Archive for the 'Feature' Category

Cuci Foto Kilat, yang tergerus Digitalisasi

daengrusle July 21st, 2007

Dimuat juga di Panyingkul: Tukang Cuci Foto Kilat Yang Tetap Bertahan

jamal1jamal1

Ditengah arus digital masih ada juga sistem cetak foto analog yang bertahan, Cuci cetak foto Kilat. Teknik cuci cetak foto nya masih menggunakan teknik cetak foto tradisonal, dengan memanfaatkan ruang gelap. Jasa cetak foto kilat ini masih digunakan orang karena alasan kepraktisan, sekali cetak foto hanya butuh waktu 10-15menit saja, juga karena harganya yang sangat terjangkau.

*************

Masa pendaftaran masuk sekolah adalah masa panen baginya, karena banyak calon siswa yang memanfaatkan jasanya. Pak Jamal, yang saya temui pagi itu di lapak cuci foto kilatnya yang berupa gerobak yang dimodifikasi, mengakui bahwa dalam sehari dia bisa dapat penghasilan hingga ratusan ribu rupiah, bahkan mencapai satu jutaan. Sehari sebelumnya, saya tidak memiliki kesempatan berbincang dengannya, karena antrian pelanggan yang hendak cuci photo. Barulah pada hari senin, saat pendaftaran anak sekolah sudah berakhir, dia bisa meluangkan waktunya untuk ngobrol. Menurutnya, kalau bukan musim pendaftaran sekolah atau tenaga kerja usahanya menjadi sepi, dia hanya bisa dapat paling banyak Rp 50ribu sehari bahkan terkadang tidak ada sama sekali. Oleh karena itu, selain menekuni usaha cuci foto kilat ini, dia juga mencoba bisnis sampingan lainnya.

Jasa cuci cetak foto kilat, yang kalau di pulau Jawa dikenal dengan sebutan afdruk, merupakan profesi yang ditekuninya sejak tahun 1984 sampai sekarang. Bermula ketika berkenalan dan menjadi asisten seorang fotografer asal Belanda, Mr Jacoop, dia belajar teknik cuci cetak foto. Kala itu, di setiap akhir pekan, Mr Jacoop mengajaknya ‘ hunting’ di pulau Kayangan, Kodingareng atau pulau-pulau lainnya sekitar Makassar. Setelah kembali, mereka bersama-sama mencuci foto-foto itu di ruang gelap milik Mr Jacoop. Ketika Mr Jacoop kembali ke Belanda, Jamal telah terampil mencuci photo. Dia menjadikan keterampilan barunya itu sebagai peluang untuk memulai usaha, dan dengan honornya dari Mr Jacoop, dia membeli alat cuci cetak foto yang saat itu berharga Rp 200,000. “Kalau dinilai dengan harga sekarang, sudah Rp 18juta,” katanya dengan bangga. Continue Reading »

Popularity: 26% [?]

Daeng Hamzah: Melawan Arus, Memilih Hidup Malempu’

daengrusle July 16th, 2007

dimuat juga di Panyingkul: Daeng Hamzah Melawan Arus, Memilih Hidup Malempu’

bex1

Nasib adalah rahasia milik Tuhan. Kita, manusia kecil ini, tak bakal tahu akan menjadi apa di kemudian hari. Pun walau rencana telah terurai. (Daeng Hamzah)

Minggu Subuh depan pasar Pannampu, saya menunggu taxi atau pete-pete. Ada janji dengan teman blogger di Losari untuk jualan kuisi - kue dengan selembar puisi, dan mengejar sunrise. Sepuluh menit berlalu, yang lewat hanya becak dan sepeda bermuat sayur. Pasar umumnya, memang memulai geliat nya di subuh hari. Saat kota masih lelap, saat kokok ayam masih satu-dua, saat ufuk di timur masih sipit, para pedagang berdatangan, menghantar kesegaran. Iqomat Subuh sayup-sayup memanggil yang masih lelap untuk kali terakhir. Sembahyang lebih utama dari lelap.

Tak sabar menunggu, saya kemudian menyetop becak berjok putih. Bentuknya khas becak makassar, kecil persegi – hanya muat dua orang dewasa, tidak aerodinamis. Becak makassar lebih simpel, bagian depan tempat penumpang duduk berbentuk segi empat. Dua roda sepeda diikat oleh besi pipa dibawah dudukan dari papan kayu setebal jempol orang dewasa. Jok penumpang biasanya dibuat dari jejeran karet ban yang dipotong memanjang dan diatur bersilangan, kemudian dilapisi sabuk kelapa atau spons dan dibungkus plastik tebal. Lantai pijakan penumpang dibuat rata dengan jalan. Atapnya dari terpal dengan rangka besi pipih selebar belebas anak SD. Disisi depan atas, biasanya ditempatkan gulungan plastik transparan sebagai pelindung di saat hujan. Dua buah papan kecil berukuran 20×20 cm ditempatkan di muka becak, diatas bemper dari sebatang pipa besi besar berdiameter 5cm. Daeng Becak duduk di bagian belakang yang berbentuk seperti sepeda ontel dicomot belakangnya. Dua batang besi bulat sejajar menghubungkan belakang becak dengan kursi penumpang, dengan as di bawah jok, yang berfungsi untuk bermanuver. Mengayuh pedal tak perlu bersusah-susah, karena jaraknya rendah dari sadel. Sadelnya rendah sejajar jok. Rem tangan berbentuk leher angsa ditaruh tepat dibawah selangkangan, dihubungkan dengan roda belakang. Kaki yang jenjang tidak menjadi syarat untuk menjadi daeng Becak. Yang penting kaki harus kuat dan keras, walau kemudian rentan kena varises. Bentuk sederhana becak makassar tentu menyesuaikan dengan topografi kota yang datar saja. Beda dengan di Jawa, yang becaknya besar dan bulat dengan sadel pengemudi yang tinggi dibelakang. Kalau penumpang hendak naik, bagian belakang becak harus diangkat menungging. Saat mengayuh, kaki menjinjit dan pantat naik turun, seperti bebek kalo berjalan.

Tidak seperti taxi atau pete-pete, tidak ada standard tarif untuk becak. Apalagi untuk rute dan tujuan yang tidak jelas. Biasanya, daeng Becak akan memulai dengan bertanya, “berapa biasanya kita bayar? Kalau kita tidak tahu tarif ‘biasa’ itu, mereka akan coba menyebut angka sebesar dua atau tiga kali tarif pete-pete yang sekali jalan dibanderol Rp 2000, tapi tidak akan semahal ongkos taxi, yang kalau di Makassar tarif buka pintunya sudah Rp 4700. Setelah melewati negosiasi yang mudah, saya bergegas naik di dudukan penumpang. Untuk memastikan harganya sudah pas, dia menanyakan lagi tujuan saya, “itu tempat yang kita bilang dekat jalan masuk ke Tanjung Bunga toh pak? Saya mengiyakan. Continue Reading »

Popularity: 9% [?]

Masih ada Pabbalu lipa’ yang akan lewat

daengrusle March 9th, 2007

Juga Dimuat Di Panyingkul: Masih ada pabbalu’ lipa yang akan lewat.

Masih ada Pabbalu lipa’ di jaman ini…..

Sewaktu masih kanak-kanak di Pannampu, rumah saya sering menjadi tempat persinggahan (transit) para pabbalu lipa’ ini, karena kebetulan Makassar merupakan juga pelabuhan penyebeerangan ke pulau-pulau lainnya di seluruh Indonesia. Tujuan utama mereka Kalimantan, Papua, atau Sumatera. Setiap mereka datang, aroma khas lipa’ sabbe (sarung sutera) dan lipa’ cello (sarung berbenang non sutra) selalu menjadi kenangan tersendiri, selain tentu saja kelakar para pabbalu lipa’ yang terkenal pandai bercerita sambil berguyon. Lipa’-lipa’ tak ber merk (no brand) ini dibungkus dalam kain sarung besar, pernah sewaktu kanak-kanak itu saya mencoba mengangkat gulungan yang mungkin mencapai 400 sarung, namun tak pernah berhasil.

pabbalu lipa’Beberapa malam yang lalu saya kedatangan tamu, La Nuhong, paman saya yang tinggal di Ujung Baru, Sempangnge, Wajo, bersama 3 orang rekan nya dari Sempangng. Mereka adalah pabbalu lipa’ yang sedang berjualan di sekitar Balikpapan. Awalnya saya kaget mereka datang, dengan mengendarai 2 sepeda motor ber-plat DD (plat nomor Sulawesi Selatan), mengunjungi rumah saya di Balikpapan. Kekagetan saya dikarenakan kenyataan bahwa masih ada pabablu lipa’ di zaman serba praktis ini. Sepengetahuan saya, Sarung sutra asal Sengkang sudah banyak dijual di mall-mall di seluruh Indonesia, bahkan saya pernah menemukan seorang Batak berjualan Sarung Sutra asal Sengkang di atas jembatan penyeberangan UKI, Jakarta Timur. Jadi kita hanya perlu ke pasar/mall untuk mencari sarung sengkang, tak perlu menunggu kiriman saudara di kampung, apalagi menunggu pabbalu lipa’ datang berkunjung ke rumah. Continue Reading »

Popularity: 9% [?]

Makassar Mini di Balikpapan

daengrusle September 21st, 2006

Dimuat juga di Panyingkul: Kabar Perantau:
Makassar Mini di Balikpapan

Dikenal sebagai kota minyak yang menjanjikan kemakmuran, tak dapat dipungkiri Balikpapan menjadi surga bagi pendatang, termasuk para passompe dari ranah bugis makassar. Tak kurang dari 30% dari total penduduknya merupakan pendatang asal sulawesi selatan (bugis, makassar, mandar, toraja), selebihnya berasal dari jawa, sunda, banjar, batak, melayu, flores dan sedikit suku dayak. Di kota yang berpopulasi sekitar 600,000 jiwa, tanpa penduduk asli ini, nuansa bugis dan makassar bisa dijumpai di banyak tempat, dari penganan kecil, sampai nama jalan nya. Sehingga tak aneh kalo kita menyebut kota kecil nan bersih ini sebagai Makassar Mini.

Jika anda ingin menikmati angkutan murah di Balikpapan, cobalah menumpang taxi yang muat sampai 9 orang, ongkos terjauh hanya Rp 3,000. Lho kok bisa? Tidak usah heran, taxi adalah sebutan umum untuk angkot berbentuk mikrolet atau toyota kijang di Balikpapan, sedang untuk taxi yang ‘asli’ mereka menyebutnya ‘argo’, walaupun banyak taxi tersebut tidak terbiasa menggunakan argometer alias borongan. So, anda akan menumpang taxi dengan nomor trayek dan jalur tertentu pula, kecuali kalo diatas jam 9 malam, sopir taxi ini akan melayani anda untuk rute apapun dan kemanapun sesuai orderan. Taxi di Balikpapan ini agak lebih manusiawi dalam memperlakukan penumpangnya, deretan kursi penumpang menghadap ke depan sebagaimana umumnya mobil, tidak seperti saudaranya pete’-pete’ di Makassar atau kota lain yang penumpangnya duduk berhadap-hadapan. Juga, jarang ditemui taxi dengan full capacity, biasanya maksimal hanya ditumpangi oleh 4-6 penumpang. Selain untuk kenyamanan penumpang, juga ada kesepahaman tak tertulis diantara sopir taxi Balikpapan untuk berbagi rejeki dengan sesama sopir taxi. Bagi anda perantau asal Sulawesi Selatan yang lumayan mengerti bahasa bugis dan makassar, taxi yang juga bisa berfungsi sebagai studio musik ini bisa memanjakan anda dengan lagu pengiring dari bugis makassar, dari lagu bugis abadi semisal ‘mabbura mali dan sajang rennu’ sampai lagu pop mutakhir dari Art2Tonic dan Ribas bisa juga anda nikmati. Perbincangan di atas angkot pun acapkali menggunakan bahasa bugis dan makassar, karena hampir 70% sopir taxi di kota ini merupakan pendatang asal bugis makassar. “Tau Ogi tokki pale’na?, Ogi pole fegaki?” sapaan akrab Kahar, sopir taxi nomor 3 ini, ketika tahu kalau saya juga berasal dari Bugis. Sesekali, jika kebetulan duduk di samping sopir bugis semisal Kahar ini, saya akan menanyakan kenapa jauh-jauh cari uang ke Balikpapan, hampir semua jawabannya seragam, “disini, walaupun apa-apa mahal, tapi gampang sekali gappa doe, perputarannya cepat cess…”, itu juga sebabnya mereka betah dan bahkan, mengajak saudara-saudara mereka di kampung untuk hijrah ke Balikpapan. Kalau anda menyempatkan diri menumpang taxi nomor 3, maka akan melewati daerah bernama Karang Bugis, dan juga Jalan Bonto Bulaeng. Di daerah karang Bugis ini juga, berdiri Pondok Pesantren Hidayatullah, yang dikenal sebagai Pesantren dengan cabang terbanyak dan terbesar di Indonesia. Pendiri nya adalah perantau asal Makassar, almarhum ustad Abdullah Said, atau juga dikenal sebagai ustad Mukhsin Qhahhar. Pengajar dan santri nya juga banyak berasal dari Bugis Makassar.

Lain lagi dengan penjual Sanggar ini, dari logat bicaranya yang medok, orang akan mudah menaksir asalnya dari suku Jawa, apalagi ketika tahu namanya, Mas Bagong. Sehari-harinya dia berjualan sanggar di sebuah kedai kecil di kilo 2, pinggiran kota Balikpapan. Jangan mengirta bahwa sanggar ini semacam tempat kongkow2 para pencinta seni, tapi sanggar ini adalah nama lain dari pisang goreng yang kita kenal, penganan gorengan khas merakyat yang digemari oleh semua lapisan masyarakat. Lho, kenapa kok nama pisang goreng berubah jadi sanggar? Beberapa orang Balikpapan yang saya temui berusaha menjelaskan bahwa sanggar adalah singkatan untuk pisang goreng, dengan menggabungkan suku kata akhir di kata pisang dengan suku kata awal di kata goreng dengan penyesuaian huruf o menjadi a. Namun, saya yang besar di makassar, punya pemahaman yang lain. Sejatinya, sanggar adalah sebutan awam untuk pisang goreng di makassar (sanggara’). Entah, karena banyaknya penggemar pisang goreng yang berasal dari makassar, sehingga mereka merasa berhak menamakan penganan nikmat di pagi hari itu dengan sebutan dari daerahnya. Di Balikpapan, beberapa kata asal bugis makassar terserap menjadi istilah umum masyarakat kota itu, semisal kata mandre untuk makan, buto untuk (maaf) kelamin pria, badik untuk semua senjata pisau, kaluruk untuk rokok, sekke’ untuk pelit, pale’ untuk imbuhan sekalinya/kalo begitu dan lain-lainnya.

Di kecamatan Gunung Sari, tepatnya di Gang Maryati, sekiranya perlu, Anda bisa singgah menunaikan sholat di Masjid Andi Massiona. Nama masjid diambil dari nama pemberi wakaf tanah dan bangunannya, yang sudah barang tentu merupakan nama khas bugis. Di daerha maryati yang agak padat ini juga, sekitar 80% penduduknya merupakan pendatang asal bugis makassar. Tak heran kalau bahasa sehari-hari mereka menggunakan bahasa bugis dan makassar. Di ujung gang, anda bisa berhenti sebentar membeli penganan ‘pisang gapit’ yang menurut penjualnya yang bersuku jawa, merupakan penganan hasil modifikasi dari ‘pisang epe’ yang dikenal di makasar. Kalau di makassar, pisang epe dibuat dari pisang raja yang dibakar kemudian di jepit, dan diberi parutan kelapa dengan gula merah cair, maka pisang gapit ini diproses dengan cara yang sama hanya di’gunting-gunting’ menjadi kecil-kecil sebesar koyo dan dihidangkan ke dalam piring kecil berisi gula merah cair. Rasanya manis dan enak, se-enak pisang epe di pantai Losari. Bila anda penggemar Coto Makassar, Sop Saudara dan Konro, anda akan dengan mudah menemukan warung coto di Balikpapan karena hampir di setiap sudut kota terutama di kawasan Sudirman dan Klandasan, akan banyak dijumpai warung coto, sebanyak toko penjual krupuk amplang, krupuk dari ikan khas Balikpapan. Namun disini, coto disajikan agak berbeda dengan di Makassar, hampir semua warung mengolah kuah coto dengan menambahkan santan, sehingga mungkin agak kurang nikmat menurut saya karena bisa mengaburkan rasa coto aslinya. Bagi anda penggemar Kapurung dan Pallu Mara, anda hanya bisa menikmati makanan berlendir ini di Warung Palopo, yang berlokasi di daerah Manggar, Selatan Balikpapan

Pendatang asal Bugis Makassar diduga berdatangan ke kota Balikpapan sejak dekade 60-an, umumnya bekerja di sektor non formal, dengan menekuni pekerjaan kasar mulai dari menjadi sopir angkutan kota, pedagang sayur dan ikan, buruh kontraktor, tukang kayu dan bangunan sampai ke preman pasar. Teman saya orang Makassar yang bekerja sebagai tenaga Security Chevron bertutur bahwa kerabat dia merupakan ‘orang’ yang ‘pegang’ kompleks Plaza Rapak, so kalau ada perlu sesuatu jangan sungkan-sungkan beritahu dia. Memang agak tragis bahwa orang bugis makassar yang dikenal bertemperamen keras malah meninggalkan kesan negatif bagi penduduk Balikpapan, dan tidak jarang keonaran dipicu oleh perkelahian yang melibatkan suku Bugis Makassar ini, walaupun demikian, rekan kerja saya yang juga asli Bugis mengatakan bahwa ini semacam ‘blessing in disguise’ karena orang sekitar akan menjadi segan terhadap kita kalau sekiranya mereka tahu bahwa kitra orang bugis makassar. Agak memilukan sebenarnya. Saya tidak tahu apakah kriminalitas ini menjadi pemicu diberlakukannya regulasi ‘uang jaminan’ oleh Pemkot Balikpapan bagi para pendatang yang hendak menjadi warga kota, dimana para pendatang ini diwajibkan untuk membayarkan uang jaminan sebesar harga tiket mudik (untuk pendatang Sulawesi, nilainya sebesar Rp 300,000/jiwa selama 6 bulan). Uang jaminan akan dikembalikan utuh sekiranya si pendatang dapat membuktikan bahwa dia sudah bekerja setelah 6 bulan. Sekiranya si pendatang dalam kurun 6 bulan tidak mendapatkan pekerjaan, maka uang jaminan ini bisa dipakai oleh aparat Pemkot untuk me’mulang’kan si pendatang ke daerah asal.

Tapi tidak sedikit juga orang bugis makassar yang menjadi pekerja formal, dari pegawai kantor perusahaan minyak; pertamina, chevron, total dan vico, juga banyak yang menjadi pegawai negeri. Bahkan di periode sebelumnya, Mukmin Haeruddin yang asli Bugis, berhasil menduduki kursi wakil walikota, dan kemudian maju menjadi calon walikota Balikpapan di periode selanjutnya, namun kalah di pilkada 2006. juga beberapa nama lain lumayan berkibar memenuhi daftar pengurus cabang partai. PDK, yang didirikan oleh pak Ryaas Rasyid juga bisa menangguk suara yang lumayan banyak di Balikpapan ini, terutama karena didukung oleh suara para passompe. Paguyuban daerah semacam KKSS (Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan) dan KKM (Kerukunan Keluarga Mandar) juga tumbuh berkembang di kota ini, bahkan organisasi massa ini kerap memiliki pengaruh yang besar terhadap kebijakan publik pemerintah kota.

Di hampir semua kota rantauan para passompe di Indonesia, mulai dari Jakarta, Cilacap, Cirebon, Surabaya, Jambi, Riau dan juga Balikpapan, agak sulit rasanya memisahkan orang bugis makassar dari pelabuhan. Ibarat kumbang dan bunga nya atau borok dan lalatnya, dimana ada pelabuhan, disitu banyak dijumpai orang Bugis Makassar. Di Balikpapan, ada dua pelabuhan besar tempat singgah kapal Pelni, yakni pelabuhan Semayang dan pelabuhan Kampung Baru. Dan berbicara tentang orang Bugis di Balikpapan, tidak klop rasanya tanpa mengaitkannya dengan Kampung Baru. Walaupun bernama Kampung Baru, kecamatan ini malah tergolong paling kumuh dengan tingkat kriminalitas tertinggi di Balikpapan. Orang Balikpapan kadang memberi sebutan ‘daerah Texas’ untuk kecamatan Kampung Baru ini. Jangankan orang non-Bugis Makassar, orang Bugis Makassar pun merasa perlu berhati-hati sekiranya punya keperluan di sini. Di sepanjang jalan yang membelah distrik pelabuhan ini, tidak terlalu sulit menemukan istilah-istilah bugis makassar. Mulai dari nama toko “Sinjai Putra, Putra Wajo, Wija to Bone,” warung ikan bakar, sampai kedai cukur pun penuh dengan nuansa Bugis Makassar. Bila anda membutuhkan menikmati ikan Baronang bakar dengan sambal khas bugis, carilah di Kampung Baru, namun anda mesti siap merogoh kocek dalam-dalam karena harga yang dipatok lumayan mahal, bisa dua kali lipat dari harga di Makassar atau Muara Angke, Jakarta. Di Kampung Baru ini juga, setiap selasa dan jumat pagi, anda bisa berburu barang-barang selundupan dengan harga miring di atas kapal pelni yang berlabuh dari Tarakan. Tapi menurut orang, sekarang banyak yang didagangkan barang palsu dengan harga yang cenderung sama saja dengan harga di darat. Bagi orang Bugis Makassar yang mau mudik, bisa menumpang kapal ini karena setelah selesai dengan aktifitas ‘pasar kaget’ ini, kapal tersebut akan berlayar menuju pelabuhan Makassar atau Pare-pare. Selain kapal Pelni, juga banyak kapal feri yang melayani rute Balikpapan - Mamuju pp. Bagi yang berduit lebih, bisa menikmati perjalanan Udara dengan pesawat Merpati dan Lion Air yang melayani rute Balikpapan-Makassar setiap hari

juga dimuat di http://panyingkul.com

Popularity: 10% [?]

Danau Matano, keindahan yg tersembunyi!

daengrusle August 31st, 2006

Dimuat juga di Panyingkul: Danau Matano, Paduan Keindahan dan Keunikan Alam

Mungkin sebahagian orang di Indonesia kurang mengenal atau mendengar nama Danau Matano, yang merupakan danau terdalam di Asia Tenggara dan terdalam ke-8 di dunia (600mtr depth), bahkan di Sulawesi Selatan, danau Tempe (Wajo) dan danau Towuti (Malili) lebih sering diperbincangkan. Namun, bagi masyarakat Sorowako umumnya, dan PT International Nickel Indonesia khususnya, perusahaan penambangan nikel terbesar dunia yang area pertambangannya meliputi Sorowako- danau Matano merupakan sumber energi dan penghidupan yang sangat vital, sehingga ketergantungan terhadap danau Matano ini sangat tinggi. Danau Matano sendiri terletak di Sorowako, kecamatan Nuha, Kabupaten Luwu TImur, Sulawesi Selatan. Letaknya berbatasan dengan Sulawesi Tengah dan Sulawesi Tenggara.

Dengan panorama indah yang dikelilingi oleh pegunungan Verbec, danau Matano ini sangat layak dijadikan tujuan wisata. Pasir pantainya yang putih, dengan ombak yang ramah namun masih memungkinkan untuk berolahraga air semisal renang, layar, ski air, kano dan menyelam. Kecerahan air yang mencapai 23meter sangat menggoda untuk olahraga snorkling dan diving, apalagi ikan-ikan yang hidup di danau ini merupakan ikan yang sangat khas dan tidak dijumpai di daerah lain. Beberapa event lokal dan nasional pernah diselenggarakan disana, sebutlah lomba perahu dayung tahunan, Sunday market, year end party PT INCO, sampai kompetisi renang nasional PRSI menyeberangi danau Matano. Di daerah Sorowako ini, ada tiga pantai yang kerap dikunjungi masyarakat dan karyawan PT INCO yakni pantai Old Camp, pantai Idee (Pontada) dan pantai Kupu-kupu (Salonsa). Di sisi danau lainnya, desa Nuha, Tapulemo dan desa Matano, juga memanfaatkan danau matano sebagaimana masyarakat Sorowako.

Danau Matano, yang berarti mata air dalam bahasa Dongi, bahasa asli Sorowako, terbentuk dari ribuan mata air yang muncul akibat gerakan tektonik; lipatan dan patahan kerak bumi yang terjadi di sekitar daerah litosfir yang membutuhkan waktu lama untuk terisi oleh air dan membentuk danau sekitar 4juta tahun yang lalu. Di area Sorowako, juga terbentuk dua danau lainnya, danau Mahalona (kedalaman 60mtr) dan danau Towuti (kedalaman 200mtr). Air yang mengalir dari Danau Matano dialirkan melalui sungai Larona ke Danau Mahalona kemudian ke Danau Towuti dan selanjutnya menuju muara melalui sungai Malili dan berakhir di Laut Bone. Sungai inilah yang menjadi penggerak dua PLTA milik PT Inco Tbk, yaitu PLTA Larona dan PLTA Balambano. Bahkan tidak lama lagi Inco juga akan membangun PLTA yang ketiga yang sumber energinya berasal dari Danau Matano, yaitu PLTA Karebbe.

Danau Matano tak hanya terkenal karena panorama alamnya yang mempesona. Di sana juga ternyata menyimpan banyak keunikan. Dari letak dan komposisi kimianya yang khas hingga kekayaan fauna endemik yang hanya dapat ditemukan pada danau tersebut. Dan yang paling membanggakan pula, dari penelitian yang telah dilakukan, ditemukan tidak terjadi perubahan signifikan terhadap ekosistem danau sejak 1930-an hingga saat ini. Bahkan karena kekhasannya, beberapa ilmuan menilai danau di Sorowako, terutama Danau Matano patut diusulkan menjadi world heritage. Bagi PT Inco, hasil kajian dari para ahli lingkungan tentu sangat menggembirakan. Fakta ini sekaligus membantah tudingan banyak pihak bahwa danau yang digunakan PT Inco sebagai PLTA telah tercemar limbah PT Inco.

Posisi dasar danau sangat khas, dimana letaknya lebih rendah daripada permukaan laut. Suatu gejala alam yang langka di dunia, hanya dilampaui oleh laut Mati, di lembah Jordan Mesir. Danau Matano juga bersifat isotermal, yang berarti beda suhu antara permukaan dan dasar danau kurang dari dua derajat celsius. Kecerahan air 23 m, padahal banyak danau lain di Indonesia hanya beberapa meter bahkan dm saja. Sifat khas lain di jumpai di dekat Desa Matano dimana beberapa mata air muncul dari dasar danau. Lalu pada kedalaman 200-300 m dapat dijumpai kolam ikan dengan indikasi aliran gravitasi di dasar danau. Jenis flora dan fauna yang hidup di Danau Matano bersifat endemic yang masih terjaga dengan baik. Secara awam, flora dan fauna endemik adalah mahluk hidup yang hanya ditemui di suatu tempat dan tidak bisa ditemukan di tempat yan lain.

Diolah dari berbagai sumber:1. Catatan pribadi, selama bekerja di PT INCO (2004-2006) 2.Internasional Symposium the Ecology and Limnology of The Malili Lakes – LIPI, 20-22 Maret 2006 di Hotel Salak, Bogor-Jawa Barat. Atas izin pihak Govrel PT INCO 3. Wikipedia 4. WeBlog: http://jalansutera.com, Weblog pribadi milik Pujiono (melalui konfirmasi)

Popularity: 14% [?]

Kisah Passompe dari Sempangnge

daengrusle August 22nd, 2006

Dimuat juga di Panyingkul: Kisah Passompe dari Sempangnge

Potret Transformasi geografis dan sosiologis lelaki bugis

Oleh: Wijanna LaNori

Orang sekitar akrab memanggilnya La Caba’, lelaki 35 tahun asal SempangngE, Wajo. Nama lengkapnya Baharuddin Ompeng, beristrikan Nurdiana, wanita Bugis kelahiran Samarinda dan memiliki anak angkat/keponakan bernama Wahyu, 6tahun. Di usianya yang tergolong muda itu, orang awam akan menaksir usianya 10tahun lebih tua. Perawakannya kecil agak membungkuk, rambut gondrong jauh dari kesan rapi, berkulit gelap mengkilap seakan terbakar, buah dari hasil mangempangnya di Muara Badak selama lebih kurang 5 tahun. La Caba’ tergolong gesit dan tangkas, murah senyum dan senang bercanda dengan orang lain. Dulunya dia adalah seorang pabbalu lipa’ yang merantau dari kampung ke kampung di luar pulau Sulawesi. Sempat menginjak tanah Sumatera, Kalimantan bahkan Kupang untuk berjualan lipa sabbe hasil tenunan Sengkang, tepatnya daerah SempangngE, tempatnya dilahirkan. Namun kini, dia adalah petani petambak, atau dalam bahasa lokalnya, pangempang. Dari hasil mangempangnya yang seluas 7hektar itu, dia dapat membeli sebidang tanah rawa di Mangkupalas, Samarinda Seberang dan membangun sendiri, sebuah rumah kayu panggung diatasnya.

Di penghujung tahun 1980an, selepas SMA di SempangngE, La Caba’ turut beserta pemuda-pemuda sekampungnya massompe (merantau) ke luar Sulawesi, dengan menjadi pabbalu lipa’ sabbe, pedagang sarung Sutera (lipa sabbe’) berkeliling Indonesia. Umumnya, daerah yang dituju adalah Sumatera, Kalimantan, Nusa Tenggara, atau Papua. Namun ada juga yang berjualan lipa sabbe di pulau Sulawesi juga, dari Makassar, Takalar, sinjai, luwu, Palu, Banggai, sampai ke Gorontalo. Beberapa dari mereka sempat juga menjejakkan kakinya di daratan Jawa, namun tidak banyak, mungkin dikarenakan keberadaan Sarung Pekalongan atau kain batik yang juga mendominasi waktu itu. Disetiap kota, biasanya para pabbalu lipa’ ini menyewa sepeda motor utnuk membantu mobilitas mereka untuk menjajakan lipa sabbe nya dari kampung ke kampung. Di dekade sebelumnya, para pabbalu lipa ini hanya berjalan kaki dari kampung ke kampung, kadang pekerjaan ini mengundang resiko tinggi, bahkan nyawa mereka. La Caba’ bertutur, dulu di tahun 1960-an, La Tellong bin Ompeng - kakak lelakinya lain ibu, dirampok dan dibunuh bersama rombongannya ketika mabbalu lipa’ di pedalaman Barru atau Sinjai, kuburannya tidak diketahui sampai sekarang.

Motivasi para pemuda SempangngE massompe umumnya selain karena alasan ekonomi, juga didorong oleh semcam budaya atau persepsi yang turun temunrun bahwa lelaki bugis dikatakan sukses apabila sudah pernah massompe, mengadu nasib di negeri orang. Banyak cerita sukses dibalik budaya massompe’ ini, namun tidak sedikit juga yang kembali dengan tidak membanggakan, bahkan tidak jarang hanya nama saja yang kembali alias meninggal di tanah sompe’ (tanah rantau). Beberapa diantara mereka pulang setelah 1-3 tahun, namun ada juga yang memilih untuk tidak kembali, terlebih karena penghidupan di sompe’, negeri orang, lebih baik ketimbang kembali ke negeri sendiri. Seorang sepupu Caba’, La Taming, memilih bermukim di Malaysia sejak 30 tahun lalu, dan sampai hari ini juga tak pernah mengirim berita. Para pabbalu lipa’ umumnya lebih sering kembali ke kampung, terlebih setelah dagangan lipa sabbe’nya habis setelah beberapa bulan, untuk kemudian berangkat lagi dengan membawa lipa’ sabbe baru. Profit margin dari berjualan lipa sabbe ini umumnya cukup tinggi, bisa sampai 10kali lipat harga pokok lipa sabbe’. Lipa sabbe ini dibungkus dalam beberapa bungkus kain lipa juga, tiap bungkusnya berjumlah paling sedikit 10 kodi (1kodi=20sarung), beratnya bisa mencapai ratusan kilo. Bisanya lipa sabbe ini diambil dari seorang ’boss’ yang bertindak menjadi ’sponsor’ dan distributor. Setiap pabbalu lipa mengantongi sejumlah uang dari sang Boss untuk biaya perjalanan dan akomodasi selama mabbalu’ lipa’. Namun, ada juga pabbalu lipa yang berangkat dengan swadaya dari hasil tenunan istri atau perempuan keluarga di rumah. Wanita bugis, sejak berusia baligh, umumnya sudah mahir memainkan alat tenun yang biasa di tempatkan di bawah rumah panggungnya. Satu lipa sabbe nya bisa diselesaikan dalam 3hari sampai 1 minggu, tegantung tingkat kesulitan corak dan bahannya. Mereka kadang meracik sendiri cello’nya (warna), sehingga awam didapati jemari tangan wanita Bugis ini berwarna merah kebiruan hasil meracik wennang cello (warna benang)tenunannya.

Kembali ke cerita La Caba’, setelah berdagang lipa sabbe bersama kakak lelakinya La Sawang selama lebih kurang 10 tahun, akhirnya di awal tahun 2000an, dia singgah di Samarinda Seberang, di area Mangkupalas, daerah yang dia sebut sebagai ”ogi Mammesseng’ atau bugis semua, berkenalan dengan beberapa orang Bugis disana, kemudian memperistri salah seorang putri juragan Empang setempat, Haji Haddise. Kemudian dimulailah transformasi kehidupannya, berbekal tabungan hasil mabbalu lipa sabbe urunan bersama kakaknya La Sawang, dia membeli empang seluas 7 hektar milik mertuanya di kawasan Muara Badak, atau lebih sering disebut Muara saja. Kakaknya sendiri, La Sawang, karena keterbatasan fisik, lebih memilih menjadi seorang penarik Ojek Motor di daerah Loa Janan, Samarinda Seberang juga, sekitar 5km dari Mangkupalas.

Ditemani oleh adik lelakinya, La Saha yang dibawanya dari kampung SempangngE, dia menggarap dan mengolah empang ini untuk menghasilkan udang windu dan kepiting untuk kemudian dijual ke tengkulak setempat. Tengkulak, atau dia lebih senang memanggilnya sebagai ’Boss’, umumnya lebih berfungsi sebagai Godfather bagi para pangempang asuhannya, mulai dari membantu biaya ’pengolahan’ empang dari berwujud rawa menjadi empang yang produktif, sampai ke bantuan biaya mendirikan rumah para pangempang. Namun, sesuai perjanjian awal diantara keduanya, hasil empang ini berupa udang atau kepiting harus dijual ke ’Boss’ ini. Harga yang dipatok lumayan tinggi, untuk Udang Windu kualitas ekspor yang rata-rata sebesar telapak tangan laki-laki dewasa, dihargai Rp 150,000/kilogram. ”Tapi, kalo udangnya ada cacatnya, misalnya sisiknya kurang bagus, maka tidak akan diterima oleh Boss, karena tidak bisa diekspor”, katanya, ”harga udang yang ’cacat’ akan jatuh ke kisaran Rp 15,000/kg saja, nah ini yang biasanya dijual di pasar lokal saja”. Para pangempang ini hanya memproduksi udang dan kepiting, karena nilai jualnya yang tinggi karena berorientasi ekspor. Untuk jenis ikan bolu/bandeng atau ikan lainnya, mereka tidak begitu bersemangat, karena umumnya hanya untuk konsumsi lokal dengan harga maksimal Rp 15,000/kg.

Untuk perjalanan ke Muara, La Caba menggunakan speed boat dari kayu yang juga dibelinya atas jasa baik “Boss’nya. Perjalanan ke Muara ini ditempuh dalam waktu 3 jam dengan menyusuri sungai Mahakam. Jadwal mangempang di Muara ini biasanya selang seminggu-seminggu, artinya seminggu di Muara, seminggu balik ke Mangkupalas. Kadang-kadang kalau musim panen udang, dia bisa tahan sampai 2 minggu di Muara. Dalam setahun, La Caba bisa panen 3kali, setiap panen bisa menghasilkan keuntungan bersih sebesar Rp. 30juta. Duit inilah yang ipakainya untuk membeli investasi tanah dan membangun rumahnya di Mangkupalas. Juga, sekiranya perlu, dia mengirimkan duit hasil empang ini ke kakak-kakaknya yang masih bermukim di SempangngE.

Bulan mei kemaren, La Saha, adiknya menikah dengan gadis bugis setempat, dan kemudian memutuskan untuk kembali ke Sempangnge beserta istrinya, tidak menjadi pangempang mengikuti kakaknya. Kini, La Caba, ditemani istri tercintanya mengurus empang berdua. Kelihatannya, dia akan menghabiskan sisa hidupnya menjadi pangempang di Muara, tidak berniat kembali lagi ke SempangngE, Wajo.

Popularity: 10% [?]

« Prev