Archive for the 'Opini' Category

[percik] sedikit ber-filsafat soal keyakinan yang memuaskan

daengrusle April 28th, 2008

mahdi-membangun-menara-kotak.JPGAda yg mengatakan bahwa keyakinan itu batas nya hanya persoalan kepuasan belaka. ketika keyakinan itu mampu menjawab mayoritas pertanyaan substansial seseorang ttg kehidupan secara memuaskan, maka ia menjadi ‘keyakinan’ yang dibawa selama hidup…

Namun ketika ada keyakinan lain yang datang dan memberi jawaban yang relatif ‘lebih’ memuaskan, maka ia boleh berpindah…makanya kemudian kita banyak menyaksikan orang convert their faith to another one

Makanya dalam jagad alam pikiran seseorang, sesuatu yang bersifat dogmatis, doktrin - yg wajib terima - dan sebagainya, ter-negasikan karena persoalan kemampuan menjawab permasalahan substansial manusia tidak mewujud secara rasional….

Dalam permasalahan tertentu yang tidak ada jawaban exactnya, maka pendekatan2 semi rasional dan rasional dikemukakan oleh para filsof dari masing2 ranah keyakinan…nah, jawaban2 mana yang lebih memuaskan, berpulang kepada pendekatan subyektif penerima nya…

Wallahu ‘alam bis showab

Popularity: 73% [?]

[Buku] The Perfect Guys dan Ayat-Ayat Cinta

daengrusle April 19th, 2008

Ayat-Ayat+CintaApa salahnya menjadi the perfect guys? Ada salahnya. Di tengah masyarakat yang serba tak sempurna, serba kompromi kepada ke-terbatas-an Anda akan divonis berada hidup di awang-awang, dengan menjadi manusia ‘aneh’. Kalau anda merasa orang yang sadar dan normal, maka ketika Anda berada di dalam quadran masyarakat yang serba tak sempurna, maka Anda adalah setitik noktah koordinat yang tidak bersinggungan dengan garis linear apapun, kecuali di interpolasi sedemikian rupa hingga seolah-olah Anda berada di dalam struktur dan sistem nya, hanya karena keberadaan fisik Anda diakui dalam bentuk statistik. Ya, Anda adalah manusia sinting di tengah masyarakat waras. Masyarakat yang waras yang lebih suka berdalih bahwa kemanusiaan itu berarti ketidaksempurnaan. Lihatlah pemeo masyarakat “rocker juga manusia, presiden juga manusia, artis juga manusia, hingga ulama juga manusia”. Semuanya adalah penegasan atas sikap permisif atas ketidak sempurna-an kapasitas moralitas seseorang. Namun di saat yang lain, masyarakat jenis ini mudah dihinggapi sikap munafik, karena masih saja menyenangi menggunjingkan kebobrokan dan kemerosotan moral perilaku manusia di dalam nya.

Apa salahnya menjadi the perfect guys? Ada salahnya. Siap-siap saja menjadi bahan cemoohan oleh orang-orang yang tak sanggup menjadi sempurna, meski sangat berkeinginan untuk itu. Anda akan dinegasikan sedemikian rupa sehingga semua opini yang Anda lontarkan akan menjadi bumerang - back fire yang akan menghancurkan diri Anda sendiri.

Apa untungnya menjadi the perfect guys? Banyak sekali. Konsistensi Anda akan membawa Anda kepada kepuasan pribadi, ketika jalan yang lurus dibentang, dan Anda termasuk salah seorang dari sedikit yang berhasil berada di jalur yang penuh barokah itu.

Anda ingin menjadi the perfect guys? Bacalah Ayat-ayat Cinta. Anda yang sudah terlalu lapuk hidup di tengah masyarakat buta akan mendapatkan kenyataan ironis. Pilihannya hanya dua; Anda bisa mencemooh pribadi seorang Fahri, atau memujanya.

Pilihannya, kalau Anda memilih yang pertama. Berarti Anda benar2 sudah terlalu busuk dalam ketidak sempurnaan. Maka, beristighfarlah.

:)

Popularity: 89% [?]

Untuk KRMT RS: Kerendahan Hati

daengrusle April 2nd, 2008

Kerendahan Hati
ditulis oleh Kang Iwan Abdurrahman

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

dikutip dari blog nya deen

akyu.jpgKRMT RS, ada baiknya kembali berkaca pada sajak ini. Sebelum melontarkan petuah kasar atau tuduhan halus bagi sebuah komunitas. Pengertian dasar tentang sebuah komunitas tidak membuat kita abai, bahwa komunitas apapun itu pasti heterogen individualnya. Tidak bisa memberikan generalisasi atas sebuah ‘cap’ terhadap komunitas, apalagi tuduhan yang tidak berdasar. [foto diambil dari sini]

Menganggap blogger adalah kaum perusak tatanan dan mbalelo terhadap kebijakan pemerintah tanpa mengetahui pasti typical masing2 blogger itu sama saja melakukan penghinaan terhadap komunitas yang ditengarai sudah berjumlah ratusan ribu itu. Ini sama saja dengan si bangsat anggota parlemen Belanda yang membuat film dokumenter bertajuk FITNA yang dibuat berdasarkan kebencian yang dipelihara sedemikian rupa.

Apalagi kalau menengarai bahwa blogger adalah sponsor, supporter dan pemelihara situs2 yang berpotensi merusak moral bangsa ini! Terlalu kejam. Apakah KRMT RS tidak pernah tahu ada komunitas2 blogger yang setia berbagi dalam kebaikan, saling nasehat menasehati dalam kebenaran. Tidak terhitung banyaknya komunitas blogger yang terhimpun karena interest mulia seperti ini. Ambil lah contoh Indonesian Muslim Blogger. Apakah komunitas blogger seperti ini pantas di labeli perusak akhlak dengan intensi menantang pemblokiran situs-situs porno?

Nah, mas Kanjeng, jadilah orang yang rendah hati saja. Salah satu ciri orang rendah hati adalah menjaga lisan dan perilaku nya dihadapan khalayak. Satu saja manusia yang menjadi terzalimi karena ucapan dan perilaku kita, akan memberatkan kita hidup di dunia ini, apatah lagi di akhirat.

Popularity: 80% [?]

[Buku] Sang Pemimpi

daengrusle March 23rd, 2008

sang pemimpi

Dunia sesungguhnya perlu berterimakasih kepada para pemimpi. Mereka lah yang menyemarakkan dunia ini dengan hiasan-hiasan dan menjadi lebih indah, tidak sekedar hitam dan putih - sebagaimana hidup orang yang kelanjur terbiasa dengan takdir. Teknologi, karya seni adalah produk nyata para pemimpi. Pemimpi adalah orang-orang yang berhasil menapak semua kebebalan pikiran orang yang selalu mengandalkan silogisme dan rasionalitas. Pemimpi adalah pemimpin yang membawa kita ke masa depan.

Novel lanjutan Laskar Pelangi ini adalah pengembangan yang bergenre inspiratif dari novel sebelumnya. Kalau di Laskar Pelangi, kehidupan yang bersahaja dimuntabkan dan diangkat setinggi-tingginya dalam sebuah cita-cita yang ironis dan tak kesampaian, maka di novel Sang Pemimpi ini kita diajak beroptimis ria lebih berani. Betapa semua anakronisme menjadi silogisme yang masuk akal.

Ikal, Arai dan Jimbron adalah representasi tiga sosok pemimpi yg dibekali semangat dan kerja keras, mereka punya impian musykil dalam bentuk cita-cita yang dipasok oleh guru susastra mereka di SMA Bukan Main. Mereka bercita-cita terlalu muluk, memeluk altar kemasyhuran di Sorbonne, sementara di saat yang sama kaki-kaki mereka masih harus diseret ke pelabuhan ikan untuk kerja kasar - ngambit. Namun kemusykilan justru sudah berdamai dengan mereka sejak masih dalam buaian. Mereka adalah produk kegagalan masyarakat mencapai kesejahteraan. Justru karena hidup dalam lingkungan seperti itulah maka mereka kemudian tidak ragu berdamai dengan hidup, menantang kemusykilan. Arai yang adalah Simpai Keramat - generasi terakhir dari puaknya, Ikal yang adalah anak bawang di keluarganya namun senantiasa mendapat asupan semangat dan keyakinan dari ayahnya yang juara satu sedunia dalam kediaman, dan Jimbron - personifikasi semua keraguan. Melihat Jimbron dan obsesif kompulsifnya tentang kuda, saya jadi teringat Bubba dengan udang - dalam filem Forrest Gump. Pesan moral dalam novel ini jelas menunjukkan bahwa Obsesi kumpulsif adalah penyakit, tapi justru bisa menjadi inspirasi yang tak ada habisnya.

Bayangkan sekiranya anda punya obsesi kompulsif bertemu Tuhan Yang Agung, maka semua gerak laku hidup anda akan terstimulasi untuk mencari roda menuju obsesi itu. Bukankah itu adalah baik; dan obsesi seperti inilah yang melahirkan tokoh-tokoh konsisten yang kemudian mewarnai lukisan sejarah umat manusia ini. Abdulkadir Jaelani, Rabiah al-Adawiah, dan beberapa contoh sufi lainnya adalah manusia luar biasa dalam sejarah yang dianggap berhasil.

Novel Sang Pemimpi adalah novel yang tepat untuk memotivasi semua orang yang punya cita-cita, semuluk apapun. Cita-cita, mimpi, ataupun obsesi pada kenyataannya - menurut beberap filsuf - adalah nyata di alam lain. Tugas sang pemimpi adalah merajutnya dari mozaik-mozaik kemusykilan, mengandalkan semua resource - plus kerja keras dan konsistensi - menjadi bangunan utuh di alam nyata . Dan karenanya lah, manusia menjadi penoreh keabadian. Laku para pemimpi lah - baik yang berhasil maupun gagal, yang kemudian menjadi lukisan sejarah, dan kemudian menjadi sumber inspirasi para pemimpi lain setelahnya untuk melanjutkan lukisan itu.

What we do in life, echoes in eternity!

Popularity: 51% [?]

[Entry Tematik AM] Where is the Real Reality Show Take Place?

daengrusle March 21st, 2008

Menimpali entry tematik teman-teman Blogger Angingmammiri-Makassar, saya hendak sedikit berkontemplasi barang dua tiga jenak.

Setiap malam, di prime time mulai sore hingga nyaris midnigth, kita selalu disuguhi banyak program televisi yang menyajikan reality show, mulai dari bedah rumah, uang kaget hingga ajang tarik suara para biduan dadakan - terkadang menyertakan ibunda nya sekedar untuk menarik perhatian.

Para penonton terkadang diberikan kesempatan berpartisipasi, entah mengirim sms dukungan, entah menjadi salah satu juri vote lock yang akan menentukan pemenang ajang meriah iklan ini. Si pemilik program - televisio itu tentu saja menangguk banyak untung, terutama dari bejibunnya iklan promosi yang masuk. Si peserta kontes juga menangguk popularitas, yang kadang malah cuman seumur jagung. Tapi tak apa lah mimpi semalam sudah cukup, terlebih kalau sang debutan itu berangkat dari akar rumput yang tahu2 lolos dengan tingkat kompetisi yang alot, bisa berada di puncak menara dengan ketenaran yang ‘dipaksakan’.

Si pemilik acara, dan beberapa pembelanya mengklaim bahwa ajang ini mampu mengangkat lkesejahteraan sang biduan dadakan,mampu memberikan pemandangan real bagaimana lika liku sang pejuang hidup itu menapak tangga popularitas.

Namun tahukah kita, di luar sana ada jutaan reality show yang sedang berlangsung. Setiap detik, setiap menit, di ribuan tempat yang kadang tak terjangkau televisi ataupun sekedar sinyal selular. DI tempat-tempat kumuh, di deretan rumah-rumah kardus, banyak yang sedang meregang hidup dengan getir

Popularity: 45% [?]

Kopdar Megaloman-ers di Daeng Mamink

daengrusle March 15th, 2008

MEGALOMAN DI TIM
Kamis, 13 Maret 2008. Jakarta dibekap dingin sehabis dimandikan gerimis sore. Selepas menunaikan tugas kantor berguru soal system integrasi, saya meninggalkan Sari Pan Pacific menuju Taman Ismail Marzuki. Ada janji ketemuan ama temen2 blogger Angingmammiri; Rara, Soeltra, Nawir Gani. Di TIM, dua jam menikmati toko buku Afrizal Malna; buku sastra Indonesia klasik, dari Mohammad Yamin hingga Ayip Rosidi, dari Motinggo Busye hingga NH Dini, terselip juga buku kak Hasymi Ibrahim; antologi esainya - Anatomi Sang Kursi. Luar biasa!

Tapi yang kemudian dikemas kedalam tas adalah buku2 berharga jeblok dari Kompas-Gramedia. Enam buku murah meriah seharga 5ribu – 10ribu yang dipapar di etalase khusus discount itu lebih menarik hati; murah tapi (sepertinya) karya bermutu. Dari novel Ismet Fanany hingga kumpulan cerpen Radhar Panca Dahana. Juga ada Yanusa Nugroho, Rahmat Cahyono, dan kumpulan sanjak cerpenis Gus tf. Busyet. Gak tega rasanya membeli buku berbandrol pengarang dan penerbit jaminan mutu itu dengan duit ketengan. But tetap aja seneng, soale sebagai penikmat buku yang lebih tepat disebut kolektor (bukan pembaca, apalagi bookaholic), saya masih tergolong price-sensitif book-reader. He2, malu2in ya.

Selepas dua jam itu, kami kemudian membelah gerimis dan macet menuju Daeng Mamink, di bilangan Casablanca. “Na-tax saja!” usulku kepada Rara dan Nawir-Gani. Soale, agak repot naek angkutan berkali2 sampai kesana. Toh, ongkosnya pun juga so-so aja. Soeltra gak ikut, mesti ngejemput Ocha yang lagi bingung di Senen. Dalam hati sebenarnya agak nyesel kenapa mesti janji di TIM, toh temen2 bisa aja langsung ke Daeng Mamink juga, ngirit waktu dan effort. Tapi ini juga asik, he2. soale dapet buku bandrol murah itu. Gerimis turun malu-malu. Macet di Pasar Rumput. Polisi cepek, preman modal sabun dan lap, pengasong, berkerumun laksana lalat main hujan-hujanan. Ada maki dari mulut sopir taxi; ah buat saya gak pantas berkoar kotor selagi ada customer! Tapi kemudian lancar selepas Pasaraya Manggarai.

formasi-megalomang.JPG

foto: de-bat, nawirgani, bisot, soeltra, ocha, rara, munawir (without me)

formasi-lengkap.JPG

foto: formasi lengkap; with me, Farhan dan DM - kepotong dikit he2!

MEGALOMAN DI CASABLANCA
Gak sampai 10 menit, kemudian tiba di Daeng Mamink, Casablanca. Kak ATG aka daengbattala sudah menunggu; setengah piring nasi goreng sudah dilahapnya dengan antusias, namun kemudian jeda menunggu pesanan kami datang. Soeltra belum juga datang; bahkan bertemu Ocha pun belum, begitu katanya dari curi denger obrolan via phonenya Rara. Sekitar setengah jam kami berempat ngobrol; muncul Bisot. Ndak nyangka tampilannya cool; jaket kulit dan jaim. Dewasa ki tawwa pembawaannya. Padahal sa sempat mikir kalo dia itu sepantaran mahasiswa lah. Rupanya doi dah lama jadi pegawai Bea Cukai; malah ternyata katanya seangkatan dengan Yayu, teman SMAku. Kemudian berturut-turut muncullah Munawir, juga Soeltra dan Ocha. Selepas itu datang lagi Daeng Marowa beserta Farhan dan dua orang kerabatnya. Terakhir, muncul pak RT. Continue Reading »

Popularity: 45% [?]

Sapu Kotor itu

daengrusle March 4th, 2008

Apa jadinya kalau orang yang kita serahi amanah untuk menyapu rumah tapi malah berperilaku sebaliknya, mengotori rumah dengan sampah yang tak kalah busuknya? Malu dan kecewa tentu. Indonesia, hal itu lumrah adanya. Sepertinya rasa malu sudah hilang dari kepribadian kita. Perilaku tak terpuji dianggap biasa, bahkan oleh aparat yang seharusnya punya integritas untuk memberikan keteladanan atau menghukum para pelaku bejat. Tapi itulah Indonesia, negeri dengan perilaku ironis, kontradiktif plus malu-maluin.

Para aparat yang berfungsi sebagai tukang sapu itu, rupanya membawa sapu kotor di tangannya. Alhasil, lantai bukannya malah bersih tapi justru makin kotor saja. Terutama oleh kekotoran perilaku mereka.

Inilah para sapu kotor itu;

1. Penyidik KPK: Ajun Komisaris Polisi Suparman.
Penyidik KPK ini mempermalukan jagad para pendekar anti korupsi. Seharusnya, di pundaknya lah amanah membersihkan negeri dari korupsi ini diemban. Namun bukannya giat melakukan bersih-bersih, sang penyidik malah melakukan pemerasan terhadap pengusaha yang disidiknya.

Ajun Komisaris Polisi Suparman (46) didakwa menyalahgunakan wewenang sebagai penyidik KPK, karena melakukan tindakan menguntungkan diri sendiri, dengan meminta sejumlah uang kepada korban Tintin Surtini.”Terdakwa ditugaskan untuk melakukan penyidikan perkara tindak pidana korupsi di PT Industri Sandang Nusantrara, ia telah memaksa saksi Tintin Surtini untuk memberikan sesuatu atau membayar sesuatu. Tintin Surtini merupakan salah satu saksi dalam kasus korupsi di PT Industri Sandang Nusantara dengan terdakwa Kuntjoro Hendrartono dan Lim Kian Yin.

Dalam catatan Jaksa yang menyidiknya, yang disampaikan saat membacakan dakwaan setidaknya Suparman telah 14 kali bertemu dengan korban untuk meminta sejumlah uang selain itu terdapat dua kali pertemuan terdakwa dengan korban yang mana meminta sejumlah barang yaitu tiga buah handphone Nokia 9500, dalam kurun waktu antara 14 juni 2005 hingga Februari 2006. Suparman sebenarnya adalah pelapor kasus korupsi di PT ISN ke KPK. Sebelum bertugas di KPK, Suparman bertugas di divisi reserse Polda Jawa Barat. Saat di Polda Jawa Barat, Suparman sudah menangani kasus korupsi di PT ISN, namun penanganannya macet. Sumber: http://www.gatra.com/2006-05-30/artikel.php?id=94902

Continue Reading »

Popularity: 51% [?]

Daeng Basse

daengrusle March 4th, 2008

daeng-basse.JPGSambil menghirup nikmatnya kopi kental di warung kopi khas Makassar di Kafe Phoenam, bilangan Wahid Hasyim Jakarta Pusat, Walikota Makassar Ilham Arief Sirajuddin berseloroh betapa kasus kematian Daeng Basse menjadi issue politis di tengah pencalonan dirinya untuk menjabat walikota kedua kalinya. Asap yang mengepul menebarkan aroma kopi wangi itu keluar dari cangkir putih tebal, sesekali dihirup dengan nikmatnya di Minggu Sore itu, 2 Maret 2008.

Daeng Basse bukan meninggal karena kelaparan. Si Basse - demikian pak Walikota menyebut nama warganya itu - mati bukan karena kelaparan. Dia diare. Dan akibat diare dia tidak makan. Bicara orang sakit diare ditafsirkan politis katanya kelaparan. Siapa yang salah? Dan malang nian bagi Daeng Basse yang saat ini terbujur kaku di kuburannya di Bantaeng, dia yang menjadi korban juga menjadi terdakwa. Pak Walikota membuat sebuah kesimpulan “Yang saya sesalkan dia menderita sakit diare tidak dibawa ke Puskesmas dan di sana (Puskesmas) tidak ada pengeluaran sepersen pun!”.

Secara terpisah, Kadis Kesehatan Kota Makassar, dr Naisyah T Azikin yang dikonfirmasi tetap kukuh menolak bahwa Dg Basse sekeluarga disebut gizi buruk. Naisyah mengungkapkan, keluarga itu hanya tidak terpenuhi kebutuhan asupan makanannya. Kelaparan dan kekuranan asupan makanan adalah beda, menurut kamus ambtenar Makassar ini. Pongah atau bodoh?

Daeng Basse yang malang itu, meninggal dalam kondisi tak makan selama tiga hari. Asupan terakhir yang masuk ke tenggorokannya hanyalah sepiring bubur. Dan tiga hari kemudian, pada 29 Februari 2008, Daeng Basse wafat. Bersamanya ke alam baka, turut serta jabang bayi yang sedang dikandungnya tujuh bulan dan seorang anaknya Bahir yang masih bocah lima tahun.

Kedua manusia malang itu diliangkan dalam satu lubang, di tanah garapan orangtuanya di Bantaeng. Adalah Daeng Basri, suami pemabuk yang lebih mencintai ballo (minuman keras khas Makassar) daripada istri dan anaknya itu, membawanya pulang ke tanah Bantaeng. Walikota Aco menutup kisah itu dengan ungkapan sederhana: Persoalan mati itu persoalan ajal!

Luarbiasa!
Berapa tepukan harus dihadiahkan utk pak Walikota kita?

Jauh di sebuah kota berdebu, seorang blogger asal Makassar menorehkan puisi yang sahdu melepas sang Bunda;

di pusaramu
kuletakkan seikat tanda tanya
terbungkus koran hari selasa
bergambar mahasiswa di kotamu
sedang asik perang batu

Bekasi, 02 Maret 2008

kita, saat ini. apa yang ada dikepala kita? malu, mungkin.

Popularity: 42% [?]

Pak Harto - Dimaafkan? Tidak Dimaafkan?

daengrusle January 29th, 2008

makam-pak-harto.jpg
[foto diambil dari detik.com]

Apakah perlu memaafkan Soeharto? Banyak yang memaafkan, dengan alasan kemanusiaan, tapi banyak juga yang menolak memberi maaf, karena terkenang rentetan kesalahan masa lalu yang pernah diperbuat Soeharto. Persoalan kemanusiaan dan hukum memang lain ranahnya. Kita bisa memaklumi kekhilafan seorang pendosa, tapi kita juga membutuhkan tegaknya pranata hukum dalam masyarakat kita, agar semua menghormati pranata tersebut.

Dari diskusi di mailing list yang saya ikuti, cukup meriah persoalan maaf-memaafkan Pak Harto ini. Sebahagian masih ada yang merasa bahwa kesalahan Pak Harto sudah sedemikian bobroknya sampai mengucapkan bela sungkawa atau mengiringi kepergian beliau dengan doa pun tidak mau, apapun alasannya - bahkan alasan kemanusiaan. Beberapa tokoh nasional, seperti Amien Rais, juga Guntur Soekarnoputra dan yang lainnya sudah menyatakan memaafkan dosa-dosa beliau, atas nama kemanusiaan. Namun mereka tentunya tidak berkeinginan agar kasus hukum yang menyertainya juga dibekukan. Persoalan kemanusiaan dan hukum lain ranahnya. Kita bisa memaklumi kekhilafan seorang pendosa, tapi kita juga membutuhkan tegaknya pranata hukum dalam masyarakat kita, agar semua menghormati pranata tersebut.

Berbicara tentang maaf atas pak Harto ini saya tiba2 teringat dengan kisah Rasulullah Muhammad SAWW yang saat Fatuh Makkah (penaklukkan Makkah) teramat mudah mengampuni Abu Sofyan dan kroni2nya yang sebelumnya sangat bejat luarbiasa bin buas kepada sang Rasul dan pengikut2nya. Bahkan rumah Abu Sofyan yang penghulu para pembenci Rasulullah SAWW, oleh sang Nabi dianggap sebagai rumah yang dijamin keamanannya. Begitu cepatkah sang Rasul melupakan kebejatan musuh-musuhnya? begitu lemahkah ingatan Nabi atas masa lalu yang begitu mencekam?

Sejarah membuktikan kemudian, setelah Rasulullah SAWW memberikan maaf yang tanpa tedeng aling-aling, tanpa pengecualian dan tanpa pengadilan, semua musuh diampuni tanpa merasa terbebani oleh dosa sejarah, masyarakat Makkah - Madinah yang dibangun beliau serta merta berkembang pesat menjadi lebih baik. Islam yang didakwahkan menjadi pemersatu diantara mereka, bahkan menjadi landasan ideologis membangun masyarakat yang damai, tanpa memaksakan dan memobilisasi dianutnya agama tersebut - masih banyak masyarakat Makkah Madinah yang menganut agama lain selain Islam saat itu. Apa yang hendak dicontohkan Rasulullah SAWW dari kisah ini? Continue Reading »

Popularity: 59% [?]

Nge-blog di Majalah Tempo

daengrusle January 15th, 2008

Nge-blog di Majalah Tempo? Kok bisa? Ya iya lah, bersuara itu gak cuman di blog aja. Bisa juga disalurkan di saluran lain. Majalah misalnya; bisa lewat opini, surat pembaca atau ikutan survey interaktif nya.

Dua edisi majalah Tempo berturut-turut rupanya menjadi ajang ke-narsis-an saya. Bermula dari keisengan mengisi komentar di survey interaktif yang ada di majalah Tempo Online, akhirnya muncul juga komentar saya di Majalah Tempo versi cetak edisi 7-13 Januari 2008. Saat itu survey nya tentang “Persiapan Pemerintah Menghadapi Banjir”. Nah, saya cukup percaya diri untuk mengisi koment dengan komentar yang unik tapi berbobot, he2, secara saya menduga bahwa Majalah Tempo tentu memilih komentar yang bermutu tapi unik.

 tempo-13januari08.jpg

Selepas edisi itu, saya coba mengirim ’sebahagian’ postingan saya melalui email ke redaksi Tempo tentang Pilkada Sulsel di blog ini: Pilkada Sulsel, Benazir Bhutto dan Aqidah Kekuasaan. Eh, dimuat lagi di edisi 14-20 Januari 2008. Senengnya! Sayangnya ada kesalahan disitu, masa domisili saya ditulis Kalimantan Selatan, padahal di situ jelas-jelas ada disebut Balikpapan. Kelihatannya Redaksi tidak lulus pelajaran Geografi nih.  Continue Reading »

Popularity: 40% [?]

Next »