daengrusle.com [dan bebaris kronik yang diwariskan]

Daeng Rusle

Ahlan wa sahlan! Selamat Datang dan terima kasih tak terhingga sudi mampir di Blog saya yang sederhana ini. Semua yang terungkap dan tertuang disini hanyalah manifestasi dari upaya untuk mengabadikan pikiran saya dalam dunia yang santun, yang luas dan yang abadi. Seorang sastrawan besar Indonesia pernah menuturkan, menulis adalah pekerjaan yang bermatra keabadian. Sekali anda menggoreskan pena ke dalam kitab perjalanan kemanusiaan, maka Anda akan termaktub dalam kanvas sejarah dalam bingkai keabadian. Silahkan berkomentar, pembaca. Sekali lagi terima kasih sudah berkunjung. Jazakumullah khairan katsira!

DISCLAIMER: Blog ini adalah blog pribadi saya dan tidak ada jaminan bawa tulisan di blog ini akan adil, tidak bias dan seimbang. Bersikaplah dewasa dan jika anda membutuhkan opini dari pihak lain atau pihak yang berseberangan pendapat, anda dapat mencarinya dari sumber lain. Informasi yang disediakan oleh blog ini bersifat apa adanya, tanpa jaminan dengan kepercayaan penuh pada kedewasaan para pembacanya. (Kutip dari Priyadi).

[sajak] Dongeng Bathin Sembilan*)

daengrusle April 12th, 2008

kami Bathin Sembilan, puak Puyang Semikat yang terusir dari Musi
sama kini berdiri ditempat mana sama berpijak,
di atas gelagar Nebang Para, mata kita sama nanar memagut nun tanah Telisak
disana rimbunan sawit terhampar luas laksana permadani berbulu kesak
di lengannya, sungai Bahar hangat meliuk mesra memeluk
berselimut magis Bathin Sembilan, benak kita sama berkhayal emas yang direbak
padanya kami melukis kenang pada Puyang Semikat secerlang merak,
dan kalian mencumbunya senikmat saham blue chip siap lego di lapak-lapak

kami Bathin Sembilan, puak Puyang Semikat yang tertanam di sembilan ngarai
kita kini sama berdiri ditempat mana sama berpijak,
tapi kepala kami sompak menganga oleh janji yang terserak
nun berpuluh depa di bawah rimbunan sawit, asa kami mengatup terderak-derak
dulu kalian janjikan hamparan pepohon itu adalah emas yang membelalak
kemudian janji itu disulap menjadi asap naik berarak
dan waktu kemudian bertitah: terbilang malang nasib kami puak beranak

alangkah malangnya, sekira waktu merentang jarak dengan nasib
kami memang seumpama kelebat konon yang lapuk oleh lupa,
berdiam di suatu negeri dimana pikiran lebih senang memilah daripada menyapa
dan nasib kami kemudian terbilang secepat sampan membelah Batanghari,
dan tiba-tiba kami sudah berdiri di tanah asing dimana ular seperti bertanya masygul
kemana gerangan sembilan negeri yang kau gagahi seperkasa dulu,
melingkar kukuh pada Rimbo Adat ibarat kitab lanun yang angker?

dan halimun Sungai Lalan di lembah Musi mengendus tajam bergegas
mengantar dongeng semasa dulu digelayut Puyang Semikat berkemas-kemas
terusir dari pertiwi yang amuk oleh buah kutukan kemilau emas
di ujung Bahar tempat sauh dilepas sudah ditoreh tegas; gelar terbilang harta dihempas
namun seperti gelinding yang ingkar, sang Puyang dilingkup pula takdir baik
dua kerat hati kembar Bayan Riu Bayan Lais disunting dari Depati Seneneng Ikan Tanah;
darinya berserak puak pada sembilan ngarai sejak Muaro Jambi, Batanghari hingga Sarolangun;
Pemusiran, Burung Antu, Sekamis, Telisak, Jangga, Jebak, Bulian, Bahar, dan Singoan
jadilah kami Bathin Sembilan, puak Puyang Semikat yang terusir dari Musi

kami Bathin Sembilan, puak Puyang Semikat yang kini nanar dikepung sawit
terbilang waktu; nasib kami sudah digariskan; punah oleh kutuk nasib puak terusir

- puisi ini sedianya ditulis untuk diikutkan dalam Lomba Penulisan Puisi dan Cerita Pendek Berbasis Cerita Rakyat Jambi oleh Jambi Writing Program

*) terinspirasi dari tulisan:
Kebudayaan yang Hampir Punah – Irma Tambunan
Kompas 12 Maret 2008

Popularity: 88% [?]

[sajak] kita kini adalah kita nanti

daengrusle April 9th, 2008

sebuah ungkapan dalam kata yang mungkin bisa dianggap puisi, utk merayakan ultah sahabat, kakanda tersayang: Amril Taufik Gobel aka Daeng Battala

atg.jpg

kita kini adalah kita nanti
::: daeng battala

tetapi daeng, kita kini adalah kita nanti
apa yang kita toreh pada detik lampau adalah kita yang menjelma mercusuar

bukan tegak berdiri pongah yang membuat kita terlihat nelayan
dan padanya semua melambai mencari tujuan

adapun daeng, kita sebangsa cahaya yang menuntun
olehnya nelayan tak ragu mendayungkan sampan ke pesisir

apa yang kita tulis kini dan lampau daeng,
menjadi cahaya kita nanti, di dunia atau di suatu tempat yang tak terbayangkan

karenanya daeng, kalau selasar itu menyorong lelubang untuk kakimu
langkahi saja, atau tutupi dia dengan apa daeng punya

biar dia diam, mati dan menjadi batu yang dikutuk
karena kita tak perlu tanggap pada apa yang bisa bikin kita juga diam

karena kita kini adalah kita nanti
kita punya cahaya, dan hanya itu yang bikin kita berarti

pasir ridge, april 9, 2008

Popularity: 82% [?]

[narsis] Menang Lomba Puisi dan Foto

daengrusle April 4th, 2008

Hm, hari ini saya menang dua kali. Dalam ajang lomba Menulis Puisi dan Lomba Fotography di kantor dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW, saya bisa dapet dua penghargaan;

Juara 1 di Lomba Menulis Puisi untuk Bermimpi di Gubuk Kardus - yang pernah saya posting di blog ini dgn judul Kepada Siapa Kemudian Mereka Berpaling?
Juara 3 Lomba Foto yang bertema Ukhuwah dan Keteladanan untuk foto dibawah ini.
berbagi-rezeki-berbagi-kuasa.JPG

Hadiahnya lumayan, voucher belanja di Matahari, he2. Mahdi dan Maipa bisa dapat baju baru lagi neh, atau buat Bapaknya saja…hehehe.

Alhamdulillah.

Popularity: 100% [?]

Untuk KRMT RS: Kerendahan Hati

daengrusle April 2nd, 2008

Kerendahan Hati
ditulis oleh Kang Iwan Abdurrahman

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin
yang tegak di puncak bukit
Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,
yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,
Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang
memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya
Jadilah saja jalan kecil,
Tetapi jalan setapak yang
Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten
tentu harus ada awak kapalnya….
Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi
rendahnya nilai dirimu
Jadilah saja dirimu….
Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri

dikutip dari blog nya deen

akyu.jpgKRMT RS, ada baiknya kembali berkaca pada sajak ini. Sebelum melontarkan petuah kasar atau tuduhan halus bagi sebuah komunitas. Pengertian dasar tentang sebuah komunitas tidak membuat kita abai, bahwa komunitas apapun itu pasti heterogen individualnya. Tidak bisa memberikan generalisasi atas sebuah ‘cap’ terhadap komunitas, apalagi tuduhan yang tidak berdasar. [foto diambil dari sini]

Menganggap blogger adalah kaum perusak tatanan dan mbalelo terhadap kebijakan pemerintah tanpa mengetahui pasti typical masing2 blogger itu sama saja melakukan penghinaan terhadap komunitas yang ditengarai sudah berjumlah ratusan ribu itu. Ini sama saja dengan si bangsat anggota parlemen Belanda yang membuat film dokumenter bertajuk FITNA yang dibuat berdasarkan kebencian yang dipelihara sedemikian rupa.

Apalagi kalau menengarai bahwa blogger adalah sponsor, supporter dan pemelihara situs2 yang berpotensi merusak moral bangsa ini! Terlalu kejam. Apakah KRMT RS tidak pernah tahu ada komunitas2 blogger yang setia berbagi dalam kebaikan, saling nasehat menasehati dalam kebenaran. Tidak terhitung banyaknya komunitas blogger yang terhimpun karena interest mulia seperti ini. Ambil lah contoh Indonesian Muslim Blogger. Apakah komunitas blogger seperti ini pantas di labeli perusak akhlak dengan intensi menantang pemblokiran situs-situs porno?

Nah, mas Kanjeng, jadilah orang yang rendah hati saja. Salah satu ciri orang rendah hati adalah menjaga lisan dan perilaku nya dihadapan khalayak. Satu saja manusia yang menjadi terzalimi karena ucapan dan perilaku kita, akan memberatkan kita hidup di dunia ini, apatah lagi di akhirat.

Popularity: 80% [?]

[Buku] Makkunrai: Ada Api di Mata Perempuan

daengrusle March 28th, 2008

makunrai

Judul: Makkunrai - dan 10 Kisah Perempuan Lainnya
Pengarang: Lily Yulianti Farid
Penerbit: Nala Cipta Litera, 2008
Halaman: 152 halaman, 13×19cm

Anda tergolong lelaki bejat, atau perempuan yang menjadi simpanan lelaki bejat? Berkacalah pada buku ini. Di buku yang merangkum sebelas cerita pendek tentang perempuan dan semua unek-uneknya, mimpinya, dan -terutama - perasaannya, anda akan berhadapan dengan vonis menyakitkan, seumpama cap ‘neraka’ ditempelkan di jidat. Anda tergolong lelaki baik? Waspadalah, buku ini bercerita bahwa ada banyak mata perempuan yang menyimpan api di dalamnya, sanggup memata-matai ke’baik’an Anda. Sedikit Anda terpeleset dalam lubang pengkhianatan - yang tidak melulu berarti selingkuh mesum, juga selingkuh moral, maka serta merta Anda akan terperosok ke neraka ciptaan perempuan; menjadi lelaki bejat - yang harganya mungkin tidak lebih mahal dari upil. Dicari, dikorek dan dibuang atau ditindaskan ke bawah meja - tempat yang tidak akan pernah terlihat, kecuali oleh sarang laba-laba.

Sebelas kumpulan cerpen di dalam buku ini mengusung tema khas feminisme; perlawanan perempuan melawan simbol-simbol yang terlanjur dipelihara oleh kaum lelaki; kekuasaan atas gender. Bahwa dalam dunia yang ‘normal’, lelaki adalah penguasa, karenanya bisa berbuat semaunya dan semuanya. Lelaki dipuja kejantanannya bila istri dan anaknya bertebaran - dimana saja kapan saja, tapi perempuan haram bersuami banyak. Lelaki dianggap ‘biasa’ meninggalkan istri dan keluarga tanpa alasan, tapi seorang perempuan dianggap hina dina apabila meninggalkan rumah. Bahkan ada pemeo yang sangat stereotip, Lelaki pulang pagi disebut Arjuna, sedang perempuan yang pulang pagi disebut kupu-kupu malam. Sama indah sebutannya, tapi beda ‘rasa’ dan martabat sosialnya. Itulah, dunia yang ironis. Dunia yang kadang sering lupa menyadari ada kata ‘adil’ yang mesti ditegakkan atas semua hal. Terutama gender.

Sebelas cerita pendek disini bukan sekedar fiksi, bahkan saya yakin - terutama setelah membaca halaman “Daftar Inspirasi dan Catatan Lainnya” muncul karena tema-tema yang diungkap dalam cerita ini nyata adanya. Karenanya, cerita-cerita yang dikemas dengan tutur yang kadang runut dan kadang melompat-lompat, mampu menghidangkan cerita yang seumpama berkaca pada pengalaman diri, lumrah terjadi di masyarakat. Kadang merupakan tesis yang dicaplok dan dipindahkan ke ruang baca, kadang juga merupakan antitesis dari ketimpangan yang dihadapi - karenanya perlu dilempangkan, diluruskan.

Itulah Lily, penulis kreatif yang menginspirasi banyak penulis pemula di panyingkul, mengabarkan pandangannya tentang hal ihwal perempuan dan permasalahannya. Dia hadir dalam bahasa tutur tulisan untuk membela perempuan, dan dengan demikian mengutuk lelaki bejat. Di saat yang sama lelaki bejat sama jahatnya dengan perempuan simpanan - karenanya perlu juga dilempar rumahnya, tanpa kecuali. “Gila! Dari bahan apa sih lelaki tercipta? Tahunya hanya kawin lagi, kawin lagi. Brengsek Semua! (Nua, Diani dan Lelaki Bejat). Hasilnya, dia mengundang kita untuk turut menghukum para lelaki tukang kawin itu dengan melempari rumah istri simpanannya. Namun Lily kadang menutup kisahnya dengan teramat bijak, bahwa memendam dendam dan terus menerus menyalakan mesin perang tanpa batas waktu tidaklah lebih baik daripada kebejatan itu sendiri, sebagaimana dalam cerita Nua, Diani dan Lelaki Bejat. Toh drama itu akan terus menerus bergulir, selama lelaki masih dilahirkan. Dan anehnya juga, perempuan pun tak bosan-bosannya menjadi korban, walaun contoh sudah ribuan dibacakan, diceritakan dan disaksikan. Perempuan mungkin memang seperti padang pasir, meresap semua air hujan yang tumpah tanpa sanggup menahannya. Terutama ketika para lelaki bejat sudah lunglai oleh usia, dan memohon kembali ke pelukan perempuan-perempuan yang dulu dikhianatinya. Tragis.

Lily sesungguhnya tidak sedang hendak mengatakan bahwa semua lelaki bejat, hanya sebahagian. Lelaki kadang menjadi sosok yang dirindukan, yang dijadikan tempat pulang untuk kemudian bersandar, menjadi teman rbagi hidup. Kita semua tahu, Lily kini sedang me’nikmati’ hidup bersama dua lelaki yang cinta nya diungkapkan dengan indah..”butuh bertahun-tahun belajar menulis sajak sendiri untuk membalas sajak cinta keduanya” (Bertiga Sajak Sekeluarga, 2007). Dan kami, para anggota milis yang celoteh nya rajin diposting - untuk menyemangati, tentu bangga menjadi sahabatnya.

Ada dua catatan kecil sehabis membacanya yang sedikit membingungkan tapi bisa dimaklumi. Pertama, sosok Jenifer dalam cerpen “Api” membuat saya sedikit bingung. Di awal cerita tempat lahirnya disebutkan di Luwu 1946, namun kemudian terjadi duplikasi informasi yang hiperkorek di bagian akhir cerita; …pindah ke Surabaya, dan setelah ibu melahirkan aku, kami pindah ke Jakarta (Api). Dimana sebenarnya Jenifer di lahirkan; Luwu kah, atau Surabaya? Tentu kalau memikirkan nama tokoh “Jenifer”, saya bisa saja menyimpulkan yang benar adalah Surabaya, yang mana bapaknya adalah lelaki keturunan, bukan lelaki bugis yang menetap di Luwu. Nama Jenifer jarang ditemukan dalam daftar nama perempuan Bugis - beda dengan Mardiah, Dahlia, Marayya. Kedua, ini sebenarnya sangat sepele. Istilah bathup di cerita pendel bertajuk Pembenci Jakarta membuat saya perlu membuka kamus. Sependek ingatan saya, yang benar adalah bath-tub, atau bath-tube. Bukan bathup. Tapi sekali lagi, ini sepele saja. Mudah diabaikan, dan tentu saja tidak mengurangi kedalaman dan kedahsyatan cerita-cerita yang mengalir di buku ini.

Terakhir, saya hendak bernarsis ria. Lily Yulianti adalah sahabat saya. Di buku yang saya miliki ada tandatangan dan tandahati nya. He2. Kuru Sumange kak Lily! Lanjutkan bersedekah ilmu untuk kami yang kadang bebal dan pemalas. Dan kami tentu tak bosan membaca dan mendengar celotehmu.

Popularity: 69% [?]

Membaca Aan, pelukis kata-kata

daengrusle March 27th, 2008

aku-hendak-pindah-rumah

Kalau seorang Andrea Hirata digelari seniman kata-kata, maka saya - dengan bermaksud ikut meniru - menancapkan gelaran pada Aan sebagai pelukis kata-kata. Dia melukis dengan kuas yang lantang bercerita, diatas kanvas tema yang menarik dan membingkainya dengan kata yang diolah dari bahasa indonesia yang indah. Jadilah puisi. Lukisan puisi ini yang sering membuat kita terkesima, sebahagian besar adalah pemandangan keseharian seorang Aan yang bisa menjadi cermin buat siapa saja. Menatap lukisan kata-kata Aan, terutama buat penikmat puisi yang awam - umumnya diisitilahkan sebagai passanjak Koddala, termasuk saya he2 - maka refleksi yang terlontar adalah refleksi diri, deja vu!

Bukan bermaksud memuji, ah kenapa mesti menyembunyikan diri? - tapi puisi Aan banyak menginspirasi passanjak koddala untuk turut melukis kata juga. Di milis panyingkul, ada beberapa passanjak koddala yang kadang secara tidak senonoh ikut-ikutan berkompetisi dengan lukisan kata Aan yang terbiasa mendapat applaus kata-kata dari khalayak milis. Saya adalah termasuk passanjak koddala yang paling narsis. Sungguh tidak level, menorehkan sanjak ke dalam komunitas pencinta kegiatan menulis itu secara asupan sastra yang terbiasa mereka cerna adalah sekualitas lukisan kata Aan dan yang sekalibernya.

Tapi sanjak Aan adalah inspirasi. Demikian juga dengan Aan sendiri sebagai pribadi. Dia mendorong kita untuk terus membaca puisi, karenanya kita bisa tertular oleh sihir dahsyat kata-kata itu. Aan juga tidak suka mempersoalkan makna dari kata, walaupun kekuatan puisi Aan adalah makna dibalik kata dan alurnya. Petuah paling dahsyat dari seorang Aan muncul dari hasil kontemplasi - mungkin saduran, wallahu ‘alam, yakni ungkapannya yang mengatakan “aku menjadikan diriku sebagai puisi! setiap gerak dan laku ku adalah puisi. Karenanya puisi menjadi hidupku. (kata-kata terakhir ini hasil interpretasi saya sendiri, he2).

Kemaren, saya menerima kiriman buku puisi Aan bertajuk - Aku Hendak Pindah Rumah. Buku puisi ini adalah yang ke-2, yang perdana adalah buku sajak berjudul “Hujan Rintih-Rintih”.

Saya belum lagi menamatkannya, tapi saya sudah terburu2 membuat rangkuman. Tentu saja rangkuman yang subyektif, tapu pasti berangkat dari penilaian atas sajak-sajak Aan yang secara ikhlas dan tawadhu rajin diposting ke milis panyingkul, terutama setelah tayang di beberapa harian ibukota, Kompas misalnya.

Saya belum lagi membaca pengantar dari Hasan Aspahani, tapi 99 puisiaku midnight Aan di buku ini membuat saya tidak bisa tidur malam ini. Hanya untuk menulis sebuah pengantar buat saya sendiri.

Terakhir, mudah2an pujian disini tidak over dosis. Syukur2 bisa jadi ajang promosi buku bagus ini. Tapi saya kira, kata-kata Aan yang dilukisnya ini sudah bisa menarik sendiri para peminat tanpa digombali. Mau tahu rasanya? Baca saja sendiri.

Popularity: 59% [?]

[sanjak] Kepada siapa kemudian mereka berpaling?

daengrusle March 23rd, 2008

di balik dinding kardus yang lapuk oleh basah dihempas hujan bergelontor-lontor, ia merapat badan menjentikkan jari mengukir lukisan dengan pensil tumpul, menggambar dirinya yang tirus dibekap hangat oleh tangan lembut yang dirindukannya. Ia ingat semasa kecil guru ngaji di langgarnya bercerita indah, - hati sang suci ada bersama kaum seperti dirinya. lamat-lamat bibirnya yang kering tertarik melebar, mengukir senyum. dibayangkannya sang suci tersenyum indah padanya. dan ia memeluk bayang itu sehangat bantal empuk saat lelap dikelon emaknya, dulu. ah, betapa ia rindu padanya, pada sang suci, pada emak, pada ketulusan, pada semua impian. impian yang musykil saat ini.

dibawah atap daun rami yang menguning, lunglai dan tempias, sekali ditadahkan tangannya mengemis air yang lindas dari langit lepas, membayangkan cucuran suci seperti yang dulu dinikmati sesahabat me-wudhu-kan wajah dan tangannya. matanya mengatup mesra seperti sedang kasmaran dengan bayangannya sendiri. dari selembar buletin yang dikaisnya dari sampah langgar, ia pernah membaca; sang suci akan memberi syafaat buat umat yang membenamkan cinta untuknya, menunggunya dengan setia hingga perjumpaan indah di al-kautsar, telaga berisi madu dan susu. setiap saat dibisikkannya shalawat, setiap saat sejak itu.

ia sering bermimpi telaga al-kautsar seindah gambar danau bening dari kalender usang yang ditempelkan didinding kardus gubuknya. semua hijau segar, ada lima angsa yang bermain, dan tiga burung bangau putih beterbangan riang di langitnya, menepis awan yang turun menyapa mesra. disana, mungkin, ia akan minum segarnya air telaga beraroma madu dan susu bersama sang suci. indah sekali. matanya tertangkup selama ia menikmati terbuai khayalan.

disana, di gubuk kardus nan lembab oleh gelontoran hujan yang tak pernah bosan membisikinya, dia kemudian tertelungkup menyatukan belulangnya melawan dingin, dan lapar. wajahnya yang kurus berpaling pada mimpinya, pada perjumpaan yang dijanjikan. disana, dia lapar. tapi dia yakin, di telaga al-kautsar laparnya pasti hilang, berganti bahagia. terutama saat mencium jemari sang suci. dan ia akan meminta manja, supaya air memuncar dari ujung jarinya, agar ia bisa sesuci sahabat. amin.

Popularity: 56% [?]

[Buku] Sang Pemimpi

daengrusle March 23rd, 2008

sang pemimpi

Dunia sesungguhnya perlu berterimakasih kepada para pemimpi. Mereka lah yang menyemarakkan dunia ini dengan hiasan-hiasan dan menjadi lebih indah, tidak sekedar hitam dan putih - sebagaimana hidup orang yang kelanjur terbiasa dengan takdir. Teknologi, karya seni adalah produk nyata para pemimpi. Pemimpi adalah orang-orang yang berhasil menapak semua kebebalan pikiran orang yang selalu mengandalkan silogisme dan rasionalitas. Pemimpi adalah pemimpin yang membawa kita ke masa depan.

Novel lanjutan Laskar Pelangi ini adalah pengembangan yang bergenre inspiratif dari novel sebelumnya. Kalau di Laskar Pelangi, kehidupan yang bersahaja dimuntabkan dan diangkat setinggi-tingginya dalam sebuah cita-cita yang ironis dan tak kesampaian, maka di novel Sang Pemimpi ini kita diajak beroptimis ria lebih berani. Betapa semua anakronisme menjadi silogisme yang masuk akal.

Ikal, Arai dan Jimbron adalah representasi tiga sosok pemimpi yg dibekali semangat dan kerja keras, mereka punya impian musykil dalam bentuk cita-cita yang dipasok oleh guru susastra mereka di SMA Bukan Main. Mereka bercita-cita terlalu muluk, memeluk altar kemasyhuran di Sorbonne, sementara di saat yang sama kaki-kaki mereka masih harus diseret ke pelabuhan ikan untuk kerja kasar - ngambit. Namun kemusykilan justru sudah berdamai dengan mereka sejak masih dalam buaian. Mereka adalah produk kegagalan masyarakat mencapai kesejahteraan. Justru karena hidup dalam lingkungan seperti itulah maka mereka kemudian tidak ragu berdamai dengan hidup, menantang kemusykilan. Arai yang adalah Simpai Keramat - generasi terakhir dari puaknya, Ikal yang adalah anak bawang di keluarganya namun senantiasa mendapat asupan semangat dan keyakinan dari ayahnya yang juara satu sedunia dalam kediaman, dan Jimbron - personifikasi semua keraguan. Melihat Jimbron dan obsesif kompulsifnya tentang kuda, saya jadi teringat Bubba dengan udang - dalam filem Forrest Gump. Pesan moral dalam novel ini jelas menunjukkan bahwa Obsesi kumpulsif adalah penyakit, tapi justru bisa menjadi inspirasi yang tak ada habisnya.

Bayangkan sekiranya anda punya obsesi kompulsif bertemu Tuhan Yang Agung, maka semua gerak laku hidup anda akan terstimulasi untuk mencari roda menuju obsesi itu. Bukankah itu adalah baik; dan obsesi seperti inilah yang melahirkan tokoh-tokoh konsisten yang kemudian mewarnai lukisan sejarah umat manusia ini. Abdulkadir Jaelani, Rabiah al-Adawiah, dan beberapa contoh sufi lainnya adalah manusia luar biasa dalam sejarah yang dianggap berhasil.

Novel Sang Pemimpi adalah novel yang tepat untuk memotivasi semua orang yang punya cita-cita, semuluk apapun. Cita-cita, mimpi, ataupun obsesi pada kenyataannya - menurut beberap filsuf - adalah nyata di alam lain. Tugas sang pemimpi adalah merajutnya dari mozaik-mozaik kemusykilan, mengandalkan semua resource - plus kerja keras dan konsistensi - menjadi bangunan utuh di alam nyata . Dan karenanya lah, manusia menjadi penoreh keabadian. Laku para pemimpi lah - baik yang berhasil maupun gagal, yang kemudian menjadi lukisan sejarah, dan kemudian menjadi sumber inspirasi para pemimpi lain setelahnya untuk melanjutkan lukisan itu.

What we do in life, echoes in eternity!

Popularity: 51% [?]

[Entry Tematik AM] Where is the Real Reality Show Take Place?

daengrusle March 21st, 2008

Menimpali entry tematik teman-teman Blogger Angingmammiri-Makassar, saya hendak sedikit berkontemplasi barang dua tiga jenak.

Setiap malam, di prime time mulai sore hingga nyaris midnigth, kita selalu disuguhi banyak program televisi yang menyajikan reality show, mulai dari bedah rumah, uang kaget hingga ajang tarik suara para biduan dadakan - terkadang menyertakan ibunda nya sekedar untuk menarik perhatian.

Para penonton terkadang diberikan kesempatan berpartisipasi, entah mengirim sms dukungan, entah menjadi salah satu juri vote lock yang akan menentukan pemenang ajang meriah iklan ini. Si pemilik program - televisio itu tentu saja menangguk banyak untung, terutama dari bejibunnya iklan promosi yang masuk. Si peserta kontes juga menangguk popularitas, yang kadang malah cuman seumur jagung. Tapi tak apa lah mimpi semalam sudah cukup, terlebih kalau sang debutan itu berangkat dari akar rumput yang tahu2 lolos dengan tingkat kompetisi yang alot, bisa berada di puncak menara dengan ketenaran yang ‘dipaksakan’.

Si pemilik acara, dan beberapa pembelanya mengklaim bahwa ajang ini mampu mengangkat lkesejahteraan sang biduan dadakan,mampu memberikan pemandangan real bagaimana lika liku sang pejuang hidup itu menapak tangga popularitas.

Namun tahukah kita, di luar sana ada jutaan reality show yang sedang berlangsung. Setiap detik, setiap menit, di ribuan tempat yang kadang tak terjangkau televisi ataupun sekedar sinyal selular. DI tempat-tempat kumuh, di deretan rumah-rumah kardus, banyak yang sedang meregang hidup dengan getir

Popularity: 45% [?]

Some pieces from the past

daengrusle March 21st, 2008

A picture worths a thousand words - sebuah gambar bisa dalam seribu kekata. Ya, terutama sekiranya gambar-gambar itu memiliki sejuta kenangan yang dicercah dari rangkaian hidup pelakunya.

Di bawah ini adalah beberapa gambar yang diambil dari album lama keluarga kami. Betapa dulu keadaan jauh lebih bersahaja, tapi menyenangkan melewatinya bersama.

pic054

Foto: Kakenda La Ompeng bersama menantunya: Hj Hasna, Hj Singke dan anaknya - HM Tiro. Foto sekitar awal 1980-an. Lokasi: Sengkang(?) Continue Reading »

Popularity: 61% [?]

« Prev - Next »