Archive for the 'Sejarah' Category

[Euro2008] Mengapa Turkiye dan Russian Gagal ke Final?

daengrusle June 29th, 2008

Tahu kenapa Turkiye dan Russian gagal melenggang ke Final Euro2008?

Berikut alasannya, tapi jangan berharap berikut ini adalah ulasan teknis dan strategy .

Turki:

Wilayah Turki yg termasuk Eropa hanya 3% sahaja, selebiuhnya yakni 97% termasuk Asia.

Nah, kalau Turki masuk final dan kemudian menjadi Juara, nah,…aneh kan, Juara Eropa tapi negaranya terletak di Asia…hehee

(Turkey is a transcontinental[54] Eurasian country. Asian Turkey (made up largely of Anatolia), which includes 97% of the country, is separated from European Turkey by the Bosporus, the Sea of Marmara, and the Dardanelles (which together form a water link between the Black Sea and the Mediterranean). European Turkey (eastern Thrace or Rumelia in the Balkan peninsula) includes 3% of the country)

Russia:

Wilayah Rusia hanya 40% yang masuk benua Eropa, selebihnya 60% termasuk Asia.

(At 17,075,400 square kilometres (6,592,800 sq mi), Russia is by far the largest country in the world, covering more than an eighth of the Earth’s land area; with 142 million people, it is the ninth largest by population. It extends across the whole of northern Asia and 40% of Europe, spanning 11 time zones and incorporating a great range of environments and landforms. Russia has the world’s largest mineral and energy resources,[9] and is considered an energy superpower. It has the world’s largest forest reserves and its lakes contain approximately one-quarter of the world’s unfrozen fresh water.[10])

Nah, kalau keduanya kemudian bertemu di Final Euro2008 dan salah satunya menjadi Juara, maka Eropa akan ditertawakan. Mereka butuh negara yang mayoritas areanya terletak di benua Asia untuk mengankat tropy Euro tersebut…

Popularity: 11% [?]

[sajak] Dongeng Bathin Sembilan*)

daengrusle April 12th, 2008

kami Bathin Sembilan, puak Puyang Semikat yang terusir dari Musi
sama kini berdiri ditempat mana sama berpijak,
di atas gelagar Nebang Para, mata kita sama nanar memagut nun tanah Telisak
disana rimbunan sawit terhampar luas laksana permadani berbulu kesak
di lengannya, sungai Bahar hangat meliuk mesra memeluk
berselimut magis Bathin Sembilan, benak kita sama berkhayal emas yang direbak
padanya kami melukis kenang pada Puyang Semikat secerlang merak,
dan kalian mencumbunya senikmat saham blue chip siap lego di lapak-lapak

kami Bathin Sembilan, puak Puyang Semikat yang tertanam di sembilan ngarai
kita kini sama berdiri ditempat mana sama berpijak,
tapi kepala kami sompak menganga oleh janji yang terserak
nun berpuluh depa di bawah rimbunan sawit, asa kami mengatup terderak-derak
dulu kalian janjikan hamparan pepohon itu adalah emas yang membelalak
kemudian janji itu disulap menjadi asap naik berarak
dan waktu kemudian bertitah: terbilang malang nasib kami puak beranak

alangkah malangnya, sekira waktu merentang jarak dengan nasib
kami memang seumpama kelebat konon yang lapuk oleh lupa,
berdiam di suatu negeri dimana pikiran lebih senang memilah daripada menyapa
dan nasib kami kemudian terbilang secepat sampan membelah Batanghari,
dan tiba-tiba kami sudah berdiri di tanah asing dimana ular seperti bertanya masygul
kemana gerangan sembilan negeri yang kau gagahi seperkasa dulu,
melingkar kukuh pada Rimbo Adat ibarat kitab lanun yang angker?

dan halimun Sungai Lalan di lembah Musi mengendus tajam bergegas
mengantar dongeng semasa dulu digelayut Puyang Semikat berkemas-kemas
terusir dari pertiwi yang amuk oleh buah kutukan kemilau emas
di ujung Bahar tempat sauh dilepas sudah ditoreh tegas; gelar terbilang harta dihempas
namun seperti gelinding yang ingkar, sang Puyang dilingkup pula takdir baik
dua kerat hati kembar Bayan Riu Bayan Lais disunting dari Depati Seneneng Ikan Tanah;
darinya berserak puak pada sembilan ngarai sejak Muaro Jambi, Batanghari hingga Sarolangun;
Pemusiran, Burung Antu, Sekamis, Telisak, Jangga, Jebak, Bulian, Bahar, dan Singoan
jadilah kami Bathin Sembilan, puak Puyang Semikat yang terusir dari Musi

kami Bathin Sembilan, puak Puyang Semikat yang kini nanar dikepung sawit
terbilang waktu; nasib kami sudah digariskan; punah oleh kutuk nasib puak terusir

- puisi ini sedianya ditulis untuk diikutkan dalam Lomba Penulisan Puisi dan Cerita Pendek Berbasis Cerita Rakyat Jambi oleh Jambi Writing Program

*) terinspirasi dari tulisan:
Kebudayaan yang Hampir Punah – Irma Tambunan
Kompas 12 Maret 2008

Popularity: 88% [?]

Some pieces from the past

daengrusle March 21st, 2008

A picture worths a thousand words - sebuah gambar bisa dalam seribu kekata. Ya, terutama sekiranya gambar-gambar itu memiliki sejuta kenangan yang dicercah dari rangkaian hidup pelakunya.

Di bawah ini adalah beberapa gambar yang diambil dari album lama keluarga kami. Betapa dulu keadaan jauh lebih bersahaja, tapi menyenangkan melewatinya bersama.

pic054

Foto: Kakenda La Ompeng bersama menantunya: Hj Hasna, Hj Singke dan anaknya - HM Tiro. Foto sekitar awal 1980-an. Lokasi: Sengkang(?) Continue Reading »

Popularity: 61% [?]

Pak Harto - Dimaafkan? Tidak Dimaafkan?

daengrusle January 29th, 2008

makam-pak-harto.jpg
[foto diambil dari detik.com]

Apakah perlu memaafkan Soeharto? Banyak yang memaafkan, dengan alasan kemanusiaan, tapi banyak juga yang menolak memberi maaf, karena terkenang rentetan kesalahan masa lalu yang pernah diperbuat Soeharto. Persoalan kemanusiaan dan hukum memang lain ranahnya. Kita bisa memaklumi kekhilafan seorang pendosa, tapi kita juga membutuhkan tegaknya pranata hukum dalam masyarakat kita, agar semua menghormati pranata tersebut.

Dari diskusi di mailing list yang saya ikuti, cukup meriah persoalan maaf-memaafkan Pak Harto ini. Sebahagian masih ada yang merasa bahwa kesalahan Pak Harto sudah sedemikian bobroknya sampai mengucapkan bela sungkawa atau mengiringi kepergian beliau dengan doa pun tidak mau, apapun alasannya - bahkan alasan kemanusiaan. Beberapa tokoh nasional, seperti Amien Rais, juga Guntur Soekarnoputra dan yang lainnya sudah menyatakan memaafkan dosa-dosa beliau, atas nama kemanusiaan. Namun mereka tentunya tidak berkeinginan agar kasus hukum yang menyertainya juga dibekukan. Persoalan kemanusiaan dan hukum lain ranahnya. Kita bisa memaklumi kekhilafan seorang pendosa, tapi kita juga membutuhkan tegaknya pranata hukum dalam masyarakat kita, agar semua menghormati pranata tersebut.

Berbicara tentang maaf atas pak Harto ini saya tiba2 teringat dengan kisah Rasulullah Muhammad SAWW yang saat Fatuh Makkah (penaklukkan Makkah) teramat mudah mengampuni Abu Sofyan dan kroni2nya yang sebelumnya sangat bejat luarbiasa bin buas kepada sang Rasul dan pengikut2nya. Bahkan rumah Abu Sofyan yang penghulu para pembenci Rasulullah SAWW, oleh sang Nabi dianggap sebagai rumah yang dijamin keamanannya. Begitu cepatkah sang Rasul melupakan kebejatan musuh-musuhnya? begitu lemahkah ingatan Nabi atas masa lalu yang begitu mencekam?

Sejarah membuktikan kemudian, setelah Rasulullah SAWW memberikan maaf yang tanpa tedeng aling-aling, tanpa pengecualian dan tanpa pengadilan, semua musuh diampuni tanpa merasa terbebani oleh dosa sejarah, masyarakat Makkah - Madinah yang dibangun beliau serta merta berkembang pesat menjadi lebih baik. Islam yang didakwahkan menjadi pemersatu diantara mereka, bahkan menjadi landasan ideologis membangun masyarakat yang damai, tanpa memaksakan dan memobilisasi dianutnya agama tersebut - masih banyak masyarakat Makkah Madinah yang menganut agama lain selain Islam saat itu. Apa yang hendak dicontohkan Rasulullah SAWW dari kisah ini? Continue Reading »

Popularity: 59% [?]

Sebuah Iringan Sedih buat Pak Harto

daengrusle January 12th, 2008

Jiwa adalah milik Tuhan semata.
Selayaknya kita tundukkan sejenak kepala dengan haru tulus
untuk sebuah akhir yang baik, akhir yang indah.
Jiwa adalah milik Tuhan semata.

Ada saat nya kita perlu berhenti menegangkan urat leher, membiarkan nafas menghembus dengan lembut dan menjernihkan pandang kita ke dedaunan hijau, atau samudera yang lepas membiru. Saat itu tiba, gurat emosi dan dendam yang kita arak dalam temali kenangan yang menyakitkan kita sangkutkan di pelana kuda. Sekali hentak, sang kuda akan berjingkrak dan melesat pergi, bersama semua ihwal kecemasan yang menandai pening kepala kita dengan larik yang buruk.

 suharto-sakit.jpg
(Gambar: Soeharto sakit, diunduh dari sini)

Saya dulu, ketika masih berstatus mahasiswa, dengan pongahnya menyamakan Soeharto dengan Firaun yang laknat. Seakan bahwa sayalah Musa yang dikirim Allah SWT untuk membebaskan Indonesia dari keberingasan dan keburukan perangai sang tiran. Ketika ibu Tien Suharto mangkat, saya secara reflek melakukan sujud syukur di kost-kost an seorang kawan, sehabis bangun tidur dan menonton berita yang seharusnya beraroma duka itu. Saya menggabungkan dengki dan ritual religius di saat yang bersamaan. Seakan saya lah korban langsung dari semua penderitaan yang diakibatkan oleh pemerintahan Orde Baru. Padahal, di saat yang sama saya masih menerima beasiswa yang dikucurkan oleh berbagai institusi yang juga termasuk dalam kaukus Orde Baru, bahkan dengan beberapa aksi tipu-tipu administrasi yang memungkinkan saya mendapat beasiswa lebih dari yang diizinkan.

Ya, saya dihinggapi rasa pongah berlebihan saat mahasiswa. Continue Reading »

Popularity: 43% [?]

1 Muharram dan Diriku

daengrusle January 9th, 2008

Saya baru tersadar sore ini, ketika seseorang teman yang saya kasihi mengirimkan ucapan Selamat Tahun Baru Hijriah, 1 Muharram 1429H.

Besok - atau tepatnya malam ini - adalah tahun baru bagi umat Islam. Penanggalan Islam dengan sistem perhitungan rotasi bulan ini atas ide Imam Ali Karamallahu Wajhahu, yang dilandaskan pada momentum hijrah Rasulullah dari Mekkah (saat itu) yang belum tercerahkan, menuju Madinah yang mencerahkan. Kenapa diambil momentum Hijrah ini? Hijrah dilakukan Rasulullah SAW dari kota Mekkah yang saat itu berbahaya bagi ummatnya: tertindas, lemah, dan terutama membahayakan kelangsungan agama Islam yang baru tumbuh. Bukan karena Rasulullah SAWW penakut dan tidak mengandalkan Allah SWT, tapi ini adalah strategi untuk lebih berkembang. Dan keputusan itu tepat, semenjak berpindah ke Madinah atau Yastrib, pemeluk Islam menjadi berlipat-lipat. Dan peristiwa Hijrah nabi itu, menjadi momentum besar bagi awal pertumbuhan Islam yang revolusioner. Ya, itulah sebabnya mengapa saat Hijrah Rasul ditetapkan sebagai hari pertama penanggalan Islam.

aku-dan-aji-ku.JPGBagi saya pribadi, 1 Muharram selalu menjadi hari yang teramat istimewa.
Setiap hari itu datang, maka ibunda saya tercinta pasti akan mengingatkan diriku, “Nak, esso jajimu tu ye siddi Muharrang” (Nak, hari ini adalah hari lahirmu 1 Muharram). Setiap hari itu datang, biasanya beliau akan mengecupku dengan haru dan menyiapkan hidangan istimewa khusus buatku. Kakak-kakakku pun akan berlomba mengucapkan selamat padaku.

Dan saya akan kembali terngiang cerita sang Bunda saat melahirkan diriku, nun jauh saat masih di dusun Sempangnge, desa Nepo, Wajo, Sulawesi Selatan. Ya, saya lahir tepat di tanggal 1 Muharram 1397H itu. (Foto di ayas: Foto bersama Aji Burane dan Aji Makkunraiku, di suatu pagi di Sengkang, Juli 2004 silam).

Saya, adalah anak yang kurang ajar sejak dikandung. Ibunda ku - yang kami panggil dengan sebutan Aji Makkunrai or Aji Perempuan, harus membopong janinku selama 12 bulan. Aji bercerita bahwa beliau pertama kali merasa mengandung diriku saat bulan Muharram, dan kemudian saya dilahirkan dengan susah payah di bulan Muharram juga.

rusle88.JPGPerlu tiga hari tiga malam, Ajiku berkutat dengan maut untuk melahirkan diriku, dengan bantuan Sanro Calapari (Sanro= dukun dalam bahasa Bugis). Sanak keluarga yang menunggui Ajiku melahirkan juga semuanya khawatir dan pasrah, mengingat perjuangan dan sakitnya melahirkan diriku. Ketika saya tumbuh jadi kanak-kanak yang nakal, mereka selalu mengingatkan kenangan tentang susahnya melahirkan diriku. Biasanya saya hanya tersenyum sinis. Kelanjutannya sudah bisa ditebak, saya mesti dinasehati, “Jangan nakal dan kurang ajar sama ibumu. Kamu dilahirkan dengan susah payah dan bahkan nyaris merenggut nyawa ibumi”. Iya, saya akan selalu ingat hal itu, insya Allah. (Ket Foto disamping, foto ketika saya masih berumur 11 tahun, 1988)

Saat aku lahir, orang tuaku tak sempat mengingat hari Masehinya. Mereka hanya tahu penanggalan Islamnya, 1 Muharram. Mereka juga tak sempat, atau tidak tahu, untuk membuatkanku Surat Kenal Lahir, apalagi Akte Kelahiran. Maklum, lahirnya di kampung sih, lewat dukun pula. Saat saya kemudian hendak mencatatkan tanggal lahir saya di ijazah SD (saya tak sempat menikmati bersekolah sambil bermain di Taman Kanak-Kanak, apalagi Play Group) , saya bingung mau menuliskan tanggal lahir saya. Saya hanya menuliskan tahunnya, itupun say jiplak dari teman saya yang saya anggap seumuran, 1976. Akhirnya guru kelas saya lah yang memilihkan tanggal lahir palsu untukku, yang kemudian baru saya sadari bahwa tanggal itu membuat usia saya lebih cepat bertambah enam bulan. Saya sendiri baru kemudian membuat Akte Kelahiran ketika hendak memasuki ITB dengan tanggal lahir palsu itu, itupun karena ITB saat itu nyaris menolak registrasi-ku karena ketiadaan Akte Kelahiran. Akhirnya saya baru mengurus Akte Kelahiran saat itu, saat usiaku sudah nyaris 20 tahun!

Ingat Muharram berarti ingat Aji Makkunraiku.Semoga, Aji Makkunrai ku, yang saat ini sedang bersimpuh di tanah suci Madinah dianugerahi kesehatan yang prima hingga menyelesaikan ritual ibadah haji dengan mabrur. Amin.

Aja tallufai lesu, Ajikku. Lesuki masijja. Moddanika kesi’na, Aji.
(Translate: Jangan lupa pulang Ajiku. Pulanglah segera. Saya rindu teramat sangat).
Kalimat ini saya ucapkan saat bersimpuh di kaki Aji Makkunrai-ku sebelum beliau berangkat ke tanah suci.

Selamat Tahun Baru Islam, Selamat Ultah Diriku!

Popularity: 44% [?]

Kaleidoskop 2007

daengrusle December 29th, 2007

Dari 365 hari yang dilalui sepanjang tahun 2007 ini, tidak semuanya memberi ‘sesuatu’ yang pantas diingat. Bahkan hanya hitungan jari saja hari-hari yang berkesan sampai sekarang. Dalam ingatan sekejap saya, hanya ada lima peristiwa yang saya anggap sebagai memorable moment yang layak dicatat untuk tahun 2007.

1. Forum Cit-Rep Panyingkul dan Kopdar AM di Makassar – Juli 2007
Forum Citizen Reporter Pertama Panyingkul di selenggarakan Puntondo, 8-9 Juli 2007 sungguh merupakan pertemuan berkesan. Baru kali ini kami bertemu muka, berbincang seru, foto bersama, juga melewati satu malam menginap bersama di suatu tempat yang indah nian, yang mana sebelumnya kami hanya bertegur sapa lewat milis dan web panyingkul. Foto-foto dan kegiatan acara dapat dilihat di arsip blog lama ku: Puntondo Special Session. Juga ada dimuat di Panyingkul; Semangat Citizen Journalism di Puntondo. Mudah2an rencana Forum Cit-Rep II yang rencananya di selenggarakan di kepualauan Bonerate pada JUli 2008 bisa terwujud dan saya ikut lagi dunk.

Satu lagi, untuk pertamakali ada tulisanku yang diterbitkan dalam bentuk buku. Makassar di Panyingkul. Dua tulisanku bertajuk Kisah Passompe dari Sempangnge dan Masih ada Pabbalu Lipa yang Akan Lewat di muat di buku ini.

Dalam kesempatan yang hampi bersamaan, saya juga perlu mencatat kesan yang luar biasa saat Kopdar dengan teman2 komunitas Blogger Angingmammiri tanggal 14 juli 2007 dalam acara bertajuk “12 Jam bersama Dg Rusle”. Wah menyenangkan sekali menghabiskan setengah hari bersama mereka. Rangkaian acaranya yang panjang itu sangat menyenangkan; Pre-Kopdar sambil makan malam, Main Bowling, Karaoke di Huppy Puppy, Jualan Kuisi (kue berhadiah puisi) di Losari, Nonton Tayangan Dokumenter dalam Kickstar 2007. Wuih, bergabung dengn komunitas ini membuat saya senang dan meliupakan banyak hal yang berat, he2. Saya sempat memberikan Testimoni- Simpul Keceriaan untuk komunitas ini pd acara Ultah AM tanggal 25 November 2007. Liputan acara ultah AM ini dimuat juga di Panyingkul ditulis oleh Mustamar: Blogger AM, Setelah Setahun.

2. Lomba HUT Kemerdekaan Blogfam - Agustus 2007
Kenapa acara ini berkesan? Jawabannya simpel dan sedikit narsis. Saya ‘kebetulan’ menjadi pemenang dari tiga lomba yang dikompetisikan. Luar biasa kan? he2.
Pemenang Pertama – Lomba Entry Kemerdekaan untuk postingan berjudul Kami (masih) Terjajah Lalat, Tikus dan Lapak.
Pemenang Pertama – Lomba Foto Kemerdekaan untuk foto berjudul Ayo Kawan Habiskan
Pemenang Favorit Ketiga – Lomba Gombal Kemerdekaan untuk postingan berjudul Parsiti, Ingatkan Aku.

Pengumuman Pemenang nya bisa dilihat disini; Pengumuman Pemenang Lomba HUT RI ke 62 - 2007

Hadiahnya seabrek; buku,pin, kaos, domain, dll. Tapi yang paling berkesan adalah buku dan domain+hostingan gratis.

3. Launch Blog dengan domain sendiri http://daengrusle.com - Agustus 2007
Indahnya punya rumah sendiri, gak perlu lagi nebeng dan berteduh di rumah orang lain. He2. Hadiah Lomba Blogfam Kemerdekaan 2007 berupa paket domain dan hostingan dari Qwords bisa mewujudkan mimpi saya memiliki ‘rumah’ sendiri. Ini adalah persitiwa berkesan juga!

4. Maipa Deapati - 14 N0vember 2007
Diantara serangkaian anugerah yang saya peroleh di tahun 2007, tidak ada yang melebihi kesyukuran saya atas kelahiran sang buah hati tercinta: Maipa Deapati Noertika. Anak perempuan saya ini lahir pada 14 November 2007 jam 23.03. Untaian doa untuk kesehatan dan masa depannya, tak henti saya rapalkan. Semoga anugerah memperluas pintu rezeki iman dan ekonomi buat kami sekeluarga, Amin. Semoga ananda Maipa Deapati menjadi cahaya binar benterang di masa depan, menjadi perempuan teladan buat bangsa, agama dan keluarga, Amin!.

5. Angingmammiri Best Blog Award 2007 - November 2007
Pada penghujung November yang sejuk, saya masih saja ketiban rezeki. Kali ini dari rekan-rekan Komunitas Blogger Makassar; Angingmamiri yang memberikan anugerah Best Blog Award Angingmammiri 2007. Penghargaan ini bikin besar kepala, karena selain jurinya blogger-blogger hebat, juga bahwa ini berarti menyisihkan puluhan blogger Makassar yang terkenal jago nulis dan kreatif serta sudah lama malang melintang di dunia blog. Penghargaan ini bener2 bikin besar kepala, lihat saja bannernya di widget samping he2. Thanks teman-teman!

Lima peristiwa diatas adalah peristiwa yang sangat berkesan. Memang ada beberapa peristiwa berkesan lain yang juga sayang untuk dilewatkan. Tapi kadarnya masih dibawah ke-lima persitiwa diatas.

Nah, bagaimana dengan anda?

Kali ini saya mau melempar tag dan pengen mendengar apa isi kaleidoskop 2007 dari dua orang; Ipul dan Rara!

Khusus untuk Rara; Selain tag ini sebagai lemparan balasan karena sebelumnya dah melempar PR kepadaku, saya yakin tahun ini juga penuh dengan peristiwa berkesan buat Rara. Terutama hal paling luar biasa yang dia capai di penghujung tahun ini. Juga buat Ipul Daeng Gassing yang tahun ini mengorbit menjadi penulis panyingkul yang luar biasa produktif! Kerjakan memangmi PR mu cess, he2.

Popularity: 23% [?]

Pilkada Sulsel, Benazir Bhutto dan Aqidah Kekuasaan

daengrusle December 28th, 2007

bunga-layu.JPGSaya bilang juga apa! Tidak ada orang rakus yang insyaf dalam sekejap. Tidak ada orang yang rela berbagi kekuasaan, apalagi kalau sudah merasakan nikmatnya berbaring di istana megah, meski kehormatan sudah tercerabut di lelorong warga, di balik halaman-halaman media.

Nasib Pilkada Sulsel akhirnya harus tiba juga di bawah palu Mahkamah Agung. Pemilihan Gubernur yang sarat dengan perseteruan emosional yang melibatkan harga diri dan kehormatan dua klan besar di ranah Sulawesi Selatan ini dibawa ke mahkamah - yang sampai saat ini pun masih diragukan kredibilitasnya [ lihat tulisan Daeng Marowa: Bagir Manan dan Mafia Peradilan] Dan siapa menyangka, bahwa putusan MA kemudian membuat banyak orang bingung; media, praktisi hukum, politikus, dan terutama rakyat yang punya dua posisi penting; obyek dan korban. Alih-alih menyoroti proses perhitungan suara sebagaimana yang diproteskan oleh pasangan cagub-cawagub Asmara (Amin Syam - Mansyur Ramli), MA malah memerintahkan untuk melakukan pemilihan ulang di empat kabupaten; Bone, Tana Toraja, Gowa, dan Bantaeng. Padahal pasangan Asmara itu hanya mengajukan keberatan atas tiga daerah saja. Sekedar me-refresh ingatan kita, hasil penghitungan suara KPU Sulsel pada 14 November 2007 menetapkan pasangan Syahrul Yasin Limpo/Agus Arifin Nu`mang (Sayang) meraih 1.432.572 suara atau 39,53 persen, disusul pasagan Amin Syam/Mansyur Ramly (Asmara) 1.404.910 suara (38,76) dan duet Azis Qahhar Muzakar/Mubyl Handaling 786.792 suara atau 21,71 persen. Pasangan Asmara kemudian menggugat penetapan perhitungan suara ini ke Mahkamah Agung.

Pasal 106 UU Nomor 32/2004 tentang Pemerintahan Daerah, MA hanya bisa memerintahkan penghitungan ulang pilkada, bukan pemilihan ulang. Walaupun ada pasal 104 menyebutkan bahwa bila ada kondisi yang dianggap perlu, MA dapat memerintahkan pemilihan ulang”. Kondisi yang dianggap perlu itu yang mana ya kira-kira, apakah karena ada bisikan petinggi negara, atau ada deal-deal politik yang melatarbelakangi putusan itu, atau apa ? Konsekuensi nya; emosi massa yang sudah diam dan mungkin sudah menerima hasil keputusan KPUD Sulsel itu akan kembali bergelora seperti badai! 

Seberapa besar lagi biaya sosial yang mesti dihabiskan untuk ’sekedar’ pemilihan ulangan ini? Dan ujung2nya, hanya untuk membuktikan bahwa sistem ini memang bobrok? Sekiranya kubu ‘Asmara’ yang menang, maka KPUD Sulsel adalah lembaga rongsokan yang tidak akan lagi dipercayai, dan kalau pihak ‘Sayang’ yang kembali menang, maka Mahkamah Agung adalah pemutus perkara yang amat sangat tidak kompeten!

Emosi, energi massa, duit miliaran, kekacauan birokrasi, hipertensi politik, dan amuk massa para pendukung akan melebur menjadi bencana sosial dengan biaya teramat mahal. Lantas, kalau kemudian pengulangan pilkada dilakukan, apakah ada jaminan bahwa semua pihak akhirnya ikhlas menerima hasilnya? Tentu saja tidak. Perseteruan ini akan berlangsung terus menerus seperti lingkaran setan, karena kenyataan membuktikan bahwa tidak ada satu pun lembaga atau keputusan yang dipercaya punya integritas bersih di negara ini.

Sebaiknya, kita belajar pada pilkada DKI kemaren. Walaupun ada ditengarai banyak kecurangan di lapangan, kandidat Adang Darajatun bersikap satria mengakui kekalahan. Tidak ada tuntutan hukum atau politis atas kekalahannya. Beliau memberi pelajaran berdemokrasi kepada kita semua. Karenanya, semua mengangkat topi setinggi-tinginya kepada beliau. Mari bersikap satria, tidak perlu ngotot untuk menang kalau memang ongkosnya terlalu mahal. Tidak ada kebenaran sejati dari sebuah interpretasi majemuk, hanya ada satu Tuhan saja. Kalau memang kebenaran adalah milik sah kita, biarkan waktu dan mata-masyrakat-banyak yang menilainya. Kekuasaan akan lapuk ditelan masa, kebenaran dan kehormatan tidak.

Tulisan terkait:
Detik: Pilkada Sulsel Diulang di 4 Kabupaten, Pendukung Asmara Puas
Fajar: Drama Pilkada Sulsel Jilid Dua
Arul: Pilkada Sulsel, Mengkambinghitamkan Rakyat!
Adink: Pilkada-Ulang
Elyasa KH: Pilkada Ulang

benazir-bhutto.jpgBenazir Bhutto ‘akhirnya’ terbunuh. Kata ‘akhirnya’ layak kita sandingkan dengan prosesi kematian sang pemimpin wanita itu. Berentetan aksi dan upaya percobaan pembunuhan terhadapnya sudah sering kita saksikan di layar kaca dan lembaran majalah. Siapa yang bertanggungjawab? Belum tahu. Bisa jadi al-Qaeda sebagaimana pengakuan yang dilansir. Tapi tentu pihak yang paling bertanggung jawab adalah pemerintahan incumbent, Perves Musharraf - rezim coup kesayangan Bush! Saya tidak menuduh dan melampaui hukum sebelum ada investigasi, tapi sistem yang korup dan menghalalkan segala cara, termasuk berniat mengampuni dosa korupsi Benazir Buttho di masa lalu, tidak bisa sepenuhnya dipercayai. Apalagi yang bermain adalah para politikus yang sudah terlalu sering mem-palu godam-kan hukum. Lihatlah Ketua Mahkamah Agung dan para Hakim diterungku dengan semena-mena, hanya karena melakukan sikap lurus untuk menegakkan aturan hingga ‘terpaksa’ menentang kekuasaan. Continue Reading »

Popularity: 21% [?]

Kultur Haji Bagi Bugis-Makassar

daengrusle December 14th, 2007

kaabah1.jpg 

Bagi umat Islam, ibadah haji adalah rukun kelima yag menjadi ibadah penyempurna setelah empat rukun lainnya; syahadat, sholat, puasa dan zakat. Menunaikan ibadah haji di dua tanah suci Islam; Makkah al-Mukarramah dan Madinah al-Munawwarah yang berada di wilatah Kerajaan Arab Saudi, menjadi semacam cita-cita dan impian setiap muslim untuk dilaksanakan paling tidak sekali dalam seumur hidupnya. Kurang lengkap rasanya sebagai Muslim, berkalang tanah tanpa pernah menginjak kedua kota suci umat Islam itu.

Umumnya, seorang Muslim bersedia melakukan apa saja demi melaksanakan ibadah ini. Bahkan tidak jarang seorang muslim rela menjual aset berharganya; sawah, tanah, kendaraan, perhiasan, dan aset lainnya demi untuk menunaikan ibadah yang ritualnya menyerupai rekonstruksi perjalanan para nabi Allah itu, tidak peduli apakah setelah kembali mereka masih punya cukup aset untuk menyambung hidup asalkan sudah pernah menengok kota nabi itu. Seorang tetangga saya dulu bahkan rela berhutang untuk menutupi ongkos naik haji yang sekarang besarannya sekitar Rp 27 juta. Juga tidak jarang terjadi di masyarakat Bugis/Makassar, orang tua membawa anak-anaknya berangkat haji, bahkan meski si anak belum cukup umur. Dengan anak-anak yang sudah bergelar haji semuanya, status sosial keluarga itu akan sangat terhormat dalam masyarakatnya. Tidak jarang, cara-cara pintas dan nyeleneh ditempuh untuk mendapatkan kehormatan ini, misalnya dengan menciptakan ritual tandingan berhaji di puncak gunung Bawakaraeng, yang didasarkan pada anggapan bahwa pahala dan ke afdolan nya dianggap sepadan dengan prosesi yang dilakukan di Mekkah dan Medinah.

Akulturasi Haji dalam Masyarakat Bugis Makassar
Dalam kultur sebahagian masyarakat Bugis-Makassar atau nusantara, gelar haji yang diperoleh setelah menunaikan ibadah haji itu dianggap sebagai prestise yang menunjukkan status sosial yang ‘lebih’ dibanding yang lain. Status sosial ini tidak karena tuntutan sang haji, tapi dielaborasi karena adanya penghargaan masyarakat sekitarnya. Penghargaan ini terlebih dikarenakan untuk menunaikan ibadah haji itu perlu pengorbanan yang besar; waktu, harta dan kadang nyawa. Apalagi di jaman dulu sebelum transportasi semudah jaman sekarang, menunaikan ibadah haji teramat sulit dan lama. Memerlukan ketahanan dan kesabaran untuk mengarungi lautan luas dan ganas selama 3-6 bulan untuk sampai ke sana. Kalau sekarang, hanya 8-10 jam saja naik pesawat terbang sudah cukup memindahkan badan dari tanah air ke tanah suci sana. Continue Reading »

Popularity: 41% [?]

Rumah Baco, Aidit dan Dua Jendral itu!

daengrusle October 7th, 2007

mahdi-membangun-menara-kotak.JPG
Foto: Mahdi membangun menara dari kotak susunya, 7 Oktober 2007

Lihatlah binar mata itu! Mata yang bulat dan bening, kelopak hitam penuh dengan alis berambut halus menatap bangga ayahnya yang pulang. Baco, 10tahun, sebelia itu tak perlu mengerti kenapa ayahnya yang dia panggil gagah dengan sebutan Ambe’ baru pulang setelah tujuh hari tujuh malam. Dia tak juga perlu tahu apa yang telah diperbuat ayahnya yang sering pulang dengan bilur keringat dan bau asem yang membaluti tubuh hitamnya, sesekali dengan carut luka segar diwajah dan beberapa bagian lengannya. Tak peduli ia akan semua itu. Yang penting Ambe nya pulang ke rumah, walau rumah itu mungkin lebih tepat disebut gubuk kecil. Yang penting bahwa Ambe nya membawakannya gula-gula koja’ kesukaannya. Berwana warni, lebar dan bertangkai pipet putih kecil. Manis rasanya. Sementara di ujung lorong rumahnya, dua reserse berjaket hitam dan preman mengintai dengan awas dan tekun.

Rumah adalah tempat berpulang. Kemanapun kita pergi, selalu pada akhirnya berusaha menemukan jalan pulang, jalan yang menuntun kita kembali ke rumah. Ke tempat dimana kita bisa mengelaborasi rasa lelah menjadi santai, rasa tegang menjadi tenang, dan terpenting adalah rasa hampa yang menemukan muaranya dalam kerinduan bertemu sang penghuni rumah, orang-orang tersayang. Mobilisasi kerinduan dalam surat, pesan singkat atau obrolan jauh menjadi sirna ketika kembali ke rumah. Rumah adalah place of joy of happines. Disanalah bertahta puncak kebahagian. Tak urung Sang Nabi Agung menyebut rumah nya sebagai surganya. Baiti, jannati! Untuk mengibaratkan betapa indahnya memiliki rumah. Sementara di tembok sebelah, di selasar masjid nabawi, puluhan sahabat ahli shuffah menjadikan emperan masjid sebagai rumah hidupnya, tempat ibadah dan belajar dari sang Nabi Agung. Apapun bentuknya; istana, rusun, RSS, gubuk, lapak, masjid, gereja, mereka layak menyebutnya rumah, tempat berpulang keluh kesah, tempat pening dan lelah tercairkan dengan rasa kembali.

Rumah Petaka Ilham
Di kejadian 42 tahun yang lalu, 30 September 1966 hampir tengah malam. Di sebuah rumah besar di jalan Pegangsaan Jakarta, hanya sepelemparan batu dari monumen proklamasi. Seorang bocah Ilham, kelopak matanya banjir melihat papa yang dibanggakannya dibawa pergi oleh tiga tentara. Pergi dan tak pernah kembali. Ketika besar, dia mendapati kenyatan bahwa ayahnya, DN Aidit tewas ditembak Kolonel Yasir di sebuah sumur tua di Boyolali, setelah sebelumnya melalui jalan pengkhianatan karib yang menyesakkan hati pemuda yang pidatonya menggetarkan hingga ke Kremlin itu. Tak jauh beda dengan nasib para jendral pahlawan revolusi yang terbunuh dalam peristiwa di malam yang sama. Ibundanya, dr Soetanti kemudian menyusul ayahnya untuk pergi dalam waktu yang teramat lama, dari penjara ke penjara. Baru 14tahun setelahnya, di tahun 1980 sang bunda bebas dari penjara pulau Buru. Continue Reading »

Popularity: 18% [?]

Next »