saya beranggapan itu hanyalah pernik kecil dalam rangka mencari eksistensi sebagai makhluk Tuhan di alam ini, Insya Allah.

Harapan saya semoga Anda beserta Chevron Indonesia Company makin sukses di kemudian hari. Amin

Warm Regards,

Muhammad Ruslailang & Family

Email: daengrusle@angingmammiri.org

Popularity: 55% [?]

Kapan Pulang Ke Kampung?

daengrusle August 20th, 2008

kaelomang.JPGPertanyaan ini mengusik saya sekelebat siang ini, di sela kemalasan luar biasa menyelesaikan clearance pekerjaan tersisa.

Pertanyaan sederhana ini menjadi luar biasa ketika saya berhadapan dengan sesuatu yang bernama idealisme, atau pertanyaan usang yang sering kita dengar: untuk apa ilmu dan pengalaman yang kau dapatkan?

Kapan Pulang ke Kampung ini buat saya tidak menjadi sederhana kemudian. Bukan sekedar pulang ke kampung untuk berlibur, mempertontonkan diri yang berasal dari kota besar, pulau besar, ibukota negara yang buat sebahagian orang kampung hanya bisa diterawang melalui layar kaca.

Kapan pulang ke kampung, tapi tidak untuk sehari sepekan sebulan, tapi selamanya?

Kenapa harus ke Kampung? Buat saya pribadi, kampung bukan sekedar romantika tentang udara yang segar, sawah yang menguning, hentakan mesin tenun saban subuh hingga matahari sepenggalah, pegunungan yang membiru dan menyebarkan aroma alam dan kehangatan handai taulan sahaja.Kampung adalah utang yang setiap saat datang menagih. Utang yang tak lunas meski senantiasa kita cicil dengan berbagai donasi gelontoran duit atau sekedar berjam-jam pulsa dihabiskan. Utang itu tak akan impas jika kita tak mengembalikan sesuatu yang kita pinjam dari mereka. Apa yang kita ambil, bawa pergi dan tak jua dikembalikan? Kampung menagih ‘kelahiran’ dan ‘masa tumbuh kembang’ yang telah kita seruput dari mereka. Kampung mengawal tangis awal kita, menyelimuti ketelanjangan kita dari dingin pegunungan atau lolongan anjing yang menakutkan. Ia minta kita membayar sesuatu untuk itu.

Kampung ibarat punya dua tangan yang melambai. Tangan pertama adalah tangan yang memanggil pulang. Bukan memanggil singgah. Pulang dan singgah adalah dua kata yang beda. Tangan kedua adalah tangan yang meminta. Ia meminta kita mengembalikan jiwa yang kita pinjamkan. Kembalikanlah ia, pulanglah ke kampung. Luruhkan semua kecintaanmu padanya, pada suasananya. Romantisme kampung tentu jauh lebih mewah daripada rekreasi di dunia fantasi. Bebunyian mesin tenun bahkan lebih syahdu dibanding parau para pesinetron yang seperti belingsatan menjadi penyanyi.

Kampung, adalah ibarat lahan yang lama tak tergarap, dan menunggu untuk disiangi. Bukan ia perlu duit seperti yang kau kepayahan mencarinya di kota besar. Dengan ilmu mu, dengan pengalaman mu. Habiskan hidupmu yang tersisa padanya.

Saya punya impian muluk, bahwa Sengkang, Impa-impa, Sempangnge, akan menjadi petirahan saya nantinya…menjadi tempat saya pensiun dan menghabiskan sisa hidup dengan bertani, berkebun atau beternak sapi…sambil men-share pengalaman dengan saudara sekampung disana….

Jadi pada kampung saya hendak mengembalikan utang yang belum lunas…disana kita berasal, dan kemudian pergi menghilang hingga berbilang tahun, dan akhirnya ke sana pula kita nanti kembali….. Continue Reading »

Popularity: 61% [?]

A letter to myself

daengrusle August 14th, 2008

aku di tumasek

There is no point of return, absolutely! Even, no time to think about that ‘think’.

These are the points that you will pursue and fulfill in your next dream. First of all you will close to your all happily premises. With them you can share your adorable passion together, especially for one you are trying to hug at all. May Allah bless her in her next life.What is the next? There are many challenges lied on your next way. You can prefer to build your new career or another one, explore your another potential capability in new line of your career. Just choose it, and the existing train will bring you to it. You just need to suffer for a while, but at the end of the rail, you will release many things that you were doubt on them. You can found yourself as a very wide person, with many opportunities. Otherwise, you will have better portfolio to expand your geographic determination, perhaps even do not much store your hope on it.

How about my stakeholders, as they are the most important thing after my supreme soulholder? There will be more widely joy of life to be share together with them. By collecting all stakeholder into the big one, it will make a bunch of happiness. For all of my derivatives, I will take them closely to the center of excellence coordinates; education, family, and others.

So, despite all those goodness and opportunities unwritable here, do not keep all doubt in your head. Go head, and smile. You are the winner, absolutely!

Popularity: 56% [?]

Loncat Lagi?

daengrusle July 12th, 2008

Dalam salah satu posting saya di blog terdahulu, ini dan ini, saya pernah berikrar untuk menghentikan kebiasaan profesional saya yang cukup buruk di mata sebahagian orang; kutu loncat. Berpindah dari satu perusahaan ke perusahaan lain, apalagi berpindah kota, bukanlah sesuatu yang gampang bahkan sangat merepotkan. Bukan hanya persoalan beratnya memindahkan satu keluarga, tapi juga mesti beradaptasi lagi dengan lingkungan kerja yang baru. Belum lagi jikalau ternyata working culture di tempat baru tidak se’bagus’ yang diharapkan. Apalagi kalau rupanya kita berhadapan dengan team yang tidak sehangat yang diinginkan. Bukan soal untuk belajar assignment baru buat saya, tapi berhadapan dengan dinamika sosial yang membuat saya terkadang was-was. Tidak satu dua kali saya berhadapan dengan ‘acceptance’ yang tidak acceptable. So, mesti siap dengan pemikiran Expect the Unexpect, terutama untuk hal-hal non teknis. Ini resiko terbesar yang harus saya hadapi.

Kenapa mesti pindah lagi? Alasannya sebahagian besar justru sangat teknis. Alasan detail tentu tak etis disebutkan, tapi sekedar berbagi substansi nya saya kira tidak berdosa. Saya butuh penyegaran, dan mungkin, saya merasa ‘gagal’ di tempat sekarang. Penyegaran, atau lebih tepatnya mengembalikan saya kembali ke birahi profesional yang selama ini saya kejar. Yang mana saya merasa gagal mendapatkannya di tempat sekarang. Bukan tidak berusaha untuk bersyukur dan nerimo atas apapun suratan karir saya, tapi umur dan potensi saya mungkin tersia-sia hanya untuk menandaskannya di sesuatu bernama ‘nasib’. Jadi kepindahan ini karena kecewa, sikap negatif? Saya akui sebahagian besar mungkin iya, tapi saya berusaha berpikir positif. Banyak rentetan konsekuensi yang nanti akan saya jalani selepas kepindahan ini. Konsekuensi2 ini justru membuat saya menjadi bergairah kembali. Tidak apa kalau ada unsecurity prospect di depan, tapi bukankah semua hal di dunia ini juga unsecure kalau kita tidak berusaha memaintainnya dengan baik. So, no pain no gain.

Di tempat baru, saya mungkin akan mendapatkan assignment yang cukup menantang. Resiko besar terbentang di depan, tapi challenge untuk memperkuat sendi profesionalisme juga tertancap di depan sana. Portofolio proyek saya akan bertambah tentunya. Tinggal bagaimana saya memaintain dengan baik, untuk kemudian menjadi amunisi yang diperhitungan di medang pertempuran berikutnya. Proyek yang nantinya saya akan terlibat adalah proyek pengembangan lapangan yang sudah eksis. Semoga banyak ilmu yang bisa saya serap, selain fulus yang lumayan lah untuk menambah pundi-pundi tabungan masa depan buat Mahdi dan Maipa. Selain itu dinamika ibu kota mungkin akan membuat saya mengikuti pusaran ketatnya arus persaingan disana. Saya hanya perlu berusaha dan berdoa semoga menjadi pelaut yang ulung di tengah samudera ibu kota yang menggelora.

Apakah tempat yang saya tuju nanti adalah pelabuhan terakhir? Hmm, saya meragukan itu, walaupun merasa ada kemungkinan ke arah sana. Tapi saya tetap berhasrat untuk menjadi nahkoda di sebuah kapal kecil, tempat dimana saya bisa mengarahkan kemudi dengan kreatif dan berani, atau melempar sauh di mana saya bisa menjaga kapal dengan sebaik mungkin agar tetap bisa bertahan di antara gelombang yang sedahsyat apapun.

Satu hal yang paling membahagiakan buat saya pribadi, kepindahan ini akan mendekatkan saya ke kakanda tercinta. Saya bayangkan di setiap akhir pekan, akan selalu menyempatkan diri mengunjungi nya. Dan bercerita banyak hal seperti dulu. Amin.

Doakan saya.

Popularity: 69% [?]

In Memoriam: Mammi Hj Ramlah

daengrusle July 2nd, 2008

Ketika manusia berpindah ke alam baka, ke tempat mana semua kebaikannya akan bersemayam? Kitab suci mengajarkan kita bahwa ia akan ditulis abadi dalam Kitab Kebaikan, Lauh Mahfudz. Namun orang-orang bijak zaman dahulu mengajarkan hal yang lebih praktis dan menurut saya sangat romantis; ia bersemayam dengan nyamannya di sebuah bilik di hati manusia lainnya dalam bentuk yang indah dan sulit tergeser kecuali oleh penyakit alzheimer: kenangan.

Kenangan, mengabadikan semua kronik hidup manusia di kepala manusia lainnya. Ketika ia meninggal, maka sesungguhnya jiwanya, dalam bentuk yang lain, hidup terus dalam kenangan manusia lainnya sampai kemudian beberapa generasi setelahnya. Beberapa manusia mencoba mengabadikan ‘kenangan’ ini dengan menorehkannya dalam bentuk tertulis, hingga kemudian menjadi abadi sepanjang sejarah manusia sampai kemudian musnah bersama sejarah itu sendiri.

Saya sesungguhnya tak pernah siap memindahkan orang-orang yang dekat dengan saya, terutama jenis yang teramat saya cintai, ke dalam kotak ‘kenangan’ di kepala saya. Karena kenangan ini hanya bisa kita panggil dalam bentuk yang imajiner, dengan membayang-bayangi sosoknya yang hidup dalam perenungan. Sungguh meski indah, namun tak begitu terasa terutama bagi kita yang terbiasa bersentuhan fisik.

Mammie, yang hingga pusaranya tegak berdiri diatas makamnya tak pernah sekalipun saya mengenal panggilan lain atau nama aslinya, adalah salah satu sosok orang tua yang sangat membekas dalam kehidupan saya, terutama saat masih SMA. Suara beratnya lebih sering terdengar sebagai suara seorang yang cemas yang tak menginginkan hal lain selain kebaikan buat anak-anaknya, juga buat kami yang sudah merasa sebagai anak-anak kandungnya sendiri. Hidupnya yang sepenuhnya dihabiskan sebagai seorang guru tentu secara formal sudah membentuk laku nya yang digariskan pada sesuatu yang semua orang mungkin akan iri melihatnya; teladan dan cermin sempurna kesabaran. Ia adalah pusaran yang menarik semua energi yang membiak tak terarah yang kemudian luluh masuk ke dalam inti hidup itu sendiri; seperti apa anda hendak menjadi? Setiap memandangnya, atau acap kali bertegur sapa dengannya, maka saya hanya bisa cemas merenungi diri sendiri. Kesalahan apa lagi yang harus saya entaskan hari ini. Begitulah saya melihat Mammie setiap saat. Penuh kecemasan, karena diri yang tak pernah mampu menjadi cermin sempurna.

Rumah keluarga nya di Tinumbu, berhadap-hadapan dengan sebuah Panti Asuhan, seperti menjadi rumah kami juga. Keakraban saya dan teman-teman dengan keluarga ini terjalin akrab saat masih sama-sama belajar di SMA Negeri 1 Makassar, saat Dedy Babhe dan Yayu menjadi bagian yang mengisi masa remaja kami dan kemudian menjadi sebuah monumen sejarah dalam kronik hidup kami setelahnya. Mammie sudah mengakrabi kami sedemikian rupa hingga terasa bahwa tak ada beda antara kami dan anak-anak kandungnya sendiri. Suara baritonnya terdengar khas dan bersahabat saat menyapa kami yang kadang tak pernah malu menyambangi rumah itu hingga larut malam; makan, ribut, belajar, tidur hingga bermain domino atau yoker tanpa terbebani oleh rasa bersalah. Mungkin di rumah itu tidak mengenal istilah sungkan, hingga kemudian semua keluarga Mammie menjadi keluarga kami sendiri, dari Tante Siah hingga Uddin dan Om Juna’. Sari dan Budi Ciu menjadi saudara kami juga. Bahkan hingga kemudian ketika kami kembali dipertemukan di Jakarta. Rumah kontrakan Dedy Babhe di Pisangan, yang setiap saat ramai dikunjungi oleh Mammi, Pappi, dan seluruh kerabat kembali menjadi tempat kami berkumpul. Apalagi sebahagian dari kami tak punya keluarga di ibu kota ini, dan mereka menjadi keluarga terdekat yang kami miliki. Setiap kami dikabari bahwa Mammi dan Pappi datang berkunjung dari Makassar, tak elok rasanya tak menampakkan muka di hadapan mereka, dan kemudian dengan hangat mencium punggung tangannya. Saya, Alfian, Daus, Fajri, Onte, Culli, One, Faskan dan semua teman-teman yang pernah ‘terlunta’ di Jakarta tentu memiliki sebuah ‘kotak rindu’ khusus untuk Mammie, dan karenanya, kami membuatkannya surga kenangan di kepala kami masing-masing. Hingga kemudian kami akan membukanya tepat di hadapan Mammi saat perjumpaan kelak di alam yang sama. Insya Allah.

Di pertengahan Mei 2008, setelah hampir lima tahun tak bersua, saya kembali bertemu Mammi dalam kondisi yang sungguh tidak saya harapkan. Di sebuah ruang ICU di Rumah Sakit Akademis Makassar. Hati saya berat untuk menatap tubuh Mammie yang terbaring lemah, seakan bayangan sedih kakak saya yang baru saja berpulang kembali muncul. Saya dan teman-teman; Faskan, Langgau, Upphy, yang kebetulan berkumpul sepulang dari pesta pernikahan Onte, hanya berusaha berdoa dan mencoba menanamkan rasa ikhlas kepada saudara saya Babhe, Irzal dan Yayu. Ikhlas bukanlah sebuah tanda menyerah kepada nasib, namun sejatinya adalah tanda bahwa kita percaya kepada Yang Maha Memiliki, bahwa apapun yang terbaik bagi bagiNya tentu terbaik pula untuk hambaNya. Hampir tiga minggu di ruang ICU, saat pagi di hari Sabtu penghujung Mei 2008 , saat baru semalam saya tiba dari Balikpapan, kabar duka itu kemudian tiba dalam sebuah pesan singkat. Mammi telah ‘berangkat’ ke alam yang dijanjikan. Dan kami tak kuasa menahan pendar haru yang keluar dari kotak rindu kami untuk Mammi. Kematian adalah janji yang pasti, dan kami seperti tertagih olehnya. Tertagih akan kecemasan, bahwa kami tak akan pernah lagi menemukan kehangatan dibalik suara beratnya, selain menjadikannya kenangan yang akan kami bawa kelak, hingga perjumpaan kembali dengannya.

Selamat jalan Mammie, mohon maaf atas semua salah kami dulu.

Popularity: 66% [?]

Next »