Archive for the 'Feature' Category

Rezeki Baru - Terompet Tahun Baru

daengrusle December 31st, 2007

Senja menjelang, merapat ke setiap sudut kota Balikpapan. Senja hari ini adalah senja yang tak biasa, karena disambut dengan bebunyian terompet dan petasan yang silih berganti, dan senyum sumringah anak-anak kecil menyambut tahun yang berganti.

supriadi-menikmati-malam-tahun-baru.JPG

Balikpapan, sebagaimana kota besar lainnya d Indonesia, juga semarak menyambut pergantian tahun. Laki-laki perempuan, anak kecil remaja hingga orang tua punya acara masing-masing menyambut pergantian tahun yang dianggap istimewa. Ada yang mengisi nya dengan bakar jagung, mengunjungi keramaian di pusat kota, atau ada juga yag menghabiskan semalam suntuk di depan TV, menonton acara semarak pergantian tahun yang special dari masing-masing stasiun televisi. Malam tahun baru, sebagaimana malam-malam sebelumnya memang disi dengan hiburan aneka macam.

Terompet Membawa Rejeki
Dalam semarak pergantian tahun, terompet seperti wajib hadir dalam detik-detik menjelang dan sesudah tahun berganti sebagaimana sudah menjadi tradisi setiap tahun, Entah dari mana tradisi ini bermula, yang jelas hingga saat ini jutaan terompet bisa ludes dalam satu atau dua malam menjelang pergantian tahun. Kota dan kampung, menjadi riuh dengan bebunyian dari teompet ini. Tidak ada akan yang merasa gaduh terganggu, karena bebunyiaan itu mewakili keceriaan meninggalkan tahun yang telah dijalani, menggantinya dengan tahun baru yang penuh harapan. Continue Reading »

Popularity: 45% [?]

Kultur Haji Bagi Bugis-Makassar

daengrusle December 14th, 2007

kaabah1.jpg 

Bagi umat Islam, ibadah haji adalah rukun kelima yag menjadi ibadah penyempurna setelah empat rukun lainnya; syahadat, sholat, puasa dan zakat. Menunaikan ibadah haji di dua tanah suci Islam; Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah yang berada di wilatah Kerajaan Arab Saudi, menjadi semacam cita-cita dan impian setiap muslim untuk dilaksanakan paling tidak sekali dalam seumur hidupnya. Kurang lengkap rasanya sebagai Muslim, berkalang tanah tanpa pernah menginjak kedua kota suci umat Islam itu.

Umumnya, seorang Muslim bersedia melakukan apa saja demi melaksanakan ibadah ini. Bahkan tidak jarang seorang muslim rela menjual aset berharganya; sawah, tanah, kendaraan, perhiasan, dan aset lainnya demi untuk menunaikan ibadah yang ritualnya menyerupai rekonstruksi perjalanan para nabi Allah itu, tidak peduli apakah setelah kembali mereka masih punya cukup aset untuk menyambung hidup asalkan sudah pernah menengok kota nabi itu. Seorang tetangga saya dulu bahkan rela berhutang untuk menutupi ongkos naik haji yang sekarang besarannya sekitar Rp 27 juta. Juga tidak jarang terjadi di masyarakat Bugis/Makassar, orang tua membawa anak-anaknya berangkat haji, bahkan meski si anak belum cukup umur. Dengan anak-anak yang sudah bergelar haji semuanya, status sosial keluarga itu akan sangat terhormat dalam masyarakatnya. Tidak jarang, cara-cara pintas dan nyeleneh ditempuh untuk mendapatkan kehormatan ini, misalnya dengan menciptakan ritual tandingan berhaji di puncak gunung Bawakaraeng, yang didasarkan pada anggapan bahwa pahala dan ke afdolan nya dianggap sepadan dengan prosesi yang dilakukan di Mekkah dan Medinah.

Akulturasi Haji dalam Masyarakat Bugis Makassar
Dalam kultur sebahagian masyarakat Bugis-Makassar atau nusantara, gelar haji yang diperoleh setelah menunaikan ibadah haji itu dianggap sebagai prestise yang menunjukkan status sosial yang ‘lebih’ dibanding yang lain. Status sosial ini tidak karena tuntutan sang haji, tapi dielaborasi karena adanya penghargaan masyarakat sekitarnya. Penghargaan ini terlebih dikarenakan untuk menunaikan ibadah haji itu perlu pengorbanan yang besar; waktu, harta dan kadang nyawa. Apalagi di jaman dulu sebelum transportasi semudah jaman sekarang, menunaikan ibadah haji teramat sulit dan lama. Memerlukan ketahanan dan kesabaran untuk mengarungi lautan luas dan ganas selama 3-6 bulan untuk sampai ke sana. Kalau sekarang, hanya 8-10 jam saja naik pesawat terbang sudah cukup memindahkan badan dari tanah air ke tanah suci sana. Continue Reading »

Popularity: 40% [?]

Matrawi, mengasong buku melawan terik

daengrusle November 25th, 2007

Siang yang teramat terik di Balikpapan. Penjaja makanan keliling, yang biasanya ramai di ahir pekan ini, seperti enggan menemui konsumennya. Jangankan berniat keluar rumah, di dalam rumah pun saya merasa gerah. Di teras, saya mencari angin segar mensiasati gerah sambil mencandai anak saya.

Di tengah terik itu, tiba-tiba di pagar rumah saya telah berdiri seorang kakek mengenakan topi rimba, berselendang kain sarung dan di kedua tangannya tergenggam dua buah buku. Tubuhnya kelihatan ringkih, tapi suaranya terdengar lantang, “Anak, mau beli buku? Sambil menggoyang-goyangkan kedua buku yang ada di tangannya. Tentu saja saya kaget, karena di siang yang teramat terik ini masih ada juga yang berjualan, apalagi jualannya pun tidak lazim, buku. Biasanya, saya membeli buku di toko buku langganan, dan itupun karena memang ada buku menarik yang direkomendasikan teman. Buku bukanlah seperi lazimnya barang konsumsi lainnya yang bisa dibeli setiap saat dimana saja. Membeli buku biasanya disesuaikan dengan kebutuhan otak dan perlu effort yang lebih untuk mencari buku bermutu.

Tapi seperti melawan kelaziman, kakek tua itu menjajakan buku berkeliling dari rumah ke rumah, berjalan kaki. Dan ini menarik untuk saya dan mempersilahkan kakek penjaja buku itu masuk dan menggelar dagangannya di teras rumah.

jual-buku.JPG

Matrawi, menjaja buku di tengah terik untuk menyambung hidup 

Namanya Matrawi, berusia 68 tahun dan berasal dari Sumenep, Madura. Menurut penuturannya, menjajakan buku keliling ini dilakoninya sejak tahun 2003 ketika pertama kali menginjakkan kaki di kota Balikpapan. Sebelumnya dia adalah petani di Sumenep. Hasil bertaninya sebesar Rp 25 juta dihabiskan untuk mengurus anaknya masuk AKABRI. Anaknya kini sudah berpangkat Letnan Dua, sambil mengeluarkan dompet dan menunjukkan sebuah foto yang diakuinya sebagai anaknya dengan pakaian militer. Menurut pengakuannya, sebelum ke Balikpapan dia sempat mengikuti pelantikan anaknya di Monas, katanya dilantik oleh Presiden Megawai Soekarno Putri. “Sudah kaya dong pak” tanyaku. Pak Matrawi hanya tersenyum dan menggeleng lemah, melanjutkan promosi bukunya. Menurut dia, buku-buku nya yang kesemuanya adalah buku tentang agama Islam; komik nabi-nabi, risalah sholat, al-qur’an dan kumpulan doa-doa, dikirimkan langsung oleh anaknya dari Surabaya. Makanya harganya murah, dibandingkan dengan toko-toko di pasar Klandasan, sebutnya. Saya memang pernah membeli al-Quran di Klandasan, disana banyak kios yang menjual buku sejenis yang dijajakan pak Matrawi.

Saat saya tanya, harga dari buku-buku tersebut sambil menunjuk beberapa komik kisah nabi yang berukuran kecil dan tipis, pak Matrawi bingung menjawabnya. “Sesuai keikhlasan saja, nak. Berapa anak mau bayar, yang penting ikhlas”. Menurutnya, dia menjajakan buku ini bukan untuk mencari untung, tujuannya hanya untuk minta tolong. Sekedar untuk membeli makan saja sehari-harinya, yang dia bilang sebesar Rp 7000 sekali makan.

Selintas saya kemudian membayangkan industri buku di indonesia yang mungkin memproduksi buku ribuan setiap bulannya, terutama saat booming novel chicklit yang digemari para remaja itu. Dalam setiap produksi buku, menurut berita, disributor kebagian pendapaan sampai 70% dari harga buku. Sedang pihak penerbit dan pengarang buku hanya menikmati sisanya. Ditambah dengan biaya produksi yang tidak sedikit, terbayang betapa besar biaya yang dikeluarkan oleh para pembaca. Dan berapa rupiahkah yang bisa dinikmati oleh orang-orang seperi pak Matrawi yang hanya berharap uang makan saja dari dagangannya itu?

Dalam sehari jualan pak Matrawi hanya laku paling banyak dua buah, dengan penghasilan paling tinggi Rp 35 ribu. Pernah juga dia menerima Rp 50 ribu, tapi jarang sekali. Penghasilan yang teramat kecil itu, dipakainya untuk menghidupi dirinya bersama istri yang siang itu juga ikut berkeliling menemani pak Matrawi. Berdua mereka berjalan kaki menyusuri kampung-kampung di Balikpapan sejak pagi, berangkat dari rumahnya di Gunung Malang. Saat itu, kelihatan mata istrinya yang berjilbab itu berair. Saya tanya kenapa, kok nangis? Pak Matrawi menjawab, dia sakit perut sedari tadi. Saat saya ajak makan siang di rumah, dengan halus pak Matrawi menolak. Dia memilih melanjutkan berjualan buku bersama isrinya, padahal mungkin saja mereka sudah lapar dan haus, apalagi di tengah hari yang teramat terik itu.

Popularity: 33% [?]

Lebaran Beda, tak Masalah!

daengrusle October 12th, 2007

lebaran.jpg
Foto: Diunduh dan dimanipulasi dari link ini.

Perbedaan penggunaan metode dalam menentukan awal dan akhir ramadhan memunculkan juga perbedaan tanggal atau hari awal/akhjir ramadhan. Pemerintah dan sebagian besar masyarakat Indonesia yang menggunakan metoda rukyat (melihat hilal) dan Muhammadiyah yang menmggunakan perhitungan (hisab) secara aklamasi bersama-sama mengakui bahwa awal Ramdhan jatuh pada rgl 13 September 2007, tetapi kemudian berbeda pendapat dalam penetapan akhir ramadhan, meski masih menggunakan metoda yang sama, yang berbeda itu juga. Polemik penentuan akhir ramadhan ini kemudian menjadi wacana nasional, di tingkat elit pemerintah, DPR dan tokoh nasional tak ubahnya burung yang saling bersahutan mengemukakan pendapat dan dasar penentuan hari suci bagi umat Islam itu. Bagaimana di tingkat masyarakat biasa?

Ini yang coba saya tangkap di lingkungan sekitar rumah saya di Balikpapan. Di hari-hari akhir Ramadhan 1428H, warga RT 39 Gn Samarinda masih ramai saja mendatangi Langgar al-Mushawwir, sebagian karena merasa sulit meninggalkan ramadhan yang pahala ibadahnya berlipat ganda, sebagian juga karena hendak menunaikan zakat fitrah yang tahun ini bernilai Rp 14,000/jiwa atau senilai dengan 3liter beras yang biasa dikonsumsi. Di tengah keramaian itu, ada juga muncul perbincangan seputar penentuan hari akhir ramadhan. Beberapa warga yang orientasi keagamannya cenderung ke Muhammadiyah dengan yakin sudah menetapkan bahwa mereka akn mengikuti majelis tarjih Muhammadiyah yang sudah menetapkan jauh-jauh hari berdasarkan hasil perhitungan perjalanan bulan, bahwa hari Lebaran jatuh pada hari Jumat, 12 Oktober 2007.Beberapa warga lainnya yang lebih konservatif mengungkapkan bahwa mereka masih menunggu keputusan sidang itsbat pemerintah dan ormas Islam pada tgl 11 Oktober 2007 malam yang menggunakan metode melihat hilal/bulan baru dari seluruh nusantara. Bagi mereka, penentuan akhir ramadhan diserahkan sepenuhnya kepada pemerintah, yang juga ulil amri mereka. Sebahagian yang lain masih ragu-ragu, apakah akan mengikuti sholat Ied berdasarkan penetapan Muhammadiyah atau pemerintah. Walaupun demikian, tidak ada satupun diskusi itu yang berusaha menggiring kiepada permukaan masalah, yakni dikotomi antara kedua otoritas itu. Mereka umumnya sadar, bahwa perbedaan bukan sesuatu yang bernilai untuk dielaborasi menjadi perbedaan yang menghasilkan emosi negatfi.

Pak Sunyoto, yang sehari-hari bekerja sebagai tukang bangunan dan mengaku sebagai warga Muhammadiyah, sudah menetapkan bahwa hari Jumat 12 Oktober 2007, dia dan keluarganya akan berbuka atau tidak berpuasa lagi. Walaupun demikian, pak Sunyoto akan menunaikan shalat Idul Fitri pada hari Sabtu, 13 Oktober 2007 di Masjid ar-Rahman di RT41 bersama-sama warga lainnya yang mengikuti penetapan pemerintah. Saat saya tanya alasannya untuk tidak mengikuti sholat Ied pada hari Jumat bersama warga Muhammadiyah lainnya, beliau menjawab dengan santai, “Lebih enak bareng warga lainnya”. Memang untuk melaksanakan shalat Ied di hari jumat agak sedikit repot, karena tidak banyak tempat tempat penyelenggaran sholat Ied, dan umumnya tempatnya jauh. Satu hal lgi yang menjadi pertimbangan pak Sunyoto, yakni dia tidak mau terlihat berbeda dibanding yang warga lainnya. Walaupun beberapa warga Muhammadiyah lainnya cukup mencolok mengenakan pakaian taqwa untuk sholat Ied. Tempat terdekat dari lingkungan pak Sunyoto untuk shoalt Ied, jaraknya sejauh 3km, disebuah lapangan Badminton. Saat saya tanya, apakah pak Sunyoto mengetahui tempat penyelenggaran sholat Ied di tempat itu, beliau menjawab tidak mengetahui. Wajar, karena informasi itu beredar terbatas saja, saya malah menerima informasi tempat penyelenggaraan sholat Ied itu melalui pesan singkat di handphone saya. Berbeda dengan pak Kasmari, yang rumahnya berjarak sekitar 200 meter dari rumah pak Sunyoto, dia semenjak subuh sudah berangkat ke tempat shoalt Ied bersama keluarganya. Namun kemudian ketika pulang, kembali ke aktifitas semula. Berjualan barang kebutuhan sehari-hari. Ketika warung lain tutup, warung pak Kasmari tetap buka.

Pak Suwono, karyawan senior sebuah perusahan minyak yang rumahnya berhadap-hadapan dengan rumah pak Sunyoto punya sikap yang berbeda dalam menentukan hari Lebaran. “Saya sih ikut pemerintah saja” katanya lugas. Pak Suwono berpendapat, sebagai warga negara yang baik, dia cukup mengikuti apa ketetapan pemerintah. Task ada salahnya menambvah puasa sehari lagi, demi untuk menghindari sikap ambigu, atau keragu-raguan. Ketika hari jumat 12 Oktober ini, di pagi hari, saat beberapa warga Muhammadiyah lalu lalang di depan rumahnya menuju tempat penyelenggaraan sholat Ied, pak Suwono juga bersiap-siap mengeluarkan mobnil pick up nya. Tapi tidak untuk pergi sholat Ied, hari itu ia dan istrinya berencana berbelanja untuk kebutuhan Lebaran. Sikap pak Suwono ini juga sama dengan sikap sebagian warga RT39 lainnya, mereka tetap melakukan aktifitas biasa di hari JUmat ini. Tidak ada kesan khusus, karena mereka cukup mahfum dengan adanya perbedaan ini yang lebih keras gaungnya tersiar di berita-berita TV dan koran lokal. Toh mereka merasa perbedaan adalah hal biasa, tidak perlu menegangkan urat leher dalam menanggapinya. Lebaran, Ramadhan, dan lain-lain adalah perayan kolosal yang pelaksanannya tergantung sikap pribadi jamaah.

Hari Jumat pagi itu, pak Sunyoto menghampiri saya. “Masih butuh daun pisang untuk masak buras? Kalo masih butuh, kami punya banyak hasil nebang kemaren. Kebetulan pak Sunyoto punya banyak pohon pisang di belakang rumahnya. “Sudah cukup pak! Terima kasih” jawab saya. Hal yang sama beliau tanyakan ke pak Suwono yang memang seringkali mendapat uluran tangan pak Sunyoto, terutama kalau ada bagian rumah pak Suwono yang rusak. Pak Suwono pun seringkali menghadiahi keluarga pak Sunyoto dengan makanan atau pakaian layak pakai. Dua hari lalu, pak Sunyoto beserta adik dan anaknya, bekerja seharian membantu mengecat rumah pak Suwono dengan cat berwarna merah muda. Dan hasilnya kelihatan hari ini, rumah pak Suwono menjadi lebih rapi dan indah, buah tangan pak Sunyoto. Mereka berbeda merayakan jatuhnya hari lebaran, tapi hati mereka disatukan oleh kasih sayang sesama Muslim, sesama warga yang bertetangga. Lebaran beda hari, tak masalah buat mereka.

Taqabbalallahu Minna Waminqum. Selamat Merayakan Hari Idul Fitri, Satnya kembali kepada Kesucian.

Popularity: 30% [?]

Buka Puasa Bersama, membuka Kenangan!

daengrusle October 9th, 2007

 buka-puasa-di-langgar.JPG
Foto: Berbuka Puasa di Langgar, Mahdi ikutan juga!

Ramadhan, selain didalamnya terkandung semangat untuk memperbanyak frekuensi riyadah/ibadah spiritual yang sifatnya individual karena limpahan janji pahala dna keagungan bulan suci itu, juga ada kandungan semangat untuk beribadah secara komunal demi menyemarakkan suasana Ramadhan dan mempererat silaturrahmi diantara sesama muslim khususnya dan sesama umat manusia umumnya.

Ibadah yang dibungkus oleh semangat berinteraksi dengan muslim lainnya terutama dapat kita jumpai dalam dua hal; buka puasa dan taraweh bersama. Semarak kebersamaan dalam beribadah ini tidak saja dilakukan di mesjid/mushalla di lingkungan sekitar, tapi juga dilakukan di lingkungan yang tak lazim, misalnya kantor. Beberapa kantor menggunakan kesempatan ini untuk lebih mencairkan komunikasi dan ketegangan saat berkejaran dengan rutinitas kantor.

Berbuka Puasa di Langgar
Sejak pertengahan ramadhan, karena beban kerja yang sudah mulai berkurang saya selalu menyempatkan diri untuk pulang lebih awal demi untuk mengikuti buka puasa bersama yang setiap hari diadakan di Langgar al-Mushawwir depan rumah saya. Dengan mengikuti acara buka puasa bersama ini, saya bisa lebih meningkatkan silaturahmi dengan warga/jamaah sekitar dan yang paling penting saya bisa merefresh kenangan saya ketika masih kanak-kanak di Pannampu, Makassar.

Buka puasa bersama setiap hari ini dihadiri oleh tak kurang dari 20 jamaah yang umumnya terdiri dari anak-anak dan remaja. Hanya sekitar 3-5 orang dewasa yang juga turut serta dalam kegiatan ini, yang biasanya adalah pengurus langgar yang bertugas untuk mempersiapkan makanan dan minuman yang nantinya akan dibagikan kepada jamaah. Makanan dan minuman untuk berbuka puasa, atau lebih populer dengan sebutan ta’jil, ini disediakan oleh jamaah sendiri secara bergilir sesuai dengan Jadwal Giliran Penyedia Buka Puasa yang sudah disebarkan oleh pengurus Langgar beberapa hari sebelum Ramadhan dimulai. Continue Reading »

Popularity: 33% [?]

Ziarah Nyekar Jelang Ramadhan

daengrusle September 13th, 2007

berjubel1.JPG
Gambar: Tradisi ziarah nyekar di Balikpapan

Di Indonesia, ziarah nyekar menjelang Ramadhan ini sudah dianggap kebiasaan yang turun temurun. Biasanya, sehari menjelang hari raya Idul Fitri juga dilakukan ritual nyekar atau berziarah ke makam keluarga. Ritual ziarah kubur ini tidak diketahui sejak kapan dimulainya. Bahkan dalam banyak sumber sejarah Islam, tidak ditemukan adanya ritual Nabi Muhammad SAW melakukan ziarah menjelang bulan puasa.

Makna Ziarah Kubur, Kata ‘ziarah’ berasal dari bahasa Arab ‘zara, yazuru, ziaratun, yang artinya berkunjung atau pergi menengok. Sedangkan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Penerbit Balai Pustaka), kata ziarah diartikan dengan berkunjung ke tempat-tempat yang dianggap keramat atau mulia, makam dan sebagainya. Sedangkan kata kubur ialah tempat pemakaman jenazah. Dari penjelasan di atas secara kongkret dapat dipahami bahwa ziarah kubur ialah berkunjung ke tempat pemakaman jenazah (orang yang sudah meninggal dunia). [kutip dari Drs. H. As’ad Marlan, M.Ag]

Acara ziarah kubur juga kerap dilakukan secara resmi oleh pemerintah yaitu dalam acara peringatan hari-hari besar nasional seperti Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, peringatan hari pahlawan dan lain-lain. Continue Reading »

Popularity: 34% [?]

Merekam Jejak Longsor di Balikpapan!

daengrusle September 2nd, 2007

Dimuat juga di Panyingkul: Merekam Jejak Longsor di Balikpapan.

“Kalau mau mencari rumah bebas banjir di balikpapan, sebaiknya perhatikan ruas jalan didepannya sehabis hujan. Kalau sekiranya ada sisa/endapan pasir berarti jalan itu habis kena banjir. Hindarilah beli rumah disitu.” Begitu nasehat teman saya tahun lalu ketika saya menemaninya mencari rumah untuk disewa. Nasehat itu saya ingat terus sampai hari ini.

Kemarin siang, 1 September 2007, saya melewati jalan Ahmad Yani, Gunung Sari Balikpapan, salah satu jalan utama kota, yang sepanjang mata memandang penuh dengan lumpur hitam beserta endapan pasir putih sampai menutupi seluruh aspal jalan. Saya agak takjub dengan endapan pasir yang banyak sekali, kalo mungkin dikumpulkan bisa sampai beberapa truk. Selintas saya berpikir kalo endapan pasir sudah sampai ke jalan protokol di balikpapan, berarti secara umum balikpapan pasti kena banjir dan dimana kita mencari rumah yg bebas banjir kecuali naik ke atas ke arah samarinda, padahal setahu saya elevasi kota masih lumayan tinggi. Heran!

Kemacetan terjadi di tiga ruas jalan utama sekitar Gunung Sari; Jalan P Tendean, Jalan Martadinata, dan jalan Ahmad Yani sendiri. Jalan P Tendean yang menuju kantor saya di Gunung Pasir ditutup. Beberapa aparat berjaga-jaga di pertigaan jalan. Portal dan police line dipasang membentang menutupi jalan. Didepannya terpasang plang besar semi permanen dari kardus: Jalan Rusak!.

 longsor-bpn3.JPG

Dari desas desus yang saya dengar dan headline berita koran lokal hari ini, terjadi longsor di Gunung Pasir, empat tewas. Hari ini saya menyempatkan diri untuk melihat lokasi longsor yang dimaksud. Dari arah jalan Martadinata saya coba masuk ke lokasi longsor, tapi beberapa aparat polisi menghadang saya, “Maaf, jalan ditutup”. Saya minta izin untuk memotret. “Anda wartawan?” Saya menggeleng, tapi menyebutkan nama kantor saya bekerja sebagai alasan. “Maaf, hanya wartawan yang dizinkan memotret!” Saya berlalu dengan kecewa.

Seorang tukang ojek menghampiri saya kemudian, “Mas, kalau mau motret mending turun ke bawah sana, ke lapangan. Disitu bagus view nya, gak dilarang polisi kok!” Saya ragu, “Nanti dimarahin Polisi, pak!” Tapi dia memberi alasan bagus” Kan yang dilarang masuk di jalan sana yang ada police line nya, kalo di bawah sana tidak ada police line nya”. Saya tersenyum dan berterima kasih. Segera saya meluncur ke lapangan yang becek dan berada di lebak/bawah sana dan alhamdulillah bisa memotret lokasi longsor dari arah yang sangat bagus, walau dengan resiko sepatu dan celana saya berlumpur. Hanya saja saya kurang puas, karena patahan jalan yang terjadi karena longsor tidak bisa kelihatan jelas. Continue Reading »

Popularity: 31% [?]

Kisah Pannampu

daengrusle August 28th, 2007

Dimuat juga di Panyingkul: Geliat Pasar Panampu Dalam Potret Hitam-Putih.

Geliat pasar Pannampu adalah geliat subuh hingga matahari sepenggalah. Di pasar Pannampu, ratusan pagandeng, pedagang dengan sepeda berkeranjang, dari segala penjuru Makassar seakan menetapkan subuh sebagai penanda dimulainya pertemuan rutin mereka saban hari. Setiap hari, kecuali dua lebaran. Mereka, para pagandeng-pagandeng itu berbaur bersama pedagang lainnya; yang bermotor, bergerobak, hingga yang panggul menempati selasar blok perumahan Pannampu.

Pasar Pannampu dan kompleks perumahan nya mulai dibangun oleh developer CV Cahaya Rahmat, milik pengusaha Benny Gozal di awal tahun 1980-an. Kompleks ini terdiri dari empat blok perumahan yang mengitari Pasar Inpres Pannampu, pusat niaga lokal di kecamatan Tallo. Kami sekeluarga tinggal di salah satu rumah di blok perumahan itu, sejak awal dibukanya. Pada masa awal pembukaan pasar hingga tahun 1986, lingkungan pasar adalah lingkungan asri. Bersih dan tertib.

Pendulum kebahagiaan warga beranjak ke titik nadir, saat Pemda Ujungpandang menetapkan Pannampu sebagai area TPA di tahun 1986. Danau Pannampu yang terletak di belakang perumahan dijadikan sumbu disposal/pembuangan sampah kota. Menjadi TPA (Tempat Pembuangan Akhir). Continue Reading »

Popularity: 20% [?]

Kami (masih) terjajah lalat, tikus dan lapak!

daengrusle August 17th, 2007

Postingan untuk mengikuti lomba entry 17-an Blogfam.

Alhamdulillah, Postingan/entry ini terpilih sebagai Pemenang Pertama Lomba Entry dalam Rangka HUT RI ke-62 dari Blogfam. Terima kasih, Kuru Sumange! Baca Berita nya di link ini. Pengumuman Lomba HUT RI-62.

======================

Tak banyak yang bisa kuingat tentang 17an. Kalaupun ada, sebahagian besar adalah ‘hanya’ serunya menyaksikan lomba-lomba yang diadakan di lingkunganku. Dan sayapun, karena keterbatasan fisik dan keterampilan, sangat jarang mengikuti lomba itu. Dalam hati kadang saya merutuk sendiri, siapa yang memulai mengaitkan perayaan merdeka dengan lomba-lomba? Agak sulit jalan pikiran saya menemukan kesamaan antara kemerdekaan dan persaingan, terutama buat saya yang lemah fisik. Apakah merdeka adalah melulu hanya adu kuat, adu cepat, atau adu pintar? Hanya satu yang paling kunikmati dalam setiapkali menonton lomba-lomba itu, kelucuan para peserta saja! Terkadang hanya menertawai kebodohan dan kemalangan acap kali mereka jatuh atau gagal. Itu mungkin yang sedikit banyak menyegarkan perasaanku yang hanya bisa jadi penonton saja.

8-sampah.jpg8-sampah.jpgMencoba mengingat kembali momen 17an yang paling terkenang di kepala seakan seperti mengais remah-remah kenangan masa kecil saya nun jauh disana, di sebuah kampung pinggiran kota Makassar bernama Pannampu. Remah-remah itu teramat sulit untuk saya kumpulkan, untuk kemudian membentuknya menjadi mozaik yang indah sebagaimana kenangan kanak-kanak yang lain. Yang ada hanyalah mozaik yang buruk, serpihan dari kesedihan yang dibingkai dalam figura kekecewaan. Hanya bau busuk comberan dan sampah rumah tangga, kerumunan lalat, biakan cecurut, dan hiruk pikuk dari para pedagang yang tiada hentinya, sepanjang tahun-tahun masa kanak-kanak yang kulewati di Pannampu itu. Continue Reading »

Popularity: 19% [?]

Cuci Foto Kilat, yang tergerus Digitalisasi

daengrusle July 21st, 2007

Dimuat juga di Panyingkul: Tukang Cuci Foto Kilat Yang Tetap Bertahan

jamal1jamal1

Ditengah arus digital masih ada juga sistem cetak foto analog yang bertahan, Cuci cetak foto Kilat. Teknik cuci cetak foto nya masih menggunakan teknik cetak foto tradisonal, dengan memanfaatkan ruang gelap. Jasa cetak foto kilat ini masih digunakan orang karena alasan kepraktisan, sekali cetak foto hanya butuh waktu 10-15menit saja, juga karena harganya yang sangat terjangkau.

*************

Masa pendaftaran masuk sekolah adalah masa panen baginya, karena banyak calon siswa yang memanfaatkan jasanya. Pak Jamal, yang saya temui pagi itu di lapak cuci foto kilatnya yang berupa gerobak yang dimodifikasi, mengakui bahwa dalam sehari dia bisa dapat penghasilan hingga ratusan ribu rupiah, bahkan mencapai satu jutaan. Sehari sebelumnya, saya tidak memiliki kesempatan berbincang dengannya, karena antrian pelanggan yang hendak cuci photo. Barulah pada hari senin, saat pendaftaran anak sekolah sudah berakhir, dia bisa meluangkan waktunya untuk ngobrol. Menurutnya, kalau bukan musim pendaftaran sekolah atau tenaga kerja usahanya menjadi sepi, dia hanya bisa dapat paling banyak Rp 50ribu sehari bahkan terkadang tidak ada sama sekali. Oleh karena itu, selain menekuni usaha cuci foto kilat ini, dia juga mencoba bisnis sampingan lainnya.

Jasa cuci cetak foto kilat, yang kalau di pulau Jawa dikenal dengan sebutan afdruk, merupakan profesi yang ditekuninya sejak tahun 1984 sampai sekarang. Bermula ketika berkenalan dan menjadi asisten seorang fotografer asal Belanda, Mr Jacoop, dia belajar teknik cuci cetak foto. Kala itu, di setiap akhir pekan, Mr Jacoop mengajaknya ‘ hunting’ di pulau Kayangan, Kodingareng atau pulau-pulau lainnya sekitar Makassar. Setelah kembali, mereka bersama-sama mencuci foto-foto itu di ruang gelap milik Mr Jacoop. Ketika Mr Jacoop kembali ke Belanda, Jamal telah terampil mencuci photo. Dia menjadikan keterampilan barunya itu sebagai peluang untuk memulai usaha, dan dengan honornya dari Mr Jacoop, dia membeli alat cuci cetak foto yang saat itu berharga Rp 200,000. “Kalau dinilai dengan harga sekarang, sudah Rp 18juta,” katanya dengan bangga. Continue Reading »

Popularity: 20% [?]

Next »