Archive for the 'Perjalanan' Category

Catatan singkat di ulang tahun pernikahan kita yang ke-4

daengrusle November 18th, 2008

foto-rusle-irma.jpg

Kita seperti dua tukang batu yang sedang asik bekerja. Aku sibuk memoles batu gunung di pondasi rumah kita, dirimu mengayak pasir kerikil dan dicampurkan dengan semen beton. Aku sedang menganyam tulangan pengikat pada balok yang dibentang pada pondasi, dirimu mengayunkan satu dua sekop beton curah pada lantai persegi. Kita sungguh sangat sibuknya. Di kepala kita, ada gambar bangunan nan indah disana.

Rumah yang sedang kita bangun tentu masih jauh dari sempurna. Hari ini baru pondasi saja, itupun masih aku harus selesaikan disana sini. Dirimu masih belum selesai mengguyur beton curah ke seluruh muka rumah. Dan kita masih terus asik bekerja. Belum ada dinding, pintu, tangga, apalagi atap. Baru setinggi mata kaki saja. Di kepala kita, ada gambar bangunan nan ceria disana.

Di halaman yang tak begitu luas, baru tertanam dua pohon mangga. Pohon yang masih kecil, belum bisa menghasilkan buah. Mangga, buah itu, dirimu tahu sungguh aku selalu menginginkannya. Di kepala kita, ada gambar pohon nan rimbun dengan buahnya disana.

Kita seperti dua tukang batu yang sedang asik bekerja, juga bermain. Sesekali dirimu cemberut kala kugoda dengan terlalu, sekali lain aku yang merengut kala dirimu tak mau tertawa. Di kepala kita, ada gambar bangunan nan bahagia disana.

Di kepala kita, ada gambar bangunan sempurna disana. Tapi entah kapan bangunan itu terwujud. Kita masih asik bekerja.

Popularity: 3% [?]

Telagawarna: Tea-walking Menembus Kabut

daengrusle November 17th, 2008

halimun-di-utara-jakarta.JPG

Cisarua, 15 November 2008, 90 kilometer di Selatan Jakarta. Seharusnya hangat mentari yang datang menghantar pagi itu saat jarum waktu mengarah ke angka delapan, namun sepertinya alam sedang malas menampakkan lekuk tubuhnya. Titik-titik air serupa asap bergerombol membentuk halimun, ketika matahari kembali bersembunyi di balik rimbunan awan berwarna suram. Halimun seperti tempias dari atas langit dan perlahan beranjak turun menyelimuti perbukitan kemudian melingkupi jarak pandang sejauh belasan kilometer saja. Ribuan hektar perkebunan teh yang dikuasai pemerintah melalaui PTPN XI itu kemudian menjadi samar diantara titik-titik air ketika pagi itu rombongan kami ber-tujuh baru mulai menjejak langkah menyisir bukit-bukit berselimut hijau dedaunan teh (tea-walking) di Telagawarna, di ketinggian 1200 meter di atas permukaan laut.

menapak-jalan-teh.JPG

Rimbunan bukit-bukit setinggi puluhan meter itu seperti dilukis dengan komposisi warna homogen dengan gradasi hijau dari muda ke tua, dan garis-garis lembut yang rapi tertata diantara petak-petak teh yang vertikal dari puncak ke lereng dibawahnya. Perdu-perdu teh itu hanya setinggi lutut orang dewasa dengan dahan yang seperti membekap satu sama lain, menampakkan pucuk-pucuk dedaun hijau mudanya yang siap dipetik. Dihamparan lain, tampak berselang seling bebarisan pohon teh kecoklatan yang telah meranggas habis dipanen, sementara barisan lain berisi tetumbuhan muda yang masih miskin daun menampakkan jelas ujung batangnya yang basah oleh tanah coklat. Satu-dua petani pemetik teh bercaping tampak samar diantara rimbunan hijau bukit-bukit teh itu.

kampung-ciliwung-telagasaat.JPG

Bebukitan teh menghijau itu dibelah oleh jalan berbatu selebar lima meter, yang sepagi itu sudah dihilir mudiki oleh satu dua truk-truk besar pengangkut dedaunan teh. Beberapa tiang beton tergeletak begitu saja di sisi jalan, diantaranya terkelupas menampakkan tulangan yang berkarat. Sepertinya tiang-tiang itu adalah sepah rencana pembangunan jalur listrik yang tak jadi dipakai. Continue Reading »

Popularity: 5% [?]

Hati Rombeng

daengrusle October 21st, 2008

haru.JPG

Seberapa kuat tangan kita melakukan perubahan - ke arah yang lebih baik, meski sekecil hempasan riak ombak di samudera lepas? Jawabnya standard: sekuat usaha Anda mengubah ide baik menjadi gerak laku. Transformasi ini sebenarnya mudah sahaja, hanya dibutuhkan momentum di awal. Momentum ini adalah semisal hidayah dari Tuhan. Tuhan mungkin sudah membisikkan banyak hal baik dan penting, namun bisikan ini hanya akan menjadi energi yang statis sekiranya tidak ada loncatan spirit dari manusia untuk memulainya.

Selepas makan siang yang lahap dengan paru goreng dan sebotol teh dingin segar di sebuah warung Padang depan Masjid belakang kantor, mata saya kembali tertumbuk pada sesosok perempuan paruh baya berwajah dekil, berbusana rombeng dan oleng, menenteng belas kasihan dalam sebuah kantong keresek hitam. Ia menengadahkan mulut kantongan itu kepada siapapun yang berlalu di hadapan mereka. Dari mulutnya yang hitam dan kering, tak lupa diselipkan senyum tersisa yang seperti dipaksakan, lirih ucapan baku yang dilagukannya setiap saat “Den, bagi rezeki nya Den“.

Di lengan perempuan yang dibalut sehelai kain sarung berwarna pudar kusam, menggelayut diam bayi hitam yang terpapar terik siang. Jika tak sedang asik menetek pada botol berisi air, sesekali bayi hitam ini menatap tegun tepat ke wajah perempuan yang mungkin ibunya itu. Tak jauh dari keduanya, asik bermain dua bocah kecil di pelataran mesjid. Keasikan mereka seakan menyiratkan pesan dunia lain yang bukan bagian dari fragmen miris yang diputar stripping saban hari di mesjid itu. Dua bocah itu, bersama sang bayi hitam mungkin tak sadar bahwa nasib mereka sedang bergulat dengan isi kantong keresek hitam yang ditengadahkan sang perempuan.

Semenjak saya pindah di kantor baru ini, sejak awal ramadhan kemaren, perempuan ini bersama ketiga anaknya selalu rajin berdiri di depan pintu pagar mesjid. Sesekali ia ditemani perempuan lain yang tak kalah rombengnya, juga lengkap dengan ‘pengikut’ yang jumlahnya sama, tiga anak kecil; satu di pelukan, dua dilepas bermain di pelataran mesjid. Secara tak sengaja, saya pernah menjumpai perempuan ini di stasiun Tanjung Barat, bersama-sama menunggu KRL menuju selatan Jakarta.

Saya tak sempat mengikuti hingga perempuan itu turun dari kereta, tapi hati saya berbisik masygul, perempuan ini menjejak langkah yang cukup jauh demi untuk mengemis. Bahkan, menurut pandangan ekonomi, perempuan ini menjalankan fungsi positioning dan segmentasi yang cukup baik. Dia mangkal di lokasi yang cukup menjanjikan bagi ‘produk’ jualannya. Mesjid tempat dia ber’jual’an adalah gerbang terluar dua perusahaan multinasional; Big-Four Oil World Producer dan World Leading Manufacturer in Food Industry, yang memanfaatkan gerbang itu untuk tetirah makan siang, sholat atau sekedar pulang ke kontrakan. Tentunya penghasilan karyawan2 itu lebih dari cukup untuk menyisihkan sebagian rezeki di jalan mulia, apatah lagi mesjid yang berdiri adem di sisinya tentu selalu mengingatkan untuk berlomba-lomba menenggak ibadah dunia untuk bekal pahala akherat kelak.

Mata saya mungkin tak awas, tapi setidaknya saya tak pernah melihat ada yang lalu lalang, singgah barang sejenak untuk mengisi kantongan rombeng itu. Meski saya sering mencuri duga isi kantongan itu, saya kira isinya hanya recehan pemberat saja, atau mungkin isinya selalu dikeluarkan dan dipindahkan ke tempat yang lebih aman dan nyaman.

Jiwa pragmatis saya berusaha mengerti alasan mereka, para karyawan bergaji tinggi itu untuk melewatkan kesempatan mendulang pahala. Saban hari memberi berkah, memberi donasi kepada si perempuan sungguh bukan cara yang baik untuk membantu dia bangkit melawan ketakberdayaan ekonomi. Melihat postur si perempuan, dan daya tahannya berdiri dibawah terik selama lebih kurang tiga jam, dari sebelum duhur hingga ashar lewat, tentu menimbulkan rasa penasaran. Apakah tak sia-sia daya yang dianugerahkan Tuhan dengan tubuh sempurna itu dihabiskan hanya untuk menengadahkan tangan, merenggang waktu yang kiranya bisa lebih produktif dan mungkin menghasilkan lebih banyak?

Namun adakah yang lebih baik daripada memaki sebuah ketakberdayaan materi, yang mungkin berimbas kepada keterpurukan kreatifitas memanusiakan dirinya? Mungkin karyawan-karyawan itu sedang menjalankan ritual ‘mendidik’ si perempuan untuk mencari kail yang lain - yang lebih terhormat dibanding hanya sekantong keresek lusuh. Mengharap ikan tanpa kail, mungkin hanya bisa dipenuhi di pasar saja. Sedang pasar dipenuhi hukum yang jauh lebih rimba daripada masjid.

Ah, saya tak mampu berpikir serumit itu sekarang. Di benak saya hanya terngiang wajah kakanda saya - Rusdiana, yang padanya saya banyak berjanji untuk mengirimkannya banyak cahaya untuk alamnya kini.

Popularity: 17% [?]

dua puluh enam tahun silam - saya baru bisa baca di kelas 3 SD!

daengrusle September 25th, 2008

foto-jaman-sd-dulu.jpg
(foto saya thn 1987, dari kiri ; rusle, rusdin, rustam, diana, anto, emmang)

“Pak Amir sudah pensiun”, begitu jawab cucu saya, Iqbal-10tahun, - sesungguhnya saya merasa terlalu muda untuk menjadi kakek, - ketika saya iseng bertanya gmana keadaan sekolah nya, adakah yang telah berubah setelah berselang hampir 26 tahun saya tinggalkan? SD Negeri Inpres Pannampu 1 yang sekarang menjadi tempat si Iqbal menapak pendidikan dasar itu, pernah pula menjadi tempat saya ‘nongkrong’ selama enam tahun. sekolah itu sejatinya adalah sekolah yang amat sederhana, apalagi dibandingkan dengan sekolah tetangganya, SD Beroanging yang gedungnya bertingkat dan muridnya sombong-sombong.

Sekolah itu sederhana, bukan saja dari bangunannya yang hanya satu tingkat dengan fasilitas sederhana, tapi juga guru-guru nya teramat bersahaja. setiap tempat punya cerita nya, demikian juga dengan sekolah ini. Banyak cerita yang menghiasi masa kecil saya disana.

Saya menapak pertama kali bangku sekolah ini tiga bulan setelah masa sekolah dimulai, tepatnya di bulan Oktober 1982. Nomor induk atau stambuk saya, 8283023. 8283 menunjukkan tahun ajaran ketika memasuki sekolah; 1982/1983, dan 023 menunjukkan nomor urut daftar di kelas yang bersangkutan. Berbeda dengan kawan-kawan saya yang lain, saya mengenakan seragam yang tidak umum, seragam putih-putih.

Pak Amir, dengan badannya yang tegap pendek, rambut ikal dan senyum kebapakan, menyambut saya dengan antusias. Sambutan hangatnya tidak melepaskan beliau dari keheranan, “kenapa kamu baru masuk sekarang, setelah tiga bulan teman2mu bersekolah? saya jawab dengan tertunduk malu, “Bapak saya belum datang dari berjualan, saya belum punya seragam. Jadi malu kalau saya ke sekolah tidak pakai seragam”. Padahal saat saya masuk pun, sesungguhnya saya juga tak berseragam.

Yah, hari pertama yang mencemaskan. Saya lupa bagaimana detailnya, namun saya yakin saat itu saya dibanjiri perasaan cemas tak karuan takut disetrap atau diapakan karena bolos tiga bulan, plus kebingungan apa yang harus saya kerjakan di kelas dengan murid berjumlah lebih kurang 20-an itu. Di kelas itu, saya hanya mengenal tidak lebih dari lima murid, tetangga saya. Saya tinggal di suatu deretan perumahan yang kami namakan kompleks pasar Pannampu.

Kompleks kami dan SD Inpres Pannampu ini terhitung dekat, hanya diantarai oleh satu pom bensin dan satu jalan besar. Entah kenapa, semua anak-anak yang tinggal di kompleks memilih (atau didaftarkan oleh orang tua mereka) bersekolah di SD Inpres Pannampu, bukan di SD Beroanging yang megah. Persoalan pembayaran? saya kira tidak, karena kala itu pembayaran uang sekolah anak SD sudah gratis, yang beda mungkin uang BP3 dan Uang Pramuka. Gedung yang megah dan bertingkat sepertinya menjadi pelatuk resistensi tetangga-tetangga saya untuk menyekolahkan anak-anaknya di SD itu.

Saya ingat, Pak Amir saat itu sedang getol mengajar murid-muridnya membaca, tepatnya mengeja. Cara mengajarnya sungguh lucu. Dia melafalkan huruf demi huruf seperti tercekak. Misalnya mengeja huruf “b” dengan “eb”, atau huruf “r” dengan “rrrr”. Ah, sungguh menggelikan, dan terus terang buat saya cara beliau mengajar tidaklah membantu, malah menyusahkan.

Tapi kami semua menikmati pelajaran itu, dan hasilnya adalah bahwa saya baru bisa membaca ketika menginjak kelas 3 SD. Hahaha. Berbeda dengan anak murid sekarang yang masih duduk di Play Group sudah bisa membaca dengan lancar…

Popularity: 38% [?]

dalam waktu dekat, di sebuah peron

daengrusle September 24th, 2008

kereta-reu-palinggi.jpg

::gerbong riuh
saya, yang hanya berbekal mungkin, tersamar pada gundah selasar peron setasiun tua. cemas menerka gumam dari lintas kereta dan gerbong yang riuh itu.

::diatap nasib
di atas atap yang bertelingkup pada kabel listrik bertegangan, kujumpai wajah-wajah nanar menanti nasib. hendak sampaikah menjejak pulang, atau terpapar kematian yang bodoh. berselimut tangan, menekuk lutut, mereka mungkin sedang asyik membincangkan sinetron yang sedang tayang di kala primetime, tapi nasib juga sedang bergerak mendekat mengais petaka diantara jeda hidup atau mati, milik mereka. sedetik saja angin menggoyang badannya, atau tempias hujan iseng menyiramnya dari sekelebat pancaran listrik itu, maka nasib menjadi pantas dijejalkan.

::di gerbong sesak
mereka, yang megap mencari ruang selapang dua lubang hidung, terserak diantara pengab dan sesak, dan bau dari semua jenis peluh. dalam mana norma persentuhan sudah nihil adanya, ruang dan antara menjadi barang mahal, dan keluh kesah jadi niaga yang murah. tangan-tangan gelisah mencari dinding atau apa saja yang bisa disangkutkan, mencoba selamat dari lembam gerbong berderak. sejatinya semua menjadi mahfum, itu demokrasi dimana nasib kaya miskin tergencet oleh buta-ruang. sempit, bahasa umumnya.

::di pintu masuk
tak ada yang bisa diceritakan, selain bahwa pintu masuk menjadi semacam khayalan semua orang, di kereta yang sesak, dan rindu pulang ke rumah biar lega mendekap dan napas tak perlu memburu.

Foto: Crack Palinggi/Reuters

Popularity: 34% [?]

Hari Terakhir Saya di Situ

daengrusle August 29th, 2008

Rekan2Hari ini, 29 Agustus 2008, menjadi hari terakhir saya bekerja pada Chevron Indonesia Company, Balikpapan, dan akan memulai karir dan hidup selanjutnya di kota lain, insya Allah.

Perkenankanlah saya menghaturkan banyak terimakasih dan kebanggaan yang tak terkira atas kebersamaan dan kerja sama Anda semua selama lebih kurang 2,5 tahun. Dengan kerja sama dan kontribusi Anda semua membuat pekerjaan saya menjadi lebih menarik dan menyenangkan. Namun pilihan hidup untuk menjadi dan mencari yang lebih baik dan menantang membuat saya mengambil keputusan sulit untuk meninggalkan Chevron Indonesia Company.

Terima kasih yang sebesar2nya terkhusus kepada Management Procurement, SCM Dept CICO yang telah memberi kesempatan kepada saya untuk berkarya dan menimba pengalaman yang sangat berharga. Dan juga kepada segenap mitra kerja di lapangan yang telah cukup intens berkoordinasi dalam rangka pencapaian target pekerjaan saya. Terima kasih.

Akhirnya, saya dan keluarga menghaturkan permohonan maaf yang sebesar2nya sekiranya ada kesalahan tulisan, kata maupun perbuatan yang kurang menyenangkan di hari Anda semua. Mohon maaf dan ridho nya. Begitu juga sebaliknya, seperti permainan zero sum, tidak ada lagi tautan dan hambatan pada diri saya pribadi dari semua kejadian sebelumnya, apapun itu. Saya beranggapan itu hanyalah pernik kecil dalam rangka mencari eksistensi sebagai makhluk Tuhan di alam ini, Insya Allah.

Harapan saya semoga Anda beserta Chevron Indonesia Company makin sukses di kemudian hari. Amin

Warm Regards,

Muhammad Ruslailang & Family

Email: daengrusle@angingmammiri.org

Popularity: 55% [?]

Makassar: A Bird View

daengrusle August 8th, 2008

Senang rasanya bisa menyaksikan Makassar dari atas langit, meski itu meminjam mata kamera seorang rekan - Iwan Sandeq yang mengizinkan saya memuatnya di blog ini. Nah, nikmatilah.

Jadi rindu pulang ke Makassar!

sampai nanti kawan, ketika mana gelegar rindu memuncak rawan
dan meliuk mesra laksana sungai menawan perawan
padamu nanti kususuri semua jejak embun di cendawan
seperti rindu sangat seorang kawan

Makassar - 1

makassar_udara_01.JPG Continue Reading »

Popularity: 58% [?]

Ole-ole dari Makassar: Bassang Tak Sampai

daengrusle May 27th, 2008

Prolog: Ole-ole, bukan oleh-oleh, adalah segala sesuatu yang dihadiahkan kepada rekan, keluarga atau siapa saja dari seseorang yang baru saja bepergian. Ole-ole dari Makassar yang lazim dibawa adalah: Minyak Tawon, Juice Markisa, Kacang Disko, Replika Rumah Tongkonan, Otak-otak, Sarung Sutra, Songkok Bone, Dange, Roti Maros, Coto, Konro…halah….!

Apa ole-ole nya dari Makassar? Saya sendiri bingung ketika di’tagih’ beberapa kenalan di Balikpapan. Bingung karena pertama, memang saya tidak bawa ole-ole yang biasanya orang suguhkan sepulang bepergian. Kedua, karena memang saya tidak punya (dan tidak mau punya) kebiasaan membawa ole-ole itu. Selain mungkin karena saya rada pelit, juga sebagian besar karena saya kikuk dalam urusan ole-ole ini. Kikuk menentukan apa yang pantas untuk dibawa. Kalau beli sesuatu, takutnya kurang atau berlebih. Berlebih kan mubazir. Terkadang juga pernah saya mencoba menjadi teman yang baik, membelikan ole-ole. Tapi rupanya respon mereka biasa-biasa saja, kadang malah tidak menyentuh yang saya bawa. Nah, dari pada kikuk - juga karena memang saya pelit - saya ambil saja jalan mudahnya. Tidak bawa ole-ole. Simpel tapi pasang muka tembok, ha3!

Tapi tundulu, kawan. Ini Rusle, bung. Tak elok rasanya kalau ada perjalanan yang tidak diabadikan dalam tulisan. Nah, sebagai pengganti ole-ole (sebenarnya hanya justifikasi kepelitan saja), maka tulisan inilah yang menjadi ole-ole ku dari Makassar.

Jalan Tol: Menyedihkan
Ungkapan ketus dan sinis pertama yang saya lontarkan ke Makassar ini adalah Jalan Tolnya yang saat ini sedang diperpanjang, perlebar, perkeras, permak, perbodden, perdomes, persetan deh!
“Masya Allah. Sudah macet berat, jalan rusak poranda, debu seperti halimun gunung, panas melelehkan keringat, eh disuruh bayar pula! Kenyamanan apa yang mereka berikan sampai kita harus membayar?
Jalan tol (tanpa jalur alternative) di Makassar ini sebenarnya pendek sahaja. Tidak heran kalau bayarnya pun murah sahaja, Rp 1,500 (kalo ndak salah). Tapi perjalanan melintasi jalan tol dari pertigaan Sudiang-Mandai ini betul-betul seperti neraka.
Dan biarlah saya merasa tak ikhlas membayar tol nya itu.

Poster Para Pembual
Nah, inilah kesinisan saya yang kedua. Sejak memasuki jalan tol yang menyedihkan itu, saya disuguhi banyak bualan berbentuk sampah poster. Seperti biasa, para tim sukses para pembual ini rupanya tidak begitu cakap melakukan house keeping di kota sendiri. Ribuan poster para kandidat calon walikota yang belum resmi benar bisa bertarung dalam pilwalkot Makassar ini memenuhi nyaris di semua riang public dengan kondisi awut-awutan. Masing-masing seperti berlomba membualkan diri, hanya mereka yang mampu menaikkan harkat Makassar (dari titik apa). Ada yang merasa pe-de mengaku sukses membangun Makassar di jabatan sekarang (padahal masih fresh kita ingat Daeng Basse yang mati kelaparan di kota ini), ada juga yang menyuarakan antitesisnya: Tidak Akan Membiarkan Rakyat Makassar Miskin dan Kelaparan! Ada yang memasang senyum di sana sini dengan yakinnya (padahal kata temanku dia punya seabrek kasus menunggu di pengadilan). Ada juga yang dengan sangat narsis mengumandangkan: Dia Datang Membawa Perubahan. Ada yang juga dengan congkaknya mengaku sebagai New Solution for Makassar. Ambe’ mua mi ces!
Tak kurang dari sepuluh pembual yang menjajakan dagangannya di Makassar saat ini. Tentu saja nanti akan mengerucut sekiranya sudah ada koalisi yang tetap untuk mengusung calon dan wakilnya nanti. Tapi yang jelas, kota Makassar yang kotor itu makin kotor dengan sampah bualan.

Kopdar Komunitas Angingmammiri
Kali ini bukan sinism yang saya angkat. Tapi semangat komunitas di komunitas blogger Angingmammiri. Saya sempat mengikuti satu kopdar dari tiga kopdar yang diadakan rekan-rekan AM. Alhamdulillah bisa ketemu mereka, bisa bincang-bincang langsung. Kopdar kali ini saya membawa si kecil Mahdi yang serta merta menjadi pusat perhatian mereka.
Suasana kopdarnya sendiri bisa dibaca di blog beberapa rekan berikut.

namun ada yang tersisa dari kopdar ini dan menyedihkan buat saya. tak bisa ketemu si sohib. padahal sudah bela-belain saya bawakan dampo dan amplang pesanannya…:(
Continue Reading »

Popularity: 74% [?]

Kopdar Megaloman-ers di Daeng Mamink

daengrusle March 15th, 2008

MEGALOMAN DI TIM
Kamis, 13 Maret 2008. Jakarta dibekap dingin sehabis dimandikan gerimis sore. Selepas menunaikan tugas kantor berguru soal system integrasi, saya meninggalkan Sari Pan Pacific menuju Taman Ismail Marzuki. Ada janji ketemuan ama temen2 blogger Angingmammiri; Rara, Soeltra, Nawir Gani. Di TIM, dua jam menikmati toko buku Afrizal Malna; buku sastra Indonesia klasik, dari Mohammad Yamin hingga Ayip Rosidi, dari Motinggo Busye hingga NH Dini, terselip juga buku kak Hasymi Ibrahim; antologi esainya - Anatomi Sang Kursi. Luar biasa!

Tapi yang kemudian dikemas kedalam tas adalah buku2 berharga jeblok dari Kompas-Gramedia. Enam buku murah meriah seharga 5ribu – 10ribu yang dipapar di etalase khusus discount itu lebih menarik hati; murah tapi (sepertinya) karya bermutu. Dari novel Ismet Fanany hingga kumpulan cerpen Radhar Panca Dahana. Juga ada Yanusa Nugroho, Rahmat Cahyono, dan kumpulan sanjak cerpenis Gus tf. Busyet. Gak tega rasanya membeli buku berbandrol pengarang dan penerbit jaminan mutu itu dengan duit ketengan. But tetap aja seneng, soale sebagai penikmat buku yang lebih tepat disebut kolektor (bukan pembaca, apalagi bookaholic), saya masih tergolong price-sensitif book-reader. He2, malu2in ya.

Selepas dua jam itu, kami kemudian membelah gerimis dan macet menuju Daeng Mamink, di bilangan Casablanca. “Na-tax saja!” usulku kepada Rara dan Nawir-Gani. Soale, agak repot naek angkutan berkali2 sampai kesana. Toh, ongkosnya pun juga so-so aja. Soeltra gak ikut, mesti ngejemput Ocha yang lagi bingung di Senen. Dalam hati sebenarnya agak nyesel kenapa mesti janji di TIM, toh temen2 bisa aja langsung ke Daeng Mamink juga, ngirit waktu dan effort. Tapi ini juga asik, he2. soale dapet buku bandrol murah itu. Gerimis turun malu-malu. Macet di Pasar Rumput. Polisi cepek, preman modal sabun dan lap, pengasong, berkerumun laksana lalat main hujan-hujanan. Ada maki dari mulut sopir taxi; ah buat saya gak pantas berkoar kotor selagi ada customer! Tapi kemudian lancar selepas Pasaraya Manggarai.

formasi-megalomang.JPG

foto: de-bat, nawirgani, bisot, soeltra, ocha, rara, munawir (without me)

formasi-lengkap.JPG

foto: formasi lengkap; with me, Farhan dan DM - kepotong dikit he2!

MEGALOMAN DI CASABLANCA
Gak sampai 10 menit, kemudian tiba di Daeng Mamink, Casablanca. Kak ATG aka daengbattala sudah menunggu; setengah piring nasi goreng sudah dilahapnya dengan antusias, namun kemudian jeda menunggu pesanan kami datang. Soeltra belum juga datang; bahkan bertemu Ocha pun belum, begitu katanya dari curi denger obrolan via phonenya Rara. Sekitar setengah jam kami berempat ngobrol; muncul Bisot. Ndak nyangka tampilannya cool; jaket kulit dan jaim. Dewasa ki tawwa pembawaannya. Padahal sa sempat mikir kalo dia itu sepantaran mahasiswa lah. Rupanya doi dah lama jadi pegawai Bea Cukai; malah ternyata katanya seangkatan dengan Yayu, teman SMAku. Kemudian berturut-turut muncullah Munawir, juga Soeltra dan Ocha. Selepas itu datang lagi Daeng Marowa beserta Farhan dan dua orang kerabatnya. Terakhir, muncul pak RT. Continue Reading »

Popularity: 41% [?]